Cast: Seonho, all Wannaone members terutama Minhyun dan Guanlin, Minki, dan lain-lainya (masih kejutan heheheh)
Pairing: Guanlin x Seonho, Minhyun x Seonho, ? x Seonho
Genre: Comedy, romance, your typical cliché fluff romantic crossdressing fic :)
.
.
.
"Woah woah woah, tunggu dulu, gimana? Jadi mereka tiba-tiba nelpon dan nawarin itu semua ke kamu? Begitu aja?"
Dari kursi di depan kaca, Seonho melirik Minki yang sedang mengutak-atik ponselnya di sofa pojok ruangan.
"Sales majalah meningkat sampai sepuluh kali lipat. Foto-foto mereka juga jadi trending topic di twitter, naver dan search portal lainnya. Para petinggi sangat bersemangat melihat dampaknya dan positif proyek-proyek baru ini akan membuahkan efek yang serupa, atau paling tidak itu yang dikatakan representatif Vogue waktu meeting penandatanganan kontrak minggu lalu," ujar Minki monoton, teramat kontras dengan wajah berbinar-binar yang dipasang Hyungseob.
"Wahh... Ahreum udah jadi superstar sekarang…"
Seonho menghela napas, segera membantah, "Itu cuma karena Wannaone-nya kali. Aku rasa kalaupun pakai model cewek lain juga bakal sama hasilnya. Kebetulan aja yang dipake aku."
"Iih, kok malah lesu! Walaupun kamu bilang cuma kebetulan, keberuntungan itu juga bakat tau. Coba dipikir, kamu bisa jadi model juga karena kebetulan kan? Dan buktinya sekarang masih berlanjut dan bahkan makin terkenal. Kalo gak ada bakat dan potensi, nggak mungkin bisa sampai sejauh ini. Pedean dikit dong! Minki-hyung juga, tumben diem. Biasanya yang paling cepet ceramah kalo Seonho lagi begini."
"Capek, Seob-ie," jawab Minki sembari meregangkan ototnya. "Semenjak photoshoot bareng Wannaone meledak, banyak banget yang mau ngebook Ahreum buat segala macem job. Padahal kan kita cuma terima tawaran yang fashion-related. Entah udah ke berapa orang aku harus ngulang-ngulangin penjelasan…"
Hyungseob mengangguk pelan, akhirnya mengangkat kembali kuas yang sedari tadi dianggurkannya untuk lanjut merias wajah Seonho. "Apalagi ntar kalo iklan kalian keluar, dijamin makin banyak tawarannya… Oh ya btw, itu iklan kamu bakal shooting sama semua member?"
Seonho buru-buru menggelengkan kepalanya. "Cuma sama dua orang yang waktu itu photoshoot bareng."
"Tadinya sih pihak Vogue mau request nambah Kang Daniel sama Ong Seongwoo, tapi jadwal mereka bentrokan. Kalau memang mau harus sekaligus ambil semua member katanya–"
"Hiiih, nggak, amit-amit!" Teriakan Seonho menyela ucapan Minki. "Dua orang aja udah ganas begitu fansnya, apalagi bareng semuanya, bisa beneran mati muda aku."
Kedua Hyungnya bertukar pandang sambil tersenyum geli.
"Dari tadi nyebutnya 'dua orang' terus, udah hafal belom namanya? Diinget-inget lho, kalian kan bakal kerjasama untuk tiga bulan kedepan."
Sang remaja langsung membusungkan dadanya bangga. "Udah dong! Pertama-tama aku kebalik-balik terus, kirain yang namanya Minhyun itu yang suaranya ngebass terus Guanlin yang mukanya kaya rubah. Habis Minhyun-ssi lebih kelihatan kayak orang Cina sih, hehe~ Tapi sekarang aku udah jadi ahli pakar Wannaone!"
"Pfft, apaan. Ngucapin nama 'Lai Guanlin' aja masih salah-salah terus sampe kemaren," ejek Minki, membuat Seonho merengek malu dan Hyungseob tertawa lepas.
.
Di sebuah apartment di suatu tempat di Seoul, Hwang Minhyun menggunakan kelingkingnya untuk mengorek telinga yang tiba-tiba terasa gatal. Suara ketukan pintu menghentikan aktivitasnya.
"Masuk."
"Hyung, disuruh siap-siap sama Hyunjin-Hyung, bentar lagi kita berangkat."
Mendengar nama sang manager, Minhyun beranjak bangun dari kasurnya. "Oke. Makasih Guanlin."
Guanlin mengangguk lalu berjalan pergi, memberi privasi kepada Minhyun untuk berganti baju. Tak lama kemudian namanya kembali dipanggil. Ia mengambil tas selempangnya kemudian balas menyahut sambil meninggalkan kamarnya.
"Hari ini selain photoshoot kalian juga bakal shooting video promosi untuk miniseries. Seselesainya kita langsung nyusul yang lain buat recording album baru," jelas Hyunjin–salah satu manager Wannaone–dalam perjalanan menuju lokasi pemotretan.
Minhyun hanya bisa membalas dengan gumaman, masih sedikit tidak percaya bahwa mereka benar-benar akan melakukan begitu banyak projek dengan Han Ahreum. Memang untuk klien-klien yang ternama, tetapi menurutnya manajemen juga seharusnya memperhitungkan dampak negatif dari sisi fans.
Atau mungkin dirinya yang terlalu khawatir.
Buktinya, Han Ahreum tetap mengambil pekerjaan ini. Member-membernya juga lebih fokus menggoda mereka daripada berkomentar tentang reaksi para fans. Dan Guanlin juga nampak bersemangat melakukan kegiatan hari ini. Mudah ditebak bahwa Han Ahreum meninggalkan impresi yang sangat baik kepada remaja asal Taiwan tersebut. Sejujurnya, kepada Minhyun juga.
Yah, mungkin memang sebaiknya ia tidak berpikir terlalu jauh. Lebih baik dibawa santai dan dilakukan secara profesional saja. Toh, ini hanya sebatas pekerjaan, kan?
Pekerjaan yang cukup memanjakan mata, bahkan. Ahreum mengenakan busana berwarna cerah dan make-up yang lebih ringan kali ini, memberinya kesan manis dan ceria. Jika di pertemuan pertama dia terlihat anggun dan dewasa, kini sang model nampak seperti gadis remaja yang lugu.
"Senang berjumpa lagi dengan kalian," sapa Ahreum riang ketika mereka semua sudah berkumpul di set. Minhyun membalasnya dengan kalimat serupa dan senyuman ramah, sementara Guanlin menampilkan 'gummy smile' andalannya. Ah, anak ini nampaknya betul-betul senang.
Guanlin menganggukkan kepalanya, namun apa yang selanjutnya keluar dari mulutnya bukanlah ucapan salam, melainkan, "Ayam goreng."
Mata Ahreum membulat, dan setelah mencerna maksud Guanlin barulah ia tertawa, mengangguk-angguk geli. Jikalau senyum Guanlin bertambah lebar sedikit lagi saja, Minhyun curiga mulutnya akan sobek.
Tak banyak waktu untuk berbasa-basi karena mereka segera disiapkan untuk memulai pemotretan. Sepertinya Guanlin tidak perlu membayangkan Ahreum sebagai ayam goreng hari ini, melihat konsep mereka mengarah ke 'casual and friendly'. Bagaikan langit dan bumi dari sensualitas photoshoot yang lalu.
Setelah bergiliran mengambil gambar dan video solo, tiba saatnya shooting bersama untuk iklan miniseries di media sosial. Arahan dari sutradara adalah untuk bertingkah seakrab mungkin. Sedikit jauh dari image cool yang dimiliki Minhyun dan Guanlin, juga image chic Ahreum. Namun sang gadis dengan cepatnya mengajak mereka bercanda, mencairkan suasana. Tak lama kemudian ketiganya sudah bercengkrama bagaikan di dunianya sendiri.
"Cut! Okee, selesai," seru sutradara seusai mereka melambai-lambai ke arah kamera. Seketika seruangan dipenuhi dengan suara para kru membersihkan set dan merapikan alat-alat, mengucapkan 'good work' kepada satu sama lain. "Eitss, jangan pulang dulu ya. Habis ini kita pergi makan."
Dari kata-kata yang digunakan, apa yang baru saja diungkapkan sutradara Lee bukanlah ajakan, melainkan keharusan.
"Aku ingin kita semua saling mengenal, agar bisa menciptakan atmosfir yang seru dan menyenangkan. Kalau kita melakukan pekerjaan dengan senang hati, pasti para penonton juga dapat merasakannya. Karena itu, ayo. Aku yang traktir."
Di tengah sorakan, Minhyun menatap ke arah managernya yang hanya bisa mengangkat bahu. Memang rencana awal adalah pergi ke tempat recording secepat mungkin, tetapi mengucilkan diri dari suasana yang terlanjut penuh semangat seperti sekarang tidak akan terpancar baik di mata staff lainnya.
Dan dengan pertimbangan itulah ia menemukan dirinya duduk di antara managernya dan Guanlin, berhadapan langsung dengan Ahreum. Ahreum, yang lagi-lagi nampak berbeda dengan hoodie biru muda dan celana adidasnya. Minhyun tidak menyangka pakaian casual sang model akan begitu sederhana. Entah mengapa justru membuatnya kagum. Santai dan cenderung tomboyish, namun tetap terlihat apik dikarenakan tubuhnya yang proporsional.
Tetapi yang lebih mengagumkan, yang membuatnya sulit melepaskan mata dari gadis dihadapannya, bukanlah hanya penampilannya. Melainkan caranya membungkus samgyubsal dan nasi dengan daun selada air untuk kemudian dijejalkan kedalam mulut tanpa dosa. Yang dibuatnya bukan bungkusan rapi berukuran sedang seperti yang biasa dilakukan oleh kaum wanita pada umumnya; apa yang Ahreum ciptakan lebih tepat disebut gumpalan kalori. Dan gumpalan demi gumpalan dilahapnya tanpa ada tanda akan berhenti. Dia terus mengunyah seperti chipmunk yang menyimpan stok makanan di dalam pipi, sesekali bersenandung dan bergoyang senang menikmati kelezatan masakan.
"Ahreum-ssi sepertinya sangat lapar ya?" sutradara Lee bertanya. Minhyun tahu pria itu bermaksud menggodanya, namun bukannya merasa malu, Ahreum malah mengeluarkan suara persetujuan dan mengangguk penuh semangat.
"Banget! Aku baru makan satu kali hari ini, daritadi perutku keruyukan," jelasnya setelah menegak segelas air.
"Haha, kenapa bisa begitu? Sedang diet kah? Walaupun melihatmu sekarang… sepertinya tidak, hahaha!"
Ahreum ikut tersenyum, kemudian melirik ke orang di sebelah kirinya. "Min–managerku melarangku makan siang tadi. Katanya supaya perutku nggak menjembul."
Minhyun, sedang mengunyah, tersedak karena gagal menahan tawanya. Ia terbatuk-batuk sambil tertawa, melambaikan tangannya untuk menyampaikan bahwa ia tidak apa-apa. Nampaknya tak ada kata 'jaim' dalam kamus Ahreum. Makhluk yang satu ini terlampau jujur.
.
Setelah beberapa saat bercakap-cakap dengan para staff, managernya memberi sinyal untuk bersiap pulang. Minhyun meminta ijin untuk pergi ke kamar kecil sejenak, mengingat perjalanan ke studio recording akan memakan waktu yang cukup lama.
Sebenarnya ia tidak sedang memikirkan apa-apa ketika melakukan bisnisnya. Hanya saja kebetulan, pandangannya terarah kepada pantulan cermin di dinding kiri, dimana bilik-bilik toilet terpampang jelas. Salah satu pintunya perlahan terbuka dan dari dalam keluar sosok berambut panjang. Minhyun pun melakukan apa yang orang lain pada normalnya akan lakukan dalam situasi seperti ini.
Ia berteriak.
Kencang.
Sosok berambut panjang tersebut tersentak, menampakkan wajah yang tadinya tertutupi oleh rambut karena dia menunduk. Setelah beberapa detik diam di tempat mencerna situasi, memastikan bahwa apa yang ia lihat bukanlah hantu, setan, siluman ataupun makhluk gaib lainnya, Minhyun mendapatkan serangan jantung kedua ketika sadar bahwa resletingnya masih dalam keadaan terbuka. Ia mengumpat dalam hati, mengutuk resleting yang tentu saja macet di waktu terburuk.
"Oh–ah–um, m-maaf!"
Saat akhirnya sudah layak tampil, Minhyun mengambil napas, menenangkan diri terlebih dahulu sebelum bersuara. "Uh… Ahreum-ssi?" panggilnya pada sosok yang sedang membalik badan menatap tembok. Jikalau lokasi mereka berbeda, mungkin ia akan menganggapnya pemandangan yang lucu. Gadis tinggi semampai bertingkah seperti anak kecil yang dihukum setrap oleh gurunya. Namun, "Ini, toilet pria bukan?"
"S-sepertinya… Haha, itu, anu, aku…" Sang gadis masih memunggunginya, terbata-bata menyusun kata.
"Ah, kau boleh melihat kesini. Aku sudah… um, tertutup."
Belum sempat menghina diri sendiri karena pemilihan katanya, Minhyun dikejutkan Ahreum yang tiba-tiba berputar dan membungkuk.
"Bener-benar minta maaf! Aku tadi terburu-buru dan masuk tanpa berpikir panjang–maksudku, tanpa melihat sekitar… Penglihatanku sangat jelek kalau tidak memakai kacamata, jadi ya, emm, begitulah, maafkan aku Minhyun-ssi!"
"Oh… Iya, tidak apa-apa, tidak perlu minta maaf sebenarnya, hanya…"
Ahreum mengintip dari balik poninya dengan waswas. "Hanya?"
"Apa Ahreum-ssi, uhhh, melihat… sesuatu…"
Ia menggaruk tengkuknya malu, tak tahu bagaimana cara menyampaikan pertanyaannya dan menyesal telah memulai pembicaraan ini. Di hadapannya, Ahreum menegakkan badan. Mulutnya ternganga, baru saja memahami maksud Minhyun. "Ahhh, itu!"
Minhyun mendelik, merasa seperti tercekik air liurnya sendiri. Sang model buru-buru menyilangkan tangannya, berusaha meyakinkan Minhyun.
"Tidak, tidak kok! Tenang saja, bagian privatmu aman terlindungi, ahaha, aku tidak melihat apapun! Aku tidak melihat ke arah sana, dan kalaupun iya, tidak akan terlihat apa-apa karena mataku minus sangat parah, jadi tidak usah khawatir, kemurnian Minhyun Junior masih terjaga–"
Curahan kalimat Ahreum tersendat ketika Minhyun menariknya masuk ke bilik yang barusan digunakannya. Matanya otomatis melotot melihat bagaimana sang idol dengan gesitnya mengunci pintu. Kalau bukan karena telunjuk yang menempel di bibirnya dan ekpresi panik Minhyun, Ahreum pasti sudah memekik protes.
"Shh–ada yang datang," bisiknya, tak kurang dari lima sentimeter dari wajah Ahreum.
Benar saja, suara langkah kaki menggema di tengah keheningan mereka, diikuti dengan bunyi percikan air yang terdengar sangat familiar. Minhyun menggigit bibirnya, mengutuk situasi yang berkembang sudah terlalu aneh, kemudian menutupi telinga Ahreum dengan kedua tangannya.
Gadis itu melonjak, sama sekali tidak mengantisipasi perbuatannya. Tetapi wajah kagetnya perlahan berangsur tenang; Minhyun bahkan bersumpah ia menangkap sekelibat senyuman kecil tersungging di salah satu sudut bibirnya.
Entah konsepnya terhadap waktu yang tiba-tiba eror, atau memang pria di luar bilik minum terlalu banyak air. Rasanya sudah sangat lama mereka terpaksa bersembunyi dalam tempat yang dirancang untuk menampung maksimal satu orang. Sempit. Tak banyak ruang untuk jarak di antara mereka, dan Minhyun tak sanggup menatap Ahreum. Setengah alasan ia menariknya masuk adalah untuk menghentikan penjelasan yang amat memalukan baginya. Jikalau Ahreum menyebut satu lagi ungakapan kata untuk–ehem–kemaluannya, ia rasa telinganya akan merah permanen. (Dan mengingat bagaimana 'Minhyun Junior' terdengar jauh lebih memalukan daripada 'bagian privat', ia tak berani untuk memulai berpikir kosakata apa yang akan meluncur dari mulut Ahreum sebagai panggilan ketiga.)
"Minhyun-ssi? Sepertinya dia sudah pergi."
Bisikan Ahreum mendorongnya untuk kembali berfungsi seperti normal. Minhyun membuka pintu, melirik ke kanan dan kiri, sebelum mengangguk kepada sang gadis. Ia cepat-cepat menuntunnya ke luar toilet untuk mencegah kejadian tadi terulang lagi, berhenti dengan kagok di persimpangan antara toilet pria dan wanita. Ketika ia berbalik, Ahreum menyambutnya dengan senyuman yang teramat manis.
"Terimakasih Minhyun-ssi. Kau baik sekali."
Minhyun sedikit terkejut, tak menyangka akan mendapat respon seperti ini. Ia kira Ahreum akan bersikap canggung atau tidak nyaman, atau entahlah, mungkin merasa dilecehkan meskipun Minhyun sama sekali tidak bermaksud menyekapnya. "Ah, tidak…"
"Untuk yang tadi, aku berjanji tidak akan bilang ke siapa-siapa kalau Minhyun-ssi juga melakukan yang sama." Ahreum memutuskan kontak mata mereka, terkekeh, "Akan sangat memalukan bukan? Kalau sampai orang tahu aku salah masuk ke toilet pria."
Tension yang tanpa sadar mengumpul di pundak Minhyun terhembuskan bersama tawanya. Hawa riang yang Ahreum miliki benar-benar mudah menular. "Ya. Tentu saja. Aku janji," guraunya sambil mengangkat jari kelingking.
Ahreum mengangguk lucu. Dia melangkah ke depan, mendekati Minhyun, kemudian berkata dengan pelan. "Dan aku benar-benar tidak melihat apa-apa. Minhyun-ssi bisa ambil perkataanku."
Sang model menunjukkan kelingkingnya, meniru gestur Minhyun. Ahreum berbicara dengan serius, Minhyun tahu itu, namun tatapan lurus dari matanya yang bersinar-sinar dan pipinya yang menembam karena bibirnya terlipat membuatnya malah terlihat imut.
Rasa gemas terhadap gadis unik ini mengalahkan rasa malunya. Karena itu, meskipun topiknya bukanlah sesuatu yang ingin ia bahas seumur hidup, Minhyun tertawa dan berkata, "Oke."
Ahreum mengerjapkan matanya lalu tersenyum lega. Dari arah restoran, seseorang memanggil Minhyun. Ia langsung mengecek jam tangannya, lupa managernya menyuruhnya untuk cepat kembali.
"Duh," Minhyun menghela napas, merapikan bajunya. "Maaf, aku harus pergi sekarang."
"Hati-hati di perjalanan," ucap Ahreum sembari melambaikan tangannya kecil. "Sampai jumpa minggu depan!"
Ia mengangguk, melemparkan senyuman terakhir sebelum beranjak pergi. Tak jauh dari koridor, sang manager dan Guanlin sudah menunggunya.
"Yok langsung, aku udah pamitin." Manager Hyunjin dengan cepat menggiring mereka keluar menuju mobil.
"Hng, aku belom pamit ke Ahreum-ssi," celetuk Guanlin.
"Udah, minggu depan juga ketemu," balas sang manager, sementara Minhyun memilih untuk diam.
Janji tidak boleh diingkari, kan?
.
"Kamu kenapa, kedinginan?"
"Huh?" Seonho menoleh ke arah Minki. Tak lama setelah rombongan Wannaone pergi, mereka ijin untuk tidak ikut pergi bersama staff lain ke bar karena status Seonho yang masih dibawah umur. Sekarang Minki sedang mengantarnya pulang ke rumah.
"Dari tadi ngusep-ngusep kuping mulu. Bibir juga."
Matanya berkedip. Ia melirik Minki yang kini sudah mengalihkan fokusnya untuk mengemudi, lalu menatap tangan yang baru saja digunakannya untuk meraba kedua telinganya.
"Baik sih… Baik banget, cuma…" Lagi-lagi Seonho mengusap bibirnya. "Dia belom cuci tangan…"
TBC
.
.
.
Haihaihaihaiii, pertama-tama mau minta maaf dulu karena updatenya lama, tapi chapter ini lebih panjang dari biasanya, jadi semoga dimaafkan ya ;D Saya belakangan ini memang super duper sibuk tapi jangan khawatir, sesibuk"nya gabakal abandon fic ini kok, cuma ya itu, updatenya jarang" hiks mohon dimaklumi ya m(_ _)m ...Eniway, di chapter ini akhirnya ada adegan romancenya lol. Meskipun hanya terselip ditengah komedi, semoga kalian enjoy hihihihi. Gak sempet nulis a/n yang panjang" kaya biasanya (pembaca pun menghela napas lega) tapi as always, terimakasih untuk semua yang udah baca, fav, follow, kasih review, semuanya selalu buat saya seneng dan ini semua untuk kalian :****
See you next chapter!
