Disclaimer : Kuroko no Basuke
belongs to Tadatoshi Fujimaki

But this story is mine

Genre : Romance, Friendship, Humor

.

Rate : T

.

Main Cast : Akashi Seijuro and Furihata Kouki

Supporting Cast : Kiseki no Sedai, Kagami Taiga, Kasamatsu Yukio

Warning : OOC, Typo(s), Yaoi

.

Don't Like Don't Read

.

Love Blossom

.

.

Chapter 04

Hari sudah mulai gelap. Lampu-lampu di pinggiran jalan pun mulai menyala seakan bersiap untuk menerangi jalan di kala malam. Dan itu menandakan sudah waktunya bagi para pegawai di toko bunga 'un coin de soleil' untuk segera pulang. Setelah selesai membereskan segala sesuatu yang terlihat berantakan, Furihata terlebih dahulu pamit. Secepat mungkin menelpon Aomine untuk menjemputnya. Namun berkali-kali di hubungi ponsel Aomine tetap tidak aktif, membuat Furihata jadi kesal sendiri.

"Yo, Furi. Sedang apa di luar sini?" Furihata mengangkat kepalanya, tersenyum canggung ketika ternyata Kagami yang barusan memanggilnya.

"Um...aku sedang menunggu sepupuku."

"Oh, begitu. Kalau begitu aku masuk dulu ya. Kuroko masih ada di dalam kan?" Tanya Kagami dan hanya di angguki oleh Furihata sebagai jawaban.

Beberapa menit kemudian, pintu toko kembali terbuka dari dalam. Menampakkan Kasamatsu dan Kuroko yang terlihat akan segera pulang dengan para kekasih mereka. Yang entah kenapa membuat Furihata jadi agak iri melihatnya.

"Eh? Furihatacchi belum pulang?"

"Ahaha, iya. Habisnya Aomine tidak mengangkat teleponku dari tadi."

"Kalau begitu ikut saja denganku. Tidak apa-apa kan Kise?" Kasamatsu menawarkan tumpangan pada Furihata namun di tolak dengan halus olehnya.

"Tidak perlu, Kasamatsu-san."

"Furihatacchi yakin tidak ingin kami antar?" Tawar Kise lagi ketika dirinya dan Kasamatsu hendak masuk ke mobilnya.

"Tidak perlu Kise. Arah rumah kita berlawanan jadi nanti malah akan merepotkan saja."

"Kalau begitu denganku dan Kagami-kun saja. Rumah kita kan searah." Kali ini giliran Kuroko yang menawarkan tumpangan.

Furihata menggeleng. "Tidak perlu Kuroko. Kau juga pulanglah dengan Kagami. Aku akan menunggu Aomine saja di sini. Tadi aku sudah mengiriminya pesan, jadi sebentar lagi dia pasti datang."

Kise, Kasamatsu, Kagami dan Kuroko akhirnya mengalah. Mereka menuruti perkataan Furihata dan langsung masuk ke mobil masing-masing.

"Hati-hati, Furihata. Kalau ada apa-apa hubungi saja aku." Pesan Kasamatsu sebelum Kise menjalankan mobilnya, menyusul mobil Kagami yang telah lebih dulu melaju.

.

.

.

Furihata menatap kedua mobil yang baru saja pergi itu, lalu melirik jam digital di ponselnya. Menghela napas berat ketika melihat tidak ada tanda-tanda balasan dari sepupu bodohnya.

"Hah...lebih baik aku naik kereta saja."

Melangkahkan kakinya ke zebra cross yang tak jauh dari tempatnya berdiri tadi, Furihata kemudian menunggu sebentar sampai lampu bagi pejalan kaki berganti hijau, menyebrang dengan hati-hati meski cukup banyak penyebrang yang menyebrang dari arah berlawanan. Di pertengahan, langkah Furihata terhenti saat ponsel di gengamannya terjatuh karena tak sengaja bertabrakan dengan seseorang, ia pun mencoba mengambil ponselnya yang sudah terjatuh di aspal itu. Namun karena terlalu banyak orang yang menyebrang, jadi agak sulit mengambil ponselnya. Dan saat dirinya berhasil mengambil ponsel-yang untungnya masih dalam keadaan utuh- lampu sudah kembali berganti menjadi merah dan tak lama sebuah motor melaju kearahnya ketika dirinya baru akan berdiri dari tempatnya.

CKIIIIIT

Si pengendara yang menaiki motor itu langsung menghentikan laju motornya, membuatnya berhasil menghindari Furihata. Banyak pejalan kaki yang kembali berpaling karena terkejut oleh suara decitan ban dengan aspal barusan. Sekaligus ikut memperhatikan Furihata yang saat ini sudah jatuh terduduk ketika menyadari dirinya nyaris tertabrak-lagi.

"Hei, apa kau tidak apa-apa?" Si pengendara motor menghampiri Furihata yang masih gemetar, mengguncang bahunya pelan untuk menyadarkan Furihata yang terlihat masih terkejut.

Tak ada respon dari Furihata. Membuat si pengendara memutuskan menggendong Furihata dan membawanya ke seberang jalan, tanpa memindahkan motornya terlebih dahulu.

"Hu-huwaa a-apa yang kau lakukan?!" Teriak Furihata ketika sadar dirinya tengah di gendong oleh orang asing.

"Ya karena tadi kau tidak meresponku, jadi aku pikir kau masih terlalu lemah untuk sekedar berjalan." Ucap orang asing itu. "Lihat, bahkan tubuhmu gemetaran."

Wajah Furihata memerah, memalingkan wajahnya untuk tidak bertatapan langsung dengan orang asing tadi. "A-aku tidak apa-apa."

Orang itu pun tersenyum. Meski tak terlihat karena masih mengenakan helmnya.

"Kau ini masih saja ceroboh. Benar-benar membuatku gemas." Ucap pengendara motor itu saat menurunkan Furihata dari gendongannya.

"A-apa maksudmu?"

"Tidak. Bukan apa-apa." Tanpa mempedulikan Furihata, pengendara motor tadi terlihat mengambil ponsel dari saku jaketnya, sepertinya baru mendapat sebuah pesan dari orang di seberang sana. Segera membalasnya dan kembali memasukkannya ke saku jaketnya. Setelahnya melirik sekilas pada Furihata.

"Tunggulah di sini. Aku akan mengambil motorku dan akan aku antar kau pulang."

"H-hah?"

.

.

.

Entah apa yang merasuki Furihata hingga dirinya menurut dan mau saja di bonceng oleh orang yang bahkan tidak ia kenal. Yah, melihat wajah orang asing ini saja belum, bagaimana mau berkenalan. Eh? Bukan berarti dirinya ingin berkenalan, loh.

"Hei." Panggil si pengendara tadi.

"A-apa?"

"Kau tidak ingat siapa aku?"

Furihata berpikir sejenak, berusaha mengenali si pemilik suara dari balik helm ini.

"Umm...apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Furihata memastikan.

"Tentu saja pernah. Kalau tidak, mana mungkin aku mengenalmu." Jawab orang itu. "Meskipun pertemuan pertama kita sangatlah buruk."

Alis Furihata terangkat sebelah, apa katanya? Pertemuan yang sangat buruk? Memangnya pernah?

Si pengendara menyeringai dari balik helmnya ketika melihat wajah Furihata dari kaca spionnya. Berusaha menahan tawanya melihat ekspresi lucu Furihata.

"Oh, ayolah. Kau bahkan mengataiku iblis, Furi." Ucapnya.

Mendengar ucapan itu membuat Furihata sadar akan satu hal. Wajahnya memucat ketika tahu siapa orang yang saat ini tengah memboncengnya.

"A..akashi Sei..juurou?" Ucapnya terbata-bata.

"Heh..kau terlihat lebih jinak dari sebelumnya. Apa kepalamu terbentur sesuatu saat tadi aku nyaris menabrakmu untuk yang kedua kalinya?" Tanya Akashi dengan nada mengejek.

"E-enak saja! Ya sudah turunkan saja aku di sini! Mana sudi aku di bonceng olehmu! Ayo cepat turunkan aku!" Furihata berteriak heboh setelahnya, memukul-mukul kepala Akashi yang untungnya sedang memakai helm, jadi tidak terasa sakit sama sekali.

"Hei, hei, tenanglah. Kalau kau tidak bisa diam kita berdua bisa jatuh."

Tak mengindahkan ucapan Akashi, Furihata terus saja memukuli kepala Akashi tanpa ampun. Memaksa Akashi harus menghentikan motornya di pinggir jalan.

"Kau ini masih keras kepala rupanya. Mau aku gulingkan ke jurang?!" Kata Akashi dengan suara meninggi, sesaat setelah menghentikan motornya, melepas helmnya untuk menatap Furihata dengan tatapan mematikannya.

"Co-coba saja kalau berani!"

Akashi turun dari motornya, meninggalkan helmnya dan kembali mengangkat tubuh Furihata.

"He-hei! Mau apa kau?! Turunkan aku!"

"Kau bilang tadi coba saja, yasudah ini aku baru akan mencoba membuangmu ke jurang."

Furihata membelalakkan kedua matanya, terkejut mendengar ucapan Akashi.

"La-lakukan saja! Aku akan menghantuimu!" Ucap Furihata tak mau kalah.

"Baiklah." Balas Akashi santai. Masih dengan menggendong Furihata, dirinya membawa Furihata ke pinggir jurang yang sebenarnya sudah di batasi dengan pagar pembatas jalan, namun masih terlihat berbahaya kalau melihatnya dari jarak sedekat ini.

Furihata yang memang takut ketinggian mulai terisak, tanpa sadar malah mengeratkan pegangannya pada jaket kulit yang saat ini di kenakan Akashi.

"Hiks..maaf..hiks aku tidak akan memukulimu lagi..hiks.." Furihata terisak, membuat senyum kemenangan tercetak di wajah Akashi.

"Iya aku tahu. Aku tidak sungguh-sungguh akan menjatuhkanmu ke jurang. Mana tega aku melakukannya." Ucap Akashi seraya berjalan menjauhi jurang tadi. "Makanya jangan bersikap keras kepala begitu. Kau jadi tidak manis lagi." Tambahnya yang membuat Furihata bersemu.

"Aku tidak manis, dasar iblis jelek."

Akashi tertawa kecil. Astaga yang benar saja. Baru sekarang ada orang yang mengatainya jelek. Membuat Akashi makin gemas.

"Lalu kalau aku jelek, kau apa? Tidak berbentuk?" Ejek Akashi membalas perkataan Furihata sebelumnya.

"Enak saja! Berkacalah sebelum meledekku."

Akashi tersenyum, membiarkan Furihata terus berbicara tanpa ada niat untuk membalasnya. Kembali mendudukkan Furihata di motornya dan dengan segera melajukan motornya di jalan raya yang berhiaskan cahaya lampu sebagai penerangan.

.

.

.

Angin malam menerpa wajah Furihata, menerbangkan surai cokelatnya yang menutupi kedua matanya, yang entah kenapa lama-kelamaan terasa agak berat dan pada akhirnya kedua mata miliknya tertutup akibat hembusan angin yang menggodanya untuk tertidur.

"Hei, turunlah." Sebuah goncangan membangunkannya. Tanpa ia sadari ternyata sejak tadi dirinya tertidur di punggung Akashi. Hah..pantas saja tadi rasanya sangat wangi, ternyata itu wangi Aka-

"Oi, kau mau aku menggendongmu lagi?"

"Ti-tidak perlu! Aku bisa jalan sendiri."

Dengan segera Furihat menurunkun dirinya dari motor milik Akashi, secepatnya ingin langsung masuk kr rumahnya dan menikmati guyuran air hangat serta kasurnya yang nyaman. Tapi langkahnya terhenti ketika menyadari kalau saat ini dirinya berada di depan sebuah taman, bukan pintu depan rumahnya.

"Umm..Akashi-san, ini bukan rumahku. Kau tidak lupa alamat rumahku kan?"

Akashi memperhatikan wajah bingung pemuda manis di sampingnya seraya tersenyum kecil.

"Memang bukan. Anak TK saja tahu kalau ini taman, bukannya sebuah rumah."

Perempatan muncul di jidat Furihata, melirik sinis kearah Akashi setelahnya.
"Maaf saja kalau aku tidak lebih pintar dari anak TK."

"Aku tidak bilang kalau anak TK itu lebih pintar darimu. Kau saja yang salah menyimpulkan." Akashi berucap dengan seringai menggoda di wajahnya. Furihata yang menyadari kebodohannya hanya bisa memajukan bibirnya kesal.

"Sudahlah. Tidak usah merajuk begitu. Ayo ikut aku sebentar." Ajak Akashi yang sudah berjalan lebih dulu, namun Furihata masih berdiri mematung di sana. Akashi yang menyadarinya kemudian kembali berjalan menghampiri Furihata dan menggandeng sebelah tangannya. "Manja sekali. Dasar anak kecil." Ledeknya.

"E-enak saja!"

.

.

.

Akashi menuntun Furihata ke sebuah bangku kayu yang ada di taman tadi. Menyuruhnya untuk duduk di sana sebelum dirinya pergi untuk membeli minuman kaleng di mesin otomatis. Hanya pergi untuk beberapa saat dan sudah kembali dengan membawa 2 kaleng minuman di tangannya.

"Ini untukmu." Akashi menyerahkan sekaleng cokelat untuk Furihata yang di terima tanpa protes darinya. Akashi kemudian ikut duduk di sebelah Furihata, segera membuka sekaleng kopi hitam miliknya, meneguknya perlahan hingga di rasa pemuda di sampingnya tengah memperhatikannya. "Ada apa?"

Furihata mengedipkan matanya beberapa kali, kaget aksinya di ketahui Akashi. Membuang mukanya untuk menyembunyikan rasa malunya. "Ti-tidak apa apa."

Akashi melirik kearah Furihata untuk memastikan keadaan pemuda itu. "Kalau begitu kenapa tidak kau minum cokelat milikmu? Kau tidak suka? Akan aku belikan yang lain kalau memang kau tidak suka." Akashi hendak berdiri, namun terhenti ketika Furihata lebih dulu menahan tangannya.

"A-ano, maaf tidak usah. Umm..aku hanya saja.."

"Kau kenapa? Tidak suka aku ada di sini?"

Furihata menggeleng. "Bukan itu. Hanya saja hari ini Akashi-san terlihat umm..berbeda."

Senyuman terkembang di wajah Akashi saat mendengar perkataan Furihata, tertawa mengejek setelahnya. "Heee..berbeda ya? Memang sebelumnya aku bagaimana?"

"Yah, umm..jujur saja sebelumnya Akashi-san itu...sangat menyebalkan." Aku Furihata seraya menggaruk sebelah pipinya. "Dan juga menakutkan." Tambahnya lagi dengan suara yang agak di pelankan.

Akashi hanya tersenyum mendengarnya, seperti sudah terbiasa mendengar komentar seperti itu tentang dirinya. "Ya, kurasa kau memang benar. Itu memang sudah bawaan dari lahir."

"..."

"Tapi aku senang saat kau dengan beraninya memarahiku. Bahkan hingga mengataiku. Benar-benar menarik." Tawanya. "Selama ini tidak ada yang pernah melakukan semua itu padaku. Kebanyakan dari mereka hanya berani menggerutu dan menjelek-jelekkanku di belakang, sedangkan saat di depanku mereka selalu berusaha terlihat baik. Aku muak melihatnya." Ucap Akashi dengan nada serius.

"Eh?"

"Tapi kau berbeda. Kau itu mirip dengan mendiang ibuku. Selalu memarahiku jika sikapku sudah kelewatan, membuatku untuk tidak melakukan hal yang tidak semestinya kulakukan." Tuturnya. "Dan semenjak ibuku meninggal tidak ada lagi orang yang berani untuk memarahiku. Kalau pun ada mungkin orang itu adalah ayahku. Tapi dia terlalu sibuk untuk melakukannya. Jadilah aku seperti ini. Tidak tahu apa yang aku lakukan benar atau salah." Sambungnya lagi. Akashi kemudian kembali meneguk minuman kalengnya hingga habis, berhenti berbicara untuk beberapa saat. Dan menatap kearah Furihata setelahnya, seperti ingin melihat tanggapan Furihata mengenai ucapannya.

"A-aku tidak berbuat apa-apa." Ucap Furihata tergagap. "Aku bahkan tidak sadar kalau diriku memarahimu, aku hanya terpancing emosi. A-aku ini tidak terlalu pandai mengendalikan emosiku, m-makanya terkadang jadi meledak-ledak seperti itu." Jelas Furihata.

Akashi kembali tersenyum, memposisikan tubuhnya menghadap kearah Furihata. "Meskipun begitu tetap saja aku senang kau melakukannya." Ucapnya. "Terima kasih, Kouki." Lanjutnya seraya menepuk-nepuk pelan puncak kepala Furihata.

Wajah Furihata memanas ketika namanya di panggil oleh Akashi. Entahlah, dirinya seperti cokelat yang meleleh jika bersentuhan dengan api. Memilih untuk menunduk agar tidak bertatapan langsung dengan Akashi. "I-itu bukan apa-apa."

Akashi hanya memperhatikan wajah Furihata dari samping, tak berniat untuk mengajaknya bicara lagi. Keheningan itu membuat Furihata merasa agak tidak nyaman, sehingga pada akhirnya dirinya kembali mengajak bicara Akashi. Meskipun bahan pembicaraan yang di bahas tak terlalu penting, hanya sebuah pembahasan umum saat kau baru berkenalan dengan seseorang. Namun bagi Akashi tetap saja pembicaraan itu cukup menarik baginya karena ini seperti sedang berbagi cerita dengan ibunya dulu. Hal yang sudah lama tidak ia lakukan. Jadi tentu saja Akashi menjawab pertanyaan Furihata dengan senang hati. Terlalu asik dengan obrolan tak berujung itu, membuat mereka tak sadar jika hari semakin malam, angin malam pun mulai bertiup kala itu. Tapi tetap di abaikan oleh kedua orang yang masih sibuk berbincang itu dan akan terus berlanjut kalau saja ponsel Akashi tak berdering.

Meminta izin pada Furihata untuk sejenak mengangkatnya, Akashi pergi menjauhi bangku tempat dirinya duduk tadi, membiarkan Furihata sendirian di sana. Furihata hanya memperhatikan Akashi yang terlihat sedang mengobrol cukup serius dengan orang di seberang sana, mungkin itu telepon penting dari kliennya. Dan sesaat setelah memperhatikan Akashi yang masih sibuk dengan ponselnya, Furihata jadi teringat pada Aomine yang entah sudah membalas pesannya atau belum. Dengan segera Furihata mengecek ponselnya yang sedari tadi tak tersentuh. Menekan beberapa angka pada ponsel layar sentuhnya untuk memasukkan password, dirinya agak terkejut mendapati banyaknya panggilan tak terjawab dari Aomine dan tentu saja pesan masuk yang tak kalah banyaknya. Ah, salahkan Furihata yang selalu membuat ponselnya dalam keadaan silent hingga dirinya tak mengetahui adanya pesan masuk dari Aomine.

Dengan segera Furihata menekan kontak Aomine di ponselnya untuk mengubungingya. Menunggu beberapa detik sampai terdengar suara Aomine di seberang sana.

"Hei, kau ini ke mana saja?! Aku tadi pergi ke tokomu tapi kau sudah tidak ada!" Teriakan Aomine membuat Furihata harus menjauhkan ponsel itu dari telinganya.

"Ma-maaf. Aku kira kau tidak akan menjemputku. Makanya aku pulang sendiri."

Sebuah helaan terdengar dari ujung sana. "Kalau begitu di mana kau sekarang? Aku akan menjemputmu."

"Ah, tidak usah. Kenalanku akan mengantarku pulang."

"Kenalanmu? Siapa?"

"Umm..itu..dia-"

"Kouki, ayo kita pulang sekarang. Aku harus segera kembali ke kantorku."

Furihata terdiam sejenak, kemudian kembali berbicara pada Aomine. "A-aku akan segera pulang. Dah." Sambungan terputus, Furihata pun segera berdiri untuk mengikuti Akashi yang terlihat sudah menunggunya.

"Siapa?"

"Eh? Siapa apanya?"

Akashi menatap Furihata serius. "Yang barusan bicara denganmu di telepon itu siapa?"

Furihata menyengir kecil kemudian tertawa. "Haha, dia sepupuku. Dia sangat khawatir karena tidak menemukanku di toko saat ia menjemputku tadi."

"Oh." Balas Akashi singkat. "Naiklah. Dan pegangan yang erat. Aku tidak tanggung kalau kau sampai jatuh."

Furihata menuruti perkataan Akashi, meskipun hanya memegang ujung jaket kulit Akashi bukan memeluknya.

"Aku bilang pegangan yang erat."

"I-ini sudah pegangan kok."

"Yasudah, kalau jatuh aku tidak tanggung."

Dengan itu Akashi melajukan motornya, tak lagi mempedulikan Furihata yang menarik jaketnya kuat-kuat.

.

.

.

Aomine duduk di sofa yang menghadap langsung ke pintu masuk rumah Furihata. Menanti kepulangan sepupunya seraya memainkan ponselnya. Namun tak lama melemparkan ponsel biru itu ke sembarang arah ketika di rasa sudah tak ada hal menarik yang bisa ia lakukan dengan ponselnya.

"Lama sekali." Ucap Aomine yang sudah beranjak dari sofa yang barusan ia duduki, menyandarkan tubuhnya di pintu masuk rumah Furihata. Bertepatan ketika tiba-tiba terdengar suara deru motor. Dan terlihatlah Furihata yang turun dari sana tanpa mengenakan helm di kepalanya. Aomine pun langsung membuka pintu untuk menyambut Furihata.

"Furi, kau dari mana saja?! Kau tidak tahu ini sudah jam bera─"

Perkataan Aomine terhenti ketika melihat siapa yang sedang mengobrol dengan Furihata. Pria berambut merah yang sudah sangat ia kenal.

"Aka..shi..."

Mengepalkan tangannya sekuat-kuatnya, Aomine segera menghampiri Furihata dan Akashi. Kemudian langsung memukul wajah Akashi, membuatnya hampir terjatuh dari motornya kalau saja Furihata tidak langsung menariknya.

"Jangan berani kau menyentuh sepupuku lagi, brengsek!"

Akashi mengelap darah yang menetes dari sudut bibirnya, melirik sinis kearah orang yang baru saja memukulnya. "Daiki.."

.

.

.

TBC

.

.

Yosh, Jei akhirnya kembali setelah sekian lama menghilang -^-)/ Maaf ya kalau Jei baru bisa apdet FF ini sekarang, salahkan tugas dan ulangan yang berkesinambungan itu /sigh/ Bahkan bulan depan Jei udah mulai bimbel persiapan UN :') Ditambah persiapan buat sbmptn yang bikin waktu luang Jei makin berkurang :"" /curcol/ Tapi Jei akan berusaha buat secepatnya menyelesaikan FF ini (doakan para guru Jei mulai mengurangi tugas-tugas terkutuk mereka OTL) Dan Jei harap semoga chap ini bisa cukup memuaskan para readers sekalian :'3

Oke, cukup sekian curcolan gak penting Jei di sini, jangan lupa ripiu-ripiu indah dari para readers sekalian~

Bhabhaiiiiiii :*