Terima kasih sudah mau membaca, cerita aneh ini. [REVISED: minor goofies, no change to the plot]


cognac

naruto © masashi kishimoto


Bar dan klub malam ibarat dua kutub yang saling tolak-menolak dengan Sasuke.

Kontras dengan opini yang dipercaya kebanyakan orang perkara Sasuke adalah peminum berbakat, penghobi belai rayu perempuan, dan kandidat pria terfavorit se-Todai, sesungguhnya Sasuke adalah orang yang tertutup. Menjaga privasi. Dan alergi hingar-bingar hentakan lantai dansa.

Jadi, biasanya Sasuke menelan paksa gelisahnya tiap kali dia mesti menaruh pantat di kursi tinggi, supaya tidak dicap menyedihkan oleh kawan-kawannya—demi Tuhan dia punya pengalaman buruk digoda waria tua (Orochimaru—persetan name tag sialan itu!) sewaktu SMA, iseng sekadar ingin membuktikan mulut besar Obito bualan belaka, barangkali ada sesuatu yang menarik—dan berakhir menorehkan trauma mendalam di batin Sasuke.

Ia benci ketika kupu-kupu malam mengerubunginya, berusaha tekun memereteli kancingnya. Mulanya Naruto terbahak sampai tequillanya menghambur keluar dari lubang hidung, tetapi memang Sasuke nyatanya iritasi tinggi, dan cuma mau duduk di sebelah Naruto, memesan dua-tiga minuman ringan! Matanya hati-hati, mencegah kemungkinan pil atau bubuk yang membahayakan larut masuk ke tubuh. Naruto menjadi pengawal sigap siaga, menjaga dari setiap perempuan yang siap menerkam Sasuke seperti singa menemukan rusa.

Maka dari itu, jangan heran, Sasuke anti ke-bar kecuali ada salah satu keluarganya, atau Naruto.

Dan dia sekarang merasa sangat tolol.

Sasuke menarik cincin penutup kaleng soda, berusaha meluluhkan malu yang menggumpal di pencernaan. Benci sampai ingin menggaruk kepalanya tiap kali kontrol emosi lolos dari pengawasan. Naruto sama sekali tak salah—ia paham betul—dan seratus persen tindakannya berdasarkan emosi, dan otak kirinya terus mencemooh dirinya sendiri.

Demi Tuhan. Sasuke membanting badan ke atas sofa, tidak tahu harus melakukan apa untuk menolong dirinya sendiri. Matanya tak bisa diajak kompromi. Menolak terpejam. Alasannya? Bantal, guling, bed cover, seprainya penuh wangi vanilla. Brengsek, maki Sasuke.

Kepalanya berdenyut pusing. Hinata dibuat bertekuk lutut segampang itu oleh Naruto. Binar kekaguman Hinata menghantui pelupuk matanya, dan Sasuke pikir, bukan tindakan bijak pulang ke rumah. Sikapnya bisa dibaca Mikoto dengan mudah, semudah melihat iklan tayang di billboard Shibuya. Sasuke terpaksa menyandarkan punggung, menatap atap persegi panjang ruang tengah apartemennya, sesekali menyegarkan tenggorokan dengan soda sitrus.

Mau dicari alasan sejitu apapun, Sasuke masih tak bisa paham dengan gatal yang menempel di dadanya. Macam lintah yang menyedot akal sehatnya. Dia berkali-kali menimpa Hinata dengan berat tubuhnya, berkali-kali mengabulkan kebutuhan Hinata, tidak pernah Hinata mau, sedikit pun, berbicara lewat bahasa non-verbal, termasuk kontak mata. Alih-alih perempuan molek itu memalingkan pandangan, seakan Sasuke asing, pengembara yang singgah sebentar di gubuk tua.

"ARGH!" Rambutnya diacak-acak frustrasi, menarik turun bed cover, buru-buru memasukkannya ke keranjang laundry, membanting pintu toilet, setelah selesai mengganti baju, ia menyemprotkan parfumnya sendiri. Huh, kayu manis segera menjarahi sudut-sudut kamar yang tak tersentuh.

Ia pikir ia bisa melenyapkan Hinata sejenak—tiga jam cukup—lengannya malah menjadi bantal, dan Sasuke diam-diam berharap ponselnya bergetar karena pesan masuk dari Hinata. Sial. Peraturan ia yang buat, dan ia pula yang melanggar. Ketakutannya datang tak diundang, sudah tak bisa lagi ia cegah.

Ia mengakui Naruto setara dengannya. Orang pertama selain anggota keluarga yang ia taruh respek.

Pagi-pagi berdiri menyapa di depan kelas dengan aksen kental Amerika. Haiii. Naruto's here. Iruka memperkenalkan bocah pirang dengan enam kumis kucing itu Naruto Uzumaki. Sasuke mulanya menganggap sebelah mata: Naruto berisik, hiperaktif, dan sering cari gara-gara dengannya. Bocah kesepian pengidap ADHD—Sasuke bajingan itu semua orang memaklumi, ya?

Naruto menilai Sasuke sebagai si aneh kelas kakap. Jelas, dia tipe orang yang kurang beramal dan bersyukur. Diberkahi aspek penunjang kenikmatan dunia malah disia-siakan. Sasuke agak kaget ketika ada orang yang mengajaknya berkenalan dengan cara paling kuno: berjabat tangan! Ya ampun.

Naruto paling ogah berurusan dengan makhluk emo (masa bodoh, bicara ketus, bibir kaku sepi dari senyum) seperti Sasuke, dan prinsip Naruto sederhana: pantang menyerah. Ia tidak segan mengerahkan apa yang otaknya bisa produksi demi membuktikan pada Sasuke bahwa pertemanan adalah hal yang tak bisa diukur nilainya dengan kadar emas terpekat sekali pun. Dan perjuangannya berbuah manis.

Mikoto langsung menangis terharu begitu Sasuke bawa main Naruto ke rumahnya. Pasalnya, sebagai ibu yang baik, dia berusaha mendorong si bungsu supaya berbeda dari sulung dan ayahnya. Kehidupan dua Uchiha telah gila, jangan sampai ada korban lagi. Apa daya, kepala keluarga tidak mengizinkan anaknya punya terikat dan bergantung pada orang lain, apalagi teman, dan Naruto mematahkan kutukan tersebut dengan sempurna.

Eksistensi Naruto mengubah Sasuke drastis. Dan Sasuke menerima uluran tangan Naruto—ya, sampai mereka kuliah pun Sasuke yang sadar diri. Naruto sibuk dan dia merasa tidak berhak memonopoli si bocah. Sasuke bertahap, belajar menyesuaikan diri tanpa bantuan Naruto.

Bahkan, Sasuke tidak mengapa menendang egonya ke mesin insinerasi demi menonton Naruto menjebol skor lawan. Heh, mereka semua tidak tahu loker Naruto sarang piala dan medali kuning—atau pura-pura buta mantan atlet basket nasional tengah merontokkan keringat di hadapan mereka?

Iya, Sasuke terkekeh begitu diajak Naruto main ke rumahnya, dan Wali Kota New York ternyata suka memasak pasta, mac n cheese. Dengan model keluarga begini, Naruto mampu menyetir jaguar ke sekolah. Tahu apa yang membuat Naruto telat setiap hari? Dia menggenjot sepeda ketimbang naik bus, mengganti kaus dulu, lalu berlari-lari masuk kelas. Sasuke serasa ditonjok di muka.

Dia sering minta menumpang Izuna atau Itachi sampai ke sekolah, diturunkan sekitar seratus meter dari gerbang menghindari ngengat-ngengat cerewet. Keluarga yang hangat, tak heran putra tunggal mereka sama hangatnya seperti mentari.

"Oi!" Naruto menyadari kehadirannya secepat kilat. Sasuke bahkan masih sibuk menghitung probabilitas si kulit coklat mendapatinya di antara kerumunan manusia. Mata birunya menyapa Sasuke dengan rasa bersalah yang dalam. Dia melemparkan bola basket, memantul meninggalkan lapangan.

"Sas'ke! What's wrong with ya'?"

Naruto menggosok hidungnya kesal. Seharian ia sulit tidur. Jiraiya bahkan rela membantu cucunya melepas stress dengan duel tiga set tenis, beribu sayang, letih tak membuat Naruto pingsan. Paling enak konfrontasi langsung sumber masalahnya.

"I really have no clue, y'know… suddenly got mad at me. Hey, listen, I don't know my mistakes, so… if I wrong, forgive me, Bro? Its strange between us. We never get into fight!"

Sasuke mengiyakan. Dari semua mamalia di dunia, dia yakin Naruto jenis jantan yang tidak kenal pengkhianatan. Itachi pernah sekali berkomentar dan takkan pernah Sasuke lupakan. Dia satu di antara sejuta, Sasuke. Jari kakaknya menjentik dahi. Dia tidak memaksamu berubah, dan dia menerima lebih cacatmu dengan tangan terbuka.

"Yea." Sasuke menjotos Naruto dengan kalengan jus jeruk. Bekas asap beku loker es menusuk bahu Naruto. Diam-diam Sasuke malu atas sikap ksatria Naruto. "Maaf. Aku yang salah."

Naruto mengerjap. Wah, Sasuke membelikan jus jeruk dengan merk termahal. 800 yen hanya untuk jus jeruk. Dasar. Naruto menggelengkan kepala, bersiap membuka mulut.

"Jangan pernah berani bertanya kenapa" Sasuke menyela minus aba-aba.

Naruto mengedip. Telepati mereka segera tersambung. Hitam dan biru bertemu.

"Okay, I get it. Hinata?" Naruto menepis lesunya dengan siraman jus jeruk. Wuah, serasa ditiup nyawa lagi setelah dipanggang mentah di lapangan.

"Shut up, Usuratonkachi." decih Sasuke ketus. "SHUT UP!"

"AAAAAA!"

"LITTLE TEME FELL FOR GOOD GIRL!" Jerit Naruto, menggegerkan seantero lapangan, dan berlari ke tengah, seolah ayo tangkap aku kalau kau bisa, Sasuke! Tawanya mengudara, menjengkelkan sekaligus melegakan karena Naruto mengampuninya tanpa syarat dan ketentuan—tapi Sasuke menyesal belum menjitak kepala kawannya!

"NARUTO."

Senyum Naruto cerah, terang sekali, gigi rapinya pamer. Beban pundaknya roboh seketika, menertawai Sasuke yang hangus dimakan malu. Bagi Naruto, Sasuke juga adalah sahabat terdekatnya. Saudara serahim? Entahlah! Yang jelas, memalukan dan kekanakan jika persahabatan putus hanya karena perempuan. Kalau mau, Sasuke bisa cari dengan kriteria selangka apapun, tapi yang balik lagi ke semula. Kalau mau.

"HAHA! I'LL SHUT MY MOUTH, BUT NO PROMISE!"


Hinata dibuat takjub oleh kecanggihan gedung Departemen Kimia. Ia baru menyeret kakinya masuk ke laboratorium raksasa, setelah pintu tipis membelah otomatis dan menyambutnya dengan semburan pendingin. Biasanya Karin dan Hinata makan di kantin hukum, politik, atau fakultas sastra. Karin bilang Kimia tidak ada kesan aestetik—berkebalikan dengan kenyataan, Hinata terpesona dengan sajian detail canggih di sini. Dindingnya penuh kaca dan dia merasa menjadi pendatang asing di planet sejuta tahun cahaya. Bagian dalamnya serupa planetarium bundar dengan dua eskalator utama yang menghubungkan delapan susun lantai.

Sweter rajut, rok denim selutut, dan stoking seperti memberi identitas imigran gelap saat nyaris seluruh orang yang berpapasan mengenakan sarung tangan lateks dan jas lab putih. Kacamata, tambahkan. Mirip di film-film science fiction. Hinata menggigit bibir, tetapi asyik juga menonton perkembangan teknologi ternyata dari jarak dekat, dan bergegas menuju food court di lantai atas.

Belum selesai sampai di situ, lantai empat memiliki atap dari micro-fiber, sehingga sinar matahari dapat masuk dan bonsai-bonsai memberikan sentuhan segar dan rimbun. Atapnya dirancang buka tutup tergantung cuaca. Stand makanannya normal, meski Hinata berekspetasi menemukan sesuatu langka dan unik—tetapi poster cara mencuci tangan yang benar beredar di mana-mana. Hinata bisa membandingkan kantin hukum yang lebih humanis dan nyata, sementara kimia mengilustrasikan kehidupan seribu tahun mendatang; semua serba digital, serba cepat, dan praktis.

"TADA!" Hinata terperanjat, pelukan Karin dari belakang mengagetkannya. "HA! Kaget dong!"

Hinata terkikik, malu-malu membalas ekspresi sayang Karin yang kelewat vokal. "I-iya! Kau cantik sekali…!"

Siapa pula yang mampu mengalihkan mata dari Karin Uzumaki? Tinggi semampai, high heels, dan jas lab justru menguatkan kesan melek fashion Karin. Sungguh, Hinata terbengong melihat kombinasi rambut merah dengan cat kuku ungu tua. Kalau kuliah tidak padat, Hinata bersikeras akan membawakan Karin formulir American Next Top Model!

"AH! Kau berutang cerita padaku! Aku dengar dari Naruto, katanya kau manis sekali, hehe! Kalian mengobrol apa saja, hah? Aku ingin tahu versimu seperti apa!" Karin mengurai rambutnya yang semula dikuncir kuda. Blak-blakan. Tidak kenal basa-basi busuk.

Kedua telunjuk Hinata bermain. "U-uh!" malu-malu dia memandang bola mata Karin yang berwarna merah batu. "A-aku tak ngobrol apapun!"

Mata Karin memicing. Seringainya mengembang curiga. "Begitu~?" tangannya merangkul Hinata ke sebuah meja, dan dengan gerakan tangan, para pelayan lelaki di sana sudah tahu maksud pesanan Nona Eksentrik.

"Hinata, kau itu mirip buku terbuka. Siapa saja langsung tahu kau jatuh cinta pada Naruto!"

"Y—ya?" Hinata mengambil buku teksnya yang paling tipis, menyembunyikan pelipisnya yang dilelehi keringat. Panas, panas, panas. "Ke-kemarin, Naruto bilang mataku bagus."

Senyum Karin makin melebar. Bahaya, bahaya, bahaya.

"Hum-hum, dasar buaya!" Si nyentrik terkekeh, menahan ledakan tawa. Sepupunya jago juga soal salip-menyalip cewek. "Lanjut, Hinata. Aku ingin tahu seterusnya," dia menopang kedua dagunya, bertindak seperti investigator ulung. Hinata makin menunduk di balik buku teksnya.

"Begini Karin… aku… aku tidak cantik sepertimu," Hinata menengok ke samping, "Uhm, ya, ya—jadi—uh,"

"Oh sayang, kau harus paham cantik itu terdiri dari berbagai spektrum!" Karin mencuri buku teks Hinata. Menarik dan memainkan pipi Hinata seperti mochi elastis. "Persephone! Kau itu Persephone!"

Pertama kali melihat Hinata, bohlam terang menyala di benaknya. Hinata reinkarnasi Demeter, namun intuisi Karin manyarankan mengulang pengamatan. Karin yakin hipotesis satu: Hinata adalah jelmaan Persephone. Selain hobi melahap rumus untai kimia, Karin juga berminat pada mitologi dewa Olympus—hiburan, begini-begini juga Karin pelanggan setia netflix.

Tetapi kalau aku Persephone, sungguh, Naruto adalah negasi dari Hades…

"Te-terima kasih, Athena," Karin haus akan ilmu pengetahuan dan jiwanya cocok menjadi petualang, Hinata menggenggam tangan Karin. "Dan ya, aku merasa tak nyaman dengan tubuhku. Dari semua yang kupunya, aku menyukai dua; rambut dan mataku. Dan dia… dia orang pertama yang memuji mataku."

Pipi Hinata dijawil kencang. "Pede dong!"

"H-huh?"

"Yaa… si Naruto itu 'kan naksir sama orang lain." Karin tidak akan menutup-nutupi kenyataan pada Hinata sebesar apapun rasa sayangnya pada perempuan itu. Termasuk fakta bahwa Naruto mengincar model Vogue kebanggaan Ilmu Komunikasi. Ino Yamanaka. "Mumpung belum jadian, siapa tahu dia pindah haluan."

"Aku sudah tahu kok." Hinata tersenyum ramah. "Yamanaka-san sangat cantik dan rendah hati."

Meskipun belum pernah mengobrol tatap muka, Hinata sering membaca majalah di toko buku kelontong pinggir jalan. Dia tak kenal Ino Yamanaka, tapi gosip bekerja seperti endemik. Naruto menyukai Ino. Hinata tahu, maka ia mengambil majalah bersampul model berbaju era victorian dan mengamatinya terpukau. Garis tirus Ino artistik. Pose badannya meluapkan berbagai emosi. Sepadan dengan Naruto. Hinata terus membuka majalah. Komplementer. Kepribadian, penampilan saling melengkapi.

"Tidak cemburu?" Dipikir-pikir, Karin mirip dengan Sasuke. Sering bicara tepat sasaran. Hinata melihat sushi-sushi departemen Kimia sangat wangi. Boleh juga jadi arsip baru di koleksi resep masakannya.

"Tidak…?" Hinata bingung dengan Karin.

"Bisa begitu?!" Karin memperbaiki kacamata, dan mendesak Hinata. "Serius?!"

"Bisa…" cicit Hinata ragu. "Yamanaka-san tidak melakukan salah, untuk apa aku menaruh dendam padanya?"

Karin tepuk tangan. Kencang sampai orang-orang di sekitar memberikan perhatian. Dan Hinata dipaksa biasa beradaptasi dengan kondisi terbuka umum. Tangan Karin yang lembut menepuk-nepuk kepalanya.

"Ahh, Hinata," Ah, Karin tidak akan khawatir Hinata melakukan hal bodoh karena cinta, sampai senyumnya berubah menjadi tulus; kasih sayang dari teman kepada teman, "Sumpah, aku mau punya pacar imut sepertimu!"

"E—eh?"

"Kuberitahu rahasia, aku naksir orang juga karena senyumnya loh. Mungkin kita jodoh, hahaha!"

Hinata tersenyum. Sungguh, siapapun lelaki itu, dia benar-benar beruntung jadi tambatan hati perempuan macam Karin!


Berapa hari ia mengabaikan pesan dari Hinata? Bolak-balik kamus dibuka, dia tahu definisi cemburu tapi dia masih menolak menerima, bagaimana bisa seorang Sasuke, Uchiha, punya kekurangan melawan Naruto, Uzumaki. Urusan perempuan. Setiap pesan masuk dari Hinata digulir dan segera dihapus. Telepon dimatikan sepihak. LINEnya hanya membalas kelompok belajar atau tugas-tugas dari organisasi. Sasuke merampungkan esai, menutup laptop.

Jelas, Hinata rabun dekat.

Sasuke meluruskan badan di sofa, tidak berminat menyimak ceramah Kakek Madara. Si Tua Besar itu berdiri menaruh tongkat kayunya, menghimpun sesiapa yang nadinya dialiri darah Uchiha dan ruang tengah mansion diubah selayaknya konferensi Meja Bundar.

Izuna, Shisui, Kagami, Itachi, Obito… semuanya sibuk mencatat secara mental petuah bermain strategi di lahan saham. Sial, padahal ini momen belajar yang bagus, tapi Sasuke sulit mengumpulkan konsentrasi. Bergulat dengan diri sendiri.

Uchiha punya aturan tak tertulis yang bersifat wajib dipatuhi, setiap anggotanya bergerak seperti prajurit begitu mendengar komando langsung dari panglima. Madara memegang kendali absolut, karena dialah yang selama ini menjaga sendi Uchiha agar setia muncul di layar bursa saham, namanya ditakuti pekerja kerah putih dan dasi merah.

Dia dikenal sebagai legenda yang lama hilang, namun diam-diam bergerak di belakang layar, menjadi dalang di balik Uchiha yang menggurita. Kepolisian, bangku pemerintahan, akses kesehatan. Uchiha utang jasa penuh atas Madara.

Sasuke sendiri sebetulnya merasa celah rusuknya butuh istirahat di kamarnya sendiri, daripada harus di rumah dan berhadapan dengan si Kakek. Demi Tuhan, energinya dirampok habis setelah duel dengan Gaara saat kuis di kampus. Tetapi Izuna menekan nomor panggil (peringatan bahaya pertama) dan menakutinya dengan Madara (peringatan bahaya waspada) yang berada di kondisi bad-mood (peringatan malapetaka dahsyat), ya, dan peringatan bagi seluruh makhluk di permukaan bumi yang mengenakan lambang Uchiha di punggung segera merapat ke mansion.

Izuna menambahkan lagi: Madara mau membahas afiliasi dengan pihak Senju (peringatan terakhir dari skala bencana ala Sasuke-Richter-Uchiha).

Hah, kakek banyak mau… namun Sasuke menyadari ia tak punya kekuatan melawan. Rencana meluruskan syarafnya yang kusut dengan kafein gagal, tetapi mau diapakan juga, kondisinya tidak memungkinkan. Porschenya memutar jalur, dan Sasuke membelah jalan menuju rumah.

Sasuke menekan pipi bagian dalam dengan lidah. Egonya gampang ditendang begitu menghadapi Naruto, sayang, tiapkali melihat Hinata, harga dirinya angkat senjata, membangun menara raksasa supaya Sasuke angkuh di hadapan Hinata yang hobi menunduk. Entahlah, dia berbeda dari kebanyakan. Sistem kekebalan tubuh Hinata ampuh membendung setiap perlakuan dan penampilan Sasuke.

Kentara Hinata tak punya banyak teman dan cenderung lenyap di antara ratusan orang, padahal nama belakang dan keluarganya berpengaruh besar. Ketika Sasuke memeriksa daftar nilai perempuan itu, semakin susah dipercaya inferioritas Hinata sebegitu kencang pengaruhnya.

Dan… Hinata tak berdaya di hadapan Naruto! Heh—

Kaleng kopi kosong menggetok kepalanya. Madara yang melempar. Separuh wajahnya tertutup gondrong gimbal, bukan berarti Sasuke tak bisa mencium gelagat kejengkelan menekan urat keriput kakeknya.

"Payah. Kau lulus sekolah dasar? Belajar etika?"

Izuna dan Kagami serentak menengok Sasuke.

Karma.

Sasuke tidak marah, dipermalukan umum membuatnya ingin menggali kuburan dan berdiam di lapisan bumi terdalam. Bahunya gemetaran. Demi Tuhan, barusan Madara mengoceh apa? Sasuke memaki-maki kecerobohannya.

"Lihat kakakmu. Sebelahmu. Iya, namanya Itachi. Tingkat stressnya parah daripada kau bocah. Dan dia mendengarkanku serius, memang aku tak tahu kepalamu ketinggalan di saluran pembuangan?"

Fugaku diam. Bungsunya berteriak minta tolong tapi ia tak mengulurkan tangan. Pria itu sedari awal paham jika kedua anaknya berbeda, malang, dia baru tahu, perbedaannya terlampau jauh. Kelewat jungkir balik.

"Oh, lihat si bocah sok pintar." Madara benci dengan kata lemah, dan dia menemukannya dalam diri Sasuke. Keringat dan darahnya dikeluarkan dengan pengorbanan terbesar demi pondasi istana, dan dia menemukan cacat yang bisa menodai kejayaan Uchiha. Jantung Sasuke menciut. "Menunduk. Takut? Aku ini kakekmu yang perhatian."

Semua yang di sana menyaksikan dengan mata kepala sendiri Madara adalah orang yang berhati baja, tidak pandang bulu, termasuk menginjak-injak keluarga sendiri bukanlah pengecualian. Izuna ingin menyela, tetapi ia mengkalkulasi dan memikirkan lebih dahulu, apakah jalan yang dipilihnya memperburuk suasana?

"Haa. Bocah, siapa namamu, huh?" Sasuke merasa denyut nadinya makin pelan, "Merusak acara yang seharusnya menjadi ajang akrab antar keluarga, tetapi kelakuanmu rupanya mengacaukan segalanya yang telah kupersiapkan…"

"Madara, berhenti."

Obito terperangah. Siapa yang berani melawan Madara? Mau masuk ke liang lahat lebih cepat?

Lengan Itachi merentang, memberikan perisai tak kasat mata dari hunjaman anak panah Madara. Penuh racun mematikan. Sasuke setengah meregang nyawa. "Dia belum siap. Beri kesempatan. Kurasa kekanakan hanya karena seseorang lelah, kau memotong sesi rapat ini."

"Khe!" Madara tergelak, tawanya lebar sampai gigi taringnya menyembul mengerikan. "Lihat Sasuke. Kakakmu tengah menjagamu! Kakakmu sungguh orang yang pantas mewarisi Uchiha."

Itachi menyipitkan mata, menyediakan perlindungan untuk adiknya yang dilecehkan semena-mena. "Sasuke juga Uchiha, Madara." Tambah Itachi tegas. Fugaku di sudut melipat tangan, menilai laga sulungnya amat heroik.

"Dia menganggap omonganku tak penting, Itachi-ku." Madara menelekan lengan, menghujani Sasuke dengan rasa jijik berlebihan dari matanya. Harga diri Sasuke dipaksa menjadi bola kusut, bergulir ke jalan raya, dan masuk ke saluran pembuangan oleh serangan Madara bertubi-tubi.

Itachi mengernyitkan alis. "Dia tak menyelamu. Jangan bertingkah seperti anak kecil."

"Wah, wah, wah," kekehen Madara menebar ancaman bahaya. Horror. "Kuakui nyalimu boleh juga."

"Bisa kita lanjut acaranya?" Itachi bisa merasakan Sasuke gemetar hebat.

"Oh, aku bicara pada siapa itu, kelinci mungil di belakangmu!"

"Panggil dengan namanya. Dia Sasuke Uchiha."

"Oalah," Madara meledek, pura-pura menutup mulut kaget. "Uchiha mana yang bertingkah pecundang seperti itu?"

"Madara." Itachi menguasai dirinya lebih baik daripada semua lelaki yang duduk di sini. "Kita punya urusan lain."

"Ha! Baiklah, baiklah, Sasuke contoh kakakmu!" satu tegukan wine melegakan Madara. Yah, urusannya dengan putra Fugaku selalu menyenangkan. "Kakakmu sangat—sangat tahu apa yang kupikirkan."

"Kau tahu apa artinya?" Madara menyambar gelas tinggi, mengalirkan wine di tenggorokan. Obito amat-amat lega menyadari Ibunya Sasuke tengah di rumah teman lamanya—bisa-bisa perang dunia meletus jam ini, hari ini, di sini.

Itachi waspada, sementara tangan Sasuke meremas celana hitamnya cemas.

"Kau belum pantas menyandang lambang Uchiha." Penghinaan paling besar yang pernah Sasuke terima, mata Madara menyala dalam gelap. "Masuk kamar dan peluk gulingmu."

Sasuke tak tahan lagi. Dia beranjak, tertatih-tatih menyambar mantelnya di gantungan topi, membanting pintu rumah, mendorong gerbang dan melesat pergi bersama porsche hitamnya.

Lengan Itachi tertahan cengkeraman Fugaku. "Biarkan." Sulung itu dipaksa bungkam, dan Madara bertingkah seolah barusan tidak terjadi apa-apa.


Hampir saja jatuh ketiduran. Hinata menutup mulutnya yang menguap terus-menerus. Hall khusus tongkrongan anak hukum tak begitu jauh dari koridor gedung utama Ilmu Politik, si manis berambut biru tua memastikan pukul berapa dari jam tangannya. Karena Hinata tahu popularitas kawannya bukan main, maka cara teraman untuk ditempuh: bertanya pada petugas kebersihan, kau lihat Uchiha Sasuke? dan Hinata barusan melenggang melewati satu kelas dan mudah mendapati lelaki bermata kelam itu menopang dagu bosan di mejanya.

Sekilas mengintip dari jendela, Hinata segera mengenali Shikamaru Nara, murid model MUN, ada pula Gaara Sabaku penerus senator di pemerintahan. Hukum menaungi banyak murid cemerlang, dan aura persaingan menguasai kelas. Hinata mengulum bibir, tangannya berkeringat membayangkan dia duduk dan dikelilingi bintang-bintang seterang itu. Hinata menggelengkan kepala, dan meyakinkan diri harus belajar lebih giat lagi.

Sasuke menghindarinya. Hinata tidak bodoh untuk menyadari hal itu. Sejak tempo hari pujian Naruto terhadap matanya, dia dikejutkan pandangan menghakimi milik Sasuke. Hinata terbiasa dengan Sasuke yang bicara sering tepat sasaran, dan menanggapi sewajarnya. Hari ini Hinata ingin meminta maaf kalau ada barang tertinggal, atau tingkahnya menyusahkan Sasuke. Dia membuatkan snack favorit Sasuke, tersenyum begitu merasakan totebagnya masih hangat. Pas sekali dengan waktu makan siang.

Pintu kelas didorong dan para mahasiswa menghambur… bergegas mengisi perut atau menyelamatkan kepala yang menghitung mundur mau meledak pasca materi hukum agraria. Hinata mencari-cari si Uchiha dan menghampirinya tanpa pikir dua kali.

"Sasuke…" sapa Hinata lembut. Wah, cardigan dongker begitu sesuai dengan kulit Sasuke. "Karena kau tidak membalas satu pun pesanku, maaf tiba-tiba ada di sini."

"Menungguku?" nadanya mengejek.

"Sekarang mau sama mengganggunya seperti cewek-cewek berisik? Hyuuga!"

Menohok Hinata.

Penekanan pada nama belakangnya mencemooh. Hinata terkesiap. Dia mendongak, memastikan yang barusan mengusirnya benar Sasuke. Lelaki itu seperti orang lain kali ini. Hawanya dingin dan menguarkan peringatan berbahaya.

"Menyingkir."

Hinata hampir menangis. Kaget, kecewa. "Ba—baiklah."

"Aku tidak tahu isi kepalamu—tapi, tapi, aku minta maaf." Perempuan itu dibawa sadar pada tempat sepantasnya, dan dia menerima realita tentang perbedaan jauh di antara mereka.

"Tolong terimalah," bibirnya patah-patah menyuarakan hatinya. Dia mengangsurkan tote bag hitam bersablon Star Wars. Seumur-umur Hinata tak pernah berhadapan dengan jenis Sasuke yang seperti ini, makanya ia tak bersiap amunisi. Sungguh, ada salah beritahu, bukan menikam belati pada ulu hatinya.

"Dan, Sasuke…" Hinata juga perempuan yang punya harga diri. Dia meneguk ludah, memberanikan diri melawan perlakuan Sasuke yang begitu menghina. Dia bisa mengabaikan orang-orang yang malah menonton mereka seperti adegan-adegan film bioskop. Sayang, Hinata masih punya akal sehat menghindari bumbu dramatis. Ia Hyuuga, dan dia harus bisa hidup sesuai jalan yang diambil para leluhurnya. "Aku—aku, aku tidak akan mengganggumu lagi."

"Kau harus tahu, aku bukan salah satu penggemarmu."

Hinata membungkukkan badan, berbalik tanpa menoleh. "Permisi."

Sasuke baru membuka tote bagnya ketika di kelas, melempar badan di kursi, dan melipat dada. Tote bag Star Wars, huh? Mau apa?

Beberapa potong sandwich tuna tersusun dalam kotak makan bening. Irisan tomat berdesakan menempel di tutup kotak. Botol air minumnya dibeli dari vending machine. Sasuke mengerti, Hinata sengaja menggunakan bungkus bekas restoran yang dicuci seksama, supaya selentingan baru tidak tercipta. Supaya Sasuke bisa makan dengan santai tanpa harus peduli dikejar radar menyelidik dari para fansnya.


Hinata dulu punya satu gambaran mengenai Sasuke. Pengalaman pertamanya setelah cognac di restoran—setelah kesepakatan disetujui bersama—setelah ia memikirkan segalanya baik-baik.

Ia membayangkan Sasuke sebagai orang yang sulit. Berita tersiar, mulutnya bungkam sepanjang diskusi kelas dibuka, dan emosi enggan muncul di air wajahnya. Hinata mempelajari orang yang bernama Sasuke itu sangatlah populer. Namanya ada ketika Hinata mencuci tangan di toilet wanita, terdengar saat mengambil pesanan di kantin, dan sering muncul sewaktu ia menonton pertandingan baseball di kampus Komaba.

Ia mengira Sasuke seorang yang kehilangan peka akibat kabar dia tak segan menolak banyak wanita terang-terangan. Isunya dia tertarik pada laki-laki, belum lagi namanya sering terpajang di deretan nilai terbaik di papan kampus. Hinata menarik napas di perpustakaan karena di hadapannya, nama si Sasuke itu terdengar lagi. Dari awal ia tak tertarik. Senyumnya terkembang, dan memikirkan, seandainya ia ada di posisi Sasuke itu, apakah hidupnya bisa nyaman? Hinata kembali fokus menuntaskan tugasnya.

Hinata memiringkan tubuhnya, jari-jarinya menyibak anak rambut Sasuke. Bagi Hinata, bayangan orang-orang tentang Sasuke sepenuhnya keliru. Bagi Hinata, Sasuke seperti anak kecil yang butuh perhatian, dan tentunya bukan manusia luar biasa seperti tokoh utama Marvel dan DC. Seandainya mendiang Ibunya masih ada, adik kecilnya pasti berwajah serupa dengan Sasuke.

Hinata mengira Sasuke orang yang dingin, dan tak suka bicara. Padahal dia hanya lelaki kesepian yang rajin belajar. Hinata terkikik, mengingat bagaimana mayoritas perempuan mendambakan Sasuke layaknya pangeran berkuda putih dari negeri antah berantah. Baginya, Sasuke lebih mirip seperti adik SMA yang berusaha menjadi nomor satu di mata orangtuanya.

Hinata tak pernah membicarakan hal ini dengan orang lain. Tidak akan.

Tentang Sasuke yang terbungkus satu selimut dengannya. Tentang rambutnya halusnya yang pekat seperti basal. Tentang kulit tipisnya yang seputih susu. Tentang bulu mata panjangnya yang lentik.

Sungguh, Sasuke, bagi Hinata, adalah seorang lelaki kalem yang amat cantik.


Setelah emailnya dibalas Asuma, sekarang yang bisa Hinata lihat hanya tumpukan buku, rak, dan kertas HVS menggunung. Setiap meja kerja dosen dipisah pembatas kayu jati—agak di luar perkiraan mengingat ruang dosen umumnya dirancang seminimalis mungkin. Sebelah selatan, ia melihat fasilitas dapur bersama dan kursi santai untuk bercengkrama.

Kejadian tadi siang dengan Sasuke tak punya cukup kuasa menjarah pikiran Hinata. Rasa bersalahnya hangus dilalap api marah yang menjajah hatinya, ia tak mau dilecehkan lelaki—Hinata berkali-kali mencuci muka di toilet, menepuk keras kedua pipinya agar kepalanya tetap berfungsi semestinya. Setelah badai emosinya reda, Hinata pelan-pelan memulai memeriksa catatannya. Tak ada alasan bersembunyi di lubang kelinci jika ia harus menjadi ratu suatu hari nanti—seperti yang Neji katakan—ada kursi tahta tersedia untuknya.

Persoalannya, apakah Hinata pantas menerima tiara kebanggaan dari Hyuuga? Neji menjawabnya lagi, tergantung. Kau mau berubah apa tidak.

Dan Hinata, menggugurkan rasa takutnya satu per satu, menatap tong sampah bercat oranye terang dan berkata, "Wahai diriku, rasa takutku, sudah saatnya kalian pergi. Jangan punya pikiran untuk kembali." Hinata berlalu, menegapkan langkah di koridor. Mencari Asuma. Terserah Sasuke, Hinata memaafkan lelaki itu, supaya dia bebas dari belenggu yang akan menyusahkannya maju ke depan.

Para dosen diberi hak istimewa dengan ruangan yang lega, koneksi internet berbandwidth tanpa batas dan arah mata langsung menembus taman kampus. Menjadi dosen bisa dipertimbangkan, tetapi Hinata segera mencoretnya, dia merasa lebih pantas mengajar anak-anak SMP—kalau dia bertahan di zona nyaman: sikap tak bisa menampung keingintahuan yang besar.

"Mister Asuma, apakah minggu depan ada asistensi lagi? Tepatnya rabu depan…"

"Ada apa Hinata? Kau perlu izin?" bangku beroda Asuma berputar. Figur kebapakan terpancar dari raut wajahnya. Pecandu rokok menjadi nilai minus di mata Hinata, tetapi Asuma biasanya sukses membantu Hinata menemukan kembali keberanian yang dia perlukan.

"Uh, benar, Mister. Saya ada kepentingan keluarga."

Asuma mencecap pahit kopinya. Ah, Hinata sampai memberanikan diri menemuinya secara personal. Dia tahu Hyuuga keluarga seperti apa dari kakeknya, dan menjadi gadis pemalu dengan titel ahli waris tentu mengundang tuntutan sebesar gunung untuk menanggung marga keluarga bangsawan sekolot Hyuuga.

"Hmm, aku tahu kau ada di posisi penting. Kulihat sebentar jadwalnya, ya." Jari-jari Asuma bergerak, memindai kalender digital di layar. Cincin kawinnya bersinar, anaknya yang diprediksi lahir dua minggu lagi ternyata perempuan. Entahlah, ia merasa suatu hari anaknya bisa akrab dengan Hinata.

"Kabar baik. Asistensimu bisa kupindahkan besoknya, ya. Tapi jamnya tidak akan berkurang." Asuma tinggal menekan dan meletakkan kolom jadwal Hinata ke baris lain. Beres. Kelar masalah.

Hinata menggigit bibir, tidak menyangka segalanya mengalir sesuai arus prediksi. Asuma mengangguk contoh ideal bapak yang mendukung anaknya, menumpuk kepala Hinata dengan sebundel buku panduan dan buku latihan soal. "Bisa belajar di rumah."

"Uhum! Terima kasih banyak, Mister!"

"Semangat, Hinata!"


"Kau punya kaki yang bagus." Sasuke berganti profesi menjadi pengamat seni saat malam hari. Baginya, tungkai mulus Hinata perlu diapresiasi. Mengagumi kulit putih itu dengan kecupan-kecupan hangat. Napasnya memburu, selain berdebat, mulutnya punya kemampuan lain yang bisa diandalkan.

Sasuke kala itu baru mengenal perempuan ini sebagai mahasiswi politik, Hinata Hyuuga, dan ternyata tidak begitu akrab dengan cognac. Dan dia baru tahu, di luar sana, ada perempuan yang tak mendeklarasikan diri jatuh hati padanya.

Sejauh hubungan ini berlangsung, dari awal Sasukelah yang menawarkan pintu apartemennya dibuka, khusus untuk Hinata. Sebab, Sasuke berjanji tidak akan ada yang menangkap basah mereka.

Dia bilang, keluarganya sibuk dengan pekerjaan masing-masing, pun Hinata mengerti. Hanya saja, kamar Hinata dekat dengan kamar Karin, dan Hinata tak mau mengorbankan apa yang ia miliki lenyap dalam sekejap.

"A—aku," Hinata menerima dengan baik setiap perlakuan Sasuke, "Dulu bermain balet…" Kelopak matanya turun ketika tungkainya lembap karena sentuhan basah dari Sasuke. Rasa sesak timbul, setitik, berkembang menjadi sejumput, dan memerangkap hati Hinata. Air matanya terbit sampai hidungnya perih, dan sikap manis Sasuke menghapus setitik sedih di ekor matanya.

Tipikal putri raja. Berkaca dari sikapnya, Hyuuga pasti tergolong keluarga yang masih bertahan dengan didikan keras warisan leluhur. Seharusnya, jika benar dia dimanja uang, Hinata akan tumbuh jadi perempuan pemaksa yang punya keberanian meremehkan orang. Tetapi, Hinata melarikan diri dari tatapannya, dan gemetaran tiapkali Sasuke membaringkan punggungnya di antara susunan bantal.

"Tidak kau lanjutkan?" bukan pertanyaan karena Sasuke tidak menuntut balasan. Sasuke hanya butuh perempuan di bawahnya mengerang. Hinata bukan gadis yang mudah ditaklukan seperti cangkang luarnya. Perempuan ini bersikeras menantang,

"A—Ayah," jeda sebentar, "Ti—tidak setuju—hnn…"

Sasuke ingin menyentil sedikit rasa penasaran sekaligus memberi pelajaran. Fugaku luar biasa tegas, Sasuke yakin hati ayahnya produk pabrik besi dan hanya meleleh karena kebesaran Itachi. Andaikan Sasuke bisa memilih, tentu sekarang ia meneliti hukum Newton di jurusan Fisika. Sayang, posisinya berfungsi sebagai bidak cadangan apabila sesuatu terjadi pada Itachi. Andaikan Mikoto tidak ada, entahlah, Sasuke pikir hidupnya tidak layak diperjuangkan.

Dia berhenti mendesak Hinata yang tergolek, sementara Sasuke agak merunduk, ditopang dua lengan. Cukup ada ruang mengamati hasil karyanya.

"Bagaimana jika Ayahmu tahu putri kesayangannya ternyata tidur dengan sembarang lelaki?"

Hinata memandangi langit-langit kamar. Dia tak suka pertanyaan yang sering timbul-tenggelam menghantui setiap langkahnya diungkit begitu saja. Angin malam menari lembut bersama tirai.

"Dia—dia memberikanku segalanya sekaligus mengambil dariku segalanya." Hinata bangkit untuk duduk, sesak menguar di relung dada.

Jika ia berani, tentu Hinata akan mengambil jalan lain: meneruskan karir sebagai balerina, dan ia akan tinggal di Wina, bersama suaminya, dan anak-anaknya yang riang. Terlalu muluk? Hinata terdiam. Menarik selimut, merapatkan kaki lebih dekat ke rangka. Memeluk kesendirian yang tersisa.

Kenapa lelaki ini punya cukup tega menghancurkan perasaan Hinata sampai tak berbentuk?

"Kau tahu, aku ini tidak punya apa-apa. Bahkan keberanian saja… tidak punya."

"Kau cukup berani." Sasuke menangkap kedua pergelangan Hinata. Ingin menghiasi bagian selangka Hinata dengan bekas-bekas merah muda. "Keputusanmu berkonsekuensi. Aku tahu itu."

Hinata memejamkan matanya sementara Sasuke perlahan mendorongnya terjerembab di antara penjara tubuh lelaki muda di atasnya.

"Tahukah kamu, Sasuke?" bisik Hinata lirih. "Ini salah satu pemberontakanku."

Mata Hinata keperakan, dan bundar, dirundung duka; jenis pilu yang tak pernah Sasuke alami. Seperti bulan terang yang dipetik langsung dari malam yang kelam.

"Lagipula, kita hanya melakukan apa yang dilakukan orang di luar sana, 'kan?"

Sasuke memutuskan percakapan yang barusan tidak pernah ia dengar. Dia tidak bisa mengintip masa depan, tetapi barangkali karena situasi mereka mirip—nyaris—dia mengacuhkan sementara detak jantungnya yang berantakan. Untuk sekarang, biarkan dia mengingat sejengkal tubuh Hinata—kalau—kalau kemungkinan hati perempuan ini tak bisa ia miliki.