Akashi seijuuro menjambak kepalanya kesakitan, pusing melanda dan lapar yang tak tertahankan, ibunya berdiri disana memegang sebuah cambuk dan pemukul baseball "Kau tidak kuizinkan keluar dari ruangan ini." Ujarnya mendekati tubuh mungil itu, bercak merah yang menempel dikausnya tidak segera ia lepas, biar-biar menjadi barang bukti kekejaman, biar menjadi bukti mencengangkan ketika pihak berwajib datang nanti, biar, biarkan!
"Tidak, jangan dekati aku.." ia bergetar, memohon
Akashi Tetsuna tetap mendekatinya, "kenapa Sei? kau membenciku? kenapa kau menjadi begini? kenapa kau melakukan ini padaku Sei?"
Bukan, bukan begitu, ini salah. Tentu saja Akashi membencinya atas semua perlakuan yang dilakukan wanita itu pada dirinya, pada ayahnya dan bahkan pada kesehatan mental dirinya! Semua ini salah wanita itu!
Ia menjerit sekuat tenaga "MENJAUH DARIKU!"
Akashi Tetsuna terdiam, Anak kandungnya yang telah ia besarkan sepenuh hati, memberinya makan dan fasilitas kebutuhannya, dan biaya hidupnya berani meneriakinya, sungguh anak yang tidak tahu terima kasih. Kenapa juga ia menjadi seperti ini? menyerupai hewan liar yang ketakutan akan disakiti, langkahnya kembali mendekati
"ara.. kau berani membentakku Sei?" tanyanya, tak takut sama sekali
Akashi sadar itu, refleks tubuhnya terjembab jatuh, ia meminta maaf, terisak, tidak mau memandangi wajah ibunya "maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku.." Kemudian ia merasakan ubun-ubunnya disentuh oleh tangan wanita itu, dijambaknya secara paksa "Memaafkanmu. kenapa aku harus lakukan itu?" ia bertanya-tanya, ada sosok lain dimata ibunya.
Dengan sekali sanggahan menggunakan tangan sekuat tenaga, ia berhasil menahan tangan wanita itu, membiarkannya mengaduh kesakitan lalu kabur menuju dapur.
Mata Akashi sigap mencari sebilah pisau,ia menemukan pisau daging dan memutuskan untuk bersembunyi di bawah pintu jebakan lantai kayu dapur, tempat menyimpan beberapa sayur. Yang ia pikirkan saat ini, setidaknya untuk saat ini untuk melindungi tubuhnya, berdiam diri ditempat itu sampai akhirnya ia pingsan.
Kemudian sepasang tangan mengangkut tubuh kurus kering itu keluar, tak berdaya, kotor, berbau darah, dan gelap. Melangkah santai keluar dapur.
Rumah bersuasana tenang, tidak ada yang bersua. Angin malam yang lewat dan pohon yang diam. Tidak ada suara binatang malam. Bulan berhasil menerobos masuk ke sebuah ruangan besar berperabot unik. Sofa merah, dua meja antik, beberapa lembar kertas berhamburan. Dan lagi-lagi sebuah piano.
Langit-langit rumah itu beratapkan kaca setengah lingkaran, mengekspos langit dengan satu gugusan bintang dan sisanya hitam pekat, gerombolan awan kemudian menghalangi lingkaran putih yang konon ada kelinci disana, menelan bintang sendirian yang terpuruk tidak ada teman. Hitam lagi.
Tempat itu terhubung dengan sebuah pintu geser, sedikit terhalang oleh lekukan tembok dan beberapa almari kayu, patung famili kucing besar terpajang, hanya kepala dan memamerkan gigi runcing- sebagai simbolis perusahaan keluarga. Akashi Seijuuro, anak dengan tujuan mulia itu duduk meringkuk, menutupi wajahnya dengan menyilangkan tangan. dibawah mulut puma yang sedang mengaum, mencoba setelah akhirnya sadar.
Mata magenta itu terisak, kesakitan dan bengkak. Tidak mampu membuka matanya, berat dan letih. Bibir mungilnya bergetar, tangannya tidak kuat untuk menyeka air matanya lagi.
Sudah cukup.
Ia tidak berani. Ibunya mengurung dirinya seperti anjing.
kaki mungilnya menyentuh besi berkarat, lalu menariknya lagi seakan-akan benda itu panas dan terkutuk. Ia tidak bisa meluruskan kakinya, maupun meluruskan punggungnya untuk sedetik saja. Ia berharap buta dan tuli untuk hari ini, atau menukarnya dengan nyawa sehingga ia tidak perlu menjalani hidup- kejadian ini-.
Ia ingin buta dan tuli ..., untuk tidak melihat dan mendengar geraman serigala yang ia bayangkan berada di sekitarnya, memangsa tubuh ayahnya.
Kuroko no Basuke milik Tadatoshi Fujimaki
Another Universe, Tragedy
"how should i feel?"
Disinilah ia, terbaring lemah di ruangan berdinding biru kuning, bukan kamarnya, melainkan kamar orang tuanya. Lampu-lampu mungil sudut ruangan berkedip perlahan, mata Kuroko tidak mau berkompromi untuk membuka lapisan tipis itu perlahan dan selimut tebal yang memunggunginya tidak berkhianat.
"Sayang, sudah pagi. Ayo bangun." seseorang berbisik ditelinga mungil milik Kuroko Tetsuya, Kuroko tahu ia harus segera bangun
"atau... ayah kelitiki kamu"
Kebahagiaan sederhana di pagi hari sungguh menyenangkan, burung mungil mendekati jendela memiringkan kepalanya, menengok sedikit keluarga kecil yang bahagia, lalu kembali terbang. Kuroko Aida membuka pintu kamar mandi, rambutnya digulung menggunakan handuk "Siapa yang mau sarapan ditemani coklat panas?" tanyanya, Kuroko dan ayahnya mengangkat tangan bebarengan, tertawa kembali "Nah ayo, ayah gendong kamu ke dapur! kita makan pancakes sirup maple."
Kuroko menyahut antusias.
"Cuci muka dahulu sana!" ujar Kuroko Aida tertawa
Kuroko sibuk dengan mengaduk-aduk sarapan paginya, lalu sendok itu memasuki mulut. Sesekali melirik ayahnya membaca koran " Aku tidak menyangka musim dingin sebentar lagi datang, sekarang tanggal berapa?" tanya Ayah Kuroko, pandangannya melihat istri tercinta menuangkan kopi panas "tanggal 18 Desember, kamu ini mentang-mentang dirumah, tanggal pun kau lupakan." ia tersenyum
Ah sudah menjadi kebiasaan lama ketika Kuroko Hikaru sudah berada di rumah lalu bermain dengan Kuroko kecil, dunia sudah milik mereka berdua. "Pantas saja dingin, ya kan Tetsu?" Ayahnya menggoda
Kuroko kecil mengangguk "Pemanas baru." mulutnya membeo ucapan mamanya kemarin malam, kembali melahap dengan riang
Kuroko Aida merespon dengan mencium pipi mungil kuroko, tagihan saluran air dan listik terlambat datang untuk bulan ini, akses menuju kota Yosen bisa dibilang tidak mudah karena melewati tebing dan sayangnya itu satu-satunya jalan tercepat menuju kesana " ah ya, Aku mendapatkan lagi E-mail dari perusahaan itu." lanjut kuroko Hikaru
Mendengar perusahaan, rumah, dan farmasi sudah membuat Kuroko Aida pusing "Tidak perlu membalas, membaca atau membahas pernyataan sialan itu. Rumah ini sudah sah milik kita. Demi Tuhan bisakah kita membicarakan kado, pohon natal, atau kue jahe saja? aku ingin tenang di saat liburan natal seperti ini."
Kuroko Hikaru mengerling, melirik istrinya sebentar, kembali menyeruput kopi setengah panas dan setengah kosong, ia tahu istrinya teramat sangat menyukai rumah ini, impiannya sejak pertama kali mereka berpacaran.
"Mama, sialan itu apa?" mulut mungil Kuroko berhenti mengunyah, menyisakan sirup yang belepotan. Kuroko Hikaru tertawa pelan "ups."
Dua pria, satu berkacamata satu bertampang model tengah duduk manis menerawang ke sisi jalan, mengamati suasana pagi kerumunan dan seorang pemusik wanita kulit putih berambut hitam tidak jauh dari mereka, kecuali si pria berambut hijau tengah asik menggosok lensa. Pemusik perempuan itu dengan asyik memainkan lagu A Savior is Born , sesuai dengan tema hari ini, karena sebentar lagi Natal dan tahun baru, jemarinya asik berpindah kesana kemari, mengesek biola dengan lincah. Itulah yang sedang ia lakukan, sekali lagi memandang ke arah seseorang di hadapannya, laki-laki pirang yang sibuk dengan lamunannya
"Ne.. Midorimacchi, kalau 2 menit lagi orang itu tidak muncul, aku akan pergi. Lagipula bukannya kau ada praktek?" tanyanya,
Si berkacamata hanya menaikkan bahunya, tidak berniat merespon "Kau tahu betapa buruknya keadaan anak itu?"
Baiklah mereka harus kembali menunggu seseorang, dan lengkaplah pertemuan kali itu. Tidak lama kemudian, seorang pendeta datang menghampiri mereka, setelan abu-abu dengan jaket tebal berwarna hampir sama, pria itu berambut hitam-merah mengkilat pendek dengan badan yang besar, menutupi otot tubuhnya. Sol sepatu botnya beradu dengan bata, menimbulkan suara.
"Apa kau yang memanggilku Midorima?" tanyanya, tanpa sapaan tanpa basa-basi.
kedua pria itu mendongkak memandang orang yang ditunggu, Midorima mengiyakan "nah, kau tidak sedang bertugas?" tanyanya kembali.
Burung-burung camar dibawah mereka, walau diusir berulang kali, tetap kembali datang. Melanjutkan percakapan di sebuah kafe dekat dengan tempat Kise tadi menunggu, kedai kopi sisi dermaga memberikan pemandangan yang cukup memanjakan telinga dan mata namun tidak untuk hari ini, ketiga pemuda tengah menyesap kopi pagi dan sarapan mereka.
"Baiklah, pendeta Kagami bagaimana menurutmu? saya rasa kasus ini kita resmi buka kembali."
Pria yang memakai kalung salib dengan santai melahap croissant, kembali lagi membuka berkas-berkas dahulu "kurasa begitu." dia melanjutkan " Nah, kau sudah melanjutkan beberapa bagian yang belum aku selesaikan, apa itu?" tanya Kagami
Midorima berhenti menyesap tehnya, menurut oha asa pagi ini, cancer harus memakan dan meminum sesuatu yang sehat untuk stamina, agar lebih siap menghadapi hari. Omong kosong seperti itu, ia sudah melaksanakannya setiap hari. Karena akan menghadapi hari yang besar. Penelitiannya kah? ia sudah menyelesaikannya dua tahun yang lalu, "Aku sudah membaca beberapa kitab nadodayo, setan itu menginginginkan sesuatu, sesuatu yang tidak bisa ia raih."
Kise memutar bola matanya, tahu apa selanjutnya, sebuah dugaan bahkan anak berumur empat belas sedang puber saja tahu "Bukankah jelas, dia menginginkan tubuh dan jiwa anak itu?" kelihatan tidak tertarik, namun dari apa yang Kagami tangkap sepertinya bukan itu maksud Midorima
Kagami menyimpan sendoknya, ia tertarik mengamati lekukan besi, berpikir sebentar sebelum jeda panjang diantara mereka "Melihat responmu sepertinya bukan itu,"
Midorima menghela nafas, ia tahu penelitiannya ini mungkin akan berakhir sia-sia, setan yang merangkap dalam boneka itu memiliki jiwa murni jahat, "Asumsikan saja, aku belum tahu apakah setan yang berada di dalam boneka itu benar-benar anak malang yang aku tangani tiga tahun yang lalu atau setan yang berpura-pura menjadi dirinya."
mereka terdiam, sang pemusik mendekati penghujung lagunya. Midorima melanjutkan.
"Mahluk itu, dia diciptakan dari kenangan buruknya semasa sebelum ia meninggal, aku ingat anak itu bahkan membunuh ayahnya.." Kise menatap ngeri
kemudian terdengar suara riuh tepuk tangan penonton mengakhiri pertunjukkan.
Setelah selesai sarapan sehat buatan ayahnya, Kuroko mungil berpikiran untuk kembali ke kamar, hendak mengambil krayon untuk bermain di ruang keluarga namun matanya terpaku pada pintu rahasia menuju ruangan rahasianya. Tanpa sadar langkahnya berputar menjauhi kamarnya.
Di sana, ia menemukan kembali buku-buku bersampul menarik dan krayon-krayon berwarna-warni, ia tidak tahu barang apa lagi yang akan ditemukannya, mungkin kereta mainan akan membuatnya merasa lebih baik dan beberapa helai benang kasur emas..
seperti yang ia lihat saat ini
Kuroko melihat dibalik celah kakinya terdapat untaian benang menjalar yang entah darimana, kepalanya menengok ke belakang dan memungut benang itu, tak berpikir lama dan sebagai anak yang cinta kebersihan, Kuroko tanpa segan mengikuti arah kemana benang itu menuju, ia yakin terakhir kali ia menuju kemari tidak ada benang seperti ini, apa mungkin ibunya yang datang kemari
Kuroko kecil ragu sejenak "Siapa disana?" ia terdiam. Tangannya kirinya memegang erat sisi celana pendek biru totolnya.
Benang itu berakhir dibalik pintu jam besar yang sudah mati, Kuroko tahu, semenjak pertama kali ia kesini ia mendapati jam itu diantara guci-guci dan itu adalah tempat dimana ia menemukan Akashi.
Akashi, kemana dia pergi? boneka itu selalu saja menghilang...
Kuroko kecil berjalan perlahan hingga ia berhasil mendekati jam itu, perpaduan antara kayu lapuk dan warna yang begitu kelam dan percikan darah. Tiba-tiba nampak sesuatu bergerak dibelakang Kuroko, gelap dibelakangnya karena ruangan rahasia ini tidak mencakupi cukup cahaya mentari.
Kepala kuroko kembali mengamati jam besar itu, seolah berbicara untuk membuka pintu besarnya, berukuran 30 cm mahoni kokoh, tapi tidak dengan dindingnya hampir runtuh dimakan rayap.
Tangan mungil kuroko berhasil memegang kenop pintu mungil itu, tanpa ia sadari sang mentari bersembunyi kembali digantikan oleh salju yang turun. Ruangan itu sebentar lagi akan gelap. Tangannya sudah membuka pintu itu disana, dan ia menemukan Akashi.
"Kena.. kau yang jaga." ucap Kuroko senang tidak menyadari sesosok gelap dibelakangnya.
Pojokan Author :
ehm... Jadi.. udah berapa lama engga update? ADUH MAAPIINNN *ditimpuk sendal-tenggelemin di sumur* aku berusaha buat nyicil-nyicil tapi sempat terlupakan, di chapter ini memang engga panjang dan aku berterima kasih sebanyak-banyaknya sebanyak porsi makanku sehari untuk pembaca yang telah me review, fav, follow atau hanya silent reader. Please let me know.. bagaimana menurutmu dengan chapter pendek ini, aku berusaha update walau lambat, soalnya semester ganjil is suck dan puol tugas hiks... Pssstt.. btw Kuroko kayanya bakal dapet bantuan dari 3 om-om ini yeeeeyyyy/
Special thanks : beta reader amatir Bona, suruh saya update.
HanaHanami69 : Halloooo, Hintnya ada kok.. terselubung dalam kemasan selama tidak kadaluwarsa wkwk terima kasih banyak/ aku bakal berusaha apdet, asep eh asap wkwk
akashiseiju : waaa~ chapter baru ini kayanya engga bikin deg degan deh:( hihihi, entah ya nanti kapan-kapan aku tanya mereka kapan bisa berwujud atau berasap (?) jadi potjong ketjeh boleh ugha *fandomkomiksebelahwoi*
Frazka 12 : Halloooo selamat datang di fandom kurobas! *telatngucapin**salampipikananpipikiri* salam kenal/ awkwkwk terima kasih banyak telah mampir, feel free buat ubek-ubek fandom ini huehe
Akashi : Jangan takut, ada aku disini.
Author : Ada juga Frazka-chan yang takut sama kau demit! *pelukkuroko*
soo anyways.. see you next chap!
Seijuuro : Sei heree! kalo authornya telat update, kita cabut aja giginya lima biji gimana? WKWKWKWK
Author : *santetseijuuro*
