~Selamat Membaca~
Asama Miya cukup sibuk melakukan aktivitas rumah tangga sebagai janda cantik dan baik hati; Melipat pakaian. Paling tidak, ketika sosok pirang pucat memenuhi pandangannya.
"Apa yang kau inginkan?" Tanyanya, dia tidak repot-repot menyembunyikan bra dari mata biru seorang pria tertentu. Yang dipastikan tidak memiliki sedikit kesopanan untuk berpaling atau bahkan peduli.
"Apa yang kamu lakukan disini?" Tanyanya lagi. Menatap wajah pucat didepannya.
Menghela nafas, Miya menyunggingkan senyuman manis, miasma ungu pekat muncul dibelakangnya beserta wujud Hannya menyeramkan. Mengancam.
"Kamu yakin membiarkanku melihat itu?. Rendanya cukup bagus." Naruto menyatakan acuh tak acuh pada aura mengerikan Miya. Mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
"Ara... aku tidak tahu jika kamu tertarik pada benda itu, Sensei~" Senyuman Miya belum padam.
Meski dengan wajah bosan yang masih sedatar papan triplex, Naruto sudah mulai mengerahkan kekuatannya untuk mengutuk arwah Takehito yang sudah mengajarkan jurus kematian pada sang pillar. Dalam hati.
Pria pucat itu menatap wajah Miya yang masih tersenyum.
"Kau tidak banyak berubah." Katanya pada pillar yang kesal.
"Ara ara... sensei, kau ingin mati."
Tentu saja sekirei no. 01 bisa membunuhnya kapan saja dan dimana saja secara instan. Terlebih mengingat fakta bahwa kehancuran kota bukan masalah ditangan sang pillar sekirei.
Karena itu, Naruto menyatakan jalur damai.
"Ah...Miya-kun, aku hanya memiliki sedikit urusan." Naruto mulai menjelaskan. " Anak dengan banyak burung itu, Takami memintaku untuk sedikit mengawasinya."
Hening...
Miya menatap wajah pucat Naruto, tatapan yang berbeda dengan no. 01 yang memusnakan kapal laut musuh. Tatapannya jauh lebih mengerikan. Tapi lembut dan... memohon.
"Aku masih membencimu, sensei"
"Ya, aku tahu."
"Memberiku satu jinki yang gagal dicuri Matsu...
"Aku mengerti."
"Aku...Aku tidak...
Miya ingin mengatakan sesuatu, tapi pelukan mantan instrukturnya menghentikan Miya. Dia hanya diam mendengar bisikan menenangkan Naruto.
Xxxx
Sekirei 01, Miya. Kode kesalahanmu adalah 666.
Kata-kata itu tidak pernah berarti apapun. Naruto menggunakannya tanpa alasan yang jelas. Kata itu dikatakan sejak awal. Sejak Miya merasakan reaksi panas tertentu, reaksi alami saat dia menemukan seorang Ashikabi.
Namun masalahnya adalah dia tidak bereaksi pada Asama Takehito, dia bereaksi pada instruktur lapangannya. Namikaze Naruto.
Naruto sudah tahu, tidak ada gunanya menyembunyikan sesuatu darinya. Meski, kadang, sikap bebalnya adalah keuntungan tersendiri untuk Miya.
Si pirang pucat itu sudah mengkatagorikan reaksinya sebagai kecemburuan absolut atas kedekatannya dengan 'Asama-san'. Ditambah dengan fakta bahwa Miya lebih sering kesal dan marah-marah pada kedekatannya dengan 4 sekirei lainnya. Tanpa pengecualian untuk Mutsu. Predikatnya sudah menanjak dari cemburu ke benci.
Sebagai seorang pillar, Miya bisa menahan reaksinya.
Sampai...
Sesuatu hal terjadi, dimana sekirei 04 dikabarkan bersayap.
Miya tidak marah tentang sekirei 04 yang bersayap tanpa reaksi. Dia lebih marah karena zero four mendapatkan sayap lebih dulu darinya, oleh Namikaze Naruto.
Dia tidak pernah semarah itu sebelumnya. Ketika Miya melihat keduanya bersama, itu adalah jerami terakhir.
Dia akhirnya menyampaikan kata 'benci' pada instrukturnya. Menyatakan bahwa sekirei 04, Karasuba bersayap diluar keinginannya, bahwa ikatan Ashikabi dan sekirei mempengaruhi zero four, bahwa dia...seharusnya tidak pernah datang.
Yang terakhir memiliki alasan terkuat dari sang pillar; Jika dia tidak pernah datang, Miya masih akan mencintai Asama Takehito sebagai seorang kekasih. Jika dia tidak pernah datang, Mereka para sekirei tidak akan mengenalnya sebagai orang baik. Jika Namikaze Naruto tidak pernah datang, zero one tidak akan pernah jatuh cinta padanya.
Lalu secara tiba-tiba dia dipanggil ke kantor utama, milik pribadi Minaka Hiroto. Dia melihat wajah murung Asama Takehito dan dua orang lainnya, Takami dan Minaka. Instruktur lapangannya juga ada disana, duduk santai di sofa beludru. Miya memasuki ruangan dengan tenang, mencari tahu alasan kenapa dia dipanggil.
Informasi selanjutnya membuat kepalanya terasa akan dipenggal.
Namikaze Naruto akan meninggalkan MBI.
Sebagai pillar dia ditugaskan untuk memberitahu alasan ketidak hadiran Namikaze pada sesi latihan hari itu dan yang akan datang. Semua sekirei dalam bimbingan Naruto merasa sedih dan kecewa. Termasuk Yume kecil yang merupakan sekirei kebanggaan Naruto-nii.
Namun sekirei terfavorit Naruto, zero four, tidak mengatakan apapun. Gadis perak itu entah kenapa tidak lagi mengingat apapun tentang Namikaze. Minaka menyatakan bahwa ingatannya telah dihapus dan sayapnya diikat, oleh Ashikabinya sendiri. Namikaze Naruto.
Dengan satu atau dua dan lain cara. Namikaze sudah memastikan bahwa Karasuba tidak akan memiliki ingatan tentangnya. Takehito menentang keputusannya, tapi Naruto hanya menjawab bahwa keputusannya adalah yang terbaik. Mencegah Karasuba memiliki sayap dengan takdirnya adalah yang terburuk. Dan dia tidak menyatakannya dengan keras tapi dia jelas menyukai zero four lebih dari apapun.
Namikaze Naruto mencintai gadis perak itu. Gagak kecilnya.
Saat itulah Miya menyerah.
Xxxx
Miya merasakan kehangatan yang menyelimutinya adalah mimpi. Dan perasaan nyaman dihatinya adalah kutukan. Dia merasa sangat rentan.
Miya terbangun dan mengerjabkan matanya untuk menfokuskan pandangannya, hanya untuk menemukan dirinya terbaring dipangkuan seseorang dengan kimono sutra dan cahaya jingga sore menyambutnya.
"sen...sei" dia bergumam lemah. Panas reaksinya kembali padanya dua kali lipat, ditambah dengan jarak kedekatan mereka saat ini.
Sikap bebal mantan instrukturnya itu tidak ada habisnya. Dia yakin bahwa Namikaze saat ini hanya berpikir bahwa dia merasa sangat malu saat menyadari dirinya bangun ditempat dan posisi tidak pantas yang sebenarnya sangat indah. Menurut Miya.
Setelah mendorong pria pucat itu kelantai dengan kekuatan sekireinya, Miya memposisikan dirinya dengan baik diatasnya. Wajahnya memerah. Tidak memberi kesempatan instrukturnya untuk kabur. Pria dibawahnya tentu saja mengartikannya sebagai langkah menuju kematian yang pedih.
Dia akan meminta maaf nanti. Miya menyatakan dengan tegas dalam hati. Tidak peduli dengan fakta tidak senonoh bahwa dia terlihat akan memperkosa seorang pria. Dia juga tidak peduli tentang berpasang-pasang mata yang menonton di tempat tertentu. Dia akan membunuh mereka nanti. Dia juga akan menaikan harga sewa jika mereka berani mengatakan sesuatu.
Miya menatap mata biru yang menatapnya bingung.
"Ano sa... Miya, itu sebenarnya salah paham!." Dia mendengarnya mencoba menjelaskan sesuatu. Seberapa bebal orang ini!.
Mengendalikan panas ditubuhnya, Miya bangkit melepaskan cengkraman tangannya. Dia duduk untuk menenangkan jantungnya yang berdengub. Sedikit lagi...
"Hey Miya..."
"Apa!."
"Miya..."
Miya menolehkan kepalanya dengan kesal. Menghadap pria bebal disampingnya. Dia belum siap menghadap mantan instrukturnya setelah kegagalannya.
Naruto tersenyum lembut, mencondongkan wajahnya lebih dekat. Mencium bibir sekirei yang kini tenggelam dalam kejutan.
Sayap lebar bercahaya keunguan bersinar terang dibelakangnya. Miya merasa kesempurnaan dan kebahagiaan merasuki jiwanya. Dengan air mata bahagia yang meleleh diwajahnya, bibirnya bergetar mengucapkan noritonya, sumpah setianya kepada sang Ashikabi.
Namikaze Naruto.
Dia sudah menunggu terlalu lama.
Xxxx
Sementara itu... para penonton merasa telah menyaksikan pemutaran drama terbaik yang pernah ada. Meski pada awalnya Minato dan kawanannya yang masih polos dikejutkan dengan fakta baru bahwa sang land lady juga seorang sekirei. Mereka ingin menanyakan nomernya tapi Matsu dan kagari lebih memilih diam karena masih sayang nyawa.
Sebagai penonton, mereka hanya bisa menyaksikan Miya tertidur sepanjang waktu dipangkuan Namikaze-san. jantung mereka berdebar-debar secara eksplosif ketika land lady sepertinya akan melakukan sesuatu yang drastis. Sampai pada akhirnya Namikaze-san memberi sang land lady sayap secara mengejutkan.
Matsu sang Ero-Majin yang sudah mulai cekikikan sejak adegan dimulai berubah diam dan memperhatikan.
Mendapatkan sayap adalah moment penting yang ditunggu setiap sekirei. Kali ini Miya mendapatkannya setelah perjalanannya yang panjang dan berliku. Dia telah menolaknya sekali lalu ditolak dua kali hingga pada akhirnya dia mendapatkan apa yang selalu dia inginkan.
Satu-satunya diruangan itu yang mengetahui situasi Miya adalah dia.
...Matsu-san!."
Matsu mendengar Minato mencoba menarik perhatiannya. Dia meminta maaf pada ashikabinya yang hanya menghela nafas.
"apakah kita bisa keluar sekarang?." Minato bertanya gelisah.
Dia, Musubi, Tsukiumi, Kusano, dan Kagari ditarik paksa ke ruang rahasia oleh Matsu yang sepertinya tidak menginginkan instrupsi apapun atas kegiatan sepasang sosok tertentu dengan cara apapun.
"aah...sebentar lagi Mina-tan."
Xxxx
Didalam mobil mewahnya Hayato Mikogami sudah mulai rewel. Dia berhasil duduk diam selama 3 jam. Tapi pantatnya sudah terasa sakit karena duduk terlalu lama dan kakaknya belum kembali sejak dia keluar untuk mengunjungi seorang teman.
"Aaaaa... dia lama sekali! Kenapa kita tidak bisa menjemputnya Mutsu!"
"Aku belum siap Mati."
Jawaban Mutsu yang singkat, padat, dan jelas membuat Mikogami bungsu menjadi frustasi. Lagipula apa sih yang dilakukan kakaknya di wilayah utara?, daerah itu cukup berbahaya. Sangat berbahaya. Tapi menurut Mutsu dia tidak perlu khawatir karena Naruto akan selamat dan hidup. Tapi dia masih khawatir, jadi dia bersikeras menunggu didalam mobil meski sang kakak sudah menyuruhnya untuk pulang duluan.
"Ayo Mutsu!"
"Tidak."
"Ayolah...Mutsu"
"Tidak."
"Cih...seharusnya aku membawa Akitsu dan yang lain."
"Mutsu!!!"
Xxxx
Sore itu Karasuba untuk pertama kalinya merasa sangat gelisah. Sesuatu terasa melilit perutnya dan membuatnya tidak nyaman. Mengingatkannya pada sesuatu yang tidak dia ingat. Dia tidak menyukainya.
Perasaan itu membuatnya merasa rentan.
Dia tidak suka merasa lemah.
Tapi sesuatu itu juga melibatkan hal yang membuatnya marah dan kesal. Dia ingin membunuh sesuatu, tepatnya seseorang tertentu dalam pikirannya.
Tapi... Siapa?
Sekirei 04, sudah lama menanyakannya. Pada dirinya sendiri, siapa orang tertentu yang membuatnya merasakan sesuatu hal berupa perasaan aneh berkepanjangan.
Rambut pirang dan wajah pucat, Senyum meremehkan, dan mata yang geli.
Dia ingat... orang itu memanggilnya gagak.
Sesuatu yang membuatnya bersemangat untuk benar-benar membunuhnya.
Dan perasaan itu tidak pernah asing.
"Hey Natsuo, bisakah kau mengantarku kesuatu tempat besok?."
Sekarang Karasuba merasa perlu mengunjungi Muu-chan polosnya. Gadis ajaib itu mungkin bisa membuatnya lupa sementara.
xxxx
sampai disanalah dan tunggu kelanjutannya. aku merasa membutuhkan beta tapi aku tidak banyak memiliki kenalan. aku juga kurang bisa menyesuaikan tulisanku dengan apa yang orang katakan tapi aku akan berusaha!!
terimakasih untuk orang yang mendukung cerita gaje ku.
bye~
Miya: kenapa kamu membuatku terlihat be*a* dan seperti *l@"* Author-san.
(Tersensorkan karena kosa-kata kotor yang tidak pantas didengar oleh anak dibawah umur)
sementara itu sang author telah binasa...
