A Vkook/TaeKook Fanfiction
(Kim Taehyung x Jeon Jungkook of BTS)
.
여름방학(Once Again)©peachpeach
.
NSFW (Not Safe for Work), R-18, pointless.
.
All cast belongs to God, themselves, family and management. Story line is mine. No profit taken.
.
There's nothing more I want now
I can't even tell if my heart is beating
Rather than forceful conversations with others,
I'd rather be in awkward silence with you
So stay, wherever that may be
Sometimes, when the darkness come, I'll be your fire
In this world that is a lie the only truth, it's you
This a letter from me to you.
[BLACKPINK-Stay]
.
.
"Bagaimana perkembangannya ?" Yoongi melepas kembali stetoskop yang dipakainya, kemudian melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, lalu memandang Jimin dengan sorot putus asa. Ia memijat pelipisnya yang tiba-tiba terasa berdenyut nyeri. Pandangannya juga jatuh pada lengan Taehyung yang terdapat bekas kebiruan—hasil dari injeksi intra vena yang dilakukan Yoongi beberapa jam yang lalu.
"Seharusnya, obatnya sudah bekerja. Apalagi, aku memberinya lewat jalur intra vena. Benzodiazepin punya on set of action yang cepat—sekitar tiga puluh menit sampai dua jam, tapi keadaan Taehyung tidak menunjukkan perbaikan. Obatnya hanya sanggup membuatnya terlelap, tapi sepertinya mimpi buruk dan rasa cemasnya belum hilang. Ini jelas gejala abstinensi," Jimin membuang napasnya dengan keras, kemudian memandang Taehyung yang tengah tertidur di atas ranjang dengan tatapan prihatin, "Lalu, sekarang apa yang seharusnya kita lakukan ?"
"Aku perlu catatan medis penggunaan obat-obatan oleh Taehyung, untuk memastikan ia tidak mengalami amnesia retrograde karena pemakaian benzodiazepin di masa lalu," Yoongi mengusap keringat dingin yang muncul pada permukaan dahi Taehyung, kemudian melarikan jemarinya untuk menyisir lembut helaian raven Taehyung yang dipotong pendek. Taehyung mengerang dalam tidurnya, kemudian kembali diam saat gerakan lembut Yoongi tidak berhenti. Yoongi mengulum senyum tipis saat mendengar deru napas Taehyung yang mulai teratur saat usapan lembutnya membuat Taehyung semakin jatuh dalam mimpinya. Yoongi yakin, mimpi Taehyung kali ini bukan mimpi indah. Hanya hal sesederhana ini yang bisa Yoongi lakukan untuk membuat kondisi Taehyung membaik—walau hanya sedikit. Nalurinya sebagai dokter yang telah dilatih selama bertahun-tahun, akan mendorongnya untuk menolong siapa saja yang membutuhkan bantuannya.
"Amnesia retrograde ? Apa itu semacam amnesia yang selama ini aku tahu ?"
"Tidak, ini berbeda. Pasien dengan jenis amnesia ini tidak bisa mengingat informasi masa lalu sebelum periode atau tanggal tertentu yang membuatnya mengalami hal-hal yang kurang menyenangkan, dan itu adalah efek samping yang mungkin muncul karena penggunaan benzodiazepin dalam jangka waktu yang panjang."
Jimin terdiam sejenak, "Apa itu juga bisa menjadi kemungkinan perbedaan data Jungkook dari Taehyung dan dari informanku ?" Yoongi mengalihkan perhatiannya dari Taehyung kepada Jimin, ia menghela napas pelan sebelum mendekati Jimin yang tengah bersandar pada pintu lemari besar Taehyung.
"Mungkin, tapi aku masih belum bisa memastikan sebelum aku mendapatkan data medis yang akurat. Soal perbedaan data Jungkook, kau juga punya tugas untuk mencari dokumen aslinya. Aku yakin, Taehyung menyimpannya di suatu tempat dalam apartemen ini. Atau kalau tidak, kau bisa mencarinya dimana saja, asal datanya valid." Jimin mengangguk afirmatif mendengar setiap saran Yoongi.
"Oh ya, sampai kapan Jungkook ada di Korea ? Kau bilang, ia menetap di Jepang bukan ?"
"Kontrakku dan Taehyung tertulis dua minggu, tapi aku juga tidak tahu apakah mereka punya jadwal lain yang bisa menahan kepulangan mereka ke Jepang. Mungkin besok aku akan bertanya kepada Seokjin-hyung."
"Sebisa mungkin, mereka harus bertemu sebelum Jungkook kembali dan membuat kondisi Taehyung semakin memburuk. Kita akan berjaga-jaga dengan segala kemungkinan terburuk yang bisa terjadi saat mereka bertemu nanti," Yoongi kembali melihat jam tangannya, "Aku ada pertemuan untuk jadwal konsultasi rutin pasienku dua jam lagi, dan bukannya kau juga ada jadwal untuk iklan kamera ?"
"Iya, mungkin aku harus menghubungi Minjae untuk menjaga Taehyung selama kita pergi. Jika Minjae tidak bisa, mungkin aku bisa minta tolong pada Minho-sunbaenim."
"Minjae ? Bukankah beberapa hari yang lalu, ia mengantarkan Taehyung ke rumah sakit ketika collaps di lokasi pemotretan ?"
Kening Jimin berkerut penuh tanya seraya memandang Yoongi, "Iya, memangnya kenapa ?"
"Aku perlu tahu dimana ia mengantar Taehyung, mungkin aku akan bisa menemui dokter yang memberinya terapi untuk membicarakan kondisi Taehyung saat ini."
"Baiklah, ku telepon Minjae sekarang untuk kemari," Jimin mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan Yoongi kembali bersuara untuk memberinya saran, "Ingatkan Minjae untuk membawa makanan untuk Taehyung, aku yakin ia hanya mengkonsumsi satu gigit roti panggang di atas pantry untuk sarapan."
여름방학(Once Again)©peachpeach
April, 2007
Jungkook lagi-lagi berbohong kepada pengawalnya soal jam tambahan pelajaran di sekolah untuk persiapan lomba—padahal Jungkook tidak sedang berpartisipasi dalam persiapan lomba apapun—dan meminta mereka supaya pulang terlebih dahulu, tentu saja disertai ancaman 'akan dipecat' dan Jungkook benar-benar serius dengan ucapannya. Kemarin, salah satu pengawalnya dipecat oleh Kepala Pegawai yang mengabdi pada keluarganya, hanya karena tidak mau Jungkook suruh untuk tidak menunggunya di depan coffee shop tempat Taehyung bekerja. Sekarang, Jungkook kembali berakhir dengan duduk bersama Taehyung di atas sofa ruang tamu yang merangkap ruang menonton televisi di flat Taehyung. Kebetulan, Taehyung sedang mendapatkan jatah liburnya hari ini.
Awalnya mereka hanya mengobrol biasa, Jungkook bahkan sudah mengganti seragamnya dengan kausnya yang sengaja ia tinggalkan di flat Taehyung. Mereka juga menghabiskan satu kotak donat manis yang di beli Jungkook dalam perjalanan kabur dari pengawalnya dan menuju flat Taehyung. Lalu, kening Taehyung membentuk kerutan saat Jungkook memberikannya sebuah undangan yang amplopnya masih tersegel. Kemudian kerutan di dahi Taehyung semakin dalam ketika membaca sederet kalimat di atas amplop undangan resmi yang berlabel lambang sekolah Jungkook, sedangkan yang bersangkutan hanya menunggu reaksi selanjutnya dari Taehyung.
Kepada :
Orang Tua/Wali Murid
Mr/Mrs. Jeon Minjoon
di Tempat.
Perihal :
Penyerahan Hasil Laporan Belajar Semester Ganjil dan Resital Musim Semi
School of Performing Art
"Kenapa ini diberikan padaku ?" Ujar Taehyung yang masih kebingungan dengan undangan di tangannya. Jungkook membasahi bibirnya yang masih terasa manis karena topping donat yang dimakannya tadi, kemudian menatap Taehyung dengan ragu.
"Karena hyung yang akan menghadiri acaranya ?" Jungkook menjawab dengan nada ragu, sedangkan Taehyung masih mengerjap tidak mengerti.
"Hah ? Kenapa harus aku ?"
"Karena hyung satu-satunya orang yang terdekat denganku," Jungkook cemberut, ia bahkan nyaris menangis. Binar cemerlangnya tampak berkaca-kaca memandang Taehyung, "—Aku tidak mau yang hadir di sekolahku adalah sekretaris atau orang-orang bayaran Aboeji. Junghyun hyung sedang studi banding di Jepang. Kali ini saja, hyung…"
Taehyung menghela napas, di raihnya sisi wajah Jungkook dan menatap maniknya dalam-dalam, "Bukannya aku tidak mau, Sayang. Tapi—"
"—Aku akan tampil di resital, aku akan menyanyi di atas panggung. Bukankah itu yang ingin hyung lihat ?"
"A-apa ?"
"Aku…aku, berhasil lolos audisi untuk resital. Bukan peran utama, tapi bagian menyanyiku lumayan banyak. Hyung pernah bilang, jika hyung ingin melihatku berani melakukan hal yang aku sukai di depan orang banyak. Aku berusaha keras untuk itu, jadi…tolonglah, hyung—" Jungkook menggoyang pelan tangan Taehyung yang berada dalam genggamannya, "—Juseyo~" Hening menguasai atmosfer di sekitar mereka sampai Taehyung tersenyum begitu tampan untuk Jungkook.
"Ya, nanti hyung akan datang. Tunjukkan yang terbaik saat resital, oke ? Jangan gugup jika aku menonton."
"Jinjja ?! Waa ! Terima kasih, hyung !" Jungkook memekik gembira, ia langsung memeluk leher Taehyung dan menghadiahi kekasihnya itu dengan sebuah ciuman di pipi.
"Iya, sama-sama…"
. . .
"Nama, Jeon Jungkook. Golongan darah, A. Tempat dan tanggal lahir, Busan tanggal satu September tahun 1991—Kau lahir di Busan ?" Jungkook mengangguk, menikmati hembusan angin yang menerbangkan helaian ravennya, dan membiarkan Taehyung membuka lembaran laporan hasil belajarnya. Mulai dari data pribadi, daftar nilai, dan kegiatan ekstrakulikuler Jungkook. Resitalnya sudah selesai setengah jam yang lalu, dan Taehyung datang dengan sebuket bunga untuk menyambut Jungkook setelah selesai pentas. Sekarang keduanya kembali menghabiskan waktu di padang luas di belakang sekolah Jungkook—sama persis seperti pertemuan pertama mereka di musim panas tahun lalu. April adalah waktu yang tepat untuk menikmati sinar hangat matahari, ribuan bunga daisy yang sedang mekar, dan wangi Taehyung yang terbawa angin.
"Iya, memangnya kenapa ?"
"Kau bisa sattori ?" Taehyung bangkit dari posisi tidurannya di atas rumput, kemudian memandang Jungkook dengan tatapan penasaran bercampur antusias.
"Hmm, sedikit-sedikit mungkin bisa…"
"Assa ! Berarti aku bisa mengobrol denganmu menggunakan sattori !" Jungkook mengerjap, ia melepas kulumannya pada lolipop yang di pegangnya.
"Hyung juga bisa sattori ?"
"Tentu saja ! Aku ini kebanggaan Daegu !" Taehyung menepuk dadanya dengan bangga, sedangkan Jungkook hanya tertawa kecil. Baru kali ini ia menemukan seseorang yang bangga dengan sattori, biasanya orang-orang akan berusaha keras agar sattori mereka hilang saat tinggal di Seoul. Ibunya bahkan melarangnya untuk menggunakan sattori saat keluarga mereka sudah pindah dan menetap di Seoul.
"Tentu, hyung juga harus mengajariku sattori. Aku sudah lama tidak berbicara menggunakan sattori, pasti kedengarannya kaku dan aneh." Taehyung mengangguk dengan semangat, kemudian membuka lagi lembaran laporan belajar Jungkook, "Nilaimu bagus semester ini," Taehyung menepuk penuh bangga puncak kepala Jungkook dan membuat yang lebih muda merona.
"Oh ya, wali kelasmu menyuruh untuk menggandakan hasil laporan belajarmu setiap semester untuk arsip. Arsipnya berguna untuk melihat perkembanganmu setiap semester. Ini juga harus di tanda tangani oleh orang tua atau wali murid—Jungkook ?" Taehyung mendapati Jungkook dengan raut datar saat ia berbicara mengenai laporan hasil belajarnya. Wajahnya yang di timpa cahaya matahari tampak mendung seketika. Sepertinya, Jungkook sama sekali tidak menyukai topik bahasan mengenai urusan sekolah.
"Aku tidak pernah menggandakan dokumennya, apalagi menjadikannya arsip. Percuma, toh orang tuaku sama sekali tidak pernah bangga dengan anaknya yang memilih jalannya sendiri. Ayahku hanya akan bangga jika aku bersekolah di luar negeri untuk mendalami bisnis seperti keinginannya, bukan seni." Manik Jungkook menerawang, pandangannya mengikuti sekumpulan burung yang terbang bebas di angkasa. Sudut hati kecilnya sempat iri karena ia tak bisa sebebas mereka.
"Dari kecil, aku suka sekali menggambar, menyanyi, atau bahkan bergerak mengikuti beat musik yang diputar keras-keras setiap aku pergi ke pusat perbelanjaan—" Taehyung membiarkan kalimat-kalimat dengan lancar keluar dari bibir Jungkook dan merangkai sebuah keluhan yang harus Taehyung dengar.
"—Aku tidak seperti Junghyun-hyung yang menyukai angka dan hafalan. Mereka selalu membanggakan hyung, dan itu yang membuatku mati-matian untuk belajar Matematika, Fisika, dan ilmu pasti lainnya, meskipun waktu itu aku masih terlalu muda untuk menyerap semuanya. Tapi, mereka tidak pernah melihatku. Ayah naik menjadi senator saat nilaiku di bidang eksakta mulai menanjak drastis, sehingga Ayah sama sekali tidak pernah ada waktu untuk melihat nilaiku. Semua urusan pendidikanku ada yang mengurus, termasuk soal tanda tangan di laporan belajarku. Dan itu bukan Ayah, ataupun Ibuku…" Jungkook menghela napasnya dengan berat, dan memancing Taehyung untuk menariknya ke dalam pelukan. Jungkook tidak terisak saat wajahnya tersembunyi di dada Taehyung, tapi Taehyung tahu jika Jungkook sedang menangis sekarang.
"Gwenchana, nanti sepulang dari sini kita bisa mampir untuk menggandakan dokumennya. Aku yang akan menyimpannya sebagai arsip jika tidak ada yang melakukannya untukmu. Kau bisa menyerahkan segalanya kepadaku, termasuk rasa sedihmu saat ini." Jungkook menarik napasnya dalam-dalam, membiarkan aroma kopi yang kuat, cokelat yang lembut, dan krimer yang manis dari kemeja Taehyung bercampur dengan aroma musim semi yang menenangkan semua sarafnya.
"Aku tidak mengerti bagaimana caraku berterima kasih kepada hyung…"
Taehyung mengecup puncak kepala Jungkook dengan lembut, "Cukup jangan pernah tinggalkan aku, Jungkook-ah."
여름방학(Once Again)©peachpeach
Jimin bersandar pada kap Range Rover-nya saat langit Seoul menjelang petang untuk menjemput Yoongi di Rumah Sakit Shinchon Yonsei, satu tangannya menggenggam gelas ice coffee sugar less, sedangkan ia sendiri sedang menyesap cappucinonya. Ia mengetuk-ngetuk ujung sepatunya untuk membunuh waktu. Sebenarnya ia lelah bukan main setelah shooting iklan kamera, tetapi ia juga tidak setega itu membiarkan Yoongi pulang sendiri. Lagipula, Yoongi bilang punya hal penting yang akan dibicarakan dengannya.
"Hei, maaf membuatmu menunggu lama," Yoongi menepuk pundak Jimin dan membuat figur yang lebih muda menghambur ke dalam pelukannya. Jimin mendesah lega saat mencium aroma manis Yoongi berpadu dengan antiseptik, "Hari yang berat ?" Jimin melepaskan pelukannya setelah memberi kecupan ringan pada pelipis Yoongi, menyodorkan cup ice coffee, dan disambut oleh tatapan penuh rasa terima kasih dari Yoongi.
"Iya, kau juga begitu kan ?" Yoongi langsung menyesap ice coffee-nya, menggumankan 'Trims' singkat ke arah Jimin, kemudian mulai masuk ke dalam mobil.
"Mhm-hmm, begitulah. Jadi, apa yang kau dapat ?" Jimin selesai memasang sabuk pengamannya sendiri, dan memastikan Yoongi juga sudah memasang sabuk pengamannya. Ia menstarter mobilnya, kemudian meluncur dengan mulus meninggalkan halaman depan rumah sakit.
"Aku sudah bertemu dengan Dokter Lee, mengatakan jika aku adalah dokter yang sekarang menangani masalah Taehyung, dan berkonsultasi mengenai kondisinya sekarang." Yoongi menarik selembar tisu, kemudian menyeka dahi dan bagian bawah hidungnya yang sedikit berkeringat. Ia menyimpan cup kopinya pada glass container yang terletak disampingnya.
Jimin tetap fokus menyetir, tetapi telinganya masih siaga mendengarkan Yoongi, "Lalu ?"
"Aku mendapatkan data medis Taehyung, dan ada hal yang mengejutkan. Kemarin, saat Taehyung mengunjunginya, Dokter Lee sempat melakukan tes MRI untuk membuktikan diagnosa yang sama tentang amnesia retrograde karena benzodiazepin. Dan, Taehyung sama sekali tidak mengalaminya. Semua ingatannya tidak ada yang hilang tentang beberapa kejadian, efek samping benzodiazepin yang dialaminya hanya perburukan kualitas tidur dan rasa cemas yang semakin parah."
Yoongi menyugar helaian ravennya sebelum menurunkan suhu pendingin dalam mobil Jimin, "Taehyung mengikuti terapi perilaku, disamping terapi obat yang ia jalani dua tahun yang lalu. Ia mengubah dan mengatur ulang jadwal kuliahnya supaya sesuai dengan jadwal terapinya, bukan pergi ke luar negeri seperti yang kau tahu." Jimin menggigit bibirnya sendiri, telunjuknya mengetuk kemudi dengan ritme cepat.
"Aku belum sempat menggali lebih jauh soal data Jungkook, tapi aku sudah menghubungi beberapa orang untuk membuat sejenis dugaan dengan semua yang terkait."
"Siapa ?"
"Di sela-sela jadwalku tadi, aku mencoba menelepon Chanyeol-hyung yang bekerja di Kepolisian, Taemin-hyung yang juga model di Jepang, dan juga Seokjin-hyung," Jimin menginjak rem dengan tepat saat lampu lalu lintas di depannya berubah warna menjadi merah, "Kau tidak merasakan hal aneh mengenai Jungkook ?" Atensi Jimin beralih sejenak untuk menatap Yoongi sembari menunggu enam puluh detik lampu lalu lintas berwarna merah.
"Apakah ada hal aneh yang lain selain data yang berbeda ?" Jimin menghela napas pelan, disesapnya lagi cappucino dalam gelasnya.
"Awalnya aku juga tidak menyadari, sampai Taemin-hyung mengatakan sesuatu padaku. Taemin-hyung hanya mengenal Wonwoo. Dan kau tahu, jika seseorang debut menjadi idol ataupun model sekalipun, maka agensinya akan mengunggah profil mengenai dirinya secara lengkap di internet dan akun SNS-nya akan mudah sekali di temui. Tapi Jungkook tidak. Hanya profil Wonwoo yang diunggah oleh agensi, tidak dengan profil Jungkook," Jimin melepas hand rem-nya, kemudian kembali mengemudikan mobilnya dalam kecepatan sedang, "Yang tidak aku pahami adalah, dimana Seokjin-hyung bertemu mereka berdua dan menggunakan mereka sebagai brand ambassador musim panas tahun ini ? Seokjin-hyung juga terdengar seperti menghindari pertanyaanku soal Jungkook tadi. Apakah kau tidak berpikir jika Jungkook sengaja datang ke Korea untuk menemui Taehyung lewat pekerjaan Wonwoo sebagai model ?"
"Kau yakin Wonwoo adalah kakaknya ?"
"Tidak tahu, tapi penjelasan Chanyeol-hyung sedikit memberi pencerahan. Kau tahu Lembaga Perlindungan Saksi ?" Yoongi mengangguk ringan sebelum Jimin melanjutkan kalimatnya tanpa mengalihkan fokus dari jalan di depannya, "Jungkook bisa saja masuk dalam daftar perlindungan saksi, sehingga semua data pribadi dan keluarganya dibuat baru untuk melindunginya. Tapi, kenapa ia tidak mengubah namanya juga ? Meskipun nama Jeon Jungkook banyak ditemui di Korea, akan riskan sekali jika ia tidak mengubah namanya. Pelaku kejahatan yang membuatnya sampai masuk dalam daftar perlindungan saksi bisa saja mencarinya kembali saat sudah bebas dari penjara."
Kening Yoongi berkerut, memikirkan banyak kemungkinan yang berputar dalam kepalanya dan membuatnya pening seketika. Ia mendesah pelan sebelum menghabiskan sisa ice coffee dalam gelasnya, "Kasusnya rumit, aku jadi berpikir jika kita menjadi detektif dadakan," Jimin tertawa pelan dan menepuk lembut paha kecil Yoongi yang berada dalam jangkauan tangannya yang bebas, "Kita berhenti dulu di supermarket, Taehyung butuh asupan gizi yang baik." Jimin mengangguk mengerti, kemudian ia menekan tombol on pada pemutar musik dan membiarkan Yoongi memilih sendiri lagu favoritnya selama sisa perjalanan mereka menuju apartemen Taehyung.
. . .
Jimin langsung masuk ke dalam ruang kerja Taehyung saat keduanya sampai dan membiarkan Yoongi membantu Minjae mengurus Taehyung yang masih lemah. Jimin langsung menekan saklar ruang kerja Taehyung. Ruangan besar yang rapi dan tak asing bagi Jimin menyambut penglihatannya ketika lampu besar di tengah ruangan menyala dengan terang.
Sesuai saran Yoongi untuk mencari data Jungkook pada salah satu ruangan di apartemen Taehyung, Jimin sudah bertanya pada pengurus apartemen jika Taehyung menambahkan beberapa ruangan tanpa ia tahu. Dan jawabannya adalah Taehyung memang menambah satu ruangan dalam ruang kerjanya. Jimin berjalan pelan, menyusuri setiap perabotan minimalis yang mengisi ruangan kerja Taehyung. Tangannya tak luput meraba setiap permukaan, mulai dari white board yang terpasang pada dinding dan menampilkan post-it jadwal Taehyung beserta potret polaroid iseng tapi tetap disusun dengan permainan warna yang apik. Jimin mendekati rak buku yang lebih tinggi darinya dan beriisi banyak sekali buku tentang fotografi, self-improvement, dan majalah-majalah yang menggunakan jasa fotografi Taehyung.
Ia membawa jarinya untuk menarik satu-satunya buku tentang panduan menggambar komik untuk pemula yang tertumpuk bersama buku fotografi lainnya. Kening Jimin mengerut, setahunya Taehyung tidak bisa menggambar, untuk apa ia punya buku seperti itu ? Jimin menggeser beberapa buku lagi ke samping untuk mendapatkan ruang cukup untuk mengamati, dan Jimin menemukan lock-pad yang tersembunyi dengan apik di balik buku-buku koleksi Taehyung dan berpadu dengan dinding abu-abu di belakang rak.
Jimin menurunkan beberapa buku untuk memudahkannya melihat lebih dekat lock-pad yang tersembunyi dan mencoba beberapa kombinasi angka untuk membukanya. Pertama, ia mencoba memasukkan kombinasi angka seperti pintu utama Taehyung, tapi tidak terbuka. Jimin menggigit bibirnya sendiri, pelan-pelan berpikir kombinasi angka yang mungkin digunakan Taehyung sebagai sandi keamanan. Ia menghela napasnya dengan berat, sampai kemudian lampu imajiner dalam otaknya menyala terang. 1991—Satu September 1991. Kombinasi tanggal lahir Jungkook yang sesuai dengan ingatan Taehyung. Tangan Jimin gemetar saat memasukkan kombinasi angkanya. Dalam hati ia berdoa semoga kombinasinya cocok.
Bunyi 'klik' pelan nyaris membuat Jimin jatuh di tempatnya karena terlalu tegang dan membuat lututnya lemas seperti jeli. Jimin menyugar surai abu-abunya ke belakang, kemudian melihat dengan takjub bagaimana rak buku milik Taehyung bergerak ke belakang secara otomatis, lalu bergeser ke samping untuk menunjukkan kepadanya isi ruangan tersembunyi Taehyung.
Terdapat satu ruangan besar dengan cat monokrom dan banyak sekali potret Jungkook yang Jimin kenali. Ada satu set meja dan kursi sederhana lengkap dengan macbook dan printer. Lantainya dilapisi karpet bulu tebal yang bahkan terasa empuk ketika Jimin berjalan di atasnya dengan sandal rumahan. Di sudut ruangan juga terdapat moodboard dengan ukuran yang lebih besar daripada yang ada di ruangan kerja Taehyung. Jimin berjalan mendekat, jemarinya menyusuri dengan gerakan sepelan siput foto-foto Jungkook yang warnanya sedikit pudar. Mereka bahagia, itu kesimpulan yang dapat Jimin tarik begitu melihat potret mereka berdua yang diambil dengan latar bianglala besar. Jimin juga melihat satu potret portofolio yang besar di belakang meja kerja. Jungkook tersenyum dengan eye smile menawan, tampak begitu manis.
Di satu sisi dinding menempel juga sebuah rak besar dengan deretan buku yang berbeda dengan yang ada di ruangan kerja Taehyung. Kebanyakan berisi komik, buku-buku sketsa, novel, DVD film, kaset games, dan koleksi album-album lainnya. Ada tiga ruang kosong di tengah rak yang berisi kamera lama Taehyung, action figure, dan potret-potret kelulusan Jungkook. Jimin tertegun saat sadar Jungkook adalah siswa SOPA. Pengamatannya beralih pada sisi lain dari rak dan ia tertarik dengan satu folder dengan label 'JK's Documents'.
Ia menarik foldernya, dan membukanya dengan hati-hati. Aroma kertas lam yang begitu kuat langsung menyapa indera penciumannya ketika lembar pertama dibalik. Disana ada data diri Jungkook yang terlihat di gandakan dari laporan hasil belajar Jungkook saat masih bersekolah. Maink Jimin otomatis membesar ketika mendapati sebuah fakta yang membuatnya terkejut.
"Datanya sesuai dengan yang diberikan Taehyung. Berarti benar jika kemungkinan Jungkook dimasukkan dalam daftar perlindungan saksi ? Tapi, kenapa ?"
여름방학(Once Again)©peachpeach
September, 2008
Seoul kembali diguyur hujan deras saat malam menjelang. Jalanan, ranting pohon, dan atap-atap bangunan basah oleh ratusan ribu kubik air yang turun secara bersamaan. Sangat sedikit orang yang berada di luar ruangan untuk melakukan aktivitas. Mereka lebih memilih menghabiskan waktu di dalam ruangan yang hangat, ditemani sepiring kukis dengan secangkir teh hangat, atau satu mangkuk sup krim. Tapi Taehyung malah berlari menuruni tangga flatnya dengan sebuah payung di tangannya dan hampir saja tersandung oleh tali sepatunya sendiri yang tidak terikat dengan baik ketika ia menerima telepon jika Jungkook menunggunya di bawah. Sedikit heran dengan permintaan Jungkook yang menunggunya di bawah untuk bertemu, padahal biasanya Jungkook akan langsung naik ke unit flat Taehyung—tidak peduli Taehyung ada atau tidak—Jungkook punya satu kunci cadangan yang diberikan pemilik flat yang masih mengira bahwa ia adalah benar-benar adik Taehyung.
"Jungkook ? Ada apa ?" Napas Taehyung bahkan masih terengah saat mendapati punggung Jungkook yang dinaungi payung besar berwarna bening. Ketika Jungkook berbalik, Taehyung menjatuhkan payungnya dan menghambur cepat untuk memeluk Jungkook. Jungkooknya menangis, seakan bersaing dengan langit yang juga ikut menangis.
"Sshh—ada apa ? Mau masuk ?" Jungkook menggeleng, satu tangannya menggenggam erat sekali bagian depan kaus lengan panjang Taehyung. Napasnya berdeguk memilukan, sedangkan air matanya mengalir semakin deras.
"Taehyung-hyung, mau kan bersamaku selamanya ?" Taehyung mengusap penuh kasih sayang kepala Jungkook, berharap itu bisa menenangkan pujaan hatinya.
"Tentu Jungkook-ah, tentu…"
"Taehyung-hyung, maafkan Jungkook—" Kening Taehyung berkerut mendengar bisikan lirih Jungkook. Ia menarik dirinya sedikit untuk meraih wajah Jungkook dan mengecup sudut mata Jungkook, "Kenapa harus minta maaf ?" Jungkook menggeleng, kemudian berjinjit untuk mencium bibir Taehyung dengan pelan.
"Maaf hyung—" Jungkook menghapus air matanya dengan kasar setelah ciumannya terlepas, sedangkan Taehyung masih linglung. Tangan Jungkook mengusap lembut sisi wajah Taehyung, lalu berlari dengan cepat menuju mobil yang sudah menunggunya di ujung jalan.
Taehyung mengerjap, matanya perih terkena air hujan dan ia baru menyadari Jungkook sudah pergi dari hadapannya. Taehyung mengusap wajahnya, mengembalikan kesadarannya, kemudian berlari di bawah hujan menuju rumah Jungkook. Tidak peduli jarak flatnya yang jauh dari rumah Jungkook, ataupun tubuhnya yang basah kuyup di bawah guyuran hujan yang semakin deras, Taehyung hanya peduli Jungkook-nya.
"Tidak, tidak Jungkook-ah. Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan hyung—"
*To be continue*
a/n : Huhuhu, too much effort for this chapter TT
Ku pusing bikin alurnya gimana. Ini sudah beberapa kali rombak, tapi tetep aja aku ngga puas TT
Koreksi aku kalo ini banyak typo, ketidaksesuaian dll. u.u
Mungkin satu atau dua chapter depan bakalan selesai, jadi tolong sabar yah u.u
Anyway, happy holiday ! ^^
A bunch of love for :
Guest [1] │Guest [emma] │rosadilla17│NochuJK│nuruladi07│TaeKuki/FlawlessV│minyoonlovers│Guest [2] │Guest [3] │pororo023│Hanami96│kjmnwn│Taekooks'cream│SyubD│94shidae│Try Angreani210│Guest [Vk] │Ruki9597│Lunar effect│hlyeyenpls│wohoo199│kookvaddicted│haehyukee│LittleDevil94│MeiLianGouw│Hanami96│Guest [kimtae] │ravoletta│Hantu Just In│prncsspo│mingyuganteng/utree94 : lah, ganti uname bang ? .-.│peachpetals │HelloItsAYP : MinYoon-nya ntr cerita lain aja kak, aku ngga sanggup bikin side story-nya ini TT│iamjcks│StarkPeterPark│ShinYangChoi│adhakey2309│Guest [tae2kyung] │peiluvjae│Kira L . Lawliet│Guest [phiichan] │Guest [4] : apakah kisanak sama dengan Guest [1] ? .-. │Guest [kimrin] : waah, semangat ya ujiannya ^^│Park Rinhyun-Uchiha│wulancho95│Strawbaekberry
43 favourites/ 58 followers.
Review ? ^^
