oooo
oo
Timeless
© fumiyo92
A Hunhan Fanfiction
oo
CHAPTER 3
oooo
.
.
Sehun berjalan menyusuri lorong sekolah yang mulai ramai. Beberapa siswi berteriak-teriak tidak jelas saat ia berjalan melewati mereka membuat Sehun sedikit kesal karena telinganya sakit oleh teriakan mereka. 'Tidak bisakah mereka diam?' runtuknya dalam hati. Sesekali, ia melirik ke kiri dan ke kanan mencoba untuk mencari sesosok gadis yang tidak dilihatnya dari pagi tadi. Bukannya ia khawatir namun, sosok itu merupakan sosok kunci untuk pekerjaannya. Selama ini, Sehun tidak terlalu ambil pusing sebab gadis itu selalu ada disampingnya tapi hari ini Sehun sama sekali belum melihat gadis itu. Biasanya gadis itu sudah berada di bangkunya saat Sehun datang bahkan membuat sedikit keributan saat mengobrol dengan Jongin dan Chanyeol.
Sungguh aneh.
Sehun menghela nafas panjang, ia mengotak-atik ponselnya beberapa kali untuk kembali membaca pesan singkat yang diberikan oleh Tuan Kim kepadanya, menginstruksikan dirinya untuk segera memulai misinya itu. Ia kembali menghela nafas panjang dan menyimpan kembali ponselnya di saku kemeja yang digunakannya. Sungguh, sebenarnya Sehun juga ingin segera menyelesaikan misi ini tapi hal itu tidak bisa terjadi jika ia tidak bisa menemukan targetnya sejak pagi tadi.
Sehun sedikit menggaruk bagian belakang kepalanya. Ia bosan. Sangat bosan.
Target misinya pun tidak ada membuat Sehun bingung harus melakukan apa. Tidak mungkin kan ia tiba-tiba bertanya kepada Jongin dan Chanyeol tentang gadis itu atau bertanya kepada guru-guru dimana gadis itu tinggal. Hei! Mereka mungkin akan mati karena shock sebelum Sehun mendapatkan jawabannya. Lagipula, selama seminggu ini mereka belum akrab walaupun beberapa kali Sehun makan siang bersamanya tapi… tetap saja! Akan sangat aneh jika tiba-tiba ia bertanya seperti itu.
Walaupun terlihat gampang, tapi menurut Sehun misi kali ini cukup sulit. Sulit karena selama ini Sehun dikenal sebagai orang yang anti sosial oleh teman sekolahnya. Ia juga merasa bahwa ia sangat sulit untuk membuka diri dan membiarkan orang lain mendekatinya sedangkan dalam misi ini ia diharuskan untuk mendekati gadis itu. Satu hal yang paling dihindarinya selama ini. Sehun menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal sambil kembali menghela nafas panjang, 'Akan lebih baik jika orang tua itu memberiku tugas yang seperti biasanya' ucapnya dalam hati.
Ia baru saja akan berbelok menuju taman sekolah yang sepi saat seseorang menabrak dirinya. Ia menatap gadis yang kini sedang terduduk di depannya. Rupanya tabrakan dengannya tadi membuat gadis itu terjatuh. Sehun mengerutkan keningnya saat ia melihat gadis itu dengan jelas kemudian sedikit menyeringai, 'Disini rupanya'
"Hati-hatilah kalau berjalan" ucapnya sambil sedikit melembutkan suaranya dan membantu gadis itu untuk berdiri. Suaranya sendiri berhasil membuat Sehun bergidik ngeri. Sejak kapan suaranya bisa selembut itu?
Untuk beberapa saat, gadis itu hanya terdiam dan sama sekali tidak menghiraukan keberadaan dirinya namun setelah beberapa saat gadis itu membungkukkan badannya berkali-kali, "Maafkan aku" ucapnya dengan suara parau.
Mendengar suara yang tidak biasanya, kening Sehun kembali mengkerut. Matanya pun sedikit melebar saat ia dapat melihat wajah gadis itu dengan jelas. Matanya sembab dan memerah. Jejak air mata dapat terlihat jelas di pipinya. Gadis ini terlihat sangat kacau, tidak seperti biasanya. "Kau kenapa?" ucapnya tanpa sadar.
Lumei hanya memalingkan wajahnya dan berusaha untuk melepaskan lengannya yang masih digenggam oleh Sehun, "Tak apa. Lepaskan aku"
"Kau bohong" Sehun mengeratkan genggaman tangannya, mencegah agar gadis itu tidak dapat pergi dari hadapannya, "Aku bisa melihat dari wajahmu. Ada masalah apa?"
"Lepaskan aku!"
"Apa karena siswi-siswi yang selalu mengerjaimu itu?"
Lumei berhenti memberontak dan menatap Sehun nyalang. Tatapan itu sedikit membuat Sehun mengendorkan genggaman tangannya, "Peduli apa kau? Ini masalahku! Tidak ada hubungannya denganmu!" bentaknya.
"Jika itu menyangkut gadis-gadis itu maka hal itu juga urusanku!" ucap Sehun dengan suara yang tak kalah lantang. Untung saja mereka sekarang berada di lorong yang sangat jauh dari keramaian sehingga tidak ada seorang pun yang menyaksikan perdebatan mereka ini.
Lumei menatap Sehun dari ujung kepala hingga ujung kaki sebelum kembali menatap wajah pemuda itu, "Urusanmu?" ia tertawa sinis seolah ucapan Sehun tersebut adalah sebuah lelucon yang sangat tidak lucu, "Sejak kapan kau peduli?" lanjutnya. Ia kembali mencoba melepaskan tangan Sehun yang masih memegang lengannya. Setelah berhasil melepaskan tangan itu, ia maju beberapa langkah sehingga sekarang jarak mereka hanya tersisa beberapa sentimeter saja, "Sejak aku datang ke sekolah ini, kau selalu mengacuhkanku. Saat gadis-gadis itu mengerjaiku, kau tidak pernah menolongku sama sekali. Sekarang, kau bilang bahwa ini juga urusanmu? Sungguh tidak lucu, Oh Sehun"
"Lumei!" Sehun kembali memegang erat lengan Lumei saat ia hendak pergi menjauh darinya. Perilakunya ini sontak membuat gadis itu kembali memberontak agar Sehun melepaskan genggaman tangannya itu.
"Lepaskan aku!"
"Aku tidak akan melepaskanmu hingga kau mengatakan siapa yang sudah membuatmu seperti ini!"
"Kenapa sikapmu berubah seperti ini?!" bentak Lumei, matanya menatap nyalang kepada Sehun, "Memangnya kau itu siapaku?!" lanjutnya sambil mendorong tubuh Sehun dengan keras hingga ia membentur tembok yang berada di belakangnya.
"Aku ini temanmu!" ucapan Sehun membuat mata Lumei melebar beberapa sentimeter. Mulutnya sedikit menganga seolah tidak percaya atas apa yang baru saja Sehun katakan kepadanya. Melihat reaksi gadis itu yang begitu terkejut atas pengakuannya, Sehun tidak berani menatap wajah gadis itu dan segera menundukkan kepalanya, "Aku memang tidak tahu bagaimana menunjukannya. Selama ini, hanya Jongin dan Chanyeol saja yang mengetahui diriku yang sebenarnya sehingga mereka biasa saja dengan sikapku yang seperti ini. Namun… saat kau mencoba untuk berteman denganku, aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Selama ini, tidak pernah ada yang berani untuk mendekatiku selain dari pada kau jadi aku bersikap seperti saat aku sedang bersama dengan Jongin dan Chanyeol. Aku––"
Apa yang dilakukan oleh Lumei selanjutnya menghentikan ucapan Sehun. Gadis itu menyandarkan kepalanya di dada bidang Sehun dan terisak keras. Sehun yang memang tidak pernah melihat seorang gadis menangis hanya terdiam di tempatnya dan membiarkan gadis itu menggunakan dadanya untuk menangis. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus ia perbuat dalam kondisi seperti ini.
"Kenapa…?" isak gadis itu, "Kenapa seperti ini?" ia lebih menenggelamkan wajahnya ke dada Sehun. Tangan kirinya meremas kemeja Sehun dengan sangat erat, "Aku bukan dia… tapi kenapa? Aku sudah lelah… aku tidak ingin seperti ini lagi. Kenapa dia yang harus pergi? Kenapa bukan aku saja yang mati?"
Isakan Lumei berhasil membuat Sehun mengerutkan keningnya. Ia menatap gadis yang masih menangis di dadanya, 'Siapa yang dimaksud dengan dia?' hanya satu pertanyaan itu yang terlintas di benak Sehun. Pertanyaan mengenai 'dia' yang dimaksud oleh sang gadis dan juga alasan mengapa gadis itu kini terisak dengan begitu keras di dadanya sedikit demi sedikit memenuhi pikirannya, 'Apa ada informasi yang terlewatkan?'
Sehun segera menggelengkan kepalanya. Informasi itu bisa dicarinya nanti. Yang terpenting sekarang adalah mendapatkan kepercayaan dari gadis di depannya ini. Ia mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk kepala gadis itu pelan. Sangat aneh memang, tapi ini kali pertamanya dalam menenangkan orang yang sedang menangis jadi jangan salahkan dia jika tindakannya itu memang terlihat aneh dan juga canggung. Ia terus saja melakukan hal itu hingga gadis di hadapannya ini mulai merasa tenang.
"Maafkan aku" ucap Lumei setelah ia berhenti menangis. "Maafkan aku telah merepotkanmu" ia masih menunduk, menyembunyikan wajahnya dari penglihatan Sehun.
"Tak apa" jawab Sehun singkat. Tangannya terulur untuk menangkup wajah gadis itu dengan sangat canggung sebelum segera melepaskannya saat gadis itu menatapnya aneh, "Tak perlu sungkan seperti itu"
Lumei menghapus air mata yang masih tersisa di pelupuk matanya sebelum ia kembali menatap wajah Sehun, "Terima kasih" ucapnya sambil tersenyum dengan sangat manis.
Sehun sedikit tersenyum sebelum memalingkan wajahnya, "Jika ada masalah kau bisa menghubungiku… ah… maksudku kami"
"Eung!" seru Lumei setelah mendengar ucapan Sehun. Ia terkekeh saat melihat tingkah laku Sehun yang menurutnya sangat out of character. Ia segera merangkul lengan Sehun dan menyeretnya untuk berjalan menuju kelas mereka saat bel sekolah kembali berbunyi, menandakan bahwa istirahat siang sudah selesai.
'Mungkin ia memang tidak tahu bagaimana cara mengungkapkan perasaannya' pikir Lumei saat ia menatap wajah Sehun yang kini sudah kembali menampakkan wajah dinginnya. Ia kembali tersenyum dan melepaskan rangkulannya saat mereka memasuki lorong yang mulai dipenuhi oleh beberapa murid. 'Dia itu orang yang baik, hanya saja terlalu bodoh dalam menunjukkan dirinya kepada orang lain sehingga banyak orang yang melihatnya sebagai sosok yang cuek dan angkuh' pikirnya sambil terkikik geli sama sekali tidak menyadari Sehun yang memperhatikannya dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.
.
ooo
.
"Kau baik-baik saja Mei?" Tanya Jongin saat Lumei baru saja memasuki ruang kelas mereka, Sehun berjalan di belakangnya. Walaupun bel masuk sudah berbunyi tapi sepertinya guru yang mengajar di jam siang ini agak terlambat sehingga masih banyak murid-murid yang asik mengobrol dengan teman-temannya. "Aku tidak melihatmu sejak pagi tadi dan sekarang kau datang dengan mata sembab begitu" lanjutnya sambil memperhatikan wajah Lumei dengan sangat teliti.
"Aku tidak apa-apa kok. Kau tenang saja" gadis itu tersenyum manis, berusaha untuk meyakinkan temannya itu bahwa ia memang baik-baik saja. "Tak usah khawatir seperti itu"
Jongin menatap Sehun yang kini sudah duduk di bangkunya sambil memainkan ponsel hitam miliknya. Ia menyenggol temannya itu dan membuat Sehun mendelik ke arahnya, "Kau tadi bersamanya?" tanyanya hati-hati, "Apa yang terjadi?"
Sehun melirik ke arah Lumei yang menatapnya dengan wajah memelas, seolah mengisyaratkan dirinya untuk merahasiakan apa yang terjadi sebelumnya, "Tak tahu. Aku baru bertemu dengannya di lorong" ucapnya datar.
"Kau yakin tidak apa-apa, Mei?" ucap Chanyeol yang kini duduk di depan bangkunya, "Matamu sembab seperti itu. Kau habis menangis?" terkanya sambil menunjuk pada mata Lumei yang memang masih sembab akibat kejadian tadi.
Lumei menggelengkan kepalanya cepat, "Bukan… aku alergi pada debu" ucapannya itu membuat Jongin dan Chanyeol menatapnya ragu. Mana ada mata sembab dan memerah seperti itu hanya karena alergi debu. "Tadi aku terlambat datang. Guru piket menyuruhku untuk mengepel seluruh kamar mandi. Saat aku masuk ke tempat peralatan, ternyata di gudang itu banyak sekali debu jadi membuat mataku gatal dan berair. Jadilah seperti ini" jelasnya panjang lebar, berharap bahwa kedua orang ini dapat menerima alasannya dan tidak lagi mempertanyakan soal mata sembabnya. Lumei sedikit mengutuk dirinya dalam hati saat melihat kedua orang itu malah semakin mengerutkan kening mereka, 'Kenapa tadi aku langsung masuk ke kelas bukan ke UKS dulu untuk mengkompres mataku. Semoga saja Jongin dan Chanyeol mempercayai alasanku itu. Bodohnya aku'
"Baiklah! Aku percaya padamu" seru Chanyeol beberapa saat kemudian walaupun sedikit keraguan masih tersirat di matanya. Namun, senyum lebar yang terpampang di wajahnya membuat Lumei menghela nafas lega. "Tapi! Kalau kau ada masalah, kau bisa menceritakannya kepada kami. Kita kan berteman" lanjutnya sambil menaik-turunkan sebelah alisnya.
Lumei tertawa geli saat melihat perilaku Chanyeol itu, "Baiklah!" ucapnya di sela tawanya itu.
"Buka buku paket kalian!" suara berat itu menghentikan aktivitas semua murid-murid. Mereka melihat ke depan kelas dan menyadari bahwa sang guru baru saja masuk ke dalam kelas mereka. Mereka kemudian segera kembali ke bangkunya masing-masing dan menuruti perintah guru itu. mereka tidak berani membantahnya, Kim seonsaengnim adalah salah satu guru killer yang ada di sekolah ini. Sedikit saja kau membantahnya maka kau akan dipajang di depan kelas hingga pelajaran selesai.
Lumei melihat Sehun yang masih sibuk mencari buku paket di dalam tasnya. Setelah sedikit mengobrak-abrik tas itu, akhirnya ia mengeluarkan sebuah buku paket yang cukup tebal. "Terima kasih" bisiknya.
Sehun menatapnya bingung. Ia mengerutkan keningnya saat melihat Lumei yang tersenyum manis ke arahnya, "Untuk apa?"
"Kau tidak menceritakan kejadian tadi kepada Jongin dan Chanyeol" jelasnya, "Terima kasih banyak" ucapannya itu hanya dibalas dengan anggukan oleh pemuda disampingnya.
Sehun sedang membuka buku paketnya, mencari halaman yang diperintahkan oleh guru mereka ketika ia merasa gadis disampingnya itu mencolek lengannya. Ia menatap gadis itu dan mengangkat sebelah alisnya untuk meminta penjelasan darinya. "Sehun-ah… aku belum memiliki buku itu. Maukah kau berbagi denganku?"
Sehun menggeser posisi bukunya ke tengah meja dan membuat gadis di sampingnya tersenyum bahagia, "Terima kasih. Kau baik sekali"
.
ooo
.
"Kau tidak ingin pulang bersama dengan kami?" Tanya Jongin kepada Lumei saat mereka berada di depan gerbang sekolah. Jujur saja, Jongin masih sedikit khawatir kepada gadis itu. ia bahkan sedikit meragukan alasan yang diberikannya siang tadi. Jongin masih bersikukuh, alergi pada debu tidak mungkin membuat mata merah dan sembab seperti mata Lumei tadi siang.
"Tidak. Aku harus pergi ke supermarket dulu" jawab gadis itu, "Mama tadi meneleponku, mama memintaku untuk membeli sesuatu di supermarket" Jongin dan Chanyeol hanya menanggukkan kepala mereka, menandakan bahwa mereka menerima penjelasan Lumei itu, "Ya sudah. Aku pergi duluan! Bye~~!"
"Ada yang aneh" gumam Jongin setelah Lumei pergi meninggalkan mereka. Chanyeol yang berdiri di sampingnya hanya menganggukkan kepalanya setuju. Ia menatap Sehun yang masih sibuk dengan ponselnya sebelum menyenggol pemuda itu untuk menarik perhatiannya, "Kau tahu sesuatu?" tanyanya saat Sehun menatapnya penuh tanya.
Sehun mengendikkan bahunya kemudian kembali mengotak-atik ponsel hitamnya, "Tak tahu" jawabnya singkat.
"Aku yakin tadi siang kau pasti bersamanya. Aneh sekali kalian datang ke kelas bersamaan, tumben sekali" ucapnya sambil menatap Sehun curiga. "Apa ada hubungannya dengan gadis-gadis yang sering mengerjainya?"
Pemuda yang ditatap Jongin itu malah memasangkan head set-nya dan pergi meninggalkan kedua temannya itu. "Yah! Sehun! Kau mau kemana!"
"Pulang" jawabnya singkat.
"Semakin aneh" gumam Chanyeol, "Sehun bahkan tidak menjawab pertanyaanmu"
"Biasanya juga tidak pernah" ucap Jongin sinis, "Tapi… untuk kali ini aku sependapat denganmu. Aku yakin sesuatu terjadi diantara mereka" Chanyeol mengendikkan bahunya dan pergi meninggalkan Jongin yang masih sibuk berpikir di depan gerbang sekolah. "Menur–– Yah! Park Chanyeol! Kau mau kemana?"
"Pulang!" seru pemuda jangkung itu beberapa meter dari tempat Jongin kini berdiri. Jongin berlari dan memukul bahu Chanyeol dari belakang, "Yah! Sakit tahu!" keluhnya.
"Aku kira kau akan menunggu Baekhyun!" seru Jongin sambil berjalan di sampingnya.
"Hari ini dia dijemput ayahnya" ucapnya santai. Jongin kembali memukul bahu Chanyeol dengan sangat keras, menumpahkan seluruh kekesalan yang dirasakannya pada pemuda jangkung ini. "Yah! Kau ini kenapa sih! PMS?"
"Kenapa tidak bilang dari tadi! Aku kira tadi kita menunggu Baekhyun di gerbang. Kalau tahu dia dijemput ayahnya, aku sudah pulang dari tadi" keluhnya panjang lebar.
"Kau sendiri yang tidak tanya"
"Ish! Dasar Park Chanyeol Bodoh!" teriaknya sambil kembali memukuli bahu Chanyeol bertubi-tubi yang dibalas oleh pemuda jangkung itu. Mereka sama sekali tidak memperhatikan orang-orang yang menatap mereka aneh.
.
ooo
.
Hari sudah larut malam namun hal itu tidak mengganggu seorang gadis yang kini masih sibuk dengan tugas sekolahnya. Lumei membuka-buka halaman buku untuk mencari sebuah rumus matematika yang kini sedang dikerjakannya. Ia mengerutkan keningnya saat otaknya mencerna rumus itu, rumus yang menurutnya sangat rumit dan aneh. Ia menghela nafas panjang dan menggaruk kepalanya saat otaknya bekerja cukup lambat dalam memahami rumus itu, "Kenapa ada orang yang menciptakan rumus seperti ini" keluhnya, "Apa ini? Bentuknya seperti cacing" lanjutnya sambil menunjuk salah satu bentuk yang ada di rumus itu dan kembali menghela nafas panjang, "Sepertinya aku harus meminta Sehun untuk mengajariku" ucapnya lemas.
BRAK
Suara pintu yang dibuka dengan sangat keras membuat Lumei terlonjak kaget. Ia menatap ke arah pintu dengan sangat perlahan, sedikit takut untuk mengetahui siapa yang kini berada di kamarnya. Matanya terbelalak ketika melihat seorang pria berdiri disana sambil berkacak pinggang. Rahangnya mengeras dan matanya sedikit memerah yang menandakan bahwa pria itu sedang marah besar.
Marah kepada dirinya.
"Papa" ucap Lumei dengan suara gemetar. Sungguh ia sangat takut melihat ayahnya saat ini. Tidak biasanya sang ayah menemuinya seperti ini, biasanya mereka hanya berbicara ketika ibunya sedang berada di tengah-tengah mereka. Ayahnya bahkan seakan tidak ingin melihatnya… ia menghindari dirinya sejak ia masih kecil, tepatnya sejak saudara kembarnya pergi meninggalkan mereka.
"Apa yang kau katakan kepada mamamu?" ucapan ayahnya itu membuatnya takut. Sekarang ia mengerti mengapa ayahnya menemui dirinya seperti ini. Pasti ibunya membicarakan tentang permintaannya itu kepada sang ayah. "Papa bertanya kepadamu! Apa yang kau katakan kepada mamamu?!" bentaknya.
Pria itu kini telah berdiri di hadapannya, menatapnya dengan penuh intimidasi. Ia bahkan meremas lengannya dengan sangat kuat, membuatnya meringis kesakitan. Ia menundukkan kepalanya, sama sekali tidak berani menatap wajah ayahnya yang masih menatapnya dengan penuh kemarahan.
"Luhan!"
Panggilan itu membuat matanya melebar, sudah lama sekali sejak terakhir kali ia mendengar namanya sendiri. Cengkraman keras ayahnya seperti tidak terasa olehnya, ia menatap wajah ayahnya dengan tatapan rindu. Ia masih ingat sejak terakhir kali tangan ayahnya itu memeluknya dengan sangat erat. Ia masih ingat ketika ayahnya memanggil namanya dengan sangat lembut. Ah… ia sangat ingin kembali ke masa-masa itu. Masa bahagianya bersama dengan kedua orang tuanya dan juga saudara kembarnya.
Sebuah jambakan di rambut panjangnya menyadarkan Luhan dari pikirannya. Ia bisa kembali merasakan sakitnya bekas cengraman tangan ayahnya di lengan kanannya dan sakitnya jambakan ayahnya kini. "Pa-Papa" ucapnya terbata. Matanya mulai berkaca-kaca menahan rasa sakit yang dirasakannya sekarang ini. "S-Sakit Pa…"
"Apa yang kau katakan kepada mamamu!" ucap ayahnya dengan penuh penekanan. Pada setiap kata yang diucapkannya, ia semakin menguatkan genggaman tangannya yang kini menjambak rambut anak lelakinya itu, sama sekali menghiraukan erangan kesakitan dari putranya.
"A-Aku…" erangan kembali terdengar saat sang ayah lagi-lagi menjambak rambutnya dengan sangat kuat, "A-Aku hanya memi-meminta mama u-untuk menjenguk M-Mei"
"Sudah Papa katakan! Jangan bahas hal itu di hadapan mamamu!" air mata mengalir dengan sangat deras di pipi Luhan saat ayahnya menghempaskan tubuhnya. Ia mengerang cukup keras saat punggungnya membentur pinggiran tempat tidurnya, "Dasar anak tidak tahu diri. Masih untung kami mengurusmu hingga sekarang" ucapnya dingin.
"T-Tapi Pa… M-Mei pasti––"
Cengkaraman erat di kerah bajunya menghentikan semua ucapannya. Ia kembali mengerang saat punggungnya kembali membentur pinggiran tempat tidurnya, "Mei belum mati. Yang mati hari itu adalah Luhan. Camkan itu!" ucapnya sebelum kembali menghempaskan tubuh mungil itu. "Jangan sekali lagi menyebut nama Luhan di rumah ini karena anak itu sudah mati 10 tahun yang lalu"
Pria itu berbalik kemudian pergi meninggalkan putranya yang kini meringkuk di atas lantai. Air mata mengalir dengan sangat deras dari kedua matanya namun, tidak ada isakan yang terdengar dari bibir yang kini digigitnya dengan sangat kuat. Ia tahu, isakannya itu bisa saja membuat ibunya terganggu. Ia tidak ingin ibunya melihat kondisinya sekarang karena ia tahu, ayahnya pasti akan lebih marah jika ibunya tahu mengenai hal ini.
"Mama…" bisiknya perlahan. Ia melingkarkan kedua tangannya di lututnya yang kini ditekuknya, memeluknya dengan sangat erat, "Luhannie membutuhkan mama…"
.
ooo
.
Sehun mengetikkan beberapa kata di laptopnya. Sebuah internet browser sudah dibukanya sedari tadi. Ia kembali menggaruk kepalanya saat ia tidak menemukan informasi yang dibutuhkannya. Ia sudah mencari informasi mengenai keluarga Lu sejak ia pulang sekolah namun hasilnya masih nihil. Ia masih belum menemukan 'dia' yang dimaksud oleh Lumei tadi siang. Informasi mengenai keluarga Lu memang sangat dijaga dengan baik. Ia bahkan tidak dapat menemukan apapun selain dari keberhasilan Tuan Lu dalam membangun perusahaannya. Ia bahkan tidak dapat menemukan alasan pokok kenapa keluarga itu kini tinggal di Korea Selatan.
Semuanya sangat aneh.
Keluarga itu terlalu menyimpan banyak rahasia yang membuat Sehun sakit kepala. Informasi yang diberikan oleh Tuan Kim juga hanya informasi dasar seperti identitas, perusahaan, putri tunggalnya dan istrinya. Sama sekali tidak ada informasi mengenai 'dia'.
"Apa mungkin 'dia' itu hanya mantan pacarnya?" gumamnya sambil terus meng-scroll halaman yang dibukanya. Ia membaca cepat halaman itu sebelum menutupnya saat ia tidak melihat informasi yang dibutuhkannya, "Lagipula orang tua itu sama sekali tidak pernah membicarakan mengenai 'dia' denganku"
Ia mencoba untuk mengetik nama Lu Bu dengan menggunakan bahasa Cina. Ia membuka sebuah berita teratas kemudian meruntuki dirinya saat ia melihat hasil yang didapatkannya, "Sial! Semuanya ditulis dalam bahasa Cina!" ia mencoba membaca headline berita itu dengan sangat hati-hati, mencoba membaca setiap huruf yang ada disana.
鲁家谁被绑架的两个孩子已获救,人宣告死亡
[Kedua anak keluarga Lu yang diculik telah berhasil diselamatkan, satu orang dinyatakan tewas]
Sehun segera menutup halaman berita itu dengan sebuah klik-an yang cukup keras. Ia benar-benar kesal karena ia sama sekali tidak bisa membacanya sedikitpun. Ia kembali menggaruk kepalanya dengan kasar dan mematikan laptopnya.
Sehun menghela nafas panjang, mencoba untuk menormalkan emosinya yang tidak stabil. Ia menghempaskan dirinya di atas tempat tidur dan menutup matanya. Jika memang informasi itu sangat penting, tidak mungkin Tuan Kim tidak memberitahukan hal itu kepadanya, kan?
"Mungkin ia baru saja putus dengan pacarnya" gumamnya.
"Kenapa seperti ini? Aku bukan dia… tapi kenapa? Aku sudah lelah… aku tidak ingin seperti ini lagi. Kenapa dia yang harus pergi? Kenapa bukan aku saja yang mati?"
Ucapan gadis itu terus terngiang di benaknya. Sehun menghela nafasnya dan menatap langit-langit kamarnya, "Atau… dia hanya digunakan sebagai pelarian saja oleh pacarnya? Tapi… kenapa ia berkata seolah-olah ia berharap untuk mati?"
.
TBC
Author Q&A:
Q: Jadi Luhan itu Lumei?
A: Iyaaaaa
Q: Penasaran masa lalu Luhan dan Lumei.
A: Nanti dibahas di chapter-chapter selanjutnya, pantengin aja ceritanya yaaa hehehe
Q: Luhannya arwah gentayangan?
A: Bukaaaaaan, Luhan-nya masih hidup kok. Tuh udah sedikit dijelasin di chapter ini.
Q: Bakal ada flashback tentang Luhan sama Lumei kan?
A: Tenang aja, ada kok.
Q: Fic-nya kaya puzzle.
A: Mari kita selesaikan bersama-sama ^^
.
ooo
.
Author Note:
Akhirnyaaa aku bisa nge-update chapter jugaaa. Kemaren sempet bingung karena aku sama sekali gabisa buka FFn dari PC. Di 3 browser yang aku pake (IE, MF, OM) malah terjebak dalam kubangan internet positif sementara di GC malah unavailable. Tapi akhirnya bisa dibuka juga setelah di cheat muahahaha
Okey, back to the story.
Akhirnya! Hunhan moment pemirsaaaa! Walaupun Sehunnie-nya masih kagok-kagok gitu hahaha
Buat yang tau siapa itu Lu Bu, jangan ketawa! Aku gatau lagi nama cowok yang pake marga Lu selain Lu Bu sama Lu Xun. Tapi karena karakter ayahnya Luhan itu sedikit antagonis dan aku ga tega ngejadiin Lu Xun jadi peran antagonis jadilah aku pake nama Lu Bu hehehe lagian di DW5-nya kan Lu Bu jadi musuh dari semua klan hehehe badannya gede sama mukanya yang sangar juga cocok buat peran ini hehehe
Maaf kalo misalnya bahasa Cina yang aku pake di chapter ini salah, aku pake google translate soalnya hehehe
Oh iya, mulai chapter depan aku bakal lebih sering pake nama Luhan di bagian deskripsinya. Nama Lumei cuma dipake pas bangian percakapannya aja. Aku kasih tau sekarang biar nanti readers semua ga pada bingung pas baca chapter depan ^^
Mungkin segitu aja cuap-cuap aku di chapter ini. Semoga kalian pada suka yaaa. Makasih buat yang udah review di chapter kemaren, ditunggu review-nya lagi yaaa
Sampai jumpa di chapter depaaaaan!
See You!
*Wave hand and vanish like a ninja*
Special Thanks:
lisnana1, Park Haneul, cupcupcuphie12, BaekLuluDeer, ferina refina, zoldyk, frdita169, saY You, BabyHimmie, HunHan, hunhan, chekaido, YeoSyeo, nohun, dan HyunRa
