Maaf buat lama gak aktif akun ini. Aku lupa sandinya ha ha. Dan baru dapet note sandinya kemarin. Gak tahu juga masih bakal ada yang ngeread apa gak story2 di akun ini. Tapi yah aku seneng bisa ada disini lagi. Nulis lagi. Dan berimajinasi lagi.

Dan jangan lupa komen dan favnya kalo abis baca dan ngerasa suka ya...

...4

Cahaya lembut nan hangat menyusup kedalam ruangan yang didominasi warna biru laut. Mengusik tidur lelap sang empunya. Erangan lembut terdengar dari sosok yang menyembulkan kepalanya keluar selimut.

Sasuke mengerjap beberapa kali sebelum mendudukkan dirinya. Kepalanya berdenyut nyeri. Dia menghela nafas sembari beranjak untuk mandi. Hari ini hanya ada satu mata kuliah di jam sepuluh nanti. Sasuke melirik jam dinding sekilas sebelum keluar kamar. 09.10. Terlalu kesiangan untuk Sasuke yang biasanya. Salahkan saja gadis merah muda sialan yang membuatnya insomnia itu.

"Kau tidak tidur dengan Baik, Sasu-chan?" Sasuke menghentikan langkahnya saat mendengar teguran ibunya yang sedang berkutat didapur. Kamar mandi dirumah ini memang hany ada satu, didekat dapur.

"Hanya terlalu lelah, ibu. Jangan khawatir." Sasuke memaksakan senyumnya agar ibunya tak lagi memasang wajah cemas.

"Besok kau libur kan? Kalau begitu, istirahatlah seharian dirumah."

"Sepertinya tak bisa. Besok aku harus mengerjakan tugas bersama Naruto. Sungguh, aku baik-baik saja." Sasuke mengulas senyumnya lagi sebelum dengan cepat masuk ke kamar mandi. Dia penasaran seperti apa penampilannya hingga ibunya begitu khawatir.

Dan Sasuke menghela nafas melihat lingkaran hitam disekeliling matanya. Wajah pucatnya semakin menambah kesan mengenaskan. Dia terlihat seperti zombi. Sasuke dengan cepat mengguyur tubuhnya dengan air. Berharap setelah mandi penampilannya akan lebih baik. Dia berharap bisa menyelesaikan salah satu dari banyak tugas kampusnya sebelum bekerja nanti.

Jam sepuluh kurang sepuluh menit Sasuke tiba di kelasnya. Satu hal lagi yang dia syukuri, dia tak sekelas dengan Sakura. Sasuke membuka bukunya siap mencatat poin-poin penting dari penjelasan dosen.

"Kau akan kemana setelah ini, Sasuke?" Tanya Hinata saat mereka berkemas setelah kelas selesai.

"Perpus. Aku ingin menggunakan komputer disana untuk mengerjakan tugas." Sahut Sasuke sembari beranjak.

"Boleh sama-sama? Ku rasa akupun akan mengerjakan tugas oro-sensei." Tanya Hinata yang mensejajari langkah Sasuke.

Sasuke mengangguk sebagai jawaban. Dia merasa tak memiliki alasan untuk menolak Hinata. Toh pada akhirnya diperpus mereka akan sibuk dengan tugas masing-masing.

Langkah Sasuke melambat melihat didepannya sana Sakura cemberut. Tanpa sadar pria itu mendesah. Kenapa lagi dengan si merah muda itu?

"Kau selingkuh Sasuke-kun?" Tuduh Sakura tanpa basa-basi. Ucapannya itu jelas menghasilkan raut tak percaya baik Sasuke maupun Hinata.

"Apa..."

"Kau jahat Sasuke-kun. Bisa-bisanya selingkuh disaat umur pacaran kita baru tiga hari. Katakan kalau itu tak benar. Katakan kau tak selingkuh dan aku akan mempercayaimu Sasuke-kun." Sakura memotong ucapan Sasuke dengan histeris. Bahkan gadis itu kini bergelayut di lengan Sasuke, menuntut jawaban.

Sementara Sasuke menganga tak mengerti mendengar celotehan mendesak dari Sakura, Hinata justru tertawa keras disampingnya. Gadis yang biasanya Kalem itu sampai terbungkuk-bungkuk.

"Kenapa kau tertawa mengerikan seperti itu hey nona yang mungkin selingkuhan Sasuke-kun ku?" Sakura berkacak pinggang menatap Hinata tak suka.

"O oh maaf. Kau lucu sekali uhm... Sakura kan?" Ucap Hinata berusaha menghentikan tawanya.

"Ya. Sakura. Pacar Sasuke-kun. Jadi, jangan genit-genit pada pacarku ya." sekali lagi Hinata tertawa. Sementara Sasuke memilih melangkah cepat meninggalkan dua gadis itu. Dia berharap dia tak mengenal Sakura. Gadis itu benar-benar memalukan.

"Aah Sasuke-kun tunggu!" Sakura berlari mengejar Sasuke. "Jangan genit-genit pada pacarku! Ingat itu!" Tapi masih sempat mengingatkan Hinata yang belum berhenti tertawa ditempatnya.

Sasuke mempercepat langkahnya masuk perpus. Dia berusaha mengacuhkan Sakura yang mengekorinya. Gadis itu mendapatkan teguran dari penjaga perpus di langkah pertama masuk karna membuat keributan memanggil-manggil nama Sasuke. Disaat seperti ini, Sasuke sangat berharap gadis itu jatuh terbentur dan lupa ingatan. Dia benar-benar tak punya urat malu dan merepotkan.

Setelah mendapat teguran, Sakura terlihat lebih tenang. Tapi tetap saja gadis itu mengekori setiap gerakan Sasuke. Diam-diam pria raven itu menghela nafas. Mengacuhkan Sakura bukan hal mudah mengingat betapa mengganggunya tingkah gadis itu. Tapi jika diladeni, Sasuke yakin dia tak akan sanggup melihat respon Sakura.

Setengah jam pertama Sasuke duduk di kursinya terasa seperti duduk di kursi panas. Emerald sialan didepannya tak pernah beralih darinya seolah Sasuke adalah makhluk paling menarik untuk di amati. Memangnya siapa yang bisa bertahan tetap tenang jika ditatap seperti itu?

Sasuke mendesah dan beranjak untuk mencari buku referensi lainnya. Tentu saja Sakura masih mengekorinya. Gerakan Sasuke terhenti saat tangannya terulur meraih buku disalah satu rak. Penyebabnya tentu saja Sakura. Gadis itu menyelip diantara rak dan tubuh Sasuke. Saat Sasuke menatapnya untuk memprotes, Sakura telah berjinjit dan menempelkan bibirnya pada bibir Sasuke.

Sasuke membeku. Hanya beberapa detik bibir mereka menempel sebelum Sakura menjauh dan tersenyum lebar, tapi itu mampu membuat Sasuke membeku.

"Aku akan berada dirumah nenek sampai besok. Ku pikir aku butuh sesuatu agar tak terlalu merindukanmu Sasuke-kun." Ucap Sakura manis. Sasuke hanya mengerjap beberapa kali berusaha mencerna kejadian beberapa detik lalu.

"Aku mencintaimu. Kau dilarang selingkuh, oke." Sekali lagi Sakura berjinjit dan mengecup bibir Sasuke. Lalu beralih ke pipi Sasuke sebelum melangkah meninggalkan pria raven yang masih membatu ditempatnya.

Setelah kepergian Sakura, Sasuke merosot berjongkok sambil menutup wajahnya. Helaan nafas frustasi terdengar darinya.

"Harusnya aku marah kan ya? Dia sudah memanfaatkan kelengahanku seenaknya." Gumam Sasuke.

Sasuke mendesah dan melanjutkan kegiatannya mencari buku tadi. Sayangnya gerakannya melambat saat dia mulai duduk di kursinya.

Sasuke menyentuh bibirnya. Dia tak bisa melupakan begitu saja sensasi saat bibir Sakura menempel ditempat itu. Begitu lembut, namun mengantarkan sengatan listrik keseluruh tubuhnya. Anehnya dia merasa terbakar sekaligus membeku.

Sasuke mengerjap beberapa kali sebelum menjilat bibirnya yang terasa kering. Kepalanya menggeleng pelan berusaha mengusir bayangan berbahaya yang memunculkan rasa penasarannya. Bagaimana jik tadi lebih dari sekedar menempel?

"Oh aku mulai gila." Erang Sasuke lirih meremas kesal surai ravennya.

Sakura benar-benar perusuh. Apa maksudnya membuat Sasuke kelimpungan seperti ini? Bukan berarti Sasuke yang tak pernah ciuman atau bagaimana. Hanya saja bibir Sakura terasa lembut dan terlihat lezat menggoda untuk dimakan. O oh apa Sasuke baru menyadarinya?

Pria raven itu mendesah menyesal menyadari hal itu. Jika bisa dia ingin lupa ingatan sekarang. Kepalanya hanya boleh di isi dengan kuliah dan kerja. Tapi sekarang si merah muda itu merusuh tanpa henti dikepalanya yang semakin berdenyut nyeri. Sialan.

Akhirnya sasuke hanya mampu menyelesaikan setengah bagian tugasnya hingga jam kerjanya. Sungguh jauh dari yang direncanakannya.

"Nii-san, bagian pembersih lantai disebelah mana ya?" Kesadaran Sasuke ditarik kembali saat seorang gadis berambut merah muda tersenyum manis didepannya.

Sasuke mengerjap, mengumpulkan kesadarannya beberapa saat. Rambut merah muda itu mengingatkannya pada Sakura. Namun yang ini lebih pekat. Sasuke menggelengkan kepalanya mencoba mengusir Sakura yang masih setia menginvasi kepalanya.

"Nii-san?" Gadis didepannya mengerjap dengan imutnya. Tingkahnya benar-benar seperti Sakura dimata Sasuke. Sialan. Bisakah Sakura enyah dari kepalanya.

"Ya." Sahut Sasuke linglung karna didalam kepalanya masih sibuk memaki Sakura.

"Letak pembersih lantai di mana?" Ulang gadis itu lagi dengan mimik merengut yang imut. Ck. Sasuke berdecak pelan, bisakah dia hanya menunjukkan saja tanpa menilai bagaimana gadis kecil itu.

"Sebelah sini." Sasuke melangkah menuju rak pembersih lantai sementara gadis kecil itu mengekorinya.

"Nii-san tahu, aku suka bantu-bantu mama membersihkan rumah lho. Aku juga sering belajar masak sama mama..." Sasuke menaikkan sebelah alisnya tak mengerti maksud gadis kecil itu berceloteh tentang hal seperti itu padanya.

"Di sini." Sasuke memotong celotehan gadis itu dengan menunjukkan dengan pembersih lantai.

"...hm hm ah sepertinya di rumah itu tipe yang seperti ini." Gadis itu meraih salah satu botol pembersih lantai. "Tapi sepertinya yang ini wanginya lebih enak..." dan meraih botol lainnya. Akhirnya tangan kurusnya kepayahan setelah meraih beberapa botol tambahan.

Sasuke tak mengerti isi kepala gadis kecil didepannya. Memangnya untuk stok berapa tahun dia membeli berbotol-botol cairan pembersih lantai. Dan Sasuke mengumpat dalam hati saat gadis itu menatapnya meminta bantuan.

"Akan ku ambilkan keranjang." Ucap Sasuke setengah jengkel.

"Tidak. Tidak. Hanya ini dan beberapa barang saja kok. Tolong..." Rengekannya membuat Sasuke tak bisa menolak meski terang-terangan dia mendesah.

Apanya yang beberapa barang lagi. Akhirnya Sasuke menjadi keranjang berjalan denga tumpukan belanjaan gadis kecil yang tak berhenti mengoceh tentang hobinya beres-beres rumah dan membantu orang tuanya. Keahliannya memasak dan segala jenis keterampilan lainnya yang terdengar tak masuk akal bagi Sasuke.

Lima belas menit yang menjengkelkan akhirnya berakhir. Sasuke hanya mendengus kesal menyahuti tatapan bertanya Darui yang sedang menjaga kasir. Berharap saja pembeli merepotkan seperti gadis kecil ini tak akan datang lagi.

"Nii-san. Namaku Haruno Tayuya. Kelas sembilan Konohagakuen. Ingat itu ya." Ucap gadis itu selagi Darui menghitung belanjaannya.

Tentu saja ucapannya itu membuat Dari terkekeh sementara Sasuke makin mengernyit tak mengerti.

"Aku menyukai nii-san. Jadi kita pacaran mulai sekarang ya." Lanjut Tahu ya dengan senyum manis tanpa sadar jika ucapannya membuat Darui maupun Sasuke shock.

Yang benar saja. Bukan hanya wajah dan gerak-geriknya, bahkan kelakuannyapun mirip Sakura. Seenaknya sendiri

"Sekolah dulu yang benar. Baru memikirkan pacaran." Sasuke menyentil dahi Tayuya selagi Darui tertawa keras.

"Kau benar-benar laku Sasuke." ucap pria yang masih terpingkal-pingkal itu. Sasuke hanya berdecak tanpa berniat menyahuti ucapan Darui.

"Aku selalu peringkat pertama disekolah. Bahkan mama dan papaku tak akan melarang aku pacaran. jadi, ayo pacaran nii-san." Sasuke memijat pelipisnya yang semakin berdenyut. Apa-apaan ini? Tak bisakah dia bertemu dengan gadis normal? Kenapa harus sejenis Sakura yang dia temui? Terlebih masih kelas sembilan! Apa dia terlihat seperti pedophil?

Aaaarrrrrgggghhhh!

...tbc

*Maaf buat segala kekurangan

**Gak diedit

***Besok up Sakura-nee ya...

**** 2/7/2017