Desclaimer : Masashi Kishimoto

Fandom : Naruto

Rate : T

Pair : Sasuke x Naruto

Genre : Romance, Hurt/comfort

Warning : Sho-ai/BL/yaoi, Bertele-tele, Alur berantakan, Alternative Universe, Out Of Character,Typo, EYD abal, dll

Yang gk suka Yaoi, harap menjauh dari fic ini..!


Sasuke POV

Aku baru saja selesai membeli persediaan tomat di minimarket yang kira-kira berjarak 8 blok dari rumah. Sekarang, aku sedang berjalan pulang. Tapi langkahku terhenti saat melihat seseorang yang memakai piyama di siang hari begini. Benar-benar bodoh. Eh, tunggu dulu. Sepertinya aku mengenalinya. Rambut jabrik pirang yang acak-acakan, 3 garis halus dimasing-masing pipinya yang berkulit tan, dan tubuhnya yang agak mungil mengingatkanku pada seseorang.

Ting!

Sebuah lampu muncul diatas kepalaku. Sekarang aku ingat, dia anak bodoh dan bawel itu. Kalau tidak salah, itu si Dobe. Sedang apa dia berdiam diri ditengah keramaian seperti itu sambil memegangi kepalanya? Lebih baik aku ke sana saja. Aku pun berlari ke arahnya. Namun saat aku semakin dekat dengannya, tubuh Naruto limbung.

"DOBE!" teriakku.

Untung aku sempat menangkap tubuhnya. Aku langsung menggendongnya ala bridal style. Ku lihat wajahnya memerah dan nafasnya memburu. Sekarang aku tahu bahwa dia sedang demam. Tidak ada pilihan lain selain membawanya pulang.

End Sasuke POV

Normal POV

Bruk!

Sasuke menendang pintu rumahnya agar pintu itu terbuka karena kedua tangannya Ia gunakan untuk menggendong Naruto.

"Tadaima." seru Sasuke saat berhasil membuka pintu.

"Okaeri, Sa–hei, siapa dia Sasuke?" tanya pemuda yang sangat mirip dengan Sasuke. Yang jadi perbedaan hanya rambutnya yang panjang dan di ikat longgar.

"Nanti saja bertanyanya. Lebih baik kau bawa ini dulu. Aku ke kamar dulu." ucap Sasuke sambil menyerahkan bungkusan plastik berisi tomat segar yang tadi Ia beli.

Sasuke pun meninggalkan seseorang yang ternyata adalah anikinya itu dan pergi membawa Naruto ke kamarnya yang ada di lantai 2 rumahnya.

Setelah sampai dikamarnya, Ia menutup pintunya dan merebahkan tubuh Naruto di ranjang king size miliknya. Namun tak sengaja mata onyx miliknya melihat sesuatu berwarna merah di leher Naruto. Sasuke memicingkan matanya untuk dapat melihat lebih jelas dan matanya membelalak seketika.

"Apakah itu kissmark?" gumamnya.

Sadar atau tidak, Sasuke mulai mengepalkan tangannya. Entah mengapa Ia merasa sangat marah saat mengetahui bahwa itu adalah kissmark. Untuk menenangkan diri, Ia pun menghela nafas panjang. Kemudian mengambil kursi yang ada di dekat meja belajar dan membawanya ke samping ranjang untuk di duduki.

Sasuke pun mengambil novel fantasy dan membacanya untuk mengusir kebosanan disaat menunggu Naruto sadar. Ia membaca begitu serius sehingga tidak menyadari bahwa ada seseorang yang masuk ke kamarnya dan tengah menghampirinya.

"Ototou?" sapa orang itu sambil menepuk pelan bahu Sasuke.

"Hn." Jawab Sasuke yang sudah tahu bahwa orang itu adalah anikinya a.k.a Uchiha Itachi.

"Siapa dia? Kau menculiknya?" tanya Itachi penuh curiga.

"Dia temanku."

"Benarkah?"

"Hn."

"Dia... ekhm bukan kekasihmu?" bisik Itachi tepat di telinga adiknya itu.

"Aku masih NORMAL, tidak sepertimu. Baka Aniki." kata Sasuke yang sudah melemparkan novel yang tadi dibacanya ke arah Itachi. Namun, Itachi dapat menghindarinya.

"Tapi, dia manis lho." Setelah mengatakan itu, Itachi pun langsung kabur keluar dari kamar adiknya yang sedang naik darah.

"A–"

"Engh.."

Umpatan yang akan keluar dari bibir pucat Sasuke terpotong, karena pemuda pirang–Naruto–mengerang pelan. Mata Sasuke terfokus ke arah Naruto. Terlihat Naruto sedang mengerjap-ngerjapkan matanya. Ia pun mendudukan dirinya untuk mengumpulkan kesadarannya.

"Sudah bangun? Dobe?" seru Sasuke saat mata sapphire Naruto menatap onyx miliknya.

"Dimana ini?" tanya Naruto bingung.

"Tentu saja di kamarku."

"Hah? Ba-bagaimana bisa?"

"Tadi kau pingsan dijalan."

"..."

"Lagi pula sedang apa kau tadi di tengah jalan seperti itu? Beruntung aku menemukanmu."

"A-aku.."

Naruto mencoba mengingat kejadian sebelum Ia pingsan. Matanya membulat seketika saat mengingat kejadian 'itu'. Kejadian dimana Ia hampir di perkosa oleh senpai sekaligus guru lesnya. Ia menatap selimut yang kini menutupi batas pinggang hingga kakinya. Dadanya begitu sesak sekarang, seakan sedang kekurangan oksigen untuk bernafas dan tak menyadari bahwa pemuda berkulit pucat disampingnya terus memperhatikan perubahan ekspresi diwajahnya.

"Ada apa, Dobe?" tanya Sasuke hati-hati. Padahal biasanya seorang Sasuke tidak peduli dengan urusan orang lain.

"J-jadi itu bukan mimpi?" gumaman Naruto terdengar lirih di telinga Sasuke. Tak terasa air mata sudah mengalir di pipi tan milik Naruto.

"Kau baik-baik saja, Do–Naruto?"

Sasuke mulai khawatir pada pemuda pirang di hadapannya. Sedangkan Naruto hanya diam tidak menanggapi sama sekali pertanyaan temannya itu dan tubuhnya tampak bergetar.

"Sebaiknya kau ku antar pulang. Aku akan memanaskan mobil dulu." kata Sasuke lalu beranjak dari duduknya dan saat akan melangkah ada sesuatu yang menggenggam pergelangan tangannya. Sasuke membalikan badan dan ternyata itu adalah tangan mungil milik Naruto.

"Hn?"

"A-aku ti-tidak ingin pulang...hiks...te-tetaplah disini...hiks...a-aku ta-takut." ucap Naruto sesegukan(?).

Pemuda berambut raven itu mendekatkan dirinya pada pemuda pirang yang kini terlihat rapuh. Ia mendudukan dirinya tepat disamping Naruto (bukan dikursi lagi). Kemudian Ia mendekap tubuh yang lebih kecil darinya itu dengan lembut. Perasaan hangat dan terkejut memenuhi diri Naruto. Senang sekali rasanya dipeluk oleh orang yang kau sukai, bukan? :D

"Kau itu lelaki. Lagi pula apa yang kau takutkan?" ucap Sasuke lembut pada pemuda yang berada dalam dekapannya.

"D-dia...di-dia brengsek." gumam Naruto yang tak sadar bahwa Ia telah meremas keras baju yang menutupi dada bidang Sasuke.

"Dia? Dia siapa?" tanya Sasuke yang tidak sengaja mendengar gumaman Naruto.

"Ga-gaara-senpai." jawab Naruto lirih.

Mata onyx milik Sasuke membulat sempurna. 'Apa dia yang membuat tanda itu?' pikir Sasuke yang sempat melirik kissmark di leher Naruto. Sekarang Ia mengerti kenapa Naruto ketakutan seperti ini.

"Kau di rape?" tanya Sasuke innocent.

Tubuh Naruto menegang seketika. Walau Ia baru 'hampir' diperkosa, tapi tetap saja itu hal yang menjijikan baginya. Padahal Ia sendiri sudah menganggap Gaara sebagai kakaknya sendiri. Ternyata sikap Gaara yang baik hati selama ini hanyalah kebohongan. Ia seperti gula yang mengandung racun.

"Sudah ku duga." Sasuke menjawab pertanyaannya sendiri saat merasa Naruto tak mungkin pertanyaanya itu.

"Ti-tidak. Hanya hampir." sungut(?) Naruto dengan wajahnya memerah karena malu.

"Sudahlah. Lebih baik aku mengantarmu pulang." kata Sasuke, perlahan Ia melepas pelukannya.

"Dia pasti masih ada disana. Aku tidak mau pulang"

"Bagaimana jika orang tuamu mencarimu?" tanya Sasuke.

"Tidak ada siapapun dirumahku." jawab Naruto lirih.

"Terserah padamu saja."

"Terima kasih."

Mereka pun terdiam. Tenggelam dalam pikiran masing-masing. Memikirkan sesuatu yang nanti mungkin terjadi. Namun, lamunan mereka buyar saat menyadari ada seseorang yang masuk ke dalam kamar itu.

"Sasuke, temanmu sudah bangun rupanya." kata seseorang itu sambil melangkah ke arah mereka berdua.

"Seperti yang kau lihat." kata Sasuke sinis.

"Perkenalkan aku kakaknya Sasuke, Uchiha Itachi." kata Itachi mengabaikan tanggapan adiknya dan mengulurkan tangannya pada Naruto sambil tersenyum.

"Naruto, Namikaze Naruto." jawab Naruto membalas uluran tangan Itachi sambil tersenyum manis.

"Nah, Sasuke sebaiknya kau ajak Naruto untuk makan malam. Aku akan keluar sebentar." Itachi pun keluar dari kamar adiknya itu. Meninggalkan kedua pemuda yang berlainan sifat.

"Makan malam atau tidak?" tanya Sasuke datar. Berbeda sekali dengan yang tadi.

"Baiklah."

Mereka pun turun ke bawah untuk makan malam. Ternyata dimeja makan sudah tersedia onigiri, sup tomat, dan berbagai makanan berbahan sayur lainnya karena Itachi tidak menyukai daging. Mereka makan malam dengan tenang. Yang terdengar hanya suara denting sumpit dan mangkuk. Mata mereka berdua diam-diam saling melirik.

Jika aku tidak mendapat masalah..

Mungkinkah aku dapat sedekat ini denganmu..

Jika ini hanya sebuah mimpi..

Tolong, jangan bangunkan aku dulu..

Sejak tadi pemuda berambut raven ini bergerak-gerak gelisah dalam tidurnya. Ia tidak bisa tidur padahal jam sudah menunjukan pukul setengah 12 malam. Ia menggeram kesal dan memutuskan untuk bangun saja. Pemuda yang tak lain adalah sang Uchiha bungsu, Sasuke, akhirnya mendudukan dirinya. Mata onyx miliknya tengah mengamati pemuda yang tertidur di sebelahnya ini.

"Manis." gumamnya.

Pikirannya kembali pada saat pertama kali mereka bertemu. Di halte bus tanpa atap. Ia tidak menyangka akan bertemu lagi dengan pemuda berambut pirang yang dulu menarik perhatiannya. Takdirkah? Hanya author dah Kami-sama yang tahu.

Tangan kirinya yang tepat disamping wajah Naruto kini terangkat. Tangannya itu mulai membelai pipi chubby milik Naruto. Di wajahnya pun sudah terukir senyuman tipis yang sangat jarang terlihat. Menyadari apa yang sedang dilakukannya, Ia buru-buru menjauhkan tangannya itu dari pipi tan milik Naruto.

"Apa yang ku lakukan? Dia itu lelaki dan aku NORMAL."

Sasuke mengacak pelan rambut pantat ayam miliknya. Ia bingung oleh perasaannya sendiri. Bahkan kecerdasan otaknya seakan tertiup angin.

-Skip time-

Suara kicauan burung pagi ini membuat pemuda pirang itu terbangun dari tidurnya. Saat Ia membuka matanya, Ia tidak menemukan siapapun di kamar itu. Tapi, terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi yang ada di kamar itu.

Tidak lama kemudian dari kamar mandi keluarlah pemuda berkulit seputih porselen a.k.a Sasuke dengan handuk yang melilit dipinggangnya. Wajah Naruto bersemu merah melihat pemandangan didepannya itu.

"Kau sudah baikan?" tanya Sasuke yang sudah memakai seragamnya. Naruto hanya mengangguk.

Deg!

Deg!

Jantung Naruto berdegup kencang saat Sasuke menghampirinya dan langsung menyentuhkan punggung tangan putih itu pada dahinya. Lalu berkata, "Demammu sudah turun. Tapi, sebaiknya kau tidak usah sekolah dulu."

Sasuke pun mengambil tasnya dan melangkah mendekati pintu. Tangannya akan sudah mulai memutar kenop pintu sebelum sebuah suara cempreng memanggilnya.

"Sasuke."

"Hn?"

"Dirumah ini tidak ada siapa-siapa?" tanya Naruto takut-takut.

"Hn. Aniki sudah pergi kuliah sejak tadi. Dia juga sudah menyiapkan sarapan."

"Tapi aku...aku ta−"

"Sudah kubilang kau itu lelaki. Aku akan mengunci pintu dari luar, jadi tidak usah takut."

Naruto tersentak tapi kemudian tersenyum, "Terima kasih."

"Hn. Aku pergi."

"Eh? Tunggu!" tahan Naruto.

"Apa lagi?"

"Bolehkah aku meminjam telephone rumah ini?"

"Hn."

Sasuke pun keluar dari kamar itu menuju ke sekolahnya. Meninggalkan Naruto yang masih tersenyum senang entah karena apa (gila kali xD). Naruto bangkit dari duduknya dan beranjak ke kamar mandi.

Selesai mandi Ia memakai baju Sasuke yang menurutnya terlalu besar untuknya. Kemudian Ia melangkah keluar kamar untuk menelpon Iruka. Ia yakin pasti Iruka khawatir.

Tuuutt...

Tuuutt...

"Hallo. Kediaman Namikaze disini." kata suara disebrang telephone.

"I-iruka-san ini aku, Naruto." jawab Naruto tergugup.

"Ah, Naruto-sama anda kemana saja? Saya sangat khawatir."

"Maaf. Kemarin aku...umm pergi ke rumah teman untuk mengerjakan tugas dan lupa memberi tahu." kata Naruto bohong.

"Syukurlah anda tidak apa-ap–"

"Kemana saja kau anak bodoh? Tidak tahukah aku dan Iruka mencemaskanmu."

Ternyata ada yang merebut telephone itu dari tangan Iruka. Dan Naruto sangat tahu siapa orang itu. Itu pasti sepupunya yang sangat overprotective padanya.

"Aku kan sudah minta maaf. Dan kenapa kau bisa ada bersama Iruka-san?" kata Naruto.

"Dia menghubungi Minato-jisan, dan bilang kau belum juga pulang. Lalu, Ji-san menyuruhku datang. Itu saja." jelas seseorang itu.

"Oh begitu."

Terdengar nada kecewa dibibir Naruto. Sebenarnya Ia ingin ayahnya itu yang pulang untuk mencarinya. Tapi, Ia mengerti kenapa ayahnya tidak pulang. Hanya karena satu hal, sibuk.

"Nah, sekarang dimana kau? Biar aku yang menjemputmu."

Suara dari sebrang telah membuyarkan lamunannya, "Tidak usah. Jam 4 sore nanti aku akan pulang sendiri saja."

"Hati-hati kalau begitu. Jaa."

"Eh, tunggu dulu."

"Apa?"

"Arigatou, Kyuu-nii"

"Hm."

Tuuuttt...

Telephone pun terputus. Naruto menghela nafas berat dan melangkah ke dapur. Ia baru sadar bahwa dirinya belum makan sejak tadi pagi. Ia pun mendudukan dirinya dimeja makan yang sudah tersedia sushi berisi ikan salmon segar. Ia memakannya dengan perlahan. Sebenarnya Ia ingin ramen, tapi mau bagaimana lagi. Saat makan Ia bertanya-tanya kemana orang tua Sasuke. Sejak kemarin Ia tidak melihat kedua orang tua Sasuke.

Setelah selesai, Ia mencuci piringnya dan melangkah menuju kamar Sasuke. Langkahnya terhenti saat melihat ruangan di dekat tangga. Ia baru sadar ada ruangan disana. Hatinya menyuruh dirinya untuk memasuki ruangan itu. Ternyata disana terdapat banyak sekali rak buku dan ditengah-tengah ruangan itu terdapat piano berwarna putih yang sangat bersih disamping piano itu pun terdapat sebuah biola yang tergeletak.

Ia melangkah menuju piano itu, kemudian mendudukan dirinya tepat didepan piano putih itu. Dengan perlahan Ia menyentuh lembut tuts piano itu satu per satu. Rasanya sangat dingin, menandakan bahwa piano ini sudah lama tidak terpakai.

Seperti biasa, Ia sudah menutup matanya. Nafasnya teratur dan tenang seperti rangkaian chord yang sedang Ia mainkan sekarang. Suara yang terdengar dari tuts-tuts piano yang Ia tekan dapat mengiris hati siapapun yang mendengarnya. Namun Ia begitu menikmati permainan pianonya yang cukup miris itu.

Detik demi detik berlalu, pemuda Namikaze ini belum juga menyelesaikan permainannya. Bahkan Ia tidak menyadari bahwa sekarang sudah berdiri seseorang tepat di pintu ruangan itu.

"Naruto?"

Saking terkejutnya, Naruto pun menghentikan permainannya dan langsung berdiri menghadap ke arah suara yang memanggilnya. Dan disana sedang berdiri pemuda yang Ia kenal.

"Sedang apa kau disini?" tanya pemuda itu a.k.a Sasuke dingin.

Naruto takut mendengar nada dingin nan menusuk yang keluar dari bibir Sasuke, "Aku...a-ano.. maaf."

Akhirnya Ia hanya bisa meminta maaf sambil menundukan kepalanya. Ia takut pada Sasuke yang berhawa dingin seperti ini. Kemana Sasuke yang kemarin? Ia terus bertanya-tanya dalam hati.

"Hn."

Sasuke pun pergi meninggalkan Naruto yang terdiam. Sikap dingin Sasuke membuat Naruto merasa sangat bersalah telah melakukan hal yang tidak sopan. Dia terus mengutuk dirinya dalam hati. Mengapa Ia bisa sebodoh ini.

Jika kau mau memaafkan dan menerimaku..

Dengan senang hati aku akan lakukan apapun..

Jika kau tidak bisa melakukan itu..

Akan ku terima apapun keputusanmu..

Naruto menghampiri Sasuke yang sedang duduk dimeja belajar. Mungkin sedang mengerjakan PR.

"Sas, aku ingin minta maaf." Naruto mulai membuka suara.

"Hn."

"Kau tidak marahkan? Tadi aku hanya tak sengaja melihat dan aku ingin memain–"

"Tidak perlu kau jelaskan." Sasuke segera memotong perkataan Sasuke.

"A– baiklah. Oh iya, aku izin pulang dulu."

"..."

Tidak ada jawaban, Naruto pun melangkah keluar kamar. Tapi suara Sasuke membuat langkahnya terhenti.

"Aku akan mengantarmu. Tunggulah diluar."

Setelah itu, Naruto pun melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Ia pun menunggu di garasi rumah Sasuke sampai akhirnya Sasuke menghampirinya dan menyuruhnya untuk masuk ke mobilnya.

Mereka berdua saling menutup mulut, tidak ada yang mau membuka pembicaraan. Sasuke sedang serius memandang jalan dan Naruto duduk gelisah ditempatnya.

"Kau belum memberi tahu dimana rumahmu, Dobe."

Perkataan Sasuke membuat Naruto tersentak. Ia lupa memberi tahu Sasuke alamat rumahnya. Namun sepertinya dari jalan ini sebentar lagi sampai.

"Didepan nanti ada pertigaan, rumahku belok kiri tepat setelah belokan itu."

Sasuke pun hanya mengangguk paham. Setelah mobil yang ditumpanginya berbelok, Naruto pun menunjuk rumah tingkat bercat orange cerah dengan pagar tinggi sebagai rumahnya.

Mobil Sasuke berhenti tepat didepan pagar rumah itu. Sebelum Naruto keluar dari mobil itu, Ia membujuk Sasuke untuk mampir sebentar ke rumahnya. Walau sempat menolak, akhirnya Sasuke pun menurut.

"Tadaima." teriak Naruto yang langsung membuka pintu.

Terlihat seorang pemuda tampan berambut orange kemerahan dan iris mata berwarna merah sedang menghampiri Naruto.

"Yo, Kyuu-nii." kata Naruto sambil nyengir kuda.

Duk !

"Ittai..sakit tahu." Naruto menerima jitakan tepat diatas kepalanya.

"Dasar bodoh. Bisa-bisanya bergembira seperti itu."

"Maaf."

"Ku maafkan."

Mereka berdua hampir lupa jika ada seseorang yang sejak tadi memperhatikan.

"Kau.." seru Kyuubi sambil menunjuk wajah Sasuke. Sedangkan Sasuke hanya menaikan sebelah alisnya bingung.

"Kau.."


つづく

Horeee akhirnya selesai juga chapter 4 ..
Sorry updatenya lama, selain karena banyak tugas, author juga lagi gk ada ide plus males ngetiknya.. hehe
Mudah-mudahan puas ya..

Tunggu chapter depan ^0^/

Reply to review:

NiMins Shippers: harus inget ya :D mau menghadapi UN juga toh.. ganbatte \^,^/

Earl Louisia vi Duivel: makasih sarannya. Sarannya udah author tuangkan dalam ff ini. Thx for review

Couphie: dichapter ini full hint SasuNaru. Puaskah? :D

Satsuki Naruhi: alurnya kecepetan ya? Maaf deh klo gitu. Moga yang chapter kali ini engga kecepetan ya. Thx dah review :D

Yuliafebry: sekali-sekali jadi antagonis gk apa-apalah.. hehe thx for review

Gunchan CacuNalu Polepel: ya, itu Sasuke. Siapa lagi klo bukan sasuke? Makasih dah review :)

kkhukhukhukhudattebayo: kamu greget waktu sasuke disuapin sakura? Author juga greget waktu nulis itu.. xD semua harapanmu terkabul.. :) thx dah review.

Sheren: sudah terungkap dichapter ini. Thx reviewnya :D

Windaa lolipobb: ini udah lanjut :D

Ciel-Kky30: harapanmu akan ku kabulkan.. thx dah review :)

Nia Yuuki: gaara begitu juga gara-gara author.. xD thx buat reviewnya..

Devilojoshi: pemeriksaan? xD sip ni dah lanjut :D

Aldistalia: gomen lama menunggu. Semoga puas . thx for review :)

kurryoidiamond: author gk jahat kok. Cuma ya begitulah. Hehe. Rumah mereka agak jauh(mungkin). Kan dirumah naru cuma ada iruka aja, trus dichapter kemarin kan udah dijelasin klo iruka lagi keluar. Thx dah review ya :D

review?