Huaaahhh... i'm coming...
Akhirnya setelah terbebas dari segala macam yang namanya kesibukan, ada waktu juga untuk nerusin fic gaje satu ini. Maaf saya telat update, reader. Mau ngetik aja Susah banget, selalu ada halangan. Fiuh..
Nah, tak lupa saya ucapkan terimakasih untuk yang sudah meripyu fic ku ini, sekedar membaca juga saya ucapkan terimakasih. Dan ripyu readers saya bls via Pm aja ya. Hehehehe...
Daripada banyak ngomong yang bisa berujung curhat dadakan, langsung aja saya persembahan fic abal ini untuk para readers, sekaligus meramaikan blantika FBi.^^
Happy reading...
Disclaimer : Bleach…suatu saat pasti jadi milikku *dideath-glare tite kubo*
Warning : AU, OOC, abal, gaje, nista, typo pasti masih ada banyak, alur kecepetan, dan temukanlah keanehan lainnya di fic ini..
Rate : T aja deh, cari aman…
.
.
.
WHERE EVER YOU ARE
By
Relya Schiffer
.
.
Suara teriakan yang diiringi dengan umpatan itu terus terdengar dari balik diNding. Soifon berdiri tegak dengan kepala tertunduk. Rambut hitam pendeknya terurai dengan poni yang menutupi bagian mata perempuan bertubuh imut itu. Dibelakangnya, Ulquiorra menatap punggung perempuan mungil itu dengan tatapan datar. Namun jika diperhatikan dengan seksama, ada ekspresi lain yang menyorot dari mata berwarna emerald itu. Sepasang suami istri berambut gelap tampak duduk dengan lesu di salah satu kursi panjang yang mengisi lorong Las Noches.
"Siaallllll... Heeeiiiiii... keluarin aku dari siniii... siaaalllll..."
Lagi. Untuk kesekian kalinya, suara teriakan itu membuat kepala Soifon makin menunduk. Hatinya terasa sangat sakit saat mengenali suara itu. Ya, suara itu. Suara Ggio. Suara sahabat yang amat disayanginya. Suara yang berisi kesakitan, amarah, juga keputus-asaan. Suara yang tak pernah ingin didengar Soifon dengan nada seperti itu. Suara yang tak seharusnya berasal dari salah satu ruangan di Las Noches─sebuah rumah sakit rehabilitasi bagi para pecandu obat-obatan terlarang.
Tangan mungil Soifon terkepal kuat. Rahangnya mengatup erat seiring dengan sepasang mata abu-abunya yang terasa semakin panas, memaksanya untuk mengeluarkan cairan hangat dari sana. Ulquiorra yang masih terdiam akhirnya beranjak, menghampiri Siofon dan membalikkan tubuh mungil itu. Ia agak menundukkan kepala dan mengangkat wajah Soifon dengan tangannya yang besar. Mau tak mau, Soifon pun mengangkat wajahnya, membuat ia bertatapan langsung dengan pemuda berambut hitam itu. Dan di sepasang mata hijau yang terkesan dingin itulah Sifon menemukan kepedulian.
"Seorang Soifon tetap butuh menangis. Seorang Soifon, tidak seharusnya memendam kesedihan seorang diri hanya karena ingin dianggap kuat." kata Ulquiorra pelan. Ditatapnya mata sahabatnya itu lebih dalam. "Menangislah.." lanjutnya tegas.
Soifon hanya terdiam. Ia mengalihkan tatapannya dari permata hijau itu. Ia menundukkan kepala kembali. Namun tak lama setelahnya, kedua bahu perempuan dengan rambut dikepang itu berguncang, diiringi dengan isakan kecilnya yang tertahan. Menyayat, dan sangat pedih. Mengutarakan seberapa sakit hatinya sekarang ini. Ulquiorra menghela nafas pelan. Biarpun sering tak sepaham, tapi Soifon adalah sahabatnya. Karena itulah Ia langsung melingkarkan lengan kukuhnya, memeluk sosok mungil dihadapannya dengan lembut. Seolah yang dipeluknya adalah patung porselen yang begitu mudah hancur. Tak berbeda dengan perasaan Soifon, Ulquiorra pun merasa sedih. Bagaimana tidak? Siapa orang yang tidak sedih jika harus menyaksikan sahabat yang amat disayangi menghuni rumah sakit rehabilitasi seperti Las Noches? Siapa yang tidak sedih jika orang terdekat mereka menjadi pesakitan dan tak bisa mengendalikan diri sendiri─hanya bisa mengumpat, menjerit, dan berteriak tak karuan?
Soifon masih menangis. Air matanya bahkan membasahi kaus putih yang dipakai Ulquiorra. Ingatannya melayang pada kejadian beberapa saat yang lalu, saat pertama kali ia menemukan Ggio. Kepedihannya pun membuncah, menjadi penyebab isakannya terdengar semakin jelas. Membuat gadis manis itu mencengkeram erat kaus Ulquiorra lantaran tak bisa mengendalikan emosi.
.
.
.
Siang itu, Soifon datang ke rumah Ggio bersama Ulquiorra. Mereka ingin mencari tahu tentang Ggio. Sesampainya di rumah sahabatnya itu, ternyata rumah besar Ggio kosong. Tak heran. Kedua orang tua Ggio─Uryuu Ishida dan Nemu Ishida─memang sangat sibuk dan jarang berada di rumah. Ayahnya adalah seorang dokter yang terkenal, sedangkan ibunya sibuk dengan bisnis berlian. Kedua kakak Ggio telah bekerja di luar negeri dan menjadi orang sukses. Sebagai anak bungsu yang biasanya mendapa limpahan kasih sayang, Ggio termasuk sosok yang kesepian. Di rumahnya hanya ada pelayan yang tentu saja tak bisa memenuhi peran keluarga yang ia butuhkan.
Ya, benar. Bagaimana pun pelayan tak bisa memberikan kasih sayang yang biasa seharusnya diberikan oleh keluarga. Dan siang itu, Soifon sangat heran. Rumah Ggio sangat sepi. Tak ada orang. Pelayan yang selalu menyambut tamu pun tak ada. Tapi anehnya, rumah besar yang mewah itu tak terkunci. Perasaan tidak enak menyergap Soifon begitu kuat. Ia langsung menghambur masuk, tak peduli dengan Ulquiorra yang sedang masih berada di pelataran. Perempuan bertubuh pendek itu memanggil-manggil nama Ggio dengan suara keras. Rumah besar yang sepi itu hanya memantulkan suaranya sendiri sebagai jawaban. Soigfon semakin cemas. Ia segera berlari menaiki tangga menuju lantai atas. Dilihatnya pintu kamar Ggio terbuka. Perasaan Soifon kian membuncah. Segera dilangkahkan kakinya menuju kamar itu. Dan sesampainya di ambang pintu, perempuan berambut pendek itu langsung terpaku. Matanya terbelalak. Ia terperangah hebat melihat apa yang ia saksikan.
"G-gio?" ucapnya terbata.
Ya, Ggio telah ditemukan.
Pemuda itu sedang meringkuk di sudut ruangan, tepat di sebelah lemari besar yang isinya berhamburan keluar. Kamar pemuda bermata emas itu pun tak lebih baik dari kapal karam─sangat berantakan. Bermacam benda terhampar tak beraturan. Berbagai pecahan pun tak luput menghiasi seluruh lantai kamar yang biasanya rapi itu. Ada cutter kecil digenggaman tangan Ggio. Dia bahkan tak menyadari kehadiran Soifon, karena dia sedang sibuk dengan dunianya sendiri. Dia sibuk menghisap darah yang keluar dari luka di pergelangan tangannya dengan buas. Mata pemuda periang itu pun tak lagi berbinar lincah.
Saat itu, Soifon rasanya ingin menjerit. Tapi ia masih berusaha mengendalikan diri. Ia segera menghambur dan bersimpuh dihadapan Ggio. Meraih cutter dari tangan sahabatnya itu dan membuang benda tajam itu sembarangan. Ia langsung menarik tubuh Ggio yang ternyata sudah sangat dingin dan menggigil.
"Ggio? Apa yang kamu lakukan? Kenapa kamu jadi seperti ini? Apa yang terjadi? Katakan, Ggio! Ggio?"
Tak ada sahutan. Ggio tetap asyik dengan kegiatannya. Ia semakin mengulum lengannya dengan beringas, seolah mendapatkan kenikmatan dari darahnya sendiri. Hati Soifon teiris. Didorongnya tubuh pemuda itu dan dipukulnya pipi Ggio dengan keras. Berusaha menyadarkan sahabatnya itu.
Dan berhasil.
Ggio tampak melupakan sejenak kegiatan anehnya. Perlahan, ia menatap Soifon. Tak ada keramahan yang memancar dari mata emasnya. Hanya ada keresahan, kesakitan dan keputus-asaan disana. Air mata Soifon nyaris jatuh seiring dengan suara lirihnya yang terucap.
"Kenapa...? Kamu kenapa...? Apa yang terjadi padamu...Ggio Vega?"
Untuk pertama kalinya, Soifon mengucapkan nama itu, nama asli Ggio. Sepasang mata emas Ggio tak bereaksi atas panggilan itu. Ia malah mengalihkan tatapannya pada cutter yang tergeletak cukup jauh. Ia berusaha meraihnya, tapi Soifon tak membiarkan. Perempuan itu tahu pasti apa yang sedang terjadi pada Ggio─ketergantungan. Seperti yang pernah menimpa kakaknya dulu. Karena itu Soifon malah mendekap Ggio─yang sebenarnya sudah lemah, entah sudah berapa banyak darah yang ia hisap demi memenuhi hasratnya─ dengan erat. Ggio memberontak, tapi Soifon tak menyerah. Air matanya jatuh saat ia mendengar teriakan dari sosok yang didekapnya.
"Lepaskan aku, Soifon! Lepaskan aku! Lepaskannnn!" pemuda berkepang itu terus memberontak dari pelukan Soifon. "Kamu harus cari Nnoitra! Cari dia! Aku butuh dia, Soifon! Lepaskan akuuuu!"
Soifon tak bergeming. Bukan hal mudah menenangkan orang yang sedang dilanda ketergantungan terhadap salah satu obat-obatan. Ia masih tak bergeming ketika dirasanya Ggio menggigit lengan kirinya agar dilepaskan. Soifon hanya bisa menjerit kecil. Air mata terus menganak sungai di pipinya. Ia tak peduli pada rasa sakit itu. Rasa sakit di hatinya lebih besar sekarang ini. Sangat tak tertahankan.
Ggio tak berhasil melepaskan diri. Akhirnya ia terkulai lemah dalam pelukan Soifon. Nafasnya memburu, seiring dengan keringat dingin yang menetes dari dahinya. Tubuhnya makin menggigil. Ia hanya bisa mencengkeram erat lengan mungil yang telah berjuang meredakan kebrutalannya.
Bibirnya bergerak pelan ketika ia mengucapkan satu kata dengan suara mendesis.
"S-sakit..." sepasang mata Ggio terpejam lemah. "S-sakit...Soifon..."
Soifon tak lagi bisa menahan kepedihan yang menghatamnya begitu kuat. Ia hanya bisa menumpahkan kepedihan itu dihadapan Ggio yang telah kehilangan kesadaran. Saat itulah, Ulquiorra muncul. Pemuda itu hanya terpaku melihat Siofon dan Ggio, juga kondisi kamar sahabatnya yang teramat sangat berantakan. Satu hal langsung dapat dimengerti pemilik mata hijau itu. Apa yang selama ini ia takutkan, akhirnya terjadi.
.
.
.
Tangan pucat Ulquiorra terkepal erat. Sepasang matanya menyorot tajam ketika seraut wajah terlintas di benaknya. Wajah yang menjadi penyebab utama dari semua ini. Wajah dari orang yang membawa dendam maa lalu, dan kini menjadikan Ggio sebagai pelampiasan dari dendam itu. Satu nama, yang harus bertanggung jawab atas semua kepahitan yang menimpa Ggio─Nnoitra Jiruga.
"Ulquiorra, Soifon."
Suara seorang wanita yang memanggil membuat Ulquiorra menoleh. Soifon pun melepaskan diri dari pelukan sahabatnya dan berusaha menghapus air mata di pipinya dengan punggung tangannya sendiri. Mereka menatap Nemu Ishida yang sedang menatap balik dengan sendu. Gurat gurat kelelahan dan penyesalan nampak di wajah Uryuu Ishida yang dibingkai kacamata.
"Kami mau pulang dulu." ujar wanita itu. "Kalian juga sebaiknya pulang."
"Ini adalah tempat terbaik bagi Ggio. Biarkan dia mendapat perawatan yang baik disini." tambah Uryuu Ishida sambil merangkul istrinya.
Ulquiorra menyadari intensitas ketajaman dalam sorotan mata Soifon ketika menatap sapasang suami istri Ishida itu. Dan ketika perempuan mungil itu hendak mengucapkan sesuatu, Ulquiorra langsung menahan dengan menggenggam tangannya. Pemuda itu membungkukkan kepala penuh hormat.
"Baik." sahutnya singkat.
Nemu Ishida sempat tersenyum tipis pada kedua sahabat putra bungsunya itu sebelum ia dan suaminya beranjak. Mereka meninggalkan Las Noches dengan diantar tatapan tajam Soifon. Ulquiorra sangat mengerti arti tatapan itu.
"Jangan emosi dulu, Soifon. Menyalahkan mereka hanya akan memperburuk keadaan." ucap Ulquiorra datar.
Soifon tak menyahut. Ia hanya membalikkan tubuhnya. Saat itulah ia melihat Neliel dan Grimmjow berdiri di ujung lorong, menatap ke arahnya dan Ulquiorra dengan tatapan penuh kepedihan. Keduanya melangkah pelan mendekati pemuda dan perempuan yang sama-sama berambut hitam itu. Tatapan Nel langsung tertuju pada sisa air mata di wajah Soifon. Grimmjow sendiri menatap Ulquiorra.
"Bagaimana kondisi Ggio?" tanyanya.
Ulquiorra bahkan belum sempat membuka mulut ketika suara teriakan kembali menggema, seolah menjawab pertanyaan Grimmjow.
"Siiiaaallllll...Nnoitraaaaa...Kemana kauuuu? Ssiallllll...! Heiiiiiiiiii...Siapa punnn... lepaskan aku dari sisiii...! Heeeiii! Siaalllllllll!"
Grimmjow tak lagi bertanya. Ulquiorra pun tak perlu menjawab. Nel langsung meraih Soifon yang kembali terisak pedih mendengar suara itu. Air mata perempuan bertubuh pendek itu belum benar-benar kering. Ia harus kembali menangis. Dan sekarang ditambah dengan tangisan Nel.
Ggio Vega adalah anak bungsu dalam keluarga Ishida. Nama belakangnya berubah setelah ia diadopsi pasangan suami istri Uryuu dan Nemu Ishida. Usianya masih muda, 20 tahun. Ia bahkan masih lebih muda dari ketiga temannya yang hampir berusia 21 tahun. Ggio memang terbilang anak yang cerdas dengan IQ di atas rata-rata. Uryuu pun memiliki rencana pendidikan yang matang bagi putra bungsunya itu─menyekolahkan Ggio di luar negeri dalam bidang kedokteran agar kelak bisa menjadi dokter yang hebat seperti dirinya. Memang terlalu arogan, tapi Uryuu menilainya sebagai kasih sayang. Ia sangat memikirkan masa depan Ggio, sekalipun keinginan pribadi Ggio tidak dilibat dalam masa depan itu.
Sayang, rencana yang telah disusun sedemikian rupa itu hancur ketika Ggio memilih Universitas Karakura dengan jurusan akuntansi. Alasannya simpel, ia ingin kuliah atas kemauannya sendiri. Selama tahun pertama, Uryuu terus membukuj Ggio agar mau pindah ke Universitas yang telah ditentukan ayahnya itu. Tapi Ggio tetap bersikeras. Apalagi ia telah memiliki sahabat yang baik seperti Nel, Ulquiorra, Grimmjow dan Soifon. Terlebih ia sekelas dengan Soifon. Keinginan Ggio untuk melanjutkan pendidikan di Universitas itu pun semakin besar.
Sejak saat itu, Uryuu mulai menekan Ggio dalam berbagai hal. Semuanya ia lakukan agar Ggio mau menuruuti keinginannya. Sayang, Ggio bukanlah orang yang penurut dan mudah terpengaruh. Semakin ia ditekan, semakin ia akan memberontak.
Satu-satunya kelemahan dan kesalahan fatalnya adalah berhubungan dengan Nnoitra Jiruga. Sebenarnya Ggio tidak begitu peduli dengan pria berambut gondrong itu. Tapi satu kalimat yang diucapkannya membuat penilaian Ggio berubah.
"Hei, kau tidak mau tahu siapa aku, Ishida? Mengapa aku bisa tahu banyak tentang Ulquiorra, Grimmjow dan juga Neliel? Apa kau juga masih tak peduli jika aku bilang bahwa Soifon dulu adalah mantan kekasihku, eh?"
Sejak Nnoitra mengucapkan kalimat itu, rasa penasaran Ggio kian memuncak. Tanpa ia sadari bahwa rasa penasaran itulah yang akhirnya membuatnya jatuh dalam jebakan Nnoitra. Membuatnya tak sadar bahwa Nnoitra telah mengubahnya, dari seorang pemuda supel yang periang menjadi seorang pecandu narkotika.
"Sebaiknya aku menemani Soifon saat ini." Neliel membuka suara saat ia dan ketiga sahabatnya berada di lokasi parkir Las Noches. "Aku pinjam mobilmu, Ulqui. Kau pulanglah bersama Grimmjow." lanjut perempuan bermata hazel itu.
Ulquiorra mengangguk sambil menyerahkan kunci mobilnya pada Nel. Sejenak ia menatap Soifon yang telah berada di dalam Escudo hitamnya dengan tatapan khawatir. Perempuan bermata abu-abu itu tampak sangat terpukul, melebihi mereka bertiga. Mungkin hanya wanita yang bisa mengerti perasaan wanita lain dengan sangat baik.
"Hati-hati, Nel." ucap Grimmjow sambil memberikan kecupan di kening pacarnya itu. Nel hanya mengangguk.
Setelah mobil hitam itu berlalu, Ulquiorra dan Grimmjow melangkah menuju Kawasaki Ninja biru milik Grimmjow. Ketika mereka telah siap meninggalkan Las Noches, Ulquiorra berkata datar.
"Aku ingin ke rumahmu, Grimmjow."
Sekalipun telah memakai helm, tapi Grimmjow masih bisa mendengar kata-kata itu dengan sangat jelas. Keningnya bertaut.
"Eh? Mau apa kau ke rumahku?" tanya pemuda berambut biru cerah itu heran.
"Jangan banyak tanya!" sergah Ulquiorra.
Grimmjow menyeringai kecil, "Mau bertemu Hime-chan, ya?" ledeknya usil.
Ulquiorra tak menyahut. Grimmjow hanya tertawa kecil. Raut wajah serius sahabatnya itu selalu membuatnya ingin meledek Ulquiorra.
"Baiklah. Akan ku bawa kau ke rumah ku, calon adik ipar." keusilan Grimmjow kian menjadi.
Masih tak ada sahutan dari Ulquiorra. Mata emeraldnya memancarkan sorotan aneh ketika motor Grimmjow melaju meninggalkan pelataran parkir Las Noches. Untuk saat ini, mereka akan mempercayakan Ggio pada dokter-dokter di rumah sakit itu.
Orihime kembali gelisah dalam tidurnya. Wajah pucatnya dihiasi butiran keringat yang mengucur deras dari dahi gadis manis itu. Genggaman erat tangan mungilnya seakan menggambarkan ketakutan tak terperi yang sedang ia rasakan. Ya, bahkan dalam tidur pun, ketakutan itu terus menghantui pemilik rambut berwarna senja itu dalam wujud mimpi buruk yang terus berulang.
.
.
.
.
.
Pria berambut perak itu menatap wanita berambut blonde bergelombang yang berdiri dihadapannya dengan mata terbelalak. Kemudian Pria itu menatap nanar pada darah segar yang menyembur dari luka tusukan yang merobek perutnya. Cairan merah menetes dan menyembur dari luka itu. Tak butuh waktu lama untuk membuat pria bermata sipit itu terkapar di lantai rumahnya yang telah berubah warna. Merah. Bersimbah darahnya.
"Ke-kenapa...R-ran...chan?" desis pria itu de sela-sela nafasnya yang terputus.
Wanita itu menatap sosok yang tergeletak tak berdaya dengan datar. Tak ada yang rasa bersalah yang terpancar di mata abu-abunya. Tak ada ekspresi sedih di wajahnya, padahal yang tersimpuh di bawah kakinya adalah suaminya sendiri. Wanita itu justru berlutut di samping tubuh pria itu, membuat terusan putihnya terciprat cairan merah ketika pria berambut perak itu memuntahkan darah lebih banyak lagi. Dia mengangkat benda tajam di genggamannya tinggi-tinggi, tepat di atas tubuh suaminya.
"Aku menyayangimu...Gin." ucapnya pelan. "Tak ada yang bisa menyayangimu, sebaik aku..."
Dan tanpa peduli pada ekspresi pria sekarat itu, wanita berambut panjang itu pun menghujamkan benda di tangannya dengan keras. Cairan merah kehitaman kembali memuncrat seiring dengan jeritan pilu yang mengoyak kegelapan malam.
"Tiddaakkkkkk...!"
.
.
.
.
.
TBC
fIUH...KELAR...
Nee...reader...
Bagaimana, bagaimana? Cukup menghiburkah? Kepenekan kah? Hiks..jadi pengen cepet-cepet punya Lapy..
Trus, Typo msh banyak kah? Aih...gomenne...
Niatnya hari rabu mau update lagi. Doakan semoga tak ada halangan yaa..
Okeh, trakhir...Mind to ripyu?^^
