Terlihat Naruto menunduk lesu dengan aura suram di atas kepalanya. Wajahnya kusut sekali. Ada apa gerangan dengan Naruto?
Di depannya, seekor musang berekor sembilan sedang duduk bersila dan menatapnya dengan tajam. Ia tidak habis pikir tentang bocah berambut pirang itu.
Mereka berdua saling terdiam setelah sekian lama di tempat antah berantah yang sangat gelap itu. Lantainya dipenuhi dengan genangan air. Hening tanpa ada suara apapun. Hanya ada mereka berdua.
"Kenapa ...," kata musang berekor sembilan yaitu Kyuubi itu."Kenapa kau malah menyetujui perjanjian itu, hah?"
Naruto tetap menunduk. Ia kelihatan lemas.
"Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan, Kyuubi. Aku masih hilang ingatan. Pikiranku buntu."
Kyuubi menghelakan napas.
"Kau selalu begitu. Bertindak tanpa memikirkannya terlebih dahulu. Jadi, tanggung sendiri resikonya itu. Kau mengerti?"
"Tapi, aku tidak tahu apa-apa."
"Haah, sifatmu sekarang sangat membingungkanku."
"Jadi, apa yang harus kulakukan sekarang?" Naruto mengangkat kepalanya untuk menatap Kyuubi."Aku benar-benar bingung."
Wajah Naruto amat menyedihkan sekali. Membuat Kyuubi bengong melihatnya.
"Huh, kamu memang benar-benar mendapat masalah besar, Naruto."
Naruto menghelakan napasnya dengan wajah suram.
"Ini perjanjian yang amat sulit. Jika aku jatuh cinta kepada Miku, aku akan tinggal di dunia ini untuk selamanya dan aku harus menikah dengan Miku. Tapi, sebaliknya jika aku tidak jatuh cinta kepada Miku, maka aku akan kembali ke dunia asalku dan otomatis ingatanku tentang dunia ini akan terhapus jika aku kembali ke dunia asalku."
Kyuubi memegang dagunya dengan kaki depannya. Ia berpikir sebentar.
"Menurutku, itu perjanjian yang mudah. Tapi, terkesan sangat memaksamu untuk menjadi pasangan Miku," mata merah Kyuubi menatap serius Naruto."Tapi, apa yang membuatmu bingung akan semua ini?"
Naruto menatap Kyuubi dengan wajah datar.
"Entahlah."
DOONG!
Kyuubi bengong. Urat persimpangan muncul di kepalanya.
"JADI, APA MAKSUD TUJUAN PEMBICARAANMU ITU, BOCAH? KAU MEMBUANG-BUANG WAKTUKU SAJA UNTUK MENDENGAR SEMUA KELUH KESAHMU YANG TIDAK JELAS ITU!"
"Kyuubi, jangan marah dulu. Dengarkan aku. Hanya kamu yang mengetahui tentang dunia asalku itu. Aku hanya ingin mengetahui tindakan apa lagi yang harus kulakukan untuk menyelesaikan perjanjian misi itu. Aku benar-benar bingung. Dengan siapa lagi, aku membicarakan semua masalah ini. Hanya kepadamu, Kyuubi. Kamulah teman yang bisa aku ajak bicara sekarang."
Kyuubi terdiam. Ia memegang kepalanya dengan kaki depannya.
"Ya, aku mengerti. Sebaiknya kamu kembali ke dunia nyata sana. Aku mau istirahat. Nanti kita bertemu lagi."
Naruto mengangguk.
"Ya, Kyuubi."
Saat itu juga, Naruto menghilang dari tempat itu. Menuju alam nyata yang sebenarnya.
.
.
.
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Vocaloid © Crypton Future Media, Yamaha Corporation dll.
DENGANMU AKU BAHAGIA
By Hikari Syarahmia
Pairing : Naruto x Miku
Senin, 3 Agustus 2015
.
.
.
Denganmu Aku Bahagia
Chapter 4: Masuk sekolah
.
.
.
Naruto terbangun di saat mendapatkan tepukan halus yang menimpa bahunya. Kedua matanya perlahan-lahan terbuka. Cahaya alam nyata mulai menunjukkan rupa asli dunia.
"Menma, ayo bangun!" suara halus menggema di telinga Naruto. Naruto membuka matanya lebar-lebar.
Ternyata Miku. Ia berdiri di atas ranjang yang ditempati Naruto. Naruto terbelalak kaget.
"Eh, Mi-Miku. Ke-kenapa kamu bisa masuk ke kamarku?" tanya Naruto buru-buru bangun dan terduduk di atas tempat tidur. Wajahnya merona merah. Karena melihat Miku mengenakan pakaian seragam sailor berwarna putih sebatas perut atas. Sebuah pita berwarna merah diikat simpul pada kerah seragam sailornya. Bawahannya adalah rok lipit indigo setengah paha. Kaos kaki hitam di atas lutut menghiasi penampilannya.
Rambut Miku dibiarkan tergerai. Bando berwarna merah diikat simpul di sebelah kanan melekat di rambutnya yang hijau tosca.
Miku benar-benar cantik hari ini. Membuat hati Naruto berdebar-debar dengan kencang.
Deg! Deg! Deg!
"Hei, Menma! Kamu kenapa?" sahut Miku keras. Naruto pun tersentak.
"Ah, i-iya?"
"Ini. Terimalah."
Miku menyodorkan sebuah pakaian. Naruto menerimanya.
"Ini apa?"
"Itu daun pisang," kata Miku menjadi sewot."Ya, sudah jelas itu pakaian seragam sekolah, tahu."
"Pa-pakaian seragam sekolah?"
"Iya, mulai hari ini. Aku dan kamu masuk sekolah sekarang. Kiyoteru-san telah mendaftarkan kita berdua di sekolah yang sama. Bahkan kita sekelas."
"Se-sekolah?"
Naruto mengerutkan keningnya. Ia semakin tidak mengerti.
"Sudah. Sana mandi dulu. Terus setelah selesai mandi, pakai seragam itu ya. Nanti aku jelaskan semuanya padamu."
Miku mendorong Naruto agar Naruto cepat turun dari ranjangnya. Naruto menuruti semua perintah Miku.
"Baiklah."
Naruto pun turun dari ranjangnya dan bersiap-siap untuk mandi.
Miku tersenyum sambil melipat tangan di dada. Ia begitu senang.
"CEPAT MANDI YA, MENMA! AKU AKAN MENUNGGUMU DI RUANG MAKAN! KITA SARAPAN PAGI BERSAMA-SAMA!"
"Iya, Miku!"
Naruto mengambil handuk yang tergantung di paku dekat lemari pakaian. Lantas ia pun pergi ke kamar mandi.
Lalu Miku memilih pergi dari sana. Ia menunggu Naruto di ruang makan.
.
.
.
"Ohayou, Miku!" sapa Naruto saat menemui Miku di ruang makan. Naruto sudah mengenakan pakaian seragam sekolah yang sewarna dengan pakaian seragam sekolah Miku.
"Ohayou, Menma!" balas Miku tersenyum sambil duduk di kursi yang terbuat dari kayu jati."Ayo, sarapan dulu, Menma!"
"Iya," Naruto mengangguk. Ia duduk berhadapan dengan Miku.
Sudah terhidang roti bakar dan segelas susu untuk mereka berdua di meja tersebut. Naruto memperhatikan keadaan sekitar sebentar.
'Kiyoteru itu di mana ya? Dia tidak kelihatan dari tadi,' batin Naruto mulai menggigit roti bakarnya.
Mereka berdua pun memulai sarapan pagi. Tanpa ditemani oleh Kiyoteru.
Sarapan bisu berlangsung cukup lama. Hingga mereka menyelesaikan sarapan paginya.
"Oh iya, Menma. Ini tasmu," Miku meletakkan tas berwarna jingga bertali dua di depan Naruto."Aku sudah memasukkan beberapa buku tulis dan buku pelajaran serta perlengkapan lainnya di dalam tasmu. Jadi, kamu harus selalu mengikuti aku dan jangan jauh dariku. Kamu mengerti?"
Naruto mengangguk dengan wajah polos. Maklum, dia masih hilang ingatan dan bertingkah seperti bocah berumur 5 tahun yang baru masuk TK.
Jadi, butuh kesabaran tingkat tinggi untuk menjelaskan semuanya pada Naruto. Untung Miku dapat memahaminya. Kalau tidak? Pasti akan terbalik ceritanya.
Lantas Miku melirik jam tangan yang tersemat di pergelangan tangan kirinya.
"Wah, sudah jam segini! Ayo, kita segera pergi ke sekolah sekarang, Menma!"
Naruto mengangguk. Lalu Miku langsung menyandang tas hijau selempangnya. Naruto juga menyandang tas jingganya. Ia mengikuti apa yang dilakukan oleh Miku.
Miku memakai kacamata kotak. Ia pun langsung menarik tangan Naruto.
"Ayo, Menma! Cepat!"
"Iya, Miku."
Kemudian mereka langsung pergi keluar rumah dengan tergesa-gesa.
Hari pertama masuk sekolah dimulai juga.
.
.
.
Di kelas 10-B, kelas di mana Naruto dan Miku masuk.
Terlihat Miku dan Naruto berdiri di depan kelas bersama sang guru. Miku dan Naruto memulai perkenalannya pada penghuni kelas 10-B itu.
"Halo, namaku Hatsune Miku. Salam kenal. Yoroshiku!" kata Miku sambil membungkukkan badannya.
"Yoroshiku, Hatsune-san!" balas semuanya.
Miku menegakkan badannya. Giliran Naruto yang memperkenalkan dirinya.
"Ayo, sekarang giliranmu, Menma" ucap Miku melirik Naruto.
Naruto mengangguk. Ia pun mengarahkan pandangannya ke arah seisi kelas.
"Halo, namaku Hatsune Menma. Salam kenal," Naruto juga membungkukkan badannya seperti yang dilakukan Miku. Lalu Naruto menggunakan nama keluarga Miku sebagai nama lengkapnya. Agar semua orang mengira dia dan Miku adalah saudara. Itulah yang diminta oleh Kiyoteru setelah mendaftarkan Naruto dan Miku di sekolah yang bernama Crypton Gakuen itu. Jadi, orang-orang tidak curiga bahwa Miku adalah penyanyi idola dan Naruto dianggap sebagai saudara Miku.
"Halo, Hatsune-kun!" balas semuanya sekali lagi.
Sang guru menoleh ke arah Miku dan Naruto.
"Kalian bersaudara?" tanya guru.
"Ya, sensei," jawab Miku.
"Kalau begitu, kalian bisa duduk di tempat kalian masing-masing," kata sang guru menunjuk ke arah yang dimaksud."Hatsune-san, Hatsune-kun. Tempat duduk kalian berada di paling belakang."
"Baiklah, sensei!" Miku membungkukkan badannya. Naruto melakukan hal yang sama seperti Miku. Ia menjadi seperti burung beo saja.
Lalu Miku dan Naruto berjalan ke arah tempat duduk masing-masing.
Semua orang memperhatikan mereka. Seisi kelas berbisik-bisik di antara satu sama lainnya.
"Mereka bersaudara?"
"Masa? Aku tidak percaya lho."
"Kalau mereka adalah saudara. Tapi, kenapa tidak mirip ya?"
"Mungkin mereka adalah saudara sepupu."
"Mungkin juga ya."
Semuanya saling bersahut-sahutan. Sehingga suasana kelas sedikit berisik.
Miku meletakkan tasnya saat sudah duduk di bangkunya sendiri. Begitu juga dengan Naruto. Mereka berdua duduk secara berdampingan.
"Hei, Miku," bisik Naruto pelan.
"Iya, Menma," Miku menoleh ke arah Naruto.
"Kenapa semua orang memperhatikan kita sih? Apa mereka tahu kalau kita ini bukan saudara? Atau mereka tahu kalau kamu adalah penyanyi idola?"
Naruto merasa khawatir jika penyamarannya dan Miku terbongkar. Semua ini dilakukan agar Naruto bisa ikut bersekolah bersama Miku. Miku tahu kalau Naruto sedang mengalami hilang ingatan. Makanya Miku menyuruh Kiyoteru mendaftarkan Naruto sekolah di sana. Agar Naruto selalu di dekatnya. Lalu Miku berpikir bahwa jika Naruto bersekolah dan mempelajari berbagai hal, bisa membuat ingatan Naruto kembali.
Namun, yang pasti Naruto tidak mengalami namanya amnesia. Hanya saja ingatannya dilenyapkan oleh gadis ninja yang bernama Tohoku Zunko. Agar Naruto bisa dijodohkan oleh Miku.
Lalu gadis itu akan mengembalikan ingatan Naruto jika Naruto tidak menyukai Miku. Maka Naruto boleh kembali ke dunia asalnya. Tapi, jika sebaliknya Naruto menyukai Miku. Maka Naruto harus tinggal di dunia ini selamanya.
Perjanjian misi ini sungguh membuat Naruto bingung. Terlebih si Kyuubi tidak mau memberikan solusi yang tepat untuknya. Kyuubi hanya menyarankan Naruto menjalani misi sebaik mungkin. Ini menjadi dua keputusan yang sangat sulit.
Miku tersenyum. Ia memegang kacamatanya.
"Tenang saja. Tidak akan ada yang tahu kok. Asal kamu selalu berada di dekatku. Itu saja permintaanku. Karena kamu masih amnesia, aku akan mengajari tentang semua hal. Termasuk tentang sekolah ini. Kamu mengerti?" bisik Miku pelan. Naruto hanya manggut-manggut.
"Ya, aku mengerti."
"Bagus. Sekarang fokuskan pikiranmu untuk mendengar apa yang disampaikan oleh guru. Oke?"
Miku mengacungkan jempolnya sambil tersenyum lebar. Naruto mengangguk.
"Oke."
Lantas mereka berdua mulai memusatkan konsentrasi untuk mendengar apa yang diterangkan oleh sang guru.
Diam-diam saat Miku memperhatikan sang guru, Naruto menyelinapkan dirinya untuk melirik ke arah Miku. Entah apa yang membuat dirinya tertarik untuk memperhatikan Miku. Entahlah, ada sesuatu yang terjadi.
'Kalau diperhatikan lama-lama, Miku kelihatan manis ya. Aku tidak bosan memandangnya. Apalagi rambut hijaunya yang panjang sekali. Warna hijau yang indah dan menenangkan hati,' batin Naruto di dalam hatinya.
Naruto malah memperhatikan Miku bukan memperhatikan sang guru. Ia terpesona. Ia membeku ditiup badai es yang dikirim oleh peri cinta.
Karena merasa diperhatikan, Miku mengerling ke arah Naruto. Naruto kaget bukan main. Ia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia menjadi salah tingkah. Wajahnya sedikit memerah.
"...," Miku terdiam sambil memperhatikan Naruto. Entah apa yang ia pikirkan.
Lalu di antara orang-orang yang sedang memperhatikan pelajaran. Ada satu laki-laki yang juga memperhatikan Miku dan Naruto. Dia adalah laki-laki berambut hitam pendek dan bermata kuning. Pandangannya datar dan dingin.
'Sepertinya mereka bukan saudara. Mungkin ada sesuatu yang disembunyikan,' batin laki-laki bermata kuning itu.
.
.
.
Saat istirahat siang tiba, tepatnya di kantin.
Naruto dan Miku terpojok di dekat pintu kantin. Mereka bengong karena semua tempat telah dikerubungi oleh banyak orang. Tidak ada tempat yang tersisa. Padahal Naruto dan Miku akan makan siang bersama.
"Yaaah, tempatnya tidak ada, Menma," Miku memasang wajah kusut."Kita terlambat. Kalau begini caranya, kita harus menunggu yang lainnya selesai makan. Aaah, padahal aku sudah lapar sekali."
"Tenang saja, Miku," Naruto memperhatikan semua orang yang sedang duduk manis di bangku masing-masing. Ia menajamkan matanya untuk menemukan dua kursi yang kosong buat dirinya dan Miku.
Akhirnya Naruto menemukan enam kursi kosong yang berada di tengah ruangan. Segera saja Naruto menarik tangan Miku menuju ke sana.
"Miku, aku menemukan tempat yang kosong. Ayo, kita pergi ke sana!"
"Eh, benarkah?" Miku tidak percaya.
Mereka langsung menuju ke tempat yang diincar. Naruto mempercepatkan langkahnya sambil terus menyeret Miku.
Begitu tiba di tempat yang diincar, Miku langsung duduk di kursi yang kosong. Naruto hendak menarik kursi. Tapi, tiba-tiba ada seseorang yang menarik kursi yang dipegang oleh Naruto. Naruto kaget.
"Maaf, kursi ini milikku," ucap seorang laki-laki berambut hitam dan bermata kuning.
Naruto mengangguk cepat. Ia memilih untuk mengalah karena tidak ingin membuat kekacauan.
"Ya, silakan," Naruto tersenyum ramah.
Laki-laki itu langsung duduk begitu saja di kursi itu. Ia duduk persis berhadapan dengan Miku. Miku agak merasa terganggu dengan kehadiran laki-laki berambut hitam itu. Karena dia memandang Miku dengan aneh.
Lalu Naruto memilih duduk di samping Miku. Tapi, kali ini ada yang menyerobot Naruto lagi untuk mengambil kursi yang hendak diduduki oleh Naruto.
"Maaf, ini kursi milikku," kata seorang gadis berambut honey blonde dan bermata biru aquamarine.
Kali ini Naruto mengalah lagi. Dengan ramah, ia mempersilahkan gadis itu untuk duduk di bangku itu. Kemudian Naruto mengambil kursi yang lainnya. Tapi, malah diserobot lagi oleh laki-laki berambut honey blonde diikat satu dan bermata aquamarine. Naruto harus mengalah lagi dan lagi.
Ini sudah ketiga kalinya. Hingga membuat Naruto sedikit kesal.
"Maaf, ini kursiku," ujar laki-laki berambut honey blonde itu.
"Ya, silakan," Naruto tersenyum dengan terpaksa. Padahal ia sudah dongkol setengah mati.
Kini Miku diapit oleh dua saudara kembar. Si gadis berambut honey blonde sebahu dan laki-laki berambut honey blonde diikat satu. Sementara Naruto duduk di samping laki-laki berambut hitam tadi.
Miku melirik ke kanan dan ke kiri. Dua saudara kembar itu memperhatikan Miku dengan seksama. Miku merasa panik.
"A-anu, ke-kenapa kalian memandangku seperti itu?" tanya Miku.
"Kamu adalah Hatsune Miku?" sahut si gadis berambut honey blonde sebahu itu.
Miku mengangguk.
"Iya."
"Anak dari keluarga Hatsune yang mempunyai usaha kebun teh yang sangat luas di pegunungan itu, kan?" ungkap si laki-laki berambut honey blonde itu.
Miku mengangguk lagi.
"Iya."
"Kamu tidak ingat dengan kami berdua?" si gadis berambut honey blonde menunjuk dirinya dan laki-laki berambut honey blonde itu."Kami berdua adalah saudara kembar Kagamine. Kagamine Rin dan Kagamine Len."
Miku menatap Len dan Rin itu secara bergantian. Ia berusaha mengingat tentang masa lalunya.
"Oh iya, kalian adalah Kagamine bersaudara saat SD dulu. Aku ingat."
Miku tersenyum. Len dan Rin tertawa senang jika Miku masih mengingat mereka.
"Syukurlah kamu masih mengingat kami, Miku. Aku senang mendengarnya," Len memegang tangan Miku dengan erat. Miku kaget setengah mati. Kedua pipinya merona merah.
"Eh, Len ... A-ano ..."
Tiba-tiba kepala Len dijitak oleh Rin.
BLEETAAK!
"Aw, sakit itu, Nee-san!" Len meringis kesakitan. Ia langsung melepaskan genggaman tangannya dari tangan Miku.
"Jangan pegang tangan Miku begitu. Dasar, laki-laki genit!" Rin berwajah merah padam."Jangan mencari kesempatan dalam kesempitan. Kamu mengerti, Len-chan!"
"I-iya," Len menunduk takut.
Beberapa orang di sana menjadi sweatdrop melihat tingkah Kagamine bersaudara itu.
Miku dan Naruto bengong melihat saudara kembar itu. Sementara si laki-laki berambut hitam terus memperhatikan Miku.
"Jadi, kamu memang Hatsune Miku? Pemilik terakhir keluarga Hatsune yang mempunyai usaha perkebunan teh di pegunungan itu," tukas si laki-laki berambut hitam itu.
Miku menoleh ke arah laki-laki itu.
"Iya, itu benar. Tapi, kamu siapa ya?" tanya Miku mengerutkan keningnya.
"Dia sepupu kami, Miku. Namanya Kagene Rei," jelas Rin sambil membelit leher Len dengan kuat. Len merasa nyawanya akan melayang karena dicekik oleh kakaknya yang terbilang tsundere itu.
"Sepupu kalian?" Miku melirik Rin.
"Iya, ia baru saja pindah ke desa ini dan memilih masuk ke sekolah yang sama dengan kami. Lalu sekarang dia tinggal bersama kami. Karena orang tuanya sudah meninggal dunia."
Miku mendengarkannya dengan seksama. Begitu juga dengan Naruto.
"Jadi, begitu ya?" Miku melirik Rei.
Rei hanya menutup matanya.
"Rin-chan, kenapa kamu mengatakan hal itu pada Miku?"
"Lho, itu memang benar, kan?"
"Tapi, jangan diceritakan."
"Miku juga harus tahu tentangmu. Dia bertanya padaku tentang dirimu. Makanya aku mengatakan semuanya."
"Kamu terlalu jujur, Rin-chan."
"Kalau begitu, aku minta maaf deh."
"Ah, sudahlah. Jangan dibahas lagi."
Rin dan Rei malah berdebat. Membuat Miku dan Naruto bingung melihatnya. Sementara Len sudah terkulai lemas di kursinya akibat dicekik oleh Rin.
Naruto yang sedari tadi terdiam. Dia cuma bengong sambil memperhatikan mereka berbicara. Hingga Rei dan Rin berhenti berdebat. Lalu Rin memandang ke arah Naruto.
"Miku, dia siapa?" tanya Rin."Apa benar dia adalah saudaramu? Aku rasa kamu hanya mempunyai satu saudara laki-laki yaitu Mikuo. Tapi, Mikuo sudah meninggal, kan?"
Miku tersentak dengan kalimat terakhir yang diucapkan oleh Rin itu. Seketika tubuhnya mulai bergetar.
"A-ano, dia adalah saudara angkatku, Menma," Miku tersenyum getir.
"Oh, saudara angkat," Rin manggut-manggut. Sedangkan Rei menatap Naruto dengan sinis.
Naruto tersenyum kepada mereka. Kecuali Miku.
"Halo, aku Menma. Salam kenal."
"Halo, aku Rin," Rin tersenyum sambil menunjuk Len."Ini adik kembarku, namanya Len.
"Salam kenal, Rin dan Len."
"Iya," Rin terus tersenyum sambil merangkul pundak Len. Len sedang pundung.
"Lalu dia?" Naruto menunjuk ke arah Rei.
"Aku Rei," ucap Rei singkat tanpa melihat Naruto. Wajahnya datar sekali.
Membuat Naruto bengong melihat Rei itu.
'Rasanya sikapnya dingin begitu,' batin Naruto di dalam hatinya.
Lantas Naruto memperhatikan tingkah Miku. Ia sedikit tersentak karena melihat kedua Miku yang berkaca-kaca.
'Eh, ada apa dengan Miku?' gumam Naruto heran.
SREK!
Miku bangkit berdiri.
"Permisi semuanya, aku mau pergi dulu!"
"Eh, Miku? Kamu mau kemana? Kamu tidak makan?" Rin terperanjat karena melihat Miku kelihatan terburu-buru.
"A-ano, Rin. Aku jadi tidak lapar. Maaf, aku mau pergi dulu! Sampai nanti!"
Miku buru-buru pergi. Mereka semua menjadi heran.
"Lho, ada apa dengan Miku ya?" Rin bengong.
SREK!
Naruto bangkit berdiri dari duduknya. Ia memutuskan untuk mengejar Miku.
"MIKU! TUNGGUUUU!"
.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
.
A/N :
Hai, ketemu lagi dengan fic "Denganmu Aku Bahagia" ini. Saya hadirkan chapter 4 ini.
Ok, segini aja dulu untuk chapter 4-nya. Lain kali saya perpanjang lagi.
Terima kasih sudah membaca cerita ini.
Berikan review-mu tentang chapter kali ini.
Sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Hikari Syarahmia ... ~~~~~
