The Great Detective L Lawliet...

Sekarang adalah hampir akhir dari cases 1 wah aku kelamaan ya...

*liat chapter dulu trus tanggal sekarang* wuaaaaa udah lumayan lama udah mulai (sangat) tenggelam. Ah cekidot dulu...

Disini kok aku cuma sendiri ya sekarang aku panggil untuk tambah rame tentu bukan Mello tapi gak ada aja ah...

WARNING: OOCness, typo, dan kebanyakan author yang nyerocos...

Disclainer: DN punyanya duo TO

TGD Kiyoshiro Yumemizu punyanya Kei Enue & Kaoru Hayamine

Yang lain juga bukan punyaku~~ kecuali fanfic ini punyaku ya Q.Q

~Enjoy please~

Kalian tentu mengenal banyak detektif terkenal, apakah kalian mengenal detektif yang satu ini? Detektif ini adalah L Lawliet, detektif yang dapat diandalkan dalam kasus yang kurang masuk akal oleh para polisi bahkan oleh jajaran FBI.

Aku Mello adalah anak pertama dari 3 saudara kembar, Matt adalah anak kedua yang sangat hobi main olahraga bahkan gamenya pun ia mainkan walaupun memang banyakan main game. Near adalah anak termuda dari kami 3 saudara kembar, ia hobi memainkan boneka dari gundam sampai barbie pun ia mainkan kadang ia terlihat memeluk teddy bear, kadang pula memainkan hulknya yang berpelukan dengan barbie. Sedangkan aku pecinta coklat yang nggak takut kena diabetes akut.

"Saya adalah polisi yang disewa oleh ayah anda..."kata polisi yang bernama Matsuda.

"Wuoh~~~ WUOH! Anda polisi ya siapa ya?" kata Profesor agak tolol udah tadi dikasi tau tetep aja pelupa.

"Ah tidak usah ditanggapi Pak Matsuda. Mari kita langsung masuk ke topik ke manakah Michele," kata Watari tegas.

"Ah anda tahu biasanya orang bersembunyi di mana?" tanya Matsuda dengan sangat tidak waras.

"Biasanya di kolong jembatan, malam-malam, kedinginan, dengan diterangi lampu filter," kata Mello dengan nada tak bersalah.

Saat mendengar perkataan Mello mereka langsung mengecek kolong jembatan yang harusnya gak ada di pulau itu terus di mana? Ah merekapun akhirnya menyari di kolong manapun yang ada walaupun ternyata hasilnya nihil.

"Ehm~~, atau jangan-jangan Michele sendiri yang pergi dari pulau ini," kata Matsuda mulai serius.

"Tapi tidak ada kapal di sini jadi kemungkinan besar ia tidak bisa kabur. Dan ini berlebihan dari sebelumnya, dia sekarang hilang," kata Light kacau bahkan bila kita lihat dia sudah guling-guling nangis pengen memeluk adiknya tercinta.

"Ah~ terakhir kali aku melihat Michele pergi ke toilet saat malam hari," kata Sebastian mulai deh sok detektifnya tapi Al-chan gak bakal biarin yang boleh memecahkan kasus cuma L-chan seorang.

"Tetapi aku tidak menemukannya loooh," kata si penata rias yang ternyata ke toilet juga.

Mereka hanya diam sejenak memikirkan segala sesuatu yang akan terjadi lagi namun tiba-tiba ada suatu cahaya terang buanget dan keluarlah orang berambut kuning, pake kacamata, dan asik makan burger dia berkata...

"Kalau kalian bangun esok ~gurmblegrumble~ kalian ~grumble~ akan menemukan ~grumblegrumble~ Michele,dengarkan kata seorang hero" kata orang itu asik makan burger sedangkan orang lain gak tau dia ngomong apa.

"Woi makhluk burger kalau ngomong jangan sambil makan!" kata Ciel dengan nada meninggi.

"Betul itu makan ya makan, ngomong dengan pelan serta jelas," kata Mello sebel banget ngeliat orang aneh itu tapi karena orang itu hilang mereka cuma bisa ngedumel.

Mereka cuma bengong sambil melihat luar sepertinya tidak hujan salju lagi. Jadi mereka memutuskan untuk jalan-jalan di luar. Jadi yang keluar hanya 3 melarat (Mello,Matt, Near) dan si Gazel.

"Ayo siapa yang duluan?" kata Matt sedangkan dari sini terlihat ternyata banyak orang cuma enak-enakan di kamar sedangkan si Profesor sudah asik dengan makanan lainnya. Sungguh padahal ada orang yang hilang tetep aja suka mainan.

"Aku Al-chan aja biar kelar nih ceritanya kalau kalian tetep aja begini," kata seseorang author tak dikenal menunjuk dirinya sendiri.

"Al-chan thanks ya dan mana gajiku untuk cerita lainnya," kata Mello malah menagi gajinya.

Langsung author tuh gak jelas pergi entah ke mana setelah mendengar mengenai gaji menggaji dari Mello dengan kekuatan eyeshield 21. Mello hanya berdiri termenung melihat kepergian author gaje tersebut. Sedangkan yang lain hanya mengganguk-angguk dengan muka super-duper polosnya.

"Ah sudah kita barengan aja kalau pada gak mau sendirian ," kata si Gazel tia-tiba padahal dia gak bisa ngomong.

"Apaaa? Anda katanya gak bisa bahasa Indonesia," kata Matt dengan tenang sambil ngupil tak jelas.

"Oh itu kan aku cuma baca skenarioku saja, lihat nih," kata Gazel menunjuk skenario yang udah lama author tulis sebelum cerita ini jadi.

"Ahaha, kita lihat saja siapa yang menjadi pelaku dan cara untuk menghilangkan si korban," kata Near langsung mengambil skenario milik Gazel dan mulai membaca.

Di skenario tertulis bahwa mereka akan mengambil skenario dan membacanya setelah itu mereka membuangnya karena tak ada gunanya, dan langsung bertanya ke Profesor. Dan semua hal itu dengan sadar tak sadar mereka lakukan dengan tepat dan lancar.

Di ruangan Profesor, terlihat sampah bergeletakan dengan buku-buku yang kelihatannya mahal, mending buat Al-chan. Sedangkan ada seoonggok badan sedang berbaring di tempat tersebut sambil asik mengunyah marsmallow permintaannya.

"Profesor baju santai itu dari mana?" tanya Mello memulai.

"Dari Pak Watari," kata Profesor tenang.

"Pemanas ruangan ini juga dari mana," kata Matt ikutan.

"Dari Pak Watari."

"Lalu cake yang tinggi ini dari mana," kata Near sekarang.

"Dari Pak Watari."

"Lalu jeruk manis ini dari mana," kata Matt lagi.

"Dari Pak Watari. Katanya aku boleh minta apa pun."

'Cek bagaimana nasip Pak Watari kalau ia menjadi pelayan Profesor,' pikir 3 melarat tersebut sambil melemparkan sweetdrop ke arah Profesor. Mereka keluar tanpa mengucapkan sepatah katapun hanya menunggu malam gaje ini untuk berubah agar tahu benar tidaknya kata orang maniak burger tersebut.

Pada malam ini tak ada yang tahu siapapun yang bangun akan menerima akibatnya. Ia terbangun dengan muka yang cukup lelah karena kebiasaannya untuk ke toilet pada saat tidurnya tidak lelap. Ia adalah Mello, ia hanya bengong menatap tembok dan berusaha berjalan keluar untuk kamar mandi. Namun hal yang ia temukan adalah laut, langsung saja ia menampar mukanya.

'God bukannya disini berhadapan dengan pulau kok malah air, apa aku bermimpi,' pikir Mello saat melihat jendela dengan pemandangan laut bukan daratan. Tapi ia hanya mencium aura mawar dan membuatnya tertidur dengan lelap kembali dilorong tempatnya ia berdiri. Namun ada seseorang yang mengangkatnya dan menaruhnya kembali ke kamar.

Pagi hari~~~~.

Pagi itu semua orang kembali menghadapi pusing ekstreme yang seharusnya mereka alami bila mereka menaiki sebuah kapal mewah yang berbentuk seperti rumah. Namun yang santai-santai saja hanya Profesor yang asik dengan seluruh makanan yang ada di meja. Sedangkan lainnya hanya melihat Profesor makan dengan lahap.

"Seperti biasa makan pagi ini luar biasa Watari I like it," kata Profesor mengelap mulutnya dengan serbet yang diberikan oleh Watari sendiri. Sedangkan orang lain tak bersemangat sama sekali untuk makan.

Lalu setelah makan pagi berlewat, mereka mulai mencari Michele yang konon katanya akan ditemukan sekarang oleh si hambuger freak dengan heronya. Tentu mereka mencari di rumah sampai di lubang paling kecil yang bisa mereka temukan. Dan sampai jam 11.00 belum ada yang berhasil menemukan Michele dimana pun mereka cari.

"Apakah ada ruangan selain di dalam rumah ini?" kata Matsuda mulai deh sisi detektifnya berpikir karena berharap betul dapat melihat Michele konon katanya 3 melarat itu cantik.

"Ah ada! Ruangan gudang di mana semua barang tak berguna kami taruh, letaknya ada di samping gunung yang sekarang telah menghilang," kata Watari sambil mengeluarkan jari telunjuknya.

'Kapan ya dapat pelayan seperti Watari bukan Si Tanaka,' pikir Sebastian dan Ciel dalam waktu bersamaan.

"Ayo semua kita menuju gudang tersebut," kata Matsuda sambil memandu ke arah gudang yang memang berada di samping gunung. Dan mereka mendobrak dan menemukan Michele sedang asik memainkan game yang ada di ruangan tersebut. Yang masuk hanya bengong melihat Michele asik main game, namun langsung si Matt ikutan main gamenya.

"Michele~~, akhirnya aku menemukanmu," kata Light langsung memeluk Michele yang asik main game.

"Ah Oni-chan kemana kalian semua. Saat aku ada di sini rumah itu tidak ada disitu dan menghilang lenyap loh," kata Michele yang membuat semuanya membeku.

"Eh masa bukannya kamu yang menghilang benar bukan," kata Mello memulai percakapan.

"Yang penting kita menemukan Michele. Mari kita ke ruang tamu agar dapat menyelesaikan kasus ini," kata Profesor yang sepertinya bisa mengungkapkan kasus.

Maka setelah itu semua orang mengikuti Profesor dan duduk di tempat masing-masing. Tentu si Matsuda sedang senyum melihat cantiknya Michele yang langsung mendapatkan death glare dari kakanya yang tercinta.

"Ehm maaf tolong kameranya dimatikan," kata Profesor dan dituruti si kameramen. Dan sebuah ketakuan tinggipun dimulai.

"Baik sekarang saya akan memulai memecahkan misterinya," kata Profesor dengan muka super duper ganteng.

~to Be continue~

Al-chan: Akhirnya saya membuat cerita ini lagi setelah membuat 7 cerita yang tereview dan 2 yang sudahku delete maaf curcol~~

Mello: Cek mana gajiku dasar author gaje!

Al-chan: Ah terimakasih untuk membaca dan siapa si maniak burger tersebut?

Mello: Terima kasih yang bersedia membaca bahkan yang sudah mereview chapter 3 sebelumnya~~

Al-chan: Ah selamat menunggu lama lagi nih bye~~~