THE RETURN OF SUPERMAN, chapter 4.

Cast:

Keluarga Junmyeon

Keluarga Sehun

Keluarga Jongdae

Keluarga Chanyeol

Keluarga Jongin

Keluarga Kris

.

.

.

.

_HAPPY READING_

_And sorry for typo_

Seoul, 06.00. Keluarga Oh.

"aaaAAA!"

"Sepertinya aku sedikit kenal dengan suara teriakan ini."

Terlihat Sehyuk dan Seohyun sedang bermain lompat-lompatan diatas tubuh ayahnya, sedangkan Sehun masih tertidur dengan lelapnya.

"Bagaimana dia bisa tidur dengan tubuh yang diinjak anaknya sendiri?!"

"Appa! Ireona eoh!" Sehyuk mencoba membuka mata sang Ayah dengan tangannya. Namun, Sehun tetap terlelap.

"APPA!" Sehun tersentak ditidurnya. Matanya terbuka namun tak menunjukkan akan bangun dari ranjang sang anak.

"Tunggu! Dia tidur diranjang anaknya yang kecil itu!? Wahhh, dia Ayah terhebat."

Sehyuk dan Seohyuk terus bermain dengan tubuh sang Ayah yang masih mengumpulkan nyawa untuk bangkit dari ranjang sang anak.

"Pasti lelah memiliki dua anak yang aktif seperti Sehyuk dan Seohyuk."

Sehyuk dan Seohyuk duduk bersila dan bermain di atas perut sang Ayah. Namun itu tak lama, beberapa saat kemudian mereka kembali berloncat-loncatan di atas tubuh sang Ayah.

Bughh…

Merasakan beban yang berkurang, Sehunpun mencoba keadaan si kembar yang beberapa saat lalu bermain di atas perutnya. Pertama kali membuka matanya hanya ada Sehyuk dengan wajah kebingungan. Sehun mempunyai perasaan buruk. Dilihatnya lantai setelah memindahkan Sehyuk.

Sehun melihat Seohyuk jatuh dengan wajah yang terbentur lantai kamar tersebut. Sehun langsung bangun dan mengangkat sang anak, walaupun Seohyuk sudah mencoba untuk bangun sendiri. Dilihatnya Seohyuk tidak mendapat luka serius, hanya sedikit berdarah di bibirnya karena berbenturan dengan mainan yang ada di lantai kamarnya.

*WAWANCARA OH SEHUN ON*

"Mereka sangat lincah! Aku juga sedikit bingung dengan mereka, mereka sudah bermain saat aku baru membuka mata, dan mereka akan menyambutku dengan heboh saat aku pulang kerja. Aku selalu bertanya pada Luhan, apakah mereka pernah tidur siang atau pernah lelah?! Dan Luhan menjawab mereka hanya tidur sebentar lalu bermain lagi."

"Lalu apakah mereka sering bertengkar!?"

"Itu pasti! Diumur mereka yang masih berpikir mainan itu segalanya, pasti sering bertengkar. Walaupun aku dan Luhan sudah menyiasati dengan membeli dua mainan yang sama persis, namun tetap saja mereka bertengkar. Entahlah, aku bingung mendeskripsikannya seperti apa. Intinya mereka sangat-sangat lincah dan sedikit troulemaker."

"Bagaimana kau dan Luhan membagi waktu untuk mengurus mereka!?"

"Pada awalnya saat mereka berumur 6 bulan, aku dan Luhan sama-sama berkerja. Itu cukup membuat stress karena saat Luhan berkerja maka aku akan menjaga mereka, begitu juga sebaliknya. Kami saat itu memutuskan untuk mengambil jadwal yang tidak bertabrakan. Namun, semakin bertambahnya usia mereka, mereka menjadi yaa aku sudah mengatakannya tadi, ditambah lagi pada saat itu bertepatan dengan jadwal kerja ku yang sedikit tak terkendali. Pada saat itu Luhan memutuskan untuk membawa perkerjaannya kerumah agar bisa menjaga Si kembar dengan maksimal. Jadi aku bisa berkerja dengan jadwal penuh dan Luhan bisa menjadi desainer dan menjadi ibu yang baik."

"Sebenarnya aku sedikit khawatir dengan Luhan. Dia selalu mempersiapkan semuanya dengan baik, bahkan dia selalu mampu menyiapkan apa yang aku butuhkan disaat Si kembar tengah dalam mood yang buruk. Terkadang aku selalu berpikir bagaimana jika bukan dia yang aku nikahi, apakah sama!?"

"Ucapkan sesuatu untuk istrimu!"

"Apa!?"

"Ucapkan apa yang kau rasakan selama ini padanya! Dia pasti akan menonton acara ini."

"Sebenarnya aku bukanlah tipe pria yang akan mengubar kata-kata yang manis, kau taukan!? Tapi, aku benar-benar berterimakasih karna kau yang menjadi istriku, aku minta maaf jika aku bukanlah suami yang baik, aku sangat-sangat mencitaimu."

*WAWANCARA SEHUN OFF*

.

.

.

Sehun kini tengah mencuci sayuran didapurnya, dan sesekali mengawasi si kembar yang bermain diruang tengah. Sehyuk dan Seohyuk bermain dengan tenangnya sambil menonton serial televisi kesukaan mereka.

"Apa ini?! Mereka menyukai iklan televisi dibanding dengan serial kartun yang ditayangkan."

Memang saat serial televisi ditayangkan, Sehyuk maupun Seohyuk memilih untuk berlari-larian ataupun asyik bermaiin sendiri. Namun, saat iklan ditayangkan mereka akan sejenak meninggalkan aktivitas bermainnya lalu fokus dengan iklan yang ada di televisi.

"Setidaknya aku bisa tenang untuk menyiapkan makanan." Sehun terus sibuk didapur, dan sesekali membuka kulkas yang berada tak jauh dari tempatnya.

"Dia terlihat sedikit kaku melakukan hal itu."

"Chaaa! Mari kita lihat apa yang harus dimasak untuk hari ini." Sehun merapikan semua sayuran yang telah ia cuci tadi.

"Tapi bukankah dia terlihat mencuci semua sayuran yang ada dikulkas?!"

"Tidak seperti itu Oh Sehun! Itu akan membuatnya busuk jika tidak langsung dimasak."

Lalu Sehun memasukan kembali sayuran yang tidak diperlukannya kedalam kulkas, dan kembali menyiapkan makanan untuk Si kembar.

"Syukurlah mereka sedikit tenang, huhhh!" Sehun cukup bersyukur Si kembar tak banyak tingkah saat dia memasak, tidak ada yang berlarian disekitar kakinya seperti sebelum-sebelumnya.

"Tapi Sehun Appa, bukankah ini sedikit mencurigakan?!"

Kini kamera beralih ke ruang tempat Si kembar tadi bermain sambil menonton televisi. Namun, baik Sehyuk ataupun Seohyuk tidak berada disana.

"Pasti terjadi sesuatu dengan mereka."

Sehun mengiris apel dengan sedikit rapi, namun terkesan acak-acakan. Ia berniat memberikannya kepada Si kembar jagoannya yang sangat tenang menunggunya memasakan sesuatu.

"Tidak! Mereka entah kemana. Mengapa aku yang merasakan gemetar begini!?"

Sehun berjalan ke ruang tengah dengan sesekali merapikan rambutnya. Namun, yang terlihat disana hanyalah mainan yang berceceran dan televisi yang dibiarkan menyala.

"Kemana mereka?!" Sehun mulai mencarinya keseluruh ruangan dirumahnya namun nihil tak ada Si kembar.

Baik kamera kamar tidur, kamar mandi dan pintu dalam arah masuk kerumah juga tidak memperlihatkan kedua putra dari seorang Oh Sehun.

Tentu saja Sehun bingung dan mulai cemas. Lalu ia duduk di ruang tengah sambil mengecek sebuah kontak di telponnya, lalu menekan sebuah dial up dan tak lama sebuah sahutan menyapanya.

"Yeobseo!"

"Itu Luhan."

"Sehyuk dan Seohyuk tidak ada dirumah." Sehun mulai menjelaskan kejadian yang sebenarnya dengan sedikit gugup bercampur dengan cemas.

"Hah?!"

"Mereka menghilang!" Sehun terlihat cemas dengan menggigiti ibu jarinya.

"Kau sudah mencarinya keseluruh ruangan?!"

"Sudah, tapi mereka tak terlihat."

"Tenanglah jangan panik!"

"BAGAIMANA BISA AKU TIDAK PANIK!?"

"Sehun Appa, ini bukanlah saatnya untuk beremosi."

"Tenanglah dulu! Cobalah kau mencari lagi! Aku akan menelpon petugas apartemen."

"Baiklah. Ku tutup!" dan kini sehun kembali mencari si kembar.

.

.

.

.

"Hihhihihi."

"Tunggu! Bukankah ini suara si kembar?"

Lalu kamera menyorot si kembar yang kini berada diantara pintu dalam dan luar apartemen tersebut. Mereka tengah bermain sesuatu yang seru disana.

"Mereka tidak hilang tapi mereka bermain di sana."

.

.

.

Sehun terus mencari si kembar dengan meneriaki mereka. Namun, tetap tidak ada sautan atas panggilan tersebut. Lalu ia meraih mantel yang berada di kamarnya, dan berjalan menuju keluar rumah.

"Yaa benar! Keluarlah dan kau akan menemukan anakmu."

Saat akan membuka pintu dalam apartemennya dia belum sadar akan suara-suara aneh yang terdengar cukup jelas, pikirannya sungguh sangat kalut sekarang. Lalu pada saat dia membuka pintu dalam apartemennya. "OH ASTAGA!"

"Pasti berat mempunyai anak yang aktif seperti mereka, apalagi mereka dua anak."

Dengan polosnya si kembar tengah bermain di rak sepatu milik Ayah dan Ibunya, mereka sekarang sudah tidak berpakaian seperti yang sebelumnya. Kini mereka hanya mengenakan popok, kaos berlengan pendek berwarna putih, namun yang membuatnya aneh adalah sebuah helm sepeda yang mereka kenakan.

Saat Sehun memergokinya, mereka sedang mencoba sebuah sepatu hak tinggi milik Luhan. Sehun melihatnya pun hanya menganga dengan kelakuan kedua anaknya tersebut.

"Apa yang kalian lakukan disini eoh?" Sehun duduk disamping Sehyuk yang tengah mencoba sepatu hak tinggi yang telah ia pilih, sedangkan Seohyuk sudah berdiri dengan sepatu hak tinggi yang ia pakai beberapa saat lalu.

"Bukannya menarik Si kembar dan memarahi mereka, dia malah mengikuti arah permainan si kembar."

"Aku ingin pergi ke taman." Ucap Seohyun dengan membenarkan helm yang dikepalanya.

"Kalian ingin ke taman?! Tapi kenapa tidak bilang ke Appa!?"

"Ini sedikit sulit! Ketika anak kita berbuat kesalahan seperti ini sulit untuk tidak memarahinya, namun Sehun tidak memarahi mereka, bahkan menghela nafas dengan keras pun tidak. Mungkin ini kelegaannya karena mereka tidak hilang."

"Hehehe." Sehun ingin marah, namun ketika kedua buah hatinya memamerkan senyuman polos khas anak kecil tentu akan luluh.

"Baiklah kita ke taman, tapi setelah kalian menghabiskan makanan kalian oke?!" Si kembar menganggukan kepala mereka secara bersamaan.

"Janji?" Sehun mengarahkan jari kelingkingnya kepada Si kembar. Dan mereka pun saling mengikat janji satu sama lain.

"Ternyata dia juga bisa menjadi Ayah yang bijaksana."

"Tapi sebentar! Aksesoris kalian ada yang kurang. Sebentar yaa, Appa akan membawakan sesuatu yang menyenangkan."

Sehun kembali dengan membawa kacamata yang beberapa akhir ini menjadi tren. Ia memakaikannya kepada Si kembar secara bersamaan. Dan kini Si kembar semakin terlihat aneh dengan tambahan kacamata yang Sehun bawa tadi.

"Mereka malah semakin aneh, namun gen mereka bagus jadi mereka tetap terlihat tampan. Ini tidak adil."

"Ini akan membuat Eomma kalian tertawa." Sehun memotret Si kembar dengan dandannya yang nyeleh tersebut.

Lalu Sehun melanjutkan kegiatannya memasak, sedangkan Si kembar kini telah duduk di meja makan dengan bantuan kursi khusus untuk balita.

"Chaaa! Makan yang banyak eoh."

Sehyuk dan Seohyuk memakan makanan mereka dengan sangat lahap, sesekali mereka bercanda dengan sang Ayah sehingga sarapan pagi keluarga oh tersebut berwarna.

.

.

.

Incheon, Keluarga Yeol.

Chanyeol tengah membuka sebuah pintu di suatu tempat. Disana terdapat banyak mainan dan berbagai alat-alat yang biasanya disukai oleh anak seusia Chanhyun dan Jiwon. Namun, raut wajah Chanhyun sedikit berbeda dari pada saat keluar dari mobil sesaat lalu.

"Ini tempat yang cocok Chanhyun maupun Jiwon, tapi kenapa Chanhyun sedikit terlihat cemas?!"

"Daddy, apakah aku akan mendapat satu suntikan?!"

"AAA! Ini klinik kesehatan untuk anak-anak. Tadi memang Baekhyun berpesan agar Jiwon dibawa ke klinik."

"Tidak, ini waktunya Jiwon." Chanyeol menjawabnya sambil terus membawa Jiwon yang berada di gendongannya dan Chanhyun untuk semakin memasuki tempat tersebut.

"Annyeonghaseyo, atas nama Park Jiwon." Chanyeol menghampiri staff yang berada di bagian resepsonis.

"Atas wali Park Chanyeol, benar?!"

"Nee."

"Silahkan tanda tangan untuk kedatangannya, dan silahkan tunggu hingga nama anak anda dipanggil." staff tersebut menyerahkan pen digital kepada Chanyeol, dan Chanyeol segera mendatatangani sebuah tablet yang ada di hadapannya.

Sesudah melakukan check list, Chanyeol mengajak Chanhyun dan Jiwon untuk bermain di area kids garden. Namun, hanya Jiwon yang bersemangat untuk bermain disana, sedangkan Chanhyun hanya menjaganya agar tetap aman.

"Chanhyun terlihat sangat jantan."

Chanyeol yang melihat perlakuan Chanhyun kepada adiknya pun hanya tersenyum bangga, dia terus mengawasi kedua buah hatinya dengan sabar. Tiba-tiba, Chanhyun datang sambil berlari menujunya. Chanyeol lantas menangkap sang putra yang sangat tampan tersebut.

"Kenapa eoh?! Kau tadi sangat bersemangat." Chanyeol melihat tingkah anaknya yang tidak seperti biasanya pun bertanya perihal yang mengganggu pikiran sang anak.

"Aku ingin pulang." Chanhyun beralih kepangkuan sang Ayah.

"Tapi kenapa hmm?" Chanyeol menciumi Puncak kepala sang anak.

"Chanyeol benar-benar suami yang ideal. Dia pintar memasak, menulis lagu, menyanyi, berakting, dan mengurus anak. Sungguh aku iri."

"Aku tidak mau melihat Jiwon kesakitan, Daddy."

"Aigoo! Dia pasti ingat betul rasa sakit akibat suntikan itu. Dia sangat peduli dengan adiknya."

"Chanhyun, jika Daddy atau Mommy sakit, apa yang harus kau lakukan?!"

"Memberi Daddy Mommy obat."

"Baiklah, kau ingin Jiwon sakit?!" Chanhyun menggeleng cepat.

"Kau tau, agar seseorang tidak sakit maka harus di berikan sedikit suntikan!? Setelah mereka diberikan suntikan maka mereka akan kuat."

"Tapi itu menyakitkan, Daddy." Chanhyun membalikan badannya dan memeluk Chanyeol.

"Baiklah begini, kita akan pulang. Tapi, kau kemarin mendengar Jiwon menangis karena tidak bisa bernafas dengan benar?" Chanhyun kembali mengangguk pelan.

"Itu akan semakin parah jika Jiwon tidak diberi sedikit suntikan. Kau ingin melihat Jiwon menangis setiap malam atau Jiwon menangis sekali lalu keesokan harinya dia akan kembali bermain bersamamu?!"

"Menangis sekali lalu bermain."

"Aku suka dengan tipe orang tua seperti ini. Mereka selalu memberi pengertian kepada anaknya dengan hati-hati, lalu memberi perumpamaan dengan sangat baik."

"Baiklah, apakah kita jadi pulang?!"

"Tidak, aku ingin Jiwon diberikan sedikit suntikan."

"Oke, anak Daddy memilih keputusan yang baik. High five boys!" Chanyeol mengangkat kedua tangannya keatas lalu dengan semangat Chanhyun menepuk kedua tangan sang Ayah.

Tak berapa Chanhyun kembali memasuki kids garden yang berada disana. Tidak seperti tadi, kini dirinya juga mulai mencoba beberapa permainan, walaupun tetap berada didekat sang Adik agar tetap dapat mengawasi adik semata wayangnya.

.

.

.

Tak berselang lama seorang staff disana menghampiri Chanyeol.

"Park Jiwon."

"Ah ne, terimakasih." Chanyeol memberikan bungkukkan sebagai tanda terimakasih kepada sang staff.

"Chanhyun-ah, Jiwon-ah! Kemari, Daddy tunggu eoh!" Chanhyun yang mendengar seruan san Ayahpun berlari kearah Jiwon, dan dengan telatennya mengandeng Jiwon untuk mendekat kearah Daddynya yang telah menunggu.

"Apakah sudah waktunya Jiwon?!" dengan raut cemas Chanhyun bertanya kepada sang Ayah.

"Iyaaa, kau tak apa?!" Chanhyun mengangguk lemas.

"Ini hanya sedikit menyakitkan tapi Jiwon akan baik-baik saja, percayalah pada Daddy eoh!" Chanyeol mengusak kepala putra sulungnya dengan lembut.

"Inilah guna mempunyai seorang putra sebelum memliki seorang Putri."

Chanyeol lalu memasangkan sepasang sepatu Jiwon, sedangkan Chanhyun tengah memakai sepatunya sendiri. Setelah selesai dengan urusan sepatu, ketiganya lalu berjalan menuju keruangan yang telah diarahkan oleh staff disana.

"Annyeonghaseyo." Chanyeol dan Chanhyun menyapa secara bersamaan. Kini Jiwon berada di gendongannya, sedangkan Chanhyun bergelayut dikaki kirinya.

"Jiwon-ie, ayo ucapkan salam." Ucap Chanyeol.

"Aku suka cara Ayah disini mengajarkan sopan santun kepada anaknya."

"Annyeonghaseyo." dengan gaya khas anak kecil nan manis, Jiwon mengucapkan salamnya sambil berlagak membungkuk digendongan sang Ayah.

"Tolong katakan pada Chanyeol untuk selalu menjaga Putrinya yang sangat manis."

"Aigoo, yeppeuda! Siapa namamu?"

"Won-ie."

"Ahhh, yeppeuda."

"Baiklah, apakah kau sudah siap untuk diperiksa!? Setelah diperiksa kau akan mendapat hadiah." Jiwon menganggukkan kepala setelah mendengar perkataan sang dokter.

"Tapi bukankah Jiwon terlalu tenang saat diruangan ini, secara dia masih 18 bulan."

"Apakah ini menyakitkan?" tanya Chanhyun kepada sang dokter yang kini tengah mempersiapkan alat untuk memeriksa kondisi Jiwon.

"Tidak, ini tidak menyakitkan."

"Tolong jangan menyakiti uri Jiwon-ie."

"Park Chanyeol-ssi, bolehkan aku membawa satu diantara anakmu eoh?! Mereka sangat menggemaskan, tolong."

"Baiklah, kau oppa yang baik eoh." sang dokter memberikan pujian atas sikap Chanhyun yang baik sebagai kakak lelaki dari Jiwon. Dan Chanyeol hanya memandang putranya dengan sangat bangga.

"Berat badannya ideal untuk seusianya, apakah dia memiliki masalah dalam makanan?!" setelah mengecek kondisi Jiwon, dokter tersebut memberikan penjelasan kepada Chanyeol.

"Tidak."

"Ohh itu sangat baik, mengingat usia Jiwon adalah usia bayi untuk memilih-milih makanan. Mari kita lihat lainya, tinggi badannya juga ideal untuk anak seusianya, juga pertumbuhan giginya sudah semestinya. Namun, inilah saatnya Jiwon mendapat vaksin yang ketiga." Mendengar perkataan dokter, tubuh Chanhyun menegang.

"Daddy!"

"Tidak apa-apa! Jiwon tidak akan terluka eoh."

"Ini sangat aneh, Jiwon sangat tenang, sedangkan Chanhyun terlihat gelisah. Ini seperti Chanhyun memang tidak ingin melihat adiknya terluka ataupun menangis."

"Baiklah, tolong pegang Jiwon dengan erat."

"Chanhyun, kau boleh ikut memegangi Jiwon." mendengar itu Chanhyun lantas memegang kaki Jiwon, guna menyalurkan kekuatan.

Saat jarum suntik mulai menembus daging Jiwon.

"DADDYYYYY!" bukan Jiwon yang menangis lantang melainkan Chanhyun yang menangis sambil meneriaki nama sang Ayah.

"Wae?! Wae?! Mengapa kau yang menangis Chanhyun-ah."

Jangan kan sang dokter, Chanyeolpun merasa kebingungan dengan Chanhyun. Jiwon tentu kaget dengan jarum yang menusuk dagingnya, namun itu hanya sebentar, dia hanya merengek. Namun, Chanhyun menunjukkan ekspresi lain. Dia menangis dengan sangat keras.

"Hiks.. Apakah terlalu menyakitkan Jiwon-ie!? Hiks, hiks." Jiwon hanya melihat sang kakak dengan sedikit kebingungan. Dan membuat Chanyeol tertawa.

"Jiwon-ie baik-baik saja, Chanhyun-ah." Chanyeol mengelus lembut Puncak kepala Chanhyun.

"Hiks.. Hiks… Bagaimana kita melakukan ini padanya Jiwon!? Jiwon masih bayi, Daddy." Chanhyun mengelus kaki sang adik dengan sangat lembut.

"Hahaha….. Lihatlah perkataannya."

"Chaaa, Jiwon tidak menangis Chanhyun-ah. Jiwon akan baik-baik saja. Karna kau kakak yang baik, makanlah permen ini, nee." sang dokter memberikan beberapa permen kepada Chanhyun, dan sambil menggelap ingusnya, Chanhyun menerima permen tersebut.

.

.

.

*WAWANCARA CHANHYEOL ON*

"Jiwon memang anak dengan kepribadian yang tenang. Ketika dia terusik, dia akan memilih untuk pergi atau mengacuhkan hal yang membuatnya terusik. Berbeda dengan Chanhyun yang memiliki hati lembut dan perasa, Jiwon jauh dari kata perasa. Jiwon memang anak perempuan, namun entah kenapa dia tidak memiliki sifat manja seperti anak perempuan lainnya. Sedangkan, Chanhyun memanglah anak laki-laki, namun dia sangat perasa dan lembut. Walaupun sifat Jiwon yang kuat dan tangguh, namun dimata Chanhyun, Jiwon tetaplah adik imut perempuannya yang harus dijaga sekuat tenaganya."

"Pernah suatu waktu, saat berada di taman apartemen kami, Jiwon membawa mainannya kesana dan beberapa anak lain disana juga menyukai mainan yang dibawa Jiwon. Karena Jiwon hanya anak perempuan kecil yang saat itu baru bisa berjalan, mereka merampasnya. Namun, saat itu juga Chanhyun dengan percaya diri mengambil kembali mainan tersebut. Itulah yang Baekhyun ceritakan kepadaku."

"Walaupun begitu apakah ada hal yang ditakuti Jiwon!?"

"Aku rasa tidak ada yang dia takuti untuk saat ini. Malah Chanhyun yang sedikit penakut."

*WAWANCARA CHANYEOL OFF"

.

.

.

Setelah berpamitan dengan dokter serta staff yang ada, Chanyeol membawa kedua buah hatinya masuk kedalam mobil.

"Daddy, karna Jiwon hebat, ayo kita kita mengajak Jiwon makan diluar."

"Oke, bagaimana kaki gurita!?"

"Kul. Jangan lupa dengan sausnya."

"Dia mempunyai selera yang bagus dalam hal makanan."

Sesampainya di restoran seafood, mereka turun dari mobil dan berjalan memasuki restoran tersebut. Mereka memesan satu porsi kaki gurita, sashimi, leher babi, dan nasi goreng korea.

Chanyeol menyuapi Jiwon nasi goreng korea. Terlihat Jiwon sangat menyukai makanan tersebut karena memakannya dengan lahap, sesekali dia ingin meraih sendok itu sendiri dan berniat untuk makan sendiri, namun karena panas Chanyeol tidak membiarkannya.

Sementara sang Ayah menyuapi sang adik, Chanhyun justru memakan makanannya sedang sangat lahap tanpa memperhatikan sang Ayah yang kebingungan dengan tingkah Jiwon yang sedikit memberontak.

"Daddy!" Chanhyun mulai menyuapi leher babi kemulut Chanyeol setelah menyadari bahwa Ayahnya kerepotan dengan tingkah sang adik.

"Tolong aku ingin membawa Chanhyun pulang."

"Gomawo Chanhyun-ah."

"Aku akan menyuapi Daddy, dan Daddy menyuapi Jiwon. Oke!"

"Bagaimana anak seusia Chanhyun bisa berbicara seperti itu eoh?!"

"Apakah kita perlu mevideo call Mommy, Chanhyun-ah?!" Chanyeol memberikan penawaran kepada Chanhyun.

"Kul!"

Chanyeol mulai mencari kontak Baekhyun ditelponnya. Sambungan telpon itu diangkat oleh Baekhyun.

"Yeobseo!?"

"Eoh Baek! Kami sudah dari klinik."

"Lalu dimana anak-anak?!"

"Ayolah Baek, apakah kau tidak merindukan aku?! Atau apakah kau tidak takut terjadi sesuatu hal yang buruk tentangku?!"

"Tidak, aku percaya kau akan melakukannya dengan baik."

"Tolong keluarga ini sangat membuatku iri."

"Benarkah?!"

"Apakah masih take syuting?!"

"Iya."

"Aishh, kau mevideo call ku saat syuting?!"

"Lalu?"

"Yak, aku malu Park!"

"Hahaha, ternyata Baekhyun sedikit pemalu."

"Tak apa, mereka memaklumi."

"Mommyyyyy!" tiba-tiba Chanhyun muncul dilayar handphone.

"Aiyai kapten! Bagaimana harimu dengan Daddy?!"

"Baik, tadi Daddy tega menyuruh dokter untuk menyuntik Jiwon. Tapi aku sudah menenangkan Jiwon, Mommy."

"Kakak yang baik, apakah Jiwon makan dengan banyak eoh?!"

"Entah kenapa suara Baekhyun sangat halus."

"Iya, Daddy yang menyuapinya. Sedangkan aku menyuapi Daddy."

"Apakah Daddy memesan makanan yang enak?!"

"Hmm! Ada kaki gurita, sashimi, leher babi dan nasi goreng untuk Jiwon."

"Pasti sangat lezat bukan!? Kau harus menghabiskannya, mengerti?" Chanhyun mengangguk.

"Aigoo, uri Chanhyun baik eoh. Kakek santa pasti senang melihatnya."

"Aku juga senang melihat keluarga mu, eoh."

Chanhyun tersenyum bangga dengan ucapan sang Ibu.

"Bisakah Mommy berbicara dengan Daddy lagi?!"

"Aiyai Mommy."

"Bagaimana Jiwon?"

"Semuanya baik, pertumbuhannya juga ideal. Dia hanya sedikit flu, dan waktunya diberi vaksin."

"Syukurlah! Baiklah aku tutup, lanjutkan makananya eoh!"

"Chanhyun-ah, ucapakan bye pada Mommy!"

"Bye bye Mommy! Kami mencintaimu."

"Aigooo, manisnya."

"Eoh, Mommy juga. Ku tutup, bye bye!"

.

.

.

Seoul, Keluarga Hun.

"Sehyuk, Seohyuk-ah. Jika kita bermain diluar apa yang harus kita perhatikan eoh?!"

"Kenyamanan orang lain." Seohyuk menjawab digendonggan sebelah kiri sang Ayah.

"Keuchi! Apa lagi Sehyuk-ah?!"

"Keselamatan diri sendiri dan orang lain."

"Anak pintar. Anak siapa eoh?!" Sehun menciumi pipi Si kembar bergantian.

"Bagaimana anak sekecil itu sedah mengerti tentang hal tersebut?!"

Tak berselang lama mereka telah sampai ditaman apartemen disana. Sehunpun akhirnya menurunkan Sehyuk dan Seohyuk, dan tanpa diperintah Si kembar pun berlari untuk memilih permainan yang mereka suka.

"Mereka mulai lagi bukan?!"

"Dia berbicara dengan kameramennya lagi?! Mengapa Sehun se-narsis itu eoh?"

"Itulah mengapa aku jarang membawa mereka keluar, tapi jika didalam rumah mereka juga akan buat masalah."

"Kau harus mencoba mempunyai anak kembar! Eoh tidak, aku berdoa agar kau diberi anak kembar sepertiku, hahaha."

"Aku yakin Sehun adalah tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain."

.

.

.

Si kembar pun kini telah berada diatas perosotan yang lumayan tinggi.

"Apakah mereka tidak mempunyai rasa takut sedikitpun?!"

Sehun yang dibawah pun tampak tak takut dengan anaknya yang diatas sana.

"Kalian boleh menaikinya, tapi dengan syarat harus satu persatu eoh!" teriak Sehun dari bawah.

Sehyuk tampak melakukan ancang-ancang untuk menaiki perosotan tersebut. Setelah nyaman, dia akhirnya meluncur. Lalu disusul oleh Seohyuk dibelakangnya.

"Oh tidak, ini tidak baik."

Namun, karena jarak mereka berdekatan dan karena perosotan itu tinggi sehingga kecepatannya juga sangat cepat. Akhirnya Sehyuk tertabrak oleh Seohyuk yang berada dibelakangnya hingga keduanya terhempas.

"Aku bilang apa?! Mereka akan bertabrakan. Aigoo, itu cukup parah mengingat kecepatanya. Ini membuatku merinding."

Sehun yang melihatnyapun otomatis menolong mereka berdua.

"APPAAAAAA." keduanya menangis sambil menjerit.

"Aku tak tega melihat mereka kesakitan."

"Sudah Appa bilang satu persatu eoh!" Sehun membersihkan baju sang anak.

Saat membersihkan lutut Sehyuk, Sehun menyadari bahwa lutut sang anak itu terluka dengan parah bahkan mengeluarkan darah.

"APPA SAKITTTTTTTT! HIKSS!"

"Ini sungguh memilukan."

Lalu penglihatannya beralih ke Seohyuk yang tengah menangis dengan seorang keramen membersihkan bajunya.

"Apakah Seohyuk terluka?" Sehun bertanya kepada sang kameramen.

"Siku kirinya mengeluarkan darah."

"Oh aigo!"

"Oh astaga." tanpa aba-aba Sehun berlari meninggalkan Si kembar yang tengah kesakitan dan dengan kameramen yang kini ikut membantunya.

Sehun terus berlari mencari toserba terdekat tak peduli dengan peluh serta keadaan sekitarnya. Dia terus berlari, lalu dari kejauhan terlihat sebuah toserba, melihat itu Sehun mempercepat larinya.

"Oh dia sedang mencari toserba."

Sehun memasuki toserba itu dengan terburu-buru. Dia mencari antiseptik, kapas dan plester namun ketiga benda tersebut tidak terlihat oleh matanya.

"Permisi, dimana alat-alat P3K?!" Sehun menanyakan kepada karyawan yang tengah berjaga disana.

"Disebelah anda tuan." karena bingung yang menyelimuti Sehun, ia tak bisa menemukan barang yang ia cari padahal didekatnya.

"Dia telihat kacau."

Setelah membayarnya, Sehun kembali berlari dengan cepat menuju ketempat sang anak yang tengah menangis kesakitan.

Dari kejauhan terlihat Sehyuk, dan Seohyuk digerumbuli oleh banyak orang. Sehun yang datang langsung memecah gerumbulan tersebut.

Saat terpecah gerumbulan itu, terlihat dua orang wanita yang tengah membersihkan luka Si kembar.

"Oh ada yang membantu mereka."

"Appa hik.. Hikss!" Seohyuk merengek saat menyadari kehadiran Ayahnya.

"Tidak apa-apa yedera! Ini akan cepat sembuh eoh!" Sehun mulai menenangkan Si kembar.

"Sehun adalah Ayah yang siaga."

"Tapi sakit hiks…"

"Ini akan sebentar Sehyuk-ah. Tenang yaa…"

"Hiks.. Hiks."

"Sudah sudah Appa disini."

.

.

.

*WAWANCARA SEHUN ON*

"Apa kau cemas saat melihat mereka terluka?!"

"Tentu! Semua orang tua pasti begitu."

"Apa yang membuat mu cemas!?"

"Darah. Aku tidak pernah melihat mereka terluka, walaupun hanya goresan kecil. Saat melihat mereka berdarah yang aku pikirkan adalah betapa sakitnya luka tersebut."

"Aku sedikit kecewa dengan aku sendiri yang tidak mampu mengawasi mereka hingga mereka seperti itu."

*WAWANCARA SEHUN OFF*

.

.

.

"Maaf, apakah kau membeli plester?!" salah satu perempuan itu bertanya kepada Sehun.

"Oh, iya. Aku membelinya. Ini." Sehun memberikannya kepada perempuan tersebut.

Setelah menutup luka Si kembar, Sehunpun berterimakasih kepada kedua perempuan tersebut. Setelah berterimakasih, Sehun mengendong Si kembar lalu membawanya kembali ke apartemen mereka.

"Tentu Sehun merasa bersalah."

"Maafkan Appa nee." Sehun meminta maaf kepada Si kembar yang masih sesenggukan akibat menangis dengan durasi yang lama.

"Maafkan Appa."

.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

.

.

.

.

Hai hai hai para rearders ku sekalian… Yuhuuuu, aku lumanyan cepet updetnya! Sebernanya aku mau updet yang lebih cepet, tapi biar greget gini aja sih. Oke disini ada sedikit insiden yaa di keluarganya Sehun, akibat kelincahan Si kembar.

Siapa yang penasaran dengan keluarga selanjutnya?! Rencananya sih keluarnya dichapter berikutnya sih. Tapi, itu tergantung kalian sih. Mau cepet ada keluarga baru atau fokus dulu sama yang ini?! Jika kalian ingin keluarga baru kalian boleh kok request yang mana dulu, keluarga Kris atau Kai?!

MAKASIH ATAS REVIEW KALIAN YANG SANGAT MENARIK. AKU SUKA DENGAN REVIEW AN KALIAN YANG RATA-RATA MEMBANGUN, PERCALAH AKU BACA SEMUA REVIEW, BAHKAN AKU BACA ULANG TERUS SANGKING SENENGNYA . AKU JUGA SUKAK BANGET KETIKA JUMLAH FAVORIT DAN FOLLOW TERUS BERTAMBAH, AKU JADI SEMANGAT BUAT CHAPTER DEPAN DAN DEPANNYA LAGI. KALIAN ADALAH ALASAN AKU UDAH DITITIK INI, JADI AKU BERTERIMAKASIH SEKALI SAMA YANG UDAH REVIEW, FOLLOW MAUPUN YANG FAVORIT. TANPA KALIAN AKU HANYALAH APALAH APALAH. TERIMKASIH SUDAH BERKENAN MEMBACAR FF KU YANG ABSURD INI.

Tetap review, follow dan favoritkan FF ini yaaa, Teman. :*

TERIMAKASIH…. SEE YOU NEXT CHAPTER.