"Sa-saku..."

Tubuh perempuan itu tergeletak dengan darah yang terus keluar dari punggungnya.

"Kita harus pergi."

Seseorang menyeret sang penculik untuk melarikan diri dari tempat yang sudah di kepung anak buah tuan Haruno. Pandangannya tetap terarah kepada sosok itu, sosok yang rela mengorban dirinya demi menyelamatkannya. Bukan kah itu keinginanmu membunuh Haruno?

Ribenji to Ai

Disclamer : Naruto © Masashi Kishimoto

.

.

.

Story by KiRei Apple

.

.

.

Pairing : Uchiha Sasuke

X

Haruno Sakura

.

.

.

Au,Typo,Ooc, gaje, ide pasaran

.

.

.

DLDR

.

.

.

Chapter 4

oOo

Untuk kesekian kalinya tangan itu menuangkan cairan pekat berlkohol. Tidak mengatakan sepatah apa pun dan terus diam dalam keheningan. Namun jelas onyx itu tampak meredup.

"Untung aku cepat datang." cibir Suigetsu yang baru saja datang dan duduk di samping Sasuke. "Jika tidak, kau yang akan kena." sungguh Suigetsu kesal kepada pemuda ini. Kenapa dia tidak mengatakan rencana bersamaan, dan membuat rencana sendiri. Keh, ini sama saja bunuh diri.

Sasuke tidak mengubris ocehan temannya. Ia mengangkat botol yang kedua itu ternyata sudah kembali kosong. Mendecih ia melemparkannya asal hingga membentur lantai.

'PRANG'

Suigetsu berjengit. Cih, sungguh menjengkelkan. Harusnya ia senang bukan? Telah membunuh anak dari targetnya.

"Dia masih hidup."

Perkataan seseorang di ambang pintu membuat Sasuke dan Suigetsu menoleh. Di sana Juugo berdiri bersender dengan tangan yang memegang ponselnya.

"Aku tidak peduli." jawab datar Sasuke tanpa mengindahkan Suigetsu yang mendengus kasar.

"Aku tau, kau begini karena mengkhawatirkan-nya bukan?" tanya Suigetsu.

Sasuke menatap datar Suigetsu. Tanpa mengatakan apa pun ia berdiri meninggalkan kedua temannya. Langkahnya sempoyongan, matanya sedikit mengabur karena pengaruh minum yang terlalu banyak. Namun, langkahnya terhenti tepat di samping Juugo.

"Dia berada di kamar 283 lantai tiga rumah sakit Konoha."

Sasuke mendengus mendengar perkataan Juugo yang memberitahukan keberadaan perempuan itu. Untuk apa? Dia sekarang sudah membuang segalanya dan tidak memperdulikannya lagi.

"Cih. Cinta bisa membuat semua jadi gila." cibir Suigetsu menatap punggung Sasuke yang semakin mengecil dan menghilang dari pandangannya.

"Sebaiknya kau juga mengatakannya sebelum kau jadi gila Sui." Ujar Juugo kepada teman abu-abunya.

"Ah, kau ini bicara apa sih. Sebaiknya aku istirahat, mataku mulai memerah." elak Suigetsu berdiri mengikuti Sasuke meninggalkan Juugo yang hanya mengehela.

"Merah adalah Karin."

"BERISIK KAU JUUGO!" teriak Suigetsu yang mulai menjauh.

...

Suara dari EKG memenuhi ruangan VVIP ini. Layarnya menunjukan grafik yang stabil. Setelah melewati masa kritisnya, Sakura di pindahkan keruang rawat VVIP. Ayahnya, Haruno Kizashi harus beristirahat di rumah karena kondisinya yang tidak baik sejak insiden tadi siang.

Sosok pria bersurai perak dengan gaya grafitasinya mendekat ke arah ranjang, dimana seorang gadis cantik yang sedang tertidur. Ia sangat lega dan bersyukur karena Sakura sudah melewati masa kritisnya.

Duduk di samping ranjangnya ia menatap sendu kepada gadis yang sudah di anggap sebagai adiknya sendiri.

"Kau mengetahui sesuatu kan?" tanya pria itu kepada gadis yang sedang tertidur itu. Ia sangat yakin, anak buahnya tidak mungkin melakukan kesalahan. Dan ia tahu, jika Sakura seperti melakukannya dengan kehendaknya sendiri. Tapi kenapa? Itulah pertanyaan yang terus berputar-putar di kepalanya.

Tangannya terulur menyingkirkan helaian soft pink yang sedikit berantakan. "Cepatlah sadar. Apapun itu, aku akan selalu menjagamu."

'CKLEK'

Pintu terbuka. Seorang pria bersurai merah batanya memasuki ruangan yang di tempati Sakura, sahabat dan Seharusnya sudah menjadi istrinya. Pandangannya sendu menatap gadis yang sudah lama menghiasi hatinya kini terbaring lemah akibat insiden penyelamatannya.

Flash back on

Gaara, Kakashi dan anak buah mereka mulai memasuki hutan. Mereka melacak mengikuti paman Kizashi yang pergi sendiri lebih awal. Ini memang rencana mereka untuk membekuk sang penculik demi keselamatan Sakura.

"Di mana letak mereka Kakashi?" tanya Gaara yang memberhentikan langkahnya mengikuti Kakashi.

Kakashi terus mengecek keberadaan paman Kizashi melalu GPS nya. "Seratus meter lagi kita berhenti di pepohonan itu." tunjuk Kakshi kepada pepohonan yang lumayan besar dan banyak. "Kita harus bersembunyi demi keselamtan Sakura."

Gaara mengangguk dan berjalan seperti apa yang di tunjukan Kakashi. Ia dan Kakashi bersembunyi di pohon yang lumayan besar hingga mereka bisa bersembunyi di baliknya. Sedangkan yang lainnya bersembunyi, menyebar.

"Kalian harus mengikuti instruksiku. Jangan gegabah! Jika ada celah dan tidak membahayakan, kalian tahu apa yang harus kalian lakukan, mengerti." jelas Kakashi kepada seluruh anak buahnya melalui wireless yang mereka gunakan untuk berkomunikasi bersamaan.

Gaara mengepalkan kedua tangannya hingga buku jarinya memutih. Rahangnya mengeras saat iris jadenya melihat pemandangan yang tidak jauh dari tempatnya. Perempuan itu yang seharusnya sekarang bersamanya tertawan oleh orang yang menginginkan kematian ayahnya. Ia tidak tahu apa yang terjadi. Tapi selama ini yang ia tahu paman Kizashi adalah orang yang sangat baik.

"Akan ku bunuh dia." desis Gaara melihat pemandangan di mana gadis itu, -Sakura di todong pistol di kepalanya. "Kita tidak bisa diam saja Kakashi." geram Gaara melangkah namun di hentikan Kakashi.

"Kau jangan gegabah. Dia menginginkan paman Kizashi, jadi kita harus pastikan semua selamat sesuai rencana."

Gaara menghela. Ya, sekarang prioritasnya adalah keduanya selamat. Ia bisa benafas lega saat Sakura menjauh dan itu artinya posisi menguntungkan bisa melancarkan rencana menembaknya.

Sang penculik mengarahkan pistolnya ke arah Kizashi.

"Arah timur, kau tembak!" perintah Kakashi kepada anak buahnya yang berada di lokasi yang ia sebutkan harus menembak.

"MATI KAU KIZASHI!"

'DOR'

'DOR'

Senyumnya langsung hilang seketika saat apa yang ia dapatkan. Bukan kah harusnya berhasil? Tapi kenapa Sakura yang...

"SAKURA!"

ia berlari menghampiri Sakura yang tergeletak dengan darah yang terus mengalir di punggungnya. Ia tidak peduli dengan sang penculik yang telah meloloskan dirinya di bantu komplotannya.

"KALIAN KEJAR MEREKA!" Perintah Kakashi kepada anak buahnya.

'BRUK'

Kizashi jatuh dengan lutut membentur tanah. Ia menatap nanar sosok yang sangat berarti baginya, satu-satunya yang ia punya kini mengalami hal yang sangat mengerikan.

Tangannya terulur dan gemetar. "Saki...Saki...bangun Nak." Ujar Kizashi membalikan badan anaknya.

"Maaf paman, kita harus cepat bawa Sakura-chan ke ruamah sakit." ujar Kakashi menatap cemas keadaan Sakura.

Saat tangan Kakashi akan menggendong tubuh Sakura, tangan lain mencegahnya. "Biar aku yang membawanya. Kau tenangkan paman saja Kakashi." ujar Gaara yang kini mengendong Sakura ala bridal style dengan hati-hati.

Kakashi menatap cemas Kizashi. Benar kata Gaara, paman Kizashi juga sepertinya shock. "Cepat bawa Sakura, Gaara. Aku akan menyusulmu."

Gaara mengangguk dan bergegas berjalan cepat membawa Sakura. Jika membawanya berlari ia takut akan membahayakan Sakura yang sedang luka.

"Apa anakku akan selamat Kakashi?" lirih Kizashi. "Dia satu-satunya harta yang aku punya di dunia ini Kakashi."

Kakashi menatap sendu pamannya dan mengangguk untuk meyakinkan. "Pasti. Dia pasti selamat Paman."

Kizashi menatap nanar kepergian putrinya. "Gadis kecilku."

Ia tidak tahu kenapa ada orang yang membencinya. Ia siap mati demi anaknya. Tapi sungguh, kini waktu seperti berhenti meninggalkan ketakutan dalam dirinya. Ketakutan, akan anaknya yang tidak sanggup melawan kesakitan.

Flash back off

Perlahan, langkahnya semakin mendekati ranjang yang di tempati Sakura. Ia meletakan bunga mawar pink di meja samping ranjang. Ia memasukannya ke dalam vas bunga kristal berwarna putih itu.

"Apa sudah ada kemajuan?"

Kakashi menghela. "Belum. Tapi setidaknya ia sudah melewati masa kritisnya. Semoga cepat siuman."

Gaara mengangguk setuju. Ia pulang sebentar hanya untuk berganti pakaian. Pekerjaannya untuk sementara di serahkan kepada Kakaknya Kankurou.

"Apa kau masih berfikiran kenapa Sakura bisa tertembak?"

Kakashi mengangguk. "Ya."

Gaara menatap sendu gadis yang masih terbuai dalam alam bawah sadarnya. "Aku tidak tahu kenapa, tapi sepertinya itu adalah tindakannya. Jika benar, apa mungkin Sakura mengenal orang itu?"

"Mungkin. Tapi lebih baik kita menunggu Sakura sadar dan mengatakannya kepada kita."

"Ya. "

Melangkah pelan Gaara menghampiri jendela dan membuka gorden perlahan. Walau hanya menggeser sedikit, tapi Sinar keemasan langsung menyeruak masuk.

"Apa tidak apa-apa membukanya sedikit?" tanya Gaara tentang apa yang ia lakukan. Boleh atau tidaknya membuka gorden.

"Tak apa." Kakashi bangun dari duduknya dan berdiri. "Sebaiknya kita meminum atau mengisi sesuatu dulu. Aku yakin jika Sakura bangun, ia akan langsung memukulmu jika kau sampai sakit."

Ah, benar. Sakura dari dulu sangat memperhatikannya. "Aa. Kita ke cafe rumah sakit ini saja."

Kakashi mengangguk setuju. Ia butuh asupan caffein untuk menghilangkan rasa kantuknya.

"Ayo."

"Tapi bagaimana dengan Sakura? Sebaiknya kau saja yang pergi Kakashi."

Kakashi menoleh dan tersenyum. Ada anak buahku yang menjaganya."

Gaara mengangguk dan menghampiri Kakashi. Mereka pergi meninggalkan ruangan yang menyisakan sang putri yang masih terlelap damai di peraduan mimpi indahnya.

...

Dua orang berjas putih berjalan pelan. Langkah mereka terhenti di depan kamar 283 yang di jaga oleh lima orang. Sang penjaga yang berjumlah lima orang itu menatap mereka sebentar sebelum melakukan pertanyaan.

"Anda siapa? Bukan kah dokter di sini adalah Kabuto-san?"

Dua dokter itu membungkukkan kepalanya. "Saya memang di tugaskan oleh dokter Kabuto untuk mengecek keadaan pasien sebelum ia melakukan pemeriksaan."

Para penjaga menimbang dan akhirnya mengangguk mempersilahkan dua dokter itu nmasuk.

'CKLEK'

Kamar nuansa putih yang terasa dingin namun nyaman. Kaki sang Dokter terus melangkah mendekat. Sedangkan Dokter satu lagi bersender di daun pintu yang tertutup.

"Juugo..."

Juugo hanya diam dan berguman menjawabnya. "Hm." matanya terus menatap teman anggotanya yang berjalan menghampiri ranjang pasien.

Tangan itu terulur. Menyentuh tangan putih yang mungil itu.

"Kenapa kau menyelamatkanku? Bukankah aku akan membunuh ayahmu, bencilah aku."

"Jangan diam saja seperti itu. Cepatlah bangun...Cherry. "

Juugo menghela. Mereka memang tidak punya banyak waktu sebelum sang dokter yang sebenarnya sebentar lagi akan mengontrol keadaan Sakura. Sebenarnya ia hanya mengikuti instingnya. Ia mengikuti Sasuke di pagi hari ini. Benar saja, ia bisa melihat sosok yang selama ini seperti terbelenggu dalam kegelapan kini sedikit terpancar kelegaan di wajah yang datar itu. Ia sangat tahu tatapan yang selalu dingin itu kini berbeda, hanya karena menatap gadis itu.

"Kita harus cepat Sasuke. Ayo kita pergi! Setidaknya dia sudah melewati masa kritis."

Sasuke mengangguk menyetujuinya. "Hn." ia berjalan berbalik menuju pintu. Namun, suara lemah seseorang seketika menghentikan langkahnya. Berbalik, ia menatap orang itu yang ternyata masih memejamkan matanya. Sempat ia berfikir jika ia sudah sadar. Namun kenyataan itu seperti hanya ilusi baginya.

Berjongkok, ia membisikan sesuatu tepat di telinga sang gadis yang menjadi targetnya.

Sasuke berjalan menghapiri Juugo yang masih setia menunggunya. "Dia tetap akan mati Juugo, karena dia adalah Haruno."

Juugo tidak mau ambil pusing. Secepatnya mereka harus pergi meninggalkan ruangan ini.

Tepat saat pintu tertutup, jari yang tadinya diam kini menunjukan pergerakan kecil.

"S-sasu-ke-k-kun."

...

Kakashi dan Gaara mengeryit alis heran melihat Dokter Kabuto dan Asistennya yang sepertinya sedang membicarakan hal serius. Bergegas mereka menghampiri mereka.

"Ada apa?" tanya Kakashi membuat dokter Kabuto dan para penjaganya menoleh.

"Tadi ada penyusup tuan."

Sontak perkataan anak buahnya membuat Kakashi dan Gaara membelalakan matanya.

"Sakura."

Gaara mmbuka pintu menerobos masuk memeriksa kamar rawat Sakura. Lega, saat iris jade itu masih menemukan Sakura yang masih di tempatnya.

"Aku sudfah mengecek semuanya. Tapi tidak ada yang perlu di takutkan. Mereka sama sekali tidak melakukan apa-apa terhadap Sakura. " jelas Kabuto membuat Kakashi semakin bingung.

"Jika tidak melakukan apa-apa, jadi apa tujuannya?"

"Saya tidak tahu. Tapi untungnya Sakura-san baik-baik saja. Maaf saya permisi dulu." pamit Kabuto pergi meninggalkan Kakashi yang masih terbalut dalam fikirannya.

"Hm."

Kakashi melangkah masuk ke dalam. Ia masih terus begelut dengan petanyan-pertanyaan yang membuatnya penasaran.

"Apa kita perlu memindahkan Sakura?" tanya Gaara yang kini sedang duduk di kursi samping ranjang.

Kakashi menggeleng. "Tidak perlu. Aku yakin mereka tidak berniat membunuh Sakura."

Gaara menoleh, menatap Kakashi yang kini duduk di sofa yang berada di ruangan yang di katakan Kakashi mungkin benar, tapi ia tidak mau ambil resiko jika membahayakan Sakura.

"Aku tidak mau Sakura kembali dalam bahaya Kakashi."

"Aku jamin keselamatannya dengan nyawaku sendiri Gaara. Kita harus secepatnya mencari pelaku itu."

Gaara mengangguk. "Ya kau benar."

Bunyi dering ponsel membuat Kakashi sedikit terkejut karena sibuk dalam fikirannya sendiri. Ia menatap layar ponselnya dan segera mengangkatnya.

"Yo."

"Kenapa kalian tidak mengabariku jika Sakura mengalami hal ini?"

Kakashi menghela. "Maaf. Aku belum sempat."

"Aku sekarang dalam perjalanan. Sakura berada di ruangan mana Kakashi?" tanya orang di seberang telpon itu.

"283."

"Baiklah. Mungkin satu jam lagi aku akan sampai. Bagaimana keadaanya?"

"Dia sudah sudah melewati masa kritis dan sekarang kita hanya menunggunya kembali sadar."

Terdengar helaan berat dari seberang telfon. "Kenapa jadi seperti ini...Jaga dia. Jangan kau pergi sebelum aku sampai di sana! "

Kakashi meletakan ponselnya di meja setelah selesai berbicara kepada orang itu.

"Apa dia kembali dan akan ke sini?" tanya Gaara setelah mendengar pembicaraan Kakashi dengan seseorang yang sangat ia kenal.

"Ya. Dia akan ke sini."

Ya, orang itu sekarang memilih tinggal bersembunyi setelah kematian keluarganya. Perusahaan milik keluarganya ia serahkan kepada pamannya untuk menanganinya.

"Sudah lama aku tidak bertemu dengannya."

"Ya. Dia memilih pergi setelah insiden itu."

Kakashi merebahkan tubuhnya di sofa. Ia suungguh lelah karena belum tertidur. "Kita harus menunggunya Gaara. Jika tidak dia pasti akan membawa Sakura."

Gaara mendengus kasar mendengar perkataan Kakashi. Walau dia memiliki ikatan dengan seseorang yang dulu dekat dengannya, tidak mungkin dia melakukan itu.

"Itachi."

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Tbc

Special to : BlackCherry712 || GaemSJ || rya-chand || caesarpuspita || suket alang alang || ayuniejung || || Thasya Rafika Winata || hanazono yuri || Tachibana Koyuki || undhott || V3Banana || An Style || sakura uchiha stivani

Thanks for Rnr/Foll/Fav ^_^

Jika ada kesalahan silahkan kan ritik dan sarannya.

Mind to RnR

WRS