~oOo~ { READ MY BIO FIRST BEFORE YOU READ MY OWN FANFICT } ~oOo~
"Kau ingin berlibur? Aku bisa mengajakmu kemanapun tempat yang ingin kau datangi."
Chanyeol meraih mangkuk bubur tersebut dan mulai menyantapnya.
"Aku tidak pernah berpikir untuk berlibur seperti itu. Aku tidak ingin berlibur kemana-mana, Tuan."
"Kau yakin? Kebetulan hari minggu besok aku libur bekerja. Kita bisa jalan-jalan jika kau mau."
Itu hanyalah alibi Chanyeol agar ia bisa mengajak Baekhyun pergi ke suatu tempat, karena pada kenyataannya Chanyeol bisa libur hari apa saja yang ia ingini di perusahaannya sendiri. Jujur saja, ia pun merasa jenuh karena terus bekerja dan bekerja. Jadi, tidak ada salahnya jika ia sedikit meluangkan waktu untuk bocah cantik ini bukan?
"Aku tidak terlalu menyukai tempat yang ramai, Tuan."
Chanyeol terdiam mendengar suara lirih Baekhyun. Kemudian ia menatap wajah Baekhyun yang masih berdiri di depannya, lalu memberi isyarat pada Baekhyun agar duduk disampingnya.
"Duduklah."
Kali ini Baekhyun menuruti perintah Chanyeol, dan ia duduk tepat di samping Chanyeol.
"Tidak mungkin jika aku mengajakmu ke taman atau ke tempat rekreasi. Lalu kemana aku harus mengajakmu berlibur? Ke pulau pribadiku?"
"Tuan tidak perlu melakukan hal itu. Aku tidak meminta apapun dari Tuan.."
"Baekhyun.. kumohon mengertilah perasaanku. Aku ingin sekali berjalan bersama denganmu, Byun Baekhyun."
Ok, sepertinya kesabaran Chanyeol sudah habis. Lebih baik ia menangatakan perasaannya secara jelas pada Baekhyun seperti ini agar Baekhyun semakin mengerti dengan perasaannya. Demi Tuhan, ia sama sekali tidak mampu menahan dirinya lebih lama lagi jika bocah cantik ini ternyata belum mengerti bagaimana perasaannya.
Chanyeol tidak ingin membuang waktu lagi.
"Baiklah Tuan. Aku akan ikut bersama Tuan kemanapun Tuan membawaku pergi."
Deg!
Chanyeol membulatkan sedikit matanya setelah mendengar kalimat yang baru saja di lontarkan oleh Baekhyun. Apakah ia tidak salah dengar? Apakah Baekhyun baru saja menyetujui ajakannya untuk pergi bersama? Siapapun tolong tampar wajah Chanyeol saat ini juga.
Tak!
Chanyeol meletakkan mangkuk buburnya yang sudah kosong di atas meja dan bangkit berdiri membelakangi Baekhyun yang masih terduduk di sofa mewah tersebut.
"Kita berangkat sore ini. Kau tidak perlu membawa apapun. Aku yang akan menyiapkan semuanya. Sekarang kau istirahat dan harus sudah siap tepat pukul 4 sore nanti. Aku akan ke rumah Kai sebentar."
Chanyeol melangkahkan kakinya menuju kamarnya guna mengambil dompet dan kunci mobilnya. Sepertinya ia harus berkonsultasi pada Kai mengenai masalah ini. Ini masih pukul 10 pagi, dan itu berarti ia masih memiliki waktu beberapa jam lagi untuk meminta saran Kai kemana ia harus membawa Baekhyun pergi. Jujur saja, sampai saat ini pun ia masih bingung ingin pergi kemana. Konyol memang, tetapi ia tidak mungkin melewatkan kesempatan ini begitu saja.
Ya, Chanyeol harus memanfaatkan kesempatan emas ini baik-baik.
"Baiklah Tuan."
Baekhyun pun bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kamar Chanyeol untuk menuruti perintah Chanyeol. Sebenarnya iapun merasa aneh kenapa ia bisa dengan mudah mengatakan jika ia bersedia ikut bersama Chanyeol kemanapun Chanyeol membawanya pergi? Ugh! Ini sungguh aneh. Apa yang sebenarnya terjadi padamu Baekhyun?
'Maafkan aku Tuan. Aku baru menyadari perasaanku selama ini terhadap Tuan..'
.
.
.
~oOo~ RAINBOW CONNECTION ~oOo~
.
.
.
Author:
Yuta CBKSHH
Tittle:
RAINBOW CONNECTION (CHANBAEK)
Main Cast:
Park Chanyeol
Byun Baekhyun
Support cast:
Xi Luhan a.k.a Luhan
Kim Jong In a.k.a Kai
Do Kyungsoo a.k.a Kyungsoo
And others cast (EXO's members)
Rating:
M ++
Genre:
Fluff, Romance, Drama, Hurt/Comfort
Length:
Chaptered
Disclaimer:
Fanfict yang terinspirasi dari beberapa pengalaman. FF ini di tulis oleh Yuta sendiri dan tanpa di bantu oleh siapapun. Plot cerita dari Han Seong Ji yang request FF ini dan Yuta bantu mengembangkan jadi sebuah FF. Cerita ini tidak memplagiat cerita dari orang lain atau cerita manapun. PLAGIARISM ISN'T MY STYLE! NO COPAST! NO PLAGIAT! Semoga kalian suka dan bisa menerima cerita ini dengan baik ^^
Warning:
BL-BoysLove / YAOI / SHOUNEN-AI / HUBUNGAN SESAMA JENIS. MATURE CONTENT INSIDE! NC-21! DLDR! DO NOT BASH BUT KRITIK ATAU SARAN SANGAT DI PERBOLEHKAN. ENJOY IT!
Summary:
[YAOI!NC21] Chanyeol (28 thn) bertemu dengan Baekhyun (18 thn) yang bekerja di sebuah bar malam. Tak sengaja melihat Baekhyun hampir di perkosa dan memutuskan untuk membeli Baekhyun. "Aku baru saja bercerai dengan istriku. Kau tidak perlu takut, aku tidak akan menyentuhmu sebelum kau yang meminta" - Chanyeol. (CHANBAEK) Slight KaiSoo HunHan! RnR!
Backsong:
Winner - Color Ring
~~ HAPPY READING ~~
.
.
.
"Argh! Apa yang harus aku lakukan?"
"Berhentilah berteriak di kamarku, Park!"
Chanyeol terus berjalan sambil memijit pelipisnya frustasi tepat di ranjang besar milik Kai. Mengabaikan seruan yang sedari tadi di layangkan oleh Kai karena sikapnya yang 'sangat sopan' telah berkunjung ke apartement seseorang di pagi hari seperti ini. Kedatangan Chanyeol sangatlah mengganggu, terlebih Kai merasa ada sesuatu hal yang berbeda dari diri Chanyeol saat ini. Hey, kemana sikap dingin dan arogan yang di miliki oleh seorang Park Chanyeol?
Kai menghela nafasnya kasar, masih enggan untuk bangkit dari ranjangnya dan membiarkan Chanyeol uring-uringan di hadapannya. Ini pasti mengenai bocah itu, dan Kai sangat meyakini hal itu.
"Kau mengganggu acara tidurku asal kau tahu."
"Apa yang harus aku lakukan nanti jika aku membawanya kesebuah tempat? Apakah aku langsung menyentuhnya atau aku harus membuatnya mabuk?"
Kai menggeleng-gelengkan kepalanya menganggapi perkataan Chanyeol. Demi Tuhan, ini sungguh bukan gaya Chanyeol.
"Berbicaralah dengan benar, Park. Sebenarnya apa yang terjadi?"
"Aku mengajak Baekhyun berlibur dan dia menyetujuinya."
Kai menyeringai.
"Lalu?"
"Beritahu aku apa yang harus aku lakukan nanti-"
"Eunghh"
"Kau sudah bangun sayang?"
Chanyeol menjatuhkan dagunya setelah ia mendengar sebuah lenguhan yang ia yakini berasal dari samping Kai. Dan benar, tidak lama kemudian ada sebuah kepala yang menyembul keluar dari selimut tersebut. Kai nampak tersenyum dan mengusak rambut sosok lelaki mungil itu dengan lembut.
Ya, lelaki itu adalah Kyungsoo.
Kekasih Kai yang nyatanya masih berada di apartement Kai setelah aktivitas panas mereka semalam.
"Brengsek."
"Hey, tenanglah Park."
"Kau tidak mengatakan jika kekasihmu berada disini."
"Bagaimana mungkin aku mengatakannya padamu, sementara kau langsung mengoceh tidak jelas seperti itu."
"Baiklah aku mengalah."
"Kai.. Dia siapa?" Tanya Kyungsoo dengan suara lirihnya, dan Kai langsung membenarkan letak selimut Kyungsoo dengan rapat, tidak membiarkan Chanyeol melihat sedikitpun tubuh polos dan mungil milik kekasihnya tersebut.
"Dia sahabatku, Park Chanyeol. Tidak perlu khawatir, dia tidak akan berani menyentuhmu barang sedikitpun."
Chanyeol memutar kedua bola matanya malas melihat Kai bersikap 'sok manis' terhadap kekasih kecilnya tersebut, namun ia segera mengubah mimik wajahnya karena ia teringat dengan tujuan awalnya ia datang kemari. Yaitu, meminta saran dari Kai agar ia bisa memperlakukan Baekhyun dengan baik.
"Cepat tunjukkan bagaimana aku harus memperlakukan bocah itu? Aku benar-benar tidak sanggup menahannya lagi."
"Perhatikan apa yang sedari tadi aku lakukan, dan kau akan mengerti dengan mudah."
Chanyeol kembali terdiam karena sepertinya ia mulai mengerti dengan apa yang di katakan oleh sahabatnya tersebut. Ow, jadi apakah ia harus bersikap 'manis' dan 'lembut' terhadap Baekhyun nanti? Ugh! Hanya dengan membayangkannya saja, Chanyeol bisa merasakan ada sesuatu yang menggelitik perutnya. Sungguh bukan gayanya.
"Mulai mengerti?" ucapan Kai membuyarkan lamunan sesaat Chanyeol. Kemudian Chanyeol mengangguk dan segera beranjak darisana.
"Terima kasih."
"Kau hanya harus bersikap lembut dan anggap dia lelaki yang paling berharga di hidupmu, Park."
Chanyeol tertawa kecil setelah mendengar perkataan Kai. Saat ini ia sudah keluar dari kamar apartement Kai menuju ke rumahnya untuk menjemput Baekhyun dan segera berjalan-jalan. Jika di pikir-pikir, mungkin ia sudah berguru pada orang yang tepat. Karena terbukti dengan apa yang dilihatnya barusan ternyata Kai sudah berhasil meniduri bocah itu. Sungguh luar biasa, dan hal itu membuat Chanyeol bersemangat mengendarai mobil pribadinya agar ia bisa lebih cepat berjumpa dengan Baekhyun.
.
.
.
~oOo~ RAINBOW CONNECTION ~oOo~
.
.
.
Baekhyun mendudukkan dirinya di tepi ranjang mewah Chanyeol dan menatap sebuah tas yang sudah ia siapkan untuk acara perginya bersama Chanyeol. Sudah dua jam ia menunggu kedatangan Chanyeol, namun Chanyeol masih belum tiba di rumahnya. Apakah Chanyeol melupakan janji mereka?
Baekhyun mengulum bibirnya sendiri sambil menundukkan kepalanya karena ia merasakan ada gejolak yang asing di dalam dadanya. Entah mengapa ia jadi begitu merindukan sosok Chanyeol belakangan ini, sungguh di luar dugaannya jika ciuman yang di lakukan oleh Chanyeol di kamar mandi kemarin terus saja berputar di pikirannya.
Namun masih ada satu pertanyaan yang membuat hatinya menjadi gelisah. Yaitu, apakah semua yang Chanyeol lakukan terhadapnya adalah murni perasaan suka? Atau jika Baekhyun boleh berharap, apakah semua yang telah di lakukan oleh Chanyeol adalah perasaan.. cinta?
Ia masih membutuhkan sebuah kepastian.
Akhirnya Baekhyun mengangkat kepalanya dan berdiri untuk meraih tas kecil miliknya, dan betapa terkejutnya ia ketika ada sebuah tubuh tinggi yang tiba-tiba berdiri di hadapannya. Siapa lagi jika bukan Chanyeol?
"T-tuan?"
"Kau sudah mempersiapkan dirimu? Maaf membuatmu menunggu."
Deg!
Jantung Baekhyun berdenyut tepat saat tangan besar Chanyeol meraih tangannya dan menggenggamnya dengan erat. Sungguh kali ini ia merasa benar-benar dihargai oleh seseorang diseumur hidupnya. Dan yang pertama kali mampu membuat jantungnya berdebar keras seperti ini hanyalah Chanyeol. Lelaki tampan yang nyatanya adalah majikannya sendri.
"Baekhyun.. apakah aku terlihat umm.. tampan?"
Baekhyun segera menolehkan kepalanya ke arah Chanyeol saat Chanyeol melemparkan pertanyaan semacam itu padanya. Saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil, namun Chanyeol masih belum menjalankan mobilnya.
"Tuan selalu terlihat tampan," jawab Baekhyun dengan lirih dan tulus.
Chanyeol tersenyum puas setelah mendengar jawaban Baekhyun. Setidaknya, usahanya dalam mencari pakaian yang bagus selama satu jam di pusat perbelanjaan tadi tidaklah sia-sia. Bayangkan saja, Chanyeol tidak pernah merasa tidak percaya diri seperti ini sebelumnya, karena biasanya ia merasa sempurna dengan apa yang ada pada dirinya dan tidak memperdulikan pandangan orang lain terhadapnya. Tapi kali ini? Hahh Chanyeol sendiripun tidak mengerti apa yang salah pada dirinya. Ataukah ini karena dirinya yang baru saja bercerai dengan mantan istrinya? Bisa saja.
"Baekhyun, kau bisa memakai sabuk pengamanmu sendiri?"
Demi kekasih Kai yang sangat muda itu, Chanyeol saat ini merasa gugup. Suaranya terdengar sedikit serak dan matanya pun berusaha mati-matian untuk tidak terus menatap sosok indah yang duduk di sampingnya tersebut. Mungkin lebih baik ia memerintahkan Baekhyun untuk memasang sabuk pengamannya sendiri, daripada ia yang memasangkan sabuk pengaman itu dan berakhir dengan bibirnya yang mendarat di atas bibir tipis milik Baekhyun? Hell, ia tidak akan bersikap gegabah seperti itu. Setidaknya ia tidak ingin merusak suasana yang nyaris manis ini.
"Aku bisa memasangnya sendiri Tuan."
Tanpa menjawab, Chanyeol segera melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang, menuju kesebuah tempat yang sudah ia pikirkan sebelumnya.
Sekitar 10 menit mereka menempuh perjalanan dalam keterdiaman, Baekhyun memutuskan mengeluarkan suaranya untuk bertanya kemana Chanyeol akan membawanya pergi. Apakah jaraknya sangat jauh?
"Umm apakah aku boleh mengetahui dimana tempat Tuan akan membawaku?" Tanya Baekhyun.
"Kau tidak menyukai tempat yg ramai bukan? Aku hanya akan mengajakmu ke taman sejuk yang berada tak jauh dari letak kantorku."
"Kita akan piknik? Tuan bisa mengatakannya padaku lebih awal agar aku bisa menyiapkan makanan untuk kita."
Chanyeol ngusak rambut Baekhyun dan lalu tersenyum.
"Kau tidak perlu khawatir. Aku sudah menyiapkan semuanya."
Tentu apa yang dilakukan oleh Chanyeol saat ini membuat Baekhyun merona dan ia berusaha mati-matian untuk nikmati usapan lembut tangan besar Chanyeol di kepalanya.
'Taman rindang yang terletak tidak terlalu jauh dari kantorku. Ya, disana adalah tempat yang tepat. Menurut pegawaiku, tempat itu sangat cocok untuk tempat berkencan.'
Chanyeol merasa gila dengan batinnya sendiri dan ia tidak sadar jika Baekhyun terus memperhatikan sikap anehnya sedari tadi.
.
.
.
~oOo~ RAINBOW CONNECTION ~oOo~
.
.
.
"Kau tau jika aku sangat menyukai pelangi? Aku selalu datang kesini sehabis hujan hanya karena ingin melihat pelangi."
Sosok lelaki tinggi yang sedang berdiri beberapa langkah memunggunginya ini, membuat Baekhyun mau tidak mau memajukan langkahnya untuk mendekat. Perlahan ia angkat kedua lengan mungilnya lalu ia selipkan di antara pinggang lelaki yang sangat ia sayangi tersebut. Ia hirup aroma tubuh yang menguar dari lelaki itu dalam-dalam dan ia menyamankan kepalanya menyandar di punggung lebar itu.
"Hyung bisa melihatnya bersamaku. Aku akan selalu menemani hyung," gumam Baekhyun.
"Kita akan terpisah jauh Baek. Aku tidak memiliki waktu lagi."
"Hyung selalu berkata seperti itu. Aku sangat menyayangimu hyung. Hyung tidak boleh meninggalkanku."
Baekhyun melepaskan pelukannya dan berlari ke hadapan lelaki itu untuk melayangkan protesnya.
"Hyung harus selalu bersama Baekkie!"
Baekhyun mengerucut kesal dan berteriak protes pada lelaki berlesung pipi di hadapannya ini. Tetapi lelaki itu hanya tersenyum ringan dan mengusak kepala Baekhyun dengan sayang.
"Kau akan mengerti jika kau sudah dewasa nanti, Baek. Aku tidak mungkin bisa selalu bersamamu."
"Apa yang kau permasalahkan hyung? Baekkie mencintai hyung dan hyung mencintai Baekkie. Jadi, kita harus selalu bersama."
Daehyun.
Lelaki yang sedari tadi bersama Baekhyun adalah Daehyun. Sosok lelaki yang selalu mengantar dan menjemputnya pulang sekolah setiap hari selama setahun terakhir. Daehyun selalu mengatakan cinta pada Baekhyun setiap hari, meskipun Baekhyun tidak pernah mendengar Daehyun memintanya untuk menjadi kekasih. Ingin sekali Baekhyun mengatakan jika ia juga mencintai Daehyun tetapi ia selalu saja mendapatkan senyuman seperti yang saat ini Daehyun tunjukkan. Baekhyun sama sekali tidak mengerti dengan hubungan mereka, dan setelah mendengar Daehyun akan pergi meninggalkannya, membuat Baekhyun terpaksa menarik Baehyun ke atas bukit kecil yang terletak tidak jauh dari rumahnya.
Baekhyun masih duduk di kursi sekolah menengah pertama taun ketiga, dan itulah yang membuat Baekhyun masih tidak mengerti dengan sosok dewasa yang sangat ia cintai itu. Menurut Baekhyun, Daehyun terlalu tertutup dan selalu menyembunyikan tentang kehidupannya jika Baekhyun bertanya. Namun Baekhyun tersadar jika ternyata cintanya ini adalah cinta yang bertepuk sebelah tangan.
"Kembalilah. Aku tidak ingin ibumu memarahimu lagi karena terlambat pulang sekolah."
"Hyung kumohon jawab pertanyaanku. Apa yang salah dengan dirimu? Aku tidak ingin pulang jika hyung tidak mengatakan yang sebenarnya.. hiks!"
Baekhyun reflek meneteskan airmatanya dan menunduk dalam di hadapan Daehyun saat ia menyadari jika Daehyun ternyata masih saja menghindari pertanyaannya.
Grep
"Kumohon jangan menangis, Baek."
Daehyun menarik tubuh mungil Baekhyun kedalam pelukannya dan mendekapnya dengan sangat erat seolah ia ingin menunjukkan jika ia benar-benar menyayangi bocah cantik ini.
"Aku mencintaimu Byun Baekhyun. Tetapi aku tidak bisa."
Sontak Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Daehyun dengan wajah yang sudah penuh dengan airmata.
"Kau tahu perbedaan umur kita? Aku tidak mungkin untuk menjadikanmu kekasihku Baek."
"T-tapi hiks tapi hyung sudah menolong Baekkie. Hyung sudah menyelamatkan Baekkie hiks!"
"Baekhyun, hubungan kita tidak lah wajar. Kau mencintaiku hanya karena aku sudah menolongmu, bukan karena perasaan cinta yang berasal dari hatimu. Dan akupun seperti itu.. aku mencintaimu karena aku merasa iba padamu."
Baekhyun menundukkan kepalanya lagi dan terisak lebih keras setelah mendengar penuturan dari Daehyun. Ia sama sekali tidak peduli darimana cintanya pada Daehyun itu berasal. Yang ia tau, ia hanya ingin selalu bersama Daehyun karena ia sudah sangat nyaman berada di samping Daehyun.
"Jadi hyung akan tetap meninggalkan Baekkie?"
Dengan berat hati Daehyun menganggukan kepalanya dan sedetik kemudian ia mendapati tubuh Baekhyun yang jatuh ke tanah. Baekhyun terisak sambil meremas kedua tangannya sendiri yang ia kepalkan, karena ia bingung harus meminta perlindungan dari siapa lagi.
Ya, Baekhyun adalah salah satu korban kekerasan dalam rumah tangga oleh Ibu kandungnya sendiri. Ayahnya mengalami sakit parah yang mengharuskannya untuk berbaring di rumah sederhananya, dan itulah penyebab kenapa Ibu Baekhyun berubah menjadi sosok yang tempramen dan melampiaskannya dengan terus memukuli Baekhyun setiap hari.
Dan pada saat Baekhyun ingin berangkat kesekolah, ia tidak sengaja menjatuhkan nampan yang berisi bubur putih dan obat untuk sang Ayah tepat di hadapan sang Ibu. Tentu saja Ibu Baekhyun murka dan melampiaskan amarahnya dengan memukuli Baekhyun dengan keras menggunakan gagang sapu yang terbuat dari kayu yang tengah di genggamnya. Bukan karena piring miliknya pecah atau apa, tetapi karena bubur itu adalah persediaan terakhir yang ia miliki. Mereka tidak memiliki stock beras untuk membuat bubur itu lagi, tetapi dengan kelalaian yang Baekhyun lakukan, Baekhyun justru menjatuhkannya. Dan berakhir dengan Baekhyun yang berjongkok sambil melindungi kepalanya dengan kedua lengan kurusnya agar terhindar dari kerasnya tongkat kayu itu.
Namun tak beberapa kemudian, Baekhyun langsung berlari ke balik punggung seorang pria yang tiba-tiba datang untuk menghentikan perbuatan kasar Ibunya. Dan pria itu adalah Daehyun. Tetangga yang tinggal tak jauh dari letak rumahnya, mungkin hanya berjarak 5 rumah saja. Dan itu membuat Baekhyun merasa terselamatkan hingga akhirnya ia bergantung pada Daehyun untuk terus melindunginya.
Daehyun berusia 25 tahun, sedangkan dirinya berusia 14 tahun. Namun itu tidaklah masalah karena Baekhyun benar-benar membutuhkan sosok Daehyun dan berakhir dengan Daehyun yang mengantar dan menjemput Baekhyun ke sekolah setiap hari. Tak terasa hubungan mereka semakin jauh, hingga akhirnya Baekhyun mengatakan pada Daehyun jika ia menyukai lelaki baik hati itu. Tentu pernyataan itu membuat Daehyun terkejut bukan main, tetapi Daehyun tidak memiliki alasan untuk menolak perasaan bocah lugu ini.
Satu tahun mereka semakin dekat, Daehyun tiba-tiba bertemu dengan seseorang di masa lalunya yang berhasil menarik hatinya kembali. Ia tidak mampu menolaknya dan ia menjalani hubungan kembali dengan kekasih di masa lalunya itu. Ia semakin mengabaikan Baekhyun dan itu membuat Baekhyun merasa cemas, hingga akhirnya Baekhyun memaksa Daehyun untuk datang ke sebuah bukit kecil yang terletak tak jauh dari rumahnya seperti saat ini.
"Aku sudah memiliki seorang kekasih, dan aku sangat mencintai kekasihku."
"Lalu aku harus meminta perlindungan pada siapa hyung? Hiks!"
"Suatu saat nanti kau akan bertemu seseorang yang akan melindungimu Baek. Percayalah padaku."
Tanpa menunggu lama lagi, Baekhyun segera bangkit dari posisinya dan berlari kencang meninggalkan Daehyun disana seorang diri. Ia tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menyangkal ini semua, karena kenyataan ini memanglah tidak bisa untuk di hindari. Baekhyun berlari sambil menangis dan langsung memasuki rumahnya dengan terburu-buru. Ia mengemasi semua pakaiannya dan semua barang yang ia miliki kedalam tas ransel sekolahnya. Beruntung sang Ibu tidak ada dirumah, jadi ia tidak perlu ketakutan akan dipukuli lagi.
Baekhyun menyempatkan dirinya untuk mengecup dahi yang Ayah yang masih terbaring lemah di atas ranjang sempitnya, dan setelah itu ia segera bergegas keluar dari rumah itu. Namun langkah Baekhyun terhenti ketika ia mendapati sang Ibu sudah berdiri di ambang pintu dan menatapnya dengan pandangan yang sulit terbaca. Tubuh Baekhyun sudah bergetar hebat, namun Baekhyun seketika terkejut kala sang Ibu justru memeluknya dengan sangat erat dan hangat.
"Maafkan Umma. Umma menyesal telah memperlakukanmu dengan kasar, nak."
Baekhyun meneteskan airmatanya dengan deras dan sedetik kemudian ia membalas pelukan sang Ibu tak kalah erat.
"Aku akan selalu memaafkan Umma," gumam Baekhyun.
Ibu Baekhyun menangis dan ia terus mengecupi dahi sang putra seolah ia benar-benar menyesal karena ia tidak mampu menahan emosinya dan berakhir dengannya yang memukuli putra satu-satunya yang ia miliki itu hingga terluka dan nampak kurus seperti ini.
"Umma menyesal. Umma mohon jangan pergi meninggalkan Umma. Umma membutuhkanmu, dan hanya kau yang Umma miliki."
Baekhyun langsung menjatuhkan tas ranselnya dan membawa tubuh sang Ibu untuk masuk ke dalam rumah dan mendudukkanya di salah satu sofa yang berada diruang tengah rumah mereka. Ibu Baekhyun terduduk sedangkan Baekhyun berlutut tepat di hadapan sang Ibu.
"Aku tidak akan pergi meninggalkan Umma dan Appa. Tetapi aku mohon izinkan aku untuk bekerja dan membantu kalian."
Dan itulah awal mula kenapa Baekhyun dapat bekerja di club milik Suho. Suho adalah sepupu jauh Baekhyun yang kebetulan memiliki sebuah club dan membutuhkan pegawai. Awalnya Suho tidak membiarkan Baekhyun bekerja karena usia Baekhyun yang masih terlalu muda, namun dengan segala macam permohonan yang Baekhyun ajukan pada Suho, akhirnya dengan terpaksa Suho mempekerjakan Baekhyun di club miliknya.
Hingga akhirnya Baekhyun terpaksa berhenti bekerja di club itu karena ada orang asing yang memintanya bekerja untuknya.
Ya, orang asing itu adalah Chanyeol.
Lelaki pertama yang berhasil membuat jantungnya bergetar hebat dan lelaki pertama yang berhasil merebut ciuman pertamanya.
.
.
.
~oOo~ RAINBOW CONNECTION ~oOo~
.
.
.
Baekhyun terdiam menatap punggung lebar Chanyeol yang saat ini tengah berdiri membelakanginya. Bayangan akan masa lalu kembali berputar di dalam pikirannya, dan entah kenapa sosok Chanyeol berhasil mengingatkannya pada seseorang dari masa lalunya.
'Jika aku di pertemukan dengan Daehyun hyung kembali, pasti ia sudah berusia sama seperti Tuan Chanyeol.'
"Baekhyun kau baik-baik saja?"
Lamunan Baekhyun buyar seketika saat Chanyeol sudah membalikkan tubuhnya dan berdiri tepat di hadapannya. Chanyeol sedikit menundukkan tubuhnya untuk melihat wajah Baekhyun lebih seksama. Ia melihat ada sedikit ekspresi bingung yang di tunjukkan oleh Baekhyun, maka dari itu Chanyeol memutuskan untuk mengeluarkan tangan besarnya yang sedari tadi ia sematkan di dalam kantong celananya, beralih menjadi meraih tangan mungil Baekhyun lalu menggenggamnya.
"Apa yang membuatmu khawatir? Ini bukanlah tempat yang ramai."
Baekhyun yang masih dalam mode terkejut karena genggaman tangan Chanyeol, langsung menggelengkan kepalanya dan berusaha untuk terlihat biasa saja. Meskipun di dalam hatinya, ia merasa gugup luar biasa.
"Terima kasih Tuan," lirih Baekhyun nyaris tak terdengar.
Chanyeol hanya tersenyum tipis dan ia segera membawa Baekhyun ke salah satu kursi yang berada di taman yang tenang tersebut.
"Bolehkah aku menganggap acara kita ini sebagai acara kencan?"
Baekhyun terdiam cukup lama, namun pada akhirnya ia menganggukkan kepalanya karena jujur saja iapun memang ingin berkencan dengan majikannya ini. Ugh! Apa yang kau pikirkan Byun?
"Baekhyun. Bagaimana dengan sekolahmu? Apa kau belajar dengan baik?"
Chanyeol memutuskan untuk memulai pembicaraan mereka dengan membahas tentang sekolah Baekhyun. Sepertinya ia juga harus mengetahui bagaimana aktivitas Baekhyun selama ia berada di sekolahnya. Mungkin itulah langkah awal yang harus dilakukan oleh Chanyeol agar Baekhyun bisa lebih sedikit terbuka tehadapnya.
"Ya Tuan. Aku akan segera menghadapi ujianku beberapa minggu lagi."
"Jadi, apakah acara kita ini adalah saat yang tepat untuk menghibur dirimu sebelum kau menghadapi ujianmu yang membuat stress itu?" tanya Chanyeol dengan wajah yang antusias, sangat berbeda dengan pribadi Chanyeol dan itu membuat Baekhyun sedikit tertawa.
"Ne, maka dari itu aku mengucapkan banyak terima kasih pada Tuan. Aku merasa sangat senang."
"Katakan padaku jika kau merasa kesulitan. Aku akan dengan senang hati membantumu, kau saat ini kau adalah tanggung jawabku."
Baekhyun hanya mengangguk kecil untuk menjawab perkataan Chanyeol.
"Untukmu."
Baekhyun menunjukkan ekspresi bertanyanya sambil menatap sebuah benda yang entah sejak kapan sudah berada di atas tangan Chanyeol. Sebuah kotak berukuran tidak terlalu besar di lengkapi dengan pita yang tersimpul dengan sangat cantik di atasnya. Namun bukanlah jawaban yang Baekhyun dapatkan, melainkan hanya ekspresi menawan dari wajah Chanyeol.
Chanyeol tersenyum dan kini meletakkan kotak itu di atas tangan mungil Baekhyun.
"Ini adalah ponsel. Aku akan menghubungimu jika aku membutuhkanmu, begitupun sebaliknya. Kuharap kau menjaga ponsel ini baik-baik," jelas Chanyeol.
Sedangkan Baekhyun masih mencoba memahami situasi ini. Mata sipitnya berkedip-kedip lucu merasa tidak percaya jika ini adalah sebuah kenyataan. Baekhyun tidak terlalu bodoh untuk mengetahui jika ponsel ini adalah termasuk benda mewah. Dan Baekhyun meyakini jika gajinya selama 3 bulan saja belum tentu cukup untuk membeli ponsel ini.
Baru saja Baekhyun ingin menolak pemberian Chanyeol, tiba-tiba Chanyeol meraih kedua tangannya dan hatinya kembali terasa .menghangat ketika ia baru menyadari jika tangan Chanyeol saat ini sudah menggenggam kedua tangannya. Dengan sangat erat. Namun Baekhyun tidak memberontak dan Chanyeol merasa terkejut bukan main ketika Baekhyun justru menyandarkan kepalanya di atas bahu Chanyeol.
Sepertinya sudah saatnya ia membuktikan rasa terima kasihnya yang begitu besar terhadap sang majikan.
"Terima kasih Tuan."
Baekhyun memejamkan matanya karena jujur saja suasana tenang dan sejuk ini membuatnya merasa sangat mengantuk. Tempat ini sangat indah dan bertambah sempurna karena ada sosok Chanyeol yang berada di dekatnya. Baekhyun seolah mendapatkan seorang pelindung kembali setelah sekian lama ia bertahan seorang diri selepas kepergian Daehyun yang tiba-tiba.
Chanyeol terlihat seperti..
Malaikat pelindung yang paling mengerti akan dirinya.
Kemudian Chanyeol memperhatikan wajah lugu nan manis itu secara intens dan setelahnya ia tersenyum karena merasa amat bersyukur kini Baekhyun perlahan sudah mulai menerimanya. Baekhyun terlihat nyaman bersandar di bahunya, dan tanpa sadar Chanyeol menundukkan kepalanya untuk mendekatkan wajahnya pada wajah Baekhyun.
Deg
Jantung Chanyeol berdebar sangat keras ketika Baekhyun masih saja nyaman dengan posisinya. Tidak terganggu sama sekali, dan itu membuat Chanyeol begitu ingin menyesap bibir tipis itu. Namun ia urungkan niatnya karena ia sudah berjanji tidak akan memaksa Baekhyun lagi. Dan berakhir dengan Chanyeol yang menarik wajahnya menjauh dari wajah Baekhyun. Chanyeol lebih memilih untuk mengeratkan genggaman tangannya pada tangan mungil Baekhyun lalu terdiam beberapa saat hingga Baekhyun terbangun.
'Kenapa kau hanya mengucapkan terima kasih padaku? Aku ingin mendapatkan sesuatu yang lebih dari itu, Baekhyun'
'Harus menunggu berapa lama lagi aku agar bisa memilikimu?'
.
.
.
~oOo~ RAINBOW CONNECTION ~oOo~
.
.
.
Kyungsoo mengembangkan senyumannya kala matanya menangkap sosok yang sedari tadi ia cari, siapa lagi jika bukan Baekhyun? Sahabatnya yang paling manis yang sangat ia rindukan karena 3 hari mereka tidak berjumpa. Dengan langkah hati-hati, Kyungsoo perlahan mendekati Baekhyun yang nampak sedang serius dengan ponselnya.
Tunggu..
Ponsel?
Sejak kapan Baekhyun memiliki minat untuk memegang alat komunikasi modern berbentuk persegi itu? Selama Kyungsoo menjadi sahabat Baekhyun, tak pernah sekalipun ia melihat minat Baekhyun terhadap ponsel. Ow, ataukah sahabat imutnya ini sudah berubah menjadi lelaki nakal dan mendapatkan ponsel ini secara cuma-cuma karena Baekhyun telah 'melayani' seorang lelaki hidung belang dan mata keranjang?
"Kyungsoo! Aku sangat merindukanmu! Kenapa kau tidak hadir sekolah selama 3 hari ini eoh?"
Niat Kyungsoo sebenarnya adalah mengejutkan Baekhyun karena kehadirannya, tetapi yang ada justru sebaliknya. Dirinyalah yang lebih dulu di kejutkan oleh teriakan Baekhyun yang sepertinya lebih dulu menyadari keberadaannya. Kyungsoo buyar hanya karena sebuah ponsel mewah yang berada di genggaman Baekhyun. Ugh! Kau sungguh memalukan Kyungsoo kkk~
"Ponsel baru? Dari siapa? Atau kau membelinya dengan uang tabunganmu?"
Bukannya menjawab, Kyungsoo justru melemparkan pertanyaannya pada Baekhyun dengan ekspresi menggoda sahabatnya tersebut untuk berkata jujur. Dan tentu saja ekspresi yang di tunjukkan oleh Kyungsoo saat ini sungguh membuat Baekhyun bergidik ngeri. Namun dengan mudah Baekhyun mengembangkan senyumannya dan menyimpan ponselnya ke dalam tas sebelum di 'bedah' oleh Kyungsoo.
"Aku akan menjawab pertanyaanmu setelah kau menjawab pertanyaanku, Kyungsoo-ya."
Kyungsoo mendengus dan mendudukkan dirinya disamping Baekhyun. Dan beberapa detik kemudian, wajah Kyungsoo tiba-tiba memerah seperti kepiting rebus. Baekhyun yang menyadarinya, langsung memegang wajah Kyungsoo yang merona dengan aneh tersebut.
"A-ak-ak.. a-aku menginap di rumah kekasihku dan aku tidak di izinkan untuk sekolah selama tiga hari karena dia ingin menghabiskan waktunya bersamaku," jelas Kyungsoo malu-malu.
"Kyungsoo.. kau.."
Dengan cepat Kyungsoo mengangguk dan menutupi wajahnya yang semakin memerah dengan kedua telapak tangannya.
"Aku dan Kai.. tinggal bersama selama tiga hari," cicit Kyungsoo.
Kepala Baekhyun mendadak pusing. Namun belum sempat ia bereaksi, Kyungsoo lebih dulu menatapnya dengan tajam.
"Bagaimana denganmu? Bagaimana mungkin kau membeli ponsel mewah itu? Siapa yang berhasil menarik hatimu? Siapa lelaki itu Baek? Jelaskan padaku!"
"Ba-baiklah. Aku harus mengatakan padamu jika saat ini aku sudah pindah bekerja dan kini aku tinggal seatap dengan majikanku. Dia bernama Tuan Park. Dia yang memberikan ponsel itu padaku. Kau jangan berpikir yang tidak-tidak, dia memberikanku ponsel karena untuk memudahkan kami berkomunikasi. Kau jangan salah paham."
Kyungsoo menahan tawanya ketika melihat Baekhyun yang gelagapan. Seperti habis mencuri ayam, Baekhyun terlihat kikuk dan berkeringat. Ugh! Sungguh lucu sahabatnya ini.
"Arraseo. Dan.. um lain kali kau harus menunjukkan kekasihmu itu padaku ok?"
"Baiklah. Eh? Dia bukan kekasihku! Dia majikanku."
"Jika kau hanya menganggapnya sebagai majikanmu saja, kau tidak harus merona seperti itu Baek."
Kyungsoo terkikik, sedangkan Baekhyun masih gelagapan memegangi wajahnya yang sedikit memanas. Hmm sebenarnya ada apa dengan dirinya eoh?
Pelajaran di sekolah hari ini di lalui dengan baik oleh Baekhyun, dan ia memutuskan untuk kembali ke rumahnya, ah tidak, lebih tepatnya kembali ke rumah Chanyeol. Namun tiba-tiba terlintas di pikirannya untuk mampir sebentar ke rumah lamanya dan melihat bagaimana kondisi kedua orangtuanya. Terhitung sudah sekitar seminggu ia tidak memberi kabar pada sang orangtua, maka dari itu ia memutuskan untuk pulang kerumah sejenak. Tetapi sebelumnya ia harus membelikan beberapa buah untuk Ayah dan beberapa bahan makanan untuk Ibu. Setidaknya ia masih memiliki sedikit uang dan itu cukup untuk membeli itu semua.
Dengan wajah yang sumringah masih dengan mengenakan seragam sekolahnya, Baekhyun berjalan menuju sebuah supermarket kecil. Tanpa menunggu lama lagi, ia segera mengambil semua yang ia butuhkan. Tidak membutuhkan waktu yang lama, Baekhyun sudah mendapatkan semuanya namun tubuh mungilnya sedikit terhalangi oleh tubuh tinggi yang menjulang tepat di hadapannya. Dan ketika ia mendongakkan kepalanya, ia terkejut bukan main karena lelaki tersebut adalah Chanyeol.
Ugh! Apa yang harus Baekhyun katakan saat ini?
"Aku sudah membelikanmu ponsel tetapi kau tidak menggunakannya. Lalu apa gunanya ponsel itu? Kau hanya menyimpannya?"
Jantung Baekhyun berdegup dengan keras karena Chanyeol sepertinya akan marah karena ia sama sekali tidak mengabari jika ia pulang terlambat. Baekhyun memutuskan untuk menunduk dalam, masih dengan keranjang kecil di kedua tangannya.
"Kau tidak menjawabku Baekhyun?"
"Maafkan aku Tuan."
"Kau bisa membuang ponsel itu."
"Maaf.."
"Baekhyun?"
Sontak Baekhyun mengangkat kepalanya untuk melihat seseorang yang telah memanggil namanya tersebut. Bukan suara yang asing, dan itulah sebabnya Baekhyun ketika mendapati seorang wanita paruh baya sudah berdiri tepat di samping Chanyeol.
"Umma.."
Plakk!
Chanyeol membulatkan matanya ketika melihat sosok wanita yang Baekhyun panggil 'Umma' itu, menampar wajah Baekhyun dengan sangat keras. Chanyeol masih tidak mengerti dengan apa yang sebenarnya terjadi diantara Baekhyun dan wanita paruh baya ini. Kenapa wanita ini menampar Baekhyun? Apakah Baekhyun sering di perlakukan seperti ini olehnya? Atau..
Baekhyun telah melakukan sebuah kesalahan?
"Umma hiks!"
"Seharusnya Umma sudah menduga jika kau akan menjadi lelaki liar seperti ini! Kenapa kau bisa di pecat oleh Suho eoh? Apa karena lelaki ini? Apakah dia memberimu banyak uang sehingga kau memilih jalan kotor seperti ini?"
Umma Baekhyun nampak emosi dan menatap Chanyeol dengan tatapan marahnya. Chanyeol masih terdiam, namun dengan cepat ia menarik Baekhyun kedalam pelukannya ketika sang Umma ingin menampar Baekhyun kembali.
"Hiks Tuan.."
"Umma tidak sudi memiliki anak jalang sepertimu Baek! Kau mengecewakan Umma dan Appa!"
"Sepertinya anda salah paham pada Baekhyun. Ini tidak seperti yang anda pikirkan."
"Baekhyun. Lihat Umma. Dengarkan Umma baik-baik."
Baekhyun masih terisak menangis sambil memegangi pipinya yang terasa panas di dalam pelukan Chanyeol. Jujur saja traumanya dengan kekerasan yang sering di lakukan oleh sang Umma dimasa lalu, membuatnya kembali ketakutan. Sangat ketakutan. Namun ia berusaha untuk memberanikan dirinya menatap sang Umma, meskipun jujur saja, ia sangat ingin lari dari tempat ini sekarang juga.
"Maafkan aku Umma.." gumam Baekhyun nyaris tak terdengar. Dan itu membuat Umma Baekhyun tertawa meremehkan dan dengan cepat ia mencengkram dagu Baekhyun dengan kuat, sehingga Baekhyun langsung meringis kesakitan.
Ingin sekali Chanyeol membawa Baekhyun pergi dari sini, namun ia tidak ingin menambah masalah dan ia lebih memilih untuk memahami sendiri apa yang sebenarnya terjadi pada Baekhyun.
"Umma sudah tidak bisa memaafkanmu, Baek. Jangan pernah kau tunjukkan wajahmu di hadapan Umma lagi. Mulai detik ini."
"Akh! Ummaaa! Hiks!"
Baekhyun tersungkur di lantai karena wajahnya di hempaskan oleh sang Umma yang sudah berlalu meninggalkannya. Chanyeol langsung menarik pinggang Baekhyun agar berdiri dan Baekhyun masih saja menangis terisak disana.
"Baekhyun kau terluka?"
"Hiks Tuan.. maafkan aku."
Baekhyun masih terisak sambil menatap wajah tampan majikannya ini. Airmata masih terus mengalir dari kedua pelupuk matanya, dan dadanya terasa amat sesak setelah menerima perlakuan kasar sang Umma terhadapnya barusan.
Tangan mungilnya terangkat untuk meraih kedua lengan Chanyeol dan menatapnya dalam. Begitupun dengan Chanyeol, ia hanya terdiam sambil terus memperhatikan apa yang ingin di katakan oleh Baekhyun.
"Kau tidak perlu meminta ma-"
"Hiks! Maafkan aku Tuan. Aku.."
Deg
Deg
Deg
Jantung Chanyeol berdebar begitu keras dan ia merasakan ada hal buruk yang akan terjadi.
"Aku.. berhenti dari pekerjaanku."
Final Baekhyun dan kemudian ia bangkit berlari meninggalkan Chanyeol yang masih terdiam kaku disana. Baekhyun terus mengusap airmatanya dan terus berlari entah kemana. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan dan apa yang harus ia pilih untuk saat ini.
Semuanya terasa begitu menyulitkannya.
'Tuan.. maafkan aku.'
.
.
.
.
.
.
To Be Continued..
.
.
.
.
.
.
Chapter ini panjang ya? Heheheh
Apa yang akan Chanyeol lakukan setelah Baekhyun berhenti dari pekerjaannya? Apakah dia biarkan Baekhyun pergi atau mengejarnya?
Ada yang kaget sama masa lalu Baekhyun yang ternyata korban penganiayaan oleh Umma nya sendiri?
Ayooo kejar Baekhyun! Yuta semangatin darisini!
Ayo semangat untuk mendapatkan Baekhyun karena jodoh Daddy Yeol itu adalah Mommy Baek *apadah
Jangan nyerah buat bikin Baekhyun peka, dan coba tarik hati bocah polos itu lagi biar bisa cepet-cepet di polosin/? *digampar
OK, NEXT?
REVIEW JUSEYO~
YUTA TUNGGU~
SARANGHAE BBUING~!
