"Ini kamarmu. Ini kuncinya." Tenten menyodorkan sepotong kunci dan menaruhnya di telapak Haruka. "Barang-barangmu sudah kutaruh ruang tamu. Kalau mau keluar kamar, tolong pintunya dikunci."

Haruka mengangguk. "Boleh tinggalkan aku beberapa menit?" tanya Haruka sopan.

"Oh, tentu. Silahkan." Gadis bercepol dua itu meninggalkan kamar beserta Haruka-nya, menutup pintunya. "Kalau ada apa-apa bilang saja, ya. Nanti keluar untuk makan siang!"

Sudah, selesai. Tenten pergi, pintu dikunci. Kini tinggallah Haruka sendiri. Haruka melepas wig panjang lurusnya dan mengepas lensa kontaknya hati-hati. Kembali menjadi Gaara! Dilepasnya t-shirt lengan panjang marun yang sedari tadi melekat di kulitnya. Membiarkan tubuhnya telanjang dada, lalu merebahkan diri di atas tempat tidur.

Sudah. Setelah itu apa? Tapi Haruka— Gaara— tidak bisa berlama-lama di kamar ini. Keluarlah cepat, dan buat semuanya terlihat normal. Tapi ia sangat mengantuk... tidur sebentar, ya? Toh pintunya dikunci. Lima menit memejamkan mata.

Tepat sebelum matanya terkatup, suatu perasaan sesak memenuhi dadanya. Ada rasa tidak nyaman. Ada rasa cemburu.

Takumi sekamar dengan orang lain.

Bodoh, memangnya ia bisa sekamar dengan Takumi, apa? Dengan kondisi seperti ini mungkin diperbolehkan. Rambut yang sama-sama merah, bersentuhan di atas beledu, lalu...

Ugh. Jangan berpikiran kotor!


Sexchange; is Lolicon

(Naruto and both of chara belong to Masashi Kishimoto)

-Aya pinjem doang, yak, Om Kishi^^-

(Warning: OOCs, sudut penceritaan pindah-pindah)

(Pairing: GaaHina)

(Rated: T... semi M?)


Sasuke berjalan mendahuluinya, sedangkan Takumi mengikutinya dengan canggung. Ini terasa... aneh. Sudah sebesar ini dan Sasuke tidur sendiri? Mungkin anak itu diistimewakan. Sasuke membuka pintu kamarnya dan menampakkan ruangan tidur 3x4 yang... biasa saja, dan yeah, di sana hanya ada satu ranjang.

Tidaaaak.

"Taruh barang-barang di lantai, ya," celetuk Sasuke datar. Takumi mengernyit dan tersenyum kecil. Memangnya ia bakal menaruh ranselnya di atas lemari, apa?

"Oke."

Sasuke mengangkat bahu, tapi tidak beranjak dari kamarnya. Ia malah naik ke atas tempat tidurnya dan meraih rubik, mulai memainkannya. Memutar balok warna. Sial. Anak itu tidak keluar untuk makan, apa? Bagaimana Takumi bisa ganti baju kalau kayak gini?

"Tidak... ke ruang makan?"

"Kau saja."

Nggak pake embel-embel 'Kak', pula, gerutu Takumi dalam hati.

Takumi tidak tahu harus berbuat apa. Maka ia duduk di tepian ranjang, memerhatikan jemari lentur Sasuke menggeser-geser potongan rubik agar membentuk satu kesatuan warna yang utuh. Jujur, Takumi bahkan tidak tahu cara memainkannya. Merusaknya sih, bisa.

"Apa kau... dekat dengan anak lain?"

Sasuke menatapnya galak, tidak, lebih tepat tajam. Tatapannya seolah mengunci gerak mata Takumi agar tidak ke mana-mana. Apa-apaan ini? Sasuke menatap, menatap, menatap... sampai Takumi mengira Sasuke bisa melihat ke dalam isi otaknya.

Sasuke menghentikan tatapan tajamnya, dan menyipitkan mata.

"Sedang mikirin apa?"

Takumi kebingungan. "Keluargaku."

"Bohong."

Ugh.

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Takumi pelan.

Cowok raven itu mengangkat bahu. Ia kembali disibukkan oleh rubiknya. Sementara itu Takumi berusaha menenangkan mentalnya. Duh. Jadi ini rasanya bergaul dengan anak-anak berkemampuan khusus seperti ini? Tenten tabah sekali. Tapi Tenten tidak pernah merasakan sekamar dengan anak indigo, kan?

"Siapa namamu?" tanya Takumi lebih lembut.

"Aku... Sasuke Uchiha."

"Uchiha?"

Andai Takumi seekor kelinci, mungkin sekarang telinganya sudah berdiri. Rasanya ada yang familiar dari Uchiha. Oh, ya! Seperti keluarga kawan baik ayahnya, atau teman golf kakak sepupunya. Tapi Sasuke siapanya? Pikirkan nanti saja, deh.

"Maaf kalau aku mengganggu."

"Tidak apa-apa."

Takumi canggung. Padahal ia sudah amat gerah. Dan penat yang menetes-netes dari pelipisnya hanya memperburuk keadaan. Ah! Ganti baju di kamar mandi saja! Sambil mengeluarkan t-shirt dan jeans baru dari ranselnya (termasuk beberapa set pakaian khusus wanita dan pembalut itu, yang disembunyikan di balik t-shirt-nya) Takumi keluar ruangan dan mencari kamar mandi.

.

.

"Tok tok tok."

Tidaaaak!

Gaara melompat dari tempat tidurnya, sepenuhnya sadar. Disambarnya wig indigo miliknya dan dipakainya cepat-cepat. Memakai wig itu agak lama karena harus memasang penjepit-penjepit lintingan di dalam wig, ditambah sambil terburu-buru gini, sangat nggak banget. Istilahnya. Bajunya! Gaara mengambil t-shirt longgar yang ada di lantai dan memakainya. Cepat, sebelum si pengetuk pintu curiga.

Selesai sudah. Gaara, kembali menjadi Haruka, membuka kunci kamar dan mendapati seorang gadis kecil 7 tahun tersenyum lebar kepadanya. Kata Tenten, namanya Shizuka. Manis sekali.

"Haruka-san, ayo ke ruang makaaan," ajak Shizuka ceria.

Anak-anak ini tidak pernah diajarkan berkata 'Kakak', ya?

.

.

10.40

"Sehabis makan siang, biasanya anak-anak langsung ke aula buat belajar prakarya dan sosial. Aku yang ngajar, tapi kalau sibuk biasanya pakai jasa guru privat," jelas Tenten pada Takumi dan Haruka yang diajaknya jalan-jalan keliling asrama. "Mereka belajar seperti sekolah reguler biasa, materinya bebas. Terkadang dari internet. Tapi..." ia terdiam sejenak. "Aku tidak yakin kalian nggak bakal kaget waktu lihat apa yang mereka pelajari."

"Seperti apa?" tanya Takumi ringan.

Tenten menatapnya, seolah ada sesuatu yang janggal. Takumi tersentak. Apa nada suaranya tadi terdengar seperti perempuan? Untungnya, Tenten tidak curiga terlalu lama.

"Aku menyesuaikan materi pelajaran dengan tingkat kemampuan mereka masing-masing. Lihat saja sendiri."

Aula yang disebut Tenten itu memang berupa... aula... yang berukuran sebesar ruang makan tadi. Heran, dari depannya saja bangunan ini terlihat mungil tapi dalamnya lapang. Tidak ada kursi atau bangku di dalam aula, sebagai gantinya terdapat karpet bulu terhampar di lantai. Anak-anak itu duduk di atasnya.

Mereka memerhatikan proses belajar anak-anak. Mereka semua terlihat ceria—berwarna, hanya Sasuke yang ekspresinya tetap datar. Karena bosan, Takumi menghampiri Sasuke yang duduk bersilang sambil bersandar di tembok. Ia bisa merasakan Haruka yang memandang aneh ke arahnya.

"Kau tidak suka belajar?"

Sasuke menatap Takumi sekilas, sehingga cowok—eh, gadis—itu memerah. "Tidak," jawabnya singkat.

Takumi terpaksa ikut melihat apa yang ada di kertas coret-coretan Sasuke. Dan seketika, ludahnya tertelan. Sinting. Ini soal matematika untuk anak kelas 1 SMA! Ia bergidik.

"Kau belajar sejauh ini?"

"Memangnya kenapa?"

Balasan Sasuke tadi terasa seperti sindiran, bukan pertanyaan. Takumi memutar bola matanya. Wow. Jadi inilah pemandangan-pemandangan ajaib yang disuguhkan ke depan muka Tenten setiap harinya. Melihat anak 12 tahun belajar sin... sin apa entahlah.

Sejam kemudian, aula tersebut bertransformasi menjadi kelas seni yang dipenuhi seniman kecil. Tenten mengajari mereka melukis pemandangan yang ada di luar jendela. Gadis kecil yang namanya Shizukaitu menghampiri Haruka dan memamerkan lukisannya. Cuma sekotak jendela, pohon-pohon dan atap rumah.

"Bagus, kan?" katanya bangga. "Aku pasti dapat nilai 95 nanti."

"Aku pikir kau bisa dapat 100," komentar Haruka datar.

Shizuka melonjak-lonjak kegirangan. Haruka melunak. Anak-anak ini kelihatan... polos, lugu sekali. Diliriknya Takumi di sampingnya. Dan untuk pertama kalinya, ia melihat Takumi tersenyum padanya.

Wow.

"Anak-anak ini manis... Iya, kan?" tanya Takumi ringan.

Haruka mengangguk canggung, meskipun ia berpendapat sama. Memang manis, tapi yang paling manis di atas semua ini adalah Takumi sendiri. Menurutnya.

Berhenti memikirkan dia, Bodoh.

Lamunannya terhenti ketika Shizuka mengguncang-guncangkan tangannya kembali. "Yang ini bagus, nggak?" Ia menunjukkan karya keduanya. Seekor kucing berwarna biru.

"Apa dia sedang kedinginan?" komentar Haruka, sekadar mencairkan suasana yang kini sepertinya mengarah padanya. Tenten berhenti mengajar. Ia dan anak-anak lain memandang Haruka dan Shizuka dengan senyum bersahabat.

Shizuka tertawa senang.

Kemudian diam.

"Ada apa?"

Ruangan aula itu berubah sunyi. Semua orang berhenti bicara, hanya mematung tanpa suara. Haruka menitikkan keringat. Anak-anak lain menatapnya sambil menahan nafas, Tenten tercengang, sementara Shizuka berubah—menjadi menatapnya dengan tajam. Sungguh, bahkan bola matanya mengelam. Tatapan matanya berubah galak. Ada apa ini?

Hening.

"Kau," bisik Shizuka lamat-lamat.

Suaranya seperti bukan suara dia. Tapi lebih mirip suara rendah, dingin, berat, dan serak. "Kau. Kau adalah Sabaku no Gaara. Kau bukan Arizume Haruka sama sekali. Dan sejauh apapun kau menghindarinya, kau tidak bisa mengelak takdirmu. Ingat itu!"

.

.

10.47

"Kau... bicara apa?" tanya Haruka cemas.

Takumi yang sejak tadi tertegun, kini mulai meraih pundak anak kecil itu dan mengguncang-guncangkan bahunya. "Sadarlah," gumamnya. Dan Shizuka mengedipkan matanya.

"Ada apa?" tanyanya polos. Diedarkannya pandangan ke semua orang. Semua orang tercengang memandangnya, dan memandang Haruka.

"Apa... dia sering seperti ini?" tanya Takumi pelan pada Tenten yang kembali biasa seperti semula."

Tenten tersenyum prihatin. "Ya. Dia suka menceracau sendiri, bahkan dalam kondisi terjaga sekalipun. Dia seperti... meramal," ia memelankan suara pada kata terakhir. Tenten melemparkan pandangan pada Shizuka. "Tapi biasanya hanya bertahan beberapa detik."

Shizuka masih kebingungan. "Memang tadi aku kenapa?" gumamnya bingung. Takumi menggeleng-gelengkan kepala.

"Tidak ada apa-apa."

"Tapi kenapa kalian diam?"

"Diam saja."

Haruka menarik nafas lega. Tegang. Tadi barusan Shizuka mengucapkan nama aslinya. Entah bagaimana caranya. Bagaimana caranya? Dan apa mereka penasaran atas nama tadi?

"Eh, tapi," Tenten angkat suara lagi. "Tidak pernah aku mendengar Shizuka menyebut seseorang bukan dengan nama aslinya. Apa dia mendapat bayangan bahwa kau adalah Gaara yang menyamar? Sabaku no Gaara yang hilang itu?"

Haruka menegang. Diliriknya Takumi dan ditatapnya Shizuka yang balas menatapnya polos, seolah bertanya.

"Aah, aku kebanyakan baca novel Sherlock Holmes. Mungkin ini hanya kebetulan," kata Tenten lagi. Ia mengibaskan tangan di depan wajahnya. Kemudian, Tenten mengalihkan perhatian pada anak-anak yang masih terbengong-bengong di belakangnya. "Hei, hei. Ayo belajar lagi."

.

.

16.12

Sore yang indah di Hanami.

"JANGAN MALAS! MANDIMANDIMANDI!"

Tenten marah karena anak-anak asuhnya kini memulai aksi ngambek-ngambekan, menolak untuk mandi. Ia gerah. Mereka lebih suka bermain kejar-kejaran daripada mandi. Bahkan Sasuke yang diam saja pun lebih tertarik mendekam di kamarnya.

Haruka, yang sedang ada di ruang tengah itu juga bersama Takumi—sialnya—melirik Tenten yang putus asa. Ia melihat Tenten kemudian duduk di sebelahnya, di samping sofa.

"Sekarang sudah jam 4 sore. Mereka memang malas bila disuruh mandi. Miris sekali. Sekarang mereka nggak bakal mau mandi sampai jam 5," gerutunya. Haruka menegakkan tubuh.

"Bagaimana kalau aku yang minta mereka?" tanya Haruka datar. Nyaris tidak ada ekspresi apapun di wajahnya. Dalam hati ia berharap semoga Tenten mengira Haruka punya suara alto.

Tenten menatapnya takjub. "Aku berharap padamu, Haruka-san."

Kemudian, Haruka bangkit dari sofa. Ia pergi entah ke ruangan mana. Kini, di sebelah Tenten hanya ada Takumi. Dia sedang mengutak-atik laptop dan mengetik sesuatu. Namun, sekarang ia mengangkat wajah dari laptop-nya.

"Tenten-san?"

"Ya?"

"Sasuke itu orang yang... bagaimana?"

"Kenapa kau menanyakan hal seperti itu?" tanya Tenten balik, terkejut.

"A-aku..." Takumi tergagap. "Hanya... merasa familiar."

"Oh," Tenten termangu. Ia menatap sekeliling sebelum melanjutkan perkataannya. "Sasuke itu... dia agak lain dari anak lainnya. Dia itu..." gadis bercepol dua itu terdiam sejenak. "Pendiam. Dia bisa membaca pikiran lebih tajam dari teman-temannya. Makanya dia selalu merasa berbeda."

Takumi mengangguk-angguk. Hmm. Jadi ini alasannya.

"Kau ingin bertanya kenapa marganya Uchiha, kan?" sambar Tenten ketika melihat Takumi akan membuka mulut lagi.

"Ee..."

"Aku menemukannya waktu dia masih berumur kurang dari setahun, di atas keranjang bayi bersama surat yang berisi permohonan akan... sesuatu. Seperti mengurus bayi itu. Ya, keluargaku mengurusnya," kata Tenten pelan. "Setelah ayahku mengelola asrama ini, kupindahkan saja Sasuke ke Hanami sekalian. Ah. Seharusnya rahasia anak asuh seperti itu tidak kuceritakan sekalian."

Takumi terdiam.

"Ada masalah, Takumi-san?"

"Sepertinya aku... kenal dengan marganya," balas Takumi setelah beberapa saat. "Dan s-setahuku mereka hanya punya... satu anak..."

Tenten mengernyit.

"Oh ya?"

"Mereka tidak mau," kata Haruka datar yang tiba-tiba muncul entah dari mana. Ia memegang rambutnya, terlihat seperti menyisir rambut dengan tangan padahal sedang memberesi wignya.

Haruka. Jelas sekali kulit kepalanya gatal-gatal karena wig indigo lembut dan lemas itu. Ia merinding membayangkan jika wig ini berasal dari rambut manusia asli yang telah mati. Huh. Mungkin ia akan terkutuk selamanya.

Tapi kata Naruto, wig ini tidak dibuat dari rambut mayat. Jadi ia aman.

"Aku akan mencuci piring," kata Haruka karena tidak ada yang bicara lagi.

"H-Haruka-san! Tunggu!" sela Takumi ketika Haruka berjalan melewatinya. Cowok meragukan itu bangkit dari sofa dan berjalan menghampirinya. Dan atas dorongan aneh yang ia tidak mengerti, Takumi menjulurkan tangannya, untuk menyentuh wajah Haruka.

Terlalu cantik, dan Haruka memejamkan matanya.

"Ada s-sesuatu di matamu..." Takumi menyingkirkan debu berbulu yang mampir di wajah Haruka. "Apa... apa mereka memukulmu dengan bantal?"

"Ya. Terima kasih atas kejelian matanya," tandas Haruka ketus. Disentakkannya tangan Takumi dari wajahnya. "Tapi aku tidak butuh perhatianmu."

Ia hanya butuh menyendiri, sambil mencuci piring, memikirkan untuk membiarkannya tumbuh atau membunuh perasaan itu sampai mati.

Takumi tertinggal di belakangnya.

"Haruka... Gaara..."

.

.

22.00

Sekarang malam. Waktunya tidur, seharusnya. Takumi duduk bersila di atas lantai beralas karpet bulu yang sama seperti yang ditemukannya di aula, online lewat laptop-nya. Ia belum memutuskan untuk tidur di atas kasurnya atau tidak, soalnya di situ juga ada Sasuke. Jangan-jangan nanti ia juga harus tidur di karpet bulu ini.

"Sedang apa?"

"Hah?"

Takumi mendongak. Sasuke menatapnya, bukan, ke arah layar laptop seolah menebak-nebak apa itu. "Itu apa?"

"Laptop."

"Untuk apa?"

"Membantuku mengerjakan tugas kuliah."

Sasuke mengangguk sekali. Ia turun dari kasur dan duduk di atas karpet bulu, di samping Takumi. Aroma pemuda kecil ini berbau cologne yang tidak asing. Ia merinding.

"Kamu... pakai parfum?"

"Tidak."

"Baumu... khas sekali."

Sasuke mendelik padanya. Takumi merinding lagi. "Tadi aku makan permen."

Mungkin yang ia maksud itu permen mint. Takumi gantian mengangguk. Sasuke pasti punya selera yang khas dalam memilih permen mint. Aromanya benar-benar keciri.

Sasuke mendelik lagi padanya.

"Ada apa?" tanya Takumi siaga.

"Ano," gumamnya. Ditutupnya laptop Takumi tiba-tiba. Takumi terkesiap. "Jujur saja, kau itu perempuan, kan?"

.

.

22.04

"K-kau bicara apa?" tanya Takumi dengan nada seremeh mungkin. "Aku laki-laki. Bukan perempuan."

Rasanya lucu bila berbohong pada hal yang jelas-jelas benar. Giliran Sasuke yang tertawa. Takumi rasanya ingin mengumpat-umpat di hati.

"Waktu kecil aku pernah melihatmu, aku hafal wajahmu," kata Sasuke penuh kemenangan. "Namamu Hinata Hyuuga. Bukan Kuro Takumi."

"Kapan?" tanya Takumi lagi.

Tenten bilang, cewek itu menemukan Sasuke di umur kurang dari setahun. Berarti bila mereka pernah bertemu, tentunya di saat Sasuke masih bayi. Bayi? Dan Sasuke mengaku sudah mengetahui wajah Hinata Hyuuga sebelumnya?

Oh, yeah. Sudah Tenten bilang, Sasuke itu menakjubkan.

Takumi menutup kelopak matanya, yakin setelah ini Sasuke akan mengatakan hal bernada, 'buktinya ada pembalut di tasmu' atau semacamnya. Tapi ternyata Sasuke malah berkata, "buktinya, wajahmu terlalu cantik buat seorang cowok."

Blush!

"Kau... juga tahu tentang Hyuuga?" suara Takumi memelan.

"Ya. Mereka teman bisnis ayahku."

Takumi menghela nafas. Ia menatap Sasuke putus asa, masih dengan rona merah parah di wajahnya, kemudian dengan hati-hati membuka penjepit wignya. Melepas wig merah gatal itu dengan satu gerakan mudah. Rambut indigo panjang meluncur turun ke punggungnya. Dilepasnya lensa kontak itu hati-hati.

Sasuke memerhatikannya dengan biasa.

"Tolong jangan... bicara pada siapa-siapa. Ya?" pinta Takumi yang kini sudah berubah menjadi Hinata. "Aku takut..."

"Kamu takut Tenten akan melaporkan keberadaanmu pada Neji, kan?" sela Sasuke datar.

"... Ya."

Sasuke naik lagi ke atas kasurnya. Hinata membuka lagi laptop-nya. Untung tidak rusak. "Tenang saja."

.

.

22.04

Gaara mengendap-endap keluar dari kamar. Wignya ditanggalkan. Asrama itu kini sunyi... dan gelap. Semua orang sudah masuk kamar, dan itu berarti semua orang sudah tertidur. Ia bisa leluasa mengambil air minum dari dapur.

Lampu dapur dimatikan. Gaara meraba-raba dinding, mencari tombol lampunya, lalu menekannya tanpa suara. Diisinya botol minum yang tadi dibawanya dengan air minum dari dispenser.

Selesai. Ia menutup botol minumnya dalam satu ceklikan. Kemudian mematikan lampu ruangan pelan-pelan. Ia berjalan kembali menuju kamarnya.

Tapi, tunggu. Seperti ada suara-suara.

Ditempelkannya telinganya pada pintu kamar Sasuke hati-hati, tempat di mana Takumi juga tidur. Apa mereka belum tidur? Gaara berubah gelisah. Mereka itu...

Mereka tidak boleh sedekat itu, tidak boleh.

Terdengar suara Sasuke. "Jujur saja, kau itu perempuan, kan?"

.

.

23.11

LadyHyuu: masih terjaga?

Notagal: lupa bahwa aku itu manusia nokturnal?

Hinata tertawa. Sasuke di sebelahnya mengerutkan dahi. Berkedut-kedut. Masih kecil, padahal, tapi ia sudah merasa cemburu.

"Hinata-san, lawan bicaramu itu siapa?" tanyanya jengkel.

"Nama aslinya Gaara," kata Hinata sambil tersenyum lebar.

"Sabaku no Gaara?" tebak Sasuke to the point.

"Eh?"

Hinata terdiam. Ia sendiri tidak tahu.

"Tanyakan saja," usul Sasuke.

LadyHyuu: Gaara, kalau boleh tahu siapa namamu?

Lama ada balasan. Kemudian...

Notagal: rahasia.

Ah. Rahasia-rahasia lagi. Toh Hinata tidak tertarik menyelidikinya lebih lanjut. Ia memilih untuk menanyakan hal lain—tapi ternyata Gaara sudah menanyakannya duluan.

Notagal: kamu kenal cewek yang hilang? yang orangtuanya sudah mengadakan sayembara di internet?

Hinata nyaris tersedak saking kagetnya. Apa itu dirinya? Kejutan besar. Dan sayembara. Aduh.

LadyHyuu: tidak. memangnya kenapa?

Notagal: aku cuma berpikir, ada temanku yang mirip cewek itu. sepertinya dia memalsukan beberapa identitas klannya. siapa tahu kapan-kapan aku bisa menyergapnya dan membawa dia ke hadapan Hiashi Hyuuga. Hehehe.

Senyum lega Hinata berubah menjadi telanan ludah. Ternyata benar, "cewek hilang" itu dirinya. Tapi, siapa cewek yang dimaksud Gaara itu "temannya"? Bukan dirinya, kan?

"Aku pikir sebentar lagi penyamaranmu bakal terbongkar," komentar Sasuke pendek. Hinata terlonjak. Baru sadar ada Sasuke di sebelahnya.

"Yah..."

"Sudah ada banyak orang yang tahu siapa kau sebenarnya," lanjut Sasuke. "Termasuk... temanmu itu."

.

.

Catat: Sasuke pintar membaca pikiran.

.

.

To be continued.


Sori kalo (lagi-lagi) berakhir dengan aneh. _ _

Banyak typo, ya? Maklumin aja, keyboard lagi rusak #plak #cari alasan jadi banyak huruf yang ilang-ilangan.

dan yang paling parah: UPDATENYA LAMA! DX MAAFIN SAYA!

ririrea: kapan ya? kapan-kapan #duagh ini juga masih dipikirin. maunya sih chapter depan kalo belum keisi ide lain==v #doubleduagh

review?