Chapter 4
BRUAK!
"KALIAN BODOH!" Teriak seorang pria berkulit pucat dan berambut panjang berwarna hitam itu sambil memukul meja yang tak bersalah dengan kasar.
"M-m-maaf karena kami gagal melaksanakan tugas kami, O-O-Orochimaru-sama!" Sakon bersama saudara kembarnya Ukon serta Jirobu dan Kidomaru memohon ampun sambil bersujud di hadapan Orochimaru.
"BUKANKAH KATA KALIAN DIA HANYA SENDIRIAN?! BAGAIMANA BISA TAYUYA MATI DENGAN MUDAHNYA DI TANGAN PEREMPUAN BRENGSEK ITU?!" Raung Orochimaru seraya menyambar sebuah asbak rokok dan melemparkannya ke arah Sakon hingga menghantam telak ke kepala Sakon dengan keras. Bisa dilihat darah segar mulai merembes dari bagian depan kepala Sakon dan langsung membasahi sebagian wajahnya.
"DASAR TIDAK BERGUNA!" Hardik Orochimaru.
BRUGH!
PLAK!
DUAGH!
BRUAGH!
BRUAKK!
"PERCUMA AKU MEMBAYAR KALIAN MAHAL, TAPI KALIAN SAMA SEKALI TAK BECUS MELAKSANAKAN PERINTAHKU! SUDAH BERKALI-KALI KALIAN SELALU GAGAL MENGHABISI SI HYUUGA SIALAN, SEKARANG GILIRAN CECUNGUK ITU YANG MEMPECUNDANGI KALIAN! AKU SUDAH MUAK!"
Setiap pukulan, tamparan dan tendangan dilayangkan ke tubuh anak buahnya sebagai luapan emosi. Tidak ada satu pun yang berani menyela dan menjawab cercaan pemimpin mereka yang sedang marah besar. Kemarahan Orochimaru benar-benar sudah tak terbendung lagi setelah mendapatkan kabar tentang kegagalan Tayuya untuk membunuh Fujioka Tenten yang pada akhirnya berujung pada kematian bagi gadis bersurai pink itu.
Dirinya sangat kesal saat ini. Orochimaru mendudukan dirinya di kursi kebesarannya sembari menghisap rokok untuk menenangkan pikirannya. Bukan hanya karena kegagalan salah satu anak buahnya untuk menghabisi pemimpin kelompok dagang wilayah Timur Konoha itu hingga menyebabkan beberapa kliennya tiba-tiba memutuskan kontrak kerjasama darinya, tapi juga karena kabar kematian Hyuuga Iroha, salah satu sumber informasi kepercayaannya sekaligus pengkhianat Keluarga Hyuuga yang diterimanya jugalah penyebab kemarahannya.
"Sepertinya sudah saatnya aku mengandalkanmu sekarang, Uchiha Sasuke." Kata Orochimaru pada sosok yang ternyata sedari tadi sudah berada di sana. Sosok yang awalnya berada di sudut ruangan yang gelap dan dingin itu kini mulai menampakkan wujudnya, sosok pemuda tampan berambut raven dengan gaya mencuat ke belakang dan bermata onyx dengan mengenakan pakaian dan coat berwarna serba hitam dengan bagian kerah yang menutupi sebagian wajahnya.
"Aku punya tugas untukmu. Tugasmu adalah aku ingin kau menghabisi orang-orang ini. Mereka merupakan anak buah si Hyuuga sialan itu. Kudengar dari Kimimaro, mereka sedang bertugas untuk menjaga gudang di kawasan Pelabuhan Yokohama. Terserah kau mau membunuh mereka dengan menggunakan cara apapun. Yang jelas aku akan merasa puas kalau kau berhasil melaksanakan perintahku, Uchiha." Perintah Orochimaru pada pemuda berpakaian serba hitam itu sambil memperlihatkan beberapa foto.
"Mengenai bayarannya, uangnya akan kutransfer ke rekeningmu. Kalau kau sudah selesai membereskan mereka, ada pekerjaan besar yang akan kuberikan padamu lagi."
"…" Pemuda itu hanya mengangguk tanpa mengucapkan sepatah kata pun lalu membalikkan tubuhnya sembari memegang sebuah katana dengan tangan kirinya dan pergi meninggalkan ruangan serba gelap itu.
"BRENGSEK KAU, HYUUGA!" Maki Orochimaru. Dia kembali memukul mejanya dengan geram. Semua anak buah pria tua bermata ular yang masih berada dalam ruangan hanya bisa memandangnya dalam takut dan diam.
"LIHAT SAJA! AKU AKAN MENGHABISIMU SECEPATNYA, HYUUGA! AKAN KUHANCURKAN KAU BERSAMA KELOMPOK DAGANG DAN PERUSAHAANMU! SETELAH HYUUGA BERIKUTNYA GILIRANMU, FUJIOKA! HAHAHAHAHAHAHAHAHAHA!" Tawa Orochimaru dengan suara parau yang lebih mengerikan.
.
.
.
The Black Hearts of Aegis
Disclaimer: Naruto itu Anime sah milik Masashi Kishimoto.
Fic ini terinspirasi sedikit dari unsur games Assassin Creed Brotherhood dan Syndicate milik Ubisoft dan lain-lainnya.
Warning: AU, OOC, Gaje, Typo, alur lambat. Author masih newbei dalam membuat FF. Jadi author juga masih bingung ksh judul yang tepat untuk Fic ini! Maaf kalo ga nyambung sama ceritanya :D
Rate: T-M
Main Pairing: NejiTen
Other pair: NaruHina.
Characters: Hyuuga Neji, Tenten, Uzumaki Naruto, Hyuuga Hinata, OC (dan akan muncul nama-nama lain sewaktu-waktu).
.
.
.
Usia Characters:
Uchiha Sasuke: 25 tahun.
Shion: 26 tahun.
Orochimaru: 56 tahun.
Sound Four: 26-27 tahun.
.
.
.
SKIP TIME, tiga hari kemudian….
.
.
.
Hari Sabtu ini merupakan hari yang menyenangkan bagi semua orang. Para penduduk Konoha yang tengah melakukan aktifitas mereka masing-masing dengan tempo biasa namun penuh perasaan suka cita. Tampaknya cuaca cerah hari ini juga turut andil mendamaikan hati para penduduk yang sama sekali tak terganggu dengan terik matahari yang bisa di katakan sedikit menyengat.
Sementara itu di kediaman Fujioka, terdengar suara benturan pedang kayu yang saling beradu. Sesi latihan antara Tenten dan Naruto berlangsung dengan semangat tanpa ada yang berencana menyerah sedikitpun. Meski peluh menetes di pelipis keduanya serta degup jantung yang semakin lama semakin tidak karuan, hal itu tak menyurutkan nafsu keduanya untuk saling menghabisi dalam sesi latihan ini. Jika di latihan hari-hari sebelumnya akhir dari sesi latihan ini adalah mereka membiarkan pedang kayu mereka lecet di setiap bagiannya, maka kali ini ambisi mereka untuk mengalahkan satu sama lain lebih dari sekedar itu. Pertarungan ini hanya bisa dihentikan jika salah satu dari mereka jatuh (re: Untuk pakaian latihannya Naruto dan Tenten bisa di lihat di Naruto Shippuden Ending 15 U Can Do It :D).
TAK!
TAK!
TAK!
TAK!
TAK!
TAK!
Dalam hati Tenten, ia merasa kagum akan kemajuan pesat dalam diri Naruto. Lihatlah, pemuda berambut kuning jabrik itu terus menerus menyerangnya tanpa memberi celah sedikit pun. Bahkan Tenten tampak sedikit kewalahan ketika berusaha mengimbangi seluruh serangan yang dilayangkan Naruto yang kian lama semakin mahir meski terkesan brutal dan agresif. Walau Tenten benci mengakuinya namun ia senang melihat kemampuan berpedang Naruto yang semakin meningkat tajam. Ia menyadari kemampuan Naruto yang semakin menakjubkan ketika pemuda itu membelah udara dengan pedang kayu yang memiliki permukaan mengkilat dan sisi yang tajam tersebut. Mungkin Tenten akan membicarakannya nanti dengan Tsunade, Kakashi dan Guy untuk mengajak Naruto ikut bergabung dengan Organisasi Brotherhood of Assassins, mengingat bakat pemuda itu tidak boleh disia-siakan. Tapi dia juga tidak akan memaksakannya jika seandainya Naruto tidak tertarik dan menolak ajakannya untuk bergabung.
TAK!
TAK!
TAK!
TAK!
TAK!
TAK!
TAK!
DUAK!
BRUAK!
BRUGH!
Ujung pedang kayu yang tajam itu melayang berputar-putar kemudian jatuh tergeletak sembarangan di atas lantai yang terbuat dari kayu. Untuk sejenak, Tenten menahan nafas. Dia terpaku dan terkejut melihat Naruto yang tengah berhasil melucuti senjatanya.
"RASAKAN SERANGANKU INI, PANDA-NEE!" Naruto kembali mengayunkan pedang kayunya ke arah Tenten. Tak lupa dengan seringaian kemenangan yang terlihat di wajah tampannya. Tapi sayangnya seringaian yang masih tercetak jelas di bibir pemuda itu tidak bertahan lama, karena gadis bercepol dua itu berhasil menghindari serangan dari Naruto dengan gesit lalu melompat ke arah belakang tubuhnya dengan cepat dan langsung menendang pantatnya sampai terjatuh.
BRUK!
"ITTAI!"
"Hmm kau boleh juga, Naruto. Tapi masih terlalu cepat untukmu jika ingin mengalahkanku. Berlatihlah lebih giat dan mungkin suatu saat nanti kau akan melebihiku." Ucap Tenten sambil memungut pedang kayunya lalu berjalan mendekati Naruto dan mengulurkan tangannya membantu Naruto untuk berdiri.
"Tentu saja! Aku tidak akan menyerah! Aku pasti akan melebihimu!" Sahut Naruto bangkit dan langsung kembali menyerang Tenten dengan semangat.
TAK!
TAK!
TAK!
TAK!
TAK!
TAK!
"Bagus! Terus serang aku seperti itu, Naruto! Yang paling penting kendalikanlah emosimu, kalau kau terlalu terbawa emosi dan membuat satu kesalahan saja, kau akan terbunuh oleh musuh!" Tukas Tenten sambil terus menangkis dan menghindar dari serangan Naruto.
.
.
.
Setelah usai berlatih pagi tadi dan membersihkan diri. Jam sudah menunjukkan pukul 09.35 pagi, kini Tenten dan Naruto sedang duduk di ruang makan untuk menikmati menu sarapan yang dimasak oleh Iruka yang bekerja sebagai pelayan di kediaman Fujioka.
"Naruto…" Panggil Tenten.
"Ya, Panda-nee?" Sahut Naruto.
"Apa kau masih membenci ayahmu?" Tanya Tenten setelah menghabiskan sarapannya dengan tenang.
"…" Naruto hanya terdiam sambil memandangi piring berisi omurice dan segelas susu putih yang sudah tersedia di hadapannya.
"Kejadian itu sudah berlalu selama 8 tahun. Sebaiknya kau hapus rasa bencimu itu, Naruto. Karena kebencian hanya akan menimbulkan masalah baru. Kebencian tidak akan menyembuhkan lukamu, itu hanya akan membuat hidupmu lebih sengsara." Ucap Tenten lalu meneguk hot cappucino-nya.
"Aku mengerti." Naruto menundukkan wajahnya.
"Dan satu hal lagi, ingatlah kau tidak sendirian. Masih ada Iruka, Kakashi-sensei, Guy-sensei, Tsunade-sama, Temari-san, Lee dan Ino termasuk aku. Kita ini sudah menjadi keluarga bukan?" Perkataan gadis bersurai cokelat itu tentunya membuat hati Naruto berdesir pelah sampai terasa hangat.
"Nee-chan…." Gumam Naruto. Pemuda bersurai pirang itu kembali mengangkat wajahnya saat Tenten menepuk pelan kepalanya, kedua matanya beralih pada kedua mata Tenten yang menatapnya dengan lembut.
"Walau kita tidak sedarah, aku selalu menganggapmu sebagai adikku sendiri, Naruto." Tenten tersenyum hangat sambil mengacak halus rambut pirang Naruto.
"Arigatou…arigatou karena selama ini sudah menyayangi dan menganggapku sebagai adikmu, Tenten-nee." Ucap Naruto sambil memeluk Tenten dengan penuh kasih sayang.
Tenten tersenyum dan hanya terus mengacak rambut Naruto sampai akhirnya berkata, "Oh iya, tunggu sebentar." Tenten langsung membungkukkan sedikit tubuhnya dan memasukkan tangan kanannya ke dalam kolong meja makan lalu mengeluarkan sebuah kotak berisi sepasang sepatu sport.
"Nah ini hadiah yang sudah kujanjikan untukmu." Ujar Tenten sambil menyerahkan kotak tersebut pada Naruto.
"Wah, sepatu sport keluaran terbaru! Arigatou, Panda-nee!" Seru Naruto girang. Naruto mengambil kotak sepatu tersebut dan memandanginya dengan mata berbinar cerah.
"Ne, sama-sama. Ah, sebaiknya kita selesaikan sarapan dahulu, nanti sarapannya keburu dingin loh."
Tak lama kemudian mereka berdua pun kembali melanjutkan sarapan mereka yang tertunda. Kegiatan sarapan pagi itu berlangsung hangat seperti biasa, Tenten dan Naruto asyik mengobrol mengenai berbagai macam topik hingga kegiatan sekolah Naruto yang tentunya dijawab oleh Naruto secara antusias membuat Tenten selalu tersenyum melihatnya. Diam-diam, Iruka mengamati suasana yang penuh kehangatan dan kekeluargaan itu dengan wajah bahagia. Ia selalu berdoa dan berharap pada Kami-sama agar keluarga kecil itu selalu hidup bahagia walau kedua majikannya masing-masing memiliki masa lalu yang sangat kelam terutama Tenten yang sampai sekarang masih berjuang keras untuk menemukan identitas diri dan keluarga sebenarnya.
TIN!
TIN!
TIN!
Suara klakson mobil terdengar nyaring dari luar, membuat kedua 'bersaudara' itu serempak menoleh ke arah jendela. Tampaklah sebuah mobil Red Ferrari berhenti di depan rumah mereka dan seorang gadis cantik berambut pirang panjang yang dikuncir kuda dan bermata aquamarine melambai semangat dari dalamnya.
"Sepertinya aku sudah dijemput." Ujar Tenten sambil berdiri dari kursinya dan merapikan kembali pakaiannya.
"Aku pergi dulu ya…" Gadis bersurai brunette itu menyambar tasnya lalu mengecup pipi Naruto, berjalan menuju pintu keluar dan bergegas pergi ke mobil Ino.
"Bye, Panda-nee! Hati-hati di jalan!" Balas Naruto sambil melambaikan tangan pada Tenten dengan mulut penuh sarapan yang masih setengah dikunyahnya.
.
.
.
Selesai sarapan, Naruto pergi ke dapur sambil membawa piring-piring kotor bekas sarapan tadi pagi dan ikut membantu Iruka mencuci dan membereskan peralatan makan. Setelah selesai dengan pekerjaannya, Naruto pun langsung beranjak dari dapur, berjalan pelan menaiki tangga menuju kamarnya. Baru saja ia merebahkan tubuhnya ke ranjang untuk memperoleh ketenangan setelah selesai berlatih dengan Tenten, tiba-tiba smartphone-nya berbunyi menandakan ada panggilan yang masuk. Naruto pun segera mengambil smartphone-nya yang berada tidak jauh darinya. Ia terkejut melihat nama Hinata yang terpampang pada layar smartphone-nya lalu dengan cepat ia pun mengubah posisi tidurnya menjadi terduduk kemudian ia segera menekan tombol hijau untuk menjawab telepon tersebut.
"Halo, Hinata-chan? Ada apa?"
"A-ano. Bisa tolong beritahukan alamat rumahmu?"
"Eh? Untuk?"
"Naruto-kun. Jangan bilang kau lupa dengan tugas Fisika yang diberikan oleh Ebisu-sensei."
"Ah! Benarkah?! Ck, kenapa aku bisa lupa kalau hari ini aku ada janji denganmu. Aku benar-benar minta maaf, Hinata-chan."
"Tak apa-apa. Ah, bisa tolong sebutkan alamat rumahmu?"
"Oh ya. Ini di Kompleks Perumahan East Konoha Blok B no 10." Naruto segera menyebutkan alamat rumahnya dengan lancar.
"Oke. Nanti siang sekitar jam 2 aku akan datang ke rumahmu yah, bye Naruto-kun."
"Baiklah. Sampai ketemu nanti, Hinata-chan."
Dan sambungan telepon itu pun terputus. Naruto tersenyum lebar menatap layar smartphone-nya, suara merdu milik Hinata terngiang-ngiang dalam kepalanya. Naruto terdiam sejenak sebelum akhirnya menggelengkan kepalanya, lalu kembali merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah dan menutup kedua iris sapphire-nya untuk menikmati waktu istirahatnya di bawah hembusan pendingin ruangan.
.
.
.
SKIP TIME
.
.
.
Sementara itu jauh di tempat lain di Hyuuga Corporation, tepatnya dalam Ruangan Presdir. Terlihat Neji sedang sibuk membereskan beberapa dokumen yang baru saja selesai ditandatanganinya. Pintu ruangan kantornya terbuka, terlihat Sai memasuki ruangannya sambil membawakan sebuah iPad dan setumpuk dokumen berwarna-warni.
"Bagaimana, Sai? Apakah pengiriman senjata ke Iwagakure dan Kumogakure berjalan lancar?" Tanya Neji.
Pemuda berkulit putih pucat itu mengangguk sembari menaruh tumpukan beberapa map dan dokumen tersebut di atas meja Neji, "Proses pengirimannya berjalan lancar dan sempurna. Dipastikan semua pasokan senjata sudah tiba dan diterima baik oleh kelompokmu, Neji."
"Hnn, baguslah kalau begitu." Neji menyandarkan punggungnya pada kursi kebesarannya.
"Oh ya, ini hasil desain gedung mall yang sudah selesai kudesain semalam. Bagaimana menurutmu? Ada yang kurang?" Tanya Sai sambil memperlihatkan desain gedung mall yang hendak dibangun di daerah Ginza melalui iPad-nya pada Neji yang kembali memajukan sedikit tubuhnya ke depan seraya meneliti hasil desain tersebut dengan cermat.
Pemuda keturunan Hyuuga itu menganggukkan kepalanya, puas dengan hasil kerja keras sahabat baiknya itu, "Tidak ada. Hasil kerjamu sudah bagus. Arigatou, Sai."
"Sama-sama." Sai tersenyum seraya membetulkan posisi kacamatanya yang sedikit melorot. "Kalau begitu, Senin besok aku akan menghubungi pihak Fujioka Corporation untuk mengatakan bahwa desain yang mereka minta sudah selesai. Untuk mengenai lokasinya, kita serahkan saja pada mereka sesuai dengan perjanjian yang telah disepakati sebelumnya." Tambahnya.
"Hnn…"
DRRRRT!
DRRRRT!
DRRRRT!
Merasa smartphone-nya bergetar, langsung saja Neji mengambilnya dari saku jasnya lalu melihat nama Hinata yang tertera di layar smartphone-nya. Dengan segera Neji menjawabnya.
"Ada apa, Hinata?"
"Maaf karena aku menganggu waktumu, Neji-nii."
"Tidak apa-apa. Kenapa kau menelponku? Ada masalah?"
"Aku mau memberitahumu kalau hari ini aku ada janji untuk mengerjakan tugas bersama di rumah temanku. Mungkin aku pulang sedikit lebih lama."
"Baiklah. Berhati-hatilah selama kau pergi dan pulang nanti. Kalau ada apa-apa langsung hubungi aku ya."
"Okey, sampai ketemu nanti malam di rumah, Neji-nii."
Neji mengangguk seraya mengulas senyum tipis, "Ya sudah sampai ketemu nanti, Hinata." Neji menutup pembicaraannya secara sepihak.
"Kenapa dengan Hinata, Neji?" Tanya Sai heran.
"Hnn, dia hanya memberitahuku kalau dia ada janji untuk mengerjakan tugas di rumah temannya." Jelas Neji datar.
"Oh iya, ini semua dokumen yang kau minta. Semua sudah kuperiksa dan kau tinggal menandatanganinya. Tapi jika kau ragu, silahkan periksa kembali." Ucap Sai yang kembali menyunggingkan senyumannya.
Dengan cekatan, Neji memeriksa setiap dokumen dan kembali meneliti ulang kata demi kata yang baru saja dibacanya sembari menandatangani satu persatu dokumennya.
"Bagaimana perkembangan penyelidikan yang dilakukan Shikamaru mengenai mereka? Apakah ada kabar?" Tanya Neji yang tengah fokus pada pekerjaannya.
Sai menghela nafas panjang lalu mengambil salah satu map berwarna merah dari tumpukan dokumen tersebut lalu membukanya dan membaca isinya.
"Ia hanya memperoleh sedikit informasi bahwa Uzumaki Naruto diangkat sebagai adik angkat oleh Fujioka-san sejak 8 tahun yang lalu. Nama asli adik angkatnya menurut penyelidikannya adalah Namikaze Menma. Tapi karena ada suatu kejadian yang melibatkan kematian ibu kandungnya, dia menggunakan nama Uzumaki Naruto sebagai identitas barunya sampai sekarang. Lalu, mengenai informasi orang tua Fujioka-san, sayangnya dia tidak berhasil memperoleh informasinya. Karena Fujioka-san sama sekali tidak pernah menyinggung keberadaan mereka dalam sesi wawancaranya. Yah, untuk sementara hanya informasi ini saja yang bisa diperolehnya." Jelas Sai panjang lebar sambil menyodorkan map tersebut pada Neji.
Neji menghentikan pekerjaannya sementara. Ia menerima map itu, kemudian membukanya, membaca isi map tersebut. Neji sedikit mengerutkan keningnya ketika membaca isi map yang menurutnya sangat janggal itu.
"Tapi kau tenang saja, Shikamaru akan tetap meneruskan penyelidikannya. Jadi kau tinggal menunggu informasi tambahan dari dia."
"Hnn…" Respon Neji singkat.
"Neji? Maaf kalau aku mengatakan hal seperti ini tapi apa kau yakin kalau Fujioka Tenten yang kau temui 3 hari lalu adalah Hwang Tenten, cinta pertamamu? Apa kau yakin dia benar-benar orang yang sama seperti cinta pertamamu yang pernah kau ceritakan pada kami?"
"Ya, aku yakin dialah orangnya. Aku percaya pada feelingku yang mengatakan kalau dia benar-benar Hwang Tenten yang kukenal." Gumam Neji mantap.
Pemuda bermata lavender itu menatap sendu sebuah foto yang ada di atas meja kerjanya saat ini. Salah satu tangannya mengenggam erat bingkai foto yang berisikan foto seorang anak laki-laki kecil berambut cokelat panjang dengan seorang anak perempuan kecil yang manis. Rambut cokelatnya dicepol dua, masing-masing di sisi kepala. Terlihat mereka sedang duduk bersama di taman. Wajah mereka tampak ceria dan senang, keduanya juga sedang menikmati permen kapas gulali masing-masing.
CKLEK!
"Neji-kun!" Seorang perempuan berambut pirang panjang dan berpakaian seksi tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh seorang resepsionis tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Senyum sumringah tidak pernah lepas dari bibir tipisnya.
"Tch, Shion." Gumam Neji mendesis.
"M-m-maaf, Neji-sama! Saya sudah melarangnya untuk masuk, tapi ia tidak mau mendengar. Beliau bersikeras untuk menemui Anda." Wanita yang bertugas sebagai resepsionis itu pun menjelaskannya dengan takut-takut.
Neji hanya bisa menghembuskan nafasnya, kedua mata lavender-nya menatap tajam si wanita yang diketahui bernama Shion itu, kemudian ia meminta resepsionis tersebut meninggalkan ruangannya.
"Untuk apa kau kemari? Kau tidak lihat aku sedang sibuk?" Nada bicara Neji terdengar sedikit tinggi dari biasanya.
"Memangnya aku tidak boleh mengunjungi calon kekasihku sendiri?" Jawab Shion enteng.
"Siapa yang kau maksud sebagai calon kekasihmu?" Sindir Neji.
"Tentu saja, kau. Memangnya siapa lagi? Mayat hidup yang berdiri di sebelahmu? Hah! Yang benar saja!" Shion menatap hina ke arah Sai. Sedangkan Sai hanya tersenyum, namun sepasang iris onyx miliknya menatap intens padanya.
"Hnn. Kau terlalu percaya diri, Shion." Neji tersenyum sinis.
"Itulah aku. Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku meski kau tidak cinta padaku, Neji-kun. Lagipula pamanmu sudah lama bersahabat dengan ayahku. Jadi kita bisa menyatukan hubungan kita dengan mudah." Neji yang langsung mengerti arah pembicaraan ini menjadi geram.
"Terserah apa katamu. Kau jangan berharap terlalu tinggi untuk bisa membuatku jatuh cinta padamu. Apa dengan berpakaian seperti itu akan membuatku tergoda?" Tukas Neji.
"Bukankah kau suka dengan penampilanku? Memangnya aku salah bila cara berpakaianku seperti ini? Kurasa tidak ada yang salah. Siapa tahu saat kita menikah nanti, kita bisa menghabiskan malam yang panjang."
"Kau terlihat seperti pelacur murahan, jelek." Celetuk Sai dengan wajah tanpa dosa.
"Tutup mulut busukmu, kau mayat hidup!" Bentak Shion kasar.
"Sebaiknya kau pergi dari sini sebelum aku berubah pikiran, Shion." Usir Neji.
"Kenapa kau malah mengusirku, Neji-kun?!" Teriak Shion tak terima.
Neji yang sedari tadi merasa jengah sekaligus muak melihat Shion, dengan segera memencet tombol khusus untuk memanggil petugas keamanan kantornya. Tak berapa lama, dua orang petugas keamanan bertubuh besar masuk ke dalam ruangannya. Neji memberi isyarat kepada mereka untuk menyeret gadis itu keluar dari gedung perusahaannya.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN, HAH?! JANGAN SENTUH AKU! BERANINYA KAU MENGUSIRKU NEJI-KUN!" Teriak Shion dengan wajah marah, begitu dia melihat kedua petugas keamanan datang menghampirinya dan mencekal kedua lengannya.
"Pastikan dia tidak kembali ke sini lagi." Titah Neji datar tapi tegas dan penuh penekanan.
"Baik, Neji-sama!"
"HEI, LEPASKAN AKU! LEPASKAN!" Teriak Shion tepat di samping kedua petugas keamanan itu yang tentu saja tidak didengar sama sekali. Shion terus meronta-ronta sementara kedua petugas keamanan itu terus menyeretnya tanpa mengubris rontaannya. Mereka terus menyeretnya hingga dalam sekejap sudah berada di lantai terbawah gedung Hyuuga Corporation.
"Silakan anda meninggalkan tempat ini, Nyonya." Kedua petugas keamanan itu menyeret Shion keluar dari gedung Hyuuga Corporation.
"KALIAN BENAR-BENAR KURANG AJAR! DASAR BIADAB!" Maki Shion di depan gedung Hyuuga Corporation. Sementara itu, kedua petugas keamanan itu kembali ke pos mereka setelah mengusir Shion.
"Awas saja kalian, akan kubalas perlakuan kalian ini padaku begitu aku menjadi istri Boss kalian. Dan akan kubuat kau bertekuk lutut di hadapanku, Neji." Geram Shion sambil merapikan kembali penampilannya yang sedikit berantakan, lalu bergegas menuju mobilnya dan meninggalkan kompleks Hyuuga Corporation. Ia sangat marah hari ini. Baginya ini adalah hari terburuk sekaligus hari paling memalukan yang pernah ada, karena diusir dari Hyuuga Corporation oleh pewaris utama Hyuuga itu secara tidak terhormat.
.
.
.
"Kenapa kau masih di sini?" Tanya Neji menatap heran Sai yang masih betah berdiri di hadapannya meski Shion meninggalkan mereka berdua beberapa menit yang lalu.
Sejak Hyuuga Corporation di bawah pimpinan Neji, dia menetapkan peraturan bahwa jam kerja untuk seluruh karyawan hanya sampai jam 12 siang untuk setiap hari Sabtu. Neji tahu bahwa jam kerja sekarang sudah hampir jam 12 siang dan sudah seharusnya seluruh karyawan bersiap-siap untuk pulang termasuk juga Sai dan dirinya yang sebentar lagi akan selesai dengan pekerjaannya. Terlebih lagi, mereka berdua harus bersiap-siap untuk bertemu dengan beberapa kolega perusahaan lain di suatu restoran.
"Hey, Neji. Boleh aku minta tolong padamu?" Pinta Sai.
Tanpa berpikir panjang lagi, Neji menganggukan kepalanya.
"Kau ingin aku membantu apa?" Tanya Neji. Neji menaikkan sebelah alisnya melihat Sai yang tersenyum penuh arti ke arahnya.
"Bisakah kau ikut denganku ke Grand Konoha Mall sore nanti?" Tutur Sai seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Untuk apa? Kau mau berbelanja di sana?" Neji melontarkan pertanyaan yang paling logis untuk seorang Kunihitzu Sai.
"Bukan…" Sai menggelengkan kepalanya.
"Nonton Film?"
Sai masih menggelengkan kepalanya.
"Beli buku?"
Sai menggeleng lebih kuat. Neji tidak mendengar kata 'iya' dari mulut sahabatnya.
"Apa yang sedang dipikirkan oleh Sai?" Batin Neji dengan pemikirannya sendiri.
"Aku…" Terlihat Sai ragu-ragu meneruskan perkataannya.
"Ya…?" Neji menunggu pemuda berambut klimis itu melanjutkan kalimatnya dengan sabar.
"Aku…"
"Ya…?" Kesabaran Neji semakin lama semakin diuji. Sahabatnya yang satu ini memang bisa membuat dirinya terombang-ambing karenanya.
"Sebenarnya aku…errr…"
"YA…?!" Neji semakin tidak sabaran. Ingin rasanya ia bangkit berdiri dari kursi kebesarannya dan menjitak kepala Sai saking kesalnya.
"Sebenarnya aku ada janji untuk bertemu dengan teman kencanku." Perkataan Sai yang terdengar lirih itu sukses membuat Neji membulatkan kedua bola matanya.
"Sejak kapan kau mulai menjalin hubungan dengan seorang gadis?!" Tanya Neji kaget.
"Aku sudah berteman dengannya selama 1 setengah bulan. Kami berkenalan lewat online. Dia itu baik, pintar dan cantik sekali. Kebetulan aku punya fotonya di ponselku." Sai mengeluarkan smartphone-nya lalu membuka salah satu aplikasi yang menampilkan beberapa jenis foto. Setelah menemukan foto yang dimaksud, Sai langsung memamerkannya pada Neji yang kini mengalihkan tatapannya pada layar smartphone yang menampilkan foto tersebut. Sebuah foto yang menampilkan wajah seorang gadis cantik berambut pirang panjang yang dikuncir kuda dan bermata aquamarine sedang tersenyum sambil memasang pose peace dengan dua jarinya.
"Menurutmu bagaimana, dia cantik kan?"
"Lumayan, ternyata seleramu tidak buruk juga. Tapi yang membuatku bingung kenapa kau mengajak aku?" Tanya Neji mengerutkan alisnya bingung.
"Kenapa tidak? Ayolah sekali ini saja kau luangkan waktumu untuk membantuku." Pinta Sai dengan nada memohon berharap agar sahabatnya itu menyetujui kemauannya.
"Kenapa kau tidak ajak saja Shikamaru? Kau tahu kan kalau aku tidak suka dengan hal semacam itu." Tukas Neji dingin.
Sai memutar bola matanya malas sambil melipat kedua tangannya ke depan dada, "Kau seperti tidak tahu sifatnya Shikamaru saja. Mana mau dia berurusan dengan hal yang menurutnya merepotkan seperti ini." Ucapnya sedikit kesal.
"Kalau begitu, aku tidak jadi membantumu." Sahut Neji sembari melanjutkan kembali pekerjaannya yang belum selesai.
"Kumohon, Neji. Sebenarnya ini pertemuan pertamaku dengannya. Aku tidak mau mengecewakannya. Jadi, tolong bantu aku ya?"
Neji menghentikan kegiatannya dan kembali menatap Sai yang masih menatap Neji dengan pandangan memohon andalannya, kemudian ia menghela nafas panjang dan berkata sambil memjiat pelipisnya, "Huh…Baik, baik, aku ikut. Tapi sebelum itu kita masih ada urusan dengan beberapa kolega perusahaan kan? Jadi, jam berapa kita akan menemui teman kencanmu itu?"
"Jam 4 sore nanti. Kita akan bertemu di café langganannya." Sai menyeringai sembari melirik sekilas ke jam tangan di pergelangan tangan kirinya. Ternyata jam sudah menunjukkan jam 12 siang, "Wah sudah waktunya kita pergi. Sebaiknya kita segera keluar dari sini, satu setengah jam lagi kau harus bertemu dengan mereka, Neji."
Neji mengangguk. Ia langsung membereskan semua dokumen yang sudah selesai ditandatanganinya bersama Sai yang juga ikut membantunya dengan cepat. Setelah semuanya beres, mereka melenggang pergi menuju lift untuk mengambil mobil mereka masing-masing yang sudah terparkir di depan pintu masuk. Tanpa menunggu lama, mobil milik Neji dan mobil milik Sai sudah meluncur mulus membelah jalan Kota Konoha.
.
.
.
"Rumahnya Naruto-kun, di mana ya? Ugh, cuaca hari ini panas sekali sih." Keluh Hinata sambil mengelap keringat yang ada di pelipisnya dengan sapu tangan.
Siang ini, terlihat Hinata tengah berjalan memutari daerah Kompleks Perumahan East Konoha. Sebuah kompleks perumahan kelas atas hingga menengah ke atas yang hampir sama dengan rumah tempat ia tinggal bersama dengan Neji. Ia sedang mencari alamat rumah yang telah diberitahukan oleh Naruto saat menelponnya tadi. Puluhan rumah-rumah besar nan mewah sudah dilewatinya tapi tempat tujuannya masih belum ketemu juga. Butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya ia menemukan apa yang dicarinya. Ia menemukan papan di depan sebuah rumah yang bertuliskan Blok B no 1.
Hinata tersenyum senang, "Nah! Berarti rumahnya ada di sekitar sini."
"Umm….Blok B no 2, Blok B no 3, Blok B no 4…" Hinata berjalan melewati rumah-rumah itu seraya mengamati nomor rumah yang tertera seperti pada rumah yang ia lihat sebelumnya. "Blok B no 9, Blok B no 10…Ah! Ini dia! Akhirnya ketemu juga!"
Hinata berdiri menghadap sebuah rumah yang sepertinya hampir seukuran dengan rumah milik Neji yang juga bertingkat 2 lantai. Gadis berambut indigo itu memasuki gerbang rumah besar. Iris lavender-nya memandang berkeliling ke halaman rumah itu. Rumah berhalaman cukup luas yang bernuansa Eropa era Victorian. Di halamannya terparkir sebuah motor sport berwarna biru mengkilat yang sangat dikenali Hinata. Hinata terus berjalan sampai berhenti di depan pintu rumah, menekan bel pintu rumah tersebut. Tidak lama kemudian ada seorang pria membukakan pintu.
"Maaf, apa benar ini Rumah Naruto-kun?"
"Temannya Naruto-kun ya?" Tanya Iruka ramah.
Hinata mengangguk, "Ya. Aku Hinata."
Pria bercodet itu sepertinya sudah diberitahu oleh majikannya mengenai kedatangan Hinata. Iruka mengangguk sembari tersenyum.
"Mari ikuti saya." Iruka mempersilahkan Hihata masuk setelah ia berucap.
Hinata mengangguk dan mengikuti Iruka memasuki rumah tersebut.
Hinata mengikuti pria bercodet itu menaiki tangga yang terletak di belakang ruang tamu. Pria itu membawa Hinata ke sebuah ruangan di lantai 2 yang terletak di sebelah kiri di depan tangga. Iruka mengetuk pintu di hadapannya.
TOK!
TOK!
TOK!
"Saya sudah datang bersama Hinata-sama, Naruto-kun." Kata Iruka.
"Masuk!" Terdengar suara Naruto menyahut dari balik pintu. Iruka membukakan pintu ruangan dan mempersilahkan Hinata masuk.
"Selamat siang, Naruto-kun." Sapa Hinata.
"Wah! Selamat datang, Hinata-chan!" Sambut Naruto bersemangat. Hinata hanya membalasnya dengan senyuman kecil tak lupa dengan semburat merah di wajah putihnya.
"Kau mau minum apa? Biar aku buatkan." Tawar Naruto.
"Ah tidak usah." Tolak Hinata halus.
"Kau yakin tidak mau minum dulu? Katakan saja kau tidak perlu merasa malu."
"Tidak usah repot-repot, Naruto-kun." Jawab Hinata cepat. "Lebih baik kita kerjakan saja tugasnya sekarang." Lanjutnya yang disambut dengan anggukan penuh semangat oleh pemuda berkumis kucing itu.
"Mohon bantuannya, Hinata-chan!"
.
.
.
Dua jam kemudian di Rumah Naruto, kegiatan belajar dan mengerjakan tugas bersama itu berlangsung dengan santai. Baik Naruto maupun Hinata kini sibuk menjawab soal, selain itu mereka berdua juga berdiskusi untuk memecahkan soal yang sulit. Bahkan Hinata dengan sabar mengajari Naruto yang memang sangat lemah terhadap pelajaran Fisika setelah Matematika tentunya. Namun, gadis yang memiliki mata yang sama seperti kakak sepupunya itu melakukannya dengan senang hati demi pemuda yang disukai dan dikaguminya itu.
"Heh…jadi begini kan hasilnya, Hinata-chan?"
"Yup! Hasilnya benar semua." Kata Hinata sembari mengembalikan buku yang tadi sedang diperiksa olehnya.
"Yeahhh! Akhirnya selesai juga, dattebayoooo!" Teriak Naruto mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi setelah mengerjakan soalnya.
"Kalau kau betul-betul paham, kau bisa mengerjakannya dengan mudah kan?" Tanya Hinata.
Naruto mengangguk, "Kau benar. Arigatou untuk semuanya ya, Hinata-chan!"
"Ne…" Hinata sembari merapikan membereskan buku dan memasukannya ke dalam tasnya.
Naruto terdiam sesaat, lalu memandang Hinata yang baru saja selesai membereskan buku-buku pelajarannya.
"Hinata-chan?"
"Ya, Naruto-kun?" Gumam Hinata sambil memasukkan buku terakhir ke dalam tasnya.
"Apa setelah ini kau ada waktu?"
"Tentu. Memangnya ada apa?"
Naruto tersenyum sumringah, "Benarkah? Begini….aku ingin mengajakmu untuk membuat cookies di sini. Bagaimana?"
"Eh?"
"Aku ingin kau mengajariku membuat kue lagi! Soalnya kakakku suka sekali dengan kue yang kau buat bersamaku! Kali ini aku ingin coba membuat cookies. Jadi bagaimana, kau mau?"
Hinata tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya ia tersenyum pada Naruto, "Baiklah. Mumpung aku sedang senggang, aku bisa membantu dan mengajarimu, Naruto-kun." Dalam hatinya Hinata senang jika berduaan dengan Naruto.
"Yatta!" Pekik Naruto senang. "Kalau begitu ayo kita ke dapur!" Putusnya sembari berdiri dan menarik tangan Hinata menuju dapur.
.
.
.
Di pihak lain, Grand Konoha Mall…
Menjadi tahanan Ino yang shopaholic memang sudah biasa bagi Tenten, walau kadang-kadang gadis bermata hazel itu mendengus jengkel mengingat sudah hampir 4 jam mengelilingi salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Konoha yaitu Grand Konoha Mall. Beberapa butik dan toko merk pakaian terkenal sudah dimasuki keduanya, terkadang ia dipaksa mencoba beberapa pakaian yang dipilih Ino. Bagi Tenten, hal seperti ini hanya membuang waktu, tenaga dan uang secara sia-sia karena ia tidak terlalu menyukai fashion. Tenten lebih menyukai makanan manis, mengoleksi senjata, melakukan berbagai macam olah raga dan bela diri. Meskipun begitu penampilannya selalu modis dan sesuai dengan trend jaman sekarang.
"Hei, Ino! Kapan kau akan selesai? Aku sudah capek tahu!" Omel Tenten.
"Ini sebentar lagi selesai nih. Aku janji." Balas Ino yang masih sibuk memilih-milih baju.
"Astaga, Ino! Apa perlu kuingatkan sekali lagi kalau sebentar lagi kita harus bertemu dengan teman kencanmu hah?"
"Akh! Aku hampir lupa! Untung saja kau mengingatkanku, Ten-chan! Kau tunggu aku bayar ke kasir dulu ya?" Ujar Ino sambil berjalan menuju kasir.
"Hnn…" Jawab Tenten sambil menganggukkan kepala.
.
.
.
Masih berada di Grand Konoha Mall, di sebuah Café….
"Haish…kau ini benar-benar gila, Ino. Berbelanja sebanyak ini…" Ujar Tenten sambil menunjuk tumpukan kantong belanjaan di samping tempat Ino duduk.
"Hehehehehe…kau kan sudah tahu bagaimana sifatku kalau dalam hal berbelanja." Balas Ino sambil menyeringai licik.
Saat ini mereka berdua telah selesai berbelanja (re: Lebih tepatnya Ino yang banyak berbelanja daripada Tenten yang sama sekali tidak berbelanja satupun barang untuk dirinya sendiri.) dan mereka sedang duduk di sebuah Café langganan mereka di dekat jendela besar, tempat Ino janjian bertemu dengan teman kencannya. Kemudian, keduanya memesan makanan ringan dan minuman sambil menunggu kedatangan teman kencan Ino. Mereka memang sengaja datang 10 menit lebih awal dari waktu janjian.
"Jadi siapa orang yang akan kau kencani sekarang?" Tanya Tenten dengan raut muka penasaran.
"Dia teman chattingku. Kami sudah lama berteman selama 1 setengah bulan. Aku pernah lihat fotonya dan wajahnya benar-benar tampan!"
"Aku jadi ingin melihat siapa yang menjadi teman kencanmu." Timpal Tenten sembari memakan kentang gorengnya.
"Oh ya! 3 hari yang lalu kau bertemu dengan Presdir Hyuuga Neji di kantor kan? Ceritakan, apakah dia setampan seperti yang digosipkan para karyawan?" Tanya Ino semangat dengan mata yang berbinar-binar cerah.
"Well, dia memang tampan. Hanya saja…" Ujar Tenten pelan.
"Ya…?" Tanya Ino, matanya memandang ingin tahu pada Tenten yang sedang menikmati makanannya.
"Hanya saja, aku merasa pernah bertemu dengannya dulu sekali." Sahutnya membuat Ino hampir tersedak oleh Crème Brulee yang sedang dimakannya.
"Apa? K-Kau serius?!" Tanya Ino kaget.
"Awalnya aku berpikir seperti itu tapi semakin kupikir sepertinya mustahil. Aku rasa pertemuan pertamaku dengannya tidak ada sangkut pautnya dengan ingatan masa laluku yang hilang." Jelas Tenten.
"Ten-chan…" Lirih Ino dengan raut wajah yang terlihat sedih.
"Hei, Ino! Sudah tahu jelek, jangan memasang wajah seperti itu, tambah jelek saja." Ledek Tenten.
"Yah!" Pekik Ino kesal.
"Hahahaha. Aku hanya bercanda kok. Ah! Aku ke toilet dulu ya. Mau cuci tangan." Kata Tenten sambil bangkit dari kursinya dan menuju toilet.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain yang tak jauh dari mereka, terlihat Neji dan Sai yang baru saja sampai di depan Café (re: setelah selesai bertemu dengan kolega perusahaan, mereka langsung menuju ke sini). Mereka sedang mengamati suasana café itu dari luar secara seksama. Mungkin lebih tepatnya, hanya Sai saja yang mengamati suasana café sedangkan Neji, wajahnya terlihat bosan dan ia ingin sekali pergi dari Mall ini.
"Sai. Ayo kita pergi dari sini jika kau tidak berani menghampiri gadis itu. Aku sudah bosan berada di sini. Aku sudah sangat lelah dan ingin cepat pulang." Keluh Neji pada Sai yang terus memandang ke arah Café. Oh, lebih tepatnya ke arah Ino yang sedang menikmati Crème Brulee favoritnya di Café tersebut.
"Diamlah! Aku sedang berpikir." Kilah Sai.
"Untuk apa kau berpikir keras demi menemui teman kencanmu itu? Lebih baik kau masuk saja ke dalam Café itu dan langsung menemuinya sehingga aku bisa pulang dan tidur di kamarku." Ucap Neji.
"Kau sungguh membantu, Neji-sama." Sindir Sai karena kesal dengan tingkah laku Neji yang menurutnya tidak membantu sama sekali. Jika Sai boleh jujur, ia merasa sangat gugup untuk bertemu dengan Ino yang terlihat sangat cantik dan anggun di matanya.
"Hnn. Sama-sama." Neji menyeringai kecil sembari melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Sai.
"Hei! Kau mau kemana?" Panggil Sai.
"Aku mau ke toilet sebentar…" Sahut Neji.
"Hah…dasar." Gumam Sai sebal.
Sai langsung bersiap menuju pintu masuk Café tersebut. Pemuda itu segera saja melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Ia sudah memantapkan dirinya dan mengepalkan tangannya erat.
"Berjuanglah, Sai!" Ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
.
.
.
Kini Neji sedang berjalan terburu-buru menuju toilet. Dia pun celingak celinguk mencari arah toilet hingga berapa menit kemudian ia menemukan anak panah yang mengarahkannya ke toilet. Namun di persimpangan menuju toilet, Neji tidak sengaja menabrak seseorang hingga orang tersebut terjatuh.
"Awww…" Ringis orang tersebut seraya mengusap pantatnya yang sakit.
"Maaf. Aku tidak sengaja, karena aku sedang terburu-buru." Neji mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh tangan orang itu. Namun ia sangat terkejut begitu pula dengan orang itu.
"K-Kau?!" Ucap Neji dan orang itu berbarengan.
Neji membelalak, raut terkejut sang pemuda itu terpantul di sepasang manik hazel orang itu.
"T-Tenten…?" Ucap Neji. Seolah tidak percaya bahwa menatap Tenten telah berada di hadapannya.
"Wah. Aku tak menyangka kita akan bertemu lagi di sini, Neji-san." Tutur Tenten. Mata hazel itu menatap Neji dalam tanpa melepas senyumannya.
.
.
.
Sementara itu di tempat lain….
"Bagus. Kau bekerja dengan sangat baik, Uchiha." Kata Orochimaru sembari memandangi beberapa lembar foto yang tergeletak di atas meja.
"Hnn…"
"Khu…khu…khu…khu…aku sudah tak sabar melihat reaksinya jika Hyuuga sialan itu melihat foto-foto ini." Kekeh Orochimaru.
"…"
"Sesuai janjiku, bayaranmu sudah kutransfer ke rekeningmu, kau bisa mengeceknya sendiri."
"Jadi? Siapa targetku selanjutnya?"
Kedua mata Ororchimaru melebar, ia menyeringai senang mendengar apa yang dikatakan pemuda Uchiha itu. Ternyata tidak sia-sia ia mengeluarkan banyak uang demi menyewa pembunuh bayaran internasional yang sekarang berdiri di hadapannya. Orang kepercayaannya mengatakan bahwa pemuda itu sudah sering dibayar untuk membunuh penjabat-penjabat tinggi bahkan artis-artis terkenal dari berbagai Negara, membunuh kelompok mafia dan kelompok pembunuh bayaran dan yang paling baru, dia baru saja melakukan pembunuhan pada Putri Mahkota Denmark. Cara kerjanya sangat rapi dan sama sekali tidak meninggalkan bukti. Hanya orang-orang terlatih seperti Organisasi Brotherhood of Assassins yang bisa mengenali cara kerjanya.
Salah satu sudut bibir terangkat hingga membentuk seringaian jahat yang tercetak jelas di wajah pria bermata ular itu. Tangannya merogoh saku jasnya, mengambil sebuah foto dan menyodorkan foto tersebut pada Sasuke.
"Misimu kali ini adalah kau harus membunuh Fujioka Tenten. Aku ingin kau membunuhnya dengan cara sebrutal mungkin."
TBC
Hallo semuanya akhirnya kita bertemu lagi di chapter 4! Maaf karena selama sekitar 4 bulan saya tidak bisa update dan Maaf krn author baru bisa update karena baru menyelesaikan skripsi dan author uda lulus! :D
Tapi sayangnya author juga ga bisa update cepat-cepat krn juga sibuk bekerja di dunia kerja -_- Tapi Author juga usahakan sebisa mungkin bisa update FF Black Of Hearts Aegis termasuk update FF Getsurenka :D
Maaf karena author ga bisa membalas satu persatu review dari para readers! tapi author sangat berterima kasih pada readers dan silent readers mau menyempatkan diri untuk membaca FF author.
Mengenai Sound Four saya sengaja ttp memakai nama itu drpd ubah nama walau anggotanya 6 orang krn saya lbh suka nama yg aslinya saja :P
Maaf kalau dalam FF ini masih banyak kekurangannya apalagi author agak sulit dan telat menyalurkan imajinasi author ke FF ini. Sekali lagi, Author mengucapkan terima kasih pada siapapun baik silent readers maupun readers yang membaca, menfollow dan menfavorite FF ini. So please kasih review! Arigatouuuuuu! :D
