Disclaimer : Rick Riordan

Warning : OC, beberapa hal mirip manga Jepang


Chapter 4 :

Selama kira-kira dua minggu Annabeth memberikan tutorial cara bertarung dengan berbagai macam senjata. Kurasa aku lumayan. Tapi aku harus segera menentukan senjataku sendiri sebelum pulang ke rumah.

"Senjata itu bagai bagian dari tanganmu. Jadi, kau harus memilih dengan hati-hati. Pilihlah yang paling cocok dan nyaman. Senjata yang cocok dapat membuatmu ditakuti musuh-musuhmu. Sebaliknya, senjata yang tidak cocok bisa menjadi titik lemahmu dalam pertarungan," Annabeth mengoceh.

Terserahlah, aku tidak begitu peduli permainan senjata. Yang aku inginkan cuma pulang ke rumahku. Walaupun begitu, aku tidak bisa mengenyahkan bayangan Lamia yang mendesis-desis. Jadi kurasa aku butuh senjata juga.

Siang itu, Pete menjengukku.

"Hai, Rave. Bagaimana kabarmu?"

"Hai, Pete. Aku baik, hanya sedikit masalah dengan senjata."

Dia mendengus ala kambing. "Kau oke walau hanya dengan besi karatan."

"Trims, kau sangat menghibur," jawabku judes.

"Hey, aku hanya mau membantumu."

"Bagaimana dengan para satir?" aku bertanya.

"Payah. Aku yang paling payah. Semua satir lain berhasil membawa rekrut baru pada musim panas. Tapi aku baru menemukanmu di musim gugur, itupun kita hampir jadi dendeng," ia tersenyum miris.

Aku jadi iba pada bocah satir kribo ini. "Kau tidak seperti itu, kok," kataku. "Buktinya kau bisa membawaku ke sini dengan selamat."

"Yeah, tapi aku hampir tidak melakukan APA PUN. Kau yang menghancurkan monster itu dan menyelamatkan bayi kecil," ia mengasihani dirinya sendiri.

"Hei, aku bahkan belum tahu siapa ayahku, dan mungkin tidak akan pernah tahu," seruku.

"Aku terancam tidak akan bekerja lagi untuk Perkemahan!"

"Aku akan mampus dicincang monster kalau belum menemukan senjataku sendiri!"

"Aku akan menggelandang di emperan toko kalau dipecat oleh Pak Chiron!"

Dan perdebatan kami mengenai siapa yang paling sial berhenti sampai di situ karena sebuah kepala berambut menjenguk ke dalam pondokku. Maksudku, pondok Hermes.

"Ah, rupanya kau di sini, Raven," katanya. "Bisakah kau keluar? Kita harus bicara."

Aku keluar dari pondok dan menemukan bahwa kepala itu milik seorang atau seekor centaurus gagah. Rupanya Pak Chiron yang disebut-sebut Pete itu sudah datang. Panjang umur dan diberkatilah dia.

"Aku Chiron, penanggungjawab perkemahan. Selamat datang," ia tersenyum lebar dan membentangkan tangannya. Aku terkesan oleh penyambutannya yang mirip kasir di minimarket.

"Dan kudengar kau tadi menyebut-nyebut ayahmu. Kalau begitu aku membawa kabar baik. Oh ya, Pete, kau juga tidak akan kupecat. Aku percaya kau akan bekerja dengan baik sebagai satir," ia menganggukkan kepala dan tersenyum sok tahu pada Pete.

Chiron berpaling lagi padaku. "Ayahmu tadi menemuiku dan berpesan agar memberikan ini untukmu. Pergunakan dengan baik," ia memberikan kepadaku sebuah benda yang harus dipergunakan dengan baik. Sebuah anting jepit! Dan hanya sebelah.

Aku tidak percaya ini. Ayah yang tidak pernah kutemui menghadiahiku anting jepit? Aku menerimanya. Anting itu berbentuk sabit dari perunggu langit. Lalu, hal aneh pun terjadi. Di tanganku, anting itu berubah menjadi sabit besar dan berbahaya dengan gagang tongkat panjang.

"Ya, itu senjata yang bagus. Mungkin sedikit terlalu besar dan berat untukmu," komentar Chiron.

"Wow," aku terkesiap. Aku mencoba mengayunkannya dengan kedua tangan.

"Hei, hati-hati!" Pete yang ada di sampingku mengelak. Aku segera menyusutkan benda itu lagi menjadi anting dan memakainya di telinga kananku.

"Ngomong-ngomong, siapa ayahku?" Tanyaku. Setelah dia menghadiahiku senjata, kurasa dia ayah yang lumayan. Hei, dia tahu aku ada di sini. Itu berarti dia peduli padaku dan mengawasiku, kan?

"Mari kita pindah," kata Chiron. Aku dan Pete membawa barang bawaanku dan mengekor Chiron. Ia menuju Kompleks Baru dan berhenti di depan pondok hitam yang mirip markas pemuja setan. O-ow.

"Ayahku…?" Aku tertegun.

"Deimos, Dewa Ketakutan, Teror, dan Kengerian," sabda Chiron.

Oh, tidak. Aku menciut dalam setiap suku kata yang keluar dari mulutnya. Aku menyesal karena sangat ingin tahu siapa ayahku. Sekarang aku berharap aku tidak pernah tahu dan tinggal di pondok Hermes selamanya. Aku, Raven Geer, adalah anak dari dewa para teroris.

Pantas saja tidak ada yang mau berteman denganku.

-continue-


A/N

Hai,

Teman-teman ada yang ngeh nggak sama senjatanya Raven yang saya ilustrasikan?

Yupp, gambaran senjata itu saya ambil dari senjatanya Alice B-Rabbit di komik Pandora Hearts! :D

Entah kenapa saya suka, sukaa banget sama sabitnya Alice B-Rabbit. Tapi, kayaknya sabit itu agak kegedean dan berat banget kalo dipake buat bertarung beneran. Yah, kita bakalan mati duluan kalo tarung pake sabit segede gitu, sih.

Tapi boleh dong berimajinasi kalo perunggu langit itu enteng. Jadi si Raven nggak keberatan makenya… #tidak perlu dihiraukan