Chapter 4
Disclaimer: Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi
WARNINGS: TYPOS, GAJE, OOC, DLL...
AKASHI POV
Suara teriakan wanita membuatku bangun dengan tidak elite-nya. Tentu saja itu teriakan Gin. Dia sudah tidak ada di sampingku saat aku membuka mataku. Aku berjalan mendekati pintu untuk memprotes kenapa dia berteriak di pagi hari yang tenang ini. Mendengar sebuah dialog yang cukup penting aku menghentikan langkahku tepat sebelum membuka pintu geser tersebut.
"Apa dia sudah tahu identitasmu Nanodayo? Bukan berarti aku peduli nanodayo, aku hanya bertanya nanodayo!"
"Kurasa belum, meskipun sudah ada tanda-tandanya, Tsundere-sama."
"Aku tidak tsundere nanodayo!"
"Shitsureishimasu."
"Hei dengarkan aku nanodayo!" tepat setelah Shintarou mengucapkan kalimat itu dia membuka pintu dan menatapku dengan ekspresi yah… bisa dibilang terkejut.
"Oh, kau sudah bangun nanodayo." Dia kembali ke ekspresi biasanya.
"Jelaskan apa yang kalian bicarakan tadi, Shintarou."
"Kau tidak mau membiarkanku masuk dulu nanodayo?"
"Masuk." Dia berjalan kedalam dan mengambil sebuah peti berdebu yang diambilnya dari pojok ruangan. Di peti itu juga aku menemukan surat perjanjian ayah dengan pemimpin Klan Majou. Aku berjalan mendekatinya dan memperhatikan apa yang sebenarnya yang Shintarou lakukan.
"Musim semi sembilan tahun yang lalu, seorang putri dikirimkan ke Rakuzan untuk… entahlah, aku tidak begitu tahu nanodayo. Yang pasti gadis itu tunanganmu nanodayo."
"Aku sudah tahu itu, Shintarou."
"Dengarkan dulu nanodayo. Dia gadis yang sulit ditebak, bodoh, tidak suka diremehkan, pemarah, dan maniak kebersihan. Aku yakin ayahmu masih menyimpan lukisannya, ah ini dia nanodayo."
Shintarou mengambil sebuah kertas kertas itu sudah lusuh, tetapi masih terlihat gambar seorang gadis mengenakan kimono putih bercorak bunga berwarna merah. Gadis besuai perak itu sedang tersenyum lebar, aku merasa mirip seseorang.
"Siapa dia?"
"Araki Gin, gadis yang selama ini kau cari nanodayo."
"Apa buktinya?"
"Hah… tidakkah kau merasa ada yang aneh Akashi? Dia pelayan pertama yang berani menatap wajah raja-nya secara langsung nanodayo. Kenapa? Karena dia memiliki darah seorang bangsawan meskipun sekarang dia menjadi pelayan nanodayo. Dan asal kau tahu, Araki tidak menyegel ingatanku dan yang lainnya nanodayo, dia hanya menyegel ingatanmu. Itu sebabnya aku masih ingat apa yang terjadi sembilan tahun yang lalu nanodayo."
"Jadi apa yang harus kulakukan agar ingatanku kembali?" aku mendesah cukup keras.
"Hanya kau yang tahu nanodayo."
"Bagaimana jika aku menikahinya? Mungkin jika aku berada di sampingnya aku bisa mengingat dengan mudah."
"Itu ide yang bagus. Lagipula dia tunanganmu nanodayo."
"Baiklah, aku akan melakukannya."
"Aku harus pergi, dan Araki akan mengantarkan sarapanmu ke sini nanodayo."
"Hm."
Dan setelah beberapa saat Shintarou pergi, datanglah Gin dengan baki berisi makanan di dalamnya. Lalu aku menggodanya sedikit untuk menunjukkan apa yang dikatakan Shintarou itu benar atau salah. Dan ternyata benar, sedikit ada nada jengkel disuaranya saat aku memancing kemarahannya. Di saat itulah aku melamarnya, dan ekspresi terkejut datang dari dirinya.
"Tu-tunggu Yang mulia, kenapa kau memintaku menjadi permaisurimu? Bukankah aku hanya pelayan biasa? Dan masih banyak tuan putri yang lain!"
"Kau Araki Gin, putri dari pemimpin Klan Majou, dan kau juga tunanganku."
"Kau sudah ingat semuanya Yang mulia?" terlihat wajahnya sangat terkejut dan panik.
"Hanya sedikit, tidak semua. Bisakah kau melepas segel ingatanku?"
"Aku tidak bisa, hanya Yang mulia sendiri yang bisa melakukannya."
"Sudah kuduga. Aku memintamu berada di dekatmu agar aku bisa mengingat semuanya."
"Biarkan aku berpikir dulu."
"Kuberi waktu sampai besok pagi."
"Wakarimashita, shitsureishimasu." Dan dia pergi dengan wajah yang… sangat menyedihkan.
.
OC POV
Darimana Yang Mulia tahu jika aku dari Klan Majou? Apa dia sudah ingat sesuatu tentang Klan Majou? Atau seseorang sudah memberi tahunya? Siapa?
"Gin-chan, jangan menakuti pelayan yang lainnya dong!" tanpa sadar aku memberikan tatapan yang menakutkan beberapa pelayan yang melewati kami.
"Eh? Aku tidak sadar." Jawabku dengan tampang polos.
"Hah… ada apa denganmu? Apakah ada masalah?"
"Ah, tidak."
"ARAKICCHI!" ah… bangsawan berisik sudah datang.
"Ada apa, Kise-sama?" dan seperti biasa mukanya berseri-seri, tapi kali ini mukanya lebih ceria lagi.
"Kata Midorimacchi, kau dilamar Heikacchi! Aku sudah tidak sabar ssu! Selamat ya ssu!" HAH?! Kenapa si bangsawan lumut itu tahu?! Jangan-jangan dia yag merencanakan ini semua?
"Kau dilamar Yang mulia?! Selamat, nanti aku akan memperkenalkan diriku sebagai teman permaisuri Rakuzan!"
"CHOTTO MATTE KUDASAI! DIMANA KUSOMIDORIMA-SAMA?!" semua pelayan langsung menoleh kearahku dengan pandangan keheranan dan mulai berbisik-bisik kembali.
"Aku disini nanodayo." dengan watados-nya dia muncul entah darimana.
"Midorima-sama… bisakah kita bicara sebentar?" dan mulai muncul aura hitam dari balik tubuhku.
"Ba-baiklah…" wow, dia terlihat ketakutan.
"Aku juga akan memanggil yang lainnya ssu!"
Beberapa menit setelah berjalan, akhirnya kami sampai di ruangan Midorima-sama disusul dengan Kise-sama, Aomine-sama, Murasakibara-sama, dan tentunya Kuroko-sama. Selama hening beberapa saat, aku memutuskan untuk berbicara. Tapi justru disela Aomine-sama.
"Jadi kenapa kita dikumpulkan disini hah?"
"Tentu saja untuk membahas rencana pernikahan Heikacchi dengan Arakicchi ssu!" lihatlah mereka, mereka saat ini bereksprei terkejut.
"Jadi kau memutuskan untuk menikahi Akashi?" tanya Aomine-sama dengan nada sarkasnya.
"Aku belum memutuskannya bodoh, yang ingin kutanyakan saat ini, apakah kau yang memberi tahu Yang mulia Midorima?" aku melemparkan tatapan membunuh kepada tersangka utama kasus ini.
"Yah… mau bagaimana lagi nanodayo, Akashi mendengar pembicaraan kita saat di depan kamarnya nanodayo. Tidak mungkin aku menyangkalnya kan?" Yah… itu memang benar, Yang mulia memang terkenal keabsolutannya dan dia tidak suka jika ada yang membantah perintahnya.
"Apa saja yang kau beritahu?"
"Aku hanya menjelaskan siapa kau sebenarnya, lalu aku menyarankan untuk menikahimu mungkin dengan menikahimu dia bisa mengingat semuanya nanodayo."
"Tapi, jika aku menikah dengan Yang mulia, identitasku akan diketahui musuh, kemungkinan besar musuh akan menyerang Rakuzan, dan nyawaku dalam bahaya. Tamatlah sudah, aku akan mati…"
"Sudah kubilang Rakuzan akan melindungimu dari musuh apapun yang terjadi nanodayo. Kita serahkan soal medan peperangan kepada Aomine nanodayo."
"Bukan itu saja, masyarakat pasti tidak akan terima jika permaisurinya berasal dari Klan Majou. Kau tahu sendirikan dulu seperti apa Klan Majou diperlakukan? Ya ampun… aku seperti pihak yang dirugikan disini." Lalu keadaan hening, mereka sedang memikirkan solusi yang tepat untuk masalah ini.
"Bagaimana jika Araki-san membuat kesepakatan dengan Yang mulia?"Suara lembut Kuroko-sama memecahkan keheningan. Kami semua menoleh kearahnya.
"Sepertinya nyam… itu ide nyam… yang bagus nyam…"telan dulu makananmu Murasakibara-sama.
"Benar ssu, Arakicchi harus memikirkan kesepakatan yang menguntungkan Arakicchi tapi tidak merugikan Heikacchi ssu!"
"Hm…" aku berpikir sejenak, dan teringat tentang segel ingatan itu. Saat itu juga sebuah ide muncul dari otakku. Sebuah seringai terukis jelas di wajahku
"Ara~ sepertinya aku punya ide yang bagus~"
.
.
.
TBC…
Yo, minna-san! maaf telat updatenya! ! #BOW yah... harap maklum Author mengalami penyakit writer block dan males (hehehe... maaf)
Thank you so much to:
ReinaReiss
MinervaDesu108
seishuuhara
mei
Hontouni Sumimasendeshita!
