Disclaimer: I do not own Vocaloid. I only own the idea for this story~


#4-

-The Apartment-


They were planning to save their friends. But when a bigger choice is given to them, would they still continue with the original plan?

—"Even the bravest person could be a coward sometimes..."—


-.-

~Chapter 4~

Lorong bawah tanah ini terasa lebih panjang dari sebelumnya. Meiko, Gakupo, Rin dan Len berjalan di depanku dengan langkah mantap, sementara aku sesekali hampir jatuh tersandung akar pohon.

Tubuhku tidak bisa berhenti gemetaran. Hanya memikirkan bahwa aku akan kembali ke apartemen itu dan kembali bertemu dengan Miku saja sudah membuat sekujur tubuhku merinding ketakutan.

"Pfftt. Dasar penakut."
Rin yang berjalan tepat di depanku tertawa kecil dan memandangku remeh.

Aku menghiraukannya dan terus berjalan, hingga sesuatu kembali terlintas di benakku.
"Bolehkan aku menanyakan sesuatu?"

"Silahkan saja." jawab Meiko.

"Aku masih penasaran… Kenapa kalian begitu yakin bahwa IA dan Gumi masih hidup hanya karena nama mereka belum dicoret di buku milik Mayu itu?"

Kali ini, giliran Gakupo yang menjawab.
"Buku milik Mayu itu seperti buku kematian… Dia mencatat nama-nama semua orang yang pernah masuk ke apartemen itu, dan mencoret nama-nama siapa saja yang sudah mati…"

"Intinya, jika namamu sudah tertulis di dalamnya, kau hanya perlu menunggu waktu hingga kematian datang menjemputmu…" sambung Meiko.

"EH?!"
"T-Tapi kalau begitu… Kalian dan semua orang di markas tadi… Bukankah berarti nama kalian juga ada di buku itu?"

"Benar. Dan justru karena itulah kami ingin mengalahkan Miku… Dia bagaikan dewa kematian yang bertugas mencabut nyawa siapa saja yang namanya tertulis di buku itu. Kami tidak akan bisa hidup dengan tenang sebelum keberadaannya dimusnahkan…"

"Berhenti."
Tiba-tiba Len mengulurkan tangannya ke dinding lorong tanah itu dan kembali memejamkan matanya.

"Ada apa, Len?"

"Miku… Ada di atas kita…"

"EH?! A—"
Sebelum aku sempat berteriak histeris, Rin langsung melingkarkan tangannya di leherku dan membekap mulutku.

"Bodoh! Diamlah!" bisiknya.

Kami semua berhenti bergerak, bahkan bernapas saja terasa susah.
Tanah yang membatasi lorong ini dan area di atas sana tidak terlalu tebal. Katana Miku pasti dapat dengan mudahnya menebas kami jika ia menancapkannya ke tanah di bawahnya.

"Len, bagaimana?" bisik Meiko.

"Gawat… Dia berhenti…"

"Baiklah, ini rencananya."
Meiko kembali berbisik, menjelaskan rencana itu pada kami.
"Kita harus berlari hingga ujung lorong ini. Itu akan membawa kita ke halaman belakang apartemen. Sampai di sana kita baru akan memulai misi ini. Tapi ingat, jangan menimbulkan suara sedikitpun. Nyawa para orang-orang di markas akan berada dalam bahaya jika Miku menemukan lorong ini dan berjalan menuju markas."
"Mengerti?"

Kami berempat menganggukkan kepala.

"Miku masih berhenti. Kita sebaiknya cepat."

"Baiklah. Lari!"

Masih dalam diam, dengan langkah kaki yang diredam, kami berusaha berlari secepatnya tanpa perlu menimbulkan suara. Sesekali aku melihat ke belakang, takut kalau Miku tiba-tiba sudah berada di lorong ini dan mulai mengejar kami.

"Len, dimana Miku?" tanyaku pada Len dengan setengah berbisik.

"Aneh…"
"Miku berbalik ke dalam hutan…"

"Eh?"

"Sudahlah, ini justru kesempatan bagi kita untuk menyelinap ke apartemen itu. Ayo cepat!"

.


.

Tepat seperti perkataan Meiko, setelah beberapa menit berlari, kami sampai di ujung lorong. Di atas kami terdapat sepetak tanah yang sedikit terbuka.

"Baiklah… Ini saatnya… Kalian siap?"

Meskipun Meiko sendiri yang menanyakannya, tangannya yang memegang pistol itu sedikit gemetaran.

.

'Wajar saja kalau kami takut…'
'Ini masalah hidup dan mati.'

'Nyawa kami, nyawa orang-orang di markas, dan mungkin nyawa orang-orang yang nantinya juga akan datang ke tempat ini…'
'Semuanya bergantung pada kesuksesan misi kami ini…'

.

"Len, kau bisa memastikan siapa saja orang di sekitar kita?" tanya Gakupo.

Len mengangguk. Dia kembali memejamkan kedua matanya untuk berkonsentrasi.
"Tidak ada orang di luar. Daerah sekitar kita kosong. Miku masih berada jauh di dalam hutan sana, perlu waktu kurang lebih 30 menit jika ia berlari dari sana menuju apartemen ini. Jalanan kosong. Pintu masuk, aman. Mayu… eh? Mayu… tidak ada di meja resepsionis…"

"Tidak ada?! Bagaimana mungkin? Bisakah kau menemukannya, Len?" tanya Meiko yang nampak sedikit gelisah.

"Entahlah… Aku tidak merasakan keberadaannya…"

"Baiklah… Bagaimana dengan IA dan Gumi? Kau dapat menemukan mereka? Siapa saja orang-orang di apartemen ini sekarang?"

Dengan mata yang masih terpejam, Len nampak semakin berkonsentrasi.
"Lantai satu… Kosong."
"Dua… Tiga… Empat, lima hingga dua belas kosong…"
"Tiga belas… Ada seseorang… Tapi aku tidak tau siapa dia… Hawanya sedikit tersamarkan…"
"Empat belas… Tujuh belas… Dua puluh… Kosong…"
"Dua puluh satu… Ada dua orang yang disekap di ruangan ujung… Mungkin itu mereka… Tapi ada beberapa makhluk yang mengelilingi mereka…"
"Dua puluh dua… Dua puluh tiga… Kosong…"
"Dua… Puluh… Empat… Eh?! A-A-A— A-Ada—"

Len tidak menyelesaikan kalimatnya. Matanya membelalak lebar, dipenuhi rasa takut yang sangat besar. Mulutnya menganga, seolah baru saja melihat sesuatu yang sangat mengerikan. Tubuhnya membatu. Napasnya memburu.

"LEN? Len, ada apa?" Rin yang khawatir langsung mengguncang-guncang tubuh Len.

"Len, apa yang kau lihat?" Meiko berusaha tetap tenang, meskipun aku sadar bahwa tangannya semakin gemetaran.

"Len, tenanglah… Katakan, apa yang kau lihat di lantai dua puluh empat?" tanya Gakupo — satu-satunya orang yang saat ini benar-benar tampak tenang.

Len memejamkan matanya dan menggeleng beberapa kali. Tubuhnya gemetaran.
Dengan sigap, Rin memeluknya dan mengelus-elus punggunggnya, berusaha menenangkan kembarannya itu.
"Tenanglah Len, tenang…"

Perlahan, napasnya kembali teratur. Rin melepas pelukannya, dan Len kembali membuka matanya. Dia menarik napas beberapa kali, berusaha menenangkan diri.
"Di… Lantai dua puluh empat…"
"Ada… Seorang anak kecil… Dia duduk di salah satu tumpukan batubata… Rambut coklatnya diikat dua ke bawah… D-Dia… Memegang sebuah kotak musik hitam…"

Pikiranku mulai menangkap apa yang ingin dikatakan Len.
Tapi aku tidak mau mempercayainya…

.

'Tidak, itu tidak mungkin…'

.

"Di lantai dua puluh empat… Ada… Yuki Kaai…"

.

'Ini mustahil.'

.


.

Rin jatuh terduduk, Meiko menutup mulutnya dengan kedua tangan, Gakupo menyandarkan tubuhnya ke dinding lorong, dan aku hanya bisa berdiri dengan mulut menganga, tidak tau harus bereaksi seperti apa.

Yuki.
Anak yang menyebabkan seluruh musibah ini sekarang ada di apartemen ini.

Bahkan Gakupo yang selalu tenang saja nampak shock mendengarnya.
"Kenapa… Yuki bisa ada di sini…?"

Aku berusaha tetap tenang, dan bertanya,
"Apa… kalian belum pernah melihat Yuki?"

Gakupo menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Tidak ada satupun dari kami yang pernah melihatnya. Bahkan Len tidak pernah merasakan keberadaannya. Ini pertama kalinya…"

Rin mulai panik.
"La-Lalu bagaimana? A-Apa kita kembali ke markas?"

Meiko memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri.
"Tidak. Misi ini tetap akan kita lanjutkan. Justru karena Yuki ada di sini, kita harus segera menyelamatkan IA dan Gumi, sebelum semuanya terlambat."

"Baik!" jawab kami berempat.

.


.

Kami akhirnya keluar dari lorong itu.
Halaman belakang ini ditutupi oleh rumput-rumput yang tingginya mencapai lutut kami.
Perlahan, kami mengendap-endap menuju pintu depan, dan masuk menuju lobby.

Benar kata Len. Lobby kosong. Mayu tidak ada di meja resepsionis.

Kami langsung menuju lift. Sama seperti saat aku pertama ke sini, pintu lift ke-2 langsung terbuka sendiri. Aku langsung berjalan menuju lift itu, tapi Meiko langsung menarik tanganku.
"Jangan. Lift 2 itu terkutuk. Kalau kau sedang tidak beruntung, kau bisa langsung mati saat masuk ke dalamnya."

.

'Hah?!'
'Kalau begitu… Kemarin aku beruntung…'

.

Tak lama, lift 1 terbuka, tapi—

"KY—!" Rin langsung membekap mulutnya sebelum dia sempat berteriak histeris, begitu juga dengan Meiko.

Kami, para pria hanya bisa terpaku pada pemandangan dalam lift itu.

Dinding lift itu dipenuhi dengan cap darah berbentuk telapak tangan, dan di sudut lift tergeletak sebuah mayat anak laki-laki, dengan keadaan tubuh yang tercabik-cabik, sebelah bola mata yang keluar, dan ulat-ulat yang mulai menggerogoti tubuhnya. Bau busuk dari mayat itu langsung menyebar keluar saat pintu lift terbuka.

Dengan terbata-bata, Meiko berkata,
"H-Hiraukan s-saja mayat itu… K-Kita harus… C-Cepat…"

Kami hanya bisa menganggukkan kepala dengan enggan.

Perlahan, dengan rasa takut bercampur jijik, kami masuk ke dalam lift itu. Menutup hidung dan sesekali memejamkan mata. Tentu saja, kami semua merapatkan diri ke pintu keluar — tidak mau dekat-dekat dengan mayat itu dan supaya kami bisa langsung keluar.
Dengan tangan gemetar, Meiko menekan tombol dengan angka "21" di dalamnya.

Pintu lift tertutup, dan kami harus bertahan dalam lift itu bersama dengan mayat seorang anak, hingga lift mencapai lantai 21.

.


.

Segalanya terasa begitu lambat…
Lift baru mencapai lantai 7, padahal rasanya hampir 5 menit sudah berlalu.

Tubuhku mulai menggigil akibat hawa dingin yang menyelimuti lift ini. Sesekali aku merasa bahwa 'mayat' itu 'bergerak'.

Lantai 8… 9… 10… 11… 12…

Tiga belas.

Tiba-tiba lift berhenti, dan lampu penerang lift ini pun mati — meninggalkan kami dalam kegelapan pekat dalam ruangan tertutup bersama sebuah mayat.

Pintu lift tidak terbuka.

Tentu saja, kami panik.

Rin membekap mulutnya, menahan teriakannya, sementara Len merangkul pundak kembarannya itu.
Meiko menekan-nekan tombol panah untuk membuka pintu, tapi hasilnya sia-sia.
Gakupo bersiap mengeluarkan katana yang disarungkan di pinggangnya, mengantisipasi apapun yang akan terjadi.

Lalu…

-krek-

Aku mendengar suara seperti tulang patah.

"S-Suara apa i-itu?!" tanya Rin, setengah berteriak.

-krek-krek-

Sekarang semakin jelas.

"A-Apa yang terjadi?!" Len pun mulai panik.

Dan…

!

Aku merasakan sesuatu yang dingin tiba-tiba mencengkeram pergelangan kakiku.

"GAH!"

"K-Kaito, ada apa?"

Tubuhku bergetar hebat. Berbagai pikiran negatif mulai memenuhi otakku.

"K-K-Kakiku… A-A-Ada… S-Sesuatu…"

Meiko mengambil senter dan menyalakannya, mengarahkannya ke pergelangan kakiku.

Dan…
Kali ini teriakan itu tidak bisa ditahan.

"KYAAAA—!"

Mayat.
Mayat anak laki-laki itu…

Sebelah tangannya yang tercabik itu mencengkeram pergelangan kakiku.
Wajahnya yang sudah tidak berbentuk, penuh sayatan dan darah itu menengadah menatap kami. Dia membuka mulutnya yang sudah digerogoti oleh belatung, dan dengan suara parau, dia berkata,
"To… Tolong…"

Secara refleks dan karena panik, aku langsung mundur dan mengibaskan kakiku, menendang-nendang tangannya, berusaha melepaskan cengkeramannya.

"M-Menjauh! Menjauh dariku!" teriakku, panik.

Kini kami benar-benar merapatkan diri ke pintu lift.

Rin memejamkan matanya dan Len memeluknya, sementara Meiko, dengan tangan yang gemetar hebat menodongkan salah satu pistolnya ke 'mayat' itu, dan Gakupo sudah memegang katananya, bersiap 'menebas'nya kapan saja.

'Mayat' — yang seharusnya sudah mati — itu perlahan mulai merangkak mendekati kami.

"T…Tolong… Aku…"

Aku semakin panik, tidak tau harus berbuat apa.

Ia mengulurkan tangannya, berusaha menggapai kami, tapi…

-DORR!-
-SLASH!-

Meiko langsung menembak kepalanya dan Gakupo langsung menebas tangannya.

Ia kembali tergeletak, diam tak berdaya.

Meiko menurunkan pistolnya, menatap ngeri pemandangan itu. Gakupo kembali menyarungkan pedangnya, menghela napas.

Dan setelah itu…

-Ting-

Pintu lift terbuka.

Kami hampir terjatuh ke belakang karena pintu yang tiba-tiba terbuka itu.

.


.

Lantai 13.
Suasana yang sama seperti saat aku pertama kali datang ke sini.

Sebuah koridor yang cukup panjang, dan gelap.
Lampu yang ada di sepanjang koridor kebanyakan sudah padam. Yang lainnya hanya menghasilkan cahaya remang-remang, dan berkedip terus-menerus.

Bau busuk mengendap keluar dari setiap kamar.
Dan kini aku tau bau apa itu sebenarnya…

Di setiap kamar, pasti tergeletak banyak sekali mayat, mungkin dengan keadaan yang lebih naas dari mayat anak laki-laki di lift itu.

Kami cepat-cepat menjauh dari lift, takut kalau mungkin mayat itu akan bergerak lagi.

Rin dan Len saling merangkul lengan satu sama lain,
Meiko dan Gakupo berpegangan tangan,
Aku? Sendirian.

"Jadi… Bagaimana sekarang, Meiko-nee?" tanya Rin pada Meiko.

"Tidak mungkin kita kembali lagi ke lift itu. Terlalu beresiko."
"Tadi Len bilang kalau dia merasakan seseorang di lantai 13 ini. Mungkin pertama kita bisa menyelidiki itu dulu…"
"Len, dimana orang yang kau maksud itu?"

Len melihat sekitarnya, lalu menunjuk ke ujung koridor.
"Di kamar 49, di kamar Kaito-nii…"

Meiko menghela napas dan mempersiapkan pistolnya.
"Sudah kuduga."

"Eh? Apa maksudmu, Meiko? Apa kau sudah tau siapa yang mungkin masuk ke kamarku?"

Meiko menggelengkan kepalanya.
"Aku masih kurang yakin, tapi kira-kira aku bisa menebak siapa di dalam sana."

"Siapa?"

"Sebaiknya kita pastikan dulu."
"Ayo!"

Dengan hati-hati, kami berjalan menuju ujung koridor, ke kamar 49 — kamarku.

Sesampainya di depan kamarku, pintu itu sedikit terbuka, menampilkan pemandangan kamarku dari sedikit celah pintu.
Kami berdesakan mengintip dari celah itu.

Kosong.

"Eh? Kosong? Len, apa benar ada orang di sini?" bisikku pada Len.

Len mengangguk.
"Iya. Aku yakin ada. Tapi hawanya memang sedikit tersamarkan. Aku tidak tau pasti dimana dia berdiri sekarang."

"Baiklah, ayo masuk!"

Meiko mendobrak pintu itu dan menodongkan pistolnya ke seluruh penjuru ruangan, bersiap-siap menembak kalau tiba-tiba 'sesuatu' muncul.

Kosong.
Tidak ada siapapun.

"Aneh… Tidak mungkin aku salah… Aku benar-benar merasakannya. Ada orang di sini…"

"Sebaiknya kita berpencar mencari di kamar ini. Aku mendapat firasat buruk…" ujar Meiko.

Rin dan Len berjalan menuju kamar mandi, sementara Meiko dan Gakupo memeriksa sudut-sudut ruangan.

Aku mendudukkan diri di sisi tempat tidur. Koper dan ranselku masih tergeletak rapi, tertutup rapat.
Tidak ada benda yang begitu berharga di dalamnya. Hanya pakaian-pakaianku dan beberapa buku. Bukan masalah besar kalau aku meninggalkannya di sini.

Lagipula, sekarang nyawa lebih penting daripada barang-barang itu.

.

"Kaito…"

.

'Eh?'
'Apa barusan seseorang memanggilku?'

.

Aku mengedarkan pandangan.
Meiko, Gakupo, Rin dan Len masih sibuk menyelidiki.

.

"Kaito…"

.

'Bukankah ini… Suara Luka?!'

.

Aku bangkit berdiri dan ikut mencari.

Pandanganku terpaku pada sebuah cermin dinding seukuran manusia yang tergantung di sebelah pintu.
Padahal sebelumnya cermin ini tidak ada…

Semakin lama aku melihatnya, rasanya cermin itu seolah-olah menarikku ke dalamnya.

.

"Kaito… Kemarilah…"

.

Sekilas aku melihat pantulan wajah Luka di cermin itu.

"Lu..ka..?"

Aku berjalan mendekat dan berdiri tepat di depan cermin itu.
Tentu saja, pantulan tubuhku terpantul di situ, dari kepala hingga kaki.

.

"Kemarilah…"

.

Aku mengulurkan tanganku ke cermin itu, menyentuh permukaannya.

Pantulanku di cermin itu sekejap berubah menjadi Luka.
Ia menatapku dari dalam cermin dengan sebuah senyuman pahit.

"Luka?!"

Dari dalam cermin, Luka mengulurkan kedua tangannya keluar dari cermin.
Tangannya menggapai wajahku dan mengelus pipiku lembut.

Tubuhku terasa lemas, tidak mampu digerakkan.

Ia tersenyum manis dan mulai menarikku ke dalam cermin.

Tapi…

-DORR!-
-PRANG!-

"KAITO! SADARLAH!"

Meiko menembakkan pistolnya, meretakkan kaca itu.

Aku jatuh terduduk, bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

Kaca itu retak, tapi Luka masih ada di dalam sana. Darah mulai menetes dari pelipisnya. Ia meringis kesakitan.

"Meiko, apa yang kau lakukan?!"

Bukannya menjawab, Meiko menampar pipiku sekuat tenaga.
"Itu pertanyaanku! Kau kira apa yang kau lakukan?! Dia mempengaruhimu, Kaito! SADARLAH!"

"Eh?"
Aku menoleh menatap Luka dengan tatapan bingung.
"Luka, kau… Kau berusaha mempengaruhiku…?"

"Tidak, Kaito, percayalah! Aku hanya berusaha menyelamatkanmu!" teriak Luka dari dalam cermin.

Meiko membidik pistolnya dan menembakkannya sekali lagi ke paha kanan Luka.
"DIAM KAU, WANITA BRENGSEK!"

"AKH!"
Luka jatuh terduduk, memegangi pahanya yang terkena tembakan Meiko.

"Luka!"

Meiko menggenggam tanganku dan menarikku berdiri, menjauh dari cermin itu.

Rin dan Len kembali dari kamar mandi, dan menatap Luka dengan tatapan jijik bercampur benci dan amarah yang mendalam.

Gakupo langsung mengeluarkan katananya, bersiap menebas 'cermin' itu.

"Kumohon… Dengarkan aku dulu…"

"Kami tidak perlu mendengar apapun dari wanita sialan sepertimu."

"Tapi… Aku ingin menyelamatkan kalian!"

"Pembohong!"
Gakupo mengangkat katananya, bersiap menebas, tapi dengan sigap aku langsung menggenggam pergelangan tangannya dan menghentikannya.

"Tidak bisakah… Kita dengarkan dia dulu?" ujarku ragu.

"Kaito, apa maksudmu?! Dia yang sudah membohongi kita semua! Kalau tidak ada dia mungkin kehidupan kita akan jauh lebih baik!" bentak Gakupo.

"Aku tau, tapi… Untuk kali ini saja… Bisakah kita beri dia kesempatan…?"

.

'Entahlah. Aku tidak tau apa yang sedang kukatakan ini.'
'Yang jelas, aku tidak merasakan adanya kebohongan ataupun niat jahat di balik perkataan Luka.'
'Lagipula, jika dia memang menawarkan bantuan, apa salahnya mencoba mendengarkannya dulu?'

.

Sepertinya Rin membaca pikiranku, karena ia langsung berjalan mendekatiku dan tiba-tiba menampar pipiku.

.

'Hanya dalam waktu kurang dari 5 menit aku ditampar oleh dua wanita…'
'Pria macam apa aku ini?!'

.

"HEI. Aku tidak tau apa yang sudah dilakukan Luka padamu sampai-sampai kau mau mempercayainya semudah ini padahal kau sendiri sudah pernah ditipu olehnya."
"Tapi. Kami semua di sini, dan mereka yang ada di markas pernah mengalami bagaimana rasanya berada di ambang kematian, dan itu semua karena wanita yang sedang kau lindungi ini. Camkan itu baik-baik."

"Tapi… Aku…"

"Gawat! Miku kembali dengan sangat cepat dari dalam hutan!" sahut Len tiba-tiba, membuat kami semua terperanjat.

"APA?! Bagaimana bisa?!"

Meiko langsung menatap tajam Luka, giginya menggertak, dan tatapannya penuh amarah yang mendalam.
"KAU! APA YANG KAU LAKUKAN?!"

Luka sendiri tampak kaget mendengar pernyataan Len. Wajahnya mulai terlihat takut dan sedikit panik.
"A-Aku bersumpah aku tidak melakukan apapun! I-Ini… Ini ulah Yuki! Aku berusaha menyelamatkan kalian!"

-DORR!-
-PRANG!-

Meiko kembali menembakkan pistolnya ke lengan kanan Luka — membuat cermin itu retak dan lengan kanan Luka mulai menetaskan darah.
"Katakan yang sejujurnya atau aku akan mulai menembaki seluruh tubuhmu itu!"

Tapi Luka hanya meringis kesakitan dan menatap kami dengan wajah memelas,
"Kumohon, aku tidak membohongi kalian. Aku benar-benar ingin menyelamatkan kalian…"
"Aku tau segala perbuatanku itu salah, tapi aku punya alasan tertentu untuk melakukannya! Kali ini saja, tolong izinkan aku menebus dosaku itu…"
Luka mulai berlutut dan menundukkan kepalanya pada kami.
"Kumohon…"

"Hei, hei! bagaimana ini?! Miku sudah ada di hutan seberang jalan!"
Pernyataan Len kembali membuat kami panik.

Dengan rasa enggan yang sangat besar, Gakupo menyarungkan kembali pedangnya dan berkata,
"Baiklah. Kali ini saja kami akan mendengarkanmu untuk yang terakhir kalinya. Kalau kali ini kau membohongi kami lagi, maka aku tidak akan segan-segan memotong tubuhmu menjadi potongan-potongan kecil."

Mendengar pernyataan itu, Luka menengadahkan kepalanya dan menatap kami dengan senyuman lega yang benar-benar nampak tulus bagiku.
"Baik!"

"Tch."
Meiko tetap menggenggam erat sepasang pistol di kedua tangannya, nampak jelas bahwa dia tidak akan percaya begitu saja.
"Jadi, bagaimana caramu menyelamatkan kami, hah?" tanyanya kasar.

Luka bangkit berdiri dan menyentuh permukaan cermin itu dengan kedua tangannya. Ia menggumamkan sesuatu seolah sedang membaca mantra, dan sekejap cermin itu nampak transparan, seolah tidak ada kaca penghalang di antaranya.
"Masuklah. Kalian lebih aman di dalam sini."

Dengan ragu-ragu, dan senjata yang siap sedia di tangan, kami pun perlahan melangkahkan kaki memasuki cermin itu.
Saat kami berlima sudah masuk di dalamnya, Luka kembali melakukan hal yang sama, dan cermin itu pun kembali memunculkan kacanya, membatasi kami dengan dunia luar.

Aku baru menyadari bahwa 'tempat di dalam cermin' ini sama persis dengan kamarku tempat kami sebelumnya berada.

"Ini… Kamarku?"

"Ya. Tepatnya, ini kamar nomor 49 saat tragedy itu belum terjadi. Aku mempunyai kemampuan spriritual yang berhubungan dengan cermin. Kemampuan ini memampukanku untuk berjalan kembali ke masa lalu melalui dunia di dalam cermin yang terhubung dengan dunia asli."

"Maksudmu… Ini seperti time travel?"

"Tidak, ini berbeda. Aku hanya mampu memanipulasi dunia yang dipantulkan di dalam cermin menjadi dunia pada masa lalu, dan masuk ke dalamnya. Mirip seperti konsep time travel yang kembali ke masa lalu, tapi tidak persis sama."

"Aneh… aku tidak merasakan Miku ataupun Yuki dimanapun… Yang kurasakan hanyalah orang-orang — manusia hidup — yang tidak terhitung jumlahnya, di setiap kamar, di setiap lantai… Bahkan semua bangunan di sekitar sini ramai dikelilingi manusia!" sahut Len dengan takjub.

Dengan nada dingin, Gakupo bertanya,
"Lalu, sebenarnya, kau ini apa? Kekuatan seperti ini tidak seharusnya dimiliki manusia biasa… Mungkinkah kau homunculus atau sejenisnya?"

Luka menggelengkan kepalanya.
"Tidak. Bisa dibilang aku hanyalah seorang penjelajah waktu melalui cermin. Aku datang dari masa depan yang jauh dari masa sekarang. Tapi karena terlalu sering memasuki cermin-cermin dan melintasi berbagai waktu dan zaman, aku sudah lupa dimana waktu milikku yang seharusnya. Akhirnya aku terjebak dalam dimensi waktu dan tidak bisa kembali ke masa depan. Kekuatanku hanya memampukanku untuk kembali ke masa lalu, dan tidak lagi mengizinkanku untuk menjelajahi masa depan."

"Terakhir kali aku menggunakan kekuatanku, aku terjebak di masa ini, di apartemen ini, saat tragedy ini terjadi. Tragedy ini terlalu mengerikan, tapi aku ingin mencari tahu kebenarannya dan akhirnya tanpa sadar aku terus mengulang hari saat tragedy itu terjadi hingga gambaran itu tercetak jelas di benakku. Itulah alasan kenapa aku bisa menjelaskannya begitu mendetail pada kalian semua."

"Selama ini aku tidak tau harus berbuat apa dan hanya menjadi penonton… Tapi, lama-kelamaan, aku sadar bahwa hal ini tidak bisa dibiarkan begitu saja… Tidak ada orang di kota yang mau membantuku, jadi, dengan terpaksa, aku… memanfaatkan kalian… Aku sengaja mengatur pertemuan dengan orang-orang yang dibawa ke apartemen ini dan sengaja menceritakan kisah ini pada mereka. Aku tau nantinya mereka akan membenciku, tapi dengan rasa takut yang ditimbulkan Miku dan mungkin rasa kasihan dengan nasib para penghuni sebelumnya, aku berharap suatu saat akan ada seseorang yang mau membalaskan dendam pada Yuki, pada apartemen terkutuk ini. Tapi Miku selalu datang dan menghancurkan segalanya…"

"Hingga akhirnya kalian memutuskan untuk datang ke sini."

Kedengaran tidak masuk akal, memang. Tapi aku benar-benar merasakan kejujuran dan ketulusan di balik setiap kata yang diucapkannya.

Luka tau dia akan dibenci, tapi dia terus bertahan selama ini, menunggu seseorang untuk mengakhiri lingkaran tragedy ini.
Dia bisa saja kembali ke masa lalu yang lebih damai, jauh dari kekacauan seperti ini, tapi dia memilih untuk tinggal. Karena dia peduli.

"Kau tidak berbohong, kan? Selama ini, kau tidak pernah membohongi ataupun menipu kami… Iya kan?" tanyaku.

Dengan sedikit enggan, perlahan Luka menganggukkan kepalanya.

"Tch. Aku kesal pada diriku sendiri karena saat ini aku benar-benar percaya padamu." ujar Rin.

"Jadi, kembali ke topik awal. Kau sekarang telah membawa kami ke masa lalu. Apa maksudmu menyelamatkan kami itu adalah dengan membiarkan kami tinggal di masa ini, hingga Yuki datang dan menghancurkan semuanya lagi?" ujar Meiko sinis.

Mau bagaimanapun, sepertinya dia tetap tidak mau merendahkan harga dirinya untuk mempercayai Luka…

Luka menggelengkan kepalanya.
"Justru karena itu. Besok Yuki akan datang ke apartemen ini. Saat itu tiba, dia hanyalah anak kecil biasa yang sangat polos, tanpa niat jahat sekecil apapun. Bahkan hingga sekarang aku belum tau alasan bagaimana caranya dia bisa memanggil Miku dan menjadi keji seperti sekarang."
"Jadi, aku ingin kalian untuk… Membunuhnya… Sebelum dia mulai berubah…"
"Aku tau, tidak akan mudah untuk membunuh seorang anak kecil polos yang tidak tau apa-apa… Tapi ini juga demi menyelamatkan masa depan. Jika kalian berhasil, maka tragedy-tragedy di masa depan, teman-teman kalian tidak perlu mengalami trauma mendalam akibat apartemen ini. Semuanya akan kembali damai…"

"Tapi, bukankah itu berarti merusak dimensi waktu? Kalau ada yang berubah di masa lalu, banyak hal di masa depan yang akan berubah drastis. Mungkin kami selamat, tapi mungkin akan ada peristiwa buruk lain yang terjadi… Lagipula, tujuan awal kami adalah untuk menyelamatkan teman kami, Gumi dan IA. Kami tidak bisa membiarkan mereka begitu saja…" jelas Gakupo panjang lebar.

Luka menundukkan kepalanya, merasa bersalah.
"Aku mengerti… Karena itulah, ada konsekuensinya…"
"Seperti perkataanmu, dimensi waktu akan rusak. Jadi, sebagai konsekuensi karena merusak dimensi waktu, jiwa kalian akan terjebak dalam 'waktu'. Kalian bisa saja dipermainkan oleh waktu, dilemparkan ke masa depan ataupun masa lalu kapan saja. Kalian mungkin akan dibawa ke akhir zaman, atau mungkin ke awal penciptaan, dan terus menerus jiwa kalian akan terus dibawa mengelilingi waktu, secara acak. Terus menerus menjadi penonton, hingga jiwa itu menjadi bagian dari 'waktu'… Hingga kalian tidak memiliki kesadaran akan siapa diri kalian…"
"Mengerikan, memang. Tapi hanya ini satu-satunya cara jika kalian ingin menyelamatkan semua orang, mencegah kematian orang-orang di apartemen ini…"

.

'A-Apa katanya…?'

'A-Apa itu berarti… J-Jiwa kami… Akan hancur…?'
'Sama saja dengan meninggal, kan? Tapi… Ini bahkan lebih buruk…'

'Aku tidak akan sanggup jika harus benar-benar melihat akhir zaman…'
'Atau jika jiwaku dilempar ke tengah peperangan, melihat kematian orang-orang tanpa dapat berbuat apapun…'

.

"JANGAN BERCANDA! Kau kira kami mau menerima konsekuensi gila semacam itu?!" bentak Meiko.

Rin dan Len bergidik ngeri, seolah saling bertukar pikiran akan apa yang mungkin menimpa mereka.
Bahkan aku dapat melihat tangan Gakupo yang gemetaran.

"Aku tau. Aku tau ini ide gila. Tapi jika kalian mau menyelamatkan semua orang—"

"Tidak harus semua orang, kan?" Aku menyela.

"Eh? Apa maksudmu, Kaito?"

"Maksudku, kami bisa saja kembali ke masa sekarang dan… Membunuh Yuki di sana… itu juga akan menyelamatkan masa depan… Kita tidak harus menyelamatkan orang-orang yang memang seharusnya sudah mati ini, kan? L-Lagipula… Mungkin mereka memang sudah ditakdirkan untuk mati… Untuk apa kami repot-repot mengorbankan diri demi mencegah kematian mereka…?"
Suaraku serta tubuhku bergetar. Aku sepenuhnya sadar betapa egois perkataanku ini. Tapi, diliputi rasa takut membayangkan nasibku sendiri, kata-kata itu mengalir begitu saja dari mulutku.

Luka menatapku dengan tatapan tidak percaya.
"K-Kaito kau—"

"D-Dia benar. Kami bisa saja kembali ke masa sekarang. Lagipula, kami hanya memerlukan Gumi dan IA untuk mengalahkan Miku dan membunuh Yuki."
Meiko kembali menyela.
Walaupun dia mengatakannya dengan suara tegas, aku dapat melihat keraguan yang terpampang jelas di wajahnya.

"Memangnya kau yakin kalau sebuah homunculus buatan manusia biasa dapat mengalahkan makhluk seperti Miku yang bahkan tidak jelas darimana asalnya?! Miku bukan homunculus biasa!"
"K-Kalian… Kalian tega membiarkan lebih dari seratus orang di apartemen ini mati begitu saja… Padahal kalian memiliki kesempatan untuk menyelamatkannya…?"
Luka merasa dikhianati. Terpampang jelas di wajahnya dari caranya memandang kami.

Kami berlima hanya bisa diam, tak mempunyai kata-kata untuk membalas.
Saat di markas, wajah-wajah orang yang kulihat, terutama Meiko dan Gakupo bagaikan wajah orang yang siap menghadapi apapun, bahkan mungkin maut sekalipun.
Tapi kenyataannya, sekarang, bahkan Gakupo yang selalu tenang itu sedikit gemetaran, dan wajahnya jelas menunjukkan seberkas rasa takut disertai rasa bersalah. Sementara Meiko pun tampak ragu.

Saat dihadapkan pada sebuah pilihan, manusia mana yang mau memilih kematian, saat ada pilihan lain selain harus mati?
Walaupun terdengar egois, tapi memang seperti itulah sifat asli manusia…
…Iya, kan?

-setidaknya itulah yang kupikirkan, hingga…-

"Aku akan melakukannya. Aku akan tinggal di sini dan membunuh Yuki."

-…Len menawarkan dirinya sendiri pada 'kematian' itu…-

"LEN? Kau serius?!" ujarku, panik.

Len hanya menganggukkan kepalanya dengan tenang.
"Aku serius. Dengan kemampuanku, aku dapat mengetahui keberadaan orang lain secara akurat. Bukan masalah bagiku untuk mengendap-endap dan membunuh Yuki diam-diam."

"B-Bukan itu maksudku… K-Kau… K-Konsekuensinya…"
Aku tidak sanggup menyelesaikan kalimatku. Tatapan kedua mata Len tidak menunjukkan keraguan sedikitpun — membuatku sedikit merinding.

"Aku tau itu konsekuensi yang sangat berat. Tapi jika dibandingkan dengan banyaknya nyawa yang akan selamat, jiwa seseorang sepertiku tidak ada bandingannya."
Len tersenyum lembut, lalu melanjutkan,
"Lagipula, aku menyayangi orang-orang di markas… Mungkin ini satu-satunya cara bagiku untuk membalas kebaikan mereka yang sudah menyelamatkanku…"

"Len… Aku juga ikut denganmu…" ujar Rin yang sedari tadi merangkul lengan Len.

Len kembali tersenyum lembut dan mengelus kepala saudara kembarnya itu.
"Tentu. Kita akan selalu bersama, kan?"

Aku menelan ludah. Sebagai yang lebih tua, tentu aku merasa malu karena kalah oleh anak yang jauh lebih muda dariku.
Dan sebenarnya… Alasan Len ada benarnya juga…

Bahkan jika aku tinggal di dunia ini, aku tidak akan punya 'rumah' untuk kembali. Aku hanya bisa menunggu waktu hingga Miku datang dan menghabisi nyawaku…

Keluar dari kota ini juga merupakan pilihan. Tapi jika orang-orang seperti kami memang bisa keluar dari sini, aku yakin orang-orang di markas pasti sudah melakukannya sejak dulu…
Yah, keluargaku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Kerabat dekatku juga tidak ada yang pernah menanyakan kabarku, kecuali pada saat pemakaman keluargaku.

Bahkan jika seseorang sepertiku menghilang dari dunia ini… Mungkin tidak akan ada yang merindukanku, kan?

Aku mengepalkan tangan, mempersiapkan mentalku.
Dengan segenap keberanian dan sedikit rasa ragu, akhirnya aku berkata,
"Aku… Juga ikut."

Mendengar pernyataanku, Meiko dan Gakupo menatapku dengan mata membelalak.
"Kaito?! Kau yakin?!"

Aku menganggukkan kepalaku perlahan.

Luka tersenyum padaku.
"Aku tau kau berbeda, Kaito…"

Luka balik menoleh pada Meiko dan Gakupo.
"Jadi, sepertinya kalian akan tetap tinggal di sini, benar?"

Meiko hanya memalingkan wajah, terlihat ragu.
"Sejak awal, misi kami hanyalah untuk menyelamatkan teman-teman kami, Gumi dan IA. K-Kami tidak akan membiarkan mereka di sini begitu saja."

Mendengar pernyatan itu, Luka menghela napas.
"Aku tidak punya hak untuk memaksa kalian. Tapi aku ingatkan, makhluk yang mengelilingi mereka di lantai 21 itu bukanlah hantu ataupun mayat hidup biasa. Kekuatan mereka hampir sama dengan Miku. Kalian yakin mau menghadapi beberapa makhluk seperti itu sekaligus? Kesempatan untuk menang jika kalian mengambil jalan itu hanyalah 1%. Dan lagi, tidak ada jaminan kalau nantinya Yuki akan kembali memainkan kotak musiknya, dan tragedy yang sama akan terulang lagi."

Gakupo mengusap tengkuknya, bergidik ngeri.
"Kami… Akan tetap tinggal."

Awalnya kukira mereka berdua lah orang yang paling pemberani di antara semuanya, tapi… Rasanya aku sedikit kecewa…

"Baiklah, jika itu keputusan kalian…"
Luka menuntun mereka kembali ke depan cermin, dan mengucapkan mantra yang sama seperti tadi.
"Aku akan langsung menghubungkan cermin ini ke lantai 20. Kalian bisa menaiki tangga ke lantai 21, tapi jangan lagi menaiki lift."

Cermin itu kembali 'terbuka', menampakkan sebuah ruangan gelap dengan bau busuk yang sangat menyengat.
"Ini kamar di ujung lantai 20. Berhati-hatilah."

Sebelum keluar, Meiko dan Gakupo sempat berbalik pada kami, menatap kami nanar dengan sebuah senyuman pahit terukir di bibir mereka.
"Selamat tinggal, Rin, Len… Kaito…"

Cermin itu 'menutup' kembali saat mereka sampai di luar sana.

"Jadi… Yuki akan ke sini besok. Sekarang hari sudah sore. Hingga saat itu, mungkin kalian bisa beristirahat sejenak di kamar ini. Tenang saja, kamar ini masih bersih."

Aku menganggukkan kepala dengan enggan, dan berjalan menuju jendela, menghirup napas dalam-dalam.

Benar. Ini masa lalu, sebelum tragedy itu terjadi.
Orang-orang berkeliaran di jalanan, anak-anak bermain-main di halaman depan, parkiran penuh akan kendaraan, bahkan lalu lintas nampak padat di jalanan itu. Di kiri dan kanan, nampak bangunan-bangunan cantik yang masih ramai ditinggali orang.

Semuanya nampak begitu hidup jika dibandingkan dengan suasana aslinya di masa sekarang…

Aku merebahkan diri di tempat tidur, mencoba untuk merilekskan tubuhku dan menghilangkan rasa takut yang masih melandaku hingga sekarang.

Perlahan, mataku mulai terpejam, dan tak lama aku pun terlelap…
…Menunggu hari esok yang akan menentukan semuanya…


*End of Chapter 4*

*to be continued*