Author's Note: Akhirnya! Maaf untuk update yang terlampau lama. Tidak banyak kata-kata, silakan menikmati. ^_^
Genre: Detective/Action/Roman/Humor
Disclaimer: Death Note is not ours, obviously.
Warning: Curse words. Lot lot lot of them, seriously.
Timeline: Mello dan Matt berusia sekitar 20 tahun. AU.
Dragon Rhapsody and Claire Lawliet, proudly, present: the wildest and most romantic detective story, ever!
From Paris, With Wildness
Chapter Four: Paris And The Finishing Blow
Sebuah cinta itu dirasakan, bukan sekedar dipuja. Karena hanya dengan merasakan manusia menjadi hidup.
Tangan itu merengkuh... perlahan-lahan... awalnya lembut, namun kemudian berubah... begitu menggairahkan...
Terdengar sebuah desahan. Kemudian irama sebuah cinta yang panas membakar.
Tiba-tiba panas itu berubah menjadi rasa sakit yang sangat.
Ia menatap nanar gadis di depannya. Wanita cantik itu telah menjelma menjadi iblis yang mengerikan.
'Well... selamat tinggal Romeo...'
Sebuah rasa sakit yang menyiksa menderanya kuat.
Paris tersentak kuat. Sebuah jeritan tertahan keluar dari mulutnya.
Ia membiarkan dirinya terdiam sejenak. Membiarkan seluruh keringat dingin mengalir dari seluruh tubuhnya yang terasa kaku. Kemudian ia memejamkan matanya. Mendengarkan suara kesunyian intens yang mengalir di sekitarnya. Ada yang nyaman dalam keheningan itu.
Kemudian ia membuka matanya perlahan-lahan. Pertama kali yang ditatapnya adalah sebuah atap yang asing serta sebuah rasa ganjil yang menyelimuti seluruh tubuhnya, terutama pada bagian diafragma dibawah dadanya.
Paris menekan pelipisnya.
Perlahan-lahan seluruh memori membanjiri pikirannya. Membawa seluruh kenyataan kembali kepadanya.
"Oh, shit..." gumamnya.
"Apa yang harus kukatakan padanya nanti?"
Hal pertama yang dilihat London ketika ia membuka matanya adalah sinar lampu dari atap yang putih. Ia bisa merasakan ada sesuatu yang ganjil di mata sebelah kirinya.
Tangannya bergerak perlahan, menyentuh sesuatu yang menghalangi pandangannya. Ia menyadari bahwa wajahnya tengah dibalut perban dan rasanya perih sekali ketika tertekan. Mata sebelah kirinya tertutup seluruhnya oleh perban dan kapas. Ia hanya bisa melihat melalui mata sebelah kananya.
"F*ck..." umpatnya seraya mengingat kembali memori dari dua hari yang lalu.
London menerobos api di ruangan manor terkutuk itu. Setelah mengeluarkan juniornya dari sana-walau sesungguhnya ia lebih suka melihat si bodoh itu terbakar di dalam sana-ia mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tertinggi menuju Rumah Sakit terdekat.
Namun, sayangnya sebelum ia mencapai Rumah Sakit, tubuhnya memberontak kuat. Rasa sakit dari luka bakar yang melingkupinya perlahan-lahan mengoyaknya. Ia juga dapat merasakan sebuah rasa sakit yang menggerogoti mata sebelah kirinya. Tak lama penglihatannya pun memudar... hal terakhir yang ia ingat adalah ia terjatuh dari depan setir dan segalanya berubah jadi gelap.
Kemudian London ingat ia tersadar di sebuah ruangan. Rumah Sakit. Ia mendengar seseorang berkata bahwa ia harus menjalani sebuah operasi untuk mengobati beberapa sel saraf yang terputus akibat dari luka bakar yang cukup parah di sekujur tubuhnya.
'Terutama tubuh sebelah kirimu.' kata orang itu.
Dan diantara rasa sakit yang membakar tubuhnya itu, London berbisik parau... bertanya tentang hal yang seharusnya tidak ingin ia tanyakan...
'Bagaimana... dengan...'
Dan sebuah pernyataan yang ambigu pun terlontar.
'Kami sudah berusaha sebisa kami untuk saat ini. Ia menderita pendarahan yang cukup serius. Luka di diafragmanya pun cukup parah. Tapi kami akan memberikan yang terbaik...'
London menatap nanar orang-orang yang mengelilinginya. Ia menangkap bayangan satu orang yang dikenalinya.
London menatapnya intens.
Seorang pria setengah baya berpakaian resmi. Sebuah topi kasual bertengger di kepalanya. Perawakannya tinggi dan tenang.
Orang itu membalas menatapnya dalam keheningan. Kemudian semuanya menggelap.
Paris koma. Tidak diketahui berapa lama ia akan berada dalam kondisi itu.
Dan London harus menjalani operasi untuk memperbaiki saraf-saraf bagian kiri tubuhnya yang rusak karena api. Terutama untuk menyelamatkan mata kirinya.
Sungguh, ia benar-benar tidak habis pikir betapa besarnya kerugian yang disebabkan oleh satu orang gadis.
Hanya satu orang gadis.
Dan ia bertekad-dalam keadaannya yang setengah sadar-ia akan membalas semua perbuatan yang dilakukan oleh gadis brengsek itu terhadapnya.
London berbaring di tempat tidur.
Pintu berayun membuka.
Seseorang masuk dan duduk di dekat London.
Mereka bertatapan sejenak sebelum London mengakhirinya dengan umpatan.
"Kau baik-baik saja?" tanya pria itu.
"Tidak." jawab London kasar.
Hening.
"Baiklah, you son of a bitch, jelaskan kenapa kau memberikan orang yang sangat tolol untuk bekerja denganku?"
"Sebenarnya memasangkan Paris denganmu memiliki resiko tersendiri. Saya mengerti hal itu dengan jelas namun, di pihak lain, saya juga mengerti bahwa ia memiliki daya potensial untuk berkompetisi dengan 5 agen terdepan lainnya. Ia hanya butuh sedikit latihan dan orang yang paling pantas melatihnya adalah kau."
"Cih! Kenapa aku?"
"Karena kau adalah orang yang keras... namun, lembut..." pria itu tersenyum, menunjuk dadanya sendiri dan melanjutkan. "disini..."
London merasakan wajahnya sedikit merona. Ia memalingkan wajah.
"Peh, anak itu benar-benar tolol!"
"Sebenarnya saya tahu ada yang tidak beres saat Paris menghubungi saya dan meminta keluar dari kasus... dan akhirnya ia memutuskan untuk mengerjakannya sendiri sedangkan kau keluar sepenuhnya dari kasus..."
"Kejutan... kau tahu kan sekarang bahwa kalian merekrut orang yang salah... aku sudah katakan dari dulu bahwa kualitas kita makin lama makin menurun... tolong perhatikan bagian perekrutan lain kali... jangan karena kita kekurangan orang, kalian sembarangan saja merekrut tukang sampah..."
"Paris adalah yang terbaik... kau tahu itu dengan pasti..."
"Cih!"
"Ia sudah melewati masa kritisnya... namu belum sadar."
Hening.
"Saya senang melihatmu berhasil menyelamatkannya, London... dia bisa saja sudah tewas jika kau tidak menyadarinya..."
"Dia bisa saja sudah tewas jika tidak menaruh selebaran konyol itu di dasbor mobil..." London tertawa kecil. Walau nadanya kasar, namun ada kehangatan di dalamnya.
"Saya tahu agen-agen terbaik saya... dan kau adalah salah satunya..."
"Hmph! Sebaiknya kau keluar..."
"Kita tunggu keadaan Paris... seminggu dari sekarang, aku menunggumu di markas... dengan atau tanpa Paris..." pria setengah baya itu berdiri dan berjalan pelan ke arah pintu.
Ia membuka pintu. Sebelum melangkah keluar, ia berkata pelan, "Jangan kuatir... dia akan baik-baik saja..."
Pintu pun tertutup, meningalkan London dengan wajah tak tertebaknya.
Seorang dokter memberitahukan bahwa Paris telah tersadar. London tidak tahu harus bereaksi apa. Senang atau marah? Yang pasti ia harus menemui si bodoh itu terlebih dahulu untuk memutuskannya.
London menjalani cek sore harinya sebelum diperbolehkan menjenguk Paaris. Setelah selesai melakukan cek rutinnya, ia segera menyusuri lorong Rumah Sakit menuju ruangan pasien koma.
Tentunya Paris sudah sadar, namun ia masih harus tetap berada pada ruang gawat darurat sebelum berlalu dua atau tiga hari.
London berhenti di depan pintu. Ia menatapi pintu di depannya. Rasanya ada yang bergejolak di dadanya saat berdiri di depan sana. Ia tidak tahu persis apa yang dirasakannya saat ini, namun sebuah rasa lega dan marah mendominasi hatinya.
Ia menekan handel pintu dan pintu itu mengayun membuka ke arah dalam.
London menatap Paris di seberangnya. Pemuda itu tengah terbaring diam. London menutup pintu di belakangnya dan berjalan mendekati pemuda itu perlahan-lahan.
Seluruh tubuh Paris hampir tertutup perban. Sebuah masker oksigen tertambat pada hidungnya. Kedua lengannya dipenuhi kabel-kabel medis yang tersambung ke mesin di sebelah kanannya.
London menatap sejenak pemuda di depannya itu.
Tak lama terdengarlah sebuah suara pelan yang parau.
"Jangan bunuh aku."
London terkejut. Kemudian ia melihat Paris membuka matanya dan tersenyum.
"Aku akan bunuh diri sendiri kok... jadi jangan bunuh aku ya..." Paris nyengir.
London merasakan alisnya bertaut. Kemudian ia mendesah dengan sangat kuat dan menghempaskan diri di tepi tempat tidur.
"Aku akan membunuhmu nanti... kau tenang saja... tapi setelah urusan kita selesai dulu..." kata London.
"Er... ingatkan aku untuk kabur setelah urusan selesai kalau begitu."
"Kau harus membayarnya, idiot... aku menungu surat permintaan maafmu... paling telat besok."
"Aw... oke, Sir..."
Hening.
"Jadi... kau mau kembali ke kasus?" tanya Paris.
"For God's sake! Tentu saja tidak, aku akan menikahi ibumu sehabis ini dan bersenang-senang dengannya!" kata London kasar.
"Hei... tenang bung... ini rumah sakit..."
"Kita ditunggu di markas... kau harus bertanggung jawab karena kekacauan ini..."
"Si tua bangka?"
"Aku kuatir bukan dia yang akan kita hadapi..."
"Oh, aku mengerti... aku akan bertanggung jawab, tenang saja..."
"Demi Tuhan, lihatlah, mengapa aku bisa melibatkan diriku ke dalam sana... kau kembali berhutang padaku, bodoh..."
"Haha... baik... baik... catat saja dalam buku piutangmu..."
Hening lagi.
"Aku harus kembali... lagipula sebentar lagi pasti mereka akan mengusirku..." London bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu.
Ia membuka pintu dan berkata tanpa menoleh, "Aku menunggumu... cepatlah sembuh..."
Paris menatap punggung London dan berbisik parau sebelum pintu tertutup.
"Maafkan aku... London..."
[ WIA (Wammy's Inteligent Agency), London. Seminggu kemudian ]
"Kalian telah mengecewakanku..."
London dan Paris tengah berada di sebuah ruangan. Seorang pria tua membelakangi mereka di belakang meja megahnya. Ia tengah menatap melalui jendela besar di hahapannya. London duduk di salah satu sofa, sedangkan Paris berdiri.
"Kami tahu..."
"Kalian tahu?" pria itu berkata. Nadanya memang pelan, sangat datar malah, namun sangat berkharisma.
Tidak ada yang membalasnya kali ini.
"Kalian tahu dan kalian tetap melakukannya?"
"Saya akan memperbaikinya, sir..." London berkata.
"Bagaimana cara kalian memperbaikinya?" kata pria itu, masih membelakangi mereka.
"Kami akan membawa Amane ke hadapan anda..."
Pria itu berbalik perlahan dan menatap Paris dengan tajam. Mereka bertatapan sejenak sebelum pria itu membuka sebuah laci di mejanya dan menghempaskan sebuah berkas ke atas mejanya pelan.
"Amane... Duke Chester telah melaporkan kecurigaannya kepada inteligen negara... kalian mengerti? Karena kalian bermain-main, kita telah kalah langkah... awalnya kita sebenarnya bisa tetap tersembunyi, namun sekarang mereka telah mengendus kita dan mendapatkan kita... nama kalian telah tercatat dalam daftar buruan inteligen negara. Kita terpaksa harus mengambil rencana kedua..."
"Kami mengerti, sir... maafkan kami..."
Pria itu menatap London dan Paris bergantian dan kemudian ia duduk di kursinya.
"Kalian adalah kesayangan kami... tentunya kalian tahu tujuan organisasi kita, kan?"
Ya, WIA memang sebuah organisasi inteligen. Namun, sesungguhnya WIA tersembunyi rapat-rapat dan tidak diakui negara. Organisasi tersebut sebenarnya adalah sebuah organisasi rahasia yang melindungi hak-hak manusia, baik dalam skala negara ataupun global. Organisasi ini berselubung sebuah yayasan sosial dan berpusat di Inggris. WIA adalah sebuah organisasi yang bertujuan untuk melindungi negara ataupun personal secara menyeluruh.
Nama WIA telah tersebar ke seluruh dunia. WIA dikenal dunia tapi secara tersembunyi, bahkan tidak ada yang tahu nama asli dari organisasi ini. Agen-agennya diambil dari segala usia. Mulai dari usia sangat muda hinga usia tua. Masing-masing agen punya kemampuannya tersendiri dalam bidang mereka, jadi tidak selalu harus keluar lapangan. Dan dapat dipastikan bahwa semua agen dalam WIA adalah orang-orang berintelektual sangat tinggi.
Organisasi ini menerima segala bentuk kasus yang diajukan klien. Namun dengan satu syarat, WIA tidak pernah eksis. Jadi klien berkewajiban melindungi kerahasiaan WIA begitupun sebaliknya, WIA berkewajiban merahasiakan identitas klien mereka.
Dan untuk kali ini, WIA telah dikontak seorang klien yang menginginkan perlindungan terhadap sebuah benda seni di Louvre, Paris. Maka itulah London dan Paris bekerja disana.
Namun, ternyata sebuah kenyataan yang mengejutkan telah terbongkar.
"Ada kabar buruk..." kata pria itu.
"Ada yang lebih buruk lagi?" tanya Paris.
"Sebenarnya aku tidak tahu harus berkata ini kabar baik atau kabar buruk..."
Pria itu mengeluarkan sebuah berkas lagi dari dalam lacinya.
"Ariadne Ashton... klien kita dalam kasus ini... ternyata dia itu palsu..."
"Apa maksudmu? Bukanlah semua klien kita memang memakai alias?" tanya London.
"Aku tidak membicarakan namanya... aku membicarakan identitasnya..."
London dan Paris bergeming,
"Ariadne Ashton itu adalah Amane Misa sendiri..."
"Oh... f*ck..." London berbisik seraya memutar bola matanya.
Sedangkan Paris hanya terdiam.
"Jadi, kalian tahu kan betapa berbahayanya posisi kita sekarang? Ia telah mengendus tentang keberadaan kita, memancing kita dan kemudian menghancurkan kita sekaligus..."
"Apa mereka telah berbuat sejauh itu?" tanya Paris.
"Belum, tapi mereka akan melakukannya..." pria itu melemparkan sebuah berkas kepada Paris, dan Paris menangkapnya.
"Kau telah dituduh melakukan percobaan pembunuhan terhadap Amane... Pukul 9 lewat 55 menit, Manor Harpbourne, Paris... kau beruntung kami mendapatkanmu terlebih dahulu sebelum kau berakhir di Rumah Sakit kepolisian dan berstatus sebagai tersangka... dan kau, London, kau dituduh merampok kediaman Amane beserta temanmu ini... mereka dengan berani dapat memberikan bukti-buktinya..."
"What the..."
"Jangan bingung, kau memiliki berkas-berkas yang diberikan Amane kan? Nah, itu adalah buktinya..."
"Wanita jalang..." umpat London.
"Kau lihat, kan? Mereka begitu cerdas... dengan mudahnya memutar semua fakta... kalian seperti lalat yang masuk ke perangkap dengan mudahnya..."
"Ya, thanks to you, Paris..."
"Tapi... mengapa mereka melakukannya, maksudku untuk apa..." Paris bertanya.
Pria itu menatap Paris di matanya. "Mereka tentunya bukanlah Amane dan Duke Chester saja... ah, maksudku... Duke Chester tidak ada hubungannya dengan semua ini... tapi si gadis Amane itu..."
"Apa maksudnya?"
"Duke kemungkinan besar telah ditipu Amane, dia tidak tahu yang sebenarnya tentang hal dibalik semua ini... dia hanya sebuah korban... tapi Amane jelas-jelas merupakan anggota mereka..."
"Mereka?"
"Organisasi yang sangat berbahaya... mereka sebenarnya telah kita awasi sejak lama, tapi baru sekarang benar-benar menunjukkan taringnya... dan kita tentunya dipandang sebagai sebuah acaman untuk keeksistensian mereka kedepannya..."
"Singa yang kehilangan kesabaran..." gumam London.
"Kau berbicara tentang... teroris?" tanya paris tidak percaya.
"Oh, ayolah, kau pikir untuk apa kau dilatih sejauh inii jika hanya untuk menghadapi sekelompok preman jalanan, idiot?" seru London kasar.
"Aku tidak tahu... tapi setidaknya kita sudah mengetahui tujuan mereka..." kata pria itu.
"Dan..."
"Dan tentunya tujuan yang tidak baik untuk manusia..."
Hening.
"Baik... kurasa aku akan memberikan kalian kesempatan sekali lagi... tapi tolong jangan mengecewakanku lagi kali ini..." kata pria itu.
"Tidak akan... aku akan mengadakan perhitungan kepada si gadis brengsek itu... karena telah berani membuat tubuhku cacat..." kata London sarkastis.
"Bagaimana denganmu, Agen Paris?" pria itu bertanya.
London menatap Paris yang menunduk.
Kemudian, perlahan-lahan Paris mendongak dan berkata dengan mantap, "Aku akan mengajaknya kencan ke neraka..." Paris nyengir.
London dan Paris berjalan beriringan melalui koridor panjang,
Mereka berjalan dalam hening. Hingga seseorang muncul di ujung koridor dan menarik perhatian London.
"Kerja yang bagus, London..." kata seorang anak berusia sekitar dua belas tahun.
London mengernyit dan tiba-tiba tubuhnya membeku.
"Cih, aku tidak berharap bertemu denganmu disini, Holland..."
Anak laki-laki itu tertawa kecil. "Sayang sekali, London... aku rindu padamu..." katanya mengejek.
Anak itu bertubuh tinggi di usianya, dan berkulit sangat putih. Ia albino. Rambutnya yang bergelombang membingkai wajahnya yang pucat.
Seketika itu London maju dan mencengkeram kerah pakaian si bocah.
Paris terkejut, namun ia tidak kuasa menahan gerakan London yang sangat cepat.
London menerjang bocah di depannya dan menarik kerahnya kuat-kuat.
Mereka bertatapan sejenak. Ekspresi London keras, sedangkan si bocah sangat datar.
"Kenapa kau belum mati, heh?" bisik London kasar.
"Haha... kau rupanya belum berubah... masih tetap lucu..."
"Lucu, katamu? Tunggu sampai aku menendangmu, Holland, baru kau bisa berkata aku lucu..."
"Oh ya? Lakukan kalau begitu..." Holland tersenyum.
"Baik, lepaskan dia, London, bukankah kita banyak kerjaan?" Paris memutar bola matanya. Ia benar-benar tidak peduli dengan hal-hal yang sangat tidak penting seperti ini. Persaingan masa lalu, heh? Menjijikan.
London masih menatap Holland dengan tatapan tajamnya.
"London..." kata Paris.
Dua detik...
"London..."
Tiga detik...
"Oh, come on..." Paris berkata dengan malas, kemudian melangkah melewati mereka dan berjalan meninggalkan mereka.
London melepaskan Holland dan berbisik kejam. "I will kick your ass... ingat itu..."
Ia kemudian menyusul Paris.
Holland tertawa dan berseru dari belakangnya, "Aku menunggumu..."
London mengumpat kesal.
"Apa? Tolong kau katakan sekali lagi, please?" London berseru marah.
Mereka berada di ruangan 'W', salah satu direktur utama WIA. W adalah seseorang yang sering disebut London dan Paris dengan si 'tua bangka', namun, walau mereka selalu memakinya, mereka sangat menghormati pria tua itu. Lebih dari orangtua mereka sendiri.
Dan sekarang mereka bertiga membicarakan rencana kedua berhubungan dengan kasus awal. Kasus yang sebenarnya sangat berbahaya. Karena berhubungan dengan keeksistensian dari organisasi mereka sendiri. Walau mereka tidak eksis, namun mereka tetap harus mempertahankan nama baik mereka di hadapan semua klien-klien mereka.
Pastinya mereka membutuhkan bantuan. Maka untuk itulah W ada disana.
"Well... kita harus berhasil kali ini... jadi kita benar-benar harus melakukanya dengan benar..." kata W.
"Iya, aku mengerti... tapi... kenapa..."
"Amane akan berada di Louvre lusa... tujuan utamanya belum diketahui pasti... namun, kita harus memikirkan kemungkinan terburuk. Ia akan sendirian..."
"Setelah berhasil membohongi Duke dengan omong kosongnya tentunya..." sela Paris.
"Datang pada pertunjukkan Monet... tujuannya mungkin untuk mencuri lukisan itu, namun kita tidak tahu apa yang akan terjadi, kan?"
"Well..."
"Jadi... kita memerlukan sebuah strategi... berhubung nama kalian telah berada pada daftar hitam, maka kita memerlukan identitas baru..."
London mendengus.
"Kalau sudah begini, satu-satunya jalan untuk melindungi organisasi kita hanyalah lewat sang pangeran... kalian harusnya tidak mengeluh..."
"Aku tidak" kata Paris tersenyum inosen.
"F*ck you, Paris! Harusnya kau yang jadi perempuan! Bukan aku! Kau yang mengakibatkan semua kekacauan ini!"
Paris tertawa kecil.
"Dengan sangat menyesal saya mengatakan bahwa jika Paris yang mengambil peranan itu, maka seluruh rencana kita akan gagal... identitas kalian harus benar-benar tersembunyi... berhubung kalian diburu di Paris sekarang..."
"Tidak masuk akal..."
"Kuharap kau mengerti, Ia telah melakukan yang terbaik untuk meloloskan kalian dari penjara di Paris... jika sudah berhubungan dengan intel suatu negara, maka langkah kita akan cukup sulit untuk kedepannya... sangat beresiko..."
"Ayolah, partner... hanya sekali saja kan? Lagipula siapa sih yang akan melihatmu?"
London melemparkan sebuah tatapan membunuh ke arah Paris.
"Aku akan benar-benar membunuhmu..." desisnya.
"Jadi..." kata W melanjutkan, "Kalian akan kembali ke Paris... dengan identitas baru tentunya... menerobos Louvre dan melakukan tugas kalian..."
London mendesah dan menghempaskan diri di sofa. "Baik, lanjutkan saja..."
"Ini identitas baru kalian..." W memberikan sebuah berkas kepada London dan Paris.
"Mael McEnrie dan Mallory McEnrie... " Paris bersiul.
"Mael means prince? What the fuck?" kata London.
"Jangan iri, partner..." balas Paris.
"Asshole..."
"Jadi... kalian masuk Louvre... kemudian tahap paling awal, kalian mencari Amane... setelah itu, kalian berpencar... Paris mengawasi Amane, dan London... kau masuk ke rencana inti..."
"Mengerti..."
Mereka beranjak mendekati sebuah meja di tengah ruangan. Setelah itu mereka mengelilinginya. Di atas meja terhampar sebuah peta dan berbagai berkas-berkas tak dikenal bertebaran di tepi meja.
"Jadi... kecurigaan kita terpusat pada pencurian lukisan... tapi saya sangsi Amane hanya ingin mengambil lukisan itu dari Louvre..."
"Yup, aku juga tidak yakin bahwa ia hanya ingin mengambil lukisan jelek itu saja..."
Kedua pasang mata menatap Paris. "Er... lanjutkan..." katanya salah tingkah.
Kedua pasang mata itu kembali menatap peta di atas meja.
"Setelah kalian mendapatkan Amane, Kau pergi ke bawah tanah, London... kau tentu tahu apa yang harus kau lakukan, kan?"
"Memastikan bahwa daerah itu clear?"
"Dan menonaktifkannya jika memang ada..."
London mendesah. "Copy that..."
"Sebenarnya apa kalian yakin ini tentang er... maksudku..." tanya Paris tak yakin.
"Semua kemungkinan bisa terjadi, hingga sebuah ledakan sekalipun..." jelas W.
"Kau pasti bercanda..."
"Tempat paling potensial memasang bom adalah di bawah tanah... museum yang ramai, berkumpulnya orang-orang penting... satu dentuman, habislah semuanya... tujuan mereka tercapai..."
"Dasar orang-orang sinting..." gumam Paris.
"Tentunya kita berharap itu hanyalah sebuah pencurian lukisan sederhana... tapi rasanya kemungkinan itu kecil..."
"Okay... aku akan melakukannya dengan baik..."
"Lakukanlah yang terbaik... karena WIA bergantung pada kalian..." W berkata.
Paris menepuk pundak W seraya berkata, "Tentu saja... surga pun akan kulindungi..."
London memutar bola matanya.
[ Louvre, Paris. 09:00 AM ]
Pagi itu Louvre dikunjungi banyak orang. Pertunjukan Monet rupanya berhasil menyita banyak pengamat. Tentu saja beberapa pejabat pemerintah dan duta besar.
Louvre bersinar hangat pagi itu. Segalanya tampak menyenangkan dan indah. Keamanan tampak berfungsi dengan baik, begitu juga dengan setiap acara yang akan dilaksanakan.
Segalanya tampak sempurna. Baik, sekarang mari kita beralih sekilas pada sebuah Limosine yang baru saja tiba di depan Louvre dengan anggun.
Pintu Limosine terbuka dan muncullah sebuah kaki yang jenjang keluar dari mobil mewah itu. Tak lama pemilik dari kaki itu pun keluar sepenuhnya dari Limosine.
Dan... ia sangatlah cantik... namun... er... wajahnya sangat menyeramkan, er, tidak, maksud saya, ia sedang cemberut. Ia sangat cantik, sungguh, namun ia tidak tersenyum, dan itu membuatnya semakin cantik.
Ia mengenakan gaun panjang yang sangat mewah. Bagian atas dadanya terekspos sedikit. Gaun itu memiliki banyak renda dan pita. Gaun bernuansa krem dan emas itu dipadukan oleh banyak sekali permata dan benang emas pada jahitannya. Sungguh, gaun mempesona itu menambah si pemakainya semakin anggun.
Ia memakai kalung dengan desain tingkat tinggi di lehernya yang putih bersih. Sepasang anting-anting yang mewah tersemat pada telinganya.
Oh, dan rambutnya.
Rambut bergelombang emasnya digelung sedikit pada bagian atasnya dan disampirkan pada bagian kiri wajahnya, jadi rambut itu menutupi bagian wajah dan juga leher kirinya.
Ia benar-benar tampak mempesona.
Kemudian, seseorang muncul di sampingnya dan memberikan tangan kanannya. Seorang pemuda berpakaian tuxedo yang sangat elegan tersenyum di depannya. Ia sungguh memiliki wajah yang sangat menarik.
Gadis itu mengernyit kesal.
Pemuda itu tidak menunggu lama untuk si gadis menyambut tanganya, ia segera meraih tangan si gadis dan menariknya mendekat.
"Tersenyumlah, babe..." bisiknya sambil tersenyum.
Gadis itu melemparkan tatapan membunuh ke arah pemuda di depannya.
"Tersenyumlah atau mereka akan mengenali kita..." kata pemuda itu lagi.
"Ayo kita masuk, bedebah..." kata si gadis.
"Ew, kau benar-benar tidak romantis..." tiba-tiba setelah mengatakan itu, si pemuda mendekati wajahnya dan mengecup si gadis pada bibirnya. Singkat.
Seketika gadis itu langsung merona dan terpaku sejenak.
"Nah... sekarang lebih baik... setidaknya kau tidak cemberut... ayo..." pemuda itu menarik lengan si gadis.
"Kau akan mati, Paris!" desis si gadis.
Mereka berjalan masuk ke dalam Louvre. Terlihat dari sepanjang perjalanan mereka menuju pintu masuk, semua pria memusatkan mata mereka kepada si gadis, mengagumi keanggunannya sementara seluruh wanita memusatkan mata mereka kepada si pemuda, mengagumi ketampanannya.
Semua orang membuka jalan untuk mereka, beberapa berbisik kepada satu sama lain dengan wajah yang merah.
"Hell, apa yang mereka lihat, eh?" bisik gadis itu dengan geram.
"Mereka melihat kita... pasangan yang serasi..."
"Oh, please... "
Tiba di pintu masuk, seorang penjaga meminta sebuah kartu pengenal mereka. Ia membacanya dan kemudian mengangguk.
"Selamat datang, Sir McEnrie... dan juga Miss McEnrie..."
Pemuda itu tersenyum. Mereka berlalu dan memasuki Louvre.
Membaur dengan tamu-tamu yang lain, mereka mulai memperhatikan keadaan sekeliling mereka dengan tenang.
"Mael... arah jam tujuh..." bisik gadis itu.
Pemuda yang dipanggil Mael menoleh ke arah yang dimaksud dan segera mengunci tatapannya.
"Cepat sekali Mal..." kata si pemuda tanpa menolehkan tatapannya.
Ia menatap seorang gadis di kejauhan. Gadis itu cantik dan manis. Ia mengenakan gaun yang tak kalah mewah dari gaun yang dikenakan Mallory. Rambutnya pun berwarna emas dan ditata dengan cantik. Ia membawa sebuah tongkat bersamanya. Bukan tongkat biasa, melainkan tongkat yang sering dibawa sebagai style ke acara-acara tertentu.
"Rupanya singa kita datang lebih awal..." kata Mael.
"Ya, maka lakukan tugasmu dan jangan terjebak lagi kali ini..." kata Mallory.
"Tidak akan, babe..."
"Kita akan menunggu hingga acara puncak, setelah itu aku akan bergerak..."
"As you wish..."
Waktu berjalan. Mallory dan Mael berusaha tidak bertemu dengan gadis yang tengah mereka awasi. Dan acara puncak pun dimulai.
Seluruh peserta diundang memasuki ruang utama untuk acara puncak; pementasan karya Monet, Lady With A Parasol Part 7.
Ruang utama itu besar. Berbentuk bundar dan agak memanjang. Di ujung ruangan terdapat sebuah instrumen berbentuk persegi yang terbuat dari besi. Di dalam sanalah lukisan itu berada. Peserta berdiri di tempat, menunggu instrumen tersebut membuka untuk melihat karya pelukis abad ke-19 itu.
Suara sang kurator menggema, menjelaskan tentang latar belakang sang lukisan terlebih dahulu sebelum membuka tirainya.
Kemudian acara yang ditunggu-tunggu pun datang. Instrumen besi di depan berdesis membuka perlahan. Semua mata mengarah pada obyek di baliknya.
Dan disanalah ia berdiri... seorang wanita dalam gaun panjang tengah berdiri menyamping di tengah padang rumput seraya menggenggam sebuah payung dengan anggunnya di latar belakangi oleh sebuah langit yang cerah. Dan seorang bocah tampak berdiri di sebelah kiri wanita tersebut di belakang latar.
Betapa anehnya semua orang rela membayar mahal hanya untuk melihat wanita yang berdiri dengan membawa sebuah payung.
Tapi begitulah seni, kata mereka.
Mallory dan Mael sempat terpana pada karya klasik di depan mereka tersebut. Mereka telah melihatnya di internet, namun kini mereka dapat melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri. Dan memang, ternyata lukisan ini sangat cantik.
Setelah beberapa detik seperti tersihir, Mallory bergerak mendekati Mael dan berbisik, "Aku akan bergerak... kau jalankan tugasmu dengan baik..."
Mael menggangguk pelan.
Tak lama Mallory bergerak menjauhi Mael. Ia keluar dari ruang utama dan menghilang.
Mael menatap punggung Mallory yang menghilang. Kamudian ia menambatkan tatapannya pada gadis yang sedari tadi ia awasi.
Ia menautkan dahi dan beranjak dari tempatnya.
"Excuse me, Lady... tapi sepertinya kita pernah bertemu..."
Gadis itu menoleh dan menatap Mael dengan terkejut. Awalnya ia terkejut namun, setelah itu, ia mengembalikan ekspresinya. Ia tersenyum sangat manis. Namun ada yang mengerikan di dalam senyum itu.
"Well... well.. rupanya Romeo telah kembali dari neraka, eh?" katanya dalam nada yang manis.
"Ya, saya kembali untukmu, Lady Amane... untuk mengajak anda kencan disana..."
Amane tertawa.
"Anda tidak perlu tertawa... sungguh, tawa anda sangat tidak menyenangkan..."
"Aw...tapi kau sangat menyenangkan..."
Mael merasakan sesuatu di dalam dirinya. Ia benci mendengar kalimat itu.
"Kau tahu, kau akan kukirim hidup-hidup hari ini... ke tempat kami..." kata Mael.
"Oh ya?"
"Aku berjanji..."
Tidak ada yang berbicara. Sejenak mereka saling bertatapan.
Amane tersenyum.
Sedetik kemudian, sesuatu yang dahsyat terjadi.
Sebuah dentuman yang keras mengguncang Louvre... di suatu tempat di kejauhan...
Mallory berjalan memasuki toilet dan setelah berada di dalamnya, ia mengunci pintunya. Ia berjalan ke arah wastafel dan dengan gerakan yang tangkas ia memanjat ke atas wastafel dan menyentuh plafon.
"F*ckin dress!" bisiknya geram.
Ia bisa saja membuka gaun terkutuk itu, namun ia tahu bahwa peranya masih dibutuhkan hingga detik-detik terakhir, jadi ia belum boleh membukanya.
Mal menekan tutup saluran udara yang berada di plafon dan seketika itu pintu toilet menjeblak terbuka.
Mal terkejut melihat beberapa pria berpakaian hitam menerobos toilet tempatnya berada.
Seketika Mal menghentikan usahanya membuka saluran udara dan berdiri di atas meja wastafel.
"Well, tuan-tuan, saya pikir kalian salah masuk toilet... kalian tidak bisa membaca tandanya ya? Ya ampun..." kata Mal seraya menggelengkan kepalanya dengan gaya dramatis yang dibuat-buat.
"Get him." kata salah satu dari pria itu.
"Aw... sekarang kalian ingin melukai seorang gadis?"
Seorang pria melangkah cepat dan menerjang Mal di atas wastafel. Mal bergeser dan meraih kepala si pria itu dengan satu tangan. Setelah itu ia segera memukul tengkuk pria itu dan seketika pria itu pun roboh.
Mal menyeka tangannya dengan gerakan yang dramatis seraya berkata, "Well, rupanya kalian benar-benar kurang didikan... baik! Akan kuberikan pelajaran ekstra! Bersiaplah!"
Dengan gerakan yang cekatan, Mal meraih bagian bawah gaunnya. Ia merobeknya hingga sebatas lutut dan membuang robekan gaun mewah itu dengan sembarangan.
"Kurasa kostum terkutuk ini sudah tidak dibutuhkan lagi..."
Kemudian ia melepas sepatu hak tingginya dan melemparkannya ke arah pria-pria di seberangnya.
"Ouch... maaf, tangan saya terpeleset..." katanya sarkastis.
Tak lama pria-pria itu pun menyerang Mal. Mal mendesis dan menerjang mereka.
Ia memulainya dengan menendang pria di bagian kirinya sekaligus memberikan pria di sebelah kanannya sebuah pukulan di wajahnya.
Mereka limbung dan mundur. Mal telah terlatih untuk memukul titik saraf musuhnya. Jadi walau hanya sekali memukul ia tidak memukul sembarangan, karena ia langsung memukul ke tempat saraf-saraf penghubung berada. Mal tersenyum dan bersiap-siap melakukan gerakan terakhirnya.
"Sampaikan salamku pada bosmu, bedebah!"
Mal menerjang kedua pria limbung itu.
Namun sebelum pukulannya sampai kepada kedua pria malang itu, sebuah dentuman yang besar menguncang toilet. Kedua pria itu tidak kuasa menahan getaran kuat yang mengguncang lantai. Mereka pun tersungkur ke belakang dengan keras.
Sedangkan Mal sedikit limbung karena getaran tersebut, namun tidak terjatuh. Ia bergeser ke kanan dengan kencang dan mencengkeram pintu toilet yang berayun membuka.
Tidak menunggu dentuman hilang, Mal menghampiri kedua pria itu dan mengabisi mereka dalam satu pukulan. Ia bisa lega karena mereka tidak membawa senjata. Di Louvre tidak diijinkan membawa senjata api.
"Ew... sepertinya aku keduluan... sial..." bisik Mal pada dirinya sendiri.
Setelah guncangan berhenti, Mal segera mandekati salah satu pria yang telah dirobohkannya. Ia menatapinya sekilas dan kemudian berlutut di dekat tumit kaki pria itu. Setelah itu ia meraih sepatu di kaki si pria dan melepasnya dengan satu gerakan fantastis. Ia melakukan hal yang sama dengan sepatu sebelah satunya. Setelah itu, ia memakaikannya pada kakinya sendiri.
"Huf... agak besar, tapi tidak apa... berhubung aku tidak mungkin sempat menuju alat-alatku dalam kondisi seperti ini..."
Mal bergerak ke arah wastafel dan membuka salah satu keran air. Ia menyeka wajahnya dalam satu gerakan dan membasuhnya dengan dua telapak tangannya. Ia memejamkan matanya sejenak dan kemudian membukanya kembali.
"Okay... let the party begin!"
Mael tidak menduga situasi buruk akan terjadi begitu cepat. Semua diluar dugaan.
Sesaat setelah dentuman tercipta, Mael limbung dan kehilangan keseimbangan untuk sejenak. Ia terlempar ke kanan dengan keras dan menghantam sebuah meja.
Mael mencengkeram tepi meja dan berusaha untuk menegakkan diri, walau ia merasa atmosfer tiba-tiba berubah sangat menyakitkan. Ada yang aneh dengan atmosfernya. Sesuatu yang berat menggayuti udara.
Sesaat setelah dentuman, terdengar jeritan bertebaran dari seluruh penjuru.
Di tengah mempertahankan tubuhnya untuk tetap berdiri, Mael menatap kekacauan yang tiba-tiba terjadi di sekitarnya. Semua orang berlarian menuju pintu keluar dengan membabi buta. Dan di antara orang-orang yang tengah dikecam ketakutan itu, ia menatap senyuman dari satu wajah yang ia kenal.
Amane Misa telah berjarak begitu jauh dari Mael sekarang. Dentuman telah memberikan kesempatan kepadanya untuk berhasil lari dari Mael. Tentu saja ia tahu!
Tentu saja gadis brengsek itu tahu kapan akan terjadi 'dentuman'!
Amane telah memisahkan diri dengan Mael saat dentuman terjadi, dan ketika ia berlari, ia sejenak menoleh ke belakang untuk menatap pemuda itu. Dan ia tersenyum.
Sungguh saat itu ingin sekali Mael meraih dan memukul gadis menyebalkan itu.
Setelah itu, Amane berlari dan berbaur bersama orang-orang yang berlarian panik.
"Sial!" seru Mael.
Dengan kekuatan yang ia kerahkan, Mael memaksa tubuhnya untuk melawan gravitasi yang tengah 'lag' itu, ia mendorong tubuhnya dengan kakinya dan akhirnya ia berlari.
Ia mengejar Amane dengan gerakan yang liar. Desakan orang-orang di sekitarnya membuatnya semakin kesal. Ia mengumpat saat melihat Amane menghilang di sebuah tikungan di depan koridor. Gadis itu telah berlari ke arah yang berlawanan dengan arah pintu masuk, jadi menambah sulit mengejarnya karena ia harus berhadapan dengan arus orang-orang yang panik untuk mencapai pintu depan.
Di sudut matanya, Mael dapat melihat pasukan kepolisian telah muncul dan menyebar di seluruh Louvre. Pasukan itu dengan cekatan mengambil alih keadaan dengan mengatur kepanikan para tamu dan menutup lokasi yang diduga berbahaya. Mael pun dapat melihat beberapa pintu besi atau pintu jeruji yang tertutup otomatis karena ledakan. Banyak orang yang dengan panik masih terjebak di dalamnya. Polisi tidak bisa berbuat banyak dalam hal itu. Mereka butuh seorang yang lebih ahli dalam hal ini. Rupanya ledakan itu telah menyebabkan 'lebih' dari yang diharapkan.
Beberapa jalan keluar telah tertutup.
Ledakan mungkin telah menyebabkan pintu tertutup otomatis karena beralih ke fungsi darurat. Atau mungkin karena rusak. Sepertinya dentuman itu berasal dari bawah tanah. Dan sistem jaringan pengatur sebagian besar berada di bawah tanah.
Sungguh kacau sekali.
Mael tidak mempedulikan keadaan kacau itu, ia memfokuskan diri mengejar gadis di depannya itu.
Mal meraih sesuatu dari saku bagian dalam tuxedonya.
"Mal... red code... target keluar..." seru Mael pada sebuah instrumen berbentuk tabung kecil.
"F*ck! Kau membiarkannya kabur, eh?" terdengar suara seseorang di seberangnya. Suara yang penuh emosi.
"Aku menciumnya... jangan salahkan aku..." gurau Mael.
"Hentikan omong kosongmu! Bagaimana dengan lukisan itu?"
"He?"
"Idiot! Walau mereka ingin menghancurkan seluruh negara ini, Amane tertarik dengan lukisan itu! Kembali kesana!"
"Tidak bisa! Aku sudah setengah jalan... lagipula ada polisi-"
"Idiot! Kau mengandalkan polisi? Demi Tuhan, apa sih yang mereka ajarkan kepadamu?" jerit orang di seberang instrumen itu hampir histeris.
"Er... oke... maaf... maaf... tapi aku benar-benar harus mengejarnya... kau ada dimana? Bagaimana jika kau saja yang mengeceknya?"
"Bila terjadi sesuatu, lukisan biasanya kembali ditarik... mereka bisanya menyimpannya di ruangan khusus... semacam brangkas yang besar... bisa juga ke ruangan pembersih jika kondisi darurat... baik, aku akan ke ruangan itu... kau kejar saja wanita jalang itu..."
"Copy, sir!"
Mael berbelok, memasuki tikungan yang dilalui Amane tadi. Setelah menikung, ia berhenti sejenak.
Sebuah anak tangga muncul di depan.
Mael berpikir sekilas sebelum kemudian dengan mantap menaiki anak tangga itu.
Mael melihat ujung gaun Amane berkibar di tikungan tangga. Ia mengumpat dan terus mengejarnya. Ia pasti mendapatkannya kali ini,
Setelah beberapa menit yang melelahkan, Mael tiba di ujung tangga. Ia menatap pintu atap di depannya yang tertutup.
"I'll get you!"
Mael pun membuka pintu itu.
Mael menapakkan kakinya di lantai atap Louvre.
Atap bangunan megah itu terhampar di kanan kirinya.
Dari tempatnya berada sekarang, ia dapat melihat Paris dengan sangat menakjubkan. Sungguh pemandangan yang spektakuler.
Namun, perhatiannya kini tidak berfokus pada keindahan dari pemandangan itu, melainkan tertuju kepada satu orang gadis... di seberangnya.
Mael menghentikan langkahnya dan menatap gadis itu. Sang gadis tersenyum manis.
"Rupanya kau terus mengikutiku..." kata Amane.
"Aku akan mengikutimu terus hingga ke neraka..." kata Mael.
"Hahaha... dan disinilah kau berada..." kata Amane dengan nada licik.
Mael tersentak saat menoleh dan mendapati seorang pria asing tengah berdiri dua meter di samping kanannya sambil mengarahkan sepucuk senjata laras pendek ke arahnya.
"Di neraka itu... Agen Paris..." kata Amane dengan piciknya. "Seorang sniper... dia tidak harus melalui pemeriksaan di bawah.."
Pria itu melangkah, membuat Mael memaksa menggerakkan kakinya melangkah bertolak belakang dari langkah si pria. Mereka melangkah memutar perlahan-lahan dalam lingkaran, hingga Mael telah berada di ujung tepi atap, sedangkan Amane beranjak dari sana dan berdiri di dekat pintu masuk atap.
Mael telah terpojok sekarang.
"Nah, Agen Paris... sebenarnya aku ingin kau menyampaikan pesanku kepada bosmu... tapi aku sangsi kali ini kau bisa lolos... ternyata kau ini tidak belajar dari kesalahan yang telah lewat ya... dasar pemuda bodoh..." Amane berseru pelan.
Suaranya yang bernada rendah diterbangkan angin.
Amane membuka pintu atap. Sebelum melangkah keluar, ia berbalik dan berkata, "Nikmatilah reuni kembali ke alam maut, Romeo..." ia pun keluar dan pintu menutup di belakangnya.
Mael menatap pria di depannya intens.
Berapa persen kemungkinannya untuk lolos dari serangan peluru dari pria terlatih di depannya ini? Apalagi situasinya tidak begitu bagus. Ia berada di ujung tepi atap. Tidak ada jalan keluar baginya.
Mael berdecak kesal. Ia tidak habis pikir, kenapa bisa tertipu dua kali. Dua kali!
Oh My God!
Dia pasti sudah gila!
Apa yang harus dia katakan pada Mal nanti... er itupun jika ia bisa lolos dari situasi ini.
"Sial..." bisik Mael.
"Baik..." suara asing mengoyak keheningan di antara udara yang berputar.
Mael menyiagakan diri. Mewaspadai setiap gerakan dari sang musuh di depannya. Gerakan apapun bisa berakibat sangat fatal untuknya. Walau ia tidak yakin bia terlepas dari peluru di tempat terbuka ini. Tempat yang sangat potensial untuk membunuh.
Polisi tengah sibuk di bawah. Mereka tidak akan punya dugaan untuk naik ke atas sini, kalaupun itu mungkin, mereka pasti akan melakukannya terakhir. Karena pusat ledakan adalah di dalam tanah. Dan tidak ada alasan untuk mencurigai apa yang ada di atas Louvre.
Tempat terbuka yang luas, tanpa ada satupun tempat sembunyi.
"Bagaimana jika kita bermain satu permainan?" lanjut si pria itu.
"Aku tidak tega melubangi pakaianmu... rasanya itu lebih mahal dari harga dirimu kukira..." lanjutnya lagi.
"Oh ya, kau benar... karena pakaian ini kuambil dari jasad ayahmu..." Mael memaksakan sebuah senyum menantang.
Pria itu sedikit berjengit mendengar perkataan Mael, namun ia melanjutkan, "Lucu sekali... kalau begitu, kebetulan... jika telah sampai di neraka, sampaikan salamku pada ayahku yang keparat itu..."
"Ah, aku tidak punya waktu untuk urusan-cengeng-ayah-dan-anak seperti itu..."
"Baik, pahlawan... waktumu habis... sekarang aku menawarkan sebuah pilihan untukmu..." kata si pria tidak sabar.
"Apa itu, he?" tanya Mael dengan nada berani.
"Aku akan menembakmu... atau kau boleh lompat sendiri..." kata si pria sambil tersenyum.
Mael berdecak kesal.
"Sial..." umpatnya.
"Heh... sekarang kau ciut, eh?"
"Diam kau..."
"Baik... aku tidak punya banyak waktu..." si pria menekan ujung senjatanya.
"Sial... sial..." Mael melirik ke belakang punggungnya dengan panik.
Pria itu mengarahkan senjatanya tepat ke arah Mael... tepat di pelipisnya...
Dengan panik namun cekatan, Mael menerjang tepi atap. Ia bisa merasakan dinding batu atap di dalam cengkeramannya sedingin ketakutannya.
Pria itu membidik...
Mael melirik pria di seberangnya dengan kalut... dan dengan terus membisikkan umpatan dalam kepanikannya, ia menatap pemandangan spektakuler di depannya... dan kemudian tatapannya berakhir pada tanah yang jauh di bawahnya...
'Apakah aku akan tewas disini?'
Mael mengernyitkan dahi. Tiba-tiba ia teringat seseorang. Aneh sekali hal ini terjadi lagi.
Dulu, waktu di manor itu, sesaat sebelum menutup matanya di tengah hamparan padang api, ia melihat seseorang berdiri di seberangnya... orang yang tidak pernah dia bayangkan sebelumnya untuk dipikirkan... bahkan di saat-saat terakhirnya...
London.
Kini ia teringat akan pemuda itu lagi... London... Mallory... Mello... atau apapun aliasnya... dia datang lagi sekarang...
Mael memejamkan matanya.
Sebuah suara yang teredam menghujam angkasa...
Mael tidak mendengar apapun... ia juga tidak melihat apapun...
Di dalam pikirannya yang gelap, ia hanya melihat seseorang yang berdiri jauh di depannya sambil memegang sebuah lilin kecil.
London...
Pemuda itu tersenyum.
Mael merasakan tubuhnya ditarik oleh sebuah gravitasi.
"Crap!" Pria asing itu berseru. Ia setengah tidak mempercayai penglihatanya.
Sesaat sebelum pemuda itu melompat-ya, ia benar-benar melompat, Demi Tuhan-ia telah melepaskan pelurunya, namun, karena pemuda itu melompat maka ia terhindar dari peluru.
Pria itu terdiam sejenak di tempatnya. Setelah mendengarkan deru angin yang aneh di sekelilingnya, ia memberanikan diri melangkah maju untuk melihat apa yang terjadi pada pemuda malang itu.
Apakah tubuhnya hancur berkeping-keping di tanah? Apakah akan ada banyak darah?
Pria itu tidak berani membayangkannya.
Ia melangkah maju... satu langkah... dua langkah...
Dan, ia tersentak setengah mati!
Sebuah suara menderu yang sangat kencang mengelilinginya. Disertai dengan udara yang tiba-tiba berputar kencang di depannya. Pria itu membelalakkan matanya saat melihat sebuah chopper yang berukuran lumayan besar sedang tengah melayang naik di depannya.
Sebuah tangga tali terulur dari pintu masuknya yang terbuka. Dan... pemuda itu tengah bertengger di ujungnya. Tersenyum sembari mengerling menggoda kepada si pria yang tengah mengernyit kesal.
"Shit!" seru si pria. Ia melangkah untuk berlari dari tepi atap, namun, ia telah sangat terlambat.
"Say cheers!" seru Mael. Dan sebuah AK seri 47 menerjang punggung si pria dengan tangkas.
Pria itu pun terjatuh.
Mael melirik si penembak yang bertenger di pintu choper. Ia tidak bisa melihat wajahnya. Hanya pakaiannya saja yang terekspos dari tempatnya berada.
Saat detik-detik berbahaya tadi, ia sebenarnya telah pasrah... bahkan ia sempat yakin bahwa kali ini ia tidak akan selamat.
Namun, tiba-tiba saat tubuhnya melayang turun, ia merasakan sebuah deruan angin di sekelilingnya dan tiba-tiba saja tangannya menangkap tangga tali yang terjulur itu. Maka ia pun sekali lagi selamat dari cengkeraman maut.
Chopper itu mungkin telah berada di sana untuk saat-saat seperti ini... di belakang Louvre.
Mael memanjat tangga dan berusaha naik ke choper.
Ia ingin sekali mengucapkan terima kasih kepada orang yang telah menyelamatkannya.
Mael sampai pada pintu choper dan memanjat naik ke dalamnya. Dan ia pun menatap orang yang telah menyelamatkan hidupnya.
"Hee?" seru Mael tidak percaya.
Mael masuk ke choper dan menatap wajah si penolongnya.
"Hee?" seru Mael.
Ia tengah merasa mendapatkan sebuah deja vu.
Pemuda itu, pemuda di depannya itu sepertinya sudah pernah dilihatnya sebelumnya... tidak, ia yakin ia memang pernah melihatnya!
Tunggu... dimana itu?
Ya, Demi Tuhan!
Dia orang yang ada di kedai coklat!
Si pemuda aneh dengan mata besar yang bergelambir dengan mengenakan kaos polosnya yang tampak longgar.
Dia si penjual coklat di Disneyland!
"Kau... kau... sedang apa... kenapa...hee?" Mael bahkan tidak bisa menyusun kalimat pertanyaannya.
Pemuda itu menatap Mael dengan mata besarnya. Ia masih menggenggam AK.
"Er... terima kasih..." Mael akhirnya memutuskan mengatakan ucapan terima kasih saja.
Pemuda itu berbalik dan mengatakan sesuatu pada sang pilot. Setelah itu ia berbalik kembali kepada Mael dan berkata padanya, "Kerja yang bagus..."
"Hee?"
Mal berlari ke arah ruang penyimpanan lukisan di sayap kanan bangunan. Ia menemukan bahwa pintu itu terkunci oleh sistem. Ia mengumpat.
Keadaan makin kacau sekarang ditambah dengan kepanikan dari sebagian tamu yang masih terjebak di dalam pintu-pintu yang terkunci.
Mal berbalik menuju lift. Ia telah mengingat seluruh bagian peta yang ditunjukkan sebelumnya, maka ia ingat bahwa ada sebuah ruangan tersembunyi yang berhubungan dengan pintu masuk ruang penyimpanan. Ia berlari ke bawah.
Mal meraih alat komunikasinya dan berbicara, "Paris... aku menuju pintu darurat... bagaimana statusmu?"
Namun, ia hanya bisa mendengar sebuah suara seperti deruan angin. Ia tidak mendengar ada yang menjawabnya.
Sejenak Mal menghentikan langkahnya. Ia terpaku sambil menatap instrumen di tangannya.
"Paris...?"
Setelah itu, ia merasakan sebuah perasaan yang asing... perasaan yang menekan limpanya kuat-kuat dan sekaligus ia merasakan ada yang seperti tengah memanggilnya.
"Mungkin aku harus berlibur..." katanya.
Kemudian tanpa mempedulikan perasaan yang tak enak itu, dia kembali berlari menuju pintu darurat rahasia.
Pintu itu memiliki sistem tersendiri. Jaringannya bukan berasal dari bawah tanah. Jadi, mungkin pintunya terbuka. Untuk dilalui oleh musuh juga.
Mal tiba pada ujung koridor. Dua orang pria tengah menggotong sebuah kanvas besar keluar dari ruangan di ujung.
Itu mereka!
"Hei!"
Mal menerjang dan kedua pria itu melepaskan kanvas. Mal mengarahkan pukulan ke wajah si pria satu, namun ia dengan mudahnya mengelak.
Tapi Mal belum habis kartu. Ia menyentakkan kaki kiri si pria dan pria itu terhuyung. Mal menendang punggungnya. Pria itu tersungkur ke depan. Pria yang lain menyerangnya dan berhasil mendapatkannya. Mal merasakan lengan kirinya ditarik ke belakang. Dan ia tahu persis apa yang akan dilakukan musuhnya itu. Pria itu akan mematahkan lengannya.
Namun, Mal bukanlah bocah ingusan yang tidak berdaya. Ia memiliki hampir seribu satu taktik untuk berkelit keluar dari situasi berbahaya.
Mal mengikuti kemauan si pria menarik lengannya ke belakang dalam sepersekian detik. Setelah Mal merasakan tubuhnya menekuk ke belakang, ia mengerahkan tenaganya dan menggerakkan sebelah kakinya untuk bertumpu pada lantai dan membawa tubuhnya memutar menyamping... bersalto.
Dalam detik-detik melayang itu, Mal mencengkeram tangan si musuh menggunakan satu tangannya yang bebas dan menekuknya kuat-kuat. Gerakan saltonya menyebabkan pria itu mengikuti gerakan tubuhnya, mengacaukan semua rencana serangannya. Kemudian dengan menumpukkan kakinya kembali ke lantai, Mal memutar tubuhnya ke kanan dan memukul diafragma si pria yang tengah kehilangan arah gerakan itu.
Sekali pukul dan rasa sakitpun menyebar ke seluruh pikiran.
Pria itu pun roboh.
Mal menoleh tepat pada waktu pria pertama yang sempat ia tinggalkan tadi melayangkan pukulan ke arah kepalanya. Mal mengelak dan memutar tubuhnya, kemudian ia membenturkan punggunggnya ke punggung si musuh, menyikut punggungnya, menghantam tengkuknya dan mengakhiri dengan tendangan menyamping di sisi tubuh musuhnya.
Pria itu pun roboh.
"Sial... aku harus minta bayaran kalau begini terus..." kata Mal pelan.
Kemudian ia beranjak ke arah kanvas yang disandarkan di dinding.
Kanvas itu cukup besar an dibalut kain putih bersih. Tepat berukuran seperti dimensi lukisan klasik yang tadi dipamerkan. Sepertinya saat ledakan terjadi, pihak Louvre langsung menarik lukisan dengan sistem komputer dan mengirimnya kembali ke ruang penyimpanan. Tapi rupanya musuh selalu punya cara untuk mendahului mereka.
Mal membuka kain penutup kanvas itu perlahan-lahan.
Mengapa tidak ada polisi yang berada di tempat ini? Mustahil jika tempat ini tidak diketahui oleh pihak seperti itu. Ini pasti permainan orang dalam.
Musuh mereka memang tidak boleh diremehkan.
Mal membuka kainnya dan menatap lukisan di dalamnya.
Ia sempat menikmatinya sejenak. Sebelum ia menjerit histeris sesudahnya...
Bersamaan dengan terdengarnya sebuah suara pada alat komunikasi di telinganya.
"Mal! Code red! Tapi aku selamat... ada tamu untuk kita, teman..." kata suara di seberang.
Mal meraih alat komunikasinya dan mencengkeramnya sambil berteriak, "Dimana Amane?"
"Hei... er, itu... aku bisa menjelaskannya..."
"Dimana dia, kau bodoh? Jangan katakan kau kehilangannya lagi?"
"Tidak usah panik, partner-"
"Dengarkan aku, idiot! Amane membawa lukisan yang asli!"
"Ha?"
"Lukisan ini palsu... lukisan yang tadi kita lihat itu palsu, Demi Tuhan!"
"Apa..."
"Dia pasti memegang yang asli! Dimana dia?"
"Hei, tunggu... bagaimana cara dia... oh, shit!"
"F*ck! Kenapa kau baru sadar sekarang, bodoh? Cepat cari dia! Sebelum semuanya terlambat!"
"Apa maksudmu?"
"Ledakan tadi itu bukan yang terakhir... akan ada lagi... kali ini akan sangat besar... kau sudah melihatnya kan... masih banyak orang yang terjebak... kurasa pihak Louvre akan memerlukan waktu yang cukup lama untuk memanggil teknisi..."
"Sial, mengapa mereka tidak punya teknisi cadangan?"
"Bukan itu, bodoh, teknisi Louvre bukan sembarangan... mereka itu sulit dicari... sudahlah hentikan omong kosong ini, intinya kita harus menghentikan Amane!"
"Bagaimana dengan tim gegana?"
"Bullshit! Mereka tidak akan sempat! Bom itu pasti diletakkan di tempat yang sangat potensial!"
"Oh... shit..."
"Sekarang cari Amane!"
"Mengapa kau mengkhawatirkan dia, anyway?"
"F*ck you, Paris! Gadis itu yang memegang pemicunya!"
Tidak ada jawaban.
"Cepat!"
"Baiklah, London, tapi sebaiknya aku menyampaikan kabar baik dulu untukmu..."
"Apa maksudmu? Berhenti bermain-main-"
"M... kami akan mengejarnya..."
Sebuah suara.
Mal terbelalak.
Suara tadi itu bukan milik Mael... bukan milik Paris...
Mal-London-tahu... ia kenal suara itu... walau tidak sering ia dengar...
Kemudian sebuah desahan tertahan keluar dari mulut London. Disusul sebuah bisikan yang tajam, "Moscow!"
'Jadi... ini Moscow?' pikir Paris.
Agen legendaris yang sering didengung-dengungkan. Tidak ada yang pernah bertemu atau melihatnya. Ia benar-benar tersembunyi. Rumor mengatakan bahkan dia itu agen pertama milik WIA. Agen paling cerdas dan terhebat yang pernah ada. Segala aksinya menurut rumor, lebih kepada sesuatu yang supernatural. Moscow itu seperti seorang penyihir.
Dan kini Paris dengan tidak mempercayai penglihatannya menatap sang legendaris itu tepat di depan matanya sendiri. Paris benar-benar tidak mempercayai keberuntungannya.
Namun, dia sedikit mengernyit melihat penampilan sang maestro legendaris itu. Masalahnya si Agen legendaris hanya mengenakan sebuah T-shirt berlengan panjang polos berwarna putih dengan jeans belel berwarna biru tua. Rambutnya yang panjang dan berantakan membingkai wajahnya yang tirus. Tubuhnya tinggi namun ia bungkuk.
Benar kata orang-orang bijak itu; manusia cerdas itu terlalu banyak berpikir, maka menyebabkan tubuhnya bungkuk karena hanya berpikir pada kursi mereka. Dan kulitnya sangat pucat.
'Pasti orang ini tidak pernah keluar rumah...' pikir Paris jahil.
Mereka telah turun dari chopper dan pemuda aneh itu berjalan mendului Paris memasuki pintu masuk Louvre. Mereka menghampiri seorang polisi dan pemuda aneh itu berbicara dengannya.
Keadaan rupanya semakin parah. Banyak turis dan tamu yang telah keluar Louvre kini berdiri dalam jarak yang cukup jauh untuk melihat kekacauan yang tengah terjadi. Petugas-petugas berpakaian khusus tengah berkeliaran dengan liar dari segala arah. Kini Louvre telah ditutup. Sebuah garis polisi telah terbentang di sekitar pintu masuk.
Paris tidak tahan melihat kondisi itu. Ia entah kenapa mengkhawatirkan London yang masih berada di dalam Louvre.
Ia mengguncang kepalanya keras-keras. Bukan waktu yang tepat untuk memikirkan itu! Ia adalah agen, jadi harus profesional.
Paris kini memusatkan perhatiannya pada pemuda di depannya yang tengah berbicara dengan petugas pengamanan.
"Seberapa besar kemungkinannya?" tanya si polisi.
"Seratus persen." Jawab pemuda itu.
Seketika wajah polisi itu memucat. Ia memanggil seseorang di belakangnya yang tengah mengurus sebuah sistem komputer pada panel di dinding lobi. Orang itu pun datang dan polisi itu berbisik kepadanya. Ekspresi si orang yang dipanggil itu berubah pucat seketika.
Kemudian, polisi itu kembali menghadap si pemuda.
"Baik... kami akan mengusahakan sebisa kami untuk mencari gadis itu... tapi masalahnya adalah beberapa pintu yang tertutup-"
"Bisakah aku melihatnya?" pemuda itu memotong.
"He?" si polisi terkejut.
Paris berjalan bersama pemuda itu ke arah sistem jaringan di ruang kendali.
Ruangan itu dipenuhi beberapa teknisi yang tengah bekerja. Seorang berpakaian putih berusia paruh baya menoleh saat Paris dan pemuda itu memasuki ruangan.
"Sir Dominic... kita kedatangan bantuan..." kata polisi yang mengantar mereka pada pria paruh baya itu.
"Syukurlah... mereka hampir terpanggang di dalam sana... ingatkan aku untuk memecat teknisi-teknisi tolol itu... mereka hanya mementingkan liburan terus menerus..."
"Aku akan mencobanya..." pemuda itu langsung menuju panel sistem jarngan.
"Kami mengandalkanmu." jawab Sir Dominic.
Kemudian pemuda itu memfokuskan diri pada komputer di depannya. Setelah itu Sir Dominic mendekati polisi itu dan berbisik. Paris dapat mendengar apa yang dibisikkannya.
"Siapa dia?"
"He? Kupikir kau mengenalnya..."
"Mael..."
Paris menoleh dan menatap punggung si pemuda.
"Cari Amane ke arah selatan gedung... sebuah chopper akan menjemputnya disana..."
Paris tidak menjawab. Pemuda itu menoleh dan menatap Paris.
"Aku tahu kau pasti mendapatkannya..."
"Aku..."
Pemuda itu tersenyum dan berkata, "Lakukan apapun untuk menyelamatkan situasi... ingat itu..."
Paris mengangguk mantap dan kemudian keluar ruangan.
'Amane... apa yang ia pikirkan? Apa yang ada di benaknya?'
Paris memikirkan hal itu saat berlari menembus lorong-lorong Louvre yang panjang.
Ia telah mendapatkan sebuah apresiasi dari Agen paling dihormati WIA, tidak, Agen yang paling diakui oleh dunia... dia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan kepadanya... dia telah mengacaukan banyak sekali rencana... mulai dari bersama London, hingga kini... dia benar-benar tidak bisa mengampuni dirinya sendiri jika ia menderita kekalahan sekali lagi. Semua orang pasti tidak akan bisa menghindari mengulangi kesalahan yang sama dua kali, tapi tiga kali! Orang itu pasti bercanda!
Maka Paris bertekad untuk mengakhiri segalanya dengan sekali sapuan. Untuk Moscow yang telah menaruh percaya padanya... untuk London.
Yang telah menyelamatkan dirinya!
"Amane, wait for me!"
Amane berjalan bergegas-gegas ke arah pintu selatan gedung.
Ia tersenyum. Kakinya berjalan ke arah pintu kaca. Dua langkah yang cepat... tiga langkah... empat langkah...
"Kurasa kau lupa sesuatu..."
Amane tersentak dan menoleh dengan cepat.
Ia mengerutkan dahinya, tanda tidak senang akan kehadiran seseorang di seberangnya.
"Kau lupa berpamitan denganku, Lady..." Paris berkata sambil tersenyum.
Amane mengerutkan dahinya lebih dalam, membuat wajahnya sangat mengerikan. Ia rupanya sangat marah sekarang.
"Well, well... katakan padaku, Romeo... berapa nyawa yang kau punya sebenarnya, eh?" Amane bertanya dengan nada tak sabaran.
"Saya? Well... aku sendiri juga tidak tahu... tapi sepertinya Tuhan berbaik hati padaku... makanya dia mengrimku dari neraka untuk menjemputmu..."
Amane memutar tubuhnya menghadap Paris sepenuhnya kini.
"Begitukah?"
"Sayang sekali, tapi sepertinya chopper-mu harus menunggu untuk selamanya..."
"Haha... katakan padaku, Paris... apakah kau tidak takut padaku?" kata Amane dengan licik.
"Takut? Padamu? Kenapa aku harus takut?"
"Karena aku bisa membunuhmu tepat saat ini..."
"Benarkah? Coba saja kalau begitu..."
Amane menatap Paris dengan dingin. Tidak ada senyuman manis lagi sekarang.
"Serahkan padaku..." kata Paris.
"He?"
"Lukisan itu..."
"Lukisan? Kau berkelakar? Bukankah kau melihatku tidak membawa lukisan itu?"
"Aku tahu bahwa kau telah mengambil lukisan yang asli jauh sebelum acara dimulai, kan?"
Amane tertawa.
"Bagaimana aku melakukannya?" tantang Amane.
"Kau menyelinap ke ruang penyimpanan, kau mempunyai orang untuk akses ke dalam sana. Kemudian kau menggantinya dengan lukisan palsu... secepat itu... kemudian kau mengambil yang asli bersamamu... maka, saat waktunya tiba, tirai terbuka dan kami semua melihat kehebatanmu... lukisan itu sudah palsu sejak sebelum dipamerkan..."
"Hebat sekali... well, jika benar begitu, coba katakan padaku... dimana lukisan asli itu sekarang?"
"Mempercayai seseorang untuk benda kesenanganmu kurasa adalah kesalahan besar. Kau tahu resikonya. Maka kau tidak memberikan lukisan itu kepada siapapun... kau tengah memegangnya sendiri sekarang..."
Amane tertawa kasar.
"Rupanya kau sudah mabuk... baik... katakan padaku... dimana lukisan itu?"
Paris menatap Amane tepat di matanya.
Ia tersenyum dan berkata, "Di genggamanmu, Amane... kau tengah menggenggamnya..."
Amane cemberut dan mendengus.
"Kau menggulung lukisan itu, kemudian memasukkannya ke dalam celah pada tongkatmu kan? Jika melihat dari tinggi tongkatmu, itu cukup untuk ukuran tinggi lukisan... jadi untuk itulah tongkat itu bersamamu... cerdas..."
Tiba-tiba terdengar langkah kaki seseorang dari arah belakang Paris, dan tak lama kemudian, London muncul dengan sedikit tersengal. Ia menghentikan langkahnya dan menatap Paris dan Amane.
Seketika Amane menyingkapkan bawah gaunnya dan meraih ke bagian atas lututnya.
Sebuah senjata laras pendek diacungkan Amane ke arah London.
"Berhenti..." kata Amane.
London tersenyum. "Hai, Amane... lama tak jumpa..."
"Hai juga, London... aw, kau benar-benar cantik memakai gaun itu..."
"Ya... bahkan lebih cantik darimu kan jalang?"
"Aw... kau kasar sekali..." Amane menarik pelatuk di belakang senjatanya.
"Ya... aku memang kasar... dan aku bangga akan itu... tapi aku berjanji aku tidak akan memukulmu jika kau menurut, sayang..."
"Hahaha... kau baik sekali..."
"Lihat apa yang telah kau lakukan padaku... terima kasih..." kata London sambil menyingkap rambut yang menutupi sisi kiri wajahnya
"You're welcome..." Amane tersenyum.
"Menurutlah Amane, maka aku tidak akan melukaimu... berikan aku tongkat itu..."
"London, dimana-"
"Satu paket, idiot... tongkat itu tempat lukisan sekaligus pemucinya..."
"Wow..."
"Sekarang, berikan padaku..." tuntut London.
"Kau pikir aku benar-benar akan memberikannya padamu? You're really naive..."
"Aku memang naif... dan sebaiknya kau segera memberikanku tongkat itu sebelum aku berubah dari kenaifanku menjadi bentuk yang lain..." kata London.
Amane tertawa kecil.
Ia terdiam sejenak. Kemudian ia tersenyum.
Detik-detik yang menggantung membeku...
Dalam sepersekian detik berikutnya, Amane menarik picu senjatanya... dalam gerakan yang tiba-tiba... sangat tiba-tiba...
Suara yang nyaring menggema ke seluruh lorong...
Peluru yang panas berdesing melayang... menyeberangi udara yang mengalir dan mengarah tepat ke pelipis London.
Senjata ditembakkan... London terkesiap dalam sepersekian detik.
Ia mempersiapkan diri untuk menerima serangan yang menyakitkan, karena ia tahu telah terlambat untuk membuat gerakan menghindar apapun.
Namun sesuatu yang tak terduga terjadi...
London menatap tidak percaya saat sesosok tubuh bergerak ke arah jalur peluru di depannya...
Paris melemparkan dirinya dengan kecepatan yang fantastis untuk menerima peluru yang ditembakkan Amane.
Sebuah seruan tertahan keluar dari mulut Amane. Dalam sesaat ia merasa tidak mempercayai penglihatannya. Matanya terbelalak saat melihat Paris melemparkan tubuhnya pada jalur tembakannya...
Paris mengernyit saat peluru panas itu mengoyak bahu kanannya. Kemudian gravitasi menariknya kembali dan ia pun tersungkur di lantai dnegan keras.
Dalam waktu yang sangat cepat itu, serangkaian hal lain terjadi.
Seperti slow motion, London tidak membiarkan dirinya terus terperangah menatap tubuh Paris yang terjatuh, ia meraih ke bawah tubuhnya, menyingkapkan gaunnya dan mencengkeram keluar sebuah handgun hitam... milik kesayangannya...
Semua itu dilakukanya dalam satu detik dan saat Amane tersadar dari keterkejutannya, London telah siap disana dengan handgun mengarah tepat pada dahi gadis itu.
"Man... aku lupa kalu punya ini..." katanya kepada handgunnya.
"London, lakukan apapun! Demi menyelamatkan situasi! Itu pesan Moscow padaku!"
"Tentu saja, Paris..."
"Haha... Moscow? Dia ada disini? Aku ingin sekali bertemu dengannya..." kata Amane sedikit histeris.
"Jangah harap dia mau bertemu denganmu..." kata London
"Oh ya?"
Keadaan hening.
"Paris... kerja yang bagus... tapi kenapa kau lakukan itu?" kata London pada Paris tanpa menolehkan wajahnya. Ia tetap fokus pada Amane. Kini mereka berdua berhadapan dan saling menodongkan senjata.
"Karena Moscow yang menyuruhku... katanya... lakukan segalanya untuk menyelamatkan situasi... dan lagipula bukankah aku berhutang satu padamu? Maka sekarang kita impas..." Paris menyeringai.
"Hmph... dasar bodoh..." London tersenyum geli, namun ia lega.
"Baik, Amane... kurasa aku telah mengenal sifat keras kepalamu..."
"Kau benar..." balas Amane.
"Jadi, kurasa sekarang yang bisa kita lakukan adalah... siapa cepat dia yang menang, kurasa..."
"Baik..." Amane tersenyum picik.
Detik-detik yang berjalan terasa sangat lamban.
London dan Amane berhadapan dalam diam seraya mengarahkan senjata kepada pelipis masing-masing.
"Kau akan menyesal, Amane... kau tidak harus melakukan ini sebenarnya..."
"Kau mengenalku kan... aku akan melakukan ini... aku akan menang..."
Hening.
Satu detik yang mampu membuat waktu berhenti.
Dan waktu memang benar-benar berhenti saat sebuah suara letupan kecil memecah udara.
London menarik picu senjatanya tepat saat Amane menarik picu senjatanya juga.
Sebuah logam panas menggores sisi wajah London dengan menyakitkan.
Dan waktu berhenti saat London da Paris terbelalak menatap tubuh Amane yang terjatuh... gadis itu melepaskan tongkat pada genggaman tangannya perlahan-lahan... sebuah tanda hitam bulat kecil menodai pelipisnya yang putih bersih. Tepat di tengah.
Sebuah jeritan tertahan.
"Paris!"
Sebuah desahan tertahan.
"Tongkatnya!"
Paris tidak dapat merasakan tubuhnya saat ia menatap kakinya berlari menyongsong tubuh gadis yang terjatuh itu.
Sebuah seruan dari dimensi yang lain memenuhi pikirannya.
Paris menangkap tubuh Amane, merengkuh pinggangnya tepat sebelum gadis itu terjatuh di lantai marmer yang dingin... dan tangan kirinya dengan tangkas menangkap tongkat yang terlepas dari tangan gadis yang telah tidak bernyawa itu.
Kemudian seperti aliran sungai yang menyeruak keluar dari penampungan, waktupun mengalir deras membanjiri mereka... sekelompok polisi Perancis menyeruak masuk memenuhi temapt itu.
Seruan-seruan yang asing bertebaran, dan kelompok itu segera mengamankan tempat itu.
London mendekati Paris yang tengah menurunkan tubuh Amane di lantai. Paris menyerahkan tongkat Amane pada London. London memperhatikannya dan bergumam, "Picunya tepat diatas... untung kau menangkapnya tepat waktu...dan..." London menekan sebuah daerah pada bagian bawah tongkat. Sesuatu bergeser dan daerah itu terbuka. London menarik sesuatu dari dalamnya. Sebuah kertas panjang yang dibungkus plastik putih.
Lady With A Parasol.
"Kerja yang bagus... kalian berdua..."
London dan Paris menoleh ke arah suara yang dikenalnya.
Dan disanalah ia berada, sang Agen legendaris terngah berdiri di tengah-tengah keramaian.
Moscow mendekati mereka.
"Sungguh gadis yang cantik..." kata Moscow pelan.
"Ya, dia juga ingin bertemu denganmu..." kata London geli.
"Setidaknya dia sudah bertemu denganmu sekarang, ya kan Paris?" lanjut London.
Paris tidak menjawab. Ia menunduk dan mengamati wajah Amane.
"Paris?"
"Moscow..."
Moscow menatap Paris.
"Aku menepati janjiku..." kata Paris. Ia mendongak dan tersenyum pada Moscow. "Aku membawa Amane ke hadapanmu..."
Moscow tersenyum.
"Aku tahu kau pasti bisa."
Kemudian Amane dan tongkatnya diambil alih.
Keadaanpun kembali tenang. Sistem kembali normal, tidak usah ditanya berkat siapa. Sedangkan polisi menemukan sebuah tabung yang diduga berkekuatan sangat besar setara setengah ledakan nuklir pada ceruk di dinding galeri utama dekat ruangan pameran.
Semua telah kembali normal.
"Jangan bersedih..." kata London.
"He?"
"Kau tidak perlu bersedih untuk gadis seperti dia... masih banyak yang lain kan... lagipula dia itu berbahaya untukmu..."
Paris tertawa pelan. "Aku suka gadis yang berbahaya kok..." katanya seraya mengedipkan mata ke arah London.
"Hee? Apa-apaan kau? Menjijikan!"
"Haha... aku suka kau yang seperti ini..." kata Paris jahil.
"Shut the fuck up!"
"Hei, serius, kau cantik sekali memakai gaun ini..." kata Paris menatap London dari bawah kakinya hingga ke atas dengan gerakan yang dibuat-buat.
Penampilan London mirip seperti seroang putri sehabis dari medan perang. Gaunnya robek disana sini... wajahnya kotor dan rambutnya acak-acakan. Rambutnya kini tidak lagi menutupi luka bakar yang ada di wajah kirinya.
Paris menyentuh luka itu dengan lembut. "Aku yang telah menyebabkan ini..."
London tidak tahu mengapa ia harus merona. Namun, ia tidak menepis tangan Paris.
"Maafkan aku, ya..."
"Hmph!" seru London seraya menepis tangan Paris dari wajahnya.
"Sebaiknya kita kembali... malam ini kita menginap di sini, besok kita harus kembali ke London..."
"Iya... iya... tapi setidaknya kita beristirahat dulu..."
London bangkit berdiri dan mendengus. "Bodoh! Tidak ada waktu untuk istirahat!" Ia pun berjalan meninggalkan Paris.
"Hei... hei... ya ampun..." kata Paris seraya menyusul London.
Mereka mendekati tempat Moscow yang tengah berbicara dengan seorang pria bersetelan necis.
"FBI..." bisik London pada Paris.
Moscow melihat London dan Paris mendekatinya dan beralih pada mereka.
"Aku sudah selesai disini... kalian ditunggu lusa..."
"Aku mengerti..." kata London.
"Baik... sampai jumpa kalau begitu..." kata Moscow. Kemudian ia berjalan keluar Louvre.
"Hei... terimakasih..." Paris berseru ke arah Moscow. Namun, pemuda itu tidka menoleh dan terus berjalan. Ia pun menghilang di luar, berbaur dengan keramaian.
Hening sejenak. London dan Paris mendengarkan suara-suara di sekelilingnya. Menghela napas, London berkata, "Okay! Aku ingin segera melepaskan pakaian terkutuk ini... sebaiknya limosine itu segera datang..." London berjalan ke arah pintu depan.
Paris tertawa seraya bergumam, "Oh God... I love wild women..."
Kemudian ia menyusul London.
[Badford Hotel, 20:00]
Cahaya bulan purnama menyinari heningnya satu kamar di dalam hotel Badford yang sangat hening. Di teras, kita dapat melihat sesosok tubuh yang ramping.
Agen London terdiam. Ia menundukan wajahnya dan memejamkan matanya. Paris berjalan menghampiri partner-nya tersebut dengan langkah yang pasti. Dan tanpa pikir panjang, ia menutup jarak yang ada di antara mereka, mengangkat wajah London dengan kedua tangannya dan mengecup bibirnya lembut.
"Thanks." Bisik Paris.
"P-Paris..." ketika melihat wajah yang familiar itu, seluruh memori menyerang otaknya. Dari awal pertemuan mereka hingga detik itu juga. Tanpa disadari, setitik air mata jatuh, mengalir di pipi London, disusul dengan beberapa titik lagi. ya, agen London yang tegar itu menangis namun berusaha untuk tidak membuat suara sedikitpun.
Paris tersenyum lembut dan mengusap bulir-bulir air mata, sekaligus menghapus jalur air dari wajah agen blonde di hadapannya. Ia lalu merapatkan jarak antara bibir mereka. Sekali lagi mencium London. Kedua tangan London bergerak naik ke arah google milik Paris yang sudah menjadi sangat mengganggu. Perlahan, ia menurunkannya hingga benda tersebut jatuh ke leher Paris.
Paris menekan bibir miliknya. London yang belum siap langsung mundur dan nyaris kehilangan keseimbangan. Reflek, ia membuat sebuah jalan untuk lidah milik Paris masuk dan menyentuh tiap sudut dalam mulut London. Sebuah sensasi yang tidak pernah dirasakan London sebelumnya. Yang mengherankan adalah, jilatan agen junior itu bukanlah seperti sebuah gairah namun kehangatan yang seakan bertanya secara diam-diam "Bolehkah aku melakukan ini?"
Sebuah senyuman terukir di bibir London yang tipis. Bukan senyuman yang bahagia, itu lebih ke sebuah senyuman licik. Tanpa berpikir dua kali, London menekan bibirnya lebih keras di atas partner-nya itu.
Paris mengembalikan aksi London dengan senyuman. Ia merasa pertanyaan "Bolehkah aku melakukan ini?" telah di jawab dengan "Cobalah kalau kau berani". Sekejab, mood hangat itu telah berubah menjadi ganas dan liar. Kedua agen tersebut saling tukar menukar lidah dan mengacak-acak rambut satu sama lain. Tanpa disadari, Paris telah memojokan London ke ujung tembok dimana mereka menyudahi pertemuan bibir mereka untuk menarik napas.
Paris tersenyum puas atas reaksi yang ia terima. Pada detik berikutnya, London telah menemukan lidah Paris sedang menjelajahi setiap sentimeter dari kulit lehernya. London memiringkan wajahnya ke kanan untuk memberikan Paris keleluasaan melakukan apa yang ia mau. Agen berambut merah itu semakin menjadi-jadi ketika ia menemukan titik sensitif pada leher lelaki di hadapannya. Tanpa ampun, ia terus menyerang titik itu. Menjilat, menghisap hingga menggigit, meninggalkan bekas gigitan ringan di leher London.
"Pa...ris..." Kedua kaki London sudah tak bisa menopang berat badannya. Ia terjatuh di lantai. Paris tersenyum. Ia berjongkok dan mendaratkan ciuman hangat ke bibir London.
"Cukup sampai disini?" ia mengelus rambut London yang halus dan duduk membaliki lelaki itu untuk melihat langit senja.
"A-ah..." London terlihat terkejut dengan perkataan Paris. Ia memeluk agen junior dihadapannya itu dengan erat. Bukan sebuah pelukan biasa, rupanya. Kedua tangan London perlahan membuka vest berbulu milik Paris tanpa perlu melihat. Seakan ia ingat seluk beluk pakaian tebal itu diluar kepala. London bernapas kencang, membuat dirinya seakan telah menanti saat itu sedari dulu. Paris dapat merasakan detak jantung di dada London yang menempel ke bagian belakang tubuhnya. Paris tidak bisa melakukan apa-apa namun tercengang akan apa yang partner-nya lakukan, ia dapat merasakan wajahnya memanas hingga ia merasakan vest miliknya telah lepas sepenuhnya. Meninggalkan baju stripes merah hitam melekat di tubuhnya.
London mengambil gilirannya untuk merasakan leher Paris. Cukup terkejut. Bisa dibilang, lehernya lebih lembut dari leher London. Sangat mulus dan tidak bercacat. Tidak seperti lehernya dimana ada bekas luka bakar yang menolak untuk menghilang. Paris memejamkan kedua matanya dan bernapas dengan berat sebelum tangannya bergerak dan menyentuh luka di wajah London.
London menepis tangan Paris dan memiringkan wajahnya, menghindari sentuhan agen itu.
"Ja-jangan." agen senior itu berkata dengan terbata-bata.
Paris yang tahu bahwa rintihan itu bukan tanda sakit fisikal, bertanya, "Kenapa?"
"Ini memalukan."
"Tidak." Paris berkata tegas. "Kau mendapatkan luka ini karena kau menyelamatkanku. Luka ini... spesial..."
Sekali lagi, air mata turun membasahi pipi London. "M... Matt..."
"Oh, God." agen berambut merah itu menarik napas. "Aku tidak menyangka aku akan mengatakan ini kepada seorang lelaki tapi..." ia terdiam sejenak. "I... guess I love you."
London terpaku, berusaha mencerna kata-kata yang terlontar dari mulut pria di hadapannya. "...kau bercanda..." ujarnya. "T-tidak ada seorangpun yang bisa suka padaku, kan?"
"Jadi aku tidak dihitung orang? Kejam sekali, London."
London memutar bola matanya, "Party pooper."
"That's me." Paris tersenyum jahil. Dengan itu, jarak di antara bibir mereka kembali tertutup, diganti dengan sebuah ciuman yang panas.
Beberapa bunyi erangan dapat jelas terdengar selagi ciuman itu terus berlanjut.
"London... sekali-sekali, gunakanlah gaun seperti tadi..." Paris tersenyum menggoda sambil menjilat bibirnya.
"Kau masih belum berubah."
Paris mengerling dan memeluk figur ramping dihadapannya. Mengangkat agen senior tersebut dan menggendongnya bridal style.
"Fucking hell." rintih Paris, menaruh London kembali ke tanah. "Kau ternyata berat sekali."
Reflek, satu tinju mendarat ke kepala agen junior tersebut.
Agen London terduduk di kasur sambil menghela napas. Lehernya terasa agak sakit akibat gigitan yang diluncurkan Paris.
"Oooh..." Paris tersenyum penuh arti. "Kau membeli banyak sekali coklat, ya?" godanya sambil menunjuk isi laci.
"H-HEY, jangan buka laci sembarangan!" wajah London memerah, mengingat coklat yang ia beli semuanya sama dengan coklat yang Paris berikan pertama kali.
Paris tertawa, membuat London dongkol. "London..."
"Apa?" tanyanya, setengah berteriak.
"Ah... um... apa kau juga suka padaku?" Paris berusaha menghindari kontak mata.
"Well..." London menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Melihat wajah Paris yang sangat memerah, ia tersenyum licik dan menarik Paris jatuh ke tempat tidur bersamanya.
"M-MELLO! Maksudku... London..."
"Mello juga tidak apa." agen senior itu terdiam. "Namamu?"
"Mail Jeevas."
"... Mael. Mail. Fail."
"Melon!" Paris menggerutu mendengar kalimat yang terlontar dari mulut si blonde.
"Oh, fuck you." London memutar bola matanya sebelum ia mengangkat baju merah-hitam yang berada di tubuh Paris keatas sebelum agen junior itu dapat menolak.
"Wah, wah. Kau bergairah juga ya." decak Paris. "Akan ku ajarkan siapa yang lebih ahli dalam hal ini. Perhatikan baik-baik meskipun aku dengan senang hati akan mengulang pelajaran ini." ujarnya. Dengan tangannya yang terlatih, secepat kilat, ia melepas belt hitam yang melingkar di pinggul London.
London tertawa lepas ketika Paris mendorongnya hingga terjatuh ke tempat tidur yang empuk. Tawa... yang bukan London.
Agen Paris telah merubah agen London. Sepenuhnya.
Memandang keluar jendela, bulan purnama masih bersinar, menerangi kedua pasangan baru yang sedang melakukan 'aktifitas' milik mereka. Ratusan bintang menyala-nyala, berkelap-kelip, menerangi kota Paris. Kota penuh dengan... gairah.
[ WIA, 10:00 AM ]
"Well done, well done…." Ia berkata seraya tersenyum. Terseyum. Oh my God!
Bukannya ia tidak pernah tersenyum, setiap manusia-yang paling terkejampun-pasti pernah tersenyum, hanya saja betapa senyum itu sangat memberikan sebuah apresiasi yang besar kepada London dan Paris, si kedua agen muda jenius kita ini.
Si pria paruh baya itu mencondongkan tubuhnya seraya menopangkan seluruh berat badannya pada kedua lengannya di atas meja.
"Bagus sekali…"
"Sir, kami hanya melakukan apa yang anda minta… untuk nama baik organisasi kita…" kata London.
"Ya, aku tahu itu… maka dari itu aku puas melihat kalian…"
"Sir… maafkan aku… aku tidak bisa menepati janjiku…" kata Paris.
"Apa maksudmu?" tanya pria paruh baya itu.
"Aku... membunuhnya... aku berjanji akan membawanya ke sini..."
"Paris... kau melakukan yang terbaik... apa jadinya jika kau membawa gadis itu kesini, namun Louvre menghilang? Kau menyelamatkan sebuah peradaban... gadis itu sesungguhnya tidak terlalu penting untukku... walau aku memang menginginkannya untuk membongkar seluruh kawan-kawannya, namun untuk saat ini kau telah melakukan yang terbaik..."
"Apa yang kau bicarakan, idiot?" London bertanya marah pada Paris.
"Paris... aku tahu... sesungguhnya sangat pedih bagimu melihat gadis itu tewas, kan? Nah, maka kau telah mendapatkannya... kau telah melakukan yang terbaik..." kata pria itu lagi.
Hening sejenak.
"Sir... apakah anda yang mengutus Moscow?" tanya London kemudian.
"Moscow? Hell no! Dia sedang berada di New Zealand sejak dua bulan yang lalu... sebuah kasus tingkat tinggi..." pria itu memotong kalimatnya dengan tertawa pelan.
"Tidak, tidak... aku tidak mengutus Moscow... lagipula dia tidak akan tertarik dengan kasus ini..." katanya lagi.
London dan Paris tercengang.
"Tapi, sir-ouch!" Paris hendak berkomentar, tapi kemudian ia merasakan telapak kakinya terinjak.
London meliriknya tajam.
"Ya?"
"Ar, tidak, maksudku... aku... aku siap untuk misi selanjutnya." kata Paris mantap.
Pria itu terdiam seraya menatap paris.
Kemudian pria itu membuka laci mejanya dan melemparkan berkas ke atas mejanya.
"Rusia... pembunuhan... 12 korban sejauh ini... bukti clear... kurasa sudah waktunya kalian menerima tugas baru yang lebih berat dari sebelumnya..."
"Kenaikan level?" tanya London menyeringai.
Pria itu duduk di kursinya dan berkata, "Bisa dibilang begitu, tapi setelah kalian berhasil..." katanya seraya meraih dan membuka sebuah dokumen.
Paris dan London bertatapan sambil menyeringai.
"Well, sepertinya ini akan menyibukan..." kata London dengan nada lelah.
"Okay... aku ingin makan masakan Chinese di Rusia..." Paris beseru.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka.
Seorang bocah pucat masuk ke dalamnya. Bocah itu tampak terkejut melihat kehadiran orang lain selain si pria di ujung meja.
"Wah wah... rupanya kau masih belum berubah ya, Holland... masih kurang sopan..." kata London dengan nada malas.
Bocah itu tersenyum, "Rupanya pahlawan Louvre telah tiba..." katanya.
"Well, setidaknya kami berjalan-jalan... aku minta maaf jika kau tidak bisa melihat Paris, bocah..." Paris berkata, mengejutkan semua orang.
London menatap Paris dan Paris memberikan kedipan kepadanya.
Entah kenapa ia tiba-tiba teringat kejadian malam kemarin. Peristiwa menggairahkan itu telah membuat wajahnya tidak henti-hentinya merona saat di dalam pesawat sepagian tadi.
London menarik napas dan memalingkan wajah. "Benar sekali, Holland... sekali-sekali kurasa kau harus keluar... lihat kulitmu... kurasa otakmu pun seputih pakaianmu karena tidak pernah keluar... jika iri pada kami, mintalah agar kaupun ditugaskan untuk ke lapangan..."
Holland mendelik marah. Ia tidak dapat membalas perkataan dari dua orang itu.
Itu membuat London sedikit puas.
Holland berjalan ke arah meja si pria dan menaruh beberapa berkas di atasnya. Tanpa memedulikan London dan Paris, ia kembali berjalan ke pintu.
Tiba-tiba London mendapatkan kepuasannya. Ia mendelik jahil pada Paris dan kemudian menyodorkan sebelah kakinya ke depan.
Kemudian terdengar suara seseorang terjatuh dengan keras. Disusul sebuah geraman yang menyakitkan.
London benar-benar mendapatkan kepuasannya saat melihat Holland terjatuh dengan gaya yang menggelikan.
Paris berusaha menahan tawanya, sedangkan London terang-terangan tertawa. Dan si pria? Dia bahkan sama sekali tidak melihat serangkaian kejadian itu.
Well...
Holland mengernyit kesakitan seraya menatap London dengan jengkel. "Kau..."
"Sudah kubilangkan... I'll kick your ass!"
London tertawa. Ia menuju pintu dan sesaat sebelum membuka pintu ia berbalik dan berkata, "Kami akan ke Rusia... siapkan semuanya ya..."
"Atur saja..." gumam si pria dari balik dokumennya.
"Ayo, Paris! Rusia menanti..." seru London seraya membuka pintu dan melangkah keluar.
"Mission is open!" seru Paris.
Dua agen tersebut berjalan dan menghilang di ujung koridor tanpa menyadari bahwa ada sepasang mata merah tengah mengawasi mereka dari balik kaca di lantai atas. Senyuman licik tergambar di wajahnya. Figur tubuhnya yang kurus tengah menyandar di kaca transparan tersebut.
"Copenhagen, sedang apa kau disitu?" seseorang dengan rambut coklat yang tertata rapi datang dan bertanya.
"Tidak, Stockholm, tidak ada apa-apa."
End Of The Story
Author's Note: Yay! Akhirnya!
Claire: Fic berchapter pertama kami selesai. Eits, tapi tunggu dulu, kami masih punya beberapa bonus untuk anda. /wink
Well ya, kami mau minta maaf kepada Mello, karena dia disini begitu menderita. :lol:
Sengaja, karena terlalu banyak fic yang berfokus pada ke-angsty-an Matt, maka kami mencoba membuat sebaliknya. :D
Well, setelah ini, kami akan membuat satu chapter lagi yang berisi tentang Blooper. Deleted scene, behind the scene dan juga keanehan-keanehan lainnya selama membuat fic ini. Kemudian kami pun akan membuat dua buah poster untuk fic ini. Poster official yang menggambarkan seluruh cerita dan satu lagi poster berisi Mael dan Mallory. Dan mungkin untuk versi poster yang kedua akan ada dua buah. Karena kami akan mengerjakannya masing-masing orang. 8D
Satu kata, saya ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada partner collab saya, yaitu, Dragon Rhapsody yang telah dengan hebatnya bekerja bersama saya hingga akhir chapter cerita ini. THX MOMAH!
Okay, then, ditunggu saja untuk bonus-bonusnya. ^_^
Dragon: ...
...
...
Anjing. Panjang banget nih chapter... oh anyway, tadinya saya mau tambahin lirik lagu "Thanks for the Memories" by Fall Out Boys. Dengerin deh, enak XD
[The last romance scene made by Dragon Rhapsody]
Thanx for read and review.
Dragon Rhapsody and Claire Lawliet
