Yoshy… pussy meow, ini hanyalah sekedar pelampiasan saya yang insomnia gara-gara terserang alergi obat dari dokter yang membuat saya ruam dan gatal-gatal hingga gak bisa tidur. Huuuh… bête. Oum… oh iya maaf bagi yang menunggu kelanjutan Angel's Heart, karena saya merasa itu adalah produk gagal dan saya gak ad aide sama sekali buat nerusin dengan terpaksa akan saya hapus. Tottemo gomenasai *bungkuk-bungkuk* tapi kapan-kapan akan saya publish versi terbaru setelah dua atau tiga fic saya yang lain kelar. Okeh… Piss boy!
Saya kebutin bikin fic- sebelum saya bener-bener sibuk *halah*, met membaca saja deh ya! Fic gaje ini huhuhu…
.
.
Disclaimer
He eh… Bleach milik Tite Kubo
dan tokoh anime lain milik masing-masing penulisnya
"percampuran tokoh anime dan dialognya"
.
.
Kuchiki Mansion
"Tidak mungkin!" Rukia menggebrak meja dengan aura yang sedikit kesal dan marah. "Tidak mungkin nii-sama melakukan hal itu!"
"Tapi Rukia, semua bukti mengarah kepadanya dan juga… kau tahu kan?" kata Renji.
"Renji! Bukankah kau fukutaichounya? Tega sekali kau mengkhianatinya?" jerit Rukia.
"Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya merasa bahwa taichou sedang tidak dalam kondisi normal," kata Renji seraya membuang muka, enggan menatap mata violet Rukia.
Rukia menatap tajam pada Renji. "Kami diperintahkan untuk mencari taichou ke seluruh penjuru dimensi. Ia masih tetap menjadi tersangka bila pelaku utamanya belum juga ditemukan."
"Kami? Siapa maksudmu dengan kami?" tanya Rukia lagi.
"Ichigo, Hitsugaya taichou, dan lain-lain. Kami melakukan pencarian sejak tadi pagi," jawab Renji lirih.
"Apa? Tidak bisa dibiarkan… bagaimana bisa aku berdiam diri di sini sedangkan nii-sama dalam bahaya di luar sana?" tangis Rukia.
"Rukia kumohon tenanglah, kita akan mencarinya. Ayo temui soutaichou dan meminta izin kepada beliau!"
"Hn… ya baiklah."
.
.
Chapter 4
Hilang, Tersesat, Dimanakah Diriku?
"Huwaaaaaaaa^!"
Teriakan horror itu mengundang perhatian sebagian besar penduduk kota Edo yang spontan mendongakkan kepalanya ke atas, mencari sumber suara. Tidak ada yang terlihat… oh mungkin belum terlalu jelas karena mereka hanya bisa melihat satu titik bulatan hitam bercampur putih yang semakin lama semakin membesar dan satu buah titik yang berkilau seperti besi mengarah ke bawah, siap menghunjam Bumi.
Jleb!
"Hieeee^!" Nada spontan pun keluar dari mulut seorang pria berusia sekitar 25 tahun yang tengah berjalan di atas jembatan kayu ketika sebuah pedang meluncur dari atas dan menancap di depannya, dengan tiba-tiba. Bergeser beberapa millimeter saja, mungkin pedang itu sudah menancap di kepalanya yang berambut merah itu. Ember kecil berisi beberapa ekor ikan segar yang tadinya tergenggam erat di tangannya sekarang sudah terlempar beberapa meter. Saking kagetnya.
Ikan itu berserakan dan menggelepar-gelepar karena tidak adanya air. 'Haaah… Kaoru-dono pasti akan ngomel lagi,' tangisnya dalam hati begitu melihat ikannya kini telah menjadi rebutan kucing-kucing kelaparan. Seekor kucing hitam yang berhasil mendapatkan ikan yang paling besar masih sempat-sempatnya menatapnya dengan pandangan mengejek dan penuh kemenangan sebelum melarikan diri sejauh mungkin. Ia pun semakin meratapi nasib menu makan malamnya yang hilang itu.
Pria itu mendekat ke arah pedang yang tertancap itu, menatapnya sejenak dan mencabutnya. 'Hmm… seperti bukan pedang sembarangan. Bau darah… pekat,' Ia sedikit mengendus bau amis yang menguar darinya. 'Berapa banyak yang telah ia tebas? Tapi… pedang ini lebih beraroma sakura.'
Byuuur!
'Cih! … Gara-gara gak ada jigoku-chou, jadi gini deh,' Byakuya mengeluh dalam hati ketika ia mengetahui dirinya terjatuh ke dalam sungai yang cukup jernih yang mengalir di tengah kawasan kota Edo itu. 'Ah… Senbonzakura, dimana? Dimana dia?' batinnya seraya mencari bilah pedang zanpakutounya yang tadi sempat terlepas dari sarungnya.
"Ini milikmu?"
Byakuya mendongakkan kepalanya. Ia melihat seorang pria berambut merah yang kini sedang memegang zanpakutounya.
"Kurasa itu tidak benar, ya," kata orang itu lagi kemudian ia berbalik arah.
"Hey, tunggu! Berikan pedangku!" perintah Byakuya yang kini sudah berada di hadapan orang itu.
"Waaaa! Kau mengagetkanku saja," ujar pria itu setengah kaget. "Huff…"
"Itu milikku," kata Byakuya tajam.
"Benarkah?" tanya pria itu dan Byakuya mengangguk.
"Kau tahu, ia hampir membunuhku tadi," ujarnya kalem seraya menyerahkan zanpakutou Byakuya. "… dan mungkin sebentar lagi…"
"Maksudmu?"
"Kenshiiinnnn!" panggil seorang wanita dengan furisode berwarna ungu lavender dan berkuncir kuda.
"Kaoru-dono?" kata pria yang dipanggil Kenshin itu.
"Jadi… dimana ikannya?"
"I-itu… ikannya sudah dimakan… kucing," lirih Kenshin penuh penyesalan. "Maaf…"
"Kau bilang apa?! Ulangi sekali lagi!" teriak Kaoru sambil mencengkeram kerah kimono merah muda Kenshin setengah mencekik, mengguncang-guncangkannya. "Kau tahu kan itu adalah makan malam kita?!"
"Ka-… oru, to-long," desah Kenshin yang merasa udara di sekitarnya sangat enggan untuk masuk ke dalam paru-parunya itu. Gadis 17 tahun itu pun melepaskan cengkeramannya, membiarkan Kenshin yang setengah pingsan, ambruk tak berdaya. Poor Himura.
"Ah… ngomong-ngomong siapa anda?" tanya Kaoru pada pria di depannya. Byakuya hanya terdiam sejak tadi melihat tingkah laku kedua orang asing di depannya. Sweatdrop.
"Kaoru dono dia tadi yang-…," sahut Kenshin setelah sadar dari pingsannya.
"Jangan menuduh sembarangan, Kenshin!" potong Kaoru. "Jadi… apa benar yang Kenshin tadi katakan?" ucapnya kemudian dengan tersenyum manis namun penuh arti.
'Ah… dia mengingatkanku akan Rukia?' batin Byakuya yang sedari tadi terdiam. Pandangannya menerawang pada sosok wanita di depannya itu.
"Um… hallo?" Kaoru mengibas-ngibaskan tangan kanannya di depan muka Byakuya.
"Maaf… aku hanya… seorang pengembara," jawab Byakuya asal-asalan.
"Seperti mengingatkanku akan kata-kata seseorang," ujarnya sembari melirik pria pendek di sampingnya. "Jadi… kau kini tinggal di mana, tuan pengembara?" tanya Kaoru kemudian.
"Dimana saja," jawab Byakuya asal-asalan lagi.
'Byakuu… loe yakin?' celetuk Senbonzakura. 'Lagipula…'
'Apa?' tanya Byakuya tapi kemudian… Nyuuuut! 'Ugh.'
"Tuh kan.'
"Aku rasa kakimu agak keseleo, tuan pengembara?" tanya Kenshin tiba-tiba, seakan-akan tahu perubahan tipis pada wajah Byakuya.
"Eh? Benarkah itu?" tanya Kaoru menegaskan dan kemudian melirik pada kaki kiri Byakuya yang sedikit bengkak dan kemerahan. "Um… kami memiliki dokter yang cukup handal untuk mengobati kakimu. Bila kau berkenan."
"Kurasa ti-…," Byakuya ingin menolak tawaran baik hati itu namun sesaat kemudian ia melihat dua orang yang cukup familiar di matanya. Kimono hitam dengan pedang zanpakutou. Shinigami. "Ya… baiklah," jawab Byakuya setengah malas. Akhirnya ia menerima tawaran itu dengan tiga alasan. Mengobati kakinya, mencari tempat tinggal dan yang paling utama… adalah untuk menghindari kedua shinigami yang dilihatnya itu. Kemungkinan saja mereka mencarinya bukan?
.
~~###~~
.
Meanwhile : Somewhere in a Deep Forest
Noel… Noel…
"Un… ngapain kau?" tanya seorang pemuda berambut pirang dengan mata aquamarine. Ia memakai sebuah jubah berwarna hitam bercorak awan merah.
"Maen-maen, senpai. Tobi kan anak baik," jawab seorang pemuda bertopeng lollipop orange dengan kostum yang sama yang kini mengutak-atik sesosok tubuh yang tergeletak pingsan di depannya dengan ranting pohon. "Uwoooo… kepalanya kinclong! Bisa buat ngaca nih!" ujarnya childish sambil mengelap kepala botak itu dengan sapu tangan orange-nya dan kemudian berkaca.
Bletak!
"Cheh… dasar Tobi, un!" Deidara menjitak kepala pria bertopeng itu. "Berhentilah bermain-main! Kita sedang ada misi, tau'!"
"Uweeeee, Dei-senpai jahat! Hiks… hiks….," Tobi meringis sambil mengelus-elus kepalanya yang benjol.
"Un… daripada itu, mendingan kita bawa saja ke markas," Deidara menjentikkan kedua jarinya. "Yaaa… hitung-hitung buat Zetsu yang lagi ngidam, daripada kita jadi santapannya, un."
"Ta-tapi bagaimana dengan misinya, senpai? Tobi anak baek jadi misi harus selesai dulu," tolak Tobi.
"Haah… un. Kau mau jadi makan malam Zetsu?" tanya Deidara malas sambil membuat membuat burung bangau dari tanah liat. "Selain itu, pedangnya cukup bagus, un," lanjutnya seraya mengambil katana yang terselip di obi pria botak itu.
Tobi garuk-garuk kepala. "Terserah senpai deh," ujarnya setuju dan kemudian naik ke atas burung tanah liat partner berambut pirangnya itu.
.
.
"Huuuuh… Ikakku, kau dimana sih?" dengus salah seorang shinigami di sebuah hutan nan rimbun. "Kalau begini kan tidak cantik namanya. Cih tersesat," lanjutnya seraya menyibakkan rambut berwarna hitam sebahunya.
"Aduuh… mana aku juga terpisah dengan Rangiku-san dan Hitsugaya taichou," ujarnya sambil memandang berkeliling. Sejauh matanya memandang hanya hutan belantara yang rimbun, sunyi, dan agak suram. 'Merinding deh! Huh… gara-gara gerbang senkaimon yang agak rusak, jadi begini deh. Terpencar dan saling terpisah. Dan… dimana pula ini?'
"Ya… ya baiklah." Ia berusaha menenangkan diri dan kemudian memejamkan matanya, berkonsentrasi untuk mencari sesosok reiatsu yang mungkin di kenalnya. "Ah… di sana ternyata," ujarnya sambil tersenyum dan kemudian bershunpo menuju sumber reiatsu yang dikenalnya.
"Loh kok gak ada?" ujarnya heran begitu sampai pada tempat yang dituju. Sedetik yang lalu reiatsu itu sudah berpindah tempat.
Kruuuukk… kruuuukkk… "Haah lapar nih. Hm… mungkin ada desa sekitar sini yang bisa aku tuju," ujarnya sambil melesat melewati cabang-cabang pohon.
Ia berhenti sejenak ketika di hadapannya berdiri dengan kokoh sebuah pintu gerbang yang besar bertuliskan "Konohagakure no Sato."
"Huh… Konohagakure? Baiklah aku akan bermalam di sana… ya daripada bermalam di hutan. Sungguh tidak baik untuk kesehatan bulu mataku," ujarnya narcis dan kemudian berjalan mendekati pintu gerbang sebuah desa ninja itu.
.
~~###~~
.
"Uuungh?" Hitsugaya membuka matanya sedikit demi sedikit. Silau sinar matahari membuatnya kembali memejamkan mata. Punggung tangannya ia gunakan untuk menghalau cahaya matahari siang yang terik menerobos iris matanya yang berwarna emerald itu. 'Dimana aku?' batinnya sedikit bingung dengan suasana yang agak asing itu.
"Riku… kau sudah bangun?" tanya seorang pria remaja berambut coklat dengan nada yang cemas. Bayangan kepalanya menghalangi matahari menerpa wajah Hitsugaya.
Ia membuka matanya, mengerjap-ngerjap beberapa kali mencoba menajamkan focus penglihatannya. "Kau… siapa?" tanyanya.
"Ri- Riku? Tidak mungkin! Sadarlah Riku! Ini aku… Sena!" ujar pria berambut coklat itu panik sambil mengguncang-guncangkan bahu kecil Hitsugaya.
Hitsugaya bangun dari posisinya. Hmm… ternyata ia pingsan di tengah sebuah lapangan football. "Khh… kau salah orang, bocah. Aku Hitsugaya taichou," sanggahnya ketus pada pria yang mengaku bernama Sena itu. Hitsugaya berdiri, menepuk-nepuk shihakusounya dan membetulkan letak Hyourinmaru di punggungnya. Ia mengambil handphone dari balik hakamanya, mengutak-atiknya dan mengabaikan tatapan bingung dari Sena.
PLAK!!!
"Eh?" Hitsugaya menatap nanar dan bingung pada handphonenya yang terlempar dengan gerakan slow motion itu. Jatuh dan hancur berantakan. Ia menatap tajam pada sang pelaku. "Apa masalahmu sebenarnya, hah?!" bentaknya emosi.
"Riku! Aku tahu kau marah padaku karena aku tidak bisa ikut pertandingan. Tapi… jangan berbuat seolah-olah kau tidak mengenalku!" teriak Sena dengan pandangan tajam.
"Riku… Riku… Sudah kubilang aku Hitsugaya! H-I-T-SU-G-A-YA!!!" ujar Hitsu penuh penekanan. "… dan aku benar-benar tidak mengenal dirimu!" lanjutnya dingin dan berbalik arah, mengabaikan tatapan sedih Sena.
"Riku… kau harus ke psikiater. Mungkin kau sedikit amnesia karena terjatuh dan terbentur tadi," ujar Sena sambil mengenggam tangan Hitsugaya dan menyeretnya berlari dengan kecepatan 4,2 detik menuju UKS SMU Daimon yang terbilang cukup lengkap fasilitas kesehatannya itu.
"A-apa? Hey…!" Hitsugaya hanya bisa merutuk dan kesal dalam hati akibat perbuatan spontan remaja 16 tahun itu.
.
To Be Continued
.
Penjelasan setting :
Berhubung terdapat pencampuran anime maka seting-nya di fic ini adalah pada zaman restorasi Meiji (Samurai X) di Jepang ntu kan dulu menurut sejarah masih ada yang namanya ninja makanya saya masukin chara Naruto dan juga masih terdapat kepercayaan akan dewa dan siluman (Bleach n Inuyasha). Lalu kota Daimon dan sekitarnya yang ada di Eyeshield saya anggap kota tetangga ma Karakura yang di Bleach. Okeh… ngerti kan? Yosh… percampuran anime sudah dimulai dari chapter ini, semoga tidak bingung ya?
dan kayaknya pada bingung yah? Karena di chapter ni ada 5 scene berbeda ah… maap-maap (bungkuk-bungkuk)… dan padahal belum smua scene masuk hiks… hiks… sutralah maap ga bisa jawab repiunya satu-satu, dan sepertinya sebagian sudah terjawab di chapter ni.
So… would you mind to review again?
