Yang Sakura lakukan dirumah adala bermalas-malasan dirumah hanya dikamar membaca buku atau sekedar menonton tv. Semenjak kehamilanya Sakura dilarang keluar oleh Naruto, bahkan untuk berbelanja ataupun ke caffe Naruto melarangnya demi kebaikan Sakura dan juga calon anak mereka. Sampai-sampai kamar merekapun dipindahkan dilantai dasar, dan tentu saja Sakura merasa jenuh seharian dirumah. Tapi ketika kandunganya menendang Sakura tersenyum sendiri merasakan sensasi yang ditimbulkan dari janinya. Naruto begitu perhatian, semenjak Sakura hamil Naruto selalu mengusahakan agar pulang cepat. Memanjakan Sakura dan terkadang mencarikan makanan yang Sakura ingini bila dia sedang ngidam terutama ramen. Sakura tertawa sendiri ketika menyadari dirinya sangat menyukai ramen makanan favorit suaminya. Dan hari ini adalah kunjungan chek up-nya ke dokter kandungan bersama Naruto.

"anata akukan bisa jalan sendiri, tidak perlu dituntun beginikan"

Naruto menggelengkan kepala tanda tidak setuju

"tidak Sakura-chan, lihatlah tubuh kecilmu harus menopang beban setiap hari. Kau pasti lelahkan, kakimu saja bengkak"

"tapi inikah wajar, setiap ibu hamil pasti akan mengalaminya"

Sakura mengembungkan pipiny, membuat Naruto semakin gemas dengan istrinya

"sudah kau turuti apa kataku tsuma"

"yah baiklah, tapi setelah ini kita beli ramen yah?"

Naruto mengacak kepala istrinya

"tentu istriku"

Sakura memasuki mobil dengan hati-hati, Naruto bahkan memakaikan sabuk pengaman untuk Sakura. Mereka berangkat menuju rumah sakit, kemudian menunggu giliran diruang tunggu RS.

"Hinata?"

Sakura mengernyit melihat Hinata yang baru saja keluar dari ruangan pemeriksaan

"kau ke dokter kandungan juga?"

Sementara itu Hinata yang ada didepan pintu mematung melihat Naruto dan juga Sakura. Sakura yang heran melihat Hinata kemudian menyunggingkan senyum

"apa jangan-jangan kau..?"

"eh, Sakura Naruto.. maaf yah aku buru-buru pergi ada urusan"

Hinata membungkukan badan kemudian pergi dengan cepat meninggalkan Naruto dan Sakura.

"aneh sekali.. apa dia sedang hamil?"

Sakura berbicara sendiri, sementara Naruto asik membaca koran sambil menunggu giliran Sakura dipanggil

"anata apa Hinata hamil?"

"hmm mungkin saja.."

"tapi kenapa Hinata keliatan kaget yah melihat kita?"

Kemudian seorang perawat keluar dari ruangan dokter

"nyonya Namikaze"

Sakura dan Narutopun memasuki ruangan dokter ketika mendengar namanya dipanggil. Sakura merebahkan dirinya diranjang kemudian dokter kandungan itu menempelkan alat untuk mengecek kondisi janin. Naruto melihat antusias janin yang berada dikandungan Sakura dimonitor

"jadi jenis kelamin bayiku apa baa-chan sudah keliatan?"

"sepertinya laki-laki"

Senyum Sakura dan Narutopun mengembang

"dia sehatkan baa-chan?"

"tentu.."

Dokter Tsunade ikut tersenyum, Naruto membantu istrinya duduk dan mengambil gambar hasil USG. Sakura melihat takjub saat dimonitoring dan bahkan melihat hasil foto USG mleihat betapa sempurnanya calon anak yang sedang dikandungnya.

"dia laki-laki Sakura-chan.."

Naruto nampak begitu antusias usai mengetahui jenis kelamin calon anaknya

"ini beberapa resep obat yang harus kau tebus, pastikan Sakura tidak mengalami stres ataupun kelelahan"

"baik baa-chan"

"a-ano dokter Tsunade-sama.."

"ya Sakura?"

Sakura sedikit ragu, namun dia memberanikan diri untuk bertanya

"pasien tadi yang bernama Uchiha Hinata ada apa kesini?"

"itu privasi Sakura, kau tak dapat menanyakanya padaku. itu sudah menjadi kode etik kami sebagai dokter.."

"begitu.."

Sakura sedikit kecewa

"Sakura-chan ayo kita keluar"

"iya"

"kami pamit baa-chan"

mengangguk. Kemudian Naruto dan Sakura menebus obat-obatan dan bergegas pergi dari RS.

.

.

.

Sementara itu dikediaman Uchiha..

Wanita bersurai indigo itu nampak murung melihat hasil pemeriksaan. Dokter bilang rahimnya harus diangkat karena terdapat benjolan yang semakin lama semakin membesar. Hinata ragu, cemas dan juga sedih. Baru saja dia berbahagia dengan pernikahanya bersama Sasuke dan kali ini Hinata harus menelan pil pahit. Sasuke belum mengetahui kondisi Hinata yang sebenarnya. Kalau boleh jujur Hinatapun ingin seperti Sakura, mempunyai anak sendiri meskipun dengan jalan bayi tabung. Namun apa boleh buat? Suaminya hanya karyawan biasa. Mana mungkin sanggup membiayai proses pembuatan bayi tabung yang memakan biaya jutaan yen.

"tadaima"

Mendengar suara Sasuke Hinata bergegas keruanga tamu

"okaeri"

Sasuke mengecup kening Hinata

"ada apa? Kau terlihat murung hime?"

Hinata mendongakan wajahnya menatap suaminya

"eh, tidak apa-apa anata"

Sasuke membelai surai indigo Hinata, mereka telah resmi menjadi sepasang suami istri beberapa bulan lalu. Hinata bahagia, tentu bahagia. Bagaimana Sasuke mengejar dan meluluhkan hatinya, bagaimana Sasuke melamarnya dengan suasana sakral yang begitu romantis. dan kini Hinata sudah memutuskan untuk membahagiakan suaminya bagaimanapun caranya. Entah itu melakasanakan kewajibanya sebagai istri melayani Sasuke dan mengurus semua kebutuhan Sasuke. ataupun Hinata selalu berusaha perhatian kepada suaminya, saat Sasuke letih Hinata dengan senang hati akan memijit dan memanjakan suaminya. Hinatapun pintar memasak, ini salah satu hal yang sangat Sasuke sukai pada istrinya. Masakan Hinata adalah masakan yang enak setelah masakan ibunya Mikoto.

Hinata bertekad akan bertahan dengan obat-obatan dan jangan sampai suaminya tau keadaanya yang sebenarnya. Biarlah Hinata menutup rapat kondisinya saat ini agar tak jadi beban suaminya. Cukup hidup disamping Sasuke saja telah menjadi anugerah yang indah dalam hidupnya

.

.

Mereka sedang berada diruang tamu, Sakura sedang membaca majalah dan suaminya sedang bersandar pada paha Sakura. Naruto tidak pernah bosan mengelus perut istrinya yang sedang buncit, apa lagi ketika janinya menendang.

"tsuma..?"

"hmm.."

"kalau anak kita lahir nanti aku ingin memberinya nama Shinaciku"

Sakura menoleh

"Shinaciku?"

Naruto mengangguk dan masih mengelus perut istrinya

"memangnya kalau dia perempuan kenapa anata?"

"eh sebenarnya laki-laki atau perempuan sama saja sayang. Kau dengar sendiri baa-chan bilang jenis kelamin anak kita laki-laki. Dia akan menjadi seorang direktur perusahaan yang lebih hebat dari ayahnya"

Naruto mendekat dan mengecup lembut bibir istrinnya dengan penuh perasaan. Keinginan untuk memiliki seorang anak tinggal didepan mata. Sakura tinggal menunggu tanggal kelahiranya yang sudah diprediksikan oleh dokter. Naruto dan Sakura begitu menyayangi calon anak mereka, kali ini Sakura tidak akan pernah menyia-nyiakan kembali seorang anak yang dititipkan dari Tuhan dirahimnya. Anak yang selama ini dinanti oleh Sakura, Sakura belajar bagaimana nanti kalau bayi yang ada dikandunganya kelak akan lahir. Bahkan Naruto dan Sakura menyempatkan diri mengabadikan kehamilan Sakura dengan berfoto distudio.

Mencoba berbagai tema baju yang disediakan distudio foto. Dan berfoto dengan berbagai fose saat pengambilan gambar berlangsung.

.

.

"hime ini obat apa?"

Hinata yang sedang mencuci piring tegang, wajahnya berubah menjadi pucat pasi saat suaminya menanyakan obat

"eeh i-itu etto hanya vitamin suamiku"

Hinata memalingkan wajahnya

"tapi kenapa disini keteranganya menunjukan obat keras?"

Hinata mencuci tanganya dan segera merebut botol berisi obat dari Sasuke

"kau tidak menyembunyikan sesuatu darikukan? Hime?"

Hinata benar-benar kikuk saat berhadapan dengan suaminya, terlebih pertanyaan yang mengintrupesi dirinya. Hiata meremas ujung roknya dan merasa gugup. Sasuke memandanginya penuh curiga

"ti-tidak anata, aku tidak menyembunyikan apapun darimu"

Jawabnya masih menundukan wajah. Sasuke menghembuskan nafasnya kemudian merangkum wajah istrinya, sementara bola mata Hinata menghindari tatapan onyx suaminya. Sasuke mengecup kening Hinata, membuat Hinata merona meskipun mereka telah menikah

"yasudah, aku mandi dulu"

Dan saat suaminya memasuki kamar mandi Hinatapun dapat bernafas lega..

.

.

Jam sudah menunjukan pukul 8 pagi Sakura baru saja bangun dan ia dapati suaminya sudah berangkat ke kantor. Semenjak hamil Sakura sering bangun terlambat, dan suaminya mengertikan kebiasaan baru Sakura. Sakura bangun dengan kondisi yang masih mengantuk, dengan sedikit tertatih karena perutnya yang membuncit Sakura menuju kamar mandi yang ada didalam kamar, dan beberapa langkah Sakura berjalan dia tergelincir

"aaakh~"

Sakura meringis menahan sakit sambil memegangi perutnya, Sakura mencoba berdiri namun rasa sakit akibat tergelincir menyebabkan Sakura tak kuat menahan beban tubuhnya.

"Na-naru..."

Sakit terus memegangi perutnya dan darah merembas keluar dari selangkanganya, emerald Sakura terbelalak kaget sementara itu perutnya terus bergejolak karena sensasi sakit yang ditibimbulkan. Sakura berusaha menyeret tubuhnya setengah merangkak mengambil ponsel yang tergeletak dilaci dekat kamar tidurnya. Darah berceceran, Sakura mulai panik. Sakura sebisa mungkin menahan rasa sakit dan menyeret tubuhnya yang tak sanggup untuk berdiri. Tangan kananya mencoba meraih ponsel, sementara tangan kirinya memegangi perutnya. Jemari Sakura bergetar, dengan susah payah Sakura meraih ponselnya. Ujung jemari Sakura berhasil meraih ponsel dan hanya mampu menyenggol tanpa meraih. Dengan sisa tenaga terakhir Sakura menyeret kembali tubuhnya agar lebih dekat degan meja. Sakura berhasil, ponselnya terjatuh Sakura dengan susah payah dan jemari yang ergetar akibat rasa sakit yang tak tertahan mengklik nomor Naruto dan mencoba menghubunginya

"anata.. aku mohon angkat"

Sakura menitikan air mata, rasa sakit dari perutnya seakan menjalar keseluruh tubuhnya. Sementara itu Naruto yang sedang dalam perjalanan mobil merasakan ponsel disaku celananya bergetar

"ya sayang aku sedang dijalan"

"anatah.. tolong akuh.."

"Sakura-chan kau tak apa-apa?"

"tolong akuhh.. anatah.. sakiit.."

Klik sambungan telepon terputus. Sakura tak sadarkan diri dengan darah merembas dari selangkanganya.

Naruto yang mendapat telepon dari istrinya khawatir dan segera memutar arah menuju rumahnya. Dengan kecepatan penuh Naruto melaju dengan kecepatan yang cukup tinggi untuk segera kerumahnya

"kami-sama.. semoga Sakura-chan baik-baik saja"

Fikiranya kacau, Naruto berada dipersimpangan jalan dan kondisi jalanan saat itu sedang lampu merah. Naruto gemas, dirinya tidak tenang. Setelah menunggu beberapa detik akhirnya lampu hijau menyala. Naruto mengemudikan mobilnya dilanda perasaan was-was yang mencekam.

Naruto langsung berlari memasuki rumahnya dan mencari keberadaan Sakura

"Sakura-chan.."

Naruto melihat dapur dan tak menemukan keberadaan istrinya, maka Naruto bergegas menuju kamarnya dengan langkah tergesa. Dan pemandangan yang mengerikan tersaji dihadapan matanya

"astaga.. Sakura!"

Naruto menghampiri istrinya, dress Sakura yang semula berwarna putih kini telah berubah menjadi merah karena darah yang merembas dari selangkangan Sakura. Dengan sigap Naruto menopang Sakura, menggendong dan membawanya hati-ati ke mobilnya.

Narutopun segera meluncur membawa Sakura ke RS. Naruto bisa melihat dari kaca spion mobil Sakura tak sadarkan diri.

Ketika sampai Sakura dilarikan menuju ruangan UGD. Naruto menunggu dengan wajah yag sudah pucat pasi.

Seorang dokter keluar dari ruangan dan Naruto langsung menghampirinya

"bagaimana kondisi Sakura baa-chan?"

"silakan masuk ke ruangan"

Naruto mengekor , ruangan itu tidak terlalu besar dan dengan cat yang serba putih serta bau khas obat yang Naruto cium dari inderanya. mengambil berkas dan menyerahkanya pada Naruto

"ini..?"

"prosedur persetujuan caesar, bayinya harus segera dikeluarkan"

"apa tidak bisa Sakura melahirkan secara normal baa-chan?"

Tsunade melepaskan kacamata yang bertengger dihidunya

"bisa saja, karena aku periksa tadi Sakura sudah memulai proses pembukaan. tapi untuk berjaga-jaga melihat kondisi Sakura maka aku menyarankan untuk caesar, tapi itu semua tergantung pada pilihanmu Naruto sebagai suami dari Sakura"

"kalau begitu aku ingin Sakura melahirkan secara normal saja baa-chan"

Naruto berkata dengan cepat seolah takut dipotong oleh baa-channya

"baiklah, mungkin Sakura harus diberi induksi agar bisa segera ke proses pembukaan terakhir dan posisi bayi bisa memutar searah jarum jam"

'semoga Sakura dan bayiku selamat'

Naruto keluar dari ruangan dokter. Sementara itu Sakura dipindahkan menuju ruang persalinan selang infusan, alat bantu pernafasan dan monitor detak jantung sudah terpasang ditubuhnya. Naruto hanya tinggal menunggu saat istrinya sedang mempertaruhkan hidup dan mati demi bayi mereka.

Sakura menitikan air mata, bayi diperutnya memutar dan proses kelahiran akan dimulai. Dokter telah memberi induksi pada Sakura. Sakura merasa mulas luar biasa, dan seorang perawat melihat proses pembukaan dan memberi tanda Sakura sudah memasuki tahap terakhir pembukaanya.

"nyonya Namikaze, tarik nafas yang dalam!"

"nnggggghh!"

Sakura merasa kesakitan, dia merasa tulangnya sedang dilolosi satu persatu dari tubuhnya. Bagian perut hingga punggung serasa dicabut paksa, perih dan sakit.

Keringat dan darah bercucuran, dan Sakura masih berjuang untuk melahirkan bayinya. Sementara diruang tunggu Naruto dilanda kecemasan yang luar biasa. Menunggu kabar dari dokter dan keadaan Sakura dari dalam rasanya sungguh menyiksa!

Sakura menggertakan gigi, uap dari masker oksigen yang dia gunakan terlihat jelas. Sakura mengeratkan pegangan pada ranjang. Dokter memberi intruksi agar Sakura menarik nafas lebih dalam dan mendorong lebih kuat.

Sakura lemas, namun bayinya belum juga keluar. Sakura bahkan hampir pingsan

"ayo nyoya tarik nafas dan dorong lebih kuat lagi!"

Sakura mengeratkan pegangan.

"nggghhh!"

Sakura melenguh, darahpun merembas dari selangkanganya. Dokter tersenyum, Sakura berhasil mengeluarkan bayinya dengan selamat. Belum sempat melihat bayinya Sakura pingsan, tenanganya terkuras. Dokter bergegas memandikan bayi dan memindahkanya di inkubator.

"bagaimana Sakura dan bayiku?"

"selamat Naruto sesuai perkiraan bayinya laki-laki"

Naruto yang semula tegang kini berubah lebih cerah

"lalu Sakura?"

"dia hanya kelelahan dan sudah dipindahkan menuju ruang perawatan"

Naruto bergegas menuju ruanganbayi. Irish saphirenya berkaca-kaca melihat bayi pirang yang amat mungil dan menggemaskan

"kau berhasil sayang, anak kita sempurna"

Naruto takjub melihat bayinya yang berada diinkubator. Puas melihat anaknya yang telah lahir kedunia Narutopun menuju ruangan Sakura, Naruto memandangi lekat istrinya

"sayang.."

Kemudian menggenggam erat jemari Sakura yang sedang tertidur

"anak kita sempurna"

Naruto tersenyum dan kemudia tertidur dengan posisi duduk diranjang Sakura.

.

.

Teman-teman dan rekan kerja silih berganti berdatangan untuk mengucapkan selamat kepada Naruto dan Sakura atas kelahiran bayi mereka. Naruto dengan ramah menjabat tangan dan mengucapkan terima kasih atas kunjungan temanya.

Disisi lain dia merasa begitu bahagia karena akhirnya dia telah menjadi seorang ayah, namun hanya ada satu yang Naruto rasa kurang. Sakura koma semenjak melahirkan putera mereka. Tak henti-hentinya Naruto memanggil istrinya, menyemangatinya agar Sakura segera terbangun dari komanya.

Namun sejauh ini, belum ada tanda-tanda yang menunjukan kalau Sakura akan segera sadar. Sementara puteranya masih harus berada diinkubator, dan Naruto sering mengunjunginya dan ingin sekali dia menggendong putera kecilnya yang telah lahir kedunia. Atau melihat Sakura memberikan ASI untuk putera mereka.

Naruto memegangi kaca yang membatasinya diruang perawatan bayi. Akhirnya impianya terwujud, impian mereka menjadi nyata. Lihatlah saat bayi Naruto membuka mata, Naruto tersenyum girang saat puteranya melihat kearahnya seolah mengenali dirinya adalah ayah dari bayi itu. Narutopun takjub melihat bola mata Shinaciku nama yang dia berikan pada anaknya berwarna green florest, emerald jernih nan indah persis seperti istrinya.

Setelah seminggu akhirnya Shinaciku diperbolehkan keluar dari inkubator. Dan Naruto menggendongnya dengan naluri keayahanya yang secara alami tumbuh dalam diri Naruto.

"nah kau lihat Shina? Itu mamah"

Naruto tersenyum seraya menggendong Shinaciku dan mendekatkanya kepada Sakura yang masih dalam keadaan koma.

Shinaciku menangis, Naruto sedikit bingung

"ssttt kau rindu mamah yah sayang? Jangan menangis yah"

Naruto menghibur puteranya dan membuat Shina berhenti menangis kemudian tidur dalam gendonganya

"kau lihat Sakura? Shina merindukanmu.. cepatlah sadar"

.

.

.

TBC

.

.

A/N :

paijo payah : ini udah next ko, jangan lupa reviews lagi yah

Geki Uzumaki : ini udah lanjut ka, jangan manggil nama asliku. aku kan malu -_-

dnrkaixo : yosh arigatou pujianya ini sudah lanjut jangan lupa reviews lagi yah

Aion Sun Rise : Shina udah lahir, jangan lupa reviews lagi yah

NS : sankyuu, jangan lupa reviews lagi yah

Haruno cherry : sankyu pujianya, jangan lupa reviews lagi yah

Uchiha Cullen738 : iya pasti aku juga SHL lovers soalnya hehe, jangan lupa reviews lagi

seajes : arigatou atas suportnya, jangan lupa reviews lagi yah

guest : aku gak akan setega itu ko pada Hinata, soalnya author juga SHL xD, jangan lupa reviews lagi

dirgades : ini sudah up ko, sankyu jangan lupa reviews lagi yah

untuk guest :

sankyu jangan lupa reviews lagi, dan berhubung author SHL jadi author nyematin mereka di fic ini. author gak akan tega ngebuat Hinata yang jadi pihak menderita xD.

untuk fic kolaburasi yang berjudul "Between two world" udah di publish ulang diakun baru khsus kolaburasi dengan pename

"Marsha and the seep" biar gak negbingungin readers lagi. yosh buat kalian yang masih ngikutin fic nista ini author ucapin hontouni arigatou. jangan lupa tinggalkan jejak, reviews kalian semangat author^^