A/N: Hola-hola reader-san. Ketemu lagi sama Kuroki. Chapter ini tidak jadi update akhir bulan. Gara-gara belakangan ini perasaan kuroki lagi labil. (Chapter ini juga Kuroki edit lagi. Dan sebelum chapter ini dirombak, chapter ini update awal bulan April. Niatnya sih waktu itu mau hiatus sementara gara-gara UN. Tapi gak jadi. Hehehe ^_^ ). Kalau Kuroki lagi labil, Kuroki jadi terjebak didunia fic yang Kuroki buat. Dan otomatis Kuroki jadi ngetik lanjutannya. Padahal tinggal 13 hari lagi UN nya. Bukannya belajar ya. (Aduh, kok jadi curhat ya? Hehe). Dan gara-gara labil juga, Kuroki hampir buat fic baru, karena ada imajinasi baru. Padahal yang ini aja belum kelar. Prinsip Kuroki 'Tidak akan buat fic baru kecuali fic yang sudah dibuat sudah tamat'. (Eh, kok curhat lagi ya? Yaudahlah gak apa-apa).
Kuroki ucapin terima kasih banyak, untuk reader-san yang masih mau membaca fic buatan Kuroki ini. Ya sudah gak usah bishi bashi (baca: basa basi) lagi, langsung baca aja.
.
Rating: T
Genre: Adventure, Hurt/Comfort
Warning: OC, Death Character
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto
Main Chara: Uzumaki Minana (OC), Lucky (OC), Uzumaki Kushina, Namikaze Minato
Pembuat fic: Kuroki
.
Cuplikan chapter sebelumnya:
Lucky yang menghilang akibat menggunakan jurus mustahil meninggalkan sebuah gulungan/surat kepada Minana. Kushina yang melihat isi surat itu langsung mendapat tatapan tajam dari Minana dan membuat Kushina jadi membenci Minana. Dan Minana juga menerima tawaran Hokage ke-3 untuk tinggal bersama Kushina dan bersekolah lagi di Akademi untuk menjadi ninja Konoha.
Chapter 4: Sekolah Lagi
.
_Flash Back di Rumah Sakit Konoha_
-POV Kushina-
Setelah berbicara pada Minana tentang bersekolah di Akademi dan tempat tinggalnya, Hokage-sama pergi meninggalkan ruangan... hanya menyisakan kami berdua. Begitu Hokage-sama pergi, aku juga ikut pergi dari ruangan ini, karena aku tidak mau berhubungan dengan orang yang membenciku tanpa sebab yang jelas.
Aku terus berjalan... berjalan menuju rumahku. Namun, saat diperjalanan pulang, aku kepikiran lagi dengan tatapan Minana itu.
'Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa dia membenciku? Memang aku salah apa?'
Tiba-tiba saja langkahku terhenti... karena ada sesuatu yang membuatku mengerti kenapa Minana bersikap seperti itu.
'Astaga. Apa yang sudah kulakukan. Wajar saja dia marah padaku, karena aku menyinggung perasaannya dengan mengatakan matanya aneh. Dan dia juga pasti marah karena aku menghina surat yang mungkin dibuat oleh orang yang sangat berharga baginya. Astaga... apa yang sudah kulakukan. Aku benar-benar bodoh,' pikirku sambil berlari kembali menuju Rumah Sakit.
'Aku harus minta maaf padanya,' batinku.
Aku bergegas kembali ke Rumah Sakit. Setelah berlari cukup lama, akhirnya aku sampai di Rumah Sakit. Lebih tepatnya didepan ruangannya. Namun setelah aku membuka pintu ruangannya, ternyata dia sudah tidak ada.
Mengetahui hal itu, aku pun bertanya pada perawat yang bertugas merawat Minana. Tapi perawat itu bilang, `Minana sudah keluar dari Rumah Sakit beberapa menit yang lalu`. Mendengar hal itu, aku langsung mencari Minana. Aku mencoba mencari Minana disekitar Rumah Sakit... siapa tahu dia masih disekitar sini. Tapi ternyata... aku tidak menemukannya.
Kemudian aku mencarinya dijalan kearah Kantor Hokage... siapa tahu Minana bertanya pada Hokage-sama dimana rumahku. Namun, aku tidak melihat tanda-tanda Minana datang kesini. Penasaran dengan pemikiranku itu, akupun bertanya pada para penduduk dan ninja yang ada disekitar Kantor Hokage. Tapi, orang-orang yang aku tanyai... semuanya bilang `tidak tahu atau tidak melihat Minana`.
Sore sudah berganti malam. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang ke rumah... siapa tahu dia sudah ada disana karena pintu rumahku lupa kukunci lagi. Saat diperjalanan pulang, aku bertanya pada penduduk aku temui.
"M-Maaf. Apakah bibi melihat gadis berambut merah yang mirip denganku?" tanyaku pada salah satu penduduk yang kutemui.
"Aku tidak melihatnya," jawab bibi itu.
"Oh begitu ya. Terimakasih ya, Bi."
Tidak membuahkan hasil, aku kembali bertanya pada orang-orang yang kutemui saat perjalanan menuju rumahku... lebih tepatnya kali ini aku bertanya pada shinobi Konoha yang kebetulan kutemui.
"Maaf, apakah tuan melihat gadis berambut merah mirip denganku?" tanyaku sopan.
"Ya, aku melihatnya," jawab orang itu.
"Dimana?" tanyaku semangat.
"Didepan mataku, GYAHAHAHAHAHA," ucap Ninja itu yang langsung tertawa terbahak-bahak.
"AKU SERIUS!" bentakku lalu meninggalkan orang itu. 'Akukan nanya serius. Kalau gak tahu bilang aja gak tahu,' umpatku kesal.
Aku meneruskan perjalananku pulang ke rumah. Tidak ada seseorang yang kutemui lagi. Mungkin karena rumahku berada diujung desa ini dan hari sudah malam. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya aku sampai di rumahku.
"Tadaima," ucapku seraya membuka pintu.
Aku tidak mendengar suara yang menyahut dari dalam. Rumah juga terlihat gelap.
'Apa dia belum pulang?'
Setelah masuk, aku langsung menghidupkan lampu-lampu di rumah dan mencari Minana. Yah siapa tahu aja dia sudah ada disini. Aku pikir ada kemungkinan dia sudah ada, tapi ternyata... aku tidak menemukan siapapun di rumah.
"Sebenarnya dia dimana sih!" umpatku yang mulai muncul urat dikepalaku.
Karena kesal, aku langsung menulis kata `ini kamarmu` di secarik kertas. Setelah kutulis, aku menempelkannya didepan pintu ruangan sebelah kamarku. Setelah melakukan hal itu, aku masuk kekamarku. Kemudian mengganti bajuku dan merebahkan tubuhku dikasur.
"Tadaima."
Aku mendengar suara orang yang kucari-cari dari tadi. Aku tidak menyahutnya karena aku masih kesal gara-gara mencarinya tapi tidak ketemu. Demi menghilangkan perasaan kesal ini masih ada, jadi aku putuskan untuk memejamkan mataku dan mencoba untuk tidur.
-End of Kushina POV-
_End Flash Back_
-Keesokan Harinya, Di Akademi-
Didepan sebuah pintu kelas di Akademi Konoha, berdiri 2 figur yang ingin masuk ke kelas yang ada didepannya. Suara keributan dari kelas itu mungkin bisa sampai terdengar keseluruh akademi.
Yang pertama adalah seorang ninja chunnin yang membawa buku-buku untuk mengajar. Pakaiannya sama dengan para chunnin atau jounin yang ada di Konoha. Satu figur lain adalah gadis kecil berambut merah dengan mata kanan berwarna merah dan mata kiri berwarna biru. Gadis itu memakai kaos putih polos dengan panjang lengannya sesiku dan motif lambang klan uzumaki dipunggung dan dikedua bagian lengan atasnya, serta angka 9 berwarna merah yang ada di bagian dada kanannya; memakai celana chunnin berwarna hitam yang panjangnya sebetis; memakai sendal ninja berwarna hitam; serta memakai syal berwarna hitam polos.
"Minana, nanti begitu aku memanggil namamu, kau langsung masuk kekelas ya?" perintah shinobi tersebut.
"Baik, Nueno-sensei," jawab Minana seraya menganggukkan kepalanya.
Setelah mengatakan hal itu, Nueno beranjak masuk kekelas yang ada didepannya. Suasana kelas yang semula berisik, kini menjadi tenang karena... ada seorang ninja yang masuk kekelas mereka.
"Kau siapa? Dimana Takahashi-sensei?" tanya salah satu murid di kelas.
"Mulai hari ini... aku adalah walikelas kalian. Perkenalkan, namaku Nueno," kata Nueno dengan wajah cerianya.
"Memang, ada apa dengan Takahashi-sensei?" tanya anak berambut kuning dengan model durian a.k.a Minato.
"Kau tidak perlu tahu," jawab Nueno tidak peduli. "Hari ini bukan sensei kalian saja yang baru, kalian juga mendapatkan teman baru. Minana, silahkan masuk," lanjut Nueno seraya menghadap pintu dimana ia masuk.
Mendengar namanya dipanggil, Minana beranjak masuk kekelas dan berjalan menghampiri Nueno-sensei. Kemudian Minana menghadap ke arah para murid yang ada di ruangan itu. Murid-murid di kelas yang melihat Minana, langsung berbisik dengan teman yang duduk disebelahnya.
"Hei, lihat. Ada tomat kedua dikelas kita." Itulah suara bisik-bisik murid yang ada di kelas itu sekarang.
"Hei, semuanya tenang," seru Nueno pada murid-muridnya.
Suasana di kelas kembali tenang.
"Nah, sekarang, perkenalkanlah dirimu," lanjut Nueno.
"Namaku Minana," kata Minana singkat.
"Minana, beritahu nama lengkapmu pada teman-teman barumu," perintah Nueno karena dia tahu kalau barusan Minana hanya menyebutkan nama kecilnya.
"Namaku memang Minana. Tanpa nama klan ataupun marga," ucap Minana tanpa ekspresi pada Nueno.
Kushina yang mendengar hal itu sedikit kaget.
'Kenapa dia bilang tidak punya marga? Diakan anggota klan Uzumaki? Kenapa dia seenaknya bicara seperti itu?' batin Kushina yang sedikit kesal mendengar apa yang Minana bilang barusan.
Minana melanjutkan perkenalannya. "Hobiku bermacam-macam. Hal apa yang kusuka bukan urusan kalian. Hal yang aku benci ada banyak, aku males nyebutinnya. Aku tidak punya impian, tapi aku punya tujuan. Dan tujuan hidupku... well, kalian tidak perlu tahu."
'Pada akhirnya kau hanya memberitahu nama kecilmu saja,' batin Nueno yang sweatdrop mendengar perkenalan Minana.
"Hei tomat, emang siapa juga yang mau tahu hobi dan impianmu itu! Aku sama sekali gak peduli," ucap anak laki-laki yang duduk dipaling depan.
'Tomat, huh? Tidak disini, tidak dimasa depan, aku tetap saja dipanggil tomat,' batin Minana sambil menghela napas.
"Tenang-tenang," Perintah Nueno. "Minana, sekarang kau duduk dibangku sebelah sana," lanjutnya sambil menunjuk bangku kosong yang ada di paling belakang.
-POV Minana-
Mendengar perintah Nueno-sensei, akupun berjalan menuju bangku kosong yang berada dipaling belakang. Saat berjalan menunu bangkuku, aku memerhatikan anak-anak yang ada dikelas ini. Dan yang kukenal di kelas ini, hanya Namikaze Minato dan Uzumaki Kushina. Minato duduk tepat didepanku (sekarang aku sudah duduk dibangkuku), sedangkan kushina duduk diujung... berlawanan ditempat aku duduk sekarang.
Nueno-sensei mulai menjelaskan pelajaran tentang jurus Henge. Walau aku melihat kearah papan tulis, tapi pandanganku sebenarnya adalah kelas yang ada dibelakang papan tulis itu. Aku melihatnya dengan bantuan mata iblisku. Dikelas sana, ternyata berisi anak-anak yang sebaya denganku dan ada beberapa anak yang kukenal juga... yaitu orang tua Sasuke, Fugaku dan Mikoto; Ayah Ino-Shika-Chou, Inoichi, Shikaku, Chouza; Hyuuga kuadrat, Hiashi dan Hizashi; Ayah Shino, Shibi; dan ibu Kiba, Tsume.
'Hmph... kenapa aku tidak dimasukan dikelas sana ya?' pikirku saat melihat kelas itu.
Setelah selesai melihat-lihat kelas sebelah, aku mengembalikan penglihatanku seperti semula, yaitu melihat tulisan dipapan tulis.
-End POV-
-SKIP-SKIP-SKIP-
TENG TONG TENG TONG
Bel tanda istirahat berbunyi.
"Baiklah, untuk pelajaran ini, kita sambung lagi nanti," ucap Nueno sambil membereskan buku-buku dimejanya.
"YEEEEYYYY!" teriak para murid yang senang karena akhirnya istirahat juga.
"Tapi, pelajaran yang sensei berikan tadi akan kita praktekkan setelah istirahat," lanjut Nueno sambil berjalan kearah pintu.
"YAAAAAHHHH~" teriak histeris para murid yang ada dikelas.
Melihat sensei-nya sudah pergi, Kushina menghampiri tempat duduk Minana, lalu menarik paksa tangan Minana dan membawanya pergi keluar kelas. Minana hanya pasrah saja dibawa pergi Kushina. Namun, dibelakang mereka, ada seseorang yang mengikuti mereka.
Setelah berada di tempat yang agak sepi, Kushina melepaskan genggamannya. Lalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang sedari tadi ingin ditanyakannya pada Minana. Sedangkan orang yang mengikuti mereka, kini tengah bersembunyi... mendengarkan pembicaraan mereka.
"Apa maksudmu tadi Minana!?" bentak Kushina pada Minana.
"Apanya, Kushina-san? Aku tidak mengerti maksudmu," tanya balik Minana yang memang tidak tahu.
"Kenapa kau bilang kau tidak memiliki nama keluarga! Kau kan anggota klan Uzumaki! Keluargaku! Tapi kenapa tadi kau berbicara seolah-olah kau ini bukan keluargaku!" bentak Kushina yang terlihat sangat kesal pada Minana.
"..."
"Apa kau masih marah karena aku menyinggung perasaanmu dengan mengatai matamu aneh! Atau kau marah karena aku menghina isi suratmu itu! Kalau kau marah karena itu, aku benar-benar minta maaf, Minana." kata Kushina yang kali ini nada bicaranya mulai merendah.
"..."
"JAWAB AKU MINANA!" bentak Kushina lagi. Karena pertanyaan-pertanyaannya tidak digubris.
Minana hanya diam saja mendengar apa yang dikatakan Kushina. Lalu Minana mulai berjalan menjauhi Kushina. Kushina yang melihat itu langsung membentaknya lagi, "KAU MAU KEMANA, MINANA!?"
Baru berjalan beberapa langkah, Minana menghentikan langkahnya, karena mendengar perkataan Kushina barusan.. Lalu iapun memutar badannya, menoleh kearah Kushina yang sebelumnya ia `punggungi`. Begitu menoleh, bisa dilihatnya... ekspresi kesal, marah dan kecewa yang terukir diwajah Kushina.
"Asal kau tahu saja ya... dimataku sekarang... kau itu hanya orang asing," ucap Minana datar.
PLAK
Mendengar perkataan Minana barusan... Kushina langsung menampar Minana. Minana hanya pasrah menerima tamparan itu.
"KAU INI ORANG YANG MENYEBALKAN! AKU BENCI KAU!" bentak Kushina sambil berlari menjauhi Minana.
Minana yang melihat hal itu hanya diam saja... tidak bergeming sedikitpun. Lalu Minana mencoba mengingat-ngingat kembali... alasan kenapa dia menghilangkan nama marganya.
Dan tentu saja, penguntit itu masih berada ditempat persembunyiannya. Memerhatikan gerak-gerik Minana.
_Flash Back_
Minana yang tidak bisa tidur karena karena mata iblisnya, memutuskan untuk bangun dari tidurnya. Minana menoleh kearah jam weker yang ada didekat kasurnya. Ternyata waktu masih menunjukkan pukul 3 malam.
'Jam segini kakek hokage pasti belum bangun. Padahal ada hal yang ingin kubicarakan. Lebih baik aku latihan dulu saja,' batin Minana.
Minana langsung bangun dari kasurnya dan membereskan tempat tidurnya. Setelah membereskan kasurnya, Minana beranjak menuju kamar mandi untuk menyegarkan badannya. Kalau orang biasa pasti akan langsung kedinginan kalau mandi jam segini. Tapi hal itu tidak berlaku bagi Minana. Karena kekkai genkai hyouton-nya yang membuat badannya memang terasa dingin. Setelah Mandi, Minana langsung memakai pakaian yang kemarin ia pakai dan pergi melakukan pemanasan dengan jogging keliling Konoha 3 putaran.
Setelah melakukan pemanasan, Minana langsung pergi ketempat dimana ia memakan ramen kemaren. Dan ia pergi dengan shunshinnya. Setelah sampai disana, Minana memutuskan untuk melatih kontrol chakra-nya. Karena sekarang dia adalah jinchuuriki kyuubi, otomatis kapasitas jumlah chakra-nya lebih banyak dari sebelumnya. Dan itu membuatnya harus melatih kontrol chakra-nya lagi. Untuk memulai latihannya, Minana melakukan sebuah handseal.
"Kagebunshin no jutsu," ucap Minana.
BOFF!
Lalu muncul 5 bunshin Minana.
"Kalian tahu apa yang harus dilakukan, 'kan?" tanya Minana asli pada ke 5 bunshin-nya.
"Tentu saja kami tahu. Sepertinya kau memang harus berlatih kontrol chakra dari awal lagi," ujar bunshin ke-1.
"Karena jumlah kapasitas chakra-mu 7x lebih banyak dibandingkan ninja biasa," lanjut bunshin ke-2.
"Dan dengan kontrol chakra-mu yang sekarang, kau hanya bisa menggunakan beberapa jurus dari semua jurus yang kau kuasai," sambung bunshin ke-4.
"Tapi kau masih bisa menggunakan semua jurus fuinjutsu yang kau kuasai. Karena syarat untuk melakukan fuinjutsu adalah penulisan kaligrafi yang bagus dan kau tahu artinya. Oh iya, aku sudah melindungi tempat kita dengan memasang kekkai agar chakra kita tidak terdeteksi oleh anbu Konoha," jelas bunshin ke-3 panjang lebar.
"Tidak kalian bilangpun aku sudah tahu. Ayo mulai latihan," perintah Minana asli.
.
-Beberapa jam kemudian-
Tidak terasa mentari yang sedari tadi tidak terlihat, kini sudah menunjukkan dirinya.
"Hosh... Hosh... Hosh... aku lelah banget... hosh... aku sudah sampai batasku." `BOOF` ujar bunshin Minana lalu menghilang dalam kepulan asap.
Sekarang ditempat itu hanya menyisakan 1 Minana yang tergeletak kelelahan.
"Hosh... Hosh... tidak kusangka... Hosh... latihan kontrol chakra sekarang... Hosh... ternyata lebih sulit daripada dulu... Hosh," guman Minana yang terengah-engah. "Ternyata sudah pagi ya. Kakek hokage pasti sudah ada ditempatnya," lanjut Minana yang melihat mentari yang mulai menyinari tubuhnya.
Minana bangun dari posisi tidurnya. Kemudian, ia membasuh mukanya dengan air sungai yang ada didekatnya. Setelah membasuh mukanya, Minana beranjak dari tempat itu dan menuju kantor Hokage.
.
.
-Kantor Hokage-
TOK TOK TOK
"Masuk."
Setelah mendapat izin dari seseorang yang ada didalam, Minana masuk kedalam ruangan itu. Hiruzen sedikit terkejut ketika tahu kalau yang datang pagi-pagi begini adalah Minana.
"Ada apa Minana-chan?" tanya Hiruzen yang penasaran dengan kedatangan Minana.
"Aku hanya ingin memberitahu sesuatu," kata Minana yang menundukkan kepalanya.
"Apa?"
"Mulai sekarang, namaku adalah Minana. Tanpa nama marga Uzumaki. Hanya Minana," jawab Minana datar.
"Kenapa tiba-tiba kau mengatakan hal itu?" tanya Hiruzen yang bingung dengan maksud dari Minana.
"Yang pasti... aku melakukan hal ini untuk melindungi Kushina," jawab Minana yang masih menundukkan kepalanya.
'Melindungi Kushina? Apa maksudnya? Apa dia tahu kalau Kushina jinchuuriki? Tapi... bagaimana dia bisa tahu? ' pikir Hiruzen.
"Memang apa hubungannya menghilangkan nama margamu dengan keselamatan Kushina?" tanya Hiruzen yang mulai memikirkan kemungkinan alasan Minana melakukan hal itu.
'Diperang dunia ke-3 nanti, aku akan menggantikan tugas Minato untuk membunuh 1 batalion shinobi iwagakure. Dan aku akan dikenal dengan sebutan-sebutan aneh. Seluruh penduduk di Iwagakure pasti akan membenciku dan keluargaku. Kalau mereka tahu Kushina adalah keluargaku, Kushina pasti akan dalam bahaya. Tapi, kalau Minato yang membunuh 1 batalion shinobi iwagakure, dia yang akan dibenci seluruh penduduk iwa. Tidak hanya Kushina yang akan dalam bahaya, tapi juga diriku dan Naru-nii-chan yang nanti akan lahirpun juga akan dalam bahaya. Aku ingin Naru-nii-chan hidup tenang tanpa ada orang mengincar nyawanya.' pikir Minana.
"Minana-chan? ...Kenapa tidak dijawab?" tanya Hiruzen pada Minana dengan nada yang sedikit serius.
Lamunan Minana terhenti mendengar pertanyaan dari Hiruzen.
"Aku... tidak bisa memberitahu alasannya sekarang, Hokage-sama." jawab Minana dengan sopan.
'Kenapa dia tidak memberitahu alasannya? Apa mungkin dia memang mata-mata dari desa lain untuk menculik Kushina? Mengingat pakaiannya saat pertama kali ditemukan, terlihat seperti ninja. Mungkin saja waktu itu dia bertarung melawan shinobi konoha dan mengambil hitai-ate milik ninja yang dilawannya dan seolah-olah waktu itu dia ditolongshinobi konoha.' pikir Hiruzen sambil menatap selidik pada Minana.
"Memang kena–"
Perkataan Hiruzen terhenti melihat Minana yang membungkuk hormat padanya.
"Aku mohon mengertilah, Hokage-sama," pinta Minana dengan nada memohon.
Hiruzen diam sejenak. "Hmph, baiklah kalau itu maumu," ucap Hiruzen pasrah.
"Terimakasih, Hokage-sama," balas Minana yang menunjukan senyumnya.
"Ah, oh, iya Minana-chan, kau jangan terlalu formal padaku."
"Jadi, aku harus panggil Hokage apa?" tanya Minana dengan pose berpikirnya.
Hiruzen juga ikut-ikutan berpikir, berpikir kira-kira panggilan apa yang cocok untuknya.
'Hmmm. Baguslah Kakek hokage mau mengerti maksudku. Aku ingin sekali memberitahunya, tapi... kalau aku memberitahu alasannya, bisa-bisa masa depan bisa berubah dari yang seharusnya,' batin Minana
"Bagaimana kalau aku memanggilmu Kakek Hokage?" ujar Minana dengan nada bicara anak kecil tidak berdosa.
"Hoi, aku ini masih sangat muda loh," kata Hiruzen yang cemberut mendengar ucapan Minana barusan.
"Ya sudah. Mulai sekarang akan kupanggil kakek Hokage. Sampai jumpa kakek. Aku pergi ke Akademi dulu, ya," kata Minana dengan menunjukkan ekspresi anak kecil yang ceria. Tentu saja ekspresi itu hanya tipuan belaka.
Minana langsung pergi meninggalkan ruangan itu. Begitu melihat Minana pergi, tiba-tiba Hiruzen bergumam, "Apa ada seseorang disini?"
Seperti merespon panggilan Hiruzen. Tiba-tiba saja didalam ruangan yang hanya ada Hiruzen seorang, kini muncul seseorang dengan pakaian armor anbu lengkap dan memakai topeng rubah.
"Ada apa Hokage-sama?" tanya anbu itu.
"Aku ingin kau mengawasi gerak-gerik Minana. Lalu, kau juga akan menjadi wali kelasnya di Akademi. Cari tahu apakah dia seorang mata-mata desa lain apa bukan. Dengan kemampuan sensormu, kau pasti bisa tahu kalau dia berpura-pura tidak bisa menggunakan jurus ninja atau tidak," perintah Hiruzen.
"Baik," jawab Anbu itu.
"Dan kode namamu sekarang adalah... Nueno," ucap Hiruzen.
"Ha'i, Hokage-sama." jawab Nueno lalu menghilang dengan shunshin-nya.
_End Flash Back_
Setelah merenung kejadian tadi, Minana beranjak pergi dari tempat itu dan bermaksud untuk berkeliling Akademi. Dan penguntit itu juga ikut berjalan, mengikuti Minana lagi.
'Kenapa Nueno-sensei mengikutiku terus?' pikir Minana yang merasakan chakra milik Nueno mengikutinya sejak dia ditarik paksa Kushina keluar kelas. 'Lebih baik aku pura-pura tidak tahu saja,' batin Minana tanpa menghentikan langkahnya.
Setelah berjalan cukup jauh dari tempatnya tadi, Minana merasakan ada orang mengikutinya selain Nueno. Merasa ada yang aneh, Minana menghentikan langkahnya dan menoleh kebelakang. Sontak Nueno pun langsung menghentikan langkahnya juga dan bersembunyi dibalik tembok (A/N: bukan bersembunyi dengan menyamar menjadi tembok loh).
Lalu Minana menyiapkan sebuah kunai yang terbuat dari es ditangannya. Setelah membuat kunai, Minana melempar kunai es itu ketempat para penguntit itu bersembunyi (Bukan tempat sembunyi Nueno).
Setelah melempar kunai-nya, tiba-tiba kunai es yang dilemparnya tadi berubah menjadi kabut tipis yang lama kelama kabut itu menjadi tebal. Kabut itu hanya berada dalam radius 1m dari kunai itu ditancapkan. Melihat penguntit-penguntit itu sedikit kebingungan, Minana langsung muncul di belakang penguntit itu dan memukul kepala belakangnya hingga ia terlempar beberapa puluh senti. Dan kabut akibat kunai Minana mulai menghilang.
"Kalau kau ingin menguntit seseorang, kau memilih orang yang salah," ucap Minana datar.
Mendengar suara Minana, Nueno kembali melihat atau mengintip apa yang sedang dilakukan Minana dari tempat ia bersembunyi.
"Aaww" rintih orang itu sambil mengusap-usap kepala belakangnya.
"Minato, kenapa kau mau-mau'an diajak menguntit oleh anak ini?" tanya Minana pada Minato yang tepat berada dibelakangnya dan tanpa menoleh kearah Minato.
"E-Eh? Ba-Bagaimana kau tahu namaku, Minana-san?" tanya Minato yang sedikit terkejut dengan ucapan Minana.
"Hanya menebak," jawab Minana asal tanpa mengalihkan pandangannya kearah Minato. "Hei! Kau! Siapa namamu?" lanjut Minana sambil menunjuk-nunjuk anak yang ia pukul tadi.
Anak itu memakai sweater dengan warna bagian bahunya berwarna hijau dan sisanya berwarna abu-abu, memakai celana penjang berwarna abu-abu.
"Namaku Senju Nawaki. Maaf kalau tadi aku mengikutimu, Minana-chan," ucap anak yang bernama Nawaki itu seraya menjulur tangannya, seakan meminta Minana untuk menjabat tangannya. Sedangkan sikap Minana, ia tidak memerdulikan apa yang dilakukan Nawaki.
"Kenapa kau mengikutiku?" tanya Minana dengan tatapan selidik.
"Tadi aku mendengar suara keras Kushina. Jadi, kami berdua kemari. Tapi, sepertinya... Kushina sudah tidak ada disini. Apa yang sebenarnya terjadi, ya?" jelas dan tanya Nawaki panjang lebar.
"Bukan urusanmu," jawab Minana simpel.
Kemudian Minana berjalan menjauhi kedua anak itu. Melihat arahnya jalannya, seperinya Minana berjalan kembali menuju kelasnya.
TENG TONG TENG TONG
Sepertinya Minana kembali ke kelas tepat sesaat bel berbunyi. Nueno juga masuk ke kelasnya begitu bel berbunyi. Begitu pula dengan semua murid... semuanya sudah masuk termasuk Minato.
"Baiklah, kita akan praktek jurus henge," ucap Nueno.
"Aahh~ praktek jurus henge lagi, menyebalkan," ujar Anak yang ada disebelah Minana.
Mata Minana sedikit melebar ketika mendengar suara anak yang ada disebelahnya. Sontak, iapun menoleh kearah anak yang ada disebelahnya.
"K-Kau... apa yang kau lakukan disini?" bisik Minana sedikit syok.
"Minana-san, Nawaki 'kan memang duduk disebelahmu," kata Minato yang mendengar perkataan Minana.
"Jangan bilang kau tidak tahu kalau aku memang duduk disini?" tebak Nawaki.
'Memang,' batin Minana.
Kemudian Nueno mulai memanggil murid-muridnya untuk mencoba melakukan jurus henge sesuai intruksi dari Nueno.
Minana memerhatikan murid-murid yang melakukan jurus henge. Ternyata semua yang maju dan melakukan jurus henge... semuanya bisa. Termasuk Minato yang disuruh berubah menjadi Nueno. Nawaki juga begitu, tapi dia disuruh berubah menjadi Minato. Kushina juga berhasil melakukan jurus henge-nya dengan berubah menjadi Minana sesuai perintah Nueno.
"Minana" panggil Nueno.
Mendengar namanya dipanggil, Minana beranjak dari tempat duduknya.
"Sekarang kau berubahlah seperti Nawaki." Intruksi Nueno.
Minana hanya mengangguk. Lalu ia melakukan sebuah handseal.
BOOF
Kepulan asappun menyelimuti Minana. Minana berhasil merubah dirinya menjadi Nawaki, tapi... ternyata Minana berubah menjadi Nawaki dalam versi gendut seperti bola.
"HAHAHAHAHAHAHAHAHA" semua murid yang ada dikelas langsung tertawa terbahak-bahak.
Minana melepas jurusnya. Nueno yang melihat hal itu... hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
'Apa benar dia seorang mata-mata? Kontrol chakranya buruk sekali,' batin Nueno yang menatap selidik pada Minana. "Kontrol chakramu buruk sekali. Kau harus lebih rajin lagi latihan, Minana," nasehat Nueno pada Minana.
'Aku tahu kok,' batin Minana.
Tanpa memperdulikan nasehat dari Nueno, Minana berjalan kembali kebangkunya. Murid-murid dikelas masih tertawa dengan apa yang berusan Minana lakukan.
-SKIP-SKIP-SKIP-
TENG TONG TENG TONG
"Pelajaran hari ini cukup sampai disini," kata Nueno sambil membereskan bukunya yang berserakan dimejanya. "Oh iya, besok sensei akan mengadakan ujian tertulis tentang materi yang pernah diberikan Takahashi-sensei. Selamat belajar." lanjutnya sambil berjalan keluar kelas.
"YAAAAAHH" teriak histeris murid-murid dikelas.
Minana segera membereskan bukunya. Lalu berjalan keluar kelas. Dan Nueno... lagi-lagi membuntuti Minana.
'Jadi, dia masih mengikutiku ya? Kalau melihat bagaimana cara ia bersembunyi, sepertinya Nueno-sensei adalah seorang anbu. Hmph, baiklah. Kita lihat saja, apa kau masih bisa mengikutiku setelah aku melakukan hal ini,' batin Minana yang merasakan chakra Nueno di belakangnya.
Saat berjalan, Minana berbelok kekanan, masuk ke kamar mandi yang ada di Akademi. Dan tentu saja... Nueno tidak ikut masuk kedalam kamar mandi itu. Tapi dia tetap mengaktifkan kemampuan sensornya untuk mengawasi keberadaan Minana.
Beberapa menit kemudian, Minana keluar dari kamar mandi itu. Lalu berjalan kembali menuju rumahnya. Lagi-lagi, Nueno melanjutkan misinya, yaitu mengikuti Minana. Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Minana sampai di rumahnya... yang juga diikuti oleh Nueno.
'Bagus. Dia masih mengikutiku,' batin Minana yang masih merasakan chakra Nueno yang tidak jauh didekat rumahnya.
'Sepertinya tidak ada yang aneh. Lebih baik aku menyampaikan apa ang dilakukan anak itu hari ini pada Hokage-sama dan meninggalkan sebuah bunshin untuk mengawasi anak itu selama dirumahnya,' pikir Nueno seraya melakukan sebuah handseal.
BOOF
Muncullah seseorang yang sama persis dengan Nueno a.k.a bunshin Nueno. Sementara bunshin Nueno tetap mengawasi Minana yang berada di kediaman Uzumaki, Nueno asli pergi menyampaikan apa yang dia dapat hari ini.
-Uzumaki Mansion-
Setelah masuk ke rumahnya, Minana langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur.
'Nueno-sensei... kau pikir kau bisa mengintip kehidupan pribadiku, huh? Jangan bercanda. Tapi... kalau kau memang bersikeras mau melihatnya, silahkan saja,' batin Minana.
Saat sedang tiduran di kasurnya, Minana mengingat-ngingat kembali... hal apa yang membuatnya percaya diri... percaya kalau penguntitnya itu tidak akan mendapatkan hal apapun tentang dirinya.
-Flash Back-
Minana berbelok kekanan, masuk ke kamar mandi yang ada di Akademi. Dan tentu saja... Nueno tidak ikut masuk kedalam kamar mandi itu.
'Bagus. Dia tidak mengikutiku kedalam sini,' batin Minana seraya masuk kesalah satu wc yang tersedia.
'Chi Bunshin no jutsu.' batin Minana seraya menggigit jempolnya dan melakukan sebuah handseal saat didalam wc.
Chi bunshin no jutsu atau blood clone jutsu... hampir sama dengan kagebunshin no jutsu. Namun, jurus ini menggunakan chakra lebih banyak daripada saat menggunakan kagebunshin. Lalu, ingatan dari chi bunshin tidak akan kembali ke tubuh aslinya. Tidak seperti kage bunshin, chi bunshin juga tidak akan menghilang walaupun dipukul. Chi bunshin akan menghilang begitu terkena serangan fatal atau si pengguna melakukan handseal kai.
Kemudian, muncullah sesosok yang sangat mirip atau identik sekali Minana. Dan tentu saja... saat chi bunshin Minana muncul, Minana yang asli menghilangkan hawa keberadaan dan aura chakra-nya. Karena Minana pikir, jika orang yang mengikutinya merupakan ninja tipe sensor, maka ia harus menghilangkan aura chakra-nya agar chakra Minana yang ada di kamar mandi hanya terasa 1 orang selesai, bunshin Minana keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju rumahnya. Sudah pasti, Nueno kembali melanjutkan misinya, yaitu mengikuti (bunshin) Minana.
Merasa lawannya sudah memakan umpan yang dibuatnya, Minana langsung pergi menuju tempat lapang yang berada di belakang desa (A/N: Tempat Naruto latihan jurus Fuuton: Rasenshuriken) dengan tetap menghapus aura chakra-nya.
-End Flash Back-
-Ditempat Minana asli-
Setelah berjalan cukup lama, akhirnya Minana sampai ditempat tujuannya. Begitu sampai, Minana langsung menaruh tasnya dan melakukan sebuah handseal.
"Tajuu Kagebunshin no Jutsu."
Kemudian muncul bunshin Minana yang jumlahnya kurang lebih 100 orang. Lalu Minana memulai kembali... latihan kontrol chakra-nya. Dan tentu saja... sebelum memulai latihannya, Minana sudah memasang kekkai agar chakra dan keberadaannya tidak diketahui siapapun.
-SkIP-SKIP-SKIP-
Tidak terasa hari sudah berganti malam. Terlihat bulan purnama yang sudah menjulang tinggi diatas langit. Lalu bintang-bintang yang bertebaran dilangit juga terlihat sangat jelas. Ditempat Minana berlatih sekarang, yang semula berdiri 100 orang/bunshin, kini hanya tersisa 2 orang yang tergeletak karena kelelahan dan 1 orang yang berdiri dengan memegangi kedua lututnya... karena tidak kuat berdiri.
"Hosh...Hosh...Hosh...Aku...tidak kuat," 'BOOF' ucap kedua bunshin Minana dan menghilang bersamaan dalam kepulan asap. Lalu hanya menyisakan Minana asli.
"Hosh...Hosh...Hosh" Desah napas Minana yang terengah-engah.
BRUUK
Karena terlalu lelah, Minana pingsan tak sadarkan diri.
-Beberapa Jam Kemudian-
Malam berganti pagi. Bulan yang semula dilangit, kini sudah berganti dengan mentari yang muncul dari timur. Sinar matahari pagi mulai menyinari tubuh gadis kecil berambut tahu kalau itu adalah Minana.
"Hmmm" gumam Minana yang sepertinya tidurnya terganggu karena sinar matahari yang menyinari wajahnya.
Lalu, perlahan mata Minana mulai terbuka. Menunjukkan matanya yang berwarna biru dan merah.
"Sepertinya aku pingsan lagi," gumam Minana pelan.
Kemudian Minana bangun dari posisi tidurnya bermaksud untuk pulang kerumahnya. Namun sebelum itu, Minana mengambil tasnya yang tergeletak didekatnya dan menghilangkan kekkai yang ia pasang sebelumnya. Setelah beres, Minana menggunakan jurus hiraishin-nya untuk pergi menuju rumahnya... atau lebih tepatnya kamarnya.
-Uzumaki Mansion-
Dalam sepersekian detik, Minana langsung di kamarnya. Satu detik setelah tiba di kamarnya, Minana langsung melakukan handseal kai untuk menghilangkan chi bunshin-nya, agar chakra yang didalam kamarnya ini hanya menyisakan 1 aura chakra Minana.
"Untung aku sudah menempel shuriken esku di kamar ini," gumam Minana pelan sambil melihat shuriken es yang `tertempel` di langit-langit kamarnya.
Setelah mengatakan itu, Minana melempar tasnya ke kasur. Setelah melempar tasnya, tanpa sadar, matanya melirik jam weker yang ada diatas bupet dekat kasurnya. Matanya sedikit melebar saat melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 7.40. Sedangkan Akademi mulai masuk pada pukul 8.
Tanpa membuang waktu, Minana langsung pergi kekamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah mandi, Minana memakai pakaian bersih yang ia ambil dari gulungannya dengan model dan warna pakaian yang sama dengan yang dipakainya kemarin. Tak lpa juga ia menyisir rambut merahnya. Begitu selesai dengan `acara bersih-bersih`, Minana langsung mengambil tasnya dan berlari kepintu keluar. Saat membuka pintu, Minana sedikit heran karena pintunya tidak terkunci.
'Kenapa pintunya tidak dikunci?' batin Minana karena ia tahu Kushina sudah tidak ada di rumah.
Tanpa berpikir lagi, Minana langsung mengunci pintu rumahnya. Dan kemudian berlari sekencang-kencangnya anak kecil berlari menuju Akademi.
Melihat Minana sudah keluar dari kediamannya, bunshin Nueno yang tengah bersembunyi didekat rumah Minana, kini kembali mengikuti Minana.
-Di Akademi-
TENG TONG TENG TONG
"Ah.. untung datang tepat waktu," seru Minana yang sekarang sedang berdiri didepan pintu kelasnya.
Minana mulai melangkah masuk ke kelasnya... lalu berjalan menuju bangkunya. Minana sama sekali tidak menghiraukan ejekan murid lain yang mengatainya dengan sebutan 'Tomat Setan' (A/N: Kuroki gak tahu bahasa jepangnya tomat setan). Saat Minana sudah duduk, beberapa anak yang mulai menghampiri dirinya.
"Hei teman-teman, lihat!" seru anak itu pada teman-temannya yang ada disekitarnya.
"Ada tomat kedua nih dikelas kita," lanjut anak itu.
"Tapi, sepertinya tomat yang ini gak mirip dengan tomat yang disana tuh," ucap anak lain sambil menunjuk kearah Kushina.
Kushina yang melihat hal itu hanya diam saja... mengacuhkan murid-murid yang mengelilingi Minana.
"Kau benar. Hmm, bagaimana kalau kita memanggilnya Tomat setan?" ejek anak pertama tadi.
"Iya, iya. Kepalanya saja bulat dan rambutnya warna merah, terlihat seperti tomat. Matanya aneh, masa' warna-warni gitu. Apalagi matanya yang merah itu, kayak mata setan," ejek anak yang tadi menunjuk Kushina sambil menjambak-jambak rambut Minana.
Minana yang merasa rambut indahnya dipegang-pegang dengan kasar, langsung mencengkram tangan anak itu kuat-kuat.
"Ouch.. apa yang kau lakukan tomat setan!?" bentak anak yang tangannya dipegang oleh Minana
"Aku tidak peduli kalau kau memberikan julukan aneh padaku! Tapi... kalau kau berani-berani menyentuh rambutku yang indah, aku tidak akan segan-segan menghabisi kalian!" ancam Minana yang mulai mengeluarkan aura dan tatapan killing intent-nya.
Setelah mengatakan itu, Minana langsung melepaskan tangan anak itu.
"Memangnya siapa yang bilang rambutmu itu indah! Orang yang bilang rambutmu indah itu hanya orang-orang tolo–"
Minana langsung membekep mulut anak itu dengan tangannya `imut`nya.
"Asal kau tahu saja ya... orang yang bilang rambutku indah adalah kakakku. Dan tidak ada yang boleh menyebut kakakku bodoh atau tolol kecuali aku," Intimidasi Minana lagi. Kali ini, ia mengeluarkan killing intents yang lebih kuat dari sebelumnya.
Anak itu hanya gemetar ketakutan. Ia mulai mencoba melepaskan tangan Minana yang membekap mulutnya. Minana yang melihat perlawanan anak itu malah membuat tangannya semakin kuat membekap mulut anak itu.
Nawaki yang sedari tadi diam saja, kini mulai bertindak... dengan memegang tangan Minana yang membekap mulut anak itu. Minana yang tahu maksud Nawaki, melepas tangannya dari wajah anak itu. Berhasil lepas dari `dekapan` Minana, anak tersebut langsung berlari ketempat duduknya... karena Nueno-sensei sudah masuk ke kelas mereka.
Sepertinya... Nueno tidak tahu kalau tadi beberapa muridnya ada yang bertengkar... atau mungkin berpura-pura tidak tahu dengan kejadian barusan? Begitu Nueno berdiri didepan kelas, ia langsung membagikan kertas yang bertuliskan soal-soal yang ia janjikan kemarin.
Minana yang melihat kertas yang kini berada ditangannya, hanya memandang kosong pada soal-soal yang berjejer diatas secarik kertas tersebut. Baginya, soal-soal seperti ini teramat sangat mudah... semudah membalikkan telapak tangan. Karena dimasa depan... ia adalah murid jenius nomor 2 setelah Sasuke saat di Akademi dulu. Dan juga merupakan mantan wakil ketua anbu saat di masa depan atau kehidupan sebelumnya.
-SKIP-SKIP-SKIP-
Setelah semua murid selesai mengerjakan ujian, Nuenopun mengoreksi ujian yang dikerjakan muridnya.
'Hmm, ternyata dia pintar juga,' batin Nueno saat mengoreksi kertas ujian Minana.
Setelah dikoreksi, Nueno langsung menyebutkan hasilnya.
Namikaze Minato ... 10
Minana ... 10
(Murid lain) ... ?
(Murid lain) ... ?
(Murid lain) ... ?
Senju Nawaki ... 4
Uzumaki Kushina ... 3
(Murid Lain) ... ?
Dst..
"WOW Minana,.. tidak kusangka ada yang bisa menyamai otak jenius Minato. Padahal kau anak baru," kata Nawaki yang sedikit iri dengan Minana.
Minato yang mendengar hal itu, langsung menyahut kata-kata Nawaki.
"Kalau kau ingin sepintar diriku, kau harus lebih banyak membaca buku, Nawaki," ujar Minato bangga.
"Aku tidak memujimu kok, huh!" seru Nawaki yang cemberut karena penuturan Minato.
Minana hanya mengacuhkan kedua anak yang ada didekatnya. Lalu menaruh kepalanya dimeja mencoba untuk tidur.
-SKIP-SKIP-SKIP-
TENG TONG TENG TONG
"Untuk pelajaran hari ini kita selesai sampai disini. Sampai besok semuanya," kata Nueno sambil berjalan meninggalkan kelas.
Minana segera memasukkan buku-bukunya ketasnya. Setelah itu, Minana menghampiri Kushina.
"Nih," ujar Minana seraya meletakkan sebuah kunci diatas meja Kushina. "Lain kali jangan lupa mengunci pintunya. Dan aku sudah punya duplikat kuncinya," lanjut Minana seraya meninggalkan Kushina yang sedang memikirkan ucapan Minana barusan.
Begitu Minana keluar dari kelasnya, lagi-lagi Nueno membuntutinya. Sedangkan sikap Minana pada `pengikutnya`, tentu saja melakukan cara yang sama untuk mengecoh penguntitnya untuk pergi ketempat latihannya kemarin dan melanjutkan latihannya untuk menyempurnakan kontrol chakra-nya.
.
.
Bersambung...
A/N: Chapter ini juga diedit. Tapi gak beda-beda amat sama yang sebelumnya. Untuk guru Minana yang Nueno-sensei itu, itu nama dari chara anime 'Jigoku sensei Nube' (Karena kuroki gak pandai mendeskripsikan ciri-ciri seseorang). Yang pernah nonton atau baca komiknya pasti tahu. Kalau gak tahu cari aja di mbah google. Oh iya, menurut reader-san gimana dengan chapter ini? Kalau ada kata yang salah, Kuroki minta maaf karena kuroki hanya manusia binasa (yang bener 'manusia biasa' kuroki #plak, dilempar mouse), kalau ceritanya kurang bagus, tolong berikanlah pendapat kalian, Karena Kuroki bener-bener super duper newbie dalam membuat cerita (Kuroki Lebay banget deh). Agar Kuroki bisa memperbaiki kesalahan Kuroki dan bisa membuatnya semenarik mungkin. Maaf bila ada kata-kata yang salah. Terimakasih sudah membaca. Sampai jumpa.
