Chapter 4

Main cast : EUNHAE dkk

Warning : BL/yaoi/ boyxboy, typo bertebaran dan cerita yang absurd

Disini ada sedikit adegan plus plusnya ya, yang merasa dibawah umur hati hati hehehe

Donghae berdiri mematung didepan telepon umum malam itu, dia menggenggam ponselnya udara disini sangatlah dingin dan pemuda itu keluar tanpa sempat memakai jaket, jari jemari Donghae terasa beku, namun dia merasa ada yang lebih beku di dalam sana, rongga dada sebelah kirinya kian menggigil kedinginan terlalu kedinginan hingga rasanya seperti tertusuk. Entah , dia merasa fakta ini sangat menyakitkan untuknya, padahal Hyuk Jae sudah terbiasa menangkapnya , ini hal yang berbeda cerita yang berbeda dan masalah yang berbeda, ini tentang Hankyung dan Hyuk Jae ya mungkin itu alasannya karena ini bukan tentang dirinya dan polisi itu. Donghae pulang keapartemennya dengan langkah terseok, jika saja masa aktif kartu ponselnya aktif dia tak usah repot-repot untuk keluar di tengah cuaca dingin ini, udaranya menusuk tepat dijantungnya.

.

Hari ini Hyuk Jae tidak datang menemuinya, di kedai Yesung . Donghae mengernyit heran, jadi kemana pria itu atau mungkin dia sudah tau tentang rencana Donghae. Untuk mengisi waktu sorenya, karena dia mendapat kerja pagi tadi Donghae mendatangi rumah Hankyung , hanya satu orang yang masih menghuni rumah itu dia namja berwajah imut dan menyeramkan. Dia adalah lelaki yang paling bisa diandalkan diantara para pencuri lain termasuk Donghae. Lee Sungmin, dia terlalu indah untuk menjadi seorang penjahat. Ketika Donghae membuka pintu tinggi itu, seketika kenangan langsung menyergapnya memori-memori tentang masa kecilnya bersama Hankyung dan teman-temannya yang lain terlalu indah untuk sekedar menjadi kenangan, Donghae tau dia adalah seorang lelaki yang tak terkalahkan seharusnya, tapi izinkan dia kali ini dikalahkan oleh kelemahan hatinya, terasa begitu sesak jika tak ia keluarkan sekarang, bulir-bulir air matanya mulai menetes satu demi satu, dia mendudukan dirinya di sofa lebar yang dulu pernah dirusaknya bersama Sungmin saat sedang mencoba senjata baru mereka.

" aku sudah menebak itu dirimu " Donghae terlalu hafal suara itu.

" aku ingin menjengukmu " Sungmin datang dengan 2 cangkir teh hangat di tangannya, sangat cocok untuk udara sore hari ini.

Sungmin mendekat kearah Donghae, dia datang untuk merengkuh tubuh namja itu mendekapnya dan membagikan hangat tubuhnya pada badan Donghae yang terasa beku. Ya , sungmin bisa merasakan pusat kebekuan tubuh itu dimana, karena dia juga punya pusat kebekuan yang sama. Hatinya. Adik kecilnya itu bergetar dan Sungmin mengeratkan pelukannya ditubuh Donghae.

" buat hatimu lega, kemudian hiduplah dengan baik " Sungmin menepuk punggung Donghae, penjahat juga manusia bukan, dari sekian banyak orang mereka juga punya seseorang yang akan mereka tangisi kepergiannya. Sungmin melepaskan pelukannya ketika dirasanya Donghae mulai tenang, Donghae mengangkat wajahnya , matanya lumayan membengkak karena terlalu banyak menangis.

" kurasa tehnya masih hangat, minumlah untuk membuat hatimu lebih tenang" Sungmin menyodorkan cangkir itu dan meminumnya, rasa hangat dan manis menjalar ketenggorokannya kemudian dia tersenyum .

" hyung, aku punya sebuah rencana" buka Donghae

" apa?"

"aku akan membunuh Hyuk Jae "

" Hyuk Jae? Aku mengenal orang itu, dia sangat terkenal dikalangan penjahat"

" ya, dia polisi paling berengsek"

" jangan, kau tak pernah membunuh "

" ini akan jadi pertama dan terakhir kalinya hyung"

" lalu apa rencanamu?"

" belum kurancang, tapi secepatnya" Sungmin mengangguk. " jadi, tolong bantu aku Hyung" lanjut Donghae setelah meneguk tehnya, kali ini Sungmin mengernyit. " meskipun ini pembunuhan pertama untukmu, aku yakin kau bisa menyelesaikannya sendirian" .

" tidak Hyung, aku perlu bantuan. Aku perlu sesuatu sekarang" Donghae berdiri dia berjalan menuju kamar Hankyung dulu, kamar itu telah berubah sekarang terasa kosong dan hampa, tapi Donghae tak mau larut dengan suasana itu, dia tau Sungmin yang sering tidur didalam kamar itu. Dia membuka lemari kecil yang ada disudut kamar, memencet beberapa kode untuk membukanya. Pistol itu masih disana, dia mengambil pistol dengan ukuran paling kecil untuk melindungi dirinya. Dilihatnya Sungmin masih duduk santai disana setelah ia keluar dari kamar itu.

" kau sudah mendapatkannya?" Donghae mengangguk dia menunjukan pistol tersebut. " kenapa tidak yang lebih bagus, kudengar dia polisi yang pintar" komentar Sungmin, Donghae menggeleng. " aku hanya perlu ini. kuhubungi kau ketika aku perlu bantuan" Sungmin menaikan jempolnya dan Donghae meninggalakan kediaman itu, markas besar mereka dulu.

.

Di jam 9 malam, Donghae hanya terdiam duduk disofanya, lagi-lagi dia memeriksa barang yang telah ditinggalnya lama, kondisinya sudah berdebu namun sepertinya masih bisa digunakan. Dia membuka PC miliknya, hanya sekedar iseng mengecek data apa saja yang telah disimpannya didalam benda ini. sebagian diantaranya adalah rencana tentang misi-misi berbahaya, data terakhirnya adalah file tentang Lee Hyuk Jae, Hankyung yang mengirimkan untuknya karena banyak anggota telah tertangkap oleh polisi itu. Hankyung sangat cerdas, dia bisa memperbaharui data terbaru tentang Lee Hyuk Jae tiap tahunnya karena Donghae tak akan bisa kabur lagi jika Hyuk Jae sudah melihatnya. Dia polisi satu-satunya yang berhasil menangkap Donghae. Maka dari itu Hankyung selalu mewanti-wanti Donghae tentang keberadaan polisi itu, tapi apa mau dikata Donghae tertangkap lagi oleh polisi itu, bukan karena dia tidak pintar atau tidak pandai mengatur strategi, itu karena strategi yang diatur Hyuk Jae untuk menangkapnya jauh dari prediksi Donghae. Hyuk Jae punya strategi yang tidak bisa ditebak.

Berbicara tentang manusia itu, Donghae mengernyit ketika Hyuk Jae tidak datang, biasanya dia akan datang di jam 8 malam, tapi sekarang sudah jam 9. Donghae mengendikan bahu ,dia kembali menyibukan diri dengan layar datar didepannya. Meskipun tak ada niat untuk mencuri lagi, tapi dia cukup tertarik membaca ulang tentang misi-misinya yang gagal karena Hyuk Jae. Matanya mulai terasa perih ketika terlalu lama menatap sinar radiasi, Donghae memutuskan untuk pergi tidur saja. Tapi, setelah dia berbaring di tempat tidur itu dia malah tak bisa memejamkan mata , Donghae hanya menggulingkan badannya kesana kemari untuk membuang rasa bosannya, sampai bel apartemennya berbunyi. Donghae membuka pintu itu, Hyuk Jae berdiri didepannya. Tidak seperti biasanya, wajahnya lebam dan bibirnya sedikit mengelurkan darah Donghae tau Hyuk Jae baru saja habis mencuci wajahnya karena bulir-bulir airnya masih terlihat disekitar anak rambutnya, dia mencucinya dengan tergesa sehingga darahnya tak hilang sempurna. Hyuk Jae menampilkan senyum gusinya, saat Donghae melihatnya dengan tatapan aneh. Namun seperti biasa dia hanya menyodorkan kantung plastik berwarna hitam untuk Donghae, ada yang berbeda dari kertas suratnya, biasanya Hyuk Jae hanya memakai robekan kertas dengan tulisan sekedarnya, namun yang ini kertasnya berwarna biru dan terlipat dengan rapi, kertas itu menarik perhatian Donghae maka dia memutuskan untuk membacanya lebih dulu.

Lee Donghae, pacaranlah denganku.

Donghae berpikir sejenak, kemudian dia tersenyum sangat meisterius senyum yang menyeramkan senyum jahat yang pernah ada di wajahnya. Dia menoleh pada Hyuk Jae yang sudah berjalan beberapa meter dengan sedikit sempoyongan. Donghae mengejar lelaki itu, dia menarik lengannya sehingga Hyuk Jae dapat menatapnya, wajahnya sedikit pucat lebamnya terlihat mulai membengkak.

" ada apa?" kata Hyuk Jae masih menampilkan senyum gusinya. " kau tak ingin mendengar jawabanku?" Hyuk Jae terkekeh kemudian menggeleng, " tidak, aku tak mau nantinya ditolak dan sakit hati" katanya dengan senyuman lembut . " lalu kenapa kau menanyakannya?" Hyuk Jae tampak berpikir "aku juga tidak tau, aku merasa aku hanya perlu menanyakannya tanpa perlu tau jawabannya".

Donghae mendecih, membuat Hyuk Jae tertawa padahal tidak ada yang lucu dari hal itu. Donghae melepaskan cengkramannya di baju Hyuk Jae.

" dasar gay!" kata Donghae, Hyuk Jae tersenyum miris. Entah kenapa hatinya sangat sakit, ini yang dia takutkan jika pertanyaan nekad itu dia tulis begitu saja. Respon yang tidak diharapkannya akan sangat melukai perasaannya.

Hyuk Jae menggeleng " Lee Donghae, aku tidak gay, hanya kebetulan saja aku menyukai seorang pria dan kebetulan juga itu dirimu. Kalau kau menolak tidak apa, tapi tolong jangan menghina perasaanku padamu. Dia sungguh tidak bersalah dalam hal ini" suara Hyuk Jae terdengar sangat memilukan dia tak bisa mengontrol gejolak rasa sakit yang diciptakan Donghae untuknya. Hyuk Jae hanya jatuh cinta pada Lee Donghae, melihat senyuman Donghae sejak kecil membuatnya terbiasa dan dia telah menyadarinya, dia memang jatuh cinta sekalipun Donghae adalah seorang pencuri kelas atas. Apa ada aturan hukum bahwa polisi tak boleh jatuh cinta pada seorang pencuri? Hyuk Jae telah jatuh terlalu dalam pada pesona seorang pencuri bernama Lee Donghae.

Hyuk Jae hanya mematung disana, kemudian dia meninggalkan Donghae saat pria itu tak buka suara lagi. Donghe menarik paksa Hyuk Jae masuk kedalam apartemennya, kemudian menutup pintu itu rapat-rapat. Hyuk Jae menatap Donghae dengan bingung.

" aku mau " Donghae bergumam mungkin hanya dirinya sendiri yang bisa mendengarnya.

" apa?" Hyuk Jae mendekat kearah Donghae hanya untuk mendengarkan gerak bibir pria itu.

" aku akan menjadi pacarmu".

" kau kasian padaku?"

" tidak"

" kurasa kau tak benar-benar menyukaiku"

" ya, itu benar. Tapi aku akan mencobanya denganmu" Hyuk Jae terdiam, dia juga bingung harus berbuat apa sekarang. " ada apa dengan wajahmu" Tanya Donghae lagi, saat Hyuk Jae hanya mematung ditempatnya.

" ini hasil dari tugas yang aku jalani hari ini" Donghae hanya mengangguk, dia tak mau bertanya lebih dalam.

" duduklah, kau bisa menginap disini"

Donghae mengambilkan air es untuk mengompres luka Hyuk Jae, dia meletakkanya begitu saja diatas meja.

" kau tidak romantis sekali" kata Hyuk Jae sambil mengompres lukanya sendiri. " kau tak perlu bantuan" Donghae terdengar sangat cuek. Donghae membuka sebungkus coklat yang kemarin diberikan Hyuk Jae untuknya. " ini untukmu!" Donghae menyuapi Hyuk Jae tiba-tiba hingga reflek saja dia membuka mulutnya, namun setelahnya pria dengan wajah lebam itu tersenyum menampilkan gigi dan gusinya.

.

Hyuk Jae tak tau harus bersikap apa dia malam ini, dia sedikit canggung karena beberapa jam yang lalu baru saja berpacaran dengan Lee Donghae. Tapi pria itu seperti tidak peduli padanya, dia sekarang sedang membaca buku entah apa dan Hyuk Jae tak mengerti mengapa dia terus saja menatapnya. Hyuk Jae bisa saja memainkan ponselnya atau menyalakan tv yang telah berdebu ini. atau mungkin yang lebih menantang dia bisa merayu Donghae, membisikan pria itu dengan kata-kata romantis, tapi sepertinya tidak karena mereka sesama lelaki , atau mungkin dia bisa saja mencium pria itu dengan lembut kemudian mereka bisa menjadi lebih dekat dan romantis. Ya, itu jika otak Hyuk Jae tak berpikir dengan benar. Mereka baru saja berpacaran dan Hyuk Jae sudah berpikir melakukan hal-hal seperti itu.

" kau merasa bosan?" Donghae masih membalik-balik halaman bukunya.

" iya kurasa sedikit" Hyuk Jae menghela nafas

" tidur saja, lukamu akan cepat sembuh ketika tertidur"

Hyuk Jae hanya menurut saja, dia membaringkan badannya disamping Donghae yang masih sibuk membaca. Tempat tidur sederhana yang cukup untuk 2 orang itu terasa nyaman dan hangat untuk Hyuk Jae, aroma khas Lee Donghae tertempel di selimut juga bantalnya Hyuk Jae sangat menyukainya. Tanpa perlu waktu lama, matanya mulai terasa mengantuk dan dia menuju kealam mimpinya, bagaimanapun badannya juga terasa remuk setelah bertugas tadi.

Donghae tersenyum dibalik bukunya, ini kesempatan emas karena orang yang menjadi targetnya sangat dekat sekali dengannya. Bodoh sekali memang seorang Hyuk Jae itu, dia tak tau bagaimana Donghae dan rencananya, dimana polisi dengan strategi tak tertebaknya. Kenapa mudah sekali menipunya dengan sedikit kata cinta didalamnya, untuk pertama kalinya Donghae merasa bersyukur karena Hyuk Jae menyukainya, dan itu membuat misinya semakin mudah.

Donghae memastikan bahwa Hyuk Jae sudah benar-benar tertidur, kemudian dia mengeluarkan senjata yang tadi sore diambilnya. Dilihatnya wajah Hyuk Jae untuk terakhir kali sebelum dia mati di tangan Donghae. Donghae tersenyum iblis perlahan tapi pasti pria itu menempelkan pistol itu dikepala Hyuk Jae. 1 detik…2 detik…3 detik… Donghae hampir saja melepaskan anak pelurunya, namun Hyuk Jae bergerak ditidurnya, Donghae panik dia meletakan pistol itu dilaci diamping tempat tidur Hyuk Jae, Donghae telah mengamankan peluru tersebut ketika menyembunyikannya agar Hyuk Jae tak curiga.

Hyuk Jae terbangun karena merasa tubuhnya terhimpit, saat dia membuka mata dia melihat dada Donghae telah berada di atas wajahnya sementara tangannya terulur di laci, dia tak tau apa yang sedang Donghae lakukan.

" apa yang sedang kau lakukan?" Donghae sedikit terkejut karena Hyuk Jae terbangun. " aku lupa dimana meletakan ponselku, makanya aku mencarinya" ucapnya dengan tenang, dia mendorong pistol itu masuk lebih dalam lalu menutup laci tersebut, Hyuk Jae mendudukan dirinya bersandar pada kepala ranjang sehingga ketika Donghae menolehkan wajahnya dia langsung berhadapan dengan tatapan mata Hyuk Jae. Donghae mematung disana, Hyuk Jae terlihat begitu tampan jika sedang serius.

Entah punya keberanian dari mana Hyuk Jae menarik punggung Donghae agar semakin dekat dengannya. "bolehkah aku menciummu?" Donghae masih kaget, dia tak mengangguk ataupun menggeleng namun sudah terlanjur karena bibir Hyuk Jae telah menempel dengannya, sekalipun dia menggeleng sekarang Hyuk Jae mungkin saja tak akan melepaskannya. Bibir itu kemudian melumatnya dengan sangat pelan, dengan sedikit berani dia memasukan lidahnya kedalam mulut Donghae, pria yang lebih pasif hanya mengikuti nalurinya untuk membuka mulut ketika lidah Hyuk Jae terasa memaksa dengan ketukan halus di bibirnya.

Semakin lama ciuman itu terasa semakin manis untuk Donghae, dia tak bisa menahan dirinya untuk tidak membalas ciuman itu Hyuk Jae memang handal dalam bidang ini. Donghae melingkarkan lenganya disekitar leher Hyuk Jae, mendorong pelan kepala itu untuk menciumnya lebih dalam. Kupu-kupu seakan menari-nari dalam dadanya begitu menyesakan dan menyenangkan. Donghae tak pernah berpikir untuk melepaskan ciuman itu, namun Hyuk Jae melepaskannya membuat Donghae sedikit merasa kecewa, pemuda dengan senyum gusi itu tersenyum lembut pada Donghae yang terlihat muram, Hyuk Jae hanya mau membenarkan posisi mereka yang terasa tak nyaman kemudian dengan lembut lagi Hyuk Jae mencium kembali kekasihnya itu, dengan irama yang masih terjaga dimenit-menit pertama namun untuk selanjutnya benteng Hyuk Jae roboh, dia tidak bisa mengontrol dirinya sendiri dan perasaannya untuk seutuhnya memilik Donghae. Hyuk Jae benar-benar tidak bisa.

Hyuk Jae sekarang telah berada dileher Donghae dia mengecup leher itu sesekali, kemudian menyesapnya pelan, dia tak mau membuat Donghae terganggu dengan warna kemerahan dilehernya maka dia turun lebih bawah lagi mengira-ngira tempat itulah yang tak akan terlihat oleh banyak orang, Hyuk Jae menyesapnya dan memberikan tanda cinta disana. Tangannya turun lagi menuju dada bidang Donghae dia bisa merasakan dua tonjolan kecil dibalik kaus tipis yang digunakan kekasihnya itu, dia mencoba menyentuhnya dengan sangat pelan membuat Donghae bergetar. Hyuk Jae hanya ingin memastikan bahwa namja itu tak menolak, namun dia semakin tak peduli ketika melihat ekspresi sensual saat Hyuk Jae terus saja menyentuh tonjolan itu. Hyuk Jae brutal dia membuka kaus tipis itu dengan sedikit paksa karena Donghae menolaknya, namun setelah berhasil mendapatkannya Hyuk Jae tak bisa melepaskannya. Hyuk Jae berkali-kali bergumam meminta maaf pada Donghae namun dia terlalu buta untuk berhenti. Hyuk Jae tak bisa lagi mengendalikan dirinya ketika pria dibawahnya menggelinjang karena sentuhannya. Tanganya beralih ke tonjolan lainnya kemudian memainkannya, dia benar-benar gila oleh Donghae terlalu gila bahkan.

Donghae tak pernah berpikir akan melakukannya sejauh ini, tapi tanda cinta didadanya membuatnya tak bisa menolak, entah pergi kemana iblis pembunuh dalam dirinya tadi. Merasakan hangat dan halusnya sentuhan seorang polisi yang katanya sialan itu, membuatnya tak bisa berhenti, dia merutuki dirinya karena tak bisa menolak, atau dia memang menginginkannya. Yang jelas Donghae sudah tak bisa berpikir logis, urusan membunuh Hyuk Jae bisa dia pikirkan belakangan, yang dia inginkan hanyalah sentuhan jari jemari Hyuk Jae, lelaki itu sedikit mengerang ketika Hyuk Jae kembali mengulum jakunnya dan memberikan kecupan di bibirnya. Mereka berhenti sesaat, hanya saling berpandang Hyuk Jae dengan tatapan penuh cintanya, Donghae bisa merasakannya dia pencuri yang masih punya hati tentunya, disana didalam mata Hyuk Jae dia bisa merasakan kehadiran cinta. Hyuk Jae punya cinta untuknya,Hyuk Jae membelai wajah Donghae membuat Donghae memejamkan mata menikmatinya. Tunggu, kenapa dia harus menikamatinya dia tak boleh melakukan itu untuk seseorang yang akan dibunuhnya, baru saja Donghae akan membebaskan dirinya dari polisi itu, tapi terlambat karena polisi sialan itu berhasil menggenggam titik sensitive Donghae yang berada diantara selangkangannya. Membuat Donghae tak bisa berkutik ataupun melawan. Donghae bisa melihat pria itu menegang sangat keras namun masih tertahan oleh celana yang dikenakannya.

Donghae tak peduli tentang dirinya gila atau tidak, dia hanya ingin menuntaskannya dengan segera. Donghae menjambak rambut Hyuk Jae ketika dirasakannya lidah itu menyantuh ujung kejantanannya membuat Donghae bergetar dan mengerang sekaligus, temponya semakin cepat tiap detiknya dan dia tak bisa menahan erangan yang keluar dari mulutnya.

" H..yuuuk menyikirlahh!" katanya ketika dirasa cairannya akan segera keluar, namun Hyuk Jae seakan tak peduli lagi dia terus mempercepat temponya bahkan sampai Donghae merasa benar-benar diujung dia mengeluarkan cairannya didalam mulut Hyuk Jae. Dia tersenyum lembut, dia mencium Donghae dibibir membagi cairan itu untuk diraup mereka berdua, entah kenapa Donghae tak menolak dan hanya ikut memangut bibir Hyuk Jae. Rasanya sungguh tidak adil ketika dia melihat tonjolan diantara selangkangan Hyuk Jae terus berdiri. Hyuk Jae tak pernah meminta Donghae untuk memuaskannya, tapi ini semua dorongan alami dari dirinya, disela-sela ciuman mereka Donghae menjepit tonjolan itu dengan lututnya membuat Hyuk Jae menghentikan aktifitasnya.

" aku tak apa…" bohong. Donghae sangat tau pria itu tersiksa dengan ini. " berhenti bicara dan mari kita lanjutkan" kali ini Donghae yang menciumnya dengan penuh gairah sementara lututnya menggesek bagian bawah pria itu, Hyuk Jae mengerang ketika sentuhan Donghae kelewat sensual untuknya. Donghae mendorong dada Hyuk Jae membuat posisi mereka berbalik, dengan segera dia melepaskan celana yang masih menempel di kejantanan Hyuk Jae. Sentuhan Donghae benar-benar membuat Hyuk Jae senang, meskipun sesekali dia terkekeh karena Donghae terlihat belum berpengalaman. Hyu Jae klimaks agak lama dan Donghae mulai merasa pegal dimulutnya, dia mengganti peran mulutnya dengan tangan kemudian mengocoknya dengan cepat, hingga tak beberapa lama pria itu klimaks juga.

Hyuk Jae tersenyum ketika melihat mereka berdua berkeringat, dia tak mau melakukan yang lebih dulu karena dia masih menghargai Donghae. Kejadian tadi asli kecelakaan dan kecerobohan egonya, lagipula Donghae terlihat telah kelelahan, dia memutuskan menannyakannya lain waktu. Hyuk Jae tidur berhadapan dengan Donghae, menyisir rambut-rambut Donghae menjadi hobi barunya manatap manik mata itu menjadi kebiasaannya sekarang, Hyuk Jae mengecup bibir Donghae sebelum dia tertidur.

" aku mencintaimu ".

.

TBC

Fiuh.. dikeroyok banyak tugas karena udah mau UN buat frustasi juga ya, ditambah galo gara-gara SS6 ( curhatan gak penting). ngomong-ngomong makasih yang udah review ya kalian membuat aku lebih semangat lagi ^^