Disclaimer: cuma aku pinjam.

Warning: Banyak typo,bahasa kurang jelas, ooc, Semi-Canon, mainstream, OverPower Naru!,dll.

Genre :Adventure. Family. Romace.(kurasa)

Chapter 4.

"Ahh... Teh buatan Queen Rias memang enak" Puji pria pirang berwajah keriput itu, terlihat disampaikannya Rias duduk dengan gelisah, saat tangan pria itu menjalar ke pahanya.

"Ara~ Ara~ Arigato" Balas nya dengan senyuman biasanya.

Issei yang melihatnya terlihat marah, karena tidak tahan dia langsung bangkit dan menunjuk pria itu.

"Oyyy... Bakayaro! Menjauh kau dari Bocho! Dia itu calon Harem ku! Dan sebenarnya siapa kau ini?" Teriaknya. Pria itu hanya menatap nya remeh, sedangkan Grayfia menatap pemuda itu tajam. Dan terasa hawa di ruang itu mulai dingin.

Naruto yang tadinya menutup matanya, mulai membuka matanya dan melihat ke sumber aura tersebut.

"Energi nya cukup besar! Aku yakin dia bukan iblis biasa" Batinnya.

Sedangkan Issei, kini wajah nya mulai di basahi keringat.

"Beraninya kau menghina iblis kelas tinggi, iblis rendahan! Dan asal kau tahu, Raiser Phoneix-sama adalah tunangan Rias-Ojou-sama"

"Tapi aku sudah mengatakan, aku menolak pertunangan itu!" Bentak Rias bangkit dari tempat duduknya.

"Oy.. Rias, apa kau tahu, iblis murni itu tinggal sedikit! Dan jika kau berniat membuat malu Phoneix, aku akan menyeret mu ke Mekkai, walaupun aku harus membakar seluruh pelayan mu!" Tekan Raiser dengan api ditangannya.

Sona dan Naruto hanya diam saja, mereka masih duduk ditempat mereka tadi, tanpa berkomentar.

"Hentikan Raiser-sama, jika anda macam-macam saya tidak akan tinggal diam!" Ucap Grayfia datar, tidak lupa udara terasa semakin dingin.

"Oy.. Oy.. Yang benar saja, mana berani aku melawan Queen terkuat di Mekkai" Ujar Raiser menghilangkan apinya.

"Hahh~ Sirzechs-sama telah menduga hal ini! Maka dia memberikan pilihan untuk Rias Ojou-sama... Jika anda memang ingin membatalkan pertunangan ini, akan di adakan Rating Game untuk menentukan nya" Rias dan Sona tersentak mendengar hal tersebut, sedangkan Raiser dia menyeringai penuh kemenangan.

"Itu tidak bisa, Rias p-"

"Baiklah aku terima!" Kata-kata Sona langsung di potong oleh Rias dengan tegas. Sona menatap gadis itu tidak percaya.

"Heh! apa kau pikir bisa melawan ku yang sudah pengalaman dalam Rating Game! Bahkan bidak ku sudah satu set lengkap, tidak seperti mu!" Ujar nya sombong, lalu dia menjentikkan jari nya.

Lagi-lagi muncul lingkungan sihir dengan kobaran api, setelah kobaran api hilang, terlihat lah disana berdiri beberapa gadis.

"Waaa... Oppai! Dia... Dia pria sejati!" Teriak Issei kesetanan.

Naruto dan Sona langsung sweatdrop melihat tingkah mesum Issei. Sedangkan Raiser menatap nya bingung.

"Oy.. Rias, ada apa dengan nya?" Tanya nya pelan.

"Hahh~ Dia memiliki memimpi menjadi raja Harem" Balas Rias.

Raiser yang mendengar nya menyeringai.

"Yubellena" Panggil Raiser.

"Ha'i~" Terlihat gadis surai ungu berjalan mendekati Raiser.

"Heh! Apa kau pernah melakukannya ini!" Ucapnya sambil memeluk gadis surai ungu itu, lalu dia langsung mencium gadis itu dengan panas.

Naruto yang melihat itu secara live, terlihat di pipinya ada semu merah.

"Waa... Apa anak muda sekarang memang seperti ini? Mereka tidak malu sama sekali, padahal mereka melakukan hal seperti itu didepan orang banyak" Batin Naruto.

"Kau juga pernah melakukannya bersama Uchiha itu, kau ingat! Buahaha..." Naruto langsung down mendengar apa yang dikatakan Kurama.

"Bagaimana! Apa kau pernah melakukannya!" Ujarnya menyeringai.

"Teme! Jangan main-main dengan ku!" Teriaknya menerjang Raiser dengan Sacred Gear yang sudah aktif.

"Mira!" Panggil nya, seakan mengerti seorang gadis surai biru memegang tongkat langsung menerjang ke Issei.

Buagh!

"Uggh!"Tubuh Issei langsung terangkat ke atas setelah menerima pukulan tongkat gadis tadi.

Brukh!

Tubuh Issei jatuh cukup keras kelantai, dengan kondisi yang sudah pingsan.

"Issei-kun.. Tidak bisa dimaafkan!" Marah Himawari bangkit dari tempat duduknya, matanya yang tadi biru berubah menjadi lavender tanpa pupil.

"Hiiiaaa.." Teriaknya menerjang gadis yang menyerang Issei tadi. Gadis surai biru tadi langsung menyiapkan kuda-kudanya. Namun dia harus dikaget kan saat sesuatu kasat mata menghantam nya sampai dia meluncur kebelakang.

"Hakke Kusho"

Pusshh!

"Kyaa..."

Brakh!

"Mira!" Teriak gadis surai pirang melihat gadis itu telah pingsan menghantam dinding dengan kerasnya.

Baru saja akan menyerang lagi. Mata Himawari membola saat melihat Raiser sudah ada didepannya.

Grab!

"Argghh..." Himawari berteriak kesakitan saat Raiser menggenggam pergelangan tangannya, tapi bukan itu yang membuat dia berteriak, tapi tangannya terasa terbakar digenggaman Raiser.

"Heh! Kau boleh juga! Tapi ini ad-"

Buagh!

Brakh!

Raiser tidak bisa melanjutkan kata-katanya, saat Naruto telah muncul disampingnya dan langsung menghantam wajah pemuda itu sampai dia tersandar pada dinding.

"Raiser-Sama" Panik para pelayan nya.

Mereka menatap tidak percaya pada pria jabrik itu, padahal tadi dia masih duduk disamping Sona, dan mereka sama sekali tidak melihat pria itu bergerak dari sana.

"Berani nya kau!" Marah Raiser.

"Jangan pernah kau menyentuhkan tangan kotor mu pada nya!" Ucap nya menatap tajam Raiser yang mulai berdiri normal kembali.

"Papa" Batin Hinawari kaget. Dia tersentak saat melihat raut wajah Naruto yang terlihat mengeras sambil menatap Raiser.

Raiser bukannya takut, dia malah menatap Naruto menyeringai. Lalu hawa di ruangan itu mulai panas, bersamaan dengan api yang mulai mengobar dari tubuh Raiser.

Anggota Rias mulai berkeringat saat merasakan keadaan yang makin memanas, begitu juga Sona terlihat dia juga sudah siap-siap membantu Naruto, karena bagaimanapun Naruto itu adalah bagian dari keluarganya.

Namun sebelum terjadi pertarungan, hawa yang tadinya panas berubah menjadi sangat dingin disertai tekanan energi yang kuat.

Brukh! Bruk..

Terlihat beberapa anggota Raiser ada yang berlutut karena tidak kuat, sedangkan anggota Rias hanya gadis surai pirang yang tidak dapat berdiri lagi, tapi tidak dapat dipungkiri Rias dan yang lainnya sudah bermandikan keringat, begitu juga Raiser yang mulai berkeringat merasakan tekanan yang di keluarkan dari Queen terkuat di Mekkai.

"Aku sudah mengatakan! Jangan ada pertarungan disini, aku tidak akan segan-segan membekukan kalian!" Raiser langsung menghilangkan kobaran api dari tubuhnya mendengar ancaman tersebut, sedakan Naruto? dia hanya melirik wanita itu seperti sama sekali tidak merasa kan apa-apa.

"B-baiklah, kami akan kembali!... Bersiaplah Rias, aku akan mempermalukan mu sepuluh hari lagi!" Ucap Raiser, sebelum dia dan keluarganya ditelan lingkaran sihir merah.

Merasa kondisi yang sudah mulai membaik, Grayfia langsung menghilang kan tekanan energi nya dan itu membuat mereka lega.

"Baiklah Rias Ojou-sama, saya permisi dulu" Pamitnya sebelum hilang di telan lingkaran sihir.

"Issei! Asia!" Panik Rias saat melihat pemuda dan gadis itu masih tergeletak di lantai, lalu dia mengangkat mereka ke sofa di bantu Akeno.

Dengan perlahan Naruto membalikkan badannya, dan dia dapat melihat Himawari yang tertunduk sambil memegang tangannya yang terlihat bekas terbakar.

Baru saja akan memegang tangan Himawari yang tidak terbakar. Tapi tangannya langsung di tampar gadis itu.

"J-jangan sentuh aku" Ucapnya dengan suara bergetar.

"Hima. Tolong, sekali ini saja! Aku menghawatirkan mu" Mohon Naruto, lalu dia kembali memegang tangan gadis itu. Melihat tidak ada perlawanan lagi, Naruto pun menuntun Himawari duduk di sofa.

Naruto dapat melihat luka bakar itu cukup parah, dan saat dia melihat ke wajah gadis itu, dia tidak dapat melihat ekspresi yang di keluarkan Himawari, karena gadis itu sedang menunduk seakan tidak mau menatap Naruto.

Tidak ingin melihat luka itu lebih parah, Naruto langsung meletakkan tangannya di atas luka itu.

Sona dan yang lainnya menatap tidak percaya, saat melihat aura hijau yang muncul di telapak tangan Naruto, dan terlihat luka bakar itu mulai berangsur-angsur membaik sampai hilang.

"Hossh... Apa masih sakit?" Pastikan Naruto. Gadis itu menjawabnya dengan gelengan dengan kepala yang masih menunduk.

Mendapat balasan tersebut, Naruto lalu mengalihkan perhatian pada Sona. Dia menaikan alisnya sebelah saat melihat Sona menatap nya seperti melihat hantu. Dan saat dia mengalihkan perhatian pada penghuni lainnya, tatapan mereka sama seperti Sona.

"Ano.. Kenapa kalian menatap ku seperti itu?" Tanya nya menatap heran mereka.

"Naru-nii! Apa itu tadi Sacred Gear?" Bukannya menjawab, Sona malah balik bertanya.

"Bukan.. Itu tadi Jutsu medis" Jawabnya.

"Jutsu medis?" Naruto mengalihkan perhatian pada gadis surai putih yang akhirnya buka suara.

"Ha'i! Bisa dibilang jurus pengobatan.. Ano..?"

"Koneko. Toujou Koneko"

"Ah! Ya, Koneko-chan" Sambungnya.

"Ano.. Naruto-san. Kalau boleh tahu, sebenernya anda itu berasal dari mana?" Tanya gadis surai hitam panjang, yang tidak lain Akeno. Terlihat Naruto seperti menimbang-nimbang, apakah dia akan memberi tahu.

"Hahh~ Aku berasal dari Konoha. Konoha adalah sebuah desa yang dikelilingi oleh hutan." Jelaskan nya singkat.

"Konoha? Aku sama sekali tidak pernah mendengar desa itu! Sebenarnya ada di mana itu?" Tanya Rias, dia juga cukup penasaran pada desa Himawari, karena kekuatan yang di miliki Himawari berbeda dengan kekuatan pada umumnya.

"Sudahlah, lupakan saja itu! Lebih baik kalian memikirkan cara untuk menang melawan pemuda tadi" Ucap Naruto berusaha mengakhiri pertanyaan tersebut. Terlihat ada raut sedih di wajah tampan itu saat mengingat kampung halaman nya.

"Itu benar Rias! Apa yang akan kalian lakukan? Kau pasti tahu, Raiser itu sudah berpengalaman dalam Rating Game" Sona yang melihat raut sedih di wajah Naruto, langsung ikut mengalihkan pembicaraan.

"Hahh~ Aku dan yang lainnya akan pergi melatih Issei di vila Gremory, karena dia satu-satunya kunci untuk menang!" Ujar Rias sambil tersenyum hambar.

"Kenapa seperti itu? Bukan nya kau masih memiliki budak! Kenapa kau hanya fokus pada dia?" Rias melirik Naruto saat mendengar pertanyaan pria itu.

"Mau bagaimana lagi? Issei adalah pemegang Sacred Gear longinus, dan jika dia menguasainya nya bahkan Riser bukan apa-apa baginya!" Ujar Rias, sedikit menyombongkan kekuatan Pion nya itu.

"Pantas bocah itu arogan! Kau pasti telah mengatakan dia memiliki kekuatan besar. Tapi ingatlah Ojou! Sekuat apapun kau, sebesar apapun kemampuan mu, sepintar apapun kau! Pasti! Kau pasti membutuhkan bantuan orang lain!" Tekan Naruto. Tentu saja mereka kaget mendengar kata-kata pria itu.

"Apa maksudmu?! Apa kau iri karena kau hanya mengkonsumsi satu bidak pawn, sedangkan Issei delapan!" Bukannya memahami apa maksud dari kata-kata Naruto. Rias malah marah karena dia mengaggap Naruto iri pada Issei.

"Hahh~ Bukan seperti itu! Yang aku maksud adalah, kau memiliki keluarga lain di team mu, tapi kau seakan lupa dan langsung menganak emas kan dia, saat tahu dia memiliki salah satu Sacred Gear yang termasuk Longinus...

"Jika kau memperhatikan yang lainnya, kau pasti dapat melihat potensi yang dimiliki masing-masing keluarga mu! Gadis pirang itu... Jika kau melatihnya dia pasti jadi menjadi menopang yang hebat dalam team mu, karena pengobatan itu sangat di perlukan di medan perang... Lalu Kiba-kun, yang aku tahu dia memiliki kecepatan yang hebat, dan dia juga memiliki Sacred Gear yang hebat juga...

"Lalu Koneko-chan, aku dapat merasakan energi Senjutsu padanya, Senjutsu itu bukan lah sesuatu yang bisa di anggap remeh, kekuatan mu bisa berkali-kali lipat dari biasanya"

Tubuh gadis loli itu menegang saat mendengar kata senjutsu dari Naruto.

"Lalu Akeno-chan, dia memiliki kontrol yang hebat dalam sihir, apa lagi dalam sihir petir, tapi lagi-lagi kau hanya fokus pada pemuda itu, dan menyuruhnya memanjangkan Issei juga... Lalu Hima, dulu dia sangat rajin berlatih, dan perkembangan nya juga pesat. Tapi sejak bergabung dengan mu, dia tidak berlatih lagi. Karena apa? Karena kau menyuruh nya fokus ke cara membangkitkan kekuatan pemuda itu, yaitu nafsunya. Dia jadi tidak pernah berlatih! Padahal jika dia berlatih, aku yakin dia sudah setara dengan ibunya, ah tidak, malah bisa lebih kuat saat seumuran dengan nya!"

Tubuh Himawari langsung menegang mendengar apa yang di katakan Naruto.

Terdiam, tidak ada yang berkomentar dari apa yang di katakan Naruto. Bahkan gadis merah itu kita ini hanya dapat mematung dengan mata yang membola sempurna.

"Ingatlah Ojou, jika kau tidak tahu apa arti dari team. Kau tidak pantas menjadi ketua dalam sebuah team!" Lanjutnya, lalu dia berdiri dan pergi dari sana.

Hening! Terjadi keheningan di ruangan itu setelah Naruto pergi.

"Hiks! Hiks.. Apa yang telah kulakukan selama ini? Benar! Benar yang di katanya, aku hiks! Terlalu memanjakan Issei" Keheningan itu pecah, saat terdengar tangisan dari gadis surai merah itu.

Akeno menatap sedih Rias, memang yang dikatakan Naruto tadi semua nya benar, tapi dia sama sekali tidak membenci Bocho nya tersebut. Karena jika Bocho nya itu memerintahkan apapun, pasti dia turuti. Lalu dia langsung memeluk sahabat atau majikannya itu.

"Hahh~ Maafkan atas sikap Naru-nii, Rias. Aku tidak tahu kenapa dia sampai berkata seperti itu" Ucap Sona membungkuk sedikit. Namun tidak ada balasan dari gadis itu, dia hanya menangis dalam pelukan Akeno. Mungkin itu adalah pukulan telak untuk Rias, karena selama ini tidak ada yang mau protes akan tingkahnya.

"Ano.. Kaicho? Bagaimana Naruto-san bisa mengetahui semua itu? Bahkan dia tahu energi Senjutsu yang dimiliki Koneko-chan?" Tanya Kiba penasaran. Sama seperti Akeno, kiba sama sekali tidak marah Rias menganak emaskan Issei. Jika itu yang terbaik untuk Bocho nya, yah dia mau bagaimana lagi.

"Yang Naru-nii katakan padaku, dia sudah lama mengamati kita. Baik team Rias, ataupun aku. Tapi mengenai merasakan energi senjutsu Koneko? Aku sama sekali tidak tahu? Karena aku juga belum tahu kemampuan apa saja yang di miliki Naru-nii, sampai-sampai dia mengamati kita tanpa kita sadari sama sekali" Balas Sona. Lalu dia menghela nafas memikirkan kata-kata Naruto tadi. Dia berfikir itu bukanlah hanya untuk Rias, itu adalah seperti pesan untuk semua nya, jangan pernah melupakan kerja sama team.

"Sona!" Gadis itu menoleh ke arah Rias, yang memanggilnya dengan suara serak.

"A-apa kau dan yang lainnya bisa ikut dengan kami latihan? Dan tolong bawa juga Naruto-san" Mohon Rias dengan suara serak. Gadis berdada kecil itu mengangguk, lalu dia bangkit dari tempat duduknya.

"Baiklah! Besok kita akan berangkat, aku juga pasti membawa Naru-nii. Kalau begitu aku permisi dulu" Dengan itu, Sona langsung melangkah ke pintu.

Namun saat Sona membuka pintu, dia berhenti di sana.

"Himawari. Aku tahu kau masih membenci ku! Tapi kau tidak perlu melibatkan Naru-nii, dan sampai ikut membenci nya. Kau tahu dia sangat menyayangi mu, bahkan melebihi apapun" Ujarnya ambigu, lalu dia langsung pergi dari sana.

Terjadi keheningan setelah Sona pergi. Dan jika di perhatikan, Himawari yang dari tadi menunduk terlihat tubuhnya bergetar, bukan itu saja pahanya juga basah.

"Hiks! Hiks.. Ternyata papa tidak pernah membenci ku. Dia bahkan selalu memperhatikan ku! Padahal ku kira selama ini papa sudah tidak perduli padaku. Hiks!" Batin nya dengan air mata yang mencucur deras.

"Gomen. Akeno, Kiba, Koneko, Hima. Aku bersikap tidak adil pada kalian" Ucap gadis merah itu. Akeno dan Kiba mengangguk sambil tersenyum. Sedangkan Koneko dan Himawari hanya diam sambil menunduk.

X

X

Dibawah teriknya matahari, Naruto terus melangkah tanpa arah. Setelah keluar dari Kuoh Academy, dia sebenarnya ingin ke kedai Ramen nya. Namun tidak jadi karena mood nya sedikit buruk.

"Oi.. Naruto, kenapa kau mengatakan hal yang cukup menyakitkan itu!" Mendengar pertanyaan Kurama, Naruto menghela nafas berat.

"Hahh~ Aku sedikit kesal tadi. Tapi kau benar, seharusnya aku tidak berkata seperti itu tadi. Mungkin besok aku akan menemuinya dan minta maaf" Balas nya. Setelah itu tidak ada lagi percakapan antara mereka, Naruto terus melangkah sampai di sebuah jembatan, dan tanpa sengaja dia melihat ada seseorang tengah memancing di sungai dangkal tersebut.

"Bukannya itu Azazel-san?" Gumamnya. Lalu dia langsung melompat dari jembatan itu dan mendarat mulus dibelakang pria yang sedang memancing itu.

"Yo.. Azazel-san" Sapa nya sembari duduk disamping Azazel.

Azazel melirik kesamping, namun itu hanya sebentar, karena dia kembali fokus pada pancing nya.

"Tidak biasanya aku melihat mu jalan-jalan seperti ini. Apa kau tidak menjaga kedai Ramen mu?" Tanya Azazel memulai pembicaraan, walaupun pandangan masih ke pancingan nya.

"Ya~ Sekali-kali kurasa bukan masalah" Balasnya sambil melempar batu kecil ke sungai itu.

"Oi! Kau membuat ikan di sungai ini kabur" Protes Azazel melihat kelakuan pria itu.

"Hah? Ikan? Mana ada ikan di sungai yang hanya dalam sampai mata kaki!" Ujar pria jabrik itu. Azazel hanya dapat menghela nafas mendengar apa yang di katakan Naruto itu benar.

Terjadi keheningan di antara mereka berdua. Naruto terus melakukan hal yang dia lakukan tadi. Yaitu melempar batu ke sungai.

Deg!

Naruto langsung melompat menjauh saat dia merasakan ada yang melesat ke tempatnya.Begitu juga Azazel, dia juga melakukan hal yang sama seperti Naruto.

Boom!

"Wow.. Refleks nya cepat juga" Batin Azazel melihat Naruto juga menyadari serangan itu.

Saat debu hasil ledakan tadi hilang, terlihatlah di sana berdiri pemuda surai perak dengan wajah maniak nya, di tambah ada sayap berwarna biru punggung nya.

"Azazel! Kenapa kau tidak mengatakan padaku, bahwa kau memiliki teman yang bisa memuaskan rasa bertarung ku!" Ujar pemuda itu dengan seringai maniak bertarung.

"Oi.. Kau jangan gila Vali, dia hanya pemilik kedai ramen" Peringati Azazel supaya pemuda itu tidak melakukan hal yang membahayakan Naruto.

"Heh! Kau hanya tidak tahu... Dia ini orang yang kuat!"

Whuss!

Vali langsung menerjang Naruto dengan kecepatan tinggi, setelah di depan Naruto, dia langsung melancarkan serangan berupa tinjuan pada Naruto.

Bugh! Brakh!

Tapi Naruto masih bisa menahan pukulan itu dengan menyilang kan tangan nya. Namun tanah yang ada di bawah Naruto terjadi cekungan, menandakan pukulan Vali bukan main-main.

Melihat pukulan bisa di block, Vali memutuskan melompat ke belakang menjaga jarak dari Naruto.

"Kau lihat Azazel! Dia adalah orang yang kuat! Kau bodoh jika selama ini berfikir dia hanya penjual ramen biasa!" Ujar Vali, menatap Naruto yang kini menetap dia tajam.

"Benar yang dikatakan Vali. Pukulan tadi, aku yakin bahkan Malaikat jatuh yang memiliki dua pasang sayap tidak akan mampu menahan nya dengan tangan kosong" Batin Azazel setuju dengan apa yang di katakan Vali.

"Siapa kau? Kenapa kau menyerang ku?" Vali menyeringai mendengar pertanyaan itu.

"Aku Vali, sang Hakuryu saat ini! Dan aku tidak memiliki alasan untuk menyerang mu! Kau tahu, aku ini sangat suka bertarung dengan orang kuat" Ujarnya dengan seringainya. Naruto menghela nafas mendengar alasan tersebut.

"Hahh~ Jadi kau pemilik Divine Dividing... Jadi apa yang kau inginkan dari ku?"

"Tentu saja... Bertarung dengan mu!" Ujarnya kembali menerjang Naruto. Azazel yang melihat akan ada pertarungan lagi, cepat-cepat membuat kekkai supaya tidak ada manusia yang melihat.

Melihat pemuda itu lagi-lagi menerjang, Naruto mempersiapkan diri untuk memberi pemuda itu pelajaran.

Tak!

Dengan mudahnya Naruto menepis pukulan yang di layang kan Vali kepadanya. Belum sempat Vali merespon, dengan cepat Naruto menarik tangan kanan pemuda itu dan langsung membanting tubuh Vali kebelakang.

Brakh!

"Ghaakk!" Punggung Vali dengan keras menghantam tanah akibat bantingan tersebut. Namun Vali tidak bisa beratapi hal tersebut, karena dia dapat melihat tinjuan telah meluncur padanya.

Braakkh!

Azazel menatap horor hasil dari pukulan Naruto. Tempat Vali tadi terlihat sangat hancur, namun Azazel sama sekali tidak melihat ada Vali di sana.

Melihat pemuda itu berhasil menghindar, Naruto mendongak ke atas saat merasakan pemuda tadi ada di atas. Dan benar saja, terlihat Vali sedang melayang menggunakan sayapnya dengan nafas yang agak tersengal.

"Hahh.. Haah.. Tadi itu hampir saja" Batin Vali agak horor melihat tempat tanah yang kena pukulan Naruto hancur parah.

"Hahaha... Seperti yang di kabarkan! Kau memang kuat! Tapi... Aku akan serius!"

"Balance Breaker!"

"Oi.. Oi.. Yang benar saja! Apa Vali berniat membunuh Naruto, sampai-sampai dia menggunakan Mode itu!" Batin Azazel saat melihat Vali telah bertransformasi.

"Energi nya meningkat pesat! Apa ini salah satu kekuatan Sang Naga putih?" Batin Naruto menatap Vali yang sudah memasuki Mode Balance Breaker. Lalu terlihat di sekitar mata Naruto muncul bercak oranye dan pupil nya juga menjadi Horizontal. Ya, itu Mode Sannin.

Naruto yang sudah bisa dibilang master dalam senjutsu dapat menyerap energi alam dalam 3 detik. Itu adalah salah satu pencapaian Naruto selama berlatih disini.

"Ayo kita mulai lagi!" Setelah mengatakan hal tersebut, Vali menerjang Naruto lebih cepat dari yang tadi.

Bugh! Boom!

Vali maupun Azazel membulatkan mata kaget, saat melihat pukulan Vali dapat di tahan dengan tangan kiri oleh Naruto. Padahal pijakan Naruto telah terjadi retak kan seperti sarang laba-laba, menandakan kuat nya pukulan tersebut.

"Pukulan mu kuat juga! Tapi...

Naruto langsung menarik tangan Vali, supaya dia lebih dekat.

"Itu belum cukup!" Ujarnya menghantamkan kepalan nya yang sudah di aliri chakra ke wajah Vali.

Buagh!

Whuss! Braakkh!

Tubuh Vali meluncur dengan derasnya sampai menghantam batu pembatas di sebrang sungai. Azazel yang melihat hal tersebut, hanya dapat mangap-mangap karena tidak tahu apa yang akan dia katakan.

Naruto pun berjalan mendekati Vali yang masih tersandar di batu besar itu, dan terlihat bagian wajah helm Balance Breaker telah pecah dan terlihatlah wajah Vali yang berdarah.

"H-Ha-HAHAHA... Kau memang hebat, tepat seperti yang di katakan nya!" Naruto menghentikan langkahnya di atas air, saat melihat Vali mulai bangkit dan menyeringai padanya.

"Siapa yang kau maksud?" Tanya Naruto, dia cukup penasaran siapa yang di maksud Vali.

"Heh! Nanti juga kau pasti tahu!"

"Divide!"

"Ughh!" Naruto tiba-tiba berlutut saat tubuhnya terasa melemas, tapi itu hanya sebentar. Dan saat melihat ke Vali, dia melihat helm Balance Breaker pemuda itu sudah utuh lagi, dan terlihat sayap yang ada dipunggung nya bercahaya.

"Apa yang terjadi? Aku merasa chakra ku tersedot sesuatu?" Batin Naruto bingung. Terlihat mode Sannin nya telah hilang.

"Hahaha... Bagaimana! Itu adalah salah satu kekuatan Albion, yaitu menghisap energi orang lain, jika aku menyentuhnya!" Ujar Vali dengan arogannya.

"Jadi seperti itu ya! Aku sudah tidak penasaran lagi" Ucap Naruto mulai berdiri lagi.

Vali yang melihat Naruto bangkit lagi menyeringai.

"Di-"

"Hentikan Vali! Kau sudah tidak bisa menghisap energi nya lagi!" Tahan sebuah yang cukup berat.

"Apa bagaimana bisa? Bukannya aku bisa membagi kekuatan musuh tanpa batas, jika aku menggunakan Balance Breaker" Balasnya.

"Itu memang benar! Tapi itu jika kau masih bisa menampung nya... Tapi ini, tubuhmu akan hancur jika membagi kekuatannya lagi, karena energi mu sudah terisi penuh!" Vali membulatkan matanya, mendengar hal tersebut.

"Jadi kau ingin energi ku... Baiklah akan aku berikan" Ucap Naruto, dan saat itu lah chakra Naruto terlihat meluap dengan hebatnya.

Deg!

Husshh!

Wajah Azazel langsung dibanjiri oleh keringat, saat merasakan luapan chakra tersebut. Sedangkan Vali mengalami hal yang sama dengan Azazel, bahkan tubuhnya terasa tidak bisa dia gerakkan.

"A-apa-apaan energi ini! I-ini gila!" Batin pria memiliki surai dua warna itu.

"Dia memiliki kekuatan sebanyak itu setelah kau membagi kekuatannya! Dia... Dia monster" Tanpa sadar Vali mengangguk menyetujui suara yang ada di kepalanya itu.

Dengan cepat Naruto merangkai handseal yang cukup panjang.

"Mokuton: Jukai Kotan" Gumam Naruto setelah dia mengakhiri handseal nya.

Brakhh! Brakhh! Brakhh...

Vali dan Azazel dikaget kan, saat muncul pohon-pohon dari bawah tanah. Belum sempat Vali merespon, salah satu pohon langsung menangkap dan mengurung nya, dan terlihat hanya kepala Vali saja yang terlihat, sedangkan tubuhnya terkurung dalam pohon yang lebih besar dari pohon-pohon lainnya.

"Ugghh... Apa-apa pohon ini! Aku sama sekali tidak bisa menggerakkan tubuh ku!" Gumam Vali sambil berusaha bergerak, tapi percuma saja itu sama sekali tidak membuahkan hasil.

"D-dia memiliki jurus pohon! A-aku baru pertama kali melihat hal ini" Gumam Azazel kagum. Dia benar-benar tidak menyangka, penjual ramen yang dia rasa memiliki kekuatan kecil dan yang membuat tertarik, memiliki kekuatan sedahsyat ini.

Melihat lawannya telah terperangkap, Naruto melompat mundur kembali ke daratan untuk menjaga jarak dari pohon-pohon itu. Lalu dia mengarahkan tangannya ke depan, terlihatlah muncul bola energi hitam kemerahan sebesar Rasengan.

"Mini Bijuudama" Gumam Naruto.

Phuss!

Mini Bijuudama itu meluncur dengan kecepatan ke arah Vali.

"Vali! Gunakan semua energi mu untuk memperkuat Balance Breaker!" Tanpa di perintah dua kali, Vali langsung melakukan hal tersebut sebelum dia di hantam Bijuudama tersebut.

BOOMM!

Azazel yang melihat hal tersebut dari atas menggigil ngeri, melihat hasil ledakan dari jutsu berukuran kecil tersebut.

"Semoga kau selamat Vali" Harap nya.

Setelah ledakan tadi mereda, terlihat semua pohon tadi telah lenyap, dan terlihat Vali masih berdiri dengan keadaan yang kacau. Bahkan Balance Breaker nya telah hilang.

"Chouk! Ghooekk.." Terlihat pemuda itu memuntahkan darah, sebelum tubuhnya ambruk ke tanah.

"A-aku, kalah!" Batin nya sebelum pingsan.

Melihat pertarungan yang sudah selesai, Azazel kembali turun dan langsung menghampiri Vali. Dia meringis saat membayangkan jika dia di posisi Vali tadi.

"Untung dia memiliki Sacred Gear Divine Dividing! Jika tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi pada Vali" Batinnya melihat kondisi Vali yang memprihatinkan.

Tap! Tap..

Azazel membalikkan badannya, saat dia merasa Naruto telah berdiri di belakangnya. Dan dia dapat melihat Naruto tengah menatap Vali, lalu pemuda itu terlihat menghela nafas.

"Kemana lupan energi tadi? Aku tidak bisa merasakannya lagi, aku cuma bisa merasakan energi iblis di tubuhnya" Batinnya. Namun dia langsung tersentak saat dia menyadari sesuatu.

"Iblis? Ya.. Ini energi iblis!" Batinnya yakin. Dan saat ingin bertanya, dia harus membatalkan hal tersebut, karena Naruto melemparkan kantung kayin.

"Didalam itu ada pill mereda sakit dan salap untuk menyembuhkan luka... Dan tolong sampaikan maaf ku padanya, mungkin aku terlalu berlebihan memberi dia pelajaran" Ujarnya.

"Dan aku juga minta maaf, membuat tempat ini jadi berantakan.. Ja~ Aku pulang dulu!" Lanjut nya, sebelum menghilang menggunakan lingkaran sihir klan Sitri, tanpa menunggu balasan Azazel.

Pria paruh baya itu mengedipkan mata beberapa kali, lalu dia menghela nafas saat otak nya sudah memproses kejadian tadi.

"Hahh~ Aku keduluan dari Cosplay itu" Gumam nya.

Another place.

"Kekuatanmu sudah meningkat ya, dari saat kita bertarung" Menolog seorang gadis loli surai hitam, melihat pertarungan Vali dan Naruto di sebuah layar yang ada didepannya.

"Bagaimana, dia orangnya kan?" Tanya nya pada tiga orang di sampingnya, mereka bertiga mengenakan topeng dan jubah hitam bertudung.

"Tidak salah lagi, terimakasih telah melihatkan nya pada kami" Balas salah satu dari mereka. Dan jika di dengar dari suaranya dia seorang perempuan.

"Tidak masalah, lagian aku masih memiliki hutang padanya" Ujar gadis surai hitam itu.

BERSAMBUNG.

vvvvvvvvvvvvvv

vvvvvvvvvv

vvvvvvv

vvvv.

Yossh.. Akhirnya chap ini selesai, maaf jika tidak sesuai keinginan kalian, karena inilah yang mampu otak ku buat. Dan Terimakasih buat (Tsukasa) Karena telah menterjemahkan bahasa Spanyol itu. Dan juga Terimakasih untuk kalian yang sempatin baca fic gua ini.

Oh iya, nanti saat Boruto datang, kalian jangan marah ya kalau kekuatan nya tidak terlalu sesuai dengan canon, jujur saja aku gk terlalu ikutin animenya. entah kenapa, aku agak gk rela saat melihat scane pertama yang mengatakan Naruto mati. Jadi gua agak ngeri-ngeri ikutin animenya. Maklum, dari semua anime yang gua tonton. aku sngt jatuh cinta pada Naruto, jadi aku skit aja bayangin dia mati.

Baiklah sampai jumpa di chap depan. Bye~ Bye~