Judul : My imagination is my Love

Chapter : 4

Author : Kakashy Kyuuga

Disclsimer : Naruto punya om Masashi ^_^

Genre : hurt, romance and fantasy

Pairing : Naruhina

Satu minggu telah berlalu, tak terasa sudah seminggu ini tiap harinya Hinata menatap kosong pada makam yang masih basah. Entah apa yang dia pikirkan saat itu, menerima kenyataan dia telah kehilangan kekasihnya atau tetap mengiklaskan kepergiannya.

"Kau masih di sini?" suara yang sangat Hinata kenal membuyarkan lamunannya

"Temari nee-san" Hinata menoreh ke asal suara tadi.

"aku masih belum terbiasa dengan kepergian adikku" suara Temari sepertinya masih terdengar sedih setiap kali dia menyebutan nama adiknya. "Kau juga merindukannya, Hinata?" lanjut Temari.

"Aku masih belum percaya, Gaara-kun benar-benar telah pergi." Kata Hinata.

Mereka saling diam dan hanya memandang makam di depan mereka.

"Kau harus kuat, Hinata. Kau harus hidup seperti biasa, itu yang adikku inginkan" Temari mencoba mengusir kesunyian di antara mereka.

Hinata hanya terdiam, dia tak menanggapi kata-kata Temari.

"Hinata, mau kah kamu melakukannya untuk adikku?" tanya Temari yang tahu maksud diamnya Hinata.

Temari memintanya melakukan itu semua bukan karena tak ada alasan, itu karena selama seminggu ini hanya mengurung diri di dalam kamarnya dan menganggap hidupnya tak ada arti.

Hinata terdiam cukup lama, Temari masih menunggu jawaban Hinata.

Rambut indigo Hinata bergerak di belai angin penggunungan, Hinata menundukkan kepalanya terasa berat untuk memberikan jawaban permintaan Temari.

Tapi, benar kata-kata Temari. Gaara tentu tak ingin Hinata hidup seprti ini. Walaupun dia tahu itu terasa berat ataupun mungkin mustahil, apa salahnya mencobanya khan?

"Akan ku coba, nee-san" suara Hinata hamper tak terdengar . seulas senyum lega Temari berikan untuk Hinata

Hinata POV

Walau dua minggu telah berlalu aku masih merasakan kehadiran Gaara disisiku, hari-hari yang kulalui terasa kelam. Siang malam aku hanya bisa meratap dalam kesunyian dan meratapi hariku yang selalu dirundung duka. Hidupku terasa hampa, aku tak bisa hidup tanpa Gaara, semua tentangnya terekam aman di benak dan di aperteman milik kami bersama, walau hanya satu kamar dan dua ruang lainya tapi itu sudahlah sangat cukup, di tempat inilah kami merencanakan masa depan.

Semua terasa sunyi tanpanya disini, aku mencoba hidup sendiri diantara keterpurukanku. Mencoba melalui semuanya sendiri tanpa separuh jiwaku, aku sendiri tak tahu apa aku bisa melalui samua ini atau tidak. Ku menatap satu persatu bagian rumah kami, sungguh sangat sulit semua ini bagiku. Aku kembali meratapi semuanya, aku sungguh tak sanggup hidup tanpanya.

Hari beranjak malam, gelap dan dinginnya malam membekukan hatiku yang dingin. Sunyi malam menyayat hatiku yang perih.

"Aku tak pernah meninggalkan mu sendiri" kata-kata Gaara terdengar didalam gelap, dingin dan sunyinya hatiku. "Tutup matamu, rasakan hangatnya wajahku, bayangkan wajahku dan semua tentang diriku. Saat kau membuka matamu, kau akan melihatku dan disaat itu aku ada bersamamu" kembali aku teringat akan kata-katanya ketika aku merindukan dirinya.

Hanya ini yang bisa aku lakukan untuk menghibur hatiku, menganggap dia ada itu sudah cukup memotivasiku bangkit dari keterpurukkanku.

Aku menarik napas panjang dan menutup mataku sambil membayangkan semua tentang Gaara, tapi kenapa aku tak bisa membayangkan wajahnya? aku mencari-cari dibagian sisi otakku yang lain, mungkin terselip di memori jangka pendek atau di atau diotak reptilku, tapi kenapa perlaha-lahan wajahnya sulit aku rangkai dalam ingatanku?!

Oh, tidak. Aku tak ingin kehilangan memori itu. Aku mencoba merangkai lagi, bentuk wajah, kening, mata, hidung, bibir, rambut, warna kulit dan postur tubuhnya. Selesai. Kurasakan hangat wajahnya. Ku lepaskan perlahan-lahan napasku seirama detak jantungku yang berdegub kencang dan hatiku yang was-was saat ku membuka mata.

Apakah aku akan segera melihatnya? Mungkin aku tak bisa melihatnya namun bisa merasakan kehadirannya? Atau tidak sama sekali?!

Aku menguatkan diriku untuk menghadapi kenyataan jika apa yang aku harapkan tak terjadi. Perlahan-lahan namun pasti aku membuka mataku penuh harap, pertama-tama semua terlihat kabur. Aku tertunduk lemas saat ku tak melihatnya atau tak merasakan kehadiranya.

Dengan sisa semangatku, aku beranjak dari tempat dudukku hendak memutar televisi. Langkahku tiba-tiba tertahan pada bayangan yang samar-samar duduk di tempatku duduk, aku mengucek mataku untuk memperjelas penglihatanku.

"Berapa lama rumah ini tak di bersihkan?" aku terkejut setengah mati mendengar bayangan itu bicara. "Siapa kamu?" tanyaku spontan pada sosok misterius itu.

"Aku tidak tahu siapa aku, kamu yang mengeluarkan aku dari imajinasimu" terangnya membuat napasku tertahan. Apa? Dia muncul dari imajinasiku? Lelucon apa lagi ini?

Apa dia benar-benar hasil imajinasiku? Bukannya tadi aku membayangkan Gaara. Apa dia adalah Gaara?

"Siapa dia?" tanyanya lagi seraya mengamati foto Gaara di meja samping tempat duduknya.

"Dia_" aku mulai jelas melihatnya, rambut pirang yang acak-acakan, mata biru safirnya, hidung, bibir, wajahnya memiliki tiga goresan di masing-masing kedua pipinya, posturnya yang tinggi dan atletis dan kulit tannya yang jelas-jelas berbeda jauh dengan Gaara. Dia terlihat begitu stylst.

"Siapa kamu? Bagaimana kamu bisa masuk kedalam rumahku?!" tanyaku penuh curiga padanya. Pasti dia permapok atau semacamnya karena aku bukan orang bodoh yang bisa percaya begitu saja dengan hal konyol seperti tadi .

"Disini tak ada barang berharga, percuma kamu masuk ke rumahku" dia tiba-tiba melihatku dengan tatapan menggonda.

"Kenapa kamu terlihat syok seperti itu?" aku terkejut mendengarnya, kenapa dia yang balik bertanya? Aku berlari kedapur mengambil pisau dan menyerahkan pisau itu padanya. "Bunuh saja aku, dengan begitu kamu bisa miliki semua yang ada di rumah ini" entah apa yang ada di pikiran ku saat itu.

"Hei, apa kamu gila?! Aku ini hasil imajinasimu. Aku hanya bisa berbicara denganmu, tanpa bisa menyentuh apapun" katanya seraya memegang ganggang pisau namun tangannya tembus melewati ganggang pisau. Secara alami aku syok! Aku tak percaya melihatnya.

"Apa kamu hantu?! Apa kamu malaikat maut?" aku ketakutan melihatnya karena tatapan yang dibuat-buat agar menakutkan.

"Hei, mana ada hantu dan malaikat seganteng aku" protesnya seraya tersenyum nakal dan menyentuh hidungku, namun jari telinjuknya menghilang bagai kabut.

"Jadi, kamu adalah hasil imajinasiku?" tanyaku yang lebih tepat mencoba menjelaskan apa yang barusan ku lihat seraya duduk dan dia menyahutnya dengan mendekatiku. "Dan, hanya aku yang bisa melihat dan mendengarmu?" tanyaku lagi dan dia menyahut kembali dan duduk disampingku.

"Berarti, aku sudah gila. Oh, tidak. Aku tidak ingin gila" gumanku begitu menyadari kondisiku, aku memang masih terpukul dengan kematian Gaara tapi aku tak berpikir aku akan gila secepat ini. APA AKU BENAR-BENAR SUDAH GILA!

'Oh, kami-sama tolong aku. Kak Neji, kak Temari! Aku tidak ingin menjadi Gila!' ratap ku dalam hati.

"Punya teman imajinasi bukan berarti kamu gila. Lebih tepatnya aku adalah teman bayanganmu, penjagamu, dan pacarmu" katanya dengan PDnya sambil menyengir memamerkan deretan gigi-gigi putihnya yang rapi "Kecuali kamu bertingkah berlebihan terhadapku diluar sana" lanjutnya seraya merangkulku, tanpa melepaskan senyum lima jarinya yang ehem-terlihatmempesona-ehem.

He eh? Apa yang aku pikirkan? Aku tidak tahu siapa dia dan dari mana asalnya? Kenapa aku bisa secepat itu terpesona pada senyuman mataharinya. CUKUP HINATA! Jangan berpikr macam-macam!

"Itu sama saja artinya aku gila!" kataku menegaskan padanya. "Sudahlah, hari ini pikiranku terlalu capek, besok kamu juga akan menghilang" kataku seraya masuk ke kamarku dan tidur sambil berharap apa yang baru aku alami adalah mimpi.

Hinata POV end

Normal POV

Hinata terbangun dari tidurnya saat suara bel tedengar, sebelum beranjak dari tempat tidur, dia tampak celingak celinguk melihat sekelilingnya untuk memastikan apa yang dia alami semalam hanyalah mimpi.

"Hhuufftt_. Mimpi yang aneh" gumamnya lega, lega karena orang aneh itu hanya mimipi.

Saat dia lewati Ruang tamu terlihat sunyi, dan memang benar itu semua hanya mimpi. Hinata segera membuka pintu.

Dia tersenyum melihat kedua sahabat baiknya mengangga di depan pintu melihatnya.

"Hinata, apa kamu baik-baik saja?" kata perempuan berambut pirang di kuncir tinggi dan poni yang menutupi sebelah matanya yang terlihat cemas.

"Heh, pig. Apa ada yang salah dengan Hinata? Dia menyambut kita dengan senyum itu berarti teman kita ini sedang happy" sela perempuan berambut pink sebahu pada temannya.

"Dasar Jidat_"

"Ino-chan, sakura-chan sampai kapan kalian bertengkar di depan pintu orang seperti itu?" Hinata mencoba melarai pertengkaran abadi mereka.

"Oh, iya. Hinata aku membawa sarapan untuk kita bertiga" kata Ino begitu teringat maksud kedatangan mereka pagi-pagi ini ke aperteman Hinata.

"Kali ini tidak ada penolakan lagi, Hinata-chan" tambah Sakura, dia tahu Hinata akan menolak kedatangan mereka sperti yang sudah-sudah dua minggu yang lalu setelah kematian Gaara.

"Ah, kebetulan. Aku juga lapar" spontan kata-kata Hinata membuat kedua temannya saling berbagi pandangan haru.

"Ayo, jidat kita masuk" Ino menarik Sakura yang masih tak percaya dengan perubahan Hinata.

"Kalian duluan saja. Aku akan membeli susu" kata Sakura seraya berlari meninggalkan kedua temannya yang terlihat heran dengan sikap Sakura.

"Aku harus memberitahu Neji dan Temari akan berita bahagia ini" kata Sakura. Dia meraih ponselnya dan mencari dua nama yang ingin dia hubungi.

Normal end.

TBC.