Guys, sebelom mulai, kabar buruk dulu yah *langsung pada exit window wkwkwkw* Saya mungkin untuk sementara gabisa update tiap hari lagi karena liburan yang bentar lagi selesai (emang jadwal saya aneh, jangan dipertanyakan) Tapi sebisa mungkin bakal tetep upload chapter baru tiap 2/3 hari. Mohon dimaklumi ya m(_ _)m

.

.

.

"Dimana dia?"

"Eh? T-tadi di koridor, deket kelasku…" jawab Daehwi terbata-bata. Langsung saja Guanlin meluncur keluar ke depan kelas. Daehwi menyusul dibelakang, memanggil-manggil namanya. "Guanlin! Udah ilang ya? Habis ngasih aku permen dia turun tangga, kayaknya buru-buru gitu."

Guanlin tidak membuang sedikitpun waktu menelusuri jejak yang diarahkan Daehwi. Setibanya di lantai dasar, ia bergegas ke tengah lapangan dimana murid-murid ramai terpencar. Ia berputar, menengok ke segala arah mencari wajah yang tak pernah meninggalkan benaknya selama sebulan ini. Dari sekian banyak manusia desekitarnya, tidak seorangpun mampu meredam keresahannya.

"Ketemu nggak? Aku udah cari kesebelah sana gak ada." Daehwi yang sedari tadi membantunya bertanya. Guanlin hanya bisa menggeleng lemas. Dengan berat hati, ia menggeret langkahnya kembali ke kelas.

Begitu melihat ekspresinya, Dongbin langsung bisa menebak hasil pencarian mereka. "Sabar ya. Paling nggak sekarang Daehwi juga udah tau muka orangnya. Pasti bentar lagi ketemu," hiburnya sambil menepuk punggung Guanlin. Daehwi mengangguk setuju.

"Tapi aku juga heran. Gak pernah lho, liat anak itu sebelom ini. Aku kira Gualin lebay, tapi ternyata cakep banget komuk tuh anak. Levelnya tinggi. Beneran gak kalah sama Ung dan Kak Jinyoung. Kok bisa nggak terkenal ya?"

Euiwoong, merasa namanya disebut, datang bergabung seperti jelangkung. "Jangan-jangan beneran hantu."

"Ngaco lu!" Tangan Euiwoong pun jadi landasan keplakan tanpa bayangan. "Mana ada hantu bisa ngasih permen?!" Daehwi mengibas-ngibaskan permen yang sejak tadi ada digenggamannya. Guanlin yang dari tadi diam lemas tak bersuara tiba-tiba mengangkat kepalanya, pandangannya terpaku pada bungkusan kecil di tangan Daehwi.

"Lah abisnya, munculnya sebulan sekali. Terus cuma nunjukkin diri sama satu orang. Serem kan?"

Sebelum Daehwi bisa mengucapkan balasan, dia dikagetkan oleh Guanlin yang tanpa ijin merebut permen pemberian tertuduh hantu. Plastik pembungkusnya bulat, berwarna kuning. Ada gambar wajah anak ayam di kedua sisinya. Sekarang ia yakin orang yang dimaksud Daehwi benar-benar Chickderellanya.

"Liat tuh. Bener teoriku. Guanlin sekarang udah mulai kerasukan," celetuk Euiwoong sewaktu Guanlin senyum-senyum sendiri. "Ati-ati deh, habis ini giliranmu. Sana berdoa terus cuci tangan sama air suci."

Meski dia tahu Euiwoong cuma bercanda, tetap saja Daehwi mulai ketakutan melihat Guanlin nyengir gak jelas secara kurang waras. Dia cepat-cepat menggoyangkan badan Guanlin. "Coba dong ceritain lebih jelas gimana kamu bisa ketemu anak itu. Kapan, dimana, kenapa, bagaimana. Kalian ada ngomong nggak? Kakinya napak kan?"

Memang Guanlin sengaja menjaga sirkumstansi pertemuan mereka ambigu. Yang ia rincikan hanyalah penampilan murid misterius tersebut, dan fakta bahwa mereka bertemu di dekat sekolah bulan lalu. Selain itu, semua detailnya ia simpan sebagai rahasia indah milik sendiri. Tidak rela rasanya harus berbagi. "Dia nyata kok. Dipegang nggak tembus. Suhu tubuhnya hangat."

Sekejap Daehwi melebarkan mulutnya. "Ebuset, udah ngapain aja kalian!? Kok main pegang-pegangan?"

Guanlin yang semangatnya sudah sedikit kembali seketika capek lagi. "Jangan mesum deh. Aku cuma ngerangkul waktu mayungin dia supaya gak kehujanan. Kita terpaksa dempet-dempetan soalnya payungnya kecil." Mungkin terpaksa bukan kata yang tepat, tapi mereka tidak perlu tahu itu.

Denyitan teko air rebus mendidih menusuk kuping murid-murid yang masih ada di kelas. Mereka pun celingukan mencari sumber tindak kriminal itu. Oh, ulah Daehwi rupanya. "OMAIGADDDD KALIAN PAYUNGAN BERDUA? ROMANTIS BANGET YAOWOHHHH! TERUS, TERUS, HABIS ITU GIMANA?"

Tak sengaja telah membangkitkan sisi ibu-ibu rumah tangga tukang ngerumpinya Daehwi, Guanlin pun menelan ludah. Ia buru-buru menarik tasnya dan keluar tanpa pamit, berusaha kabur dari cengkraman Daehwi.

"Aku masih gak ngerti kenapa kalian tadi tiba-tiba ngomongin soal hantu." Dongbin mengusap-usap telinganya yang masih sakit setengah budeg karena teriakan Daehwi.

Euiwoong yang sedang melakukan hal serupa senyum miring ke arahnya. "Makanya, kalo p*p itu jangan kelamaan. Ketinggalan gosip nanti."

.

Sore itu Guanlin melakukan aktivitas klubnya dengan malas-malasan. Tidak baik memang, tapi maklumilah. ABG memang moodnya gampang terombang-ambing. Waktu pelatihnya memberi istirahat singkat, ia langsung pergi menyebrangi lapangan ke dalam gedung sekolah. Meskipun ada toilet di dekat tempat latihan yang memang dipergunakan untuk murid-murid yang kegiatan ekskulnya di luar gedung, Guanlin lebih memilih berjalan sedikit jauh agak tidak berebut dengan rekan-rekan setimnya. Ia sudah belajar dari pengalaman minggu pertama. Saking banyaknya anggota klub baseball, sepuluh menit lewat begitu saja hanya untuk mengantri giliran kencing.

Mengganti sepatu olahraganya dengan sandal khusus dalam ruangan di loker, Guanlin beranjak ke toilet terdekat. Terdengar suara-suara samar yang semakin mengeras ketika ia mendekat. Tumben. Biasanya jam segini tidak ada murid yang berkeliaran disekitar.

"Oke… Iya kak, sampai ketemu besok."

Guanlin mendorong pintu, awalnya berniat cepat-cepat melakukan bisnis nomor satu, tapi niatnya langsung diurungkan begitu menyadari siapa yang sedang berdiri didepan wastafel di ujung ruangan. Terlebih lagi ketika melihat keadaan orang itu.

Setelah mengantungkan ponsel kedalam saku celana, orang itu mengangkat kedua tangannya untuk menghapus air mata yang mengalir bebas sampai ke dagu. Dia lalu menyalakan keran dan mencuci wajahnya, menepuk-nepuk pipinya saat menatap refleksi di cermin. Sebuah tarikan napas diambilnya. Dihembuskan kembali setelah dia selesai mengeringkan wajahnya dengan kain lengan seragamnya. Orang itu beralih menuju pintu keluar, dan seketika Guanlin menghadap ke urinal, membuang muka pura-pura tidak tahu.

Ia hanya berani menoleh saat orang itu sudah melewatinya. Dengan berhati-hati, Guanlin membuntuti langkahnya. Ia mengintip dari belakang deretan loker sebrang selagi orang itu mengenakan sepatu dan menyimpan kembali sandalnya. Ingin sekali memanggilnya, tetapi nyalinya pupus pada saat-saat seperti ini. Guanlin membiarkan badannya menghantam pintu loker sambil memandang sosok tubuh yang semakin menjauh.

Payah banget… Guanlin meremas kepalanya sendiri. Heboh ribut-ribut mencari, giliran ketemu malah dibiarkan pergi begitu saja. Ia benar-benar harus memperbaiki kebiasan buruknya menciut tiap kali harus ambil aksi. Selagi meratapi nyalinya, Guanlin tiba-tiba teringat. Ia merembet maju dan berhenti di depan loker di pojok sebrang. Nomor 7019. Guanlin mengepalkan tangannya. Membulatkan tekad.

Sepulangnya dari sekolah, kalau biasanya dia langsung tidur kelelahan karena latihan baseball, kali ini Guanlin mampir ke mall terlebih dahulu. Setelah menyelusuri seluruh toko dari lantai teratas sampai kebawah, ia kembali memasuki sebuah doll house yang berisikan benda-benda empuk nan imut. Matanya tertuju kepada gumpalan bundar kuning muda yang berderet di rak. Bahannya lembut disentuhan. Mengingatkannya pada seseorang.

Malam itu, Gualin tak kunjung tidur walaupun matanya terpejam. Setiap kali ia menutup mata, selalu terbayang adegan yang tadi sore ia saksikan. Walaupun berlinangan air mata, tetap saja dia sangat manis. Tetapi Guanlin tetap lebih menyukai senyumannya. Melihat anak yang sebelumnya tampak amat ceria menangis sendirian membuatnya ikut merasa sedih. Semoga saja hadiah kecil yang telah ia siapkan bisa sedikit banyak menghiburnya.

.

Keesokan harinya ia bangun lebih pagi dari biasanya. Prestasi yang langka untuk seorang Guanlin mengingat betapa sulitnya dia berpisah dari pelukan kasur. Semua demi misi ini. Didukung tempat tinggal yang memang dekat dengan sekolah, ia sukses menghampiri deretan loker sebelum diramaikan murid lain. Cepat-cepat ia mencari nomor 7019, tengok kanan-kiri memastikan tidak ada saksi mata, dan memasukkan bungkusan plastik bening hias kedalamnya. Mission accomplished.

Dengan langkah yang lebih ringan, Guanlin berjalan ke kelas. Sepanjang pelajaran ia sibuk membayangkan reaksi sang Chickderella ketika membuka lokernya. Akankah senang? Kaget? Sukakah dia pada boneka anak ayam yang Guanlin pilih? Atau dianggap terlalu kekanakan? Harusnya sih tidak, karena handuk dan permen yang diberikannya pun mirip.

Tak terasa waktu istirahat pun tiba. Dongbin merangkulnya ke kantin, dimana semua stall makanan ramai diantri. Ah, ia lupa ini hari Jumat. Hari tersibuk kantin karena jam makan siang murid kelas dua dan tiga bertabrakan duapuluh menit dengan murid kelas satu. Anehnya, jumlah siswi-siswi disekitarnya lebih sedikit dibandingkan Jumat-Jumat yang lalu, bahkan dengan Euiwoong yang ikut bergabung di mejanya saking sedikitnya kursi yang tersisa.

"Hari ini agak lega ya. Padahal tadi aku sempet takut mau duduk bareng kamu," tutur Euiwoong sambil menyuap nasi. Guanlin menggumam. Ternyata bukan perasaannya saja.

"Ohiya. Baru sadar." Dongbin melihat sekelilingnya. "Tumben, biasanya pada ngumpul kayak lalet."

Euiwoong keselek. "Jahat amat lu," katanya, tapi sambil ketawa. "Mungkin udah pada migrasi kesana." Dia mengangguk ke kanan. Dongbin dan Guanlin ikut putar kepala dan langsung paham maksud ucapan Euiwoong. Dari jauh pun kumpulan masa yang berkerubung di sisi kanan kantin nampak membludak.

"Buset, apaan tuh? Ada yang brantem kah?" Dongbin langsung berdiri mencoba mengintip pusat keramaian.

"Kalo brantem yang ngumpul cowok kali. Ini mah cewek semua. Lagian gak ada bunyi pukul-pukulan," jawab Euiwoong santai. "Paling Kak Jinyoung. Kalo nggak si Justin sama Samuel. Kasian mereka, masih junior jadi harus jaga sikap. Incaran empuk buat kakak kelas." Euiwoong merinding mengingat masa-masa suram yang dilaluinya tahun lalu. "Untung kamu pindahnya waktu kelas dua."

Guanlin cuma angkat bahu. Ia masih suka bingung akan sistem senioritas yang amat kental di Korea. Tanpa mempedulikan rumpian teman-temannya, ia lanjut makan. Saat mereka kembali ke kelas, seseorang sudah menunggu di tempat duduknya.

"Daehwi?"

Yang dipanggil nengok dengan semangat. "Aah, akhirnya balik juga! Udah ditungguin dari tadi, lama amat sih makannya?"

"Ngantri belinya. Btw kan udah mau kelas, kamu ngapain masih disini?"

"Ih bolot amat jelas-jelas bilang lagi nungguin lu tadi." Daehwi mengelus dada memanggil kesabaran yang entah mengapa tipis kalau menghadapi Guanlin. Mungkin karena anaknya lola kendala bahasa. "Aku punya kabar baik."

Guanlin mengangkat alisnya. Daehwi senyum licik. Dia menegakkan badannya, mengeluarkan catatan kecil dan merapikan dasinya sebelum bicara dengan suara yang dibuat-buat berat. "Yoo Seonho. Anak kelas 1A. Tinggi badan 178 cm, berat 56 kg. Anggota klub band. Ranking satu dikelasnya. Ulang tahunnya 28 Januari." Sebagai penutup, Daehwi membanting telapaknya ke atas meja dan mendorong catatannya ke arah Guanlin. "Single."

Euiwoong dan Dongbin menyaksikan perpindahan tangan secarik kertas yang bagaikan transaksi gelap. "Akhirnya dapet juga ya," ucap Euiwoong secara bersamaan Dongbin bertanya, "Kalo se high specs itu kok lu baru tau sekarang?"

"Itu dia," lanjut Daehwi menggebu-gebu. "Gua pun bingung bisa-bisanya muka selevel itu lolos jaringan. Tapi bukan cuma gua, anak-anak lain juga pada kaget. Ternyata selama ini si genius menyembunyikan kecantikkannya dibalik sepasang kacamata butut." Gaya bahasa Daehwi pun berubah tidak kalah drastisnya dengan penampilan Seonho. "Anyway, the deal is done now. Saya sudah tidak berhutang lagi kepada anda." Dia bersalaman dengan Guanlin dan melonggarkan lagi dasinya.

"Terus habis ini lu mau ngapain?" Lagi-lagi Dongbin melontarkan pertanyaan, kali ini kepada Guanlin.

"Um, hellow? Ya dikejer lah! Gua nggak susah payah nyari info ke seluruh penjuru sekolah cuma biar dia ngeces melongo ngeliatin anaknya dari jauh. Pokoknya lu harus deketin!" Daehwi yang sudah lepas dari character detektifnya tanpa sadar mengeluarkan perkataan yang menancap.

"Gausah disuruh juga bakal kulakuin," timpal Guanlin mencoba melupakan kejadian kemarin.

"Good! Ntar updatein gua prosesnya ya. Selamat berjuang kawan." Akhirnya balik juga dia ke kelasnya.

Sama seperti pagi tadi, Guanlin gagal memperhatikan pelajaran karena otaknya dipenuhi tumpukan fakta baru tentang murid yang identitasnya tidak lagi misterius. Yoo Seonho. Namanya pun lucu. Padahal sih sebenarnya biasa aja, hanya saja Guanlin sedang dimabuk asmara. Kira-kira apa yang sedang dilakukannya sekarang? Guanlin tidak sabar untuk bicara dengannya lagi. Tetapi ia tidak yakin bagaimana harus memulai percakapan. Apakah pura-pura tidak sengaja berpapasan lalu memanggilnya? Atau sebaiknya terus terang saja mencarinya, dengan alasan ingin mengembalikan handuk?

Duh, repot juga ya ternyata jika suka sama seseorang. Padahal mengenalnya pun belum, tapi memikirkannya sudah membuat jantung berdegup kencang. Guanlin terus memandangi jam dinding di depan kelas, memaksa waktu berjalan lebih cepat. Detik-detik terakhir sebelum bel berbunyi ia sudah merapikan buku-bukunya. Begitu ketua kelas selesai memimpin ucapan salam pada bu guru, ia memasukkan kursinya ke bawah meja, menepuk teman-temannya dan meluncur tanpa menunggu balasan.

Jarang sekali dia sampai ke lantai tiga karena pembagian ruang kelas yang mengalokasikan muris kelas tiga di lantai satu, kelas dua di lantai dua, dan kelas satu di lantai tiga. Untuk itu, butuh beberapa saat sebelum ia berhasil menemukan ruangan 1-A. Yang kosong melompong. Guanlin menghela napas. Tentu saja murid kelas satu sudah pulang duluan.

Baru kali ini Guanlin membenci ujung hari Jumat. Ia turun menyusuri tangga dengan lemas, berjanji pada diri sendiri untuk mencoba lagi minggu depan. Setibanya di depan pagar, ia baru menyadari gerombolan murid-murid yang berkumpul menonton sesuatu. Ingin cepat pulang, Guanlin menerobos melewati barisan ketat tubuh manusia, sampai ia mendengar percakapan yang membuatnya ikut menoleh.

"Itu beneran Kwon Hyunbin? Yang model dari agensi XZ?" "Ganteng banget yaampun. Kakinya panjang banget." "Lebih ganteng aslinya daripada difoto." "Dia lagi ngomong sama siapa sih?" "Anak sekolah kita! Liat deh seragamnya." "Eh iya. Wah, siapa tuh?" "Nggak tau, tapi ganteng juga ya?" "Baru mo ngomong! Anak kelas berapa sih? Jangan-jangan murid baru." "Model juga kah?" "Nggak tau, itu temen sekelasku. Namanya Seonho." "Masa? Kenalin dong!"

Tidak sulit bagi Guanlin yang tingginya diatas rata-rata untuk melihat jelas subjek pembicaraan siswi disekitarnya. Benar saja, Chickderella-Seonho, sedang duduk bersama seorang lelaki di bangku panjang yang membelakangi sekolah mereka. Keduanya seperti tidar sadar akan kehebohan yang sudah mereka ciptakan karena para murid yang cukup sopan menjaga jarak. Lain halnya dengan Guanlin.

Saat melihat pipi Seonho lagi-lagi dibasahi air mata, ia tidak bisa menghentikan langkahnya. Terutama ketika mendengar dua kata yang diucapkan dengan lirih.

"Sakit kak..."

Amarah Guanlin meledak. Dia mencengkram tangan lelaki yang hampir saja menyentuh wajah itu.

"Ngapain kamu!?"

TBC

.

.

.

Maaf cliffhanger lagi :/ Trus kok kayanya jadi dramatis banget ya ini fic? Mungkin saya kebaperan episod kemaren ;w; Sumpah lemes banget banyak favorit yang keeliminasi ;A; Hwanwoong, Jungjung, Seongri, Hoesung dan masih banyak lainnya… HUHUHU SEDIHHHH AAAAA sudahlah….. nasi telah menjadi bubur… *sedot balik ingus* untung ada video seonho lucu lagi makan pizza, jadi agak terhibur sedikit hiks T-T

As always, makasih buat para readers cantik manis imutku yang sudah ngereview, ngekomen, ikutan fangirl dan membuat saya semangat! Maaf ya authornya nyebelin kerjaanya ngulur pertemuan mereka sama bikin gregetan mulu, janji kok nanti bakal banyakin momen-momen so sweetnya, jadi sabar dulu ya anak-anakku. Cinta itu jangan diburu-buru *aelah ngomong apa sih lu*

See you next chapter! (kalo masih kesel, nonton teaser episode 9 terus pause dibagian para trainee ngumpul ngeliatin Hyuna. Spot the Seonho. Udah ketemu? KYAAAAAKKK DISITU DIA LUCU BANGET YA GANDENG-GANDENG HYUNBIN KAYA ANAK ILANG MANIS BANGET YAOWOH MANA BEDA TINGGI MEREKA PAS BANGET LAGI) (tambah bikin kesel karena malah ngomongin hyunbin/seonho bukannya guanlin) (lah abis guanho kaga ada interaksi baru bukan salah saya kan) (dibacok shippers)