Darling, you left something at my place © Aquien

Harry Potter © JK Rowling

Alih bahasa oleh neko chuudoku.

.

CHAPTER 4

.

Ketika Harry dan Narcissa kembali ke dalam, mereka mendapati yang lainnya telah mencapai kesepakatan. Bukan kesepakatan yang mampu membuat Harry melompat-lompat senang, tapi untuk sekarang dia rasa ini kesepakatan terbaik yang bisa dia dapat. Dia masih harus terikat dengan si sialan Malfoy dan bergabung dengan keluarga Pelahap Maut luar biasa. Tapi sampai saat itu tiba, setidaknya dia masih bisa tinggal di Menara Gryffindor bersama kawan-kawannya. Setelah pengikatan, dia harus pindah ke kamar pribadi bersama si bodoh.

Memikirkan harus tinggal dengan Malfoy membuat isi perut Harry ingin keluar semua. Setidaknya dia bisa menunda itu untuk dua bulan penuh sekarang. Saat itu juga Harry memutuskan untuk tak mencemaskan masa depan. Dia akan menikmati hidup untuk sekarang, berharap akan terjadi sesuatu yang mampu menyingkirkan mimpi buruk masa depan yang kini terbentang di hadapannya.

Dua bulan. Dan kemudian dia akan terikat dengan Draco Malfoy. Rupa-rupanya keluarga Malfoy ingin melaksanakan upacara pengikatan satu bulan dari sekarang, tapi Sirius dan Lupin membuat mereka setuju untuk menundanya jadi dua bulan, mereka berdalih "untuk memberi waktu bagi Harry agar terbiasa pada gagasan terikat dengan Malfoy". Harry rasa dia tidak akan pernah terbiasa meski diberi waktu seribu tahun untuk bersiap-siap, tapi dia tahu percuma saja melawan. Sebaliknya, dia menghabiskan seluruh sisa pertemuan dengan merajuk sebagai bentuk protes.

xxx

Dua jam kemudian, pertemuan akhirnya usai dan Harry bisa kembali ke Menara Gryffindor. Setelah pamit pada ayah batisnya dan Profesor Lupin, dia berjalan mendaki tangga sambil tenggelam dalam pemikirannya. Malahan dia begitu sibuk berpikir hingga pada awalnya dia tak menyadari keberadaan Malfoy yang mengekor di belakangnya. Dia baru saja menaiki set tangga kedua ketika bayangannya terlihat jelas olehnya. Dia berhenti tiba-tiba.

"Malfoy. Koreksi bila aku salah, tapi bukannya kita baru saja sepakat bahwa untuk dua bulan aku tinggal di asrama Gryffindor, sedangkan kau tetap tinggal di bawah sana di dungeon?" tanya Harry dengan ketenangan sebanyak yang bisa dia kerahkan.

"Panggil aku Draco. Dan sayangnya itu benar. Akan tetapi, aku tidak akan membiarkanmu berjalan sendiri tanpa ditemani. Aku akan selalu siap untuk menjagamu dan anak kita yang belum lahir. Aku tidak akan mundur dari kewajibanku," si bodoh menyatakan seraya menatap lurus pada Harry. Harry ingin sekali mencekiknya. Dia rasa dia mungkin bakal melakukannya, sebelum dua bulan berakhir. Setelah itu, betul-betul tinggal bersama Malfoy… Yah, dia sudah pasti bakal mencekik si bodoh kalau begitu.

Dia berjalan menjauh, Malfoy mengikuti di belakang.

xxx

Ada kepuasan tersendiri melihat lubang lukisan tertutup, meninggalkan Malfoy di luar. Akhirnya! Harry menarik napas lega sebelum berbalik dan melihat-lihat ke sekeliling ruang rekreasi Gryffindor. Tiba-tiba, kamar pribadi kedengarannya bukan ide yang buruk sama sekali.

Ruang rekreasi begitu hening, hingga dia pikir tak ada siapa-siapa. Akan tetapi, rupa-rupanya sangat mungkin membuat semua murid kelas enam, tujuh, dan delapan untuk bungkam bila kau hamil anak Malfoy. Semua orang hanya berdiri dalam ruangan, menatap Harry tanpa sepatah kata pun. Baru saja Harry berpikir untuk berjalan melewati kerumunan Gryffindor menuju kamar asramanya, Ginny maju satu langkah.

"Apa itu benar?"

"Uhm…" Harry tahu apa maksud Ginny, tapi dia betul-betul tak ingin membahasnya dengan semua penonton yang mereka miliki. Tapi Ginny tampak tidak mencemaskan hal yang sama.

"Kau pikir aku tak layak untuk mendengarnya langsung darimu, kalau begitu? Kau tahu, saat pacarmu hamil oleh lelaki lain, dan dia akan menikah pada lelaki lain tersebut, kau pasti berpikir dia setidaknya akan mengabarimu secara langsung!"

"Aku… Aku tak punya kesempatan. Maksudku, uhm…" Semua orang memandangnya. Sejujurnya, dia betul-betul lupa soal Ginny. Tapi dia tak bisa mengatakan itu padanya. Segalanya sangat kacau. Baru pagi ini dia tahu dia hamil dan sejak itu… Yah, dia kira dia memang punya waktu untuk memberitahu Ginny, tapi dia begitu kewalahan. Itu wajar saja, kan? Tidak setiap hari kau mendapati dirimu hamil dan orang paling menyebalkan sejagat raya adalah ayahnya. Tapi bagaimana caranya mengatakan itu pada Ginny supaya dia mengerti?

Harry hanya menatap Ginny tanpa daya.

"Aku hanya…" Ginny mulai berteriak, tapi lalu dia berhenti tiba-tiba dan alih-alih menutup mata, semua energi tampak terkuras dari dirinya. "Aku sungguh minta maaf. Aku tahu ini pasti lebih berat bagimu. Kau harus terikat pada, pada, pada si Malfoy!" Ginny mulai terisak, melemparkan kedua lengannya ke sekeliling leher Harry. "Aku sungguh inta maaf, Harry! Maaf aku membesar-besarkan hanya karena kau tidak bilang langsung padaku. Aku hanya betul-betul berharap setidaknya aku bisa mendampingimu, kau tahu. Aku betul-betul berharap aku mendengarnya langsung darimu. Di atas segalanya, aku betul-betul berharap semua ini tidak terjadi."

"Aku juga betul-betul berharap begitu, Ginny," Harry berkata pelan dan mendekap Ginny erat. Dia bertanya-tanya kapan kawan-kawan mereka mulai membagikan popcorn, karena mereka menatap dia dan Ginny seakan mereka adalah pertunjukan paling hebat sepanjang masa.

"Oh, Harry," Ginny mundur sedikit, mengangkat sebelah tangannya untuk mengelus pipi Harry dengan lembut. "Bagaimana perasaanmu saat ini?"

"Aku bakal terikat pada Malfoy dan sedang mengandung anaknya. Menurutmu bagaimana perasaanku?" Harry menggeram padanya. "Apa kita harus membicarakannya di sini?" Pada kata terakhir, dia menatap tajam semua orang yang berkerumun di sekeliling mereka.

"Oh," Ginny merona. "Kurasa kita harus membicarakannya besok saja, Harry. Kita makan siang bersama dan cari tempat yang tenang untuk bicara, oke?"

"Kedengarannya bagus," kedengarannya memang bagus. Ginny memang mudah emosi, tapi dia selalu bisa mengerti Harry dengan cara yang tak bisa dilakukan oleh orang lain.

Harry melotot tajam pada semua penonton, kebanyakan dari mereka bahkan tak punya kesadaran untuk tampak malu. Dia memeluk Ginny sekali lagi sebelum beranjak menuju kamar asrama, mengabaikan semua orang lainnya. Dia tak punya waktu untuk memenuhi rasa ingin tahu mereka.

xxx

Malfoy sudah menunggu Harry di pagi hari dan mengikutinya kemana-mana sepanjang hari. Saat mereka tak punya kelas bersama, entah bagaimana dia masih berhasil berada di sisi Harry di antara jam pelajaran. Menyerah berusaha menyingkirkan Malfoy, Harry akhirnya memilih untuk mengabaikan dia.

Setelah menemui Ginny di Aula Besar, mereka membawa beberapa makanan dan baru saja hendak berangkat untuk mencari tempat sepi, saat seseorang menaruh sebelah tangan di bahu Harry, memaksanya untuk berhenti. Tentu saja itu Malfoy.

"Dan kemana persisnya kau berniat pergi dengan dia?"

"Kami mau pergi makan siang dan bebicara. Hanya berdua." Harry menekankan kata terakhir.

"Kurasa tidak bisa."

"Maaf?"

"Dia mantan kekasihmu. Tidak pantas bagimu berduaan dengannya." Malfoy mendelik tajam pada Ginny. Ginny memerah, tampak seakan hendak mengamuk pada Malfoy tapi berusaha keras untuk tetap diam sebagai gantinya.

"Dengar, Malfoy. Aku benar-benar perlu bicara dengan Ginny. Kau tak bisa mengharapkanku untuk satu hari berada dalam hubungan dengannya dan di hari berikutnya terikat denganmu hanya karena kecelakaan, dan tidak bicara apa pun padanya. Dan dia masih bagian dari keluargaku. Jadi lebih baik kau terbiasa dengan ini."

Malfoy menatap mereka sebentar. "Oke," dia akhirnya berkata. "Tapi aku ikut denganmu." Saat Harry hendak protes, dia mengangkat sebelah tangan. "Aku ikut denganmu, tapi," dia mendesah, jelas tak ingin mengatakan apa pun yang hendak dia katakan. "Aku akan merapal silencio di sekeliling diriku. Aku akan bisa melihatmu, tapi aku tak akan bisa mendengarmu. Oke?"

Setelah menatap Malfoy sejenak lebih lama, Harry mengangguk singkat dan berbalik pada Ginny, yang juga mengangguk meski agak cemberut.

xxx

Setelah menyamankan diri di atas dua kursi di ceruk yang mereka temukan, Harry dan Ginny melakukan yang terbaik untuk mengabaikan keberadaan Malfoy. Malfoy melotot tajam pada mereka, tapi dia menepati kata-katanya dan merapal mantra peredam di sekitar dirinya sendiri sebelum bersandar pada dinding di seberang Harry dan Ginny.

"Jadi," Ginny memulai ragu-ragu. "Bagaimana kabarmu, Harry? Sejujurnya?"

Harry mendesah. "Sangat bagus, kau tahu. Aku selalu bercita-cita ingin hamil. Yang benar saja, Ginny? Kau tahu, tak ada seorang pun yang tampak bingung meski sedikit mendengar berita aku hamil. Orang-orang tahu aku ini laki-laki, kan?" Mungkin bukan itu maksud Ginny, tapi itu sangat mengganggu Harry. Saat dia mencoba membicarakannya dengan orang lain soal ini, mereka hanya memberinya senyum mengayomi.

Ginny menatapnya penasaran untuk sejenak. "Kau benar-benar menganggapnya aneh, ya? Huh. Apa Muggle tak punya cara untuk menolong laki-laki agar bisa hamil?"

"Tidak!"

"Kalau begitu bagaimana caranya pasangan homoseksual bisa jadi orangtua?"

"Mereka biasanya mengadopsi, kurasa. Sebenarnya aku tidak terlalu memikirkannya. Ya ampun, Ginny. Fokus! Apa kau benar-benar mau bilang bahwa di dunia sihir, laki-laki bisa hamil itu normal?"

"Tentu saja. Maksudku, ramuan untuk mencapai hal itu sudah ada sejak ratusan tahun lalu."

"Ratusan tahun? Jadi penyihir sudah selama itu pula tak keberatan dengan pasangan homoseksual kalau begitu?"

"Kenapa kami harus keberatan pada pasangan homoseksual?" Ginny tampak betul-betul bingung dan sedikit kaget.

"Yah, aku tak tahu persis kenapa. Aku hanya tahu bahwa banyak Muggle berpikir bahwa homoseksualitas adalah dosa atau tak alami."

"Apa? Pikiran mereka sempit sekali!"

"Yah, kupikir juga begitu. Sebetulnya, aku tak terlalu memikirkannya, karena aku terlalu muda untuk tertarik pada hal-hal macam itu sebelum aku datang ke Hogwarts. Dan setelah itu, yah, aku cukup sibuk. Aku hanya tahu bahwa beberapa Muggle berprasangka buruk pada orang-orang yang memiliki orientasi seksual berbeda—atau identitas jenis kelamin berbeda—dari yang mereka pikir seharusnya dimiliki manusia. Dan laki-laki tidak bisa hamil!"

"Kau tahu, aku memang suka Muggle, tapi kadang-kadang mereka punya gagasan yang aneh, ya?"

"Yeah." Mereka duduk diam untuk beberapa waktu.

"Jadi," Harry akhirnya melanjutkan, "Itulah kenapa tak ada yang membesar-besarkan masalah aku hamil kalau begitu. Maksudku, soal aku ini laki-laki dan hamil. Mereka memang membesar-besarkan soal masalah kehamilan. Orang-orang tampak berpikir aku tiba-tiba jadi lemah dan tak berdaya." Harry mengatakan hal terakhir dengan alis bertautan. Malfoy, tak diragukan lagi, adalah yang paling parah, tapi yang benar saja… Bahkan saat di kelas, saat Malfoy tak ada di sana, Harry bahkan tak bisa menjatuhkan pena bulu tanpa memiliki setidaknya lima orang teman sekelas berjuang untuk jadi yang pertama memungut dan menyerahkan pena bulunya pada Harry. Hal ini makin lama makin menjengkelkan.

"Yeah," Ginny tersenyum. "Jadi, keadaanmu benar-benar parah kalau begitu?"

"Di kelas Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam hari ini, mereka membuatku duduk di pojokan di belakang mantra proteksi sepanjang waktu." Harry murka lagi hanya dengan mengingatnya.

"Well, mau bagaimana lagi. Harry, aku tahu kau lebih dari mampu bahkan untuk mengajar kelas itu, tapi kau harus ingat bahwa kau tidak bisa hanya memikirkan dirimu sendiri lagi. Kau punya seseorang kecil yang juga harus dipikirkan." Ginny benar, tapi itu tak membuat Harry merasa lebih baik sedikit pun. Hal itu pasti terlihat di wajah Harry. Ginny menggenggam tangan Harry. "Harry. Aku sangat, sangat turut menyesal. Tapi aku tahu kau akan jadi orangtua yang hebat," tambahnya dengan satu anggukan ke arah Malfoy, yang sedang menatap tangan Ginny dan Harry dengan tampang seakan dia siap untuk membunuh. Harry tak peduli.

"Bagaimana…" Tekad Harry untuk bertanya gagal dan dia harus berhenti untuk menarik napas dalam-dalam sebelum mulai lagi. "Bagaimana perasaanmu soal situasi ini? Kau tahu, soal aku yang akan terikat dengan Malfoy?"

Ginny membuang muka untuk sesaat, tampak jelas tak nyaman. Tapi Ginny adalah seorang Gryffindor sejati, dan setelah mengumpulkan keberanian untuk sesaat, dia kembali berbalik dan menatap Harry tepat di mata. "Aku menyesal kau dipaksa untuk memasuki pengikatan ini. Kau layak mendapat hak untuk memilih dengan siapa kau ingin terikat. Soal apa yang kurasakan secara pribadi… Harry, aku menyayangimu, sungguh. Kau tahu itu. Aku sudah cukup lama berusaha menjernihkan kepalaku untuk bicara padamu, karena, aku tak tahu lagi soal 'kita'. Aku menyayangimu, tapi kurasa aku tidak mencintaimu layaknya seorang kekasih. Kurasa, aku mencintaimu lebih seperti seorang teman baik. Mungkin seperti seorang kakak, meski aku punya tendensi untuk lebih sering bertengkar dengan kakak-kakakku dibanding denganmu. Saat aku mendengar kabar tentang kau dan Malfoy, aku sakit hati karena tak mendengarnya langsung darimu, tapi selain itu? Fakta bahwa selain dari itu, mendengar kabar itu tidak terasa sakit adalah apa yang membuat segalanya jelas untukku. Bahkan meski semua ini tak terjadi padamu, kurasa hubungan kita tak akan bertahan lama. Kurasa kita bukanlah orang yang tepat untuk satu sama lain. Maafkan aku."

Harry mendengarkan pidato panjang Ginny tanpa mengucap sepatah kata pun. Saat Ginny selesai, Harry menaruh kepalanya di kedua tangan untuk berpikir sejenak. Apa yang dia rasakan mendengar kata-kata Ginny? Dia pernah berpikir mereka akan bersama selamanya. Ginny akan memberinya keluarga yang selalu dia inginkan. Lewat Ginny, dia juga akan menjadi bagian dari keluarga Weasley. Harry menyayangi Ginny, soal itu dia tidak ragu. Tapi apakah yang dikatakan Ginny benar adanya? Apakah cinta Harry untuk Ginny tak lebih dari cinta yang dia punya untuk Hermione atau Ron? Atau seperti cinta pada seorang adik yang tak pernah dia miliki? Harry tak tahu.

Harry merasakan tangan menyentuh lengannya. Dia mengangkat kepala. Ginny tengah berjongkok di sampingnya, ekspresi cemas di wajahnya. Harry tersenyum padanya ragu-ragu.

"Kurasa aku mengerti apa yang kau katakan, Gin," dia mendengar dirinya sendiri berkata, dan tahu bahwa kata-katanya benar adanya. "Aku hanya berharap situasi berbeda. Aku hanya berharap bisa menikahi sahabat baikku." Harry tersenyum padanya dan Ginny maju untuk memeluknya.

"Singkirkan tanganmu dari tunanganku." Malfoy tiba-tiba berdiri di samping mereka berdua, tampak mematikan. Ginny dan Harry kaget, mereka hampir lupa dia ada di sana.

"Kami hanya berpelukan sebagai teman, Malfoy. Tenanglah sedikit." Harry bangkit dan melotot tajam padanya.

"Itu tidak pantas."

"Seolah aku peduli. Aku suka memeluk teman-temanku. Kau harus menerimanya."

"Dia mantan kekasihmu."

"Dia temanku."

"Aku minta maaf, Malfoy." Harry menatap Ginny kaget. Ginny lalu menoleh untuk menatap Harry. "Dia benar, kau tahu. Aku ini mantanmu, dan baru kemarin pagi aku masih berstatus pacarmu. Setidaknya kita harus membicarakannya dengan dia dulu." Dia berbalik lagi pada Malfoy. "Jadi, aku betul-betul minta maaf. Tapi Harry benar, aku temannya. Hal itu tak akan berubah dan kuharap kau bisa belajar untuk menerimanya."

Malfoy memandang Ginny untuk sesaat sebelum mengakui kata-kata Ginny dengan anggukan singkat. Dia lalu mundur untuk bersandar ke dinding lagi, tapi Harry menyadari bahwa kali ini dia tidak merapal silencio.

"Harry, aku akan selalu ada bila kau butuh apa saja. Bila kau ingin bicara. Tentang apa saja. Kuharap kau tahu itu."

"Tentu, Gin. Aku juga akan selalu ada untukmu, kau tahu. Aku memang hamil, tapi tak peduli apa pendapat orang, kau tak perlu terlalu berhati-hati di sekitarku. Aku masih bisa ada di sampingmu. Aku masih bisa berfungsi seperti manusia normal." Dia melotot pada Malfoy, memastikan si menyebalkan mendengar kata-kata terakhirnya. Tapi kalau pun dia mendengarnya, dia tak menunjukannya.

Ginny tersenyum. "Aku tahu, Harry. Tapi tolong jaga diri dan bayimu." Dia terhenti, matanya tiba-tiba berkilat penasaran. "Apa kau sudah tahu bayinya laki-laki atau perempuan?"

"Tidak." Harry melotot pada Ginny. Percakapan ini mulai mengarah pada topik yang tak Harry sukai.

"Harry. Jangan keras kepala begitu. Kau harus menerimanya."

"Aku tahu. Tapi Gin, ini baru hari kedua aku tahu soal ini! Kenapa tak ada yang mengerti bahwa setidaknya aku butuh waktu untuk membiasakan diri? Kenapa orang-orang tak mengerti bahwa aku betul-betul berharap mereka setidaknya memperlakukanku dengan normal untuk sedikit lebih lama? Perutku bahkan belum kelihatan hamil, demi Merlin! Baru kemarin aku tahu bahwa laki-laki bisa hamil, bahwa aku hamil, dan semua orang menuntutku untuk langsung merasa normal?" Dia hampir berteriak sekarang.

Ginny memerah, dan Harry heran melihat di pipi Draco juga ada setitik merah. Tapi Ginny mengangguk dan tak menanyakan hal lain.

Bersama-sama, mereka menyantap makan siang mereka yang terlupakan dalam diam, sebelum pergi ke kelas. Bayangan baru Harry mengikutinya. Dia sudah hampir terbiasa dengannya.

.

-bersambung-

.