Tittle : Hold Me Tight
Author : Kim Joungwook
Pairing : NamJin
Length : 4 of
Genre : Romance
Summary : Hidup Seokjin benar-benar berubah setelah melewati malam bersama namja asing yang hanya meninggalkan nama dan bayangan samar mengenai wajahnya. Malam yang membuatnya tanpa sadar telah memikat seorang Kim Namjoon./NamJin
Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Typo(s). Don't Like Don't Read!
.
.
.
BTS
.
From : Kim Namjoon
Morning, princess! How's your sleep?
I just wanna wish you a good day. Have a nice day, baby.
8.30 kst
.
.
.
From : Kim Namjoon
Really? You didn't reply my message. Tomorrow you just send me a message! Just 1! And today will you plan to not reply even one? Are you this cruel princess?
But, well, princess is always cruel, cause you have b.u.t to be protected. Rite?
Kkk, I miss your lips. It's time for have a snack rite? And your lips really appealing in my mind.
10.30 kst
.
.
.
From : Kim Namjoon
Wew! Time really flew so fast, princess. It's already noon.
Have you lunch? I just don't have time to eat my lunch, screw that!
Hope you enjoy your meal!
13.05 kst
.
.
.
From : Kim Namjoon
You really gonna play high huh? How dare you!
If you did'nt reply this message, I will really do something to you!
Take my words seriously!
15.00 kst
.
.
.
Seokjin menghela nafasnya panjang. Lagi-lagi pesan dari Namjoon. Sudah tiga hari ini namja Kim itu benar-benar meneror ponselnya. Sehari bisa sampai lima kali ia mengirim pesan untuknya, yang menurut Seokjin sangat tidak penting dan kekanak-kanakan. Bahkan kadang isi pesannya benar-benar menjurus ke arah dewasa. Dan Seokjin tak menyukai hal itu.
Kemarin-kemarin ia masih membalasnya, setidaknya sekali. Tapi hari ini, ia benar-benar lelah. Ada hal lain yang lebih dulu membuat moodnya memburuk. Ditambah pesan Namjoon, yang demi Tuhan, itu bahasa inggris! Ia tak pernah menyukai bahasa inggris, meski ia tidak buruk juga menggunakan bahasa itu.
Jemari Seokjin men-scroll layar ponselnya dan berhenti untuk membuka sebuah pesan yang ia terima siang tadi, tepatnya setelah ia menyelesaikan suapan terakhir makan siangnya. Pesan bahwa uang kartu kredit miliknya baru saja dipakai untuk membayar apapun itu dalam jumlah yang cukup banyak. Dan kartu kerdit itu ia berikan untuk ibunya yang kini berada di Busan. Ibu yang ah, Seokjin tak mau mengingatnya.
"eomma?"
"wae? Tumben kau menelpon."
Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam, suara yeoja yang telah melahirkannya itu terdengar lebih serak dari terakhir kali ia mendengarnya, entah karena rokok yang tak berhenti ia konsumsi atau factor minuman alcohol yang sangat digemarinya.
"eomma baru saja menggunakan kartu kerditku? Untuk apa? Kenapa eomma bisa menggunakan uang sebanyak itu dalam sekali pakai?"
"hahahaha, jadi kau menelpon karena masalah itu. Aduh Seokjin sayang, eomma hanya menggunakan sedikit dari uangmu. Bukankah kini kau sudah menjadi pegawai tetap di kantor besar itu? Sudah pasti gajimu banyak kan? Dan eomma hanya memakainya sedikit."
"eomma! 5 juta won itu tidak sedikit! Astaga, eomma membeli apa sih?"
"eomma membeli mobil baru. Wae? Apa tidak boleh?"
Seokjin tersentak, "apa? Mobil baru? Eomma memiliki uang darimana untuk membeli mobil? Lagipula memang eomma bisa mengendarainya?"
"Seokjin, Seokjin. Eomma bisa memakainya. Dan eomma meminjam uang pada salah satu teman eomma. 5 juta yang bisa diambil dari kartumu tidak cukup untuk membayarnya."
Tangan Seokjin mengusap kasar wajahnya. Rasa-rasanya ia ingin menangis, tapi mengingat ia masih dikantor sekarang, sangat tak mungkin ia lakukan. Mau ia taruh mana mukanya jika ketahuan menangis disini?
"Seokjin, jika sudah tidak ada yang ingin kau katakan lagi, eomma tutup telponnya. Ada hal yang harus eomma lakukan. Dah."
Piip piip piip
Yeoja itu memutus begitu saja sambungan teleponnya dengan Seokjin, meninggalkan namja manis itu yang hanya mendesah lelah. Ini bukan kali pertama sang eomma menggunakan kartu kreditnya untuk membeli hal-hal yang sangat mahal. Namun baru kali ini yeoja itu menggunakan kartru kerditnya hingga batas maksimal. Ia hanya pegawai biasa, yang memiliki kartu kredit dengan batas maksimal pemakaian yang tidak terlalu tinggi. Dan 5 juta yang dipakai sang eomma benar-benar terlampau banyak dalam pandangan Seokjin.
.
.
.
Kim Seokjin bukan berasal dari keluarga yang bahagia. Nyatanya, keluarganya sangat berantakan. Ia lahir bukan dari keinginan kedua orangtuanya. Ibunya hamil diluar nikah, dan sang ayah dengan terpaksa menikahi ibunya. Mereka mempertahankan pernikahan hingga Seokjin berumur 5 tahun. Setelah itu sang ayah pergi entah kemana. Dan Seokjin berusaha tidak pernah mempertanyakannya, karena sang ibu akan sangat menyebalkan jika ditanyai mengenai ayahnya.
Sejak Seokjin mulai bisa berpikir dengan baik, bahkan jika ia ingat dengan benar, sejak ia berumur 7 tahun ia sudah tahu apa yang terjadi pada keluarganya. Ibunya bukan seorang wanita baik-baik. ia sering keluar malam dan membawa pulang lelaki yang tak ia kenal. Dan mungkin, dulu ayahnya juga termasuk salah satu dari lelaki yang dibawa pulang oleh ibunya. Saat itu Seokjin belum mengerti apa yang dilakukan oleh ibunya saat itu.
Saat Seokjin berusia 9 tahun, ibunya hamil. Dengan seorang lelaki bermarga Jeon yang ia tak ingat dengan baik wajahnya. Karena lelaki itu bahkan tak berniat sama sekali untuk bertanggung jawab atas kehamilan ibunya. Dan entah atas dasar apa, ibunya tetap mempertahankan kehamilannya hingga terlahirlah Joungkook, adik Seokjin. Karena itulah keduanya memiliki marga yang berbeda, karena memang keduanya memiliki ayah yang berbeda juga.
Seokjin dan Joungkook hidup bersama sang ibu, yang hanya pulang untuk memberikan uang dan tidur jika ingin. Selain itu, mereka hanya tinggal berdua di sebuah apartemen kumuh dipinggiran Busan. Saat Seokjin berusia 17 tahun, ia sudah bisa mencerna semua yang terjadi pada ibu dan juga kehidupannya. Kehidupannya selama 17 tahun sangat berantakan dan tak tertata sama sekali. Joungkook bahkan tak pernah melewati malam dalam buaian sang eomma. Ia selalu tidur dengan Seokjin, karena eommanya bahkan tidak pulang ke rumah.
Seoul menjadi tujuan Seokjin saat ia mendapat beasiswa penuh untuk melanjutkan SMA di salah satu SMA negeri terbaik di kota itu. Dan Seokjin mengajak Joungkook bersamanya, Joungkook yang hanya berusia 8 tahun hanya bisa mengikuti kemana kakak lelaki nya itu pergi. Dan dimulailah kehidupan keduanya. Dimulai dari Seokjin yang hanya menghidupi mereka berdua dengan uang hasil kerja part-timenya, hingga ia menjadi guru, dan sekarang menjadi pegawai di kantor sebesar ini. Seokjin dan Joungkook benar-benar sudah melalui jalan yang panjang untuk mencapai kehidupan nyaman mereka saat ini. Meski sang eomma sesekali membuat masalah, seperti saat ini.
.
.
.
Joungkook berjalan santai menaiki setiap anak tangga yang mengantarkannya menuju lantai dua, tempat dimana kelas kekasih manisnya, Kim Taehyung berada. Taehyung satu tahun lebih tua darinya, dia kelas 2 sekarang, berbeda dengannya yang masih kelas 1.
Bruk
"ah, mianhae, sunbae." Joungkook menunduk saat bahunya tak sengaja menabrak seseorang dengan badge kelas tiga. Namja yang ditabrak itu mendengus keras sebelum memperbaiki seragamnya yang sedikit kusut karena tadi bertabrakan dengan Joungkook.
Namja itu memandang Joungkook, dan menaikkan salah satu alisnya saat melihat nametag yang terpasang didadanya. "oh, kau yang bernama Joungkook itu? Well, sepertinya aku harus memaafkanmu kali ini. Kau sudah bertemu dengan Hoseok?" Tanyanya kemudian. Joungkook mengangkat kepalanya dan mengerjap cepat saat yang ia tabrak adalah ketua dari salah satu geng paling kuat di SMAnya, yang sudah sangat terkenal dengan sepak terjangnya di dunia kekerasan SMA.
Joungkook mengangguk patah-patah, "n – ne, sunbae. Hoseok sunbae sudah mengatakan untuk bertemu lusa."
"baiklah. Jaga dirimu baik-baik sampai hari itu."
Dan setelahnya namja itu berlalu begitu saja diikuti tiga orang dibelakangnya, yang sepertinya anak buah dari namja itu. Joungkook menghela nafasnya lega, berada dibawah tatapan tajam ketua geng itu cukup membuatnya gugup. apalagi beberapa hari yang lalu ia mengatakan ingin bergabung dengan mereka. Well, jiwa pemberontak khas remaja tengah menguasainya. Dan ia hanya ingin menyalurkan hasratnya untuk menghajar orang lain. Pelampiasan?
"Kookie?"
Suara serak berat itu membuat Joungkook mendongak, tersenyum lebar begitu melihat sosok Taehyung tengah berdiri di anak tangga paling atas.
"pulang, sayang? Seokjin hyung sudah menunggu didepan."
Taehyung berjalan turun, menghampiri Joungkook yang berjarak 7 tangga dibawahnya, "ada apa Seokjin hyung datang menjemput?" tanyanya heran. Karena memang sangat jarang, hampir tidak pernah Seokjin mengantar jemput Joungkook, fakta bahwa jarak rumah ke sekolah mereka lebih jauh dari pada jarak ke kantor namja cantik itu sebagai salah satu alasannya.
"entahlah. Mungkin Seokjin hyung ingin mengajak kita makan malam disuatu tempat. Kau tahu, tanggal muda, pasti hyung habis gajian."
Taehyung tertawa dan memukul pelan lengan Joungkook yang kini melingkari pinggangnya, "mungkin juga." Jawabnya sembari menyengir lebar, menunjukkan senyum persegi miliknya. Joungkook terkekeh dan mencuri sebuah kecupan singkat dipipi kekasihnya.
"Joungkook! Sudah kubilang jangan mencium di sekolah. PDA, beb, PDA!"
Joungkook hanya tertawa dan mengangkat kedua bahunya acuh.
"ngomong-ngomong, tae, aku berhasil masuk."
Taehyung mengerutkan keningnya, "masuk mana?"
"cypher."
Taehyung menghentikan langkahnya, yang otomatis membuat Joungkook juga berhenti. Namja manis itu memandang Joungkook tak percaya, "kau serius, Kookie ya? maksudku, astaga! Yang kita bicarakan itu Cypher! Geng paling kuat di Seoul!"
Joungkook justru terkekeh melihat wajah Taehyung yang sangat imut dengan ekspresi khawatir juga kagetnya, "aku serius. dan aku akan baik-baik saja, Tae. Cypher tidak seburuk itu, kau tahu sendiri mereka tidak pernah memulai perkelahian tanpa alasan. Mereka hanya mencoba menyelesaikan masalah de – "
"dengan perkelahian. Tak ada bedanya." Sambung Taehyung cepat. Joungkook tertawa dan mengacak santai rambut Taehyung. "kau akan memberitahu Seokjin hyung?" Tanyanya lagi. Joungkook menggeleng, "tidak. Untuk apa memberitahunya. Tak ada gunanya juga karena aku tidak akan melakukan apapun yang akan membuat Seokjin hyung terlibat. Tenang saja, begitu aku lulus SMA aku juga otomatis keluar dari geng. Itu peraturan yang aku tahu."
Taehyung menghela nafasnya panjang, "terserah kau saja."
.
"joungkookie~ Taehyung ah!"
Kedua namja itu setengah berlari menghampiri Seokjin yang berdiri disamping mobilnya yang terparkir tak jauh dari gerbang SMA mereka.
"tumben, ada apa hyung menjemputku?" Tanya Joungkook. Seokjin tersenyum, "hyung ingin mengajak kalian ke supermarket, membeli keperluan rumah. Tak apa kan? Akan sulit membawanya seorang diri nanti."
Taehyung tertawa melihat wajah Joungkook yang tertekuk mendengar jawaban Seokjin, "kukira hyung ingin mengajakku dan Taetae makan malam diluar."
"baiklah. Mungkin setelah berbelanja kita bisa makan malam. Kau ingin makan apa?"
"Sam gyupsal!"
Seokjin tertawa mendengar jawaban Taehyung dan Joungkook yang serempak. "baiklah. Sekarang masuklah ke mobil, agar kita bisa lebih cepat selesai belanja dan segera makan." Ucapnya sembari berjalan memutar untuk masuk ke mobil.
Joungkook menoleh ke arah Taehyung, "kau ingin aku temani di belakang atau bagaimana?" tanyanya. Taehyung tersenyum lebar, "kau didepan saja."
"kenapaaaa? Padahal aku ingin duduk disampingmu."
Tiba-tiba kaca mobil di depan Joungkook terbuka, memperlihatkan Seokjin yang sudah duduk dibelakang kemudi. "kau duduk didepan, Jeon! Awas kau duduk dibelakang dan membuatku seakan-akan menjadi supir kalian. Mengerti?!"
Taehyung dan Joungkook tertawa meski tetap menurut. Namja Jeon itu membukakan pintu untuk Taehyung sebelum duduk disamping Seokjin.
.
.
.
Seokjin menutup pintu mobilnya dan segera membawanya keluar dari tempat parkir yang berada disamping rumah makan tempat ketiganya tadi menghabiskan makan malam. Ini sudah jam 9, dan ia tak mau memulangkan anak orang terlalu larut, Taehyung maksudnya.
"kau sudah kenyang?" Tanya Seokjin sembari melirik pada Joungkook yang duduk disampingnya. Adiknya itu tersenyum lebar dan mengangguk, "tentu saja." jawabnya riang. Joungkook menoleh kebelakang dan memandang Taehyung yang tengah sibuk dengan ponselnya.
"ada apa? Kim ahjumma menanyakanmu?" Tanya Joungkook. Taehyung mengangkat wajahnya dari ponsel yang ia genggam dan mengangguk kearah Joungkook, "ya. eomma hanya bertanya kenapa belum pulang. Aku lupa mengatakan bahwa aku bersama Seokjin hyung. hehe"
"tapi sekarang sudah kan? Aku juga lupa mengabari Kim ahjumma." Ucap Seokjin. Taehyung bergumam pelan sebagai jawaban dan kembali menyimpan ponselnya. Ia tersenyum dan menyambut uluran tangan Joungkook yang berada didepannya, namja Jeon itu masih menoleh kebelakang. Dan tanpa diduga Seokjin, Taehyung mencondongkan tubuhnya kedepan dan mencium pipi Joungkook.
Taehyung nyengir lebar, "aku tak tahan mencium pipimu yang semakin tembem." Ucapnya kemudian. Seokjin memekik pelan, berbeda dengan Joungkook yang hanya tersenyum lebar.
"bisakah kalian menjaga kelakuan disekitarku? Astaga, apa hanya aku yang single disini? Tidak Yoongi tidak Joungkook, kalian benar-benar membuatku iri."
Joungkook dan Taehyung hanya tertawa mendengar gerutuan Seokjin. Keduanya justru kembali asik berbincang berdua, mengabaikan Seokjin yang hanya diam mendengarkan percakapan mereka. Joungkook kini duduk menyamping, mempermudahnya untuk memandang Taehyung. Seokjin menghela nafasnya panjang dan dengan malas menyalakan radio di mobilnya. Lama-lama membosankan juga mendengarkan percakapan bocah yang tengah dilanda cinta.
Setelah hampir setengah jam Joungkook hanya memperhatikan Taehyung, kini ia kembali duduk menghadap depan, setelah sebelumnya mendapat satu kecupan lagi dipipinya.
"seriously, Joungkook Taehyung. Kalian bersikap seakan-akan terpisah jarak jauh sekali, padahal kalian hanya berjarak tak sampai 1 meter! Joungkook hanya duduk didepan dan kau dibelakang! Astaga!"
Lagi-lagi Joungkook dan Taehyung hanya tertawa, membuat Seokjin mendengus kesal.
Mereka tak ada lagi yang berbicara, hanya suara radio yang tengah memutar sebuah lagu yang memenuhi mobil. Sampai tiba-tiba, Seokjin melirik Joungkook dan menggenggam tangan adiknya itu. Joungkook sedikit tersentak dan menoleh, "kenapa, hyung?"
"Joungkook ah, apa kau merindukan eomma?"
Joungkook tak pernah menyangka bahwa sang kakak akan menanyakan hal itu. Jika diingat, sudah lebih dari 5 tahun ia tak pernah menanyakan mengenai ibu mereka. Sampai sekarang pun ia tak tahu kabar sang eomma, dan ia tak pernah mencoba mencari tahu. Meski ia yakin bahwa Seokjin masih berhubungan dengan yeoja itu.
"kenapa tiba-tiba hyung bertanya seperti itu?" ada nada benci dan tak nyaman dalam suara Joungkook. Dan hal itu tertangkap jelas oleh Seokjin, dan tentu saja Taehyung yang ada dibelakang.
Seokjin menarik nafasnya dalam-dalam, lalu menoleh sepenuhnya ke arah Joungkook. Mereka tengah berada dilampu merah.
"kau ingin bertemu dengan eomma? Sudah lama kan tidak bertemu."
"tidak. Aku tak ingin bertemu dengannya." yang bahkan aku tak mau menyebutnya eomma.
Jemari Seokjin yang masih menggenggam milik Joungkook sedikit meremasnya, "kau benar-benar tak merindukan eomma? Kau tak ingin mengunjunginya di Busan?"
Joungkook dengan paksa melepas genggaman tangan Seokjin dan memalingkan wajahnya ke arah jendela, tak mau menatap raut wajah Seokjin yang pasti kini terlihat sedih.
"ehm, hyung lampunya sudah hijau." Suara serak Taehyung memecah keheningan diantara kakak beradik itu. Dan Seokjin tersenyum tipis, "gomawo Taehyung ah."
.
.
.
"aku akan ikut turun."
Suara tegas dari Joungkook itu membuat Seokjin menoleh, menatap adiknya yang ikut keluar saat Taehyung juga turun dari mobilnya. Seokjin berhenti tepat didepan rumah Taehyung yang hanya berjarak beberapa rumah dari tempatnya tinggal.
Seokjin mengehela nafasnya lelah saat mendapati Joungkook yang tak menunggu jawabannya dan langsung berjalan masuk ke rumah Taehyung, sudah terbiasa memasuki rumah itu bahkan jauh sebelum keduanya berpacaran membuat Joungkook bersikap seakan-akan itu rumahnya sendiri.
"Taehyung ah." Seokjin memanggil kekasih adiknya itu yang masih berdiri diam disamping mobilnya.
"ne hyung?"
Seokjin tersenyum, memandang Taehyung dengan lembut, "kau tahukan kenapa margaku dan Joungkook berbeda? Anak itu pasti sudah memberitahumu."
Dan Taehyung dengan ragu mengangguk. Ia selangkah lebih dekat ke arah Seokjin yang hanya berbicara lewat jendela mobilnya yang ia buka lebar.
"perasaan anak itu pasti sangat kacau setelah aku bertanya tadi. Jadi, hyung titip sebentar Joungkook disini ya?"
Taehyung tersenyum lebar, menunjukkan senyuman persegi miliknya dan juga ibu jarinya, "tenang saja hyung. Joungkook aman bersamaku."
Seokjin terkekeh dan menjulurkan tangannya untuk mengacak ringan rambut Taehyung, "jangan biarkan ia pulang malam-malam. Jika terlalu larut, bujuk saja dia untuk menginap ditempatmu. Ya?"
"siap, hyung!"
"hahahaha, baiklah, gomawo Taehyung ah. Sekarang masuklah sebelum Joungkook mengamuk dan berjalan keluar lagi untuk menyeretmu."
Taehyung tertawa dan segera pamit berjalan ke dalam. Seokjin menghela nafasnya panjang sebelum kembali menjalankan mobilnya menuju 5 rumah didepan rumah Taehyung. Sedekat itu jarak rumahnya dengan kekasih adiknya itu.
.
Seokjin berhasil memarkir mobilnya tepat didepan rumahnya. Rumah sederhana yang ia tempati bersama Joungkook tidak memiliki garasi, sehingga ia hanya meletakkan mobilnya didepan rumah, seperti tetangga sebelah rumahnya yang juga memiliki model rumah yang hampir sama.
"aku ingin segera tidur." Seokjin bergumam sembari turun dari mobil dan menguncinya. Ransel hitam dipunggungnya terasa sangat berat, mungkin efek bahunya yang lelah. Ia berjalan santai memasuki pekarangan rumahnya, sedikit mengernyit heran saat mendapati gerbangnya terbuka saat ia datang. Ia mulai merasa was-was.
"p – princess."
Gumaman lirih itu membuat Seokjin terlonjak kaget, ia setengah berlari menghampiri seseorang yang tengah duduk bersandar disamping pintu rumahnya. Ia tak ragu untuk mendekati namja yang tengah menunduk itu, satu-satunya orang yang ia kenal yang memanggilnya princess hanya orang itu.
"astaga, Namjoon! Apa yang terjadi padamu?!" Seokjin memekik spontan saat melihat wajah Namjoon yang penuh memar, bahkan beberapa bercak darah. Dan kemeja putihnya yang ikut merah terkena darah. Dan Seokjin yakin, dibalik baju itu pasti masih banyak memar lain yang lebih parah.
Seokjin dengan cepat meraih lengan Namjoon dan membantu namja itu untuk berdiri, "ayo masuk! Aku akan membantumu mengobati lukamu yang, astaga, bagaimana bisa separah ini?!" Seokjin lagi-lagi memekik, ia mengerutkan keningnya dalam-dalam dan memandang dengan khawatir namja yang tengah ia papah ini. Bahkan suara desisan nyeri yang keluar dari bibir Namjoon membuat Seokjin ikut meringis ngeri.
"pasti sangat sakit." Gumam Seokjin tanpa sadar. Namjoon terkekeh, "haha, auw, sshh, tidak sesakit itu. Kau tahu, tubuhku cukup kebal dengan hanya luka seperti ini."
Seokjin berdecak keras, "diamlah. Bahkan suara desisan nyerimu membuat telingaku sakit."
Namjoon lagi-lagi terkekeh dan menyandarkan kepalanya di bahu lebar Seokjin, menumpukan sepenuhnya beban tubuhnya pada namja cantik itu.
"aaayyy, Namjoon, kau berat."
.
.
.
Ruang tamu rumah Seokjin itu kini terlihat terang, mengabaikan jarum jam yang sudah menunjukkan pukul 10 lewat. Masih ada dua namja yang terjaga dengan sebuah baskom penuh dengan air hangat diatas meja, juga kotak P3K serta handuk kecil. Seokjin sudah mengganti bajunya menjadi sebuah kaos santai dan celana pendek selutut.
"jadi, bagaimana bisa kau berada didepan pintu rumahku dengan keadaan babak belur seperti ini?" Tanya Seokjin sembari mulai membersihkan wajah Namjoon dengan handuk yang telah sebelumnya ia celupkan pada air hangat. Namjoon mengerang pelan karena rasa nyeri yang menyerangnya saat Seokjin mengusap luka di wajah dan juga lehernya.
"entahlah, tiba-tiba saat aku tengah dihadang oleh lima atau tujuh? Aku tak yakin berapa yang menyerangku, pokoknya aku berusaha sebisanya untuk kabur dan berakhir disini. Kau tahu, semacam daya Tarik darimu, Princess."
Seokjin mendengus dan menekan luka disudut bibir Namjoon, menimbulkan pekikan sakit dari namja itu, "bisakah kau melakukannya dengna lembut, princess?"
Seokjin memutar bola matanya malas dan kembali mencelupkan handuk yang ia bawa ke dalam baskom, sedikit bergidik melihat warna air yang menjadi keruh, terkena efek merah darah dari luka Namjoon.
"sekarang buka bajumu."
"hah? Kau tidak sedang ingin melakukan seks dalam keadaan tubuhku yang penuh memar seperti ini kan?"
Seokjin membelalakkan matanya dan tanpa berpikir memukul kepala Namjoon, "berhenti berpikir mesum! Aku ingin membersihkan tubuh atasmu yang pasti juga penuh memar. Cepatlah! Atau kutinggal kau sendiri dengan luka-lukamu."
Namjoon terkekeh dan dengan cepat melepas kancing kemejanya dan membukanya begitu saja. ia bisa melihat semburat merah dikedua pipi Seokjin, "like what you see, babe? I have perfect body if you forget."
"perfect body, my ass. Ini penuh dengan warna biru dan bekas luka."
"wah, bibir se-seksi ini ternyata bisa mengumpat. Aku terkesan."
Seokjin tak menanggapi ucapan Namjoon dan kembali memeras handuk basah itu untuk membasuh sekilas beberapa memar di dada, perut, juga punggung Namjoon.
"sebenarnya, apa pekerjaanmu hingga kau memiliki banyak bekas luka ditubuhmu?"
Namjoon yang kini duduk membelakangi Seokjin di sofa yang sama itu hanya diam. Ia sepertinya baru sadar bahwa Seokjin tak memperhatikan kemeja yang tadi ia pakai, atau jas yang kini tergeletak begitu saja di lantai. Ia menyeringai kecil, ini menarik.
"kau akan tahu nanti, cepat atau lambat, tergantung kemampuan otakmu."
"Y – yah! Apa kau sekarang tengah mengataiku bodoh?!"
Namjoon tertawa, meski ada sedikit ringisan nyeri karena sudut bibirnya yang terluka, "tidak. Aku tidak mengatakan itu, sweetheart"
"Don't sweetheart me!"
Seokjin tanpa aba-aba mencengkeram kedua bahu Namjoon dan memaksanya berbalik, hingga kini keduanya kembali bertatapan.
Namjoon mengerang keras, "princess, aku mohon. Bisakah kau memperlakukanku lebih lembut lagi? Seriously, it hurts as fuck!"
Kali ini Seokjin menghela nafasnya lelah, sepertinya ia sudah keterlaluan saat melihat raut wajah Namjoon yang benar-benar kesakitan, "maaf, Namjoon." Ia berkata pelan, tanpa sadar mengusap lembut lengan kanan Namjoon. Namjoon menarik nafasnya dalam-dalam sebelum lengan kirinya menggapai tengkuk Seokjin dan tanpa disangka-sangka mendaratkan sebuah kecupan singkat di bibir seksi Seokjin.
"bibirmu yang mengerucut imut tak bisa aku sia-siakan begitu saja."
Seokjin memekik dan segera menjauh dari Namjoon, melepas tangan Namjoon dari tengkuknya, "kau selalu mengambil kesempatan."
Namjoon hanya terkekeh samar kemudian memilih untuk diam, membiarkan Seokjin mengoleskan apalah itu kepada luka dan memar yang ia miliki. Namja itu hanya sesekali meringis saat perih karena obat yang diberikan Seokjin. Selebihnya hanya hening, Namjoon tak melepaskan pandangannya dari wajah serius Seokjin yang berusaha selembut mungkin mengobati lukanya. Dan hal itu membuat sebuah senyum kecil muncul di sudut bibir namja tampan itu.
"kau sungguh mempesona."
"ya?" Seokjin mendongak selesai menempelkan plester terakhir pada luka kecil di pinggang Namjoon. Ia tak mendengar terlalu jelas gumaman Namjoon tadi.
"Beautiful, You."
Dan Seokjin tak tahu, kenapa wajahnya memanas hanya karena ucapan simple dari namja didepannya. Ia memilih untuk memalingkan wajahnya dan memandang kemanapun selain Namjoon yang sialnya masih duduk tepat didepannya.
Sudut bibir Namjoon terangkat, membentuk sebuah seringai kecil. Tangan kirinya menangkup sisi wajah Seokjin, memaksa namja cantik itu untuk kembali menatapnya. Dalam hening, Namjoon mendesak Seokjin hingga menabrak lengan sofa dibelakangnya, membuat posisi namja cantik itu setengah berbaring dengan Namjoon yang berada diatasnya, tak mau melepas tatapan mereka.
Bibir Seokjin tak mengeluarkan protes apapun, seakan-akan hanyut dalam tatapan Namjoon yang begitu intens memandangnya. Namun kedua tangan Seokjin menahan dada Namjoon, memberi jarak bagi tubuh keduanya agar tak menempel.
"Have I said that your lips are so appealing? They are so red and sexy and sweet."
Nafas Seokjin semakin berat, ia hampir terengah saat menyadari bahwa nafas Namjoon menjadi satu dengan miliknya. Bahkan hidung keduanya bersentuhan ringan, memberikan efek yang begitu kentara dengan perubahan warna diwajahnya yang semakin memerah. Dan Seokjin tak menolak saat bibir Namjoon bertemu dengan miliknya, memagut dengan sangat lembut juga menggairahkan, hampir-hampir membuatnya mengerang nikmat.
Namjoon tersenyum menang saat merasakan tangan Seokjin kini berada dibahunya dan meremasnya pelan, menyalurkan nikmat akibat lumatan dibibirnya. Wajah terpejam Seokjin yang begitu menikmati membuat Namjoon semakin berani dan mulai melibatkan lidahnya, menyapa mulut Seokjin dan menggeram samar saat merasakan lidah Seokjin yang membalas pergerakan miliknya.
Seokjin tak akan menyangkalnya, karena ciuman Namjoon memang benar-benar memabukkan. Namja tampan itu benar-benar ahli dalam memainkan bibir juga lidahnya. Membuat Seokjin melupakan segalanya dan hanya focus pada kenikmatan yang diberikan Namjoon. Bahkan ia membiarkan tangan Namjoon menyusup kedalam kaos yang ia pakai dan meremas lembut pinggangnya, membuat ia melenguh samar.
Namjoon sudah akan menurunkan ciumannya ke rahang Seokjin saat suara pintu yang terbuka membuat mata Seokjin juga ikut terbuka. Namja cantik itu belum sempat mengubah posisinya saat suara adik lelaki satu-satunya terdengar.
"Seokjin hyung?"
Seokjin dengan terburu mendorong bahu Namjoon, hampir-hampir menendang namja yang masih berada diatasnya itu. Dengan panic ia memandang Joungkook, sembari tangannya merapikan keadaan baju juga wajah memerahnya.
"I – ini hanya ke – "
"Sunbae? Namjoon sunbae?"
Dan semua penjelasan Seokjin tertelan begitu saja saat mendengar Joungkook menyebut nama Namjoon. Kening namja cantik itu mengerit bingung, apalagi melihat raut terkejut Namjoon yang melihat sosok Joungkook.
"s – sunbae? Apa maksudmu, Joungkook ah?"
Namjoon tiba-tiba terkekeh, "well, princess, kalau kau tak tahu akan aku jelaskan. Aku adalah sunbae, atau kau bisa bilang kakak kelas dari namja yang tengah berdiri didepan pintu itu."
"A – apa?"
.
.
.
TBC
Hi~ maaf baru bisa update, UAS benar-benar menyita sebagian waktuku. Dan yeah, mungkin ini updateku terakhir sebelum bulan ramadhan, you know lah. Hehehe, tapi mungkin masih update stau ff lagi sebelum bener2 fokus buat puasa, kkkk
Semoga chap ini tidak mengecewakan, dan terima kasih untuk semua yang sudah membaca apalagi review fic ini! Love you~ Muach :***
