Title : Memories
Chapter : 4/-
Author : Takayama_suzu
Cast(s) : URUHA(main cast) , The GazettE , Alice nine(A9) , Gackt
Genre : School life , Romance , fantasy (mungkin)
Rating : PG 15
BGM :Reila(The gazette), Sirius(DIAURA), Pledge(The gazette) ^_^dd
Disclaimer : The gazettE punya saya seorang *dihajar fans the gazette sedunia* hehe gak deh Cuma fanfic ini yang punya saya XXDD
Warning :non EYD,penggunaan kata dan kalimat yang berantakan binti yang super duper gaje dikarenakan authournya yang sangat ,reader yang baik hati,please don't kill me XD#plak.
NO BASH
NO FLAME
NO PLAGIAT PLEASE
"Uru ayo dimakan dulu makanannya"
"nggak mau,nii-chan"
"kalau kamu nggak mau makan nanti nggak sembuh-sembuh loh"
"nggak mau"uruha menutup mulut dengan kedua tangannya ketika gackt akan menyuapinya.
"idih uru kayak anak kecil nggak mau makan gitu"ledek ruki yang melihat uruha yang terus menutupi mulutnya sendiri menolak makanan yang disediakan oleh rumah sakit.
"Bodo, week" uruha menjulurkan lidahnya pada ruki yang menepuk jidatnya sendiri sedangkan gackt hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah uruha dan ruki.
Ditengah candaannya dengan gackt dan ruki,uruha kembali teringat akan sebuah kejadian beberapa hari yang lalu yang secara tidak langsung membuatnya harus berada dirumah sakit.
Kejadian dimana gackt menemukan uruha dalam keadaan tak sadarkan diri dan bersimbah darah dibawah tangga.
FLASHBACK
URUHA POV
Sore ini adalah sore yang indah bagiku,walaupun langit diatas sana terlihat sedikit mendung namun langit merah yang terlihat menandakan bahwa hari telah memasuki senja tak melunturkan 30menit yang lalu aku telah memutuskan untuk kabur dari vila keluargaku dan ditempat inilah sekarang aku pantai berpasir putih dan air lautnya yang jernih,tempat favoritku dan nii-chanku sejak kecil,kulihat arloji yang melingkar ditangan 06.00,aku memutuskan untuk beristirahat sejenak setelah puas bermain-main dengan air diatas pasir putihnya dengan pohon bakau sebagai sandaranku dan beralaskan sepatu yang sudah kulepaskan sedari tadi agar tak basah karena air mataku dan kuhirup aroma pantai disore hari yang terasa begitu sejuk begitu menenangkankan hatiku,kurasakan sebuah tangan menyentuh ku buka mataku,dan yang kulihat adalah seseorang yang tidak asing bagiku tersenyum disaat aku menoleh yang sangat manis yang selalu mampu membuatku ikut tersenyum bahagia.
"Nii-chan mengagetkan saja"
"haha…gomen uru,hmm sedang apa kau disini?ini sudah hampir malam dan lagi pula sepertinya sebentar lagi akan hujan kita kembali ke vila saja"
"sebentar lagi dong nii,uru pengen liat matahari terbenam dari pula kan kita sudah lama nggak ke pantai ini nii-chan"
"hmm….tapi setelah ini kita harus langsung pulang yach"
"siap boss"
"hahaa..dasar kau ini"
Aku sedikit merasa kesal pada nii-chanku ini bukan karena ia menertawaiku,tapi karena ulahnya yang selalu mengacak-acak rambutku hingga terlihat sedikit banyak berantakan.
"Whoaaa….lihat itu,mataharinya mulai NA!"
Aku menarik tangan nii-chan ku ini sedikit mendekati bibir pantai agar kami bisa melihat matahari terbenam lebih dekat dan jelas lagi.
"uruha…"
"…."
"URUHAA" aku nyaris terjungkal karena kaget ketika mendengar suara nii-chan yang begitu nyaring tepat ditelingaku.
"nii…jangan berteriak sampai kaget tau"
"pftt,kamu sih nii panggil nggak kita kembali ke vila,sepertinya sebentar lagi benar-benar akan hujan ini".Nii-chan langsung menarik tanganku seenaknya saja tanpa memenunggu jawabanku.
"Nii-chan nggak asik ah.."ucapku ketika kami sedikit berlari karena ternyata hujan benar-benar turun walaupun hanya berbentuk gerimis ringan.
Dan hujan benar-benar berubah menjadi sangat deras tepat ketika aku menutup pintu vilaku.
DUAARR CTAR DUUKK DUARR
Suara petir dari luar jendela terdengar begitu keras dan bergema diseluruh ruangan kamarku,membuatku membenamkan seluruh tubuhku kedalam selimut yang cukup tebal aku bukanlah orang yang takut ketika mendengar suara ,entah kenapa suara petir saat ini sangat berbeda dari suara petir yang sering kudengar sebelumnya,begitu semakin bertambah kuat disaat kudengar suara seseorang memanggil nama yang sama seperti didalam mimpiku sebelumnya berulang ,kali ini dengan nada suara yang sangat berat dan terdengar sangat menakutkan.
Aku merasa sangat ketakutan namun entah kenapa tubuhku menolak perintah dari otakku untuk tak menghiraukan suara itu dan tetap berada diranjangku .Aku merutuki diriku sendiri saat kakiku masih saja tetap melangkah keluar kamarku dan menuruni setiap anak tangga yang ada.
Aku merasa lelah karena tak kunjung menemukan sumber dari suara yang kudengar tadi,padahal mungkin sudah ada sejam aku mengelilingi vila ini untuk tak menghiraukan suara yang masih terdengar olehku saat ini dan kembali kekamarku saja,namun baru beberapa anak tangga yang aku naiki,mataku menangkap sebuah cahaya yang masuk dari jendela,melayang dan berhenti dipuncak kemudian cahaya itu berubah menjadi sosok berjubah hitam menatap datar kearahku dengan matanya yang berwarna merah pekat seperti darah dan kemudian melangkah menuruni anak tangga hingga kini telah berada tepat didepanku,sosok itu menyeringai melihatku terdiam membisu dihadapannya tanpa bisa bergerak sedikitpun,seolah ada sebuah dinding yang menghalangi langkahku untuk sebuah teriakan sukses keluar dari mulutku ketika ia mendorongku hingga aku terjatuh dan kepalaku membentur lantai keramik ini dengan keras,aku dapat mencium bau anyir dari sesuatu yang mengalir dari kepalaku yang membentur lantai,aku yakin itu adalah darahku melihat kearah tangga dengan ujung ekor mataku karena tubuhku tak dapat digerakkan sama sekali dan sosok itu masih nyeringai kearahku sebelum akhirnya menghilang disaat pandanganku semakin mengabur,dan semuanya berubah menjadi sangat gelap disaat aku mendengar suara nii-chanku berteriak panik memanggil namaku.
Flashback END
URUHA POV END
"URUHAA"uruha sedikit bergidik disaat ruki berteriak tepat tersadar dari lamunannya.
"apaan sih ruki,,teriak-teriak sakit tau dengarnya"omel uruha
"habisnya kau ku panggil nggak menyahut terus sih"
"uru kamu melamun ya?"
"uru nggak melamun kok nii-chan"
"uruha kelihatan banget kalau lagi bohong,wajahnya lucu banget..hihii"uruha kembali bergidik melihat hiroto dan reita telah berada dikamarnya.
"eh,pon dan reita sejak kapan ada disini?"
"nah kan ketahuan kau melamun uruha,,kau sampai tidak sadar ada aku dan mpon sudah disini.."timpal reita yang ternyata sudah berada diruangan tempatnya dirawat sedari tadi.
"kamu ngelamunin apaan sih uru?"gackt kembali bertanya pada ototonya itu khawatir.
"nggak ngelamunin apa-apa kok nii-chan"uruha tersenyum manis menjawabnya.
"ceritakan pada kami dong uru"ucap hiroto penasaran
"ceritain apaan?"uruha menatap hiroto bingung
"kenapa kau bisa terjatuh ditangga di villamu itu?"
"oh itu..waktu itu aku dari dapur untuk mengambil minum,tapi aku salah melangkah dan akhirnya terjatuh dari tangga"Gackt,ruki,reita dan hiroto melihat uruha yang cengengesan padahal uruha baru saja lolos dari maut.
1bulan kemudian.
"uruha…"
Uruha menghentikan langkah kakinya ketika mendengar ruki memanggilnya tepat ketika ia akan memasuki kelas baru ,hari ini adalah hari ke 5 mereka dikelas dua di GHS.
"kau tumben jam segini sudah datang ke sekolah?"
"iya nih uru,kebetulan aku lagi rajin bangun pagi"
"Ya sudah,ayo kita kekelas"
"kenapa kau melihatku seperti itu ruki?"
"hmm,,uru kau aneh,apa kepala mu masih sakit ya?"
"he?kenapa kau bertanya seperti itu?apanya yang aneh?"
"tidak kenapa-kenapa sih uru,hanya saja belakangan ini kau lebih banyak diam"
"eh,masa' sih?hmm..tenang saja,kepala ku sudah tidak sakit kok ruki mungkin itu hanya perasaan mu saja "uruha berhenti sejenak,mengelus puncak kepala ruki dan kemudian kembali berjalan menuju kelas mereka.
"….."
"yo,ohayou rukiha"sapa hiroto ketika mereka telah duduk ditempat duduk di bangku masing-masing.
"ha?apa lu bilang tadi PONN?"
"yo,ohayou RUKIHA"hiroto dengan wajah innocentnya.
PLETAKK
Sebuah jitakan maha dahsyat mendarat dikepala hiroto yang menghasilkan sebuah benjolan sebesar bola baseball*lebay* membuat hiroto sedikit meringis kesakitan.
"apaan sih ruki,sakit tau"hiroto megusap-usap kepalanya yang masih terasa berdenyut dan sakit.
"hah,dasar kau ini pon seenaknya saja ,apaan tuh aneh banget."ucap uruha datar.
"abisnya kalian selalu berdua sih….hehe bercanda doang kok ruki,uruha"ruki menghadiahkan tatapan deathglarenya pada hiroto yang sudah bersembunyi dibalik punggung reita yang baru saja tiba.
"kalau kami RUKIHA berarti kau dan reita itu REIROTO*jelek amat XD* dong"ruki tertawa nista.
"apaan sih pon..what?lu bilang apaan ruki?"reita shock mendengarnya,ruki sudah kabur sebelum digebukin reita sedangkan uruha dan hiroto lebih memilih duduk di bangku masing-masing+dengan wajah innocent mereka tentunya XD.
URUHA POV
Aku menatap seisi kelasku ini dengan ruangan yang cukup luas dengan dindingnya yang bercatkan warna biru langit,bangku dan meja para siswa,sebuah meja dan kursi untuk guru dengan sebuah papan tulis disebelahnya tersusun dengan rapi dan lukisan menempel didinding kelas menambah kesan cantik dan elegan.
Pandanganku beralih pada tiga sosok yang saling kejar-mengejar,sosok yang sangat ku ,mereka adalah ketiga sahabatku,reita dan hiroto yang asik mengejar ruki yang tertawa nista setelah sukses membuat reita dan hiroto murka setengah hidup*duarr*menghiraukan siswa-siswi yang mereka tabrak dan menghadiahi mereka dengan umpatan-umpatan cantik yang membuat panas telinga yang bel masuk berbunyi yang membuat mereka terpaksa menghentikan aktivitas kejar-mengejar mereka untuk sementara dan kembali ketempat duduk sensei memasuki kelas dengan senyuman diwajahnya,menyapa,mengabsen para murid dan memulai pelajarannya.
Baru beberapa menit pelajaran berlangsung gackt sensei menghadiahi sebuah lemparan dengan penghapus papan tulis kearah ruki dan hiroto yang duduk sebangku yang ternyata telah memulai kembali aktivitas mereka tadi dengan perang saling lempar bola kertas sukses membuat seisi kelas tertawa keras melihatnya selama beberapa detik,karena detik berikutnya gackt sensei telah memegang sebuah buku yang sangat tebal dengan tatapan deathglarenya membuat semua siswa dan siswi terpaksa untuk bungkam.
Aku hanya bisa tersenyum menyaksikan menyaksikan semuanya seakan aku tak ingin kehilangan moment konyol namun indah ini bersama teman-teman sekelasku,terutama bersama sahabatku ini.
"uru.."
Aku menoleh kearah reita yang duduk disebelahku,ia menatapku dengan tatapan yang aneh.
"ada apa rei?kenapa wajahmu seperti itu?apa ada sesuatu yang aneh padaku?"tanyaku setenang mungkin.
"kau baik-baik saja kan?wajahmu pucat sekali,uru?"
"wajahku pucat?masa sih?aku baik-baik saja kok"
"benarkah?sebaiknya kau istirahat di uks saja uru"
"aku baik-baik saja reita!sudahlah,mungkin itu Cuma perasaanmu saja "jawabku sambil tersenyum karena reita terlihat sedikit ragu dengan jawaban yang kuberikan.
"hei,berhenti menatapku seperti itu,kau membuatku takut kukatakan aku baik-baik saja bukan,jangan sampai gackt sensei mengamuk lagi karena kita ketahuan mengobrol dijam pelajarannya."sambungku saat kulihat reita masih saja menatapku dengan tatapan penuh kekhawatiran, mungkin atau itu hanya perasaan ku saja?
Hah,apa sih yang sedang kufikirkan?.aku menggelengkan kepalaku sepelan mungkin agar reita tidak curiga pada sikapku yang mulai terlihat aneh.
URUHA POV END
REITA POV
Aku tak bisa mengalihkan pandanganku pada uruha yang hari ini terlihat begitu aneh yang biasanya ceria dan sedikit banyak bicara hari ini lebih banyak diam dan wajahnya yang terlihat pucat.
"hei,berhenti menatapku seperti itu,kau membuatku takut kukatakan aku baik-baik saja bukan,jangan sampai gackt sensei mengamuk lagi karena kita ketahuan mengobrol dijam pelajarannya."adalah hal terakhir yang dikatakan uruha padaku karena sepanjang pelajaran berlangsung hingga bel tanda jam sekolah berakhir pun uruha seolah enggan untuk berbicara padaku. Bahkan uruha langsung pergi meninggalkan kelas saat bel pulang sekolah uruha merasa risih dan tersinggung dengan tatapanku tadi?berlebihankah rasa khawatirku padanya? Hah,kenapa hari ini perasaanku begitu tidak enak?
"uruha awass…"
BRAKK
Aku mendengar suara seseorang memanggil nama uruha disusul dengan sebuah suara yang terdengar seperti suara tabrakan yang begitu berlari dengan panik mendekati kerumunan murid dan orang-orang yang lalu lintas ditengah jalan didepan rasanya berhenti berdetak,kakiku terasa begitu lemas saat aku melihat sosok gackt sensei menangis sambil memeluk sosok uruha yang tak sadarkan diri dan berlumuran dengan ku mulai mengabur saat kurasakan dua pasang tangan menahan tubuhku yang hampir terjatuh,sosok ruki dan hirotolah yang kulihat,air mata mengalir dipipi mereka sebelum akhirnya semuanya menjadi sangat gelap tepat disaat suara sirine mobil ambulans terdengar menggema ditelingaku.
REITA POV END
"reita..rei bangun..hikks uruha…"ruki terisak menatap mobil ambulans yang telah menjauh dan perlahan menghilang dari pandangannya membawa tubuh tak berdaya uruha menuju rumah hiroto tak mampu berkata apapun hanya mampu menenangkan ruki yang masih terisak .
TBC
Akhirnya selesai juga ff chapter 4 ini,setelah bertapa digua hantu selama 40hari lebih walaupun hasilnya tetap ff yang gaje dan menyimpang dari alurnya#PLAK. So reader yang baik hati,please don't kill me XD.
*Note : Review dari reader dan author senpai/sunbae sangat dibutuhkan agar author yang gaje ini dapat sedikit lebih waras dalam membuat fanfic XXD
