Petrichor
Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rated T
Romance
Hope you enjoy it!
.
.
.
"Aku memperumit segalanya, hyung"
"Ya, kau memperumitnya"
Yoongi dan Taehyung bertatapan, bertukar helaan nafas lelah yang sama sebelum Yoongi menyingkirkan wajah Taehyung dari hadapannya, mengganti fokus pada sebatang rokok yang terselip di antara bibir merah cherry-nya. Yoongi pernah bersumpah akan berhenti merokok, namun kini tak ada alasan untuk tetap memegang sumpah sialan itu.
"Kau mau?" Taehyung mengernyit kala kotak rokok putih itu Yoongi sodorkan padanya, ia menggeleng tegas dan dengan kasar menarik batangan itu dari bibir Yoongi, mencampakkannya ke tanah dan menginjaknya kasar.
"Kau sudah berjanji untuk tak merokok lagi" Taehyung melotot.
"Dan jangan coba-coba menjadikan stres sebagai alasan kau merokok" Taehyung buru-buru menyambung saat dilihatnya Yoongi hendak menyanggah. Taehyung tetap menjaga tatapannya pada Yoongi, setelah namja itu berbalik barulah Taehyung melunakkan rautnya. Dengan rasa bersalah ia membawa Yoongi ke bahunya, mengelus helaian hitam mantan kakak kelasnya itu dengan sayang.
"Ini masalahku hyung" Taehyung berbisik, meskipun ia merasakn gerakan gusar tubuh kecil Yoongi namun telapaknya masih tetap berada di pucuk kepala namja yang lebih tua tersebut.
"Aku yang membutuhkan segalanya. Aku yang mengharapkan hal itu, jadi berhentilah menjadi tertekan karena masalah yang bukan menjadi urusanmu"
"Tapi kau hanya akan berakhir menyakitinya" tandas Yoongi di dalam nada yang begitu berat, tatapannya datar pada lantai dan nafasnya terseret di kala bahu Taehyung menegang. Yoongi mengenal Taehyung dengan baik, mereka tumbuh bersama sejak Taehyung pertama masuk ke dalam lingkungan asrama, dan ia paham benar segala macam masalah yang berkecamuk di benak remaja tanggung itu sekarang ini.
Yoongi tahu bahwa Taehyung sedang mengusahakan sesuatu, ia mengusahakan hal yang akan menyakiti berbagai pihak namun tetap ia lakukan demi kelangsungan hidupnya semata-Taehyung egois, dan entah mengapa Yoongi tak apa dengan hal itu. "Hanya pastikan saja bahwa kau takkan menyakiti Jimin pada akhirnya Tae" Yoongo berujar tegas, memberi penekanan pada kalimatnya seraya menatap Taehyung.
"Huh, terserahlah. Omong-omong, apa kau tahu bahwa sejak tadi ada Jimin yang sedang duduk di seberang taman sana? Menatapimu dengan senyum bodoh?"
Yoongi melepas lekatan kepalanya dari bahu Taehyung, matanya bergulir pada sosok lain yang duduk terpaut duapuluh meter jauhnya dari ia dan Taehyung.
Jimin hanya duduk berbalut piyama di sana, ada dua mug besar di kedua belah tangannya, dan sebuah senyum lebar tersungging kala manik mereka bersinggungan dalam satu garis yang sama. Yoongi mengangkat tangannya, melambai kecil pada namja itu dan tertawa kala Jimin membalas lambaiannya dengan mug di tangannya.
"Sudah malam hyung, aku harus tidur. Sampai jumpa" Taehyung menepuk sebelah bahu Yoongi lalu berlari kecil ke arah Jimin. Yoongi diam saja menyaksikan kepergian kedua teman itu, ia tetap duduk di sana menikmati dinginnya udara malam. Ini tak apa untuk begadang, lagipula besok ia tak memiliki tugas kerja apapun.
Jadi Yoongi putuskan bahwa ini mungkin malam yang tepat untuk menghabiskan kejenuhan dengan menonton beberapa drama picisan dan mengemil popcorn hingga pagi menyingsing.
Pada paginya, Jungkook harus terbangun dengan perasaan kurang enak. Perkataan Taehyung semalam masih membuat pikirannya terusik dengan begitu hebat. Okay, Jungkook memang polos, ia bodoh dan konyol, ia bahkan tak paham konteks dari menyukai yang Taehyung lontarkan semalam. Namun bukan berarti ia tak dapat merasa gundah gulana seperti remaja labil lainnya.
"Kau normal Kook?" Terlalu gundah hingga Yugyeom bahkan memerhatikannya. Jungkook mengangguk, gelagatnya berubah drastis begitu tatapan Yugyeom mulai berubah seperti menginterogasi.
"Menu sarapanmu tak mengatakan bahwa kau baik saja"
"Kaitannya sepiring sayur tumis dengan keadaanku itu apa , huh?"
Yugyeom menyentil dahi Jungkook, wajahnya menyiratkan secuil kekesalan, "Jungkook sehat yang kutahu itu anti sayur dan hanya memakan bacon atau burger untuk sarapannya"
Jungkook menunduk, ditatapnya gundukan brokoli tumis itu dengan tatapan tak berminat. Yugyeom benar, ia memang bukan pecinta sayuran, lagipula tadi ia hanya mengambil asal-asalan makanan ini dari meja makan, sama sekali tak menaruh fokus pada menu lain karena otaknya yang masih bekerja banting tulang untuk memproses perkataan Taehyung.
"Oh, Bambam on the way kesini, si Mingyu juga" Jungkook mengulas senyum cepat kala para pemilik nama yang Yugyeom sebutkan itu telah tiba di meja mereka dan menepuk punggung Jungkook dengan akrab. Kedua sahabatnya itu mengambil tempat kosong yang tersisa dan langsung menyerocos tak karuan, mencairkan suasana hati jelek milik Jungkook dengan senda gurau yang berkepanjangan juga lantunan tawa menggelegar yang mengasyikkan.
Jungkook sejenak melupakan keresahannya, sibuk pada grup obrolan mereka yang disemarakkan oleh lengkingan jerit Bambam.
"Kook, apa kau pernah berpacaran?"
Jungkook hampir menyemburkan keluar air mineral yang tengah ia teguk saat bibir Yugyeom melontarkan pertanyaan itu dengan kalemnya. Jungkook buru-buru menelan air di dalam rongga mulutnya dan menggeleng tegas, "aku bersekolah di sekolah khusus anak lelaki sebelumnya. Jadi aku tak memiliki pacar" sergahnya cepat. Yah, Jungkook rasa alasan itu cukup untuk dapat diterima nalar, lagipula itu benar adanya karena Jungkook memang belum pernah berkencan dengan satu gadis pun dalam hidupnya-lagipula ia tak tertarik pada kaum hawa yang selalu mendramatisir kehidupan cinta mereka itu.
Yugyeom mendengus, ia berpangku tangan dan menatap Jungkook seakan tengah mengadili sahabatnya itu. Lamat-lama bibirnya membuka dan memberikan kalimat yang membuat Jungkook agak terkejut, "Kupikir kau belok, Kook"
Jungkook mengernyit, "apa? Belok?"
Yugyeom mengangkat bahu lebarnya dan mendengus dengan penuh ejekan tersirat disana, "Respons mu pada tiap perlakuan Tae-hyung dan Jimin-hyung sudah cukup menjelaskan bahwa orientasimu itu tak normal, Jeon. Lagipula untuk ukuran seorang lelaki kau itu terlalu cantik" Yugyeom menekan nada bicaranya pada kalimat terakhir, dan itu sukses untuk membuat Jeon muda mengerang protes karena merasa dihina secara langsung.
"Jangan seret-seret para hyung asrama juseyo, dan soal cantik, aku ini masih namja, kau sendiri lihat bahwa aku memakai boxer bukan lingerie kan?"
"Boxer warna pink dengan motif bintang pun sama saja dengan lingerie, Jeon" uh, Jeon Jungkook kini merasakan sesal mendalam sudah msmbiarkan lelaki Kim itu melihat tubuh berharganya yang semi telanjang kala itu. Jungkook sedikit mendengus pada sang sahabat, memberikan peringatan berupa pelototan karena ia rasa beberapa gadis di belakang mereka tengah terkikik mendengar perihal boxer pink milik si Jeon muda.
"Tapi serius Jeon. Kurasa Tae-hyung menyukaimu" nada bicara pemuda Kim ifu berubah serius, rautnya pun tak luput dari keseriusan itu. Yugyem berpangku tangan, menatap lurus pada manik cokelat muda Jungkook yang mengerjap keheranan, belum dapat mencerna dengan baik maksud perkataannya.
"Suka?"
"Suka dalam artian cinta"
Jungkook mendecih, "diamlah Kim" ia tak mau mendengar omong kosong soal hal semacam itu lagi. Sudah cukup Taehyung membuatnya pening semalam, sudah cukup ia memenatkan diri sendiri tadi pagi, dan ia harap Yugyeom tak berencana menambah beban pikirannya.
Apa-apaan dengan cinta, huh? Mereka bahkan masih bersekolah, Jungkook masih terikat pada kebencian hingga untuk berpikir soal cinta saja terasa sungguh berat baginya.
"Tae-hyung sama sekali tak memiliki maksud apapun padaku. Cinta, mungkin itu dalam konteks kakak-adik, tak lebih dan tak kurang"
Yah, mungkin Taehyung memang tak punya.
"Jadi berhenti soal cinta-cintaan mu itu Kim Yugyeom"
Berhenti sebelum Jungkook menegaskan bahwa ia sama sekali tak ingin mempercayai apa itu cinta.
"Terserah katamu Jeon, dan omong-omong Jimin-hyung di sudut sana sedang melambaikan tangan. Kurasa ia memanggilmu"
Jungkook menoleh ke belakang, dan di sana memang ada Jimin yang sedang memanggilnya. Namja itu duduk sendirian, itu adalah sebuah keganjilan mengingat biasa Taehyung selalu ada dimana Jimin berada. Jungkook mengangkat piring makannya dan berpindah tempat, itu tak apa untuk meninggalkan Yugyeom sendirian, toh sebentar lagi Bambam dan Mingyu akan datang untuk makan siang.
"Hai hyung" sapa Jungkook begitu ia duduk di depan Jimin, kakak asramanya itu memberikan senyum ramah dan membantu Jungkook menarik keluar kursinya yang agak tersangkut pada kaki meja. Setelahnya mereka mulai bercengkrama dengan asyik, Jimin memang pada dasarnya adalah pribadi yang suka penasaran akan sesuatu, jadilah ia menanyakan bagaimana hari Jungkook dari awal hari tadi.
"Ah, kau tahu? Yoongi-hyung menitip ini buatmu tadi pagi, katanya ia nelihatmu kurang sehat jadi kau disarankan memakannya" Jimin merogoh saku kemejanya, menarik keluar batangan cokelat berbungkus merah dan menyodorkannya pada Jungkook.
"Dari Yoongi-hyung? Uh, baiknya" Jungkook meletakkan sendok stainless nya dan menggeser piring makannya, ia merobek bungkusan cokelat mahal itu dan mematahnya menjadi dua bagian. "Ini" ia memberikan sebagian pada Jimin dan sebagian ia kunyah sendiri. Rasa manis yang enak membuat perasaan Jungkook lebih baik, ia tersenyum senang dan terus menyesap rasa manis itu.
"Kau menyukai cokelat ya?"
Anggukan pasti Jungkook berikan, "Ya, aku pengagum berat cokelat. Appa dulu sering sekali membawa cokelat jika pulang dari tempat bertugas" Jungkook tersenyum sendiri membayangkan berbungkus-bungkus cokelat yang dulu selalu dibawa oleh sang Ayah. Ah, cokelat-cokelat yang enak itu selalu membuatnya bahagia.
"Kau suka sekali dengan cokelat Papua New Guinea bukan?"
"Oh, darimana hyung tahu? Aku memang sangat menyukainya" Jungkook tentu terlihat kaget, mengingat bahwa cokelat dari negara itu hanya pernah dua kali ia makan dalam hidupnya dan itupun ibunya yang membawa setelah pulang dari tur nya.
"Ya, aku tahu saja. Lagipula cokelat itu memang enak sekali. Yoongi-hyung punya satu dengannya, ia ingin memberikannya padamu namun aku sudah memakannya duluan" Jimin terkekeh di akhir perkataannya. Apalagi melihat ekspresi Jungkook yang tidak ketolongan malangnya itu, ingin rasanya Jimin tertawa saja karena wajah penuh kekesalan milik Jungkook.
"Ya, hyung kan tidak menyukai cokelat sebanyak itu. Kenapa hyung tidak berikan saja padaku"
"Aku menyukai cokelat"
"Tapi tidak harus cokelat dari sana juga kan? Oh My Lord, Jimin-hyung"
Jimin mengendik, ia tersenyum samar sebelum mengeluarkan sekotak kecil cokelat lain dari sakunya; cokelat kesukaan Jungkook. Ia menyodorkannya lagi pada adik asramanya itu, yang mana disambut dengan jeritan kegirangan dari sang penerima. Jimin menikmati bagaimana Jungkook mendecak nikmat merasakan lelehan cocoa murni dan parutan kelapa itu meleleh dalam mulutnya, Jungkook dan cokelat adalah perpaduan lucu yang tak dapat dipungkiri-dulu maupun sekarang, masih tetap sama.
"Aku juga menyukai cokelat itu sejak seorang bocah memberikannya di saat ulangtahunku, memakannya bersamaku, dan ia bahkan merengut saat tahu bahwa cokelat favoritnya telah kuhabiskan" bisik Jimin dengan tawa samar-memastikan bahwa Jungkook tak mendengar apapun yang baru ia katakan.
Jungkook menyelesaikan pelajarannya hari ini dengan baik, ia berkemas dengan lambat dan hanya tersenyum saat satu per satu temannya mengucapkan salam pamit padanya. Buku terakhirnya masuk ke dalam tas tepat pada pukul empat sore, dan setelah itupun Jungkook masih enggan meninggalkan sekolah. Ia kembali mendaratkan diri pada bangku kayu kelas, duduk beberapa saat di sana dengan fokus pada halaman luar.
Semilir angin sore yang hangat membawa Jungkook pada lamunan yang menyebalkan, khususnya saat pandangannya jatuh pada sosok Taehyung yang tengah berlari di halaman sekolah. Kakak asramanya itu tertawa dan berteriak dalam waktu bersamaan, Jungkook rasa mereka sedang merayakan ulangtahun seseorang dilihat dari pelepasan balon dan sekotak kue yang dipegang Taehyung.
Bahkan Jimin pun ada di sana, melebarkan banner di hadapan seorang gadis yang tengah menangis-entah karena terharu atau kesal karena tiba-tiba saja tubuhnya dihujani sekantong tepung terigu. Samar-samar Jungkook mendengar lagu khas ulangtahun dinyanyikan, dan saat semua kejutan itu berakhir Jungkook terpaksa harus menelan utuh-utuh kegelisahan sepanjang harinya.
"Sudah kubilang, Tae-hyung tidak mungkin menyukaiku"
Jungkook menarik tasnya pergi, melangkah kaki lebar-lebar pada keramik lantai yang bersih. Matanya terbuka lebar, terpaku tak pada apapun dan ia bahkan tak peduli saat kakinya hampir tersandung di tangga. Dari jendela lantai dua ia masih dapat melihat Taehyung yang tengah memeluk seorang gadis yang tadi berulangtahun, tinggi mereka yang kontras membuat momen itu lebih manis, apalagi saat Taehyung meletakkan kepalanya di bahu sang gadis.
Jungkook tak mengenal siapa sunbae perempuan itu, yang jelas ia cantik dan lucu-ia juga nampak cocok dengan Taehyung. Dan fakta itu membuat Jungkook sedikit merasa sakit, padahal ia sama sekali tak membutuhkan atau mengharapkan rasa sakit itu sama sekali.
"Hei, Kook!"
Jungkook menghentikan langkahnya, ia memasang wajah ceria begitu sosok Jimin mendekat dari arah halaman. "Hai Jimin-hyung" sapanya.
"Kau mau pulang?"
Jungkook mengangguk pelan, "ya" ia menjawab. Jimin melirik sebentar pada kerumunan temannya di halaman sana, mereka masih sibuk memberi selamat pada Sejeong yang hari ini berulangtahun, Taehyung bahkan masih tetap memeluk adik angkatnya itu dengan protektif-katanya ia tak ingin membiarkan anak lain menyentuh adik perempuannya yang lucu itu. Jimin sendiri merasa sudah cukup dengan acara kejut-mengejutkan yang direncanakan oleh Taehyung, dan ia rasa lebih baik ia kembali sekarang ke asrama daripada berlama-lama di sekolah.
"Tunggu sebentar, aku akan mengambil tas lalu kita pulang bersama dengan sepedaku" putus Jimin cepat. Tanpa menunggu jawaban Jungkook ia langsung melesat ke arah kelasnya yang berada di timur sekolah, tak terlalu jauh dari tempat Jungkook berdiri sekarang.
Jimin pergi cukup lama, dan itu wajar mengingat kelasnya yang berada di lantai tiga. Jungkook tak apa menunggu lebih lama lagi, namun ia bermasalah dengan Taehyung yang entah bagaimana menyadari keberadaannya dan menghampiri dirinya. Jungkook beringsut menjauh, memojokkan diri di sudut gerbang dan membuang pandangan ke arah kelas Jimin-oh, dan di sana ia mendapati pemuda Park itu baru berkemas dengan bukunya. Heol, Park Jimin cepatlah turun.
"Jungkookie kau mau pulang?"
Jungkook tak ingin menjawab, "i-iya hyung" namun apa itu sopan mendiamkan seseorang yang bertanya? Nah, tentu saja itu tak sopan.
"Ya sudah denganku saja. Kebetulan aku ingin mampir membeli gelato dulu, kau suka gelato 'kan? Biar kutraktir" berbeda dengan Jimin, Taehyung rupanya sudah membawa ransel hitam bersama dirinya. Ia bahkan sudah mengulurkan tangan yang bertujuan untuk mengajak Jungkook agar segera pulang dengannya.
"Kau tidak pulang dengan teman-temanmu saja hyung?" Jungkook bertanya, sejujurnya juga menolak secara halus karena ia masih merasakan canggung dan rasa tak enak pada Taehyung-terutama setelah melihat adegan peluk-memeluk tadi.
"Sejeong mengajakku pulang bersama dan ingin mentraktir patbingsoo, namun kurasa pulang denganmu lebih menyenangkan"
Jungkook menelan liur, sekilas melirik gadis di halaman sana. Oh, namanya Sejeong, namanya hanyalah secantik rupanya.
"Lagipula kurasa ayah dan ibu akan marah jika tahu aku mengerjai Sejeong dengan tepung, jadi kuputuskan untuk tidak pulang dengannya" lanjut Taehyung, kali ini ia sedikit terkekeh dengan tatapan terarah pada Sejeong. Bohong namanya jika Jungkook tak melihat rasa sayang di tatapan itu, dan lebih bohong lagi jika Jungkook tak merasa risih karena Taehyung memberikan tatapan seperti itu pada gadis secantik si Sejeong itu. Itu hanya membuat Taehyung kelihatan seperti remaja normal yang sedang kasmaran.
"Adik kecilku sudah besar rupanya. Hah, aku senang sekali"
Wait, adik kecil?
"Hyung, kau punya adik?" Ingin menyembunyikan keterkejutan, namun itu gagal dan Jungkook malah bertanya dengan begitu penasaran.
"Sejeong. Adik angkat. Papa dan mamanya yang merawatku sejak dulu"
Jungkook tercengo, pandangannya bermain antara Taehyung dan Sejeong, bolak-balik tanpa henti sebelum telapak Taehyunh menghentikan gerak kepalanya yang tak terkontrol itu.
"So, ayo pulang sebelum papa dan mama Sejeong menjemput adik kecil judesku itu" ajak Taehyung. Tangannya terulur lagi, menggenggam erat telapak Jungkook yang berada di atasnya. Dan Jungkook tanpa berpikir ulang hanya mengikuti langkah lebar Taehyung. Ia bahkan tak sadar bahwa seisi otaknya tengah berdengung, mengulang-ulang kalimat tentang bagaimana nanti Jimin akan berada di sana sendiri, mencari keberadaan sang dongsaeng-Jungkook-yang pergi tanpa memberikan kata pamit atau bahkan sekedar menunjukkan batang hidung yang seyidaknya dapat membuat Jimin dapat tahu bahwa ia ditinggalkan bukan dengan sengaja.
Taehyung benar-benar mampir ke kedai gelato di mana Jimin pernah pergi dan membeli bersama Jungkook. Jungkook mencoba beberapa rasa baru, dan tak lupa ia juga membeli sedikit untuk Jimin-satu scoup vanilla dan mint rasanya cukup bagus untuk hyung nya itu.
"Kau menikmati gelato mu?" Tanya Taehyung geli, ia tertawa kecil melihat bagaimana mulut kecil Jungkook begitu sibuk dijejali sendok yang penuh akan gelato. Telapak Taehyung bergerak menghapus sisa lelehan es yang mengerak di sudut bibir Jungkook, lalu menegur bocah besar itu agar tidak buru-buru saat sedang makan.
"Tae-hyung, tadi kau bilang itu adik angkatmu?" Jungkook menyeletuk secara tiba-tiba, ia masih menyendoki es nya sembari menunggu jawaban Taehyung.
"Eum, keluarganya merawatku sejak aku masih di panti asuhan"
Oh, jadi Taehyung tak punya orangtua kandung? Ini baru bagi Jungkook, ia tak menyangka Taehyung berlatar belakang seperti itu.
"Itu sebabnya aku masuk asrama. Aku tak ingin menyusahkan mereka lagi" Taehyung menghela nafas, "dan aku bahkan sudah harus menghasilkan uang sendiri agar tak membebani Ayah dan Ibu Sejeong lagi" sambungnya dengan berat hati. Taehyung benci masa lalunya, meskipun itu bukanlah sesuatu yang suram ataupun menyedihkan namun tetap saja ia masih merasa sakit hati jika mengingat bahwa ia hanyalah seorang anak lelaki yang dibuang di pinggiran sungai oleh orangtua kandungnya sendiri.
"Apa hyung baru saja curhat padaku?" Jungkook bertanya datar, mata bulatnya lurus menatap Taehyung dan wajahnya mencerminkan sebuah ekspresi heran yang teramat. Jungkook memang tidak menyangka bahwa Taehyung memiliki semacam masalah finansial dan keluarga semacam itu, namun ia lebih tidak menyangka lagi bahwa Taehyung akan mengatakannya di sore hari sepulang sekolah seperti ini. Maksud Jungkook, mereka bahkan tak memiliki suasan yang mendukung untuk sebuah cerita sedih atau semacamnya. Hell.
"Apa hyung butuh kuhibur?" Jungkook sama sekali tak tahu cara menghiburnya, dan ia malah mengajukan ide semacam itu. Hei Jeon, kau itu bodoh, lugu atau baik hati sih? Jungkook bahkan memiliki masalah yang lebih kompleks dengan keluarganya dan kini ia mau sok menghibur orang lain.
Taehyung menghentikan langkah kakinya, tubuhnya yang berpostur tegap itu berbalik menghadap Jungkook dan bibirnya melengkung membentuk senyum yang begitu hangat, ia sedikit membungkuk pada Jungkook, menyandarkan kepalanya pada bahu sempit dongsaeng nya itu dan mendesah pelan, "kalau kau bisa, hibur aku. Peluk aku dan buat aku paham bahwa aku tak semenderita yang kukira" gumamnya. Aroma pepohonan dan tubuh Jungkook bercampur menjadi satu dalam penciuman Taehyung, dan Taehyung menyukai bagaimana kentalnya aroma vanilla dari rambut Jungkook dapat menenangkan dirinya.
Taehyung sedikit tersentak saat ia merasakan lengan Jungkook melilit di lehernya, menariknya lebih dekat dan rapat hingga Taehyung dapat merasakan degup jantung Jungkook yang teratur. Telapak Jeon muda bergerak merambat, menelusup pada helaian rambut Taehyung dan mengelusnya pelan. Jungkook tak melakukan apapun selain itu selama lima menit, Jungkook sama sekali tak tahu bagaimana menghibur Taehyung dengan kalimat maka yang dapat ia lakukan hanyalah sebuah cara lama yang biasa ayahnya gunakan untuk menenangkan dirinya.
"Hyung akan bahagia, pasti bahagia" ujar Jungkook kemudian, lalu melepas pelukan mereka dan tersenyum samar. Tak menunggu respons apapun dari yang lebih tua, Jungkook kembali menggerakan kakinya dan berjalan mendahului Taehyung. Dalam diam menghabiskan gelatonya yang tersisa seperempat dan terpekik kaget saat Taehyung tiba-tiba merangkulnya dengan akrab, tak lupa yang lebih tua memberikan satu jitakan gemas pada yang lebih muda. Yang mana sukses menghasilkan erangan dari Jungkook.
Jungkook melihat Taehyung dengan pandangan kesal, "untung saja aku sayang padamu hyung, kalau tidak pasti sudah kuhajar kau" desis Jungkook jahat.
Taehyung hanya terkekeh, berputar dalam otaknya kata sayang yang Jungkook lontarkan. Oh, tiba-tiba perasaan Taehyung menghangat dan darahnya berdesir cepat. Asa sesuatu yang ganjil, sudah pasti ada sesuatu yang aneh dengan hal ini.
Sayang. Jungkook menyayangi Taehyung. Ia menyayangiku. Apa itu berarti aku menjalankan semuanya dengan baik? Apa berarti masalahku bisa terpecahkan sekarang?
Taehyung melepas rangkulannya, ia beralih mengambil ponsel dari saku almamaternya dan membukanya dengan cepat. Ada dua pesan masuk.
Salah satunya merupakan milik Jimin,
'apa Jungkook bersamamu? Aku menungguinya di sekolah namun ia tak kunjung muncul'
Dan yang lain adalah milik wanita yang merupakan tempat Taehyung bergantung,
'Uangnya sudah kutransfer. Pastikan bahwa kau membuatnya bahagia. Aku akan memantau keadaannya lagi'
.
.
.
To be continued
Hei, halo, maaf tidak update untuk sangat lama, ini semua karena ujian dan segala macam hal lain. Terima kasih untuk yang sudah membaca dan memberi review, aku sayang kalian.
