Is It Love?
...
Digimon © Akiyoshi Hongo, Toei Animation, Bandai
Is It Love? © Invea
...
Aku menatap daun pintu ruang apartemen Takeru. Entah sudah berapa menit aku berdiam mematung di tempat ini. Ini memang bukan pertama kalinya aku mengunjungi apartemen Takeru, tapi ini pertama kalinya aku mengunjunginya sendirian. Kurasakan jantungku mulai berdebar kencang. Kenapa akhir-akhir ini aku sering merasakan perasaan seperti ini?
Aku menghela napas, setelah lima belas menit terdiam, kuberanikan diriku untuk memasukkan kunci yang telah diberikan Yamato sebelumnya ke dalam lubang kunci pintu apartemen Takeru. Tanganku rasanya begitu gemetar. Ada apa sebenarnya denganku?
Aku kembali menghela napas, berusaha menengkan diriku. Setelah pintu itu tidak terkunci, kuputar kenop pintu tersebut. Kubuka pintu perlahan, kediaman Takeru benar-benar sangat hening. Aku kembali menghela napas, memasuki apartemen tersebut. Namun, saat aku berbalik untuk menutup pintu—
"Whua!"
"Whua!"
—rasa panas menjalari bahuku. Aku berteriak, dan detik berikutnya teriakanku bersahutan dengan teriakan yang lain, aku bergegas menoleh ke belakang, ku dapati Takeru sedang bersandar pada dinding seraya terkekeh kecil.
"Mou, Takeru-kun! Kau mengejutkanku!" Aku mengerucutkan bibirku, memandangnya dengan desahan lega. Tunggu dulu, bukankah tadi Yamato bilang Takeru tidak bisa bangun dari tempat tidur?
Dia masih terkekeh ringan, kudapati keringat mengalir membasahi pelipisnya.
"Aku kira ada pencuri. Aku hanya ingin memastikan."
Aku masih mengerucutkan bibirku. "Bagaimana mungkin kau bisa mengiraku sebagai seorang pencuri? Kau sudah mengenalku sejak kita kelas 2 SD!" keluhku kemudian.
Dia masih terkekeh. "Bagaimana tidak, kau memasuki apartemen yang terkunci, Hikari. Terang saja aku mengiramu sebagai pencuri."
"Terserah deh, padahal aku sudah jauh-jauh datang kemari karena mengkhawatirkanmu!" keluhku lagi.
Dia lalu tersenyum lembut. "Maaf. Kau ingin meminum sesuatu? Di luar pasti sangat dingin. Aku bisa membuatkanmu secangkir cokelat panas," tawarnya.
Kurasakan pipiku sedikit memanas saat melihat senyumnya. Oh, mungkin kulitku tengah beradaptasi dengan suhu di dalam apartemen Takeru. Aku lantas menggelengkan kepalaku.
"Tidak perlu. Aku kemari karena aku dengar dari Yamato kalau demammu cukup parah sampai-sampai kau tidak bisa bangun dari tempat tidur, dan ternyata aku hanya dibohongi," gumamku. Dia hanya menautkan alisnya.
"Aniki?" tanyanya singkat. Aku kembali mengangguk, dia menggelengkan kepalanya.
"Aku hanya demam biasa, kalian tidak perlu begitu khawatir," terangnya kemudian. Aku lantas mendesah lega walau sedikit kesal dengan perkataan Yamato sebelumnya. Ugh, dia benar-benar membuatku sangat khawatir.
"Syukurlah, kenapa kau tidak menghubungiku lebih awal? Semuanya sangat khawatir tahu!" seruku. Apalagi aku yang telah menyebabkanmu demam, iya bukan? Tambahku di dalam hati.
Dia hanya kembali tersenyum sekilas. "Maaf," sahutnya pelan. "Aku tidak sempat menyentuh ponselku sejak kemarin malam. Ibu memintaku untuk beristirahat penuh," lanjutnya.
Aku mengangguk. Setidaknya, alasannya masih dapat diterima. Namun, tak lama setelah itu, kudapati Takeru kesulitan menopang tubuhnya dengan dinding, aku lantas bergegas menghampirinya, melingkarkan lengan kirinya pada bahuku. Panas sekali!
"Hikari... Kau tidak perlu melakukannya. Aku... Aku baik-baik saja." Dia mengatakan itu dengan napas yang tersenggal-senggal. Yamato ternyata benar, demamnya memang terlihat sangat parah.
"Aku heran bagaimana kau masih bisa mengatakan itu saat kau terseok-seok bahkan untuk mencapai kamarmu sendiri," sahutku. Dia kembali terkekeh kecil.
"Aku benar-benar tidak apa-apa," ujarnya. Aku menggembungkan pipiku.
"Aku mengenalmu sudah sejak lama, Takeru. Biarkan aku membantumu kali ini," tukasku kemudian.
"Maaf," gumamnya pelan. Aku tertunduk, seharusnya aku bukan yang meminta maaf? Kau sakit karena aku bukan, Takeru?
Sesampainya di kamar, Takeru langsung berbaring di tempat tidurnya. Nafasnya tampak tersenggal-senggal. Ragu-ragu kuletakkan punggung tanganku di keningnya. Sangat panas! Suhu tubuhnya menaik dengan sangat cepat. Belum pernah aku melihat Takeru sakit sampai seperti ini sebelumnya.
"Takeru, apa kau sudah meminum obatmu? Kau sudah makan?" tanyaku cemas.
Dia menggeleng pelan. "Aniki membuatkanku bubur tadi, tapi aku belum sempat memakannya."
"Aku hangatkan ya," sahutku kemudian. Dia tidak berkata apa-apa. Tidak mau berdebat panjang, aku langsung bergegas menuju dapur, kulihat sebuah panci dipenuhi bubur di dalamnya. Aku lantas menyalakan kompor, menambahkan sedikit air dan bumbu lalu bergegas mengisi wadah kecil dengan air. Kuletakkan sebuah kain ke dalamnya. Aku lantas membawa wadah tersebut ke kamar Takeru.
Takeru tampak masih tersenggal-senggal mengambil napasnya. Aku lantas menaruh wadah air tadi ke atas mejanya. Kuraba kembali keningnya, masih panas. Dengan segera, kuperas air yang telah membahasi kain tersebut, kuletakkan kain itu pada dahi Takeru. Hawa dingin dari kain tersebut nampaknya mulai bekerja, walau masih kesulitan bernapas, Takeru kini membuka matanya dan tersenyum sekilas menatapku.
"Terima kasih," gumamnya sangat pelan. Kurasakan wajahku memerah. "Aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika kau tidak datang, Hikari."
Hentikan itu, Takeru! Kau benar-benar membuat wajahku terbakar!
"Uh, ah, uh—" Aku mengalihkan pandanganku. Menatapnya hanya membuatku semakin tergugup. Kenapa aku jadi seperti ini?
"—aku, uh, aku harus mengecek kembali bubur yang sedang kuhangatkan. Akan gawat kalau itu sampai hangus."
Aku beranjak dari tempat dudukku dan lantas kembali ke dapur, memandang sejenak pada bubur yang tampak masih belum panas itu. Aku mendesah. Ada apa dengan diriku akhir-akhir ini? Aku tidak bisa bersikap wajar lagi di sekitar Takeru. Kenapa? Bukankah kita selalu bersama selama ini? Tapi, kenapa—?
Aku mendesah kembali sebelum suara letupan bubur itu menyadarkanku, aku bergegas mematikan kompor sebelum bubur itu meluap dari tempatnya. Dengan segera, aku mengambil sebuah mangkuk dan mengisinya dengan bubur tersebut. Kuletakkan mangkuk itu di dalam nampan beserta dengan gelas kosong. Aku lantas mengisi gelas tersebut dengan air putih. Kubawa nampan tersebut ke kamar Takeru. Dia tampak lebih tenang sekarang.
"Kau sudah merasa lebih baik?" tanyaku berusaha bersikap sewajar mungkin. Dia tersenyum. Napasnya kini sudah terdengar lebih tenang.
"Ya, maaf sudah merepotkanmu, Hikari."
Berhenti meminta maaf, Takeru! Ini semua salahku.
"Kau sama sekali tidak merepotkanku. Aku baru saja menghangatkan bubur yang dibuat Yamato, dimakan ya?"
Dia mengangguk, berusaha untuk bangun dan lantas menyandarkan punggungnya pada ranjang tempat tidurnya. Kain yang menempel di dahinya terjatuh, ia berusaha untuk mengambilnya, namun tangannya tampak begitu bergetar.
"Biar aku saja."
Aku lalu menempatkan nampan di atas meja, tepat di sebelah wadah air untuk mengompresnya. Tanganku dengan segera mengambil kain yang terjatuh itu dan meletakkannya kembali ke dalam wadah.
"Maaf, aku—"
"Cukup, Takeru! Kau tidak perlu meminta maaf untuk hal seperti ini. Aku—aku—" Aku menggigit bibir, menahan air mata yang nyaris meluap keluar dari mataku. "—aku yang salah bukan? Aku yang menyebabkanmu sakit bukan? Andai saja kemarin kau tidak memakaikanku jaketmu, kau mungkin tidak akan sampai seperti ini, aku—aku—aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri karena sudah membuatmu sakit seperti ini."
Aku tak dapat membendung lagi air mataku. Mereka mengalir membasahi pipiku. Aku tertunduk dalam-dalam sampai kurasakan panas tangannya menarik punggungku lembut ke dalam rengkuhannya. Kepalaku kini bersandar pada dadanya. Sementara itu, lengan kirinya melingkari pinggangku dan tangan kanannya mengusap lembut punggungku.
"Hikari, ini bukan salah siapa-siapa. Kau tidak perlu menyalahkan dirimu seperti itu. Tuhan hanya menghendakiku untuk sakit hari ini. Hanya itu."
Dia lalu menaikkan daguku, tersenyum sangat lembut. "Jadi, berhenti menyalahkan dirimu sendiri, oke? Aku benci melihatmu menangis seperti ini." Jemarinya lantas membasuh air mataku, mengusap lembut pipiku. Aku merasa nyaman dan ingin meledak di saat yang bersamaan. Tanpa kusadari, bibirku melengkung membentuk sebuah senyuman kecil.
"Nah, begitu dong. Kau terlihat manis kalau tersenyum, Hikari."
Kurasakan pipiku kembali terbakar, aku lantas bergegas melepaskan diri dari pelukannya. Tanganku dengan segera meraih mangkuk yang sekian menit yang lalu sempat terabaikan.
"Kau—Kau harus memakan ini sebelum dingin, Takeru."
Dia hanya mengangguk. Aku lalu menyerahkan mangkuk itu padanya.
"Apa—Apa kau perlu bantuan?"
Dia kembali tersenyum. "Terima kasih, Hikari-chan. Aku rasa aku bisa melakukannya sendiri."
Aku mengangguk. "Aku akan mengambil obat demammu. Apa kau tahu di mana biasanya kau meletakkan obat itu?"
"Ada kotak P3K tertempel di dinding sebelum dapur. Ibu biasanya menaruh berbagai macam obat di sana."
"Baiklah, aku akan mengambilnya, sementara itu, kau habiskan buburnya ya?"
Dia lagi-lagi kembali tersenyum. "Tentu."
...
Tanganku merengut bagian dada dari mantel yang masih kukenakan. Saking terlalu paniknya dengan keadaan Takeru, aku bahkan tidak sempat untuk melepas mantelku. Jantungku berdebar dengan sangat kencang.
Kenapa? Kenapa jadi seperti ini?
Aku kembali mendesah gelisah. Kuraih kotak P3K yang ada di depanku. Setelah menemukan obat demam, aku lantas kembali menuju kamar Takeru dengan perasaan yang sangat tidak menentu.
Ada apa sebenarnya denganku?
Baru saja aku membuka pintu kamarnya, dia lantas menyambutku dengan senyum malaikatnya.
"Maaf merepotkanmu, kau sudah menemukannya?"
"M—Mou, Takeru-kun! Aku kan sudah bilang untuk berhenti meminta maaf!" seruku. Dia hanya terkekeh. Kutatap mangkuk yang kini sudah kembali berada di tempat sebelumnya—tepat di atas nampan, di atas meja. Kosong melompong.
"Untuk ukuran orang yang sakit, kau sepertinya tidak kehilangan selera makan," candaku kemudian. Kekehannya kembali terdengar semakin merenyah.
"Hmm, bagaimana lagi? Masakan aniki selalu lezat. Aku tidak mungkin melewatkannya."
"Baguslah!" Aku lalu memilih untuk duduk di pinggir kasurnya, menyerahkan obat demam ke tangannya dan mengambil kembali gelas yang hanya menyisakan air separuh di sana. "Dengan begitu, kau bisa minum obat dan lantas cepat sembuh."
Dia kembali tersenyum, mengambil alih obat dan gelas di tanganku. Tak lama kemudian dia meneguk itu semua. "Tentu. Aku harus pulih dengan cepat. Kalau tidak, aku tidak bisa melindungimu dan hanya akan menjadi beban untukmu."
Kurasakan pipiku kembali memanas. "Mou, Takeru! Aku—Aku bisa melindungi diriku sendiri, lagipula aku juga memiliki Tailmon dan nii-chan di sampingku."
Dia lalu menepuk kepalaku pelan. "Ba—ka—!"
Aku lantas beralih menatapnya, dia tetap tersenyum. "Apa jadinya hikari tanpa kibou yang melindunginya?"
Aku mengerucutkan bibirku. Kuangkat nampan yang ada di meja setelah aku bangkit berdiri. "Sebaiknya kau segera beristirahat, Takeru-kun."
"Apa aku mengatakan sesuatu yang salah?"
Aku mendesah, memunggunginya. "Tidak. Kau hanya butuh istirahat."
"Maaf. Terima kasih sudah datang, Hikari. Tapi, aku sudah baik-baik saja sekarang. Ini sudah menjelang malam. Kau bisa menggunakan kunci Yamato kalau kau ingin pulang."
Apa aku melakukannya lagi—? Apa aku lagi-lagi membuatnya semakin bertambah buruk, Takeru?
"Aku mengerti."
Aku berjalan kembali menuju dapur dengan perasaan yang penuh dengan kegelisahan. Kenapa akhir-akhir ini aku selalu seperti ini? Aku kembali mendesah. Bahkan saat aku mencuci mangkuk dan gelas yang baru saja digunakan Takeru, pikiranku masih melayang pada pertanyaan-pertanyaan yang entah kapan akan mungkin terjawab.
Ada apa sebenarnya denganku?
...
To Be Continued
