Harry Potter bukan milik saya, karena kalau milik saya maka James tidak akan pernah mati dan akan menjadi pasangan Severus

Harry Potter milik J. K. Rowling

Summary: Apa yang terjadi jika sebenarnya Harry memiliki 'saudara' kembar, dan mereka bukanlah anak dari pasangan James-Lily tetapi anak dari pasangan James-Severus, dan bagaimana jika ketika penyerangan voldemort hanya Lily yang tewas? OOC garis keras!, OC!, typo, BxB! Slash!JamSev, DraRry, SBRl, m-preg, bad!manipulator!dumbledore, semi-Cannon..

DLDR!

-_-_-_-_

Part3

Ket: "Talking"

'Mind'

Flashback

'Surat

.: parseltongue :.

-_-_-_-_

Dua pasang manik Emerald saling melemparkan death glare, dan jika kita lihat dari sudut pandang imajinasi maka kita akan dapat melihat petir imajiner dari kedua bola mata yang sama warna tersebut.

-_-_-_-_

"Tentu nak, mungkin kami bisa membantumu" sahut Sirius mencoba bersabar.

"Prince, namaku Alberius Prince. Aku pergi kemari sendirian, ralat- aku kemari bersama papaku" jelas Al singkat.

"Lalu di mana papamu?" tanya James.

"Ada urusan, jadi dia sudah kembali sejak tadi" sahut Al dingin.

"Lalu ibumu?" tanya Sirius.

"Tidak ada. Aku tidak memiliki ibu. And no question again." Putus Al.

"Now, can i ask you? Who are you guys? What's your problem? Why are you interrogating me?" Tanya Al beruntun.

"No, nothing. We just want to make sure something" jawab James.

"Who are you? That's the first question. And to make sure something? What it is? Tell me!" Desak Al.

"I'm James, James Potter. He is my son, Harry" Ucap James sambil menunjuk ke arah putranya, Harry.

"Aku Sirius Black, dan ini putraku, Demian" Sambung Sirius.

"Tentang hal itu. That's our secrets, right?" Sahut James.

"Yayaya, up to you guys. I don't care" jawab Al acuh.

"Kenapa ada makhluk sepertimu?" Tanya Harry polos.

"Tentu saja karena tidak ada yang mau menjadi sepertimu" sahut Al sarkas.

"Ck, awas saja kau nanti di Hogwarts! Anak Gryffindor pasti tidak ada yang mau berteman denganmu!" seru Harry kesal.

"Seperti aku mau saja masuk Gryffindor." Sahut Al.

"Kau..." "Sudahlah, aku mau pulang. Urusanku di sini sudah selesai" potong Al, lalu Al menghilang di salah satu perapian yang telah disediakan.

-_-_-_-_

Al menghempaskan dirinya ke sofa setelah meletakkan barang bawaannya ke meja. Manik Emerald nya menatap langit-langit rumah nya dengan tatapan menerawang. Ternyata benar kata papanya, ia sangat mirip dengan sang ayah. Untunglah sifatnya sedikit berbeda, kalau tidak mungkin ia akan berpikir bahwa ia sedang berbicara dengan dirinya versi dewasa. Kembali menerawang kejadian tadi, Alby terkekeh kecil mengingat pertengkarannya dengan adik kembarnya tadi.

"Kau kenapa Al? Kok tertawa sendiri?" tanya sosok yang ternyata sudah berdiri di hadapan Al.

"Hahh... Uncle Reggy, kau mengagetkan ku tahu!" Seru Al kesal pada ayah baptisnya itu.

"Maaf, kau kenapa hm? Tertawa sendiri seperti itu?" tanya Regulus lembut.

"Hanya teringat kejadian lucu saat belanja tadi" sahut Al singkat.

"Kejadian lucu apa?" tanya sosok yang lebih mirip dengan Regulus namun jauh lebih muda.

"Ada deh... That's my secret, Andy" jawab Al jahil.

"Hah... Kau ini Al" sahut Regulus sambil mengacak lembut rambut Al.

"Huh.. Dasar Al tidak seru! Oh ya Al, kau tahu tidak, kami akan mengantarmu ke stasiun king cross satu September nanti loh" seru Andy bahagia.

"Benarkah? Wow! Thanks uncle Reggy, thanks Andy. Love you" ucap Al sambil memberi senyum manisnya.

"No problem Al, we're family, right?" jawab Andy dan di sambut tawa bahagia ketiganya.

"Uhm... Uncle Reggy, Andy, kalian dari mana tadi? Kenapa ketika aku pulang Manor sangat sepi?" Tanya Al yang baru menyadari keganjilan tersebut.

"Berbelanja di mall-nya para muggle di London" jawab Andy.

"Kau tidak takut?" Tanya Al.

"Di dunia muggle, tidak ada yang mengenalku Al. Tapi, sepertinya aku salah. Aku bertabrakan dengan Remus Lupin di sana" jelas Regulus dan di balas putaran mata bosan Al.

-_-_-_-_

Harry pulang ke rumah nya dengan menggerutu. Remus yang melihat putra sahabatnya menggerutu hanya menaikkan alis heran dan menatap 'suami' nya penuh tanda tanya. Sirius yang merasa di tatap sang 'istri' pun menoleh lalu menaikkan bahu acuh. Remus mengalihkan tatapannya kepada sang putra, Demian yang di tatap malah balas menatap James.

"Ck, aku ingin jawaban bukan lomba saling tatap!" Seru Remus kesal.

"Sorry moony, jadi kau ingin tahu tentang apa?" tanya James.

"Harry kenapa? Sejak tadi dia menggerutu terus. Apa yang kalian lakukan padanya?" tuntut Remus.

"Entah, dia mulai menggerutu saat anak yang mengikuti kami pergi" jelas James.

"Siapa?"

"Seorang Prince, dia masuk tahun ini juga. Dan kau tahu, dia orang yang sangat dingin Remmy" jawab Sirius.

"Hanya seorang anak kan? Lalu kenapa Harry kesal?" Tanya Rumus yang masih bingung.

"Dia dan Harry berdebat tadi. Kau tahu jika bukan karena sifatnya yang dingin dan ketus, aku akan beranggapan dia adalah saudara kembar Harry" jelas James.

"Kenapa?"

"Mereka sangat mirip Pa. Mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki. Warna mata mereka saja sama Pa. Emerald jernih. Bentuk wajah mereka juga sama. Rambut hitam berantakannya sama, walaupun lebih berantakan Harry sih. Tinggi mereka sama, warna kulit mereka sama. Pokoknya semuanya sama, kecuali sifat mereka dan kacamata. Oh ya, aku akan membujuk Harry dulu" terang Demian panjang lebar, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar si 'bungsu' Potter.

"Bagaimana bisa?"

"Entah lah moony. Yang pasti, jika melihat dia aku pasti akan teringat tentang Severus. Sifat mereka sama, dingin, misterius..." "Dan juga hobby menambahkan sarkasme di setiap perkataannya" sambung Sirius.

"Dunia ini sempit ya? Kalian melihat sosok yang memiliki kepribadian seperti Severus dan perawakan seperti Harry, sedangkan aku merasa melihat Regulus ketika berbelanja bahan makanan di sekitar sini" ucap Remus dengan pandangan menerawang.

"Dimana kau melihatnya Remus?" tanya James.

"Di mall muggle. Dia sedang berbelanja juga dengan seorang anak laki-laki yang aku asumsikan adalah putranya" jelas Remus.

"Bagaimana bisa kau berasumsi seperti itu?" tanya Sirius.

"Mereka sangat mirip, kecuali warna rambut si anak yang berwarna pirang cerah. Dan lagi anak itu memanggil "Regulus" dengan sebutan Papa" jawab Remus.

"Hah... Sudahlah, lebih baik sekarang kita makan, dan menyerahkan urusan bocah Prince itu pada Harry dan Demian, dan soal sosok mirip Regulus tadi, mudah-mudahan saja dia tinggal di sekitar sini sehingga kita mudah untuk menyelidikinya" putus James dan diangguki kedua sahabatnya.

-_-_-_-_

1 September 1991, Stasiun King Cross.

"Al, ayo cepat! Nanti kita ketinggalan keretanya Al!" Teriak Andy yang sudah berada jauh di depan Al.

"Hah.. Dasar Andy, padahal aku yang akan masuk Hogwarts. Kenapa malah dia yang bersemangat?" tanya Al lebih kepada dirinya sendiri.

"Seharusnya kau bisa maklum kan Al?" Sahut Regulus.

"Baiklah, aku akan mengejarnya. Bye uncle Reggy" ucap Al lalu mengejar Andy yang sudah berada di depan kompartemen yang dituju Al.

"Al, cepat! Kau bisa ketinggalan!" Teriak Andy ketika melihat Al berusaha menyusulnya.

"Dia anak yang kulihat di mall" bisik Remus pada Sirius sambil menunjuk Andy yang berjarak dua meter di hadapan mereka.

"Kau benar, dia mirip Reggy" balas Sirius juga berbisik.

"Ada apa?" tanya James ketika melihat kedua sahabatnya saling berbisik.

"Itu anak yang di lihat Remus di mall beberapa waktu yang lalu" jawab Sirius berbisik.

James menatap anak yang ditunjuk Sirius. Dan dia juga setuju kalau anak itu mirip dengan adiknya Sirius, Regulus. Tak lama kemudian, seorang anak berlari mendekati sosok yang sedari tadi mereka perhatikan.

"Sirius, itu..." ucap James sambil menunjuk anak yang baru saja sampai.

"Cih, Prince" cibir Harry.

"Hn, oh Potter" balas Al singkat.

"Kau mengenalnya Al?" Tanya Andy pada sosok yang sudah ia anggap kakak nya itu.

"Ya, kami bertemu di Diagon Alley ketika aku berbelanja" balas Al lembut.

"Merlin! Kau bisa bicara lembut? Ku rasa dunia akan kiamat" ucap Harry sarkas.

"Andy, dia Harry Potter. Dan dia orang paling aneh menurut pendapatku" ucap Al pada Andy.

"Oh, Potter. Tidak heran kalau kau berbicara seperti itu. Oh ya Al, Papa mana?" tanya Andy.

"Aku meninggalkannya di belakang, ku rasa" jawab Al sedikit ragu.

"Sudahlah, biarkan saja. Toh Papa bukan anak kecil" sahut Andy -ia yang anak kecil kan kamu-

"Kau ini An" ucap Al sambil mengacak rambut pirang Andy.

"Hai, aku Black. Demian John Black. Salam kenal" ucap sosok di sebelah Harry.

"Alberius Prince, dan ini adikku Andreas" sahut Al lembut.

"Harry, Mian, kalian tidak masuk? Kereta sudah mau berangkat loh" interupsi Remus.

"Okey Pa / Okey moony" jawab Harry dan Demian kompak.

"Kami duluan ya Prince, bye!" Ucap Demian lalu menarik tangan Harry menuju kompartemen yang kosong.

"Kau tidak ikut mereka Al?" Tanya Andy penasaran.

"Aku belum berpamitan dengan papamu An" sahut Al datar.

"Oh iya hehehe sorry Al. Hey, Al. Jangan lupa kirim surat ya. Jangan suka buat ulah. Lalu, um... Apa lagi ya Al?" Ucap Andy dengan nada sedih yang berusaha ditutup tutupi.

"Andreas Arcturus Black. Dengar, aku pasti akan mengirim surat untukmu. Tapi, aku tidak bisa berjanji untuk tidak berbuat ulah. Dan, aku pasti akan sangat merindukanmu" ucap Al, lalu ia tersentak dan ya, menelan ludah gugup ketika menyadari ucapannya tadi.

"Black? Apa maksudmu Prince?" Tanya Sirius berbahaya.

"Ku dengar kau orang yang pintar, kenapa tidak kau simpulkan saja sendiri?" sahut Al sarkas.

"Al, kenapa belum masuk kereta?" tanya sosok di belakang Sirius.

"Aku belum berpamitan denganmu uncle, mana bisa aku pergi tanpa berpamitan denganmu" jawab Al santai.

"Oh, ya sudah pergi sana. Bukan kau sudah berpamitan denganku?" sahut Regulus.

"Okey, bye Andy, bye uncle Reggy. Sampai jumpa saat liburan nanti" ucap Al lalu pergi mencari kompartemen yang akan ia naiki.

"Jangan lupa kirim surat ya Al! Dan titip salam untuk Papamu!" Teriak Andy ketika kereta sudah mulai berjalan dan dibalas teriakan pasti dari Al.

"Reggy, ku pikir kau sudah..." ucap Sirius Lirih

"Mati? Aku masih hidup Sirius" balas Regulus.

"Kau mengenal bocah Prince itu Reggy?" Tanya Sirius.

"Tentu saja Siri, aku godfather nya. Mana mungkin aku tidak mengenalnya" jawab Regulus datar.

"Oh, berarti kau mengenal orang tuanya bukan?" interogasi Sirius.

"Tentu saja. Dan apakah kau pikir aku mau memberi tahukannya kepadamu? Jangan bercanda Siri" dengus Regulus.

"Reggy, ikut aku" ucap Sirius sambil menarik tangan Regulus menuju jaringan floo. Mengambil bubuk floo dan Sirius membawa Regulus menuju Potter's manor untuk di interogasi.

-_-_-_-_

Al tidak menemukan kompartemen kosong selain milik Harry. Dengan berat hati Al melangkahkan kakinya menuju kompartemen adik kembarnya itu.

"Tak ada kompartemen kosong jadi..." ucap Al gantung.

"Hn, silahkan" balas Harry singkat.

"Thanks"

"Pri.." "Al, kau bisa memanggilku Al" potong Al ketika Demian ingin memanggil nama keluarganya.

"Baiklah, kau bisa memanggilku Demian dan dia Harry. Um.. Oh ya Al, apakah anak tadi memang adikmu?" tanya Demian.

"Bukan, dia adalah orang sudah ku anggap sebagai adikku sendiri" sahut Al datar.

"Oh... Kau ingin masuk asrama mana Al?" tanya Harry.

"Oh astaga! Apakah Harry Potter the-boy-who-alive sedang berbicara padaku?" jawab Al sarkas.

"Ya"

"Slytherin"

"Kenapa?"

"Bukan urusanmu"

"Menyebalkan"

"Hn"

"Kau menyebalkan"

"Hn"

"Tidak ada kata lain?"

"Hm?"

"Kau!"

"Sudahlah Harry, Al jangan bertengkar terus" lerai Demian.

Tok... Tok... Tok...

"Boleh aku masuk? Kompartemen yang lain sudah penuh" ucap seorang anak laki-laki berambut merah dengan bintik di wajahnya.

"Tentu saja, silakan" ucap Demian memberi izin.

"Perkenalkan aku..." "Weasel" potong Al.

"Weasley! Namaku Ronald Weasley bukan Weasel!" Seru Ron kesal.

"Apa bedanya?" cibir Al.

"Tentu saja beda,idiot" gumam Harry.

"Kalau aku idiot kau apa? Troll?" Cibir Al kesal.

"Ck, kalian ini! Jangan bertengkar terus" seeu Demian yang mulai kesal akan tingkah kedua temannya itu.

"Oh ya, perkenalkan aku Black, Demian Black. Ini sahabatku Harry Potter dan dia Alberius Prince" ucap Demian setelah rasa kesalnya mereda.

"K-kau Harry Potter? Harry Potter yang itu?" Ucap Ron kagum.

"Ya, kenapa?" Tanya Harry bingung.

"Dasar Troll! Tentu saja dia mengagumi mu. Seorang bayi yang konon bisa mengalahkan Dark Lord" cemooh Al.

"Konon? Aku memang sudah mengalahkannya" seru Harry kesal.

"Ouch.. Kenapa aku tidak percaya ya? Dan lagi, bisa apa sih bocah berumur satu tahun? Menerbangkan gunung? Menguras lautan? Tidak kan?" Cibir Al dengan seringai setan di wajahnya.

"Makan siang anak-anak. Jangan biarkan perut kalian kosong. Apa yang ingin kalian beli?" Ucap seorang wanita dengan troli yang penuh makanan yang entah kenapa kedatangannya membuat putra pasangan Sirius Black dan Remus Black nee Lupin ini menghela nafas lega.

"Aku sudah punya" ucap Ron sambil menunjukkan bekalnya.

"Aku coklat kodok 3" ucap Al sambil menyerahkan uangnya.

"Aku coklat saja 5" lanjut Demian.

"Aku permen segala rasa 1, coklat kodok 4" tutup Harry.

Setelah selesai bertransaksi, ketiganya mulai memakan hidangan yang baru saja mereka beli -njay,ribet amat kata-katanya-. Al mengalihkan pandangannya ke arah penghuni baru kompartemen mereka, Weasley. Ia tampak hampir meneteskan air liurnya ketika melihat Harry, Demian, serta dirinya memakan makanan yang lebih enak dari bekalnya. Terbersit di hati Al ingin meledeknya.

"Ingin ya Weasel? Bukan kah kau seorang pureblood? Masa tidak bisa sih membeli makanan murah seperti ini?" Ucap Al dengan seringai penuh kemenangannya.

"Hah... mulai lagi" desah Demian lelah.

"Oh, lihatlah seorang Prince yang aku yakin bukan seorang pureblood mencemooh seorang pureblood? Hebat!" Sarkas Harry.

"Lalu kau? Half-blood? Dengar ya Harry Pureblood Potter apakah kau tidak pernah mendengar rumor bahwa Weasley adalah seorang traitor-blood? Tidak ya? Kasihan!" Balas Al dengan sarkas juga.

"Memangnya kenapa sampai mereka dijuluki traitor-blood, Al?" Tanya Demian.

"Karena kecintaan mereka pada muggle dan rela menolak sebuah pekerjaan terhormat demi meneliti muggle" cibir Al.

"Kau! Aku tak tahu siapa kau tapi yang pasti jangan hina keluargaku! Aku tahu kau seorang yang memiliki pengetahuan luas tentang darah murni, tapi jangan sekali-kali kau menghina keluargaku!" Teriak Ron kesal dan Al membalasnya dengan tawa sinis a la penjahat licik di film-film muggle.

"Menghina keluargamu? Hahaha... Sadar diri Weasel! Keluargamu lah yang menghina diri mereka sendiri! So, do not blame me" seringai psychopath masih setia menempel di bibir sang 'sulung' Potter.

Dan perjalanan ke Hogwarts terasa sangat panjang dan melelahkan bagi mereka, karena sepanjang perjalanan hanya diisi dengan pertengkaran yang di mulai dari Al. -Dasar tukang buat ulah-. Sesampainya di Hogwarts, Al mendapatkan sahabat baru dalam membully seorang Weasel- Weasley, Draco Malfoy. Sepupu dari Demian Black dan juga saudara tiri Andreas Black. Mereka merasa cocok dalam banyak hal. Mulai dari membully para calon-calon Gryffindor -khususnya para Weasel- sampai kegemaran mereka di mata pelajaran ramuan.

-_-_-_-_

"Katakan Reggy, siapa orang tua Prince itu! Siapa Reggy!" Desak Sirius.

"Kau tak bisa memaksaku Siri!" Kekeuh Regulus.

"Andreas benar? -Andy mengangguk- Kau tahu siapa orang tua Alberius Prince?" Tanya Remus lembut pada putra adik iparnya tersebut.

"Tahu, tapi Andy tidak akan memberi tahu kalian. Andy sudah janji sama Al tidak akan memberi informasi apa pun tentang keluarga Al tanpa seizin Al dan Papa" jelas Andy polos.

"Dia putramu dengan siapa Reggy?" Tanya Sirius serius. -_-

"..." Regulus bergeming.

"Malfoy? Apakah benar?"

"..." Kebungkaman masih menjadi pilihan terbaik Regulus.

"Jadi benar ya? Tapi kenapa Reggy? Kau tahu kan kalau Malfoy itu sudah menikah dengan sepupu kita, kenapa kau malah merebutnya Reggy?" Tanya Sirius dengan nada kecewa.

"Kau tak tahu apa-apa Sirius! Don't blame me!" Teriak Regulus frustasi, jujur ia tak suka jika masalah pribadinya diungkit seperti ini sekalipun oleh kakaknya sendiri.

"Apa lagi yang tak ku tahu Reggy? Apa?!" Raung Sirius.

"Kau.. Hiks.. Tak tahu... Hiks... Apa.. Hiks.. Yang kurasakan Siri hiks..." Isak Regulus, kini hancur sudah topeng yang selama ini ia pakai untuk menutupi lukanya.

"Reggy.. Maafkan aku.. Aku.. Aku tak bermaksud membentakmu Reggy.. I'm so sorry Reggy" ucap Sirius sambil mendekap tubuh rapuh sang adik.

"Papa!! Papa kenapa menangis? Uncle apa yang kau lakukan pada papaku! Jawab aku uncle!" Raung Andy sedih melihat sang papa kini berderai air mata.

"Tenanglah An, papamu tidak apa-apa kok. Dia hanya sedikit bersedih. Sebaiknya Andy tidur ya, sudah larut loh" bujuk Remus sambil menggendong keponakannya itu menuju kamar tamu di lantai atas.

"Ceritakan Reggy, ceritakan apa yang terjadi padamu Reggy. Jangan kau pendam sendiri okey" bujuk Sirius sambil mengelus punggung sang adik.

-_-_-_-_

Prof. McGonagall menuntun para murid tahun pertama untuk masuk ke aula besar. Al memutar kedua bola matanya malas ketika gendang telinganya menangkap suara seorang gadis muggle yang nampak begitu antusias menjelaskan seluk beluk Hogwarts berdasarkan apa yang dibacanya di buku. Draco menatap teman barunya sambil menyeringai jahil.

"Mau mengerjainya Al?" Tanya Draco

"Ya, setelah aku tahu dia masuk asrama mana" seringai kini juga terbit di paras tampan Al.

"Baiklah murid tahun pertama, saya akan memanggil nama kalian dan shorting hat akan menentukan di asrama mana kalian di tempatkan" suara prof. McGonagall mengheningkan suasana.

"Granger, Hermonie" "GRYFFINDOR!"

"Okey, dia adalah sasaran selanjutnya" bisik Al pada Draco.

"Ya, kau benar" sahut Draco.

"Malfoy, Draco" "SLYTHERIN!"

"Kau tahu Harry, orang-orang jahat biasanya dari asrama ular itu" bisik Ron pada kedua sahabat barunya.

"Black, Demian" "GRYFFINDOR!"

"Potter, Harry" "GRYFFINDOR!"

"Prince, Alberius" "SLYTHERIN"

"Weasley, Ronald" "GRYFFINDOR!"

Al duduk menghadap ke arah para Gryffindor, dan ia melihat Harry memegang kepalanya sepertinya di bekas lukanya. Lalu Al pun mengalihkan pandangannya menuju arah pandang Harry tadi. Ia melihat sosok professor, kalau tidak salah namanya Prof. Quirel. Al tersentak merasakan aura dark yang begitu kental dari sang professor. Al lalu mengalihkan pandangannya ke arah sang Papa yang duduk tepat di samping prof. Quirel. Al memberi senyum simpul pada sang Papa dan di balas anggukan singkat yang tidak begitu kentara.

-_-_-_-_

Well... TBC...

Maaf yaaaa telat update... Hp saia disita selama Ramadhan...

Dan well cerita ini ada sedikit perbaikan jadi, bacanya mulai ch2 yaa... Soalnya di ch2 perbaikannya banyaaaaaaakkk banget...

Oh ya, ada yang tanya 'lucius sama regulus? Terus Draco gak ada dong'

Hehehe sebenarnya Regulus itu istri simpenannya Lucius, dan Lucius udah duluan nikah sama Narcissa. Jadi DRACO tetep ADA.

Thanks yaaa buat para Review...I want to say thank you for the readers...

Alberius Prince Logged Out