Maaf udah lama ga buat Fanfic QwQ

Lagi stress.

Huhu~

Okey! Para pembaca setia yang menunggu lama selama seabad(?), saya muncul kembali! #siapalo?

Siapa bilang mereka happy ending dengan cepat begitu?

Disinilah konflik utama dimulai~

Fufu~ #dibacokmotonari

Rnr ya~


Aku menatap jendela luar, dengan posisi duduk dilantai, mengerjakan tugas PR yang menumpuk.

Sangat menumpuk.

Untung hari ini adalah hari minggu.

"Apa waktu itu hanya mimpi?" tanyaku dalam hati, tidak percaya kalau aku baru saja dicium oleh seorang laki-laki maho lusa kemarin.

Dengan menghela nafas berat, ku berjalan sembari mengancingi kemejaku, menuju dapur dan membuat susu coklat. Minuman yang kusukai.

Srup!

Pikiranku lumayan tenang. Memang efek susu coklat tiada bandingannya.

Pip!

Suara tanda sms dari hp-ku, yang kutaruh di kantong kemejaku, berbunyi.

"Mouri punya waktu? Sekarang kami sedang berkumpul di sekolah. Biasa, berenang. ^w^/"

Aku pun membalas sms dari Chousokabe itu, dengan agak malas.

"Iya. Aku akan kesana."

Kuhabiskan susu coklatku, dan memakai pakaian rompiku dan kacamataku.

Begitu malas aku ingin kesana. Bukan karena aku ingin menghabiskan waktu libur rutin ini dengan bermalas-malasan keluar rumah.

Tapi aku malas bertemu dengan Chousokabe.

Tapi aku tidak tahu!

Ada juga rasa kangen untuk mendapat perhatiannya.

Tidak, mungkin aku tidak mengira seperti itu.

Mustahil untuk dapat berpikir seperti itu.

Chousokabe yang menungguku dari gerbang sekolah, melambai-lambai di kejauhan.

"Yo! Mouri! Lama sekali kamu!" teriaknya dari sana. Aku hanya mendatanginya dengan tatapan dingin dan tetap membisu.

"Ah! Disini rupanya kamu, Chousokabe!" pemilik suara yang menyapa Chousokabe itu pun menarik tangan Chousokabe, menyuruh ia masuk ke dalam sekolah dengan paksa.

"Tunggu, Ieyasu! Aku menunggu Mouri!"

"Tidak apa-apa Chousokabe! Aku ingin bertarung denganmu!"

Aku menatap mereka yang sepertinya akrab sekali. Mataku pun sayu menatap mereka.

Apakah aku sedih?

Tidak!

Kenapa aku sedih?

"Ayolah Chousokabe!" pintanya merengek pada Chousokabe, dan aku mendengarnya dengan sangat jelas. Aku berada tepat di depan mereka, berdiam tanpa berbicara apa-apa.

"Mouri! Ayo ki—"

"Pergilah," kataku, tenang.

"Tapi!"

"Bahkan Mouri menyuruh kita pergi, Chousokabe!" girang pemuda berambut cepak dengan hoodie berwarna kuning itu. "Apa kau takut, Chousokabe?"

"Siapa yang takut!?" terpancing emosi Chousokabe, mendengar penuturan pria bernama Tokugawa Ieyasu tersebut.

Mereka berdua saling beradu kecepatan menuju kolam renang sekolah.

Hening.

Aku sebenarnya ingin menanyakan padanya saat peristiwa lusa itu.

Aku, merasa cukup sakit hati.

Kutampar pipiku.

"Apa yang barusan aku pikirkan?" gumamku, dengan wajah horor.

Aku memasuki Basara Academy dengan tersenyum miris.

~Kolam Renang Basara Academy~

"Heya!"

Butiran-butiran air kolam naik ke permukaan seperti bola yang dipantulkan dari tanah. Chousokabe dan kawan-kawannya bertarung dengan serius dalam renang kali ini.

Suara ribut menghiasi tempat ini.

Aku hanya memandang mereka di kejauhan sembari duduk di bangku yang memang disediakan bagi murid yang bersantai di sekitar kolam. Tidak punya minat terhadap renang untuk sekarang.

Aku tidak ingin manusia-manusia maho disini melihat diriku dengan kondisi menanggalkan pakaianku.

"Mouri! Ayo berenang!" suara teriakan Chousokabe terdengar di seluruh penjuru.

Bodoh.

Aku hanya menggeleng pelan.

"Ayolah Mouri!"

Aku masing menggeleng.

Dia pun keluar dari kolam, dengan hanya memakai celana dalam pendek. Dia berjalan pelan kearahku.

Aku memasang muka cuek.

"Untuk apa kau ada disini, Mouri?" kesalnya padaku. "Apa mau kupaksa kau menceburkan tubuhmu dengan pakaianmu, eh?"

"Atau aku takkan pernah memijakkan kakiku disini lagi," gerutuku.

Dia mendesah pelan, lalu jongkok di depanku dengan wajah memelas.

"Kumohon, Mouri!"

Aku hanya bisa tercengang mendengarnya.

"Chousokabe! Bodoh! Untuk apa kau memelas seperti itu!" kesalku, panik. Aku bangkit dari tempat dudukku, dan mencoba kabur. Namun ia langsung mencekeram tangan kecilku.

"Aku ingin kamu bisa menikmati betapa menyenangkannya berenang bersama kawan, Mouri!" katanya tenang. "Mau kubelikan apa supaya kamu mau ikut berenang?"

Aku hanya bisa menganga.

"Mouri!"

"I... Iya, Chousokabe! Berhenti memelas padaku!" ketusku tegas.

"Hore!"

Wajah riangnya membuatku terpana. Baru pertama kalinya aku membuat orang senang.

Menyenangkan sekali.

Aku melepas rompi dan kemejaku, juga celana jeans berwarna abu-abuku yang kupakai sekarang. Aku hanya memakai celana dalam selutut, dengan badan terbuka.

"Nah itu baru Mouri-ku!"

"Apa maksudmu 'Mouri-ku', Chousokabe!?"

"Woh? Motonari-dono ikut berenang?" seru Sanada padaku, sembari memperhatikan badanku.

Memalukan.

"Ayo kesini, Motonari-dono!" seru Sanada.

"Tapi—"

"Ah! Ceburlah ke dalam kolam!" Chousokabe pun menepuk pundakku dengan keras.

"Aku tidak mau!"

"Malu-malu."

"Aku memang tidak ma—"

Chousokabe menggendongku layaknya seorang putri.

"Lepaskan!"

"Dengan ayun?" dia mengayunkan tangannya sembari mengangkatku. Aku menjadi pusing sendiri. Kemudian dia melepasku ke dalam kolam, lalu menggiring dirinya ikut masuk kolam.

"Cho—uhuk!" aku tersedak air kolam karena kaget ketika dicebur.

"Mouri batuk?" dia mencoba mengelus pundakku.

"Apakah keadaanku tidak bisa dikatakan sebagai batuk!?" kesalku pada Chousokabe. Ia hanya tertawa kecil mendengarnya.

"Ayolah, Mouri! Kau kan bisa tahan dengan beginian?"

Aku terdiam. Kutatap Tokugawa yang sedari tadi melihat kami dengan wajah cemberut.

Kenapa dia begitu?

"Ayo Motochika! Kita balapan renang!" seru naga mata satu pada Chousokabe.

"Ahaha! Ayo! Yang kalah harus traktir mi udon, ya?"

"Siapa takut!"

Mereka berdua pergi ke arah lain.

"Motonari-dono, mau balapan renang?" tanya Sanada sopan.

"Tidak. Maaf, Sanada."

"Kenapa? Mau balapan dengan Motochika-dono?"

"Tidak. Kecepatan renangnya tidak sepadan denganku."

"Mau diajarin Motochika-dono ya?" goda Sanada.

Aku terbatuk sesaat.

"Ti—tidak! Aku bisa belajar sendiri, bodoh!"

Aku membungkukkan badanku, dan mulai berenang gaya dada. Sanada melihatku dengan tertawa.

"Motonari-dono malu-malu!"

"Gak kok!"

"Iya!"

Aku menutup mulut Sanada saat dia hampir mengucapkan sepatah kalimat lagi.

"Kumohon. Ini masalah serius, Sanada..."

"Humph! Humph!" rintihnya.

Aku melepas tanganku.

"Kenapa malu, Motonari-dono? Cobalah jujur mau apa!"

"Aku sudah jujur!"

"Bohong!"

Aku hanya diam.

"Apakah... Aku ini tidak wajar?"

Sanada langsung menatapku heran.

"Selama ini, aku tak tahu apa yang kuinginkan saat bersama Chousokabe. Aku begitu..."

Sanada menghela nafas pelan.

"Yah, Motonari-dono. Aku juga begitu. Kadang canggung dengan teman spesial."

"Spesial?"

"Dimana dia lebih mengerti apa yang kita inginkan. Dia bukan special lagi, tapi limited!"

"Apaan sih sampai ngomong limited?"

"Aku dan Masamune-dono sudah seperti adik kakak. Sedangkan Motonari-dono seperti pasangan kekasih!"

Raut muka mesum Sanada membuatku jijik.

"Motonari-sama itu seperti perempuan. Jadi kelihatan serasi deh!"

Aku mengangkat telapak tanganku ke atas kepala Sanada, kemudian mencoba menenggelamkannya.

"Bodoh! Emang kenapa dengan penampilanku yang seperti perempuan!"

"Blup... Mo—Blup... Aa.—"

Aku menghentikan sikapku. Sepertinya aku sudah melakukan hal buruk.

"Motonari-dono ja—uhuk!"

"Maaf, aku khilaf."

"Khilaf!?" Sanada langsung histeris dengan kataku sambil terbatuk pelan.

"Woi! Yukimura tidak berenang bersama kami?" teriak naga mata satu dikejauhan.

"Tentu saja aku ikut kalian!" teriaknya.

Sanada menatapku sebentar, seakan melupakan apa yang barusan kulakukan.

"Oh iya! Sampai jumpa Motonari-dono!"

Ia berenang menuju Chousokabe dan kawannya. Kini hanya aku sendiri dikolam.

Kulihat, Tokugawa masih melihatku dengan muka sebal.

Ada apa sih tuh anak?

Aku membiarkan diriku berpaling dari Tokugawa dan lebih belajar berenang.

"Hei, Mouri..."

Aku menengok pada orang yang menyapaku, berdiri di samping kananku berdiri.

"Ada apa, Tokugawa?" tanyaku agak malas.

Dia hanya diam, menatapku dengan wajah kusut.

Cukup lama kami saling berdiam.

"Baiklah, aku tidak ingin membuang waktuku..."

"Ceritakanlah, Tokugawa."

Tokugawa mendesah pelan.

"Apa maksudmu melempar kecoa ke dalam kolam waktu itu?"

Aku hanya diam membisu.

"Kami cukup lelah untuk membersihkan serangga-serangga menjijikan itu. Dan Motochika hampir dikeluarkan dari klub ini, kau tahu?"

Cukup kaget aku mendengar penuturan Tokugawa. Namun aku masih membiarkannya bicara lagi.

"Aku, tidak senang jika kalian berdua bersama. Setelah memberi kesan itu."

Aku masih berdiam.

Cukup lama keheningan kami, sampai akhirnya Tokugawa berjalan tepat di depanku. Dia menatapku dengan memasang wajah kebencian.

"Kau dengar aku, Mouri!?"

Aku hanya membisu.

"Motochika tidak pantas berteman dengan orang berhati dingin sepertimu!"

"Aku juga tidak ingin dia berteman denganku."

"Dan masuk klub renang ini!"

Aku membisu kembali.

"Mentang-mentang juara kelas, kamu manfaatkan kelebihan itu untuk membodohi Motochika!?"

"Aku menjadi juara kelas karena usahaku sendiri."

"Sok pintar kamu!"

Aku menampar wajah Tokugawa dengan sangat kuat.

Dia meraba bagian pipinya yang kutampar, kemudian tersenyum miris.

"Kuat juga tamparan juara kelas kita..."

"Aku tak ingin sombong hanya karena pintar!"

"Jadi? Apa, Mouri?"

Aku mengepalkan tanganku, dan berdiri di hadapannya. Kegaduhan yang kami buat, membuat semua orang memandang kami dengan heran.

"Tokugawa Ieyasu! Aku tidak tahu jalan pikiranmu!" kini amarahku mulai terpancing.

"MOURI!"

Sebuah kepalan tangan mendarat di pipiku, dan aku jatuh mengapung di dalam kolam.

"Chou—"

"Beraninya kamu menyakiti temanku!?" tukasnya tajam.

GYUUUT!

Hatiku terasa nyeri tiba-tiba.

"Kamu baik-baik saja, Ieyasu?"

Tokugawa hanya diam, memalingkan wajahnya dari kami berdua. Lalu Chousokabe menatapku dengan dingin.

Aku berusaha bangkit dari air kolam. Naga mata satu hanya memandang kami heran, bersama Sanada.

"Keterlaluan kamu, Mouri..."

"Chou... Chousokabe! Ini bukan seperti yang kamu lihat!" aku berusaha membela diri, namun Chousokabe memalingkan wajahnya, seakan-akan tidak ingin mendengar.

"Aku capek dengan keegoisanmu! Kau tahu? Memang sebaiknya begini saja—"

Aku menatap punggung Chousokabe dengan perasaan takut.

"Mulai saat ini, kau kukeluarkan dari klub renang ini, Mouri!"

DEG!

Hatiku teriris mendengarnya.

Sakit.

"Sekarang, angkat kakimu dari sini!"

Aku menunduk, sedih.

"Baik," sahutku, pendek. Aku mulai keluar dari dalam kolam, dan mulai berjalan keluar gedung.

Kuambil pakaianku yang masih tergeletak di kursi dengan tidak berdaya, dan memakai kemejaku dalam keadaan basah.

Mereka masih menatapku heran. Sedangkan Chousokabe dan Tokugawa saling berbincang.

Saat tiga kali melangkah, aku menengok pada Chousokabe dan kawannya.

"Terima kasih telah memberi kebahagiaan padaku, Chousokabe."

Kuucapkan pelan. Sangat pelan. Tak ada yang akan mendengarnya. Pasti.

Aku memberikan senyumanku, yang tak pernah terlihat selama aku di Basara Academy.

Lalu aku kembali berjalan lurus ke depan, dan keluar dari klub itu secara resmi.

Kenapa aku hanya tersenyum, saat aku merasa sakit?

Aku tahu aku membohongi perasaanku.

Kurasakan sejuknya angin, menerpa rambut coklatku.

Kenapa aku merasa sakit?

Inikah rasanya, ketika kita sudah mempunyai orang yang limited?

Aku biasanya hanya diam, saat orang salah paham padaku. Tapi, aku sempat melawan.

"Chou... Chousokabe! Ini bukan seperti yang kamu lihat!"

GYUT!

Hatiku nyeri.

"Terima kasih telah memberi kebahagiaan padaku, Chousokabe."

Terdengar kata-kataku barusan yang kuutarakan pelan.

Kenapa rasanya sesakit ini, ya?

Tanpa sadar, aku sudah berada di dekat taman yang terletak di dekat sekolahku.

"Hiks... Chousokabe..."

Aku mulai terisak.

Air mataku tak kunjung henti keluar, seiring teringatnya kata-kata lembutku waktu itu.

"Terima kasih telah memberi kebahagiaan padaku, Chousokabe."

Sekali lagi, aku menangis.

Menangis.

Dan menangis.

Hingga membasahi kacamataku dan kemeja serta rompiku.

Aku memutuskan untuk berhenti di sebuah bangku tanpa penghuni disana disekitar taman. Aku melepas kacamataku yang berair terkena air mataku.

"Untuk apa sih aku menangis, bodoh!"

Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku.

"Jangan menangis Mouri! Kau kan dingin... Dingin..."

Namun diriku semakin larut dalam kesedihan.

Aku tak bisa menahan kepedihan hatiku ini.

"Biar aku menangis juga, itu takkan mengubah apapun. Aku bodoh! Kenapa aku ini? Kenapa? Kena—"

Dengan perasaan lelah dan mata sembab, akhirnya aku tertidur di kursi panjang yang kududuki.


Huu... Jadi ingat sesuatu saat akhir ceritanya~

Baru bisa dipublish, padahal cerita udah selesai sekitar awal bulan mei lalu. Maklum, lagi stress 8"D #saraf

Apa yang dilakukan Mouri? Apakah akan tetap pasrah? Ataukah tidak?