Awal mula..

Hah.. hah.. hah..

Hinata berhenti berlari.

Terengah-engah sambil memegangi gerbang KHS yang sudah tertutup rapat.

Terus mengatur nafasnya sambil menggerutu. Tanpa sadar seseorang memperhatikannya.

"Neji-nii benar-benar keterlaluan kali ini.. hah.. sudah sopir diliburkan dengan alasan gak jelas.. hah.. mobilku yang katanya di bengkel lagi di servis.. hah.. terus gak mau disuruh buat ngantar aku lagi.. hah.. kaa-chan juga tak membantu hanya dengan kikikan gelinya itu.. hah.. menyebalkan.. sudah tau ini hari pertama aku masuk sekolah.. hah apa-ap-"

"Berisik.."

Gerutuanya terputus kala ia hampir saja pundung di depan gerbang sekolah.

Melihat ke samping bawah.

Sepatu sekolah yang bisa dikategorikan mewah dengan warna biru gelap, celana yang sama dengan seragam bawahnya, juga kemeja itu sama dengannya.

Siswa Konoha High School. Hinata membulatkan matanya.

Di depannya ini bukan siswa biasa tapi sepertinya adalah siswa yang luar biasa.

Lihat saja jika keseluruhan terlihat persis sekali seperti berandalan sekolah meskipun berandalan ini masih bisa dikatakan bersih.

Dan Hinata tahu kalau ia menggerutu dengan cepat tapi tidak keras. Kenapa pemuda di depannya ini bisa terusik.

Melihat name tag juga tak ada pada tempatnya Hinata jadi susah memanggilnya.

Kalau Hinata sih sudah lengkap dari atas sampai bawah juga rapi, kan dia ingin memberi kesan baik saat pertama masuk sekolah. Tapi Hyuuga Neji mengacaukannya.

"Kau juga terlambat. Hah.. Setidaknya aku tidak mendapat hukuman sendiri.. baiklah, ayo masuk."

Hinata berkata sambil melihat-lihat ke dalam arena KHS.

"Kau saja sendiri.." Hinata berpaling dengan cepat dan melihat ke arah laki-laki itu. Wajah bosan itu menghiasi si surai raven.

Saat laki-laki itu hendak berbalik dan melangkah pergi Hinata dengan cepat menahan tangannya lebih tepatnya menyeret lengan kemeja laki-laki itu.

"A-ayolah ini kan hari pertama masuk sekolah. Dari pada membolos lebih baik kita masuk dan meminta keringanan.." Ucap Hinata memberanikan diri.

"Keh.. dan mempermalukan diri di sana.. lebih baik aku pergi."

Laki-laki yang tak di kenal Hinata akan membalikkan diri jika saja Hinata terus menarik lengan kemejanya.

"T-Tidak bisa. Setidaknya temani aku masuk ke dalam." Ujar Hinata kembali melihat arena sekolah yang sepi.

"Tidak." Jawaban datar, tegas. Tapi Hinata tak gentar.

"Ayolah.. aku ingin masuk.." Hinata mengungkapkan keinginannya.

"Seharusnya seorang Hyuuga akan masuk lebih gampang bukan." Senyum sinis tertera pada laki-laki itu menatap Hinata.

"M-maksud mu.." Hinata berusaha tenang. Hinata tak terkejut bagaimana pemuda itu tau nama keluarganya.

Apa gunanya name tag sobat.

"Kau tau maksudku Hyuuga." Lagi, sinis.

"Aku tidak tau siapa kau ya. Tapi yang penting kau harus tau kalau aku masuk ke sekolah ini bukan dengan jalur rendahan itu melainkan asli murni dari jerih payahku sendiri. Tak menggantungkan dengan nama keluargaku. Sekarang ayo masuk dengan tenang."

Jelas Hinata panjang lebar.

"Cih.. Tidak.." Kokoh jawabannya.

"Kau akan membolos? Ayolah bantu aku masuk ke dalam." Rengek Hinata lagi.

"Kau menjaminkan apa memang?" Seringai terbit di bibir pemuda itu.

Hinata menatap horor dan menarik jemarinya yang sedari tadi melekat pada kemeja pemuda itu.

"Apa kau memperhitungkan soal membantu seseorang ha? Jangan bercanda padaku.. dan sekarang cari cara agar kita bisa masuk ke dalam.. ah tanpa mu juga tak apa yang penting aku bisa masuk!"

Kejadian yang tak di sangka-sangka.

Hinata menarik kerah pemuda itu yang sedang memasang raut wajah terkejut karena tingkah Hinata yang tiba-tiba.

Tak lama dengan terkejutannya pemuda itu kembali menormalkan ekspresinya. Datar.

'Menarik..'

Satu kata dalam fikiran pemuda itu sambil memperhatikan Hinata yang menatapnya tajam.

Hinata menyadari jaraknya dengan pemuda itu sudah dikatakan kurang dari satu jengkal. Tapi emosi menguasai dirinya.

"Baiklah.. ikut aku." Ucap pemuda itu tiba-tiba dan menarik pergelangan Hinata dengan cepat.

"K-kemana?" Mulai cemas.

"Kau bilang ingin masuk." Datar.

"T-tapi gerbangnya di dep-" Terpotong.

"Berisik." Datar.

Mereka berdua berjalan mengendap-endap ke samping sekolah.

Hinata tak tahu ini di mana tapi sepertinya masih lingkungan sekolah. Fikirannya berkelana ke mana-mana.

"Naik." Datar.

"A-apa maksud mu.. kau ingin aku memanjat dinding ini? Memang di atas sana tidak terlihat penghalang kaca atau paku tapi tetap ini terlalu tinggi tau."

"Dasar pendek. Kemari." Mengejek. Datar.

"Apa?! pendek katamu?! Dan sekarang kau ingin aku naik ke tangan mu ha?!"

Hinata nyaris menjerit kalau saja Hinata tidak sadar kemungkinan akan ada yang penjaga lewat.

"Cepat." Datar.

"Sabar kenapa.. dan hentikan nada datar mu.. lama-lama kau sama datarnya dengan dinding ini, tuan.."

Hinata menyiapkan mentalnya dan pemuda itu yang memutar matanya bosan.

"B-Berjanjilah tidak mengintip.." Ucap Hinata sedikit bergetar sambil mulai berpegangan pada bahu pemuda itu dan dinding.

"Hn."

"Awas kalau bohong." Hinata mulai menaikkan kakinya pada tangan pemuda itu yang kemudian mengangkatnya.

"P-pelan-pelan. Aku takut jatuh."

"Tidak akan." Tanggapan datar.

Setelah sampai di ujung dinding dengan susah payah Hinata memindahkan kakinya kebagian dalam dinding agar dapat berbicara dengan pemuda itu dengan tenang tanpa takut di intip.

"Yeay.. di bawah sini ada bangku.. aku bisa turun.. terima kasih um.. ano..?"

Hinata melihat ke arah laki-laki itu yang sudah menggadahkan kepalanya menatap Hinata.

Sejenak Hinata melihat onyx yang tajam itu dan terpesona.

Melihat laki-laki itu dari atas memiliki kesan tersendiri bahkan Hinata sampai bersemu.

"Ku terima ucapan 'terima kasih' mu, tapi.. mulai besok hari-hari mu tidak akan tenang Hyuuga."

Seringai yang lebar itu muncul sampai-sampai membuat Hinata merinding.

Saat pemuda itu berbalik akan pergi Hinata ingin mengatakan apa maksud pemuda itu dan ke mana akan pergi. Apa pemuda itu akan bolos.

Pertanyaannya hanya angan ketika pemuda itu tiba-tiba berbalik, lagi.

Dan kalimat selanjutnya membuatnya nyaris melepaskan pegangannya pada ujung dinding.

"Ah.. Uchiha Sasuke, ingat itu Hyuuga." Seringai masih ada dan Hinata yang jantungan.

》TBC