Ketikan ulang #NulisRandom2015

Hari ke-16

Adegan menjurus

Kalau adegan ini masuk kategori M, tolong beritahu saya ya.

.

.

.

"Kurokocchi!"

["Domo, Kise-kun."]

"Kurokocchi~ Aku kangen sekali-ssu~"

["Sayangnya saya tidak merasakan hal yang sama."]

"Kurokocchi hidoi!"

["Kise-kun, kita baru saja bertemu 3 jam lalu."]

"Ah—iya juga, sih. Tapi aku 'kan tetap kangen-ssu!"

["Kise-kun cerewet."]

"HIDOI!"

["Cukup. Kise-kun, alasan saya meneleponmu adalah—"]

"Adalah karena Kurokocchi rindu padaku~"

["Topimu ketinggalan..."]

"...yang benar?"

["Seharusnya saya yang mengatakannya, Kise-kun..."]

"BENAR JUGA! Pantas rasanya kepalaku dingin sekali-ssu! Bagaimana ini, Kurokocchi?!"

["Itu—bbbzztt—ter—kkrsk—ah—"]

"Eh? Kurokocchi, bisa tolong ulangi lagi? Tidak terdengar jelas, nih?"

["Itu—hhh—terserah Kise-kun... kalau Kise-kun mau—umnh—mengambilnya sekaraangghh..."]

"...Kurokocchi tidak apa-apa?"

["Kh—saya baik-baik saja—aaaahhh..."]

"..."

["Sial—guh—M-maaf, Kise-kun... saya akan—ah—telepon nanti..."

TUUTT TUUTT TUUTT]

"..."

Kise Ryouta menatap ponselnya dengan wajah memerah. Kebisingan dalam kereta tidak membuatnya tuli akan setiap desahan yang tadi terdengar dari sambungan telepon.

Serius, apa yang sedang Kuroko Tetsuya lakukan ketika meneleponnya?

.

.

Di lain tempat, Kuroko tengah terengah-engah setelah merasakan hasrat membludaknya memenuhi rongga mulut Akashi Seijuurou yang duduk manis di hadapannya. Dagu pemuda berambut merah tersebut basah akan cairan kental sampai kemejanya. Kuroko Tetsuya tak bisa menahan senyum miring melihat kekasihnua berbuat nakal ketika ia sedang menelepon orang.

"Waktunya hukuman, Seijuurou-kun,"

Akashi menatapnya dengan mata yang menantang dan tubuh yang bergejolak.

"Lakukan sepuasmu, Tetsuya."