Opportunity to Return Home
.
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Opportunity to Return Home © Vanilla Yummy
.
Warnings : Canon (I try my best), OOC (little bit), Typo(s), etc.
ALERT : LEMON ON THIS CHAP
So, for underage readers, please klik back
I'VE WARNED YOU!
.
"SAKURA, SADARLAH!" ucap Sai. Sakura yang tiba-tiba saja jatuh pingsan tak ayal membuat rekan setimnya itu kalang kabut meskipun raut wajahnya tak menunjukkan demikian.
Baru saja Sai ingin menggendong Sakura dan membawanya kepada Tsunade, sesosok orang tiba-tiba muncul di depannya.
"Sasuke-san…" Sai cukup kaget melihat Sasuke yang rupanya menggunakan jurusnya sehingga langsung muncul dihadapannya. Padahal jarak Sasuke sudah cukup jauh tadi.
Dengan gerakan cepat Sasuke menggendong Sakura secara bridal style. Sontak semua mata terutama Karin menatap kaget dan tak percaya ke arah Sasuke. Sai baru saja ingin bicara kalau saja tak kedahuluan Sasuke.
"Pandu aku ke ruang rawatnya. Kalian bertiga, panggillah Hokage-sama," sebelum yang lain sempat menyela, Sasuke kembali memerintah, "sekarang." Ucapnya dengan datar dan dingin.
Karin, Juugo dan Suigetsu pun segera berlari. Karin menatap sendu Sasuke yang kini berlari berlawanan arah bersama Sai. Hatinya perih melihat ternyata Sasuke memperhatikan gadis didikan Hokage itu, terlebih dari cara bicaranya barusan…tersirat ia begitu khawatir…
.
.
Tsunade menatap heran Sasuke yang masih berdiri tenang di sudut ruang rawat Sakura. Sang Hokage baru saja selesai memeriksa keadaan muridnya itu. Tadi saat ia memerintahkan agar semua orang keluar dari ruang rawat Sakura, hanya Sasuke lah yang diam tak bergeming enggan untuk meninggalkan ruangan itu. Tsunade hanya bisa menghela napas kemudian memeriksa Sakura dengan Sasuke yang masih berada di sana.
"Apa dia akan segera sadar?" pertanyaan Sasuke jelas membuat Tsunade mengernyit heran.
"Apa itu caramu untuk bertanya 'apakah dia baik-baik saja'?" sindir Tsunade.
Sasuke mendengus, "Aku hanya merasakan cakranya sangat kacau tadi, jadi wajar kan aku bertanya demikian."
Tsunade mendecih pelan, "Dasar, mau perhatian saja gengsi."
.
.
"Ino, kenapa kau senyum-senyum begitu? Aku jadi merinding."
Ino menatap sahabatnya yang kini tengah makan malam di atas ranjangnya. Gadis bermata aquamarine itu malah makin tersenyum lebar mendengar lontaran Sakura. Semua teman-temannya turut memandang aneh Ino. Naruto yang sedang disuapi jeruk oleh Hinata, Neji dan Tenten yang sedang mengobrol, Sai yang sedang bertanya pada Shikamaru, kini semuanya menghentikan kegiatan masing-masing dan memandang Ino.
"Oh ayolah, ini kan karenamu forehead." Ucap Ino sembari cekikikan tidak jelas.
"Hah? Karena aku? Tapi…"
"Ino-san seperti itu mengingat kejadian tadi siang Sakura." Jawab Sai memotong ucapan Sakura. Sakura semakin bingung.
"Kyaaaa! Kau tahu forehead? Kau benar-benar seperti putri-putri dalam cerita dongeng ketika Sasuke-kun menggendongmu saat kau pingsan tadi!"
…
…
"EH? TEME MENGGENDONG SAKURA-CHAN?" heboh Naruto. Ino segera mengangguk dengan semangat.
"Yang membuat aku merasa aneh adalah padahal Sasuke-san sangat ketus beberapa saat sebelumnya pada Sakura. Namun saat Sakura pingsan, ia langsung sigap menggendong dan membawa Sakura kemari. Ia bahkan meminta teman-temannya memanggil Hokage-sama." Jelas Sai.
Sakura tersipu mendengarnya. Ternyata, Sasuke masih memperhatikannya.
"Ino, bisa aku minta tolong?" Tanya Sakura antusias.
"Apa?"
"Tolong sampaikan pada Shishou, biar aku saja yang merawat Sasuke sampai sembuh." Mohon Sakura.
"Eh? Tapi kata Shishou keadaanmu…"
"Aku baik-baik saja! Aku mohon… dari dulu… dari sejak Shishou menyelamatkan Sasuke dengan ilmu medisnya… aku bertekad… suatu saat nanti… akulah, yang akan mengobati Sasuke dan semua orang yang ku sayangi… dengan tanganku… dengan kemampuanku…" semua orang tercekat melihat setetes air mata mengalir dari sudut mata Sakura. Sedangkan Ino hanya meremas dadanya ketika merasa sakit mendengar suara Sakura yang memohon kepadanya.
"Baiklah." Kini semua mata tertuju pada sosok seseorang yang sedang menyender di pintu ruang rawat Sakura.
"Shishou…"
Tsunade melangkahkan kakinya menuju ranjang Sakura, dan…
PLAKK!
Semua orang menahan napas melihat adegan barusan. Pipi Sakura kini berwarna kemerahan.
Ino segera mendekati gurunya, "Shishou apa yang…"
"Kalau kau mau merawatnya berhentilah bersikap menyedihkan seperti ini!" bentak Tsunade. Sakura mendongkakan kepalanya, belum mengerti sepenuhnya apa yang diucapkan gurunya itu.
"Bagaimana kau mau merawatnya kalau kau langsung pingsan saat ia bersikap dingin padamu! Bagaimana kau mau merawatnya kalau kau terus menangis! Bagaimana kau mau merawatnya kalau ka terus terpuruk dan lemah seperti ini!"
Napas Tsunade memburu. Keluar sudah semua yang ditahannya selama ini. Semuanya diam, larut dalam pemikiran masing-masing.
Air mata Sakura terus menganak sungai, namun ia tak terisak, "Shishou…"
"Kau itu murid didikanku Sakura! Murid dari wanita terkuat di Konoha! Dan sekarang kau mau mempermalukanku dengan sikap lembekmu itu, eh?"
Sakura masih menangis, namun bibirnya mengukir senyuman. Segera ia menghambur dalam pelukan gurunya. Entahlah, ia merasa… gurunya itu menyadarkannya dari sikap bodohnya selama ini. Gurunya benar, ini memang menyakitkan, namun tidak seharusnya ia larut dalam kesedihan dan kelemahan. Ia harus bangkit, demi semua orang yang disayanginya…
"Terima kasih… Shishou… kau yang terbaik…" ucap Sakura.
Tsunade tersenyum bangga pada muridnya walau Sakura tak dapat melihanya karena mereka masih berpelukan. Ino, Tenten dan Hinata ikut memeluk Sakura dan Tsunade sehingga mereka berpelukan bersama. Sedangkan Naruto, Sai, Neji dan Shikamaru ikut tersenyum seraya menaruh tangan mereka di pundak Sakura, berusaha menyemangati teman mereka.
Tanpa terlihat yang lainnya, Hinata menampakkan ekspresi gundah saat ini. Pasalnya, ia belum bisa menemukan jawaban mengapa Sakura mencium Sasuke saat itu. Berkaca pada kondisi saat itu… bukan tidak mungkin Sakura akan kembali mengalami hal yang sama kalau ia benar-benar menjadi perawat Sasuke. Bahkan mungkin, hal yang lebih buruk akan terjadi…
Sementara di luar ruangan Sakura, Kakashi tersenyum di balik maskernya. Setelah bertemu Tsunade dan membicarakan keadaan Sakura, mereka bersama-sama pergi ke kamar Sakura. Namun ternyata mereka mendengar Sakura memohon seperti itu sehingga Tsunade memutuskan untuk muncul, sedangkan Kakashi tetap berdiri di luar. Kakashi menyenderkan tubuhnya pada tembok dan menatap langit dengan tatapan sulit diartikan. Namun kemudian ia memejamkan matanya dan bergumam…
"Aku bangga padamu, anakku…"
.
.
"Selamat pagi Sasuke-kun!"
Sasuke hanya diam sambil melipat tangannya di dada. Tubuhnya masih bersender di ranjang saat Sakura mendekatinya dan ingin menaruh sarapan beserta obat di mejanya. Dengan cekatan ia pun menaruh bunga lily segar ke dalam vas bunga dan setelah itu ia mengalihkan pandangannya ke arah Sasuke.
"Mau kubantu menyuapi sarapanmu?" tanyanya.
"Bukankah kau belum sembuh?" alih-alih menjawab, lelaki itu malah berbalik bertanya.
"Hey, ketus sekali sih," keluh Sakura, "Tapi terima kasih sudah mengkhawatirkanku." Lanjutnya riang.
"Siapa yang mengkhawatirkanmu, eh?" ketus Sasuke.
"Aku sudah tahu semuanya kok. Dari Shishou juga." Jawab Sakura malu-malu.
Sasuke mendengus dan membuang mukanya, Sakura malah cekikikan melihatnya.
"Aih, Sasuke-kun malu ya?"
"Diam kau."
Sakura tersenyum lembut sambil menahan rona merah di wajahnya.
"KENAPA KAU ADA DI SINI HEH?" Sakura melengos mendengar suara Karin yang dapat memekakkan telinga.
"Sudah kubilang kan, aku akan merawat Sasuke-kun sampai sembuh." Jawabnya acuh.
"Hey Karin, kau mau menambah daftar sakit Sasuke ya? Suaramu itu dapat membuatnya tuli seketika tahu." Cibir Suigetsu.
"APA KAU BILANG? KALAU SI PINKY INI TIDAK ADA DI SINI AKU JUGA TIDAK AKAN BEGINI TAHU!"
"Sakura kan punya maksud baik, dan ia juga punya hak untuk itu karena ia memang memiliki kemampuan di bidangnya. Kau tidak boleh bersikap seperti itu kepadanya Karin." Ucap Juugo.
"Aku mohon kalian keluarlah sebentar, aku harus memeriksa kondisi Sasuke." Pinta Sakura.
"Kan ada kami juga bisa. Kenapa kami harus keluar?" protes Karin.
"Karena emosi Sasuke dapat mempengaruhi tekanan darahnya. Kalian tidak lihat ekspresinya? Bisa-bisa saat kuperiksa tekanan darahnya tinggi." Jawab Sakura.
"Alah, bilang saja kau mau berduaan dengan Sasuke-kun dan mengambil kesempatan lagi untuk menciumnya! Benar kan?" tuduh Karin.
Baik Sakura maupun Sasuke tercekat mendengarnya walaupun alasan mereka berdua. Sedangkan Suigetsu sudah men-death glare Karin dan Juugo hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sakura jelas merona mengingat kejadian itu. Yah, walaupun ia melakukan itu untuk menyelamatkan Sasuke, namun tetap saja itu adalah ciuman pertamanya.
"Apa maksudmu Karin?" Tanya Sasuke dengan dingin.
GLEK!
"I..itu benar Sasuke-kun. Hari ketika kau pingsan setelah mengalahkan Madara dan kami sedang mencarimu, ternyata kami menemukanmu sedang dicium olehnya, cih!" ungkap Karin.
"Apa maksudmu melakukan itu?" kali ini Sasuke bertanya pada Sakura.
Sakura terdiam. Ia tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya, bahkan pada Sasuke sekalipun.
"A…aku hanya…"
"Hanya apa?" desak Sasuke.
"Sasuke, Sakura pasti…"
"DIAM." Oke, Suigetsu tak berani lagi membela Sakura kalau sudah melihat Sasuke seperti ini.
"Keluar." Perintah Sasuke pelan.
"Sasuke-kun, ku mohon dengarkan dulu…" pinta Sakura.
"AKU BILANG KELUAR!" Sakura beringsut takut mendengar bentakan Sasuke. Lagi-lagi, padahal ia sudah mencoba untuk kuat, tapi kepalanya lagi-lagi mendadak berdenyut hebat. Dengan sedikit memaksakan diri, ia keluar dari ruangan itu beserta yang lainnya.
"Kau memang menyebalkan!" seru Karin pada Sakura saat mereka berempat sudah di luar ruangan Sasuke.
Sakura tersentak. Kalimat itu selalu mengingatkannya pada Sasuke. Ia hanya bisa tersenyum pilu mendengarnya.
"Hey, kau tak apa?" Tanya Juugo.
"Aku ba… akhh…" Sakura memegang tenggorokannya dan kepalanya bersamaan. Saat ia mencoba berbicara, kepalanya semakin berdenyut sakit. Kami-sama, ada apa ini? Batinnya. Merasa dirinya semakin tak kuat, ia pun mengangguk dan mengundurkan diri dari tempat itu.
"Kau tak mau ku antar?" tawar Juugo. Ia agak khawatir melihat muka Sakura yang tiba-tiba pucat.
Sakura hanya melambaikan tangannya dan berjalan cepat, pertanda Juugo tak perlu mengantarnya.
Sementara itu Sasuke terdiam di ranjangnya. Tangannya beralih meremas dada sebelah kirinya. Apa ini? Kenapa jantungnya berdetak lebih cepat? Kenapa tiba-tiba ia merasa gugup begitu mendengar ciuman pertamanya telah dicuri oleh Sakura? Kenapa juga wajahnya terasa memanas?
"ARGHH!" sial, Sasuke tak pernah merasakan hal ini sebelumnya. Rasanya aneh tapi…entahlah. Ia rasa, ia menyukainya, tapi ia menolak mengakuinya.
Suigetsu kaget mendengar Sasuke berteriak. Ditatapnya Karin yang diam memandangi Sakura yang telah hilang di balik lorong.
"Hey Karin, barusan Sasuke berteriak. Tumben tak menampakkan raut khawatir berlebihanmu itu?" ejek Suigetsu.
"Kacau."
"Hah?"
"Cakra mereka berdua kacau. Tapi…karena hal yang berbeda." Ucap Karin.
"Mereka? Maksudmu Sakura dan Sasuke? Tanya Suigetsu.
Karin menundukkan wajahnya, Suigetsu pun mengernyit heran.
"Ternyata…aku kalah pada gadis itu…" gumamnya.
Suigetsu tersenyum lirih, kemudian ia membelai surai merah gadis berkacamata itu, "Yang terpenting Sasuke bahagia kan? Kau tak kasihan melihatnya selama ini terpuruk dalam kegelapan? Seharusnya sekarang kau mendukungnya meraih cahaya." Ucap Suigetsu bijak.
Karin mendongkakkan kepalanya, melihat Suigetsu dan Juugo tersenyum lembut padanya. Akhirnya, ia pun turut tersenyum bersama mereka. Lepas, lega, tanpa ada beban meskipun sulit menerima kekalahannya.
.
.
Sakura baru saja menaruh obat penambah cakra di meja kecil samping ranjangnya saat dirinya dikejutkan dengan suara pintu ruang rawatnya dibuka dengan kasar.
"Sakuraaaa~!" Sakura makin kaget ketika tubuhnya dipeluk seseorang.
"Matsuri?" Sakura memandang kaget orang-orang di hadapannya sekarang. Trio Sabaku beserta Matsuri tampaknya datang menjenguknya.
"Bagaimana kabarmu Sakura? Rupanya murid kesayangan Godaime Hokage bisa ambruk juga toh." Sindir Temari.
Sakura menjulurkan lidahnya, "Aku sudah baik-baik saja sekarang, terima kasih sudah menyempatkan waktu untuk berkunjung. Kapan kalian tiba?"
"Baru saja. Matsuri memaksa kami untuk langsung datang kemari. Ia sangat mengkhawatirkan keadaanmu." Ucap Kankurou.
"Bukan hanya aku kok yang khawatir, tapi semua orang di Suna yang mengenalmu pun khawatir. Gaara-kun juga khawatir kan?" Tanyanya lugu sambil mengamit tangan Gaara. Aih, andaikan saja Sakura bisa seperti itu dengan Sasuke.
"Hn. Cepat sembuh. Konoha dan Suna membutuhkanmu." Ucap Gaara singkat. Matsuri cemberut melihat ekspresi Gaara yang sama sekali tak menunjukkan simpati sebagai teman.
"Ah, kami juga ingin menjenguk Naruto dan yang lainnya. Jadi, kami undur diri ya Sakura. Cepat sembuh! Aku rindu melihat kau dan Ino adu mulut dengan panggilan kesayangan kalian." Ujar Temari.
"Dasar, mau menjenguk Naruto… atau sudah tidak kuat menahan rindu pada Shikamaru, eh?" ejek Sakura. Temari blushing seketika.
"Hahaha, Temari nee-chan merona!" ucap Matsuri sambil menunjuk wajah Temari. Setelah men-death glare Matsuri sekilas, Temari segera bermain kejar-kejaran dengan Matsuri diiringi teriakan dari Matsuri dan seruan dari Kankurou, "Hey, jangan berlarian di lorong rumah sakit!"
Sakura tertawa melihat tingkah teman-temannya, namun sedikit ditahan mengingat Gaara masih ada di dekatnya.
"Errr, kau tidak ikut mereka?" Tanya Sakura.
"Aku ingin bicara empat mata padamu." Jawab Gaara. Sakura dapat merasakan Gaara tengah serius saat ini.
"Apa?"
"Jangan di sini. Di tempat yang sepi. Dan jangan berpikiran macam-macam."
Sakura sempat tercengang mendengar kalimat terakhir Gaara. Hey, Sakura sama sekali tak berpikiran macam-macam kok. Walaupun ia anak didik Kakashi sang guru mesum, tapi Kakashi sama sekali tak menularkan penyakitnya itu kok. Atau…belum mungkin (?)
.
.
"Semuanya termasuk Hokage-sama sudah mengetahuinya Sakura."
"Aku…tak mengerti maksudmu."
Saat ini, Gaara dan Sakura tengah berada di taman belakang rumah sakit. Saat sudah larut malam seperti ini memang taman belakang rumah sakit sepi. Hanya taman depan dan tengahlah yang disinggahi beberapa pengunjung beserta pasien.
"Saat kami baru sampai di rumah sakit, Tsunade memanggilku dan menceritakan semuanya padaku. Termasuk tentang apa yang kau lakukan sesaat sebelum Karin memukulimu dengan membabi buta dan akhirnya para Anbu beserta teman-temanmu dan Hokage-sama datang."
Napas Sakura tercekat. Ternyata Karin menceritakan hal itu juga pada yang lainnya. Pantas saja gurunya cepat mencium adanya gelagat aneh pada dirinya. Ditambah dengan mudahnya cakra dirinya menjadi kacau tentu memperkuat dugaan aneh pada dirinya.
"Kalau aku tebak, apakah…itu jurus yang sama yang digunakan oleh nenek Chiyo untuk menghidupkanku kembali?" skak mat, melihat ekspresi Sakura, dapat dipastikan tebakan Gaara benar.
"Aku mohon…berpura-puralah tidak tahu." Pinta Sakura dengan kepala tertunduk.
Gaara menghela napas, "Kau tahu kan menggunakan jurus itu resikonya sangat besar."
"Aku tahu! Tapi…ini demi Sasuke-kun…" lirihnya.
Gaara memejamkan matanya, keningnya terasa pening mendengar semua ini dengan tiba-tiba, "Dia bahkan tak mengindahkan keberadaanmu."
"AKU TAK PEDULI!" seru Sakura seraya menutup kedua telinganya dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Gaara memandang nanar Sakura. Sebegitu besarnya kah rasa cintanya pada lelaki keturunan Uchiha itu?
"KALAUPUN AKU HARUS MATI DEMI SASUKE-KUN, MAKA AKU RELA!"
"…"
"KAU TAK MENGERTI! AKU HANYA… HANYA INGIN DIA BAHAGIA… ITU YANG TERPENTING BUATKU!"
Sakura dan Gaara tak sadar, bahwa ada orang lain yang mendengar pembicaraan mereka. Orang lain yang dapat menyembunyikan cakranya secara sempurna. Orang lain yang keluar dari ruang rawatnya setelah merasakan cakra Sakura dan Gaara ada di dekatnya. Orang yang, sedang jadi pembicaraan mereka saat ini. Sang bungsu Uchiha, Sasuke.
.
.
"Maaf ya Gaara, bajumu jadi basah."
"Tak apa, aku yang menarikmu ke pelukanku."
CUP!
"E-eh, Gaara… kenapa kau menciumku?" Tanya Sakura yang terkejut sambil memegang pipinya yang baru saja dicium oleh Gaara dengan wajah merona.
"Kenapa? Matsuri sering melakukannya saat ia tahu aku sedang bersedih." Tanggap Gaara polos.
Sakura sweatdrop, "Tapi Gaara, itu berbeda…"
"Apanya? Baik aku dan Matsuri sama-sama merasa senang setelah dicium. Mukamu juga sama merahnya dengan Matsuri kalau aku habis menciumnya." Kami-sama…ternyata Gaara yang dingin benar-benar lugu dalam hal ini.
Sakura terkikik kecil, "Matsuri itu kan spesial buatmu, demikian pula sebaliknya. Jadi wajar saja kalian sama-sama senang setelah melakukannya. Tapi, jangan lakukan itu pada perempuan lain. Ku jamin, Matsuri marah padamu kalau kau berani melakukannya."
"Oh, aku tak tahu hal itu. Maaf kalau begitu." Ucap Gaara. Sakura hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum geli.
"Ayo kembali, Matsuri pasti mencariku." Ujar Gaara sambil berdiri.
"Kau duluan saja, aku masih ingin di sini. Lagipula, mereka semua pasti khawatir kalau tahu aku habis menangis." Ucap Sakura.
Gaara pun mengangguk mengerti dan meninggalkan Sakura setelah sebelumnya menepuk pundaknya untuk menyemangatinya. Sakura menghela napas panjang saat bayangan Gaara semakin kecil terlihat dan akhirnya menghilang di balik lorong.
SREK!
DEG!
Tubuh Sakura menegang manakala mendengar suara yang tampaknya berasal dari semak-semak di dekatnya. Wajahnya terlihat awas saat mengamati dengan teliti lingkungan sekitarnya. Oh ayolah, hanya ada Sakura seorang diri di tempat ini dan itu tentu saja membuatnya takut. Ia berharap suara itu berasal dari hewan pengerat yang memang hanya berniat mencari makan di malam hari seperti ini.
Tapi sayangnya, semua harapannya itu terhempas ketika dengan jelas ia melihat sesosok manusia bergenre laki-laki yang kini tengah menatapnya tajam walaupun mata itu sesungguhnya tak bisa melihatnya.
"Sasuke-kun…"
Sasuke mendekati Sakura perlahan. Entah kenapa Sakura merasa aura Sasuke sangat tak enak sekarang ini. Dan yang pasti Sakura tak tahu alasan mengapa Sasuke terlihat begitu menyeramkan saat ini. Serasa terhipnotis onyx milik Sasuke, walaupun Sakura ketakutan namun entah kenapa tubuhnya sama sekali tak bisa digerakkan. Ia sudah terlanjur tenggelam dalam tatapan mata lelaki itu.
Sasuke menggeram kecil sebelum akhirnya merengkuh Sakura dalam pelukannya dan menciumnya dengan kasar. Sakura yang terkaget dengan sisa kekuatannya berusaha mendorong tubuh Sasuke namun ia tak berhasil. Entah apa yang merasuki Sasuke saat itu, ia benar-benar kuat dan ganas mencium bibir ranum Sakura.
"Ngghhh… Emmmhhh…"
Sakura melenguh tertahan saat bibirnya dilumat oleh Sasuke. Lelaki itu semakin memeluk erat Sakura agar dapat memperdalam ciumannya. Bukan hanya itu, ia juga menaik turunkan tubuhnya, berusaha menikmati sensasi tersendiri saat dada Sakura menggesek dadanya. Napasnya semakin memburu ketika ia menjilat bibir Sakura, meminta gadis itu membuka mulutnya, namun Sakura tak juga mengijinkannya masuk. Maka dengan cepat ia remas payudara kanan Sakura sehingga Sakura melenguh erotis.
"Aaooouuhhh… Sasuke-kun…"
Dengan gerakan cepat ia masukkan lidahnya dan menjelajahi isi mulut Sakura. Sakura berusaha menahannya dengan menghadang lidah Sasuke dengan lidahnya sendiri namun Sasuke malah menganggapnya sebagai undangan sehingga sekarang lidah mereka bertarung dengan ganas. Saliva mulai mengalir dari sudut bibir Sakura, mengundang Sasuke untuk menjilat bagian itu dan kemudian menghisap lidah Sakura dengan penuh hasrat.
Sasuke mengganti sasarannya, kali ini wajahnya turun ke leher jenjang gadis itu. Wangi bunga Sakura yang menguar mengundang Sasuke untuk menyicipinya. Tanpa membuang waktu lelaki itu segera membenamkan wajahnya, mencium dengan rakus wangi Sakura dengan indera penciumannya, berusaha menyimpan wangi ini dalam memorynya. Sementara Sakura hanya bisa memejamkan matanya dan menggigit bibir bawahnya yang sudah membengkak, mencoba menahan hasrat yang baru pertama kali dirasakannya ini. Dan lenguhan erotis kembali terdengar saat Sasuke mulai menjilati leher ke arah daun telinganya, membuat nafsu Sasuke semakin menguasainya.
"Oouuhhh… ahhhh… gee…liii… Sasu… ngghhh… ke-kun…"
Sasuke sendiri tak mengerti kenapa suara Sakura begitu membangkitkan hasratnya saat ini. Ia belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, namun instingnya sebagai laki-laki menuntunnya dan menuntutnya untuk terus berbuat lebih, meneguk kepuasan dari oase yang dimiliki Sakura. Ia dapat merasakan celananya sesak, maka dari itu ia segera mengangkat kaki kiri Sakura diikuti dengan kaki kanan Sakura sehingga kaki gadis itu melilit pinggangnya. Ia masih asik menjilati diselingi mengemut sekilas cuping telinga Sakura. Sakura mendongkakkan kepalanya, memberikan ruang kepada Sasuke untuk berbuat lebih. Tangannya masih setia meraba-raba dada tegapnya Sasuke, namun detik berikutnya tangan itu dipindahkan oleh Sasuke sehingga Sakura kini memeluk leher Sasuke sambil meremas-remas rambutnya kala Sasuke kembali menggesek-gesekkan dadanya dengan dada miliknya.
Sasuke sudah tak tahan lagi, dalam posisi masih menggendong Sakura ia berjalan kembali ke kamarnya. Sakura mendesah ketika pantatnya tak sengaja bersentuhan dengan sesuatu milik Sasuke yang sudah menegang di bawah sana. Ia juga merasakan sesuatu miliknya di bawah sana basah dan berkedut-kedut. Karena terangsang, Sakura segera menangkup wajah Sasuke dengan kedua tangannya dan memagut bibir Sasuke dengan ganas. Suara kecupan terasa begitu indah mengusik indera pendengaran mereka. Sasuke yang tadinya fokus menggunakan tangannya untuk menahan pantat Sakura agar tetap di posisinya kini bergerak nakal meremas-remas bongkahan padat pantat Sakura. Sakura pun makin melilitkan kakinya pada pinggang Sasuke saat dirinya merasa semakin basah di bawah sana.
.
.
Sasuke segera menyegel kamarnya agar kedap suara setelah berhasil membaringkan Sakura pada ranjangnya. Ia memang tak bisa melihat wajah Sakura, namun justru karena itulah imajinasinya bermain dengan liar. Ia dapat membayangkan tatapan sayu Sakura yang mengharapkannya berbuat lebih, bibir Sakura yang merah dan membengkak karena dimainkannya dari tadi, serta tubuh putihnya yang mengkilap karena peluh. Sial! Miliknya di bawah sana semakin mengerang meminta segera dibebaskan dan dipuaskan.
Sakura terus mengambil pasokan oksigen sementara matanya terpejam meresapi kenikmatan yang baru saja dialaminya. Gila! Ternyata dirinya benar-benar menginginkan Sasuke. Tapi entah kenapa, ada sebagian kecil hatinya yang melarangnya berbuat lebih. Tepat saat tangan Sasuke mulai masuk untuk bersentuhan langsung dengan kulit perut ramping Sakura, gadis itu menepis pelan tangannya dan mendorong tubuh Sasuke agar menjauhinya. Keadaan menjadi hening, dua orang itu sama-sama terkaget. Sakura kaget karena dirinya reflek melakukan hal barusan sedangkan Sasuke kaget mengetahui bahwa Sakura menolak untuk disentuhnya.
"Sa-Sasuke-kun… maaf… aku, merasa ini tidak boleh dilakukan…" elak Sakura.
Sasuke menundukkan kepalanya. Awalnya Sakura kira ia sedih atas perkataannya barusan. Namun, melihat tangan lelaki itu mengepal kuat bahkan bergetar, muka Sakura pucat seketika.
"Kenapa…"
"Sa-Sasuke-kun…"
"KENAPA KAU MENOLAK KU SENTUH SEMENTARA KAU TAK MENOLAK SAAT BOCAH SABAKU ITU MEMELUK DAN MENCIUMMU?"
Lidah Sakura kelu saat itu juga, bahkan ia merasa suaranya menghilang. Ia hanya bisa menatap nanar Sasuke dan menarik selimut untuk melindungi dirinya saat Sasuke kembali mendekatinya. Sebentar, ucapan Sasuke barusan itu…
"Sa…Sasuke-kun… kau… cemburu?" cicit Sakura.
Sasuke menghentikan langkahnya, berpikir sejenak, "Cih, kau pikir kata menjijikan seperti itu ada dalam kamusku?" ketus Sasuke.
"Ta…tapi kau tidak suka kan saat mengetahui Gaara melakukan hal itu padaku?" Tanya Sakura meninggi.
"…"
"Jawab aku Sasuke-kun!"
Mata Sakura terbelalak kaget saat Sasuke bergerak cepat menerjangnya. Secepat kilat lelaki itu menindih tubuh Sakura dan mengunci kedua lengannya sementara kakinya ia rentangkan lebar-lebar sehingga ia bisa menyusup duduk di antaranya. Napas Sakura tercekat, ia benar-benar tak berdaya kali ini. Kuncian Sasuke pada tangannya benar-benar kuat sehingga ia merintih kesakitan. Sasuke menggeram kesal. Kenapa saat Sakura dicium oleh Gaara tadi reaksinya berlawanan dengan saat ia yang mencoba melakukannya?
"Aaahhh… jangan… Sasuke-kun!" jerit Sakura saat Sasuke merobek paksa bajunya. Ia benar-benar ketakutan saat ini. Sasuke seperti orang lain di mata Sakura. Belum pernah ia melihat Sasuke seperti ini.
BREEKKK
Sakura hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya seraya terus mengucap 'jangan Sasuke-kun' ketika satu per satu pakaiannya dilepas secara paksa bahkan dirobek oleh Sasuke. Kini gadis itu hanya tinggal memakai bra dan celana dalam. Sambil terus menahan tangan Sakura, Sasuke kini melepaskan pakaiannya sendiri. Hingga yang terakhir bajunya yang pada akhirnya ia jadikan pengikat untuk tangan Sakura agar ia dapat dengan leluasa merengkuh kenikmatan yang dimiliki oleh Sakura.
Sesaat ada perasaan bersalah menyelimuti dirinya saat mendengar suara Sakura yang terus memohon. Namun, entah mengapa egonya membuatnya lupa diri. Ia hanya tahu satu hal, yakni Sakura hanya boleh menyukainya dan hanya boleh disentuhnya. Sakura hanya boleh menatapnya, dan dimiliki olehnya… apakah ini artinya…ia cemburu?
Sasuke menepis jauh-jauh pikiran menggelikan yang barusan mampir di otaknya itu. Segera ia ciumi bahu dan collar bone Sakura dengan penuh nafsu. Ia bahkan menghisap kuat collar bone Sakura sehingga meninggalkan bekas kemerahan pertama pada tubuh Sakura. Semakin turun, telapak tangannya merenggut dada kiri Sakura yang masih berbungkus bra. Segera ia cari pengaitnya dan ia menyeringai saat mengetahui ternyata pengaitnya berada tepat di belahan payudara gadis itu. Setelah terlepas, bak anjing kelaparan, ia mengendus dalam dada Sakura sampai-sampai Sakura merintih kegelian dibuatnya.
"Eemmhhh… aaooohhh…"
Dengan tak sabar, ia meraup payudara kanan Sakura dengan mulutnya hingga Sakura mengeluarkan desahan dengan suara bergetar. Lidahnya dengan nakal menyentil-nyentil putingnya yang semakin mengeras dan menegak. Kemudian ia hisap payudara Sakura penuh-penuh sampai kedua pipinya terlihat kempot. Setelah itu ia menggigit kecil-kecil daerah sekitar putting Sakura. Terakhir, ia mengeyot putting Sakura seperti bayi yang kehausan. Sakura menggelinjang dan mulutnya terus mengeluarkan lenguhan yang membuat birahi Sasuke semakin terpacu. Kaki Sakura bergerak tak karuan sehingga seprai ranjang Sasuke sudah tak berbentuk lagi.
"Sa… aarrgghhh Kami-samaaa… Sasukee… ouuhhh… -kunn…"
Tangan kanannya turut membantu 'memanasi' payudara kiri Sakura. Semantara tangan kirinya merambah turun menuju liang surgawi milik Sakura. Tubuh Sakura semakin menggeliat, dirinya sendiri masih baku hantam antara ingin dan tidak inginnya hal ini diteruskan. Ia berharap dengan terus menggerakkan tubuhnya Sasuke akan berhenti melakukan hal gila ini. Namun justru Sasuke merasakan sensasi tersendiri saat tubuh Sakura menggeliat. Kulitnya yang bersentuhan langsung dengan kulit Sakura membuat libidonya semakin memuncak.
Karena terus konsentrasi untuk menggeliatkan tubuhnya, Sakura tak sadar bahwa celana dalamnya sudah lepas dan entah dilempar ke mana oleh Sasuke. Tubuhnya seperti tersengat listrik dan merinding seketika kala jari Sasuke hendak menyusup masuk mencicipi kehangatan miliknya di bawah sana.
"Ooohhh… Kamii-samaaaa…"
Tubuh gadis itu melenting ke atas ketika Sasuke benar-benar memasukkan dua jarinya sekaligus ke dalam lubang senggamanya. Sementara Sasuke sendiri merasakan kenikmatan saat lubang milik Sakura menjepit jarinya. Lelaki itu bahkan sempat memejamkan matanya saat ia merasakan kehangatan lubang itu, licinnya lubang itu, dan kedutannya yang seolah-olah merengek minta dimasuki.
Sasuke segera bangkit dan langsung merentangkan kedua kaki Sakura sehingga membentuk huruf M besar. Diposisikannya kepalanya menghadap langsung dengan milik Sakura. Sakura yang penasaran dengan Sasuke meencoba untuk melihat. Dan mukanya jelas langsung merona saat mengetahui Sasuke tengah memandangi miliknya yang belum terjamah siapapun. Yah, walaupun Sasuke tak dapat melihat sekarang ini, namun tetap saja hal itu membuatnya malu. Beberapa detik larut dalam pikirannya, Sakura lagi-lagi memekik ketika Sasuke langsung menyerang miliknya tanpa aba-aba. Tubuhnya kembali melengking namun tak leluasa karena tertahan oleh tangan Sasuke yang menahannya. Jadi berikutnya ia hanya dapat mendesah pasrah dan melempar kepalanya ke kanan dan ke kiri.
"Akhh… Oh Kami… ahhh… oohhh… ahhh… aaahhhh…"
Sasuke tak peduli lender Sakura membasahi wajahnya. Ia terus memasukkan lidahnya ke dalam lubang Sakura, menikmati jepitan dan kedutan milik Sakura. Sesekali ia juga menggigit kecil kacang kecil milik Sakura. Ia seperti sedang melakukan French kiss dengan milik Sakura, membuat Sakura blingsatan menahan nikmat.
"Oh Kamiii… oh Kamiii… Sa… suke… nghhh… -kunn, geelliii… ak… ku… mauuhhh… aaooohhh…"
Sasuke tak peduli. Ia bahkan semakin merenggangkan kaki Sakura agar kepalanya dapat lebih leluasa bergerak. Sungguh, ia sendiri tak mengerti kenapa rasanya ia ketagihan dan ingin berlama-lama memainkan milik Sakura yang satu itu.
"SASUKE-KUUNN… AAAFFFHHH… SASUKE-KUUNNN… OOUUUHHH KAMIII…"
Sasuke sempat gelagapan ketika tiba-tiba lubang Sakura menjepit lidahnya kuat sekali dan akhirnya lubang itu memuntahkan cairan cintanya. Tanpa ragu, Sasuke jilati cairan itu dan memasukkannya ke dalam mulutnya. Sakura terkulai lemas, sendi-sendinya terasa copot dan rasanya ia sangat butuh oksigen tambahan sekarang juga. Tapi tak dipungkiri, ia sempat merasakan kenikmatan luar biasa ketika cairan itu keluar. Bahkan pandangannya sempat memutih dan jantungnya terasa berhenti berdetak saat kenikmatan itu melandanya. Ia memejamkan matanya, menghayati sisa-sisa kenikmatannya.
Sasuke merasa tak cukup meneguk cairan tadi. Dirinya masih haus dan belum puas. Rasa dan wangi cairan Sakura benar-benar memabukkan. Walaupun ia merasa pegal karena lama bermain di lubang itu, namun ia tak ingin menghentikan semua ini. Bunyi deritan ranjang menyadarkan Sakura. Matanya membulat melihat Sasuke yang sepertinya memposisikan miliknya untuk masuk ke dalam milik Sakura. Tidak! Sakura memang menikmatinya. Tapi kalau Sasuke melakukan perbuatan ini bukan atas dasar cinta, ia tak mau meneruskan semua ini.
"SASUKE-KUN BERHENTI, KU MOHON!" jerit Sakura.
Sasuke mencengkram erat lutut Sakura, geraman kecil terdengar di telinga Sakura. Oh, tidak…
"EEGGGHHH!"
"AAKKKHHH! Pe…periihhh… lepasshh… ku mohonnn…"
Percuma, Sasuke sama sekali tak mengindahkan perkataan Sakura. Dengan kasar ia terus menghentakkan miliknya untuk memasuki milik Sakura. Lututnya sempat melemas, tak kuat menerima kenikmatan jepitan lubang surganya Sakura. Sasuke sempat merasa kejantanannya ngilu karena sempitnya lubang Sakura. Geezz, ia bahkan hampir mengeluarkan desahan saat merasa lubang Sakura yang hangat mengurut dan membungkus kejantanannya dengan ketat.
"Kaauuu… menyebalkann…"
"AAARRRGGGHHHH!"
Bersamaan dengan teriakan pilu Sakura, darah segar mengalir membasahi seprai ranjang Sasuke. Sakura merasa mati rasa. Tubuhnya serasa tertusuk ribuan kunai. Pada akhirnya, ia tak dapat mempertahankan kesuciannya. Sakit rasanya, walaupun ia sangat mencintai pemuda itu, tapi tetap saja…ini salah…
"NNGGGHHH… EEMMFFFHHH… EEGGGHHH… EEEGGGHHH…"
"Ahhh… oouuhhh… aakkhhh…"
Tanpa memberi istirahat bagi milik Sakura agar beradaptasi dengan ukuran dan keberadaan miliknya, dengan brutal Sasuke pompa kejantanannya yang tidak bisa dibilang kecil itu ke dalam lubang Sakura. Ranjangnya bahkan sampai berderit dan ikut bergoyang karena cepatnya gerakan Sasuke.
Tak ada kenikmatan yang dirasakan Sakura saat ini. Fisik dan batinnya sakit atas perbuatan Sasuke sekarang ini. Sekalipun ia mendesah, itu adalah karena ia tak kuat menahan rasa sakit dan perih pada labia mayoranya *bener gak sih?*. Air mata terus mengalir dari manik emeraldnya, namun isak tangis sama sekali tak keluar dari bibirnya. Ia sudah terlanjur mati rasa.
"Akh! Aarggghhh…"
Sakura memejamkan matanya saat Sasuke tiba-tiba saja meneggelamkan kepalanya di pundak Sakura dan menggigitnya seraya menggeram tertahan. Detik berikutnya cairan panas Sasuke memasuki dirinya dan memenuhi rahimnya. Sasuke masih menghentak-hentakkan miliknya, berusaha menumpahkan semuanya dalam rahim Sakura sampai cairannya benar-benar habis. Ia sengaja menenggelamkan kepalanya di pundak Sakura agar gadis itu tak melihat raut kepuasan penuh nikmat yang terpancar di wajahnya. Bahkan matanya sempat mendelik ke atas sehingga hanya bagian putihnya saja yang terlihat ketika kenikmatan melanda dirinya.
.
.
Kedua insan yang habis merengkuh kenikmatan dunia itu masih sibuk mencari pasokan oksigen untuk paru-paru mereka. Sang lelaki masih menindih tubuh sang gadis, ah tidak, mantan gadis dikarenakan ukuran ranjang yang tak cukup untuk ditiduri dua orang. Udara terasa panas dan tubuh mereka bermandikan peluh. Seprai ranjang itu sudah tak berbentuk, dan basah baik karena peluh mereka, cairan cinta mereka, bahkan darah kesucian sang gadis. Hening, hanya ada suara napas mereka yang saling berpacu mencari oksigen. Perlahan, sang lelaki bangkit sehingga menimbulkan bunyi 'PLOP' yang berasal dari kejantanannya yang baru saja dikeluarkan dari gua hangat sang gadis. Lelaki itu melepaskan ikatan tangan sang gadis dan turun dari ranjang kemudian duduk di kursi samping ranjang sambil memakai pakaiannya.
"Ke…napa… Sasuke-kun?" Tanya Sakura dengan suara pilu.
"Hn?"
"Kenapa… kau… lakukan ini… padaku?"
"…"
"Karena kau menyebalkan."
DEG!
Sakura bahkan tak tahu kata apalagi yang bisa ia pakai untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini. Yang pasti, ia ingin bumi menelannya saat ini juga.
"Apa salahku… padamu… Sasuke-kun?" Tanya Sakura lagi.
"Kau selalu menggangguku." Ucap Sasuke datar dan dingin.
Air mata Sakura kembali mengalir, sinar matanya redup, iris virdiannya yang kosong memandang langit-langit ruang rawat Sasuke.
"Beritahu aku…" suara Sakura makin melemah, "apa yang harus kulakukan?"
"Pergi dari hidupku." Jawab Sasuke enteng, tanpa memikirkan akibatnya.
"Maksudmu… mati?"
"Hn."
Sakura tak tahu apa arti 'Hn' Sasuke kali ini, tapi berkaca dari jawaban sebelumnya, Sakura tak perlu lagi berharap.
"Jika aku mati, apakah kau akan bahagia?"
Sasuke tertegun, kenapa Sakura bisa bertanya hal seperti itu…
"Hn."
Sakura tersenyum, miris… Mengabaikan rasa sakit di sekujur tubuhnya, ia segera turun dari ranjang dan memunguti pakaiannya yang tercecer di mana-mana. Ah, ia baru ingat, pakaiannya di robek paksa Sasuke. Hanya pakaian dalam lah yang masih utuh.
"Pakailah baju pasien dalam lemariku." Sakura terkejut Sasuke bisa tahu apa yang dipikirkannya. Namun tanpa mengeluarkan sepatah kata, kaki rampingnya melangkah ke arah lemari di dekat jendela dan mengambil sepasang baju berlengan panjang yang sama persis seperti yang Sasuke kenakan. Dengan perlahan ia memakai baju itu, terutama saat memakai celana. Ia sempat meringis saat ia mengangkat sebelah kakinya dan memasukkan celana itu.
Sakura terdiam setelah selesai berpakaian. Ia sudah membulatkan keputusannya.
"Sasuke-kun, kau lupa ya? Aku kan berjanji akan mengobatimu sampai sembuh." Ucapnya dengan nada riang yang dipaksakan. Kakinya berjalan tertatih-tatih mendekati lelaki itu.
"Aku. Tidak. Mau. Diobati."
Sakura tersenyum lirih, ternyata memang ini jalannya.
"Kalau begitu…aku minta ciuman sebelum tidur."
Belum sempat Sasuke merespon, wanita itu sudah mendudukan dirinya di atas paha Sasuke dalam posisi miring. Segera ia peluk leher Sasuke dan menarik kepalanya sehingga bibirnya bisa meraih bibir Sasuke. Lelaki itu tentu terkejut mendapati Sakura yang bersemangat melumat bibirnya. Tanpa dikomando, tangannya kanannya kini memeluk pinggang Sakura dan tangan kirinya menekan kepala Sakura agar ciuman mereka semakin dalam.
Sakura meremas rambut Sasuke seraya mengeluarkan desahan tertahan agar dapat mengalihkan perhatian Sasuke. Diam-diam, dirinya kembali mengalirkan cakra yang ditransfernya melalui mulut kepada Sasuke. Air mata kembali mengalir menuruni pipinya. Entah karena sakit atau karena sedih.
"Enngghhh…eemmmhhh…"
Lenguhan Sakura kembali tertangkap indera pendengaran Sasuke. Lelaki itu memperganas ciumannya karena mengira Sakura merasakan nikmat seperti yang dirasakannya. Matanya terpejam menghayati ciuman lembut namun penuh hasrat ini. Tangannya merasakan air mata Sakura mengalir dan detak jantung Sakura yang begitu cepat, ia pun menyeringai kecil. Mengira Sakura sudah jatuh sepenuhnya dalam pesonanya, bukan pesona Sabaku berambut merah itu.
Sakura membuka matanya panic ketika ia merasa darah akan megalir dari hidungnya. Kepalanya sakit bukan main. Tangannya berpindah ke wajah Sasuke, tepatnya ke bagian matanya. Ia tersenyum kala hasil deteksi cakranya mengatakan mata Sasuke baik-baik saja sekarang. Ia sudah menepati janjinya, ia sudah menyelesaikan tugasnya sebagai medic-nin perawat Sasuke. Mengetahui ada satu hal lagi yang harus ia lakukan sebelum ia benar-benar pergi, maka ia pun menyudahi ciuman ini agar cakranya tidak benar-benar habis.
Sasuke entah mengapa merasa tidak rela saat Sakura mengakhiri ciuman itu. Padahal ia baru saja ingin memasukkan lidahnya dan bermain di dalam mulut Sakura. Ia membuka matanya. Saat itu juga, ia mengernyit heran. Walaupun samar-samar, ia bisa melihat cahaya yang ia yakini berasal dari lampu ruang rawatnya. Merasa aneh, ia pun mengedipkan matanya berkali-kali. Namun gerakannya terhenti saat Sakura memutuskan untuk berdiri.
"Sasuke-kun…" panggil Sakura.
"…"
"Berjanjilah untuk hidup bahagia setelah ini." Pintanya sambil memajukan jari kelingkingnya.
Sasuke hanya memutar matanya dan mendesah pelan. Sakura terus menggoyang-goyangkan jari kelingkingnya. Kesal dengan sikap kekanakan Sakura, Sasuke pun mengangkat tangannya dan melipat ke empat jarinya terkecuali jari kelingking. Sakura segera menuntun tangan Sasuke agar jari kelingking mereka dapat bertemu.
"Janji?"
"Hn."
Entah dirinya sedang berimajinasi atau tidak, namun ia dapat melihat wajah Sakura yang sedang tersenyum lembut saat itu. Sasuke tersentak, Sakura terlihat begitu…cantik. Ia kembali mengedipkan matany berulang kali.
"Istirahatlah. Keadaanmu pasti jauh lebih baik esok hari." Ucap Sakura.
Sasuke tak menganggapi, namun kakinya melangkah menuju ranjang dan akhirnya ia merebahkan dirinya. Tak dapat dipungkiri tenaganya terkuras habis setelah bermain bersama Sakura tadi. Ia pun memejamkan matanya, bersiap pergi ke alam mimpi. Samar-samar, ia melihat Sakura yang sudah membuka pintu.
"Selamat tinggal… Sasuke-kun…"
Tunggu, apa yang barusan Sakura ucapkan? Ah…pasti selamat tidur.
.
.
Sakura terus melangkahkan kakinya ke suatu tempat. Wajahnya semakin pucat. Tangan kanannya meremas dada kirinya sedangkan tangan kanannya mengusap-usap kepalanya.
'Sedikit lagi Sakura… setelah ini kau dapat pergi dengan tenang…' batinnya menyemangati.
Ia tersenyum manakala gadis berambut merah berjalan ke hadapannya.
"Apa yang kau lakukan malam-malam di sini? Dan…kenapa kau kemari dengan baju rumah sakit?" selidik Karin.
"Kau menghampiriku karena merasakan cakraku kan?" Tanya Sakura.
Karin mendecih sebal, "Sudah tahu masih bertanya. Pulanglah, cakramu benar-benar kacau dan lemah."
Sakura terenyuh, ternyata Karin memang sebenarnya orang yang baik.
"Aku mau minta tolong…"
"Hah? Kau tidak salah?"
Sakura terkikik melihat ekspresi Karin, "Sama sekali tidak. Justru hanya kau lah yang aku percaya untuk masalah ini."
"Memang kau mau aku melakukan apa?"
"Tolong…jagalah Sasuke-kun…"
DEG!
Karin menatap ke dalam mata Sakura, sama sekali tak terlihat kebohongan di sana. Tapi kenapa? Apa yang membuatnya memutuskan hal itu?
"Kenapa kau…"
"Aku ada misi ke tempat yang jauuuhhh sekali dan dalam waktu yang sangat lama." Ucap Sakura.
"Kau pikir aku bodoh ya? Mana mungkin Hokage meminta murid kesayangannya menjalankan misi dalam kondisi lemah seperti sekarang?"
"Sebenarnya ini misi rahasia. Teman-temanku pun tak ada yang mengetahuinya. Hanya kau yang kuberi tahu karena…aku ingin kau menjaga Sasuke-kun." Jelas Sakura.
"Tapi kenapa aku? Kita kan…"
"Karena kau juga mencintai Sasuke-kun dengan tulus Karin." Potong Sakura. Karin tertegun, bagaimana bisa Sakura mengatakan hal itu dengan polosnya?
"Bantu dia…untuk hidup bahagia…"
"Kau…" napas Karin tercekat, "Kau yakin hanya itu alasanmu? Kau tahu, kau berkata seperti itu sama seja seperti kau menyerahkan Sasuke-kun padaku."
"Aku tahu. Dan…inilah keputusanku." Ucap Sakura mantap walau sebenarnya hatinya meringis kesakitan.
Karin masih tak bisa menerima hal ini, namun melihat kondisi Sakura yang lemah mengurungkan niatnya untuk beradu mulut dengan gadis itu. Ia menghela napas gusar.
"Baiklah, aku akan menolongmu. Aku akan berusaha semampuku."
Sakura tersenyum lega. Ia menahan air mata yang ingin mengalir dari matanya. Satu sisi ia merasa senang, namun tak dapat dipungkiri, ia juga kesakitan. Tapi tak apa, asal Sasuke bahagia, ia akan melakukannya.
"Terima kasih banyak Karin!" ujar Sakura sambil membungkukkan badannya.
"Kau ini, cepat sana kembali ke rumah sakit!" hardik Karin. Sakura menganggukkan kepalanya, membalikkan tubuhnya dan berjalan meninggalkan Karin.
"Aneh…" Karin terkejut mendapati Suigetsu dan Juugo sudah berada disampingnya.
"Memang aneh. Cakranya benar-benar kacau dan lemah, tapi ia masih kuat berjalan kemari. Selain itu, aku merasakan sesuatu yang asing dalam tubuh gadis itu. Sesuatu yang kecil…namun berpengaruh besar padanya." Ucap Karin menanggapi gumaman Suigetsu barusan.
"Heh, bukan itu yang kumaksud!" sanggah Suigetsu.
"Lalu apa?" Tanya Karin penasaran.
"Rasanya aku melihat bercak merah di sekitar lehernya."
"APA?"
"Caranya berjalan juga aneh, seperti habis melakukan sesuatu." Timpal Juugo.
"APA?"
"Dan baju yang dikenakannya, itu ukuran laki-laki kan?" tambah Suigetsu.
"APAAA?"
.
.
Pandangan Sakura semakin mengabur. Dengan sisa-sisa cakra yang dimilikinya, ia mendudukkan dirinya di sebuah bangku panjang. Ya, bangku yang sama dengan saat Sasuke meletakkannya setelah membuatnya pingsan karena dirinya berusaha mencegah kepergian lelaki itu. Direbahkannya tubuh ringkihnya dengan posisi miring dengan tangannya yang ia jadikan sebagai sandaran. Kali ini ia tak menahan air mata untuk tak mengalir jatuh turut membasahi bangku itu. Dipejamkan matanya saat otaknya memutar slide-slide perjalanan hidupnya selama ini. Ia dapat merasakan detak jantungnya yang semakin melemah diikuti darah yang mengalir dari hidung dan telinganya.
"Aishiteru… Sasuke…-kun…"
Dengan tubuh ringkih yang ditetuk karena dingin, dengan memakai baju pasien milik Sasuke, dengan bangku penuh kenangan, dan dengan sesuatu yang ditinggalkan Sasuke untuknya, Sakura tidur…demi kebahagiaan Sasuke.
.
.
"Sakura, kau kah itu?"
Sasuke tiba-tiba terjaga dari tidurnya karena mendengar suara Sakura. Hening, ia tak merasakan cakra gadis –ah tidak- mantan gadis itu di sekitarnya. Tapi, tadi jelas sekali itu suara Sakura. Sasuke menautkan alisnya bingung. Entah kenapa akhir-akhir ini ia merasa dirinya aneh kalau sudah menyangkut urusan Sakura.
"Sial, kenapa aku terus memikirkannya? Dia benar-benar menyebalkan." Ucapnya entah pada siapa.
Sasuke, bahagiakah kau sekarang?
.
.
To Be Continue
.
.
Wooaahhh~ chap terpanjang yang pernah saya buat. Tentu sudah ditambah adegan lemon. Hehe~
Bagaimana? Masih kurang hot kah lemonnya?
Errr, jujur, saya malah takut lemon bikinan asisten mesum saya terlalu hot untuk ukuran FFN. Bukannya sok, tapi selama saya membaca fic rate M Naruto dan tentu saja SasuSaku di FFN, rasanya gak ada yang seperti bikinan asisten mesum saya ini. Apa ya, saya juga susah menjelaskannya. Intinya fic yang lain lemonnya masih dalam batas wajar. Kalau memang lemon saya terlalu keras, tolong beritahu saya ya! Kalau masih kurang hot gimana thor? Berguru sono sama asisten saya.*d cemplungin ke jurang
Boleh promosi? Baca juga fic saya yang baru judulnya Believe Me, You are Perfect! Yaaa! Kekekeke~
Di situ Sasuke saya bikin menderita keterbelakangan mental lho~ *jiagh, dia bangga
Oh iya, saya minta maaf yang sebesar-besarnya…!*bow 100x
Padahal di chap sebelumnya saya bilang akan publish fic utk SSFD, tapi karena laptop saya tiba-tiba error, jadi gak bisa publish deh.. fic ini juga jadi molor bgt updatenya..
Huhu~
Ya itu, yang Believe Me, You are Perfect! Itu yang pengen saya publish utk SSFD. Karena uda telat and kalo oneshoot juga kepanjangan, jadi saya jadiin multichap deh. *ngomong tanpa dosa **ngumpet di balik punggung siwon
Oh iya, penasaran kenapa saya hapus pairings? Karena saya takut saya gak bisa memunculkan scene khusus untuk pairing2 lainnya. Gomen~ tapi mulai sekarang saya mau fokus sama sasusaku..
OKE, SAATNYA SESI BALAS REVIEW^^ :
Riestiyani aurora
Wah, thx bgt ya tetep setia baca fic abal saya.. =D
Maaf yang kemaren kependekan, saya emang buru-buru ngetiknya. Xp
Hump, utk chap ini, apakah alurnya masih berbelit-belit?
.
Bintang
Thx ya uda mau RnR..^^
Soal wamilnya siwon, memang simpang siur kabarnya.
Pas kangin yang wamil kan jadwal wamil anak-anak suju jadi kesebar tuh, nah pas itu kabarnya siwon wamil taun ini.
Tapi makin ke sini, makin gak jelas kapannya..
Y Alhamdulillah kalo bkn taun ini mah, hehe~
.
Sibum Lovers
Thx uda RnR.. =)
Hahaha~ saya kan suka siwon dari 5 taun yang lalu, jaman itu mah siwon masih kurus. Jadi agak agak gmn gitu liat badan dia sekarang. Xp
Ini lemon atw NC uda saya hadirkan..^^
Hump Ino kan uda gak suka lagi sama Sasu..
Yah, d cerita saya emang begitu keadaannya hehe..
Hahaha, Kyu kan pernah kecelakaan itu, yg brg ichul sama eeteuk jg, gara2 itu paru-paru dia luka sampe sekarang..
Amin, kita doakan yg terbaik utk oppadeul~
.
Cin-Chan
Wah, welcome dongsaeng-ah~
Twitt? Punya tapi lupa pass-nya jadi males ngurusinnya lagi..
Hehe~
Kalo fb bisa liat alamatnya di acc saya..
Aye-aye sir! Ini lemonnya uda nongol..
Mudah-mudahan puas yee..^^
Wah, byk bini kyu y di FNI..
Hahaha, gak puas ah nonton SS3 3D nya, Cuma 90 menit,,
.
Hasni kazuyakamenashi stareels
Maaf saya baru update sekarang…
Hahaha, penasaran ya? Monggo silakan dicari tahu di sini..
Semoga makin penasaran (?)
.
SasuSaku Kim
Maaf ya saya updatenya lama~
Huhu~
Tapi semoga chap sekarang dapat mengobati rasa kesel anda krn saya telat update *kedip2in mata
.
Yue-chan
Yue? Jadi ingin cardcaptor sakura..
Hahahaha~ *abaikan
Yosh! Terima kasih semangatnya
.
SasoYuki
Gomenneee~ *bow *bow *bow
Ya kemaren itu saya buru-buru ngetiknya..
Makashi uda blg fic abal saya bagus..^^
.
Me
Tengkyuu uda setia RnR fic abal saya..^^
Ini uda saya panjangin plus plus plus ma lemonnya..
Hehe~
Saku meninggal gak ya? Kasi tau gak ya? *d masukin ke karung, di buang ke kali
Hehe~
Nanti juga terungkap kok soal itu..
Berkaca pada chap ini, menurut kamu saku meninggal atau gak? *malah balik nanya
.
Mysticious
Arigatou gozaimasu~ *bow
Iya, saya memang sengaja membuat Hinata dan Sai lebih ekspresif di sini..
Ini uda byk adegan sasusakunya..
Silakan review lagi~
.
Kikyo fujikazu
Benarkah chap kmrn gak OOC?
Syukurlah kalo gitu..^^
Terima kasih untuk pujiannya..
Err, maaf, saku masih tersiksa untuk beberapa chap ke depan..
Jadi dia belum baik2 aja..
Huhu~
.
Karasu Uchiha
Thx uda RnR..
Oya? Maaf kalo gitu..
Mudah2an Saku gak OOC lagi di chap ini..
.
Animea Lover Ya-Ha
Thx uda RnR..
Waduh, maaf saya melanggar kewajiban mengupdate kilat..
Huhu~
Salahkan laptop saya (?)
Mudah2an chap ini makin seru ya..!
.
Lily kensei
Thx uda RnR..
Ini sudah saya update, maaf lama..
.
Maya
Halo maya~
Apakah ini maya yg sama dgn yg review fic saya yg lain yaitu I'm your mate, my soul?
Maaf kalo salah.. Xp
Maaf lagi saya gak bisa ngabulin permintaan maya utk fic yg utk SSFD..
Huhu, saya malah bikin rated M..
Di atas sudah saya alert kok ada lemon..^^
Semoga masih mau RnR ya..
.
Uchiha Hime Is Poetry Celemoet
Heee? Masa iya sinetron bgt chap kmrn? Pasti gara-gara adegan saku pingsan ya?
Gomen~
Padahal saya paling benci lho ma yg namanya sinetron..*gak ada yg Tanya
Chap kmrn panjang? Wew~ padahal byk yg protes blg kmrn kependekan.. Xp
.
SoraMaria
Terima kasih pujiannya..^^
Terima kasih jg uda mau nunggu lanjutannya.. =D
.
Sunny
Weh, sunny-nya BCL atau sunny SNSD nih?
Hehe~ *abaikan
Wah, saya seneng kalo readers pada suka ceritanya..^^
Errr, saya gatau itu ide cerita atau bkn (?)
Gak, jadi gini, saya kan suka baca fic yg lain jg..
Nah di fic yg lain byk yg menggambarkan kalo sasu buta, ya dia bisa ngerasain cakra sebagai pengganti indera penglihatan dia..
Nah, berhubung saya baru suka sama Naruto, jadi saya kurang paham hal begituan..
Saya malah kira cerita aslinya sasu jg bisa ngerasain cakra..
Hehe, gomen~ *bow
.
Uchiha itu Sasuke
Hihihi, namanya lucu deh..
Tengkyuu ya uda mau RnR..^^
.
Beby-chan
Tengz uda setia baca fic abal saya..^^
Hahaha, dia geregetan..
Hehe, uda bisa nebak kan sasu buta permanen atau gak?
Ino…hump…liat nanti aja deh…ya, ya, ya? *d timpukin sandal
.
Natsuttebayo
Arigatou gozaimasu uda mau ngefav fic saya!^^
Hahaha, kalo gak to be continue tangan saya kapan berhenti ngetiknya atuh?
Gak apa2 kok, saya seneng kalo reader seneng sama cerita saya..
Hehe~
.
Mella-chan
Tengkyuu mampir lagiii~ *hug back
Hahaha~ iya sasu uda mulai cemburu nih..
Cuma biasa lah, kealingan gengsi..
Ckckck~
Ini lemonnya uda ada..^^
Aduh maaf ya, gara-gara laptop ngehank jadi gak bisa publish utk SSFD..
Huhu~
.
El' Amel
Hahaha~ ya mangap atuh..
Masa dilanjutin terus?
Mesti da TBC nya lah multichip mah..
Wah suka suju juga toh..
Mannaso bangapseumnida~
Oh ya? Gak lah, fic saya mah abal..
Gak bisa dibandingin sama komik aslinya..
Hehe~
.
Gummy smile hyukie
Annyong gummy-ssi~ ^^
Salam kenal juga..
Ah, ampe sekarang juga belum diputuskan tuh soal SS4 INA, tapi kabar terakhir yg saya dgr sih uda ttd kontrak..
Yah, berdoa aja lah wahai elf indo..
Waduh jgn nangis, saya gak jualan tisu soalnya..
Hehe~
Ini ada lemon..^^
.
NiendaZaoldyeck
Annyong nienda-ssi~
Namamu susah ya? Hehe~
Weleh, byk amat dah bini kyu di sini..
Tapi gpp, saingan saya berkurang (?)
Iya, saya sendiri suka tiba2 buntu ide kalo lagi nulis bagian sasu.
Masalahnya gmn caranya sasu gak OOC sementara saya harus tetep nunjukkin kalo sasu tuh suka sama saku.
Puyeng~ puyeng~
Ya jadinya balik lagi deh ke sifat alaminya yang dingin, posesif dan gengsian..
Huhu~
Tengz uda mau nunggu fic saya..
.
Dorobbong 'Endou Yumi
Annyong~
Hahaha~ ketauan kok kamu suka hae dari baca pen name kamu aja..^^
Gomen, saku masih akan tersiksa sampe beberapa chap ke dapan..
Ini lemon uda saya hadirkan..^^
Gak lah, saya suka happy ending kok..
Wah arigatou~ saya seneng malah kalo fic saya kamu fav!
Hehe~
.
NN
Nyaaa~ gomenasai~
Saya tau saya telat bgt update, tapi yam au gmn lagi..
Gara-gara laptop ngehank jadi begini deh..
Huhu~
Semoga masih mau RnR ya..
.
B2UTY
Thx uda RnR..
.
ReshaRukiRuu
Hahaha,thx uda RnR..
Chap ini ada lemonnya kok..^^
.
So, mind to review again readers? *bow
