Laki-laki itu menatap langit cerah. Menerawangi sayap-sayap indah di angkasa. Sedikit berbisik apakah hari baik akan datang atau tidak. Terkadang sesekali menggulirkan bola matanya kepada para objek di atas sana. Sedikit mendengus dengan sedihnya, bahkan untuk mencoba menarik sudut bibirnya saja terasa kaku.
Hari ini begitu buruk.
Dia bolos.
Dan berkelahi.
Dia melenguh merasakan ngilu di sekujur tubuhnya. Tubuh kurusnya kini bertato luka-luka dan memar-memar. Tak lupa pula sudut bibirnya tampak membiru, bahkan bibirnya sobek. Napasnya yang memendek belum bisa pulih kembali dikarenakan dia baru selesai berlarian. Kemudian kelopak matanya yang sudah tampak menggembung itu dia tutup, membenamkan iris kelam yang indah itu ke dalamnya. Dia mendengus kembali dan sedikit berdoa, berharap hari berikutnya akan kembali membaik.
.
Naruto © Masashi Kisimoto. Story © Archmblt MinMi
All characters and cameo belongs to God
T(+) – for all (Ini beneran!)
Italic = flashback. DLDR.
[Please always read my special note behind—at the end of the story.]
.
Sasuke memarkirkan mobil hitamnya ke dalam bagasi mobilnya. Dia melenguh sejenak merasakan mual dan perutnya terasa terombang-ambing. Dari balik kaca atas mobilnya dia menatap dirinya yang semakin kurus. Dia memegangi tengkuknya untuk memamerkan pipi cekungnya yang tidak bergairah kemudian melihat matanya yang sekarang sudah di lingkari oleh garis hitam.
Dua hari kabur dari rumah dan beginilah jadinya dia. Salahkan Naruto sialan itu yang mengajaknya ikut ke bar dan bermanja-manja dengan uang demi kepuasan nafsu hingga hasilnya seperti ini.
Jemari panjang Sasuke mulai membuka pintu mobilnya. Hari ini masih pagi, sekitar pukul empat pagi dan Sasuke baru pulang dari acara mabuk-mabukkannya. Setelah pintu mobilnya menutup kembali, Sasuke mengacak-acakkan rambutnya yang memang sangat acak-acakkan itu kemudian menguap dengan dalamnya, sungguh selama dua hari dia benar-benar tidak tidur.
Sasuke meraih tasnya dan menyentuh benda logam, kemudian mengambilnya dan memasukkannya ke dalam lubang kunci pintu rumahnya. Saat terasa sudah tidak terkunci lagi, Sasuke langsung memutar kenop pintunya dan memasuki rumahnya yang sebenarnya memang tidak mau dia masuki lagi. Dia benar-benar akan pergi dari rumah itu sampai wanita yang menempati rumah itu pergi, namun dia akan benar-benar pergi setelah mengambil beberapa barang-barang pribadinya yang masih tertinggal di dalam rumah itu.
Saat kakinya hendak menaiki anak tangga ke lima, suara pintu di buka terdengar dan tampaklah wanita yang sangat teramat tak ingin Sasuke lihat. Wanita itu tampak menutup mulutnya dengan tangkupan kedua tangannya, dia terkejut, benar-benar sangat terkejut.
Sasuke yang awalnya menggantungkan jalannya pun langsung berjalan dengan hentakkan-hentakkan keras guna meninggalkan wanita yang tengah berlari menghampirinya.
Wanita itu akhirnya dapat meraih bahu Sasuke yang langsung ditepis Sasuke kasar. "Sasuke, kamu dari mana saja? Kamu tidur dimana? Terus kenapa kamu bau alkohol?" pertanyaan over itu sungguh membuat Sasuke mual.
Sasuke tersenyum sinis kemudian membalikkan tubuhnya dan menghadap wanita yang berpredikat sebagai ibunya. "Dua hari aku tidak pulang dan kamu sudah secrewet ini? Bayangkan saja jikalau kamu jadi aku yang ditinggal delapan tahun, aku yakin kamu pasti berpidato setiap detik," ledek Sasuke yang tepat mengenai hati ibunya.
Ibunya sadar kalau yang diucapkan Sasuke itu benar, sungguh demi Tuhan itu sangat benar. Tetapi dia masih belum bisa menjelaskan detail-nya kepada Sasuke alasan mereka semua pergi meninggalkan keluarga tanpa kabar.
Mikoto mencoba menampilkan senyum terbaiknya. "Ibu minta maaf. Sungguh, kepadamu dan Itachi."
Lirihan Mikoto sukses membuat Sasuke meremas kedua bahu ibunya dengan keras yang menyebabkan ibunya teriak dengan kencangnya. "Tidak usah menyebut nama kakakku dengan mulutmu!" teriakan Sasuke benar-benar membuat Mikoto takut.
Genggaman Sasuke pada kedua bahu ibunya pun melonggar dan Sasuke kembali berjalan dengan angkuhnya. Sasuke benar-benar tidak suka dengan ibunya yang menyebut-nyebut nama Itachi seakan dia kenal dengan Itachi.
"Lupakanlah soal Itachi dan biarkan dia hidup tenang di sana," Mikoto tidak bisa mengajak kompromi mulutnya dan keluarlah begitu saja kalimat itu.
Mata Sasuke tampak memanas. Amarahnya benar-benar tersulut ketika mendengar ucapan ibunya yang sangat tidak pantas ia dengar dari seorang Mikoto Uchiha. Sasuke kembali membalikkan tubuhnya dan saat tepat di depan ibunya, Sasuke membisikkan sesuatu.
"Aku bahkan tidak mendapat permintaan maafnya dikarenakan kalian. Kalau saja aku tidak kabur karena pertengkaran bodoh yang disebabkan oleh kalian, aku tidak akan menjadi pendosa."
Tubuh langsing Mikoto menegang mendengarnya. Butuh waktu sepersekian detik baginya supaya bisa benar-benar mencerna maksud ucapan anaknya. Sedangkan Sasuke hanya tersenyum miris kemudian berjalan untuk pergi dari sana, tanpa membawa barang yang awalnya ingin dia bawa. Dia membiarkan Mikoto yang mulai merosot tentang ucapan Sasuke.
"Sasuke.. hiks," lirihnya dibarengi dengan lelehan matanya yang satu persatu mulai menodai pipi mulusnya yang cantik.
Sasuke tak menggubris tangisan ibunya, dia tetap meninggalkan rumah itu dan memasuki mobilnya yang berwarna abu-abu kemudian melengos pergi.
Waktu yang dibutuhkannya hanya memakan waktu kurang lebih dua jam, mengingat Sasuke yang kebut-kebutan di jalan—padahal perjalanannya benar-benar jauh. Kemudian sampailah dia di sebuah sekolah tak terawat.
Keadaan sekolah itu benar-benar miris dan menyeramkan. Gerbang sekolahnya saja sudah penyok dan berkarat. Belum lagi gedung sekolahnya yang cat warna putihnya sudah pudar dengan banyak coretan di sana sini. Lapangannya yang banyak sampah, dan masih banyak kerusakan lainnya. Sekolah yang sungguh berbeda dari sekolah Sasuke yang terawat dan asri.
Sasuke menyembul dari balik mobilnya dan menutupnya keras. Beberapa murid laki-laki—karena memang sekolah khusus laki-laki—sudah mulai berdatangan ke sana. Sasuke melirik arlojinya yang berada di tangan kirinya dan mesin penunjuk waktu itu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi.
Jemari panjang Sasuke merogoh saku celanannya yang mencetak benda persegi panjang. Sasuke mengambil sebatang rokok kemudian menyulutnya dan menghisapnya dalam lalu mengeluarkan asapnya sembari mendesah.
Sasuke menyelipkan rokoknya di ujung bibirnya kemudian menggerakkan kaki jenjangnya ke arah gerbang sekolah itu. Beberapa orang yang melihat wajah Sasuke langsung lari pontang-panting dan hal itu yang membuat Sasuke menyeringai tajam, dia benar-benar ditakuti sekarang.
Saat kaki kanannya menginjakkan area sekolah, dua orang bertubuh besar menghalanginya. "Ada perlu apa kamu, Uchiha?" tanya seseorang yang berambut gondrong guna mencoba berbasa-basi.
Sasuke menghembuskan asapnya dan mengenai wajah keduanya. "Mencari si botak."
Urat-urat pada lengan keduanya berkedut, dengan sekali gerakan mereka sukses mengunci pergerakan Sasuke dan menangkap Sasuke agar digiring masuk ke dalam ruangan big boss mereka. Apa yang dilakukan Sasuke? Dia hanya mengikuti kemauan mereka semua, karena tujuannya memang hanya ketua botak mereka berdua.
Sesampainya mereka di tempat yang dimaksud, Sasuke dilemparkan mereka dengan kasar sehingga tampak bersujud di hadapan ketua botak itu. "Kamu kemari karena mau minta ampun?" ledek si botak itu pada Sasuke.
Sasuke mengangkat kepalanya kemudian meludah di sepatu si botak karena tidak terima atas penghinaannya. "Aku kemari agar rambutmu tumbuh kembali," Sasuke bangkit kemudian menatap tajam orang yang duduk dengan angkuh itu. "Kemudian membotakkannya kembali."
Kepala botak itu tampak berkedut karena ucapan Sasuke dan hal itu yang membuat dia berdiri dan mulai maju untuk meninju Sasuke. Satu tinjuan di pipi kiri berhasil Sasuke hindari, namun tendangan di perutnya membuat Sasuke khilaf, pijakannya serasa hilang dan pandangannya mengabur. Ini semua salah alkohol dan hey perutnya kembali mual.
Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya keras guna menepis pandangan kaburnya. Kini dia yang melancarkan serangan. Dua pukulan kanan-kiri berhasil dihindari si botak, namun satu tinjuan di bahunya tidak dapat dia elakkan, membuat si botak terjungkang ke belakang dengan menubruk kursinya yang tadi di dudukinya.
Agar tidak menepis kesempatan ini, Sasuke langsung menarik kerahnya dan memberikan tinjuan tubi-tubi di wajahnya. Berulang kali dan tanpa ampun. Sasuke mencurahkan rasa sakit hatinya pada wajah jelek di depannya yang mulai babak belur karena tinjuan kerasnya.
Tak lama kemudian, giliran Sasuke yang terjungkang, karena lututnya berhasil ditendang oleh si botak yang tak kalah kuatnya. Posisi jatuhnya Sasuke tidak menguntungkan, dia terjatuh dengan belakang kepalanya yang mengalami benturan sehingga pandangannya kembali kabur.
Si botak berjalan ke arah Sasuke kemudian menendang-nendang tubuh ringkih Sasuke dengan ganasnya. Tak lupa dia memijak-mijak perut Sasuke sehingga Sasuke kembali mual. Untuk yang kali ini, rasa mualnya betul-betul memuncak, menyebabkan Sasuke yang mengeluarkan isi perutnya di sana.
Si botak menatap Sasuke jijik. "Tidak kusangka orang yang katanya kuat itu selemah ini," hina si botak pada Sasuke.
Sasuke yang tidak berdaya pun kembali bangkit dan menepuk pipinya kuat sehingga kesadarannya kembali berkumpul dan kemudian bersiap memukul. Mereka berkelahi sangat lama. Sudah sekitar satu jam dan belum ada yang merasa kalah. Keduanya benar-benar dikontrol oleh emosi yang memuncak.
Pada akhirnya Sasuke tumbang dengan tinjuan di tulang rusuknya. Sasuke memegangi tulang rusuk bagian kanannya dan mengusap-usapnya kemudian melenguh karena benar-benar nyeri. Seburuk inikah Sasuke? Sasuke mengepalkan tangannya kemudian memukul marmer yang sudah banyak ceceran darah.
Ah, hidup Sasuke benar-benar hancur sekarang. Benarkah dia melemah? Mengapa dia begitu gampangnya dikalahkan? Lihatlah si botak yang jelek itu yang kini memamerkan deretan gigi putihnya yang dipenuhi darah. Dia merasa bangga karena akhirnya bisa mengalahkan Sasuke setelah sekian lama menjadi musuh.
Tepukan tangan riuh terdengar menyeruakkan ruangan itu. Si botak itu benar-benar dielu-elukan sekarang. Banyak sekali murid-murid sekolah ini yang menyaksikan pertarungan Sasuke dan big boss mereka. Guna tidak menurunkan kepopularitasannya, si botak itu meraih kerah belakang baju Sasuke kemudian menyeret Sasuke. Dia menjatuhkan Sasuke di lapangan Sekolah yang busuk itu.
"AAAAAAA! INILAH AKU! YANG PALING HEBAT!" teriakan kekanakan itu mendapat banyak pujian. Sungguh Sasuke benar-benar ingin menggerakkan badannya dan menghajarnya, namun keadannya sudah tidak berdaya.
"SASUKE UCHIHA KINI RESMI MENJADI ANAK BUAHKU!" teriaknya kembali dan Sasuke mulai menggelemetukkan giginya geram. Perlahan-lahan dia mencoba membangkitkan tubuhnya yang sudah sakit dan akhirnya dapat berdiri walaupun benar-benar lemas.
Si botak itu merasakan keberadaan Sasuke di belakangnya dan kemudian berbalik, sedikit menatap Sasuke horor. "Kenapa kamu masih bangun?" kemudian dia maju hingga jaraknya pada Sasuke hanya berjarak dua kaki. "Dasar anak buangan."
Ucapan itu sukses membuat tengkuk Sasuke mengeras. Tatapan pembunuh Sasuke kini benar-benar aktif mengunci targetnya yang kurang hajar itu. Bagaikan mendapatkan energi tambahan, Sasuke benar-benar melupakan rasa sakitnya dan kembali berkelahi dengan si botak yang langsung membuat jarak di antara mereka.
Mereka berkelahi kembali. "O-oi. Tadi kamu sakit dan sekarang sekuat ini—akh." Apa yang diucapkan si botak itu benar. Sasuke benar-benar menghujati tubuh besar itu dengan kekuatan dua kali lipat dari yang awal. Salahkan dirinya sendiri yang sukses membuat Sasuke tersulut.
Darah dibayar darah, nyawa dibayar nyawa. Sasuke pun mengakhiri perkelahian ini dengan menumbuk kuat-kuat tulang rusuk bagian kanannya si botak itu hingga si botak itu pun tumbang dan akhirnya tidak sadarkan diri.
Napas Sasuke memendek, dia tersenggal-senggal. Sesaat setelah Sasuke selesai berkelahi, puluhan orang langsung menyerbu area lapangan, entah itu membawa big boss mereka atau menghajar Sasuke yang sudah menumbangkan big boss mereka.
Kini energi Sasuke habis. Dia benar-benar mengurasnya saat perkelahian yang kedua, sehingga dia biarkan saja jikalau ada yang mau menghajarnya. Dan benar saja, banyak sekali hantaman di badannya yang sudah sakit.
Puluhan tinjuan menghujaminya dan puluhan kali pula dia menggeram kesakitan. Tak lama setelah penderitaannya, suara sirine mobil polisi terdengar. Bunyi itu sukses memporak-porandakan keadaan sekolah itu. Puluhan siswa yang mengeroyok Sasuke mulai berlarian menjauhi arah lapangan. Sasuke pun begitu, sekuat tenaga dia berlarian tak tentu arah agar tidak ditangkap dan diadukan ke sekolahnya.
Kemudian Sasuke dapat bernapas lega saat mendapati sebuah taman dan menghempaskan badannya asal di rerumputan kemudian kembali mencoba menstabilkan napasnya.
.
CHOCOLATE CHERRY
.
Sepertinya Tuhan tidak mendengar doa Sasuke. Kali ini dia kembali tertangkap oleh polisi yang menemukan Sasuke yang tidak berdaya sedang tertidur di rerumputan taman. Sehingga akhirnya dia dijemput oleh wali kelasnya dan inilah Sasuke.
Sasuke sekarang sedang berjalan di koridor sekolahnya di lantai satu. Langkah kakinya mengarah ke arah ruang kesehatan. Banyak sekali gadis-gadis penggila Sasuke yang meringis ketika mendapati Sasuke yang sedang dibantu berjalan oleh Kakashi sensei. Luka Sasuke yang kali ini benar-benar serius dan banyak sekali gadis-gadis yang hampir menangis melihat pangerannya yang amburadul seperti sekarang.
Kakashi mendudukkan Sasuke di atas ranjang ruang kesehatan dan mempersilahkan Shizune sensei—dokter sekolah—mengobati Sasuke sedangkan dia memilih untuk mengamati di daun pintu ruangan kesehatan.
Shizune datang tergopoh-gopoh dengan peralatan medis kemudian membukanya dan menyuruh Sasuke membuka bajunya. Sasuke menurut dalam diam dan melepaskan kancing baju putihnya yang sudah kumal satu per satu kemudian menampilkan sederet luka yang membuat Shizune meringis sendiri.
Jemari lentik Shizune telaten mengobati luka-luka mengerikan Sasuke. Biarpun dia tidak mengobatinya seperti dokter spesialis, setidaknya pertolongan pertama dibutuhkan. Setelah selesai membalur luka, Shizune langsung berlarian ke arah Kakashi yang termangu di daun pintu.
"Kurasa dia perlu dilarikan ke rumah sakit," ucap Shizune was-was.
Kakashi menggeleng. "Tidak bisa sebelum dia menemui Kepala sekolah."
Kakashi menggerakkan kakinya dan menghadap Sasuke. "Ayo, Kepala sekolah menunggumu," ucapnya dan Sasuke hanya menurut dan berjalan kembali dengan tertatih-tatih kemudian di bantu oleh Kakashi.
Kakashi membiarkan Sasuke berjalan sendiri setibanya mereka di ruangan yang mereka maksud. Sasuke hati-hati meraih kursi di depan meja Kepala sekolah dan kemudian mendudukinya dengan sangat pelan.
Air muka Kepala sekolah benar-benar tidak bisa didefinisikan lagi. "Kamu benar-benar membuatku sakit," ucapnya penuh penekanan, sedang si pendengar hanya memerdulikan luka-lukanya yang sangat menyakitkan.
"Aku tidak bisa berbuat apa-apa lagi," Kepala sekolah pun menyodorkan selembar surat keterangan drop-out untuk Sasuke. "Sesuai perjanjian, kamu harus keluar dari sekolahku."
Sasuke meraihnya tanpa penolakan, kemudian memundurkan kursinya dan pergi keluar tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Hal itu membuat Kepala sekolah menggebrak mejanya kesal dengan sikap Sasuke yang makin hari makin kurang hajar itu dan kemudian mengabsen nama makhluk kebun binatang dengan kencangnya, tetapi sayang sekali karena Sasuke menulikan pendengarannya.
Sasuke berjalan menuju kelasnya untuk sekedar mengambil barang-barangnya yang tertinggal di loker kelas dan mungkin mengucapkan salam perpisahan untuk teman-temannya yang belum genap dua bulan menjadi temannya di kelas dua ini.
Saat Sasuke membuka pintu kelasnya, tampaklah air muka teman-temannya yang pucat pasi menatap Sasuke. Semuanya langsung berhamburan agar bisa menanyakan lebih detail pada Sasuke. Tetapi Sasuke hanya mengangkat tangannya, isyarat kalau dia mau bungkam dan tidak akan memberikan keterangan lanjut pada siapa pun. Banyak sekali dari mereka yang mendengus kecewa akibat Sasuke yang tidak mau berbagi penderitaan, melihatnya Sasuke hanya memberikan senyum terbaiknya.
Saat kaki Sasuke tiba di depan lokernya, sebuah hantaman di bahu sukses membuatnya teriak. Di balik Sasuke tampaklah Naruto dengan muka memerah.
"Kamu pikir itu bagus?" Sasuke mengusap-usap bahunya dan hanya memamerkan deretan giginya. "Kamu sedang menyiksaku, bastard?" umpat Naruto sebelum akhirnya meninju pipi kanan Sasuke dan terlihatlah darah yang merembes keluar dari sudutnya.
Sasuke mengelap sudut bibirnya kasar kemudian menarik kerah Naruto. "Kamu pikir aku mau seperti ini?!" teriaknya dan membalas memukul pipi Naruto hingga bibirnya berdarah.
Naruto meludahkan darahnya yang keluar dari bibirnya. "Lalu kalau bukan maumu jadi apa? Apapun alasannya itu tetap memperburukku, dumbass!" Naruto menerjang Sasuke hingga terjatuh.
"You just don't get it, lameass," ucap Sasuke sembari mencoba berdiri dan kemudian berlari agar meninju perut Naruto.
Naruto memegangi perutnya. "I just don't wanna, dickbag."
Pekikkan demi pekikkan terdengar dari mulut-mulut para gadis yang menyaksikan. Perkelahian itu tampaknya akan lama, sehingga ada beberapa murid yang mulai menjauhkan mereka dan juga ada beberapa yang mengadukan ke wali kelas mereka.
Shikamaru berlarian kemudian menarik kerah keduanya. "You morron, Sasuke. Aku pikir kamu sudah berjanji," dikepalkannya tangannya yang memegangi kerah Sasuke membuat Sasuke mengernyit karena tercekik. "And you asshole, jangan biarkan emosi menunggangimu," ucap Shikamaru tajam pada Naruto sebelum akhirnya melepaskan kerah keduanya.
Shikamaru berjalan dan kemudian berbalik. "Aku rasa aku tidak bisa mengendalikan kalian lagi. Aku terkhianati dan aku keluar," kalimat final Shikamaru sukses mematungkan keduanya. Shikamaru adalah otak mereka. Shikamaru yang selalu memberikan cara pertahanan dan penyeranganan dalam tim. Tanpa Shikamaru dan siasatnya, mereka bisa hancur.
Naruto tiba-tiba menendang lutut Sasuke hingga Sasuke melompat-lompat karena kesakitan. Saat Sasuke hendak menyerang Naruto lagi, tiba-tiba Kakashi datang dan menyeret mereka berdua ke ruang guru.
Sesampainya mereka di ruang guru, Kakashi hanya dapat memijat pelipisnya yang terasa berkedut. "Kalian kenapa?" tanyanya kemudian menatap Sasuke tajam.
Sasuke memalingkan pandangannya. "Aku sudah keluar dari sekolah ini jadi aku sudah tidak pantas dihukum," Kakashi hampir mengeluarkan kalimat kotornya karena ucapan Sasuke tetapi dia tahan.
Saat mata Kakashi mengarah ke Naruto, Naruto memandanginya dalam. "Aku hanya kecewa padanya," jelas Naruto bersungguh-sungguh. Kesungguhannya dapat dirasakan dari mata birunya yang ikut andil.
Kakashi menghela napasnya kemudian. "Jikalau kalian betul-betul ada masalah, kenapa tidak dimusyawarahkan dengan baik? Kontak fisik tidak diperlukan jika kalian benar-benar menggunakan otak kalian."
"Tapi dia yang mulai," Sasuke masih sempatnya membela diri sehingga Naruto yang tidak tahan pun kembali menarik kerah Sasuke kasar.
"Aku tidak tahu sifat aroganmu jadi kuadrat, dickhead."
Kakashi buru-buru melerai keduanya sebelum perkelahian mereka yang versi kedua akan terjadi. Mata sayu Kakashi menangkap mata tajam Sasuke. "Aku tidak akan memberitahukan hal ini kepada Kepala sekolah," ucapnya sungguh.
Sasuke mendengus. "Diberitahukan pun tidak masalah. Aku sudah bukan muridnya lagi."
Saat mulut Kakashi membuka, tiba-tiba terdengar suara dari balik mesin pengeras suara.
"Diberitahukan kepada Sasuke Uchiha dari kelas 2-B, harap mendatangi ruang Kepala sekolah. Sekali lagi diberi—."
Sasuke memundurkan kursinya dan membungkuk sopan kepada Kakashi yang tengah mengurut lehernya yang penat kemudian bergegas menuju ruang Kepala sekolah sesuai perintah. Naruto yang sedari tadi menyaksikan pun mengikuti Sasuke dari belakang.
Naruto sangat menyesal, sungguh menyesal. Sasuke adalah teman terbaiknya. Sasuke bahkan rela mengorbankan diri demi dirinya yang tidak tahu diri ini. Sasuke berada dalam masalah ini atas dasar dirinya sendiri. Bahkan setelah melihat luka-luka Sasuke yang bertambah parah karenanya pun membuat hatinya sakit, dia menyesal. Sungguh demi Tuhan apa yang diucapkan Shikamaru itu benar, Naruto terlalu membiarkan dirinya dikontrol oleh napsu dan amarah.
"Maaf," permintaan maaf Naruto lolos begitu saja tanpa dikontrol.
Naruto mendiamkan Sasuke dan terus mengikutinya menuju ruang Kepala sekolah agar melihat reaksi Sasuke. Setelah sekian lama hanya keheningan, dia yakin kalau Sasuke menganggap permintaan maafnya sebagai angin lalu.
Naruto berlari agar mendahului Sasuke kemudian merentangkan tangannya agar Sasuke berhenti dan sesuai prediksi, Sasuke berhenti. "Kamu harus memaafkanku."
Sasuke yang awalnya menatap Naruto malah membuang mukanya, hati Naruto sungguh teriris. "Kamu tidak usah minta maaf. Aku juga bersalah," ucap Sasuke kemudian menabrak Naruto dan kembali berjalan.
Naruto yang mengerti pun langsung berlari dengan binaran dan menyamakan langkahnya dengan Sasuke. "Aww, benarkah? Aku tersanjung kalau kamu merasa kamu salah," Sasuke hanya mengangguk sebagai reaksi dan Naruto tersenyum senang.
Pertemanan sesama lelaki itu memang selalu begini; mereka berkelahi tanpa pikir panjang dan mereka pun berbaikan tanpa pikir panjang pula.
"Dan hey, haruskah aku bersujud di depan Kepala sekolah agar kamu tidak jadi dikeluarkan?" gurau Naruto dan Sasuke hanya terkekeh mendengarnya.
Naruto tersenyum mendapati mood temannya kembali membaik karena gurauan receh-nya. Awalnya dia tidak ingin merusak mood ini tetapi dia harus menanyakannya. "Aku ingin tahu penyebab kenapa kamu berkelahi," Naruto tampak berhati-hati.
Senyuman Sasuke memudar. Langkah kaki Sasuke tampak lebih cepat dari yang tadi. Wajahnya berubah menyeramkan. Ah, sepertinya Naruto benar-benar merusak suasana hati Sasuke yang membaik.
"Oh, kalau kamu benci, tidak usah bilang," sambung Naruto cepat agar suasana hatinya Sasuke tidak kembali buruk.
Sasuke menghentikan langkahnya dan menatap Naruto dengan mata yang terluka. "Ibuku kembali."
Naruto terdiam seribu bahasa, dia tahu harusnya semua orang akan bahagia kalau ibunya datang untuk melihat keadaan. Tetapi bagi Sasuke, ibunya datang sama dengan fobia-nya kambuh. Mengingat betapa sulitnya Sasuke saat ditinggal kedua orang tuanya.
Naruto maju kemudian menepuk bahu Sasuke pelan. "Ayo, nanti kalau kelamaan aku bakalan lupa cara bersujud di depan Kepala sekolah," ucap Naruto mengalihkan topik dan mencoba mencairkan suasana.
Sasuke tersenyum kemudian mengangguk dan berjalan berdampingan dengan Naruto menuju ruangan Kepala sekolah dengan banyaknya bromance-talk.
Sesampainya mereka di depan pintu ruangan Kepala sekolah, Sasuke mendorongnya perlahan kemudian menginjakkan satu kakinya. Tetapi langkahnya berhenti ketika oniks hitamnya membulat saat menangkap wanita cantik yang tengah duduk di depan meja Kepala sekolah.
Wanita itu melihat Sasuke dan tersenyum manis. "Hei, Sasuke."
Dan Sasuke hanya bisa mematung menyebabkan jalan terblokir. "I-ibu."
.
Sakura menangkup sebuah kantong besar kemudian berlarian di koridor meninggalkan Ino yang susah payah mengejarnya. Bunyi telapak sepatu Sakura dengan marmer koridor begitu keras, banyak sekali pasang mata yang menatap Sakura dengan tatapan aneh. Sakura benar-benar memiliki image aneh di mata orang-orang sekolah.
Ya, semua orang kecuali Sakura itu sendiri. Mereka semua menganggap Sakura aneh karena dia bukan perempuan biasa. Mana ada perempuan yang suka belanja di kantin terus membawa sekantong besar roti dan berlarian di koridor agar sampai ke dalam kelas. Sakura juga dianggap gila karena kalau dia sedang mendengarkan musik atau menonton sesuatu di layar ponselnya, dia pasti akan berteriak tidak jelas. Bahkan fisiknya ikutan gila, entah memukul tembok atau menghentakkan kakinya ke lantai. Untuk urusan bodoh, Sakura sering sekali tampak idiot jika menatap poster-poster atau pun photocard bahkan dia sering tertangkap basah mengiler menatap foto-foto yang dipegangnya dengan tatapan lapar. Kalau untuk panggilan nerd, hanya Naruto saja yang asal ceplas-ceplos.
Sakura menggeser pintu kelasnya kemudian mendudukkan dirinya di bangku miliknya diikuti Ino yang terengah-engah datang dan duduk di bangku depan Sakura. Ino menarik buku Sakura kemudian mengipas-ngipaskan ceruk lehernya yang dibanjiri peluh akibat berlarian mengejar Sakura yang sudah menjadi kegiatan sehari-harinya.
Pergelangan tangan Sakura memasuki kantong besar itu kemudian meraih salah satunya, tak lupa membaca keterangan rasanya dan membuka kantong plastiknya lalu melahapnya. Tangan kirinya dia sibukkan untuk sekedar browsing di internet mengenai keterangan tiket konser.
"Aku sedih melihat Sasuke," ucap salah satu gadis dan telinga Ino nyaring karena dia berada di belakang orang-orang yang sedang asik ngerumpi itu.
Salah satu dari tiga orang itu mengangguk. "Iya. Kalau aku diperbolehkan, aku sudah membawa Sasuke ke rumah sakit dengan paksa."
Ino kembali menatap Sakura yang sibuk dengan ponselnya. Ino menyenggolnya membuat satu alis Sakura naik. "Sepertinya Sasuke bukan hanya bolos, melainkan terkena masalah."
Sakura langsung menaruh ponselnya. "Benarkah? Dia kenapa?" tanya Sakura antusias karena mendengar berita seputar si Tuan arogan.
Ino mengendikkan bahunya. "Aku tidak tahu. Kenapa tidak kamu tanyakan saja pada penggemar Sasuke," usul Ino.
"Kenapa tidak kamu saja?" tanya Sakura sedikit memelas dan Ino hanya memutarkan manik birunya.
"Kamu itu teman sekelompoknya, kamu saja," ucap Ino final dan akhirnya Sakura menyerah dengan alasan yang tidak jelas. Sakura menaruh rotinya dan memundurkan kursinya kemudian berjalan ke arah kumpulan gadis yang sedang bergosip di belakang Ino, sedangkan Ino hanya memutar tubuhnya agar bisa melihat percakapan Sakura dengan jelas.
Sakura menepuk-nepuk bahu gadis bercepol dua. "Err, anu. Kalau boleh tahu, Sasuke kenapa?" tanya Sakura pelan.
Tenten menusuk Sakura dengan tatapannya. "Kamu 'kan teman sekelompoknya, harusnya kamu tahu dong dengan masalah Sasuke," ucapan Tenten disetujui oleh kedua temannya yang kini menganggukkan kepalanya.
Kepala Sakura berdenyut, tak bisa dia redam amarahnya. "Heh, kamu pikir aku bakalan tahu segalanya hanya karena aku teman sekelompoknya? Oh ayolah, jangan bilang kamu cemburu?" ledekan Sakura berhasil membuat Tenten menarik rambut sebahu Sakura dengan kasarnya.
Sakura yang merasakan panas di akar kepalanya pun berteriak kemudian ikutan menarik rambut cepol Tenten hingga merusaknya. Ino yang melihatnya tidak tinggal diam dan memeluk Sakura dari belakang kemudian menjauhkan Sakura dari Tenten yang masih menggeram marah.
"Ayolah girls. Tinggal bilang saja apa susahnya," kini Ino ikut andil dalam percakapan.
Tenten membenarkan posisi rambutnya dibantu oleh salah satu temannya. "Sasuke berkelahi. Dua kali. Sekali dengan musuhnya dan sekali dengan Naruto. Sudah 'kan?" ucapnya penuh penekanan kemudian melenggos pergi dengan angkuhnya bersama kedua temannya.
Sakura menganga tidak percaya. Apa-apaan dengan Sasuke? Apa yang Sasuke pikirkan sehingga Sasuke dengan gampangnya berkelahi?
Tanpa pikir panjang pun, Sakura langsung melesat pergi dan dia bahkan tidak mengindahkan teriakan Ino yang minta penjelasan dari Sakura. Persetan dengan ponselnya yang masih loading saat mencari informasi tiket konser karena sinyalnya Edge, pokoknya sekarang dia harus menemui Sasuke sebelum Sasuke benar-benar pergi dari sekolah.
Perkataan ibunya Sasuke benar-benar melekat padanya. Bukan hanya pada otaknya, tetapi pada hatinya juga. Tentang seorang ibu yang meminta Sakura dengan tulus agar jangan pernah meninggalkan Sasuke yang lemah itu dan terus menggiringnya agar membuat pribadi Sasuke yang baik.
Sudah sekian lama Sakura berlari tak tentu arah, tetapi rasanya nihil sekali. Tidak ada tanda-tanda Sasuke di setiap lantai dan ruangan. Saat Sakura tengah mengipas-ngipaskan lehernya menggunakan jemarinya, mata hijaunya membulat ketika melihat tampilan di balik jendela lantai dua sekolahnya. Sehingga membuat Sakura langsung melupakan penatnya dan berlarian untuk menuju tempat kejadian perkara.
Ada peristiwa tabrakan.
.
Surat drop-out Sasuke kembali masuk ke dalam laci meja Kepala sekolah. Mikoto keluar bersama dengan Sasuke dan Naruto lalu membungkuk dalam dan mengucapkan beribu terimakasih. Kepala sekolah hanya tersenyum dan beribu kali berbicara kalau itu bukan apa-apa.
Sasuke menyuruh Naruto masuk ke kelas duluan dan berbaikan dengan Shikamaru sedangkan dia perlu mengurusi sesuatu dengan ibunya. Naruto mengangguk kemudian berjalan terlebih dahulu meninggalkan Sasuke yang kini berbalik untuk menatap ibunya yang masih berbasa-basi dengan Kepala sekolah yang tidak jadi mengeluarkan Sasuke dari sekolah ini dikarenakan ibunya berhasil menyogoknya.
Sasuke mendengus, untuk kali ini dia merasa berterimakasih kepada ibunya karenanya dia tidak jadi dikeluarkan dan dia akan bisa berbaikan dengan temannya. Itulah maksud dirinya menunggu ibunya selesai berbasa-basi.
Mikoto memfokuskan pandangannya pada Sasuke, dia sungguh bahagia mendapati anaknya tengah menunggu dirinya. Mikoto langsung berlarian dan menghadap Sasuke.
"Terimakasih," ucap Sasuke tanpa isyarat. Sasuke kemudian berlalu dan meninggalkan Mikoto yang berbinar. Mikoto bahagia, sungguh demi Tuhan dia bahagia. Ini ada ucapan terimakasih Sasuke yang pertama sejak insiden masa lalu itu.
Mikoto mengejar Sasuke dan ternyata Sasuke mengarah keluar bangunan sekolah membuat Mikoto memegang tangan Sasuke guna menghentikan langkah Sasuke. "Kamu mau kemana?"
"Bolos," ucap Sasuke cepat dan menghempaskan tangan Mikoto yang memeganginya.
Mikoto tertohok mendengar penuturan kalimat Sasuke. Bukankah tadi Sasuke adalah pribadi yang dapat berterimakasih? Lalu mengapa dia tiba-tiba ingin menjadi anak yang nakal kembali?
"Jangan Sasuke," pinta Mikoto, namun nihil karena Sasuke tidak akan pernah mendengar ucapan Mikoto.
Mereka tiba di ujung jalan, tampak Sasuke yang hendak menyebrang dan menunggu lalu lintas kembali senyap. Mikoto berlarian mengejar Sasuke kemudian menangkup lututnya karena kecapekan. Mikoto tahu, ada satu orang yang bisa membuat Sasuke sadar, tetapi resikonya tinggi jika Mikoto sebut. Tapi apa daya, Sasuke benar-benar harus dicegah.
Mikoto menelan ludahnya susah. "Bahkan Itachi membencimu yang suka bolos."
Ucapan itu berhasil membuat Sasuke membalik badannya dan menarik kerah Mikoto kasar. "Sudah kubilang, jangan pernah menyebut nama kakakku dengan bibirmu," Sasuke langsung menghempas Mikoto kasar sehingga Mikoto tampak terhuyung.
Sasuke berjalan tanpa memedulikan banyaknya kendaraan yang melintas. Bahkan ada satu mobil dengan kecepatan tinggi melesat dan menuju arah jalannya Sasuke.
Mikoto berusaha menggapai Sasuke, namun dikarenakan tangannya yang pendek sehingga tidak berhasil meraih Sasuke.
Sasuke bisa merasakan bunyi mobil di sampingnya dan hal yang dia rasakan kemudian adalah terpelanting ke trotoar sisi seberang. Uh, rasanya luka-lukanya kembali menganga sekarang. Sasuke sungguh pusing, mungkin sebentar lagi dia akan pingsan dengan banyaknya darah yang merembes keluar dari tubuhnya.
Benar saja, tangan kirinya yang menghadap ke belakang sudah bisa merasakan cairan. Tapi Sasuke tepis jauh-jauh pemikiran negatifnya karena dia benar-benar tidak merasakan sakit yang berlebihan, hanya rasa sakit karena terjatuh.
Dengan cepat Sasuke bangkit—dengan sedikit geraman—kemudian berbalik dan alangkah terkejutnya dia mendapati pemandangan berdarah di belakangnya.
Ibunya menyelamatkannya.
Sasuke mematung dan tidak tahu harus berbuat apa. Orang yang mengendarai mobil itu pun tampaknya langsung meninggalkan tempat ini sesudah menabrak ibu Sasuke. Sasuke bergetar, dia tergagap untuk melancarkan aksi apapun. Dia benar-benar blank, otaknya benar-benar kehilangan kekuataannya untuk berpikir apa yang harus dilakukannya.
Sasuke menatap tangan kirinya yang berdarah namun tidak sakit dan itu berarti darah itu adalah milik ibunya. Seketika saja pandangannya berputar-putar, keringat dinginnya mengucur deras dan dapat dilihat cairan merah ini benar-benar tidak berhenti merembes keluar dari tubuh ibunya. Sasuke tergagap untuk mengucapkan sesuatu, bahkan perutnya mual.
Di saat yang menyedihkan itu, seseorang menepuk bahunya menyebabkan Sasuke bisa melupakan sisi paranoidnya dan menatap wajah cantik bersurai merah muda itu sedang menatapnya khawatir.
"Kamu tidak apa-apa? Aku sudah menelepon ambulan sejak tadi, sebentar lagi mereka datang," ucap Sakura lembut sembari menggenggam tangan Sasuke yang bergetar agar Sasuke bisa tenang.
Sakura akhirnya bisa bernapas lega ketika sebuah mobil sampai dan memasukkan ibunya Sasuke. Awalnya Sakura ingin meninggalkan Sasuke saja bersama ibunya, tapi dia terpaksa bolos karena melihat keadaan Sasuke yang mengerikan seperti itu.
Sakura membantu Sasuke berjalan kemudian menaikkan Sasuke ke dalam mobil ambulan dan dia pun menaikinya dan duduk di samping Sasuke. Di dalam perjalanan tampak sekali Sasuke yang menatap kosong ibunya yang terbaring dengan banyaknya saluran yang menancap di tubuhnya. Sakura berulang kali mencoba memberi pengertian kepada Sasuke kalau ibunya akan baik-baik saja atau ini bukan salahnya dan kalimat lain semacamnya.
Waktu menunjukkan pukul satu siang dan ibunya Sasuke harus dioperasi. Sasuke langsung pergi ke bagian administrasi meninggalkan Sakura sendirian. Sakura pun ikut pergi menuju toilet untuk sekedar membersihkan wajahnya. Dia tampak mencuci tangannya yang berdarah karena dia selalu berpegangan dengan tangan Sasuke dan hal itu sukses membuat pipinya memanas.
"Oh tidak. Chanyeol tolong aku," racaunya tidak jelas.
Kemudian Sakura kembali dan menduduki kursi ruang tunggu. Sudah lima belas menit dan dia belum melihat Sasuke dimanapun, hal itu yang membuatnya bosan kemudian tidak sengaja tertidur dengan damainya.
Tidak lama kemudian, Sasuke kembali. Awalnya dia sangat ingin pergi meninggalkan rumah sakit ketika urusan administrasi selesai, tapi diurungkannya ketika melihat wajah cantik Sakura yang begitu damai dengan napas yang teratur.
Sasuke mendudukkan dirinya di samping Sakura, kemudian membuka jas sekolahnya dan menyematkannya ke Sakura agar berfungsi sebagai selimut. Sasuke menatap Sakura yang tertidur dan kepalanya yang terantuk-antuk ke depan. Seringkali Sakura terbangun namun kembali teler karena posisi kepalanya yang seperti itu.
Sasuke meraih beberapa helai rambut Sakura yang menggantung kemudian menyematkannya di belakang telinga Sakura dengan sedikit usapan jempolnya pada rambut Sakura. Kemudian tersenyum ketika melihat Sakura yang sering terbangun karena kepalanya yang selalu maju lalu di mundurkannya kembali.
Tapi akhirnya Sasuke tidak tahan, dia langsung meraih pipi Sakura dan menariknya cepat agar menyender di bahunya yang lebar. Sakura yang kaget tiba-tiba masuk lagi ke alam mimpi dan tertidur. Sakura tertidur cukup lama dan Sasuke hanya bersedekap di sampingnya.
Saat bahunya terasa dingin, Sasuke langsung mendongakkan kepala Sakura dan tampaklah air terjun mengucur dari bibirnya yang dulu kata Sasuke itu seperti ceri. Dongakkan itu membuat Sakura terbangun, benar-benar tebangun.
Sasuke menyubit pipi Sakura. "Siapa yang suruh kamu mengotori bahuku?"
Sakura yang tersadar pun langsung mengelap air di sudut bibirnya dengan punggung tangannya membuat Sasuke menatapnya dengan jijik. "Ah, maaf."
Sasuke tidak mengindahkan permintaan maaf Sakura dan langsung berdiri dan kemudian hendak berlalu jika sebuah tangan tidak memegangnya. "Kamu mau kemana?" tanya Sakura yang ikut berdiri—sehingga jas Sasuke terjatuh—supaya bisa menginterogasi Sasuke dengan baik.
"Aku mau pergi," ucap Sasuke ketus dan Sakura tertohok mendengarnya.
"Kamu mau kemana dan ibumu bagaimana?" tanya Sakura penuh selidik.
Sasuke menepis tangan Sakura yang memeganginya kemudian menatap Sakura dalam. "Aku mau kemana itu bukan urusanmu dan asal kamu tahu, aku sebenarnya tidak peduli dengan wanita itu."
Sakura menganga mendengarnya. "Aku akan pura-pura tidak mendengar ucapanmu. Tapi sekarang ayo duduk," ajak Sakura pada Sasuke kemudian dia menggenggam pergelangan tangan Sasuke kembali dan mengajak Sasuke duduk.
Sasuke menepis tangan Sakura. "Dia mati pun aku tidak peduli."
Bunyi tamparan tiba-tiba terdengar di tempat sunyi itu. Sakura menampar Sasuke karena menurut Sakura ucapan Sasuke benar-benar tidak bisa ditolerir lagi, dia benar-benar sudah gila. Pipi Sasuke memerah dan dia langsung memegangi pipinya.
Sedetik kemudian tangannya sudah mencengkram kuat kerah Sakura hingga Sakura terbatuk-batuk karena terasa tercekik. "Kamu tahu apa? Kamu tidak tahu—."
"—Aku tahu!" amarah Sasuke dipotong oleh Sakura yang berusaha berbicara dikala cekikannya. Sasuke awalnya sedikit menyendu, namun dia kuatkan kembali pegangannya pada kerah Sakura dan tangan kanannya mulai mengepal, hendak menubruk pipi mulus Sakura.
"Tentang Itachi pun aku tahu!" sambung Sakura cepat sambil memejamkan mata, mencoba menghilangkan pandangan fisiknya pada kepalan tangan Sasuke yang menyeramkan itu.
Sakura membuka matanya saat kerahnya dilepaskan oleh Sasuke dan melihat Sasuke mematung dengan pandangan kosong. Ini mungkin kesalahan Sakura. Sakura harusnya jangan pernah mengungkit Itachi dan membuat luka lama Sasuke menganga kembali.
Sakura kelabakan, dia benar-benar tidak tahu cara membuat Sasuke tenang dengan cepat. Bahkan saat di ambulan pun butuh kerja keras ekstra agar Sasuke mau mendengarkannya. Di saat yang krisis itu, entah mengapa kalimat Shikamaru dua hari yang lalu terngiang di kepala Sakura.
Sasuke butuh pelukan hangat yang menenangkannya dan butuh banyak cinta.
Akhirnya Sakura memberanikan diri memegang tangan Sasuke, mengelusnya perlahan agar wajah Sasuke tidak kaku lagi kemudian dengan perlahan dia berjalan untuk mendekati Sasuke dan agar bisa mendekap tubuh kurus itu.
Saat Sakura berjalan menuju Sasuke, Sakura merasa semua yang ada di sana bergerak dengan gerakan lambat. Semuanya terasa melambat dari biasanya. Bahkan kedipan bulu mata Sasuke yang panjang itu tampak begitu lambat dan membuat Sakura terkesima menatapnya.
Hingga akhirnya Sakura memeluk Sasuke. Tangannya bermain di punggung Sasuke, mengusapnya dengan perlahan dan penuh rasa sayang karena dia benar-benar harus menenangkan Sasuke. Dia sudah diberi amanat oleh ibunya Sasuke supaya bisa menjaga Sasuke.
Sasuke tidak menolak dan tidak menerima. Dia hanya mematung dan bergeming dalam diam. Walaupun hatinya sungguh hangat tapi tangannya sulit digerakkan untuk membalas pelukan Sakura yang menenangkan ini. Sungguh Sasuke tidak tahu harus bagaimana saat mendapatkan perlakuan hangat seperti ini, ini benar-benar baru pertama kalinya dia perlakukan seperti ini—tentunya selain dari kakaknya.
"Um," Sakura membuka suara dengan nada yang rendah dan selembut mungkin membuat Sasuke membulatkan matanya. "Aku yakin Itachi-san sudah memaafkanmu."
Ucapan Sakura benar-benar membuat Sasuke bahagia. Kakaknya memaafkannya? Memaafkan seluruh kesalahannya? Oh dia sungguh bahagia.
"Aku memang tidak tahu, tetapi aku bisa jamin. Karena Sasuke itu anak yang baik dan patuh, Sasuke hanya sedikit nakal karena butuh perhatian. Jadi pasti Itachi-san sudah memaafkanmu dan oh bahkan aku yakin dia malah bangga dan bahagia pernah punya adik sepertimu."
Ucapan Sakura terdengar begitu tulus dan hal itu yang membuat bibir Sasuke bergetar. "Sungguh demi Tuhan aku yakin," ucap Sakura dengan penuh keyakinan dan hal itu membuat setetes air lolos dari manik Sasuke yang indah.
"Sakura," telinga Sakura nyaring saat Sasuke memanggilnya. "Ada air yang berusaha keluar dari mataku. Aku menahannya karena aku tidak tahu harus bagaimana. Apakah aku akan mati saat airnya jatuh?" ucap Sasuke kepalang polos. Sakura terkekeh kemudian menggeleng. Kekehan Sakura berhenti saat Sasuke menubruk bahu Sakura dengan kepalanya, Sasuke menyembunyikan wajah menangisnya di bahu Sakura.
Oke Sakura sadar, Sasuke sedang tidak bercanda. Sasuke benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan ketika sedang menangis karena seingat Sasuke, dia belum pernah menangis. Bahkan pada saat kakak tersayangnya meninggal, Sasuke sulit berekspresi. Dia sungguh ingin menangis dan menumpahkan emosinya tapi ada sesuatu yang mengganjalnya sehingga dia hanya bisa merasakan hatinya yang sakit tanpa pelampiasan.
Sesudah acara pelukan itu, Sakura mendudukkan Sasuke kembali ke bangku tetapi Sasuke malah menarik Sakura keluar bangunan rumah sakit tanpa peduli racauan tidak jelas Sakura yang minta untuk kembali. Sesampainya dia taman rumah sakit, Sasuke mendudukkan Sakura di salah satu bangku favoritnya kemudian ikut duduk di sampingnya.
Sakura kebingungan kemudian menangkap satu daun maple yang gugur dan memainkannya.
"Ini tempatku kalau sedang membolos sewaktu kakakku masih ada," ucap Sasuke membuka percakapan.
Sakura mendelik menatap Sasuke dan tersenyum sehingga Sasuke langsung membuang mukanya dengan cepat—kali ini dia malu. "Kalau aku boleh tahu, kenapa kamu mau ikut ke rumah sakit?" mata Sakura melebar mendengarnya. "Aku butuh jawaban," sambungnya cepat.
Yang Sakura tahu dia ingin ikut ke rumah sakit karena dia sudah diberi amanat oleh ibunya Sasuke, tetapi mengapa lidahnya kelu untuk menjawab itu?
"The answer is you."
Sasuke langsung menatap Sakura dalam, tatapan penuh interogasi dan selidik yang membuat Sakura menutup wajahnya agar tidak diperiksa Sasuke. Oke, Sakura rasa dia salah berbicara sekarang dan inilah jadinya. Lalu mengapa dia berkata seperti itu?—siapa yang tahu.
"Maksudmu?" pertanyaan Sasuke sukses membuat Sakura kelabakan.
"My answer is you~ Nae modeungeol da boyeojweo bwasseo~ You are my everything~ Neomu hwaksinhaeseo~," Sakura kini menambahkan nada pada ucapannya dan membuat alis Sasuke bertautan tanda tidak mengerti. "Aku sedang menyanyi," tambah Sakura dan Sasuke hanya mengiyakan saja.
"Karena katamu kamu sudah tahu tentangku. Aku akan jujur kalau aku benci orang Korea," pengucapan Sasuke mendapat anggukkan dari Sakura. Tapi Sasuke tampaknya tidak suka dengan itu entah mengapa dia berpikir kalau Sakura bakalan ngambek. "Kamu tidak marah? Aku bilang aku benci orang Korea," ulangnya lagi dan Sakura kembali mengangguk.
"Aku tidak peduli kamu mau benci atau tidak," Sasuke entah mengapa tertohok mendengarnya. "Lagipula kamu itu tidak penting di hidupku," dan Sasuke hanya bisa mengurut dadanya sedih bahkan bisa dikatakan dia itu iba terhadap dirinya sendiri.
Sasuke kemudian memukul-mukul kursi itu agar terdengar nada supaya memecahkan keheningan di antara mereka. "Oh ya. Kalau boleh tahu, kamu tinggal sendiri itu memang dari sekolah menengah atau bagaimana?" tanya Sakura tiba-tiba dan mendapat anggukan dari Sasuke.
"Aku ikut orang tuaku selama tiga tahun dan aku sangat sering pindah-pindah sehingga kegiatan belajarku terganggu, sebenarnya kegiatan bolosku sih yang terganggu," candaan Sasuke sukses mendapat geplakan dari Sakura yang menurutnya itu tidak lucu.
"Dan akhirnya saat kelas satu SMA aku minta tinggal sendiri hingga sekarang. Lucunya, aku tetap tidak diberi kabar," tatapan Sasuke berubah menjadi nanar dan ini adalah kesalahan kedua Sakura. Sakura yang meringis tiba-tiba dikejutkan dengan tangan Sasuke yang menyentuh tangannya.
"Hey," ucap Sasuke tiba-tiba. "Apakah posisi Chanyeol bisa aku ganti?"
.
TBC
.
[Special note from me!] – HARAP DI BACA SAMPAI HABIS.
KAMUS CC.
THE ANSWER IS YOU(?): Lagu EXO judulnya MY ANSWER.
MAU NGINGETIN TERUS: FANFICTION INI BUKAN CROSSOVER! Cuma mau mengambil karakter dari EXO saja karena saya bingung mau nyari idol di fandom Naruto :'V Soalnya Sasuke sama Naruto-nya aja cuma anak sekolah biasa :". Tapi EXO cuman cameo kok disini jadi harap maklumi. Maafkan saya. (POKOKNYA CREDIT-NYA EXO JUST FOR LEE SOOMAN SUNBAENIM!)
Maafkan saya telat apdet ayy. Kehidupan sekolah saya sudah dimulai. Ini aja ngambil jam tidur jadinya bisa ngerjain *cri. Sekarang aja pas aku ngerjain ini dari jam 8 malem sampai jam 1 pagi (nonstop) dan punggungku pegal ayy. Kalau misalnya ada yang nanya bagaimana(?) aku menyelesaikan fanfiksiku. Aku cuma mau jawab: Aku apdet seminggu sekali (ini masih diusahakan) dan dalam waktu 4-5 hari itu ngumpulin ide dan kerangka baru hari ke 5-6 nya buat dan hari ke 6-7 nya publish. Jadi untuk para silent reader, gak butuh waktu panjang buat baca tapi sungguh melelahkan mengerjakan ini. Jadi dimohon apresiasinya supaya aku mau terus melanjutkan fanfiksi ini \o/ (kan gak butuh waktu panjang cuma mau ketik review dan fav/follow) dimohon banget ya, anggap saja kalian bayarnya dengan review, fav, follow. Hehe terimakasih banyak ^^.
Chapter ini benar-benar menjelaskan tentang Sasuke wkwk:" tapi dia belum baikan sama ibunya jadi doain chap depan dia baikan:"
Mulai chapter ini sesi balas review akan dikirim di PM. Dan beberapa bakal dibahas(?).
Aku pengen bahas ini: ada yang bilang kalau misalnya penggunaan "Aku-Kamu" itu kurang enak dan katanya lebih enak penggunaan "Aku-Kau". Kalau bagiku sih aku suka "Aku-Kamu" karena cocok aja. Bedain deh kalimat "Aku suka kamu" sama "Aku suka kau" / "Apa kamu bilang?" sama "Apa kau bilang?" / "Ah, kamu menyakitiku" sama "Ah, kau menyakitiku" / lebih enak yang mana? Akusih "Aku-Kamu". Dan maksud aku menempatkan kata "Kamu" itu sebenarnya sama aja kayak "You" di :" jadi menurut kalian bagusan yang mana? Tolong dikasih tau di kolom komentar ya! Mohon banget.
TERIMAKASIH BANYAK YA SAMA YANG UDAH KASIH CINTA BUAT FANFIKSI INI! Akan aku usahain kok biar makin chapter makin bagus karena support kalian ^^.
BIG THANKS TO: Srisavers28, g nei, Aikaa-chan, Laifa, wowwoh . geegee, raizel's wife, Guest, Nurulita as Lita-san, Harika PCY-OSH, YANG FAV, FOLLOW, dan SILENT READER ^^
.
LAST,
PLEASE REVIEW :3
Cuma sebentar kan ;3
But please leave a positive one
.
