"Tidak mungkin..."

Hari itu dunia Menma seakan runtuh. Seakan semua nasib buruk terjangkit padanya. Tangannya menggetar hebat, seperti terkena Tremor dasyat. Matanya dwi warnanya memandang liar kesana-kemari. Ia melihat kembali ke arah tangannya.

"Ini tidak mungkin..."

Test pack dengan tanda "" terjatuh dengan mulus dari tangan mungilnya. Lalu Menma terlihat memeluk dirinya sendiri di sudut kamar mandi. Bibirnya bergetar dan nampak pucat.

"Ini tidak mungkin terjadi..."

.

Ame No Uta

.

Pair:

All seme x Naruto

Random pair

.

Pair chapter:

?xMenma

.

Final Pair:

? X Naruto

MinatoxKushina

.

Rating:

T+, M

.

Chapter:

4/?

.

Note:

Untuk yg review makasi ya *hugs*

Maaf nise nggak bs bales review-an kalian

Tp jangan sedih, nise selalu baca kok review-an kalian

Dan segala masukannya nise perhatikan juga xD

Jangan malas-malas nge-review yah .

Nise tambah senang klo ada yang ngasih masukan buat ide chapter depannya mweheheh

*alah lo tukang writerblock mulu sih*

.

Warning:

Adegan adult yaoi~

Rape

Plot twist

Dark!Minato

.

Setting tempat:

Flashback ._. Jadi nanti bs random tempat xD

.

Chapter:

Sorry... I can't be a good boy

( =^) (^o^)

Menma terlihat menyeruput teh miliknya. Lalu memandang Naruto. "Kau tau... Saat itu adalah saat terberat bagiku." Menma meletakkan cangkir teh miliknya. "Saat itu ayah, ibu serta kakakku menjadi seonggok daging tanpa nyawa. Tergeletak begitu saja di lantai kamarku."

"Sebenarnya apa yang terjadi? Otosan kan lelaki." Naruto bertanya sambil membenarkan letak kacamata bacanya. Menma memijat batang hidungnya.

"Ah... Masalah itu... Sebenarnya aku tidak tau pasti mengapa. Tapi, aku mengetahui sedikit tentang itu." Menma meraih amplop coklat di depannya. "Mutasi gen dan mutasi pembuahan. Orang-orang yang terlahir sepertiku tidak akan pernah bisa membuahi." Menma menghela nafas. "Dan penyakit mutasi ini adalah penyakit turun menurun." Menma meletakkan amplop tersebut. "Tidak ada obatnya. Dan yang pasti, salah satu di antara kalian ada yang memiliki penyakit ini. Atau bahkan yang lebih parah adalah keduanya."

Mata Naruto terbelalak tidak percaya. "Lalu apa yang terjadi jika aku atau saudara ku memiliki ini?" Naruto tampak menelan ludah.

"Siap tidak siap kalian harus menjadi yang di bawah. Se-straight apapun si pembawa, dia tidak akan pernah bisa membuahi seorang wanita. Percaya padaku..." Menma berkata. Naruto menatapnya horor.

"Aku tau ini sulit dipercaya, tapi yakinlah... Pada saatnya nanti salah satu diantara kalian harus menerima kenyataan ini." Menma menggenggam tangan Naruto erat. "Sekarang tidur, ya? Besok di lanjutkan lagi... Sudah pukul dua belas malam..."

Naruto mengangguk. Lalu menguap. Pantas saja matanya terasa berat. Ternyata sudah jam segini. Salahkan Kakashi yang selalu memarahinya jika ia tidur larut.

"Aku tidur dulu... Selamat malam..."

( =^) (^o^)

Malam itu tidak ada yang tidur. Baik Naruto, Kakashi ataupun Menma. Semua cerita masa lalu itu harusnya tidak pernah terungkap. Menma menutup mulutnya.

"Harusnya mulut ini dari dulu kau hancurkan saja, Minato." Lalu jeda beberapa saat. "Hancurkan bersamaan dengan kematian semua keluargaku." Setitik air meluncur dari matanya. "Kau benar-benar brengsek, Minato. Sampai kapan pun tak akan pernah aku serahkan anak-anak ku! Tak akan! Apalagi pada orang sakit sepertimu. Aku tidak akan menyerah..." Menma perlahan menutup matanya dan tertidur.

Di depan pintu kamar Menma tampak Kakashi melirik sebenar ke dalam. Lalu menghela nafas dan membuka maskernya. Tampak bekas jahitan dari pipi kirinya ke dagu kanannya.

"Saya akan selalu melindungi anda, Menma-sama... Luka ini adalah saksinya..." Kata Kakashi lalu beranjak dari sana.

( =^)(^o^)

Menma tampak tertidur gelisah di ranjangnya. Matanya terpejam erat dan bulir-bulir keringat jatuh dari pelipisnya. Tangannya menggenggam erat selimut merah marun yang digunakannya. Terdengar lenguhan kecil dari bibirnya. Sesaat kemudian ia tampak tenang dan setelahnya gelisah lagi.

( =^)(^o^)

Tampak seluruh ruangan terisi penuh oleh tamu. Semuanya mengenakan warna putih, sesuai dengan dresscode yang tercetak jelas di tiap undangan. Mata besar dwi warna melirik kanan dan kirinya. Ia mengenal betul ruangan ini.

'Kediaman Uzumaki...?' Menma berkata dalam hati. Ketika itu ia melihat orang tuanya berjalan ke arahnya. Menma memandangnya lama. Perasaannya membuncah ketika melihat kedua orangtuanya. Yang selama ini ia rindukan. Kedua orangtuanya tersenyum lalu berjalan ke arahnya.

"Tidak mendatangi kakakmu?"

Menma menggeleng pelan. Terlihat di matanya bulir air mata. "Tidak..." Lalu ia memeluk ibunya. "Aku merindukan kalian..."

"Eeh? Ada apa denganmu?" Ibunya menatapnya heran. "Kita hanya setengah jam tidak bertemu, sayang... Kau jadi manja sekali..."

"Pasti karena Kushina akan segera menikah. Anak ini pasti kesepian setelahnya..." Ayahnya melanjutkan. Lalu tersenyum dan mengacak rambut hitamnya. Menma tersenyum kecil.

"Aku sangat merindukan kalian..."

"Tidak merindukanku?"

Menma menoleh ke asal suara. Ia melihat Kushina. Kushina yang tampak anggun dan mempesona, seperti yang ada di ingatannya. Mata birunya benar-benar terlihat bahagia hari itu. Hari pernikahannya.

"Padahal aku kangen padamu, Menma..." Kushina berjalan ke arahnya. Menma memandangnya, matanya tergenang air. "Jangan menangis... Aku akan sering-sering menjengukmu..."

"Atau kita bisa saja tinggal bersama disini, aku tidak keberatan..."

Seketika mata Menma membulat sempurna. Di depannya, tampak pria dengan setelan jas berwarna putih dengan rambut rapi disisir kebelakang berjalan ke arahnya. Sepatu pentofel miliknya terdengar seperti ketukan jantung Menma. Interval-nya terkadang keras dan terkadang terdengar pelan. Tubuhnya bergetar. Ia tau... Semuanya tidak akan berjalan mulus seperti yang mereka rencanakan.

( =^)(^o^)

"Fugaku... Perkenalkan, ini Menma..." Ayahnya memperkenalkan Menma sosok pria gagah dengan paras tampan. "Menma, ini Fugaku..." Ayahnya menepuk pelan pundak Menma. "Orang ini yang akan menjadi calon suamimu nanti..." Ayahnya tersenyum.

Sesaat Menma seperti melihat Fugaku tersenyum tipis. Menma memanas dan merona tipis. Fugaku berjalan ke arahnya.

"Hn... Manis..." Fugaku berkata pelan. Menma sudah hampir kalap mendengarnya dan segera ingin lari dari sana. Malu. Jika ia bermuka dinding seperti temannya Anko, mungkin bisa saja ia langsung meloncat dan memeluk pria di depannya ini. Ayah Menma tersenyum.

"Nah... Aku harap kalian bisa membiasakan diri... Aku tinggal kalian berdua. Silahkan saling mengenal..." Ayahnya berkata, lalu berjalan ke arah kerumunan dan mendekati sang istri.

"Hm... Mau berbincang di taman?" Menma membuka suara. "Aku tidak terlalu dengar disini karena ribut sekali..." Menma menatap Fugaku dengan pipi memerah. Fugaku menatap Menma datar, lalu mengangguk meng-iya-kan. Mereka berdua pun melangkahkan kakinya tanpa menyadari pandangan membunuh dari si pirang.

( =^)(^o^)

Keduanya diam membisu. Menma tampak memijat leher belakangnya karena gugup dan sedikit lelah. Fugaku mencuri pandang pada pemuda yang baru beranjak dewasa tersebut.

"Hn..." Fugaku bergumam.

"Kenapa?" Menma menoleh padanya. Fugaku menatapnya. Menma yang awalnya gugup menjadi semakin gugup saat ia menelusuri lekuk wajah tampan Fugaku. Wajahnya memerah.

"Umurmu berapa? Masih sekolah? Kelas berapa?" Fugaku bertanya. Menma yang mendengarnya hanya tersenyum garing.

"Sudah lima belas tahun... Sekarang sudah duduk di kelas tiga karena aku memutuskan untuk lompat kelas lagi..." Kata Menma tanpa memandang Fugaku. Malu.

"Hn..." Fugaku berdehem lagi. Menma sedikit bingung dengan "Hm" tersebut. "Hn..."

"Katakan saja..." Menma menutup matanya lalu menyandarkan tubuhnya ke bangku taman. "Aku tidak mengerti dengan 'hn'-mu itu, Fugaku-san..." Kata Menma sambil tersenyum. Mata merah dan birunya menatap Fugaku. Fugaku tersenyum tipis, alhasil Menma memerah sempurna.

"Hn... Aku kira yang dijodohkan dengan ku adalah bocah picisan yang lagi alay-alay-nya. Ternyata aku salah." Keduanya terdiam sebentar. Angin menerpa mereka lembut. "Yang ku temui bukan yang seperti itu. Mungkin ini yang dikatakan first love at first sight?" Kata Fugaku yang mengikuti Menma menyandarkan dirinya di bangku taman. "Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Walau tidak jarang lelaki yang mendekatiku. Sekarang aku merasa seorang pedopil..." Fugaku berkata. Menma memandangnya heran, lalu tersenyum tipis. Keduanya saling bertatapan. Tak lama mereka mempertemukan bibir mereka berdua di keheningan sore itu.

( =^)(^o^)

Hari menjelang malam. Tapi tak tampak sedikit pun kediaman itu tampak sepi. Tamu-tamu silih berganti datang dan pergi. Tampak Kushina tersenyum di pelaminan bersama Minato yang masih lurus menatap kedua orang di sisi ruangan.

"Mereka mesra sekali ya, Mina-san..." Kushina memeluk lengan Minato. Matanya sejurus dengan Minato. Melihat Fugaku dan Menma yang berada di sisi ruangan. Terdengar alunan musik yang indah. Tampak Fugaku dan Menma menikmati makan malam mereka.

"Iya..." Minato berkata. Tanpa ada yang tau tangannya menggenggam erat. Kesal. Hanya itu yang bisa dirasakan Minato sendiran. "Semoga mereka bahagia..."

'Mereka tidak akan bersatu selama aku masih hidup...'

( =^)(^o^)

Hari itu adalah hari dimana keluarga kecil Uzumaki berkumpul. Semuanya dirundung duka. Kushina yang mengandung empat bulan mengalami keguguran karena terpeleset dari tangga dan kandungannya mau tidak mau harus diangkat untuk menyelamatkan dirinya.

"Ini semua kecelakaan. Tidak ada yang perlu merasa bersalah." Minato berkata kepada mertuanya dengan pandangan sedih. "Ini semua sudah takdir." Lanjutnya. Ibu Kushina yang menangis pelan kini terisak nyaring. Ayahnya memeluk ibunya yang masih tidak terima akan kejadian ini.

"Tidak, Minato. Ayah yakin ini bukan kecelakaan biasa." Ayah Kushina menatap Minato penuh arti. "Ayah yakin semua pekerja ayah seratus persen adalah orang-orang yang berpengalaman." Ayahnya berkata. Tampak Minato meremas kedua tangannya erat. "Dan Ayah yakin... Seseorang bermaksud mencelakakan Kushina." Ayahnya berkata. Minato terkejut.

"Maksud Ayah? Ada seseorang yang membencinya?" Minato bertanya. Ayah Kushina mengangguk. "Siapa?"

"Entahlah..." Ayah Kushina berkata. "Kakashi dan yang lain sedang menyelidikinya." Ayahnya berkata. Minato menatap dalam Ayahnya.

"Apapun itu ayah, lakukanlah! Jika Kushina memang dicelakai, aku ingin orang tersebut segera didapat dan dimasukkan ke sel." Minato berkata. Matanya berkilat marah. "Orang itu harus dihukum seberat-beratnya..." Kata Minato lalu bangkit dari sofa empuk berwarna merah marun tersebut. "Ayah, ibu... Aku pergi dulu melihat Kushina." Kata Minato. Ayah dan Ibunya mengangguk.

( =^)(^o^)

Tampak seseorang memegang ponsel berwarna oren dengan merk ternama. Wajah orang itu tampak begis, walau ditutupi dengan perban di sekitar wajahnya. Ia tersenyum licik, walau tidak ada yang melihatnya tersenyum.

"Kau tidak perlu takut..." Katanya sambil memutar kursi putarnya ke arah jendela. "Tak akan ada yang bisa menemukan Zabuza selama dia beraksi." Katanya kepada seseorang yang menelponnya. "Aku akan pastikan tak ada seorang pun yang mencurigai dirimu. HAHAHA!" Zabuza berkata lalu mematikan ponselnya.

"Jadi wanita itu tidak mati, eh?" Katanya dengan alis yang dinaikkan sebelah (note: kalau pernah liat Top si big bang, alisnya gitu deh. Bayangin sendiri xD). Lalu melemparkan amplop coklat berisi berkas-berkas klien-nya. "Wanita ini bernama Uzumaki Kushina." Katanya saat melihat foto-foto disana. "Dan yang ini ibu dan ayahnya. Dan pria yang berambut putih ini Kakashi, seorang butler disana. Mereka ini yang harus di singkirkan." Katanya pada seseorang di depannya. "Ah... Dan sisakan bocah ini untuk klien kita..." Lanjutnya lagi. Orang didepannya mengangguk. "Kerjakan dengan bersih. Jangan sampai kita terendus oleh anjing-anjing itu." Zabuza berkata. "Kau boleh pergi sekarang..."

( =^)(^o^)

"Aku sangat cemas keadaan Kushina-nee..." Menma menjambak kecil rambut hitam lembutnya. Fugaku meliriknya. Lalu menghela nafas. Ia tau, Menma bukanlah orang yang bisa begitu saja tenang ketika ia mengetahui keluarganya mendapat kecelakaan.

Fugaku mengelus rambut Menma pelan. Kemudian matanya tertuju pada akar rambut Menma. "Pirang?" Fugaku berkata spontan. Menma menoleh dan menutup bagian kepalanya dengan kedua tangannya.

"AAH! Sudah mulai tumbuh! Rambutku mulai tumbuh! Seberapa panjang yang terlihat, Fugaku-san? Apakah panjang sekali...?"

"Menma..."

"Aduh, aku harus mengecetnya lagi...

"Menma..."

"Aah... Tidak bisa. Kushina-nee sedang di rumah sakit..."

"MENMA!" Fugaku agak berteriak. Menma terdiam memandang pria di depannya. "Menma tenanglah..." Kata Fugaku lalu mencium kening Menma. "Pirang tidaklah buruk, Menma... Aku menyukainya..."

"Tapi aku lebih suka dengan warna hitam. Seperti rambut Fugaku-san. Sangat tampan..." Kata Menma sambil mengelus lembut rahang tegas Fugaku. "Aku ingin sepertimu. Berambut hitam dan bermarga Uchiha suatu saat nanti..." Kata Menma. Fugaku tersenyum. Lalu mencium kening Menma. "Aku akan mengecetnya lagi nanti..."

"Hn... Terserahlah... Warna apapun itu, aku akan tetap menyukaimu..."

( =^)(^o^)

Menma menatap nanar ke arah Fugaku dan seorang wanita berambut hitam di sampingnya serta seorang anak kecil di pangkuan sang wanita.

"Apa maksud semua ini, Fugaku-san?" Menma menatapnya dengan tatapan menuntut. Meminta penjelasan pria di depannya. "Selama ini kau bilang kau menyukai dan mencintaiku... Dan sekarang? Jadi, selama ini hanya omong kosong?" Menma berkata. Fugaku memandangnya.

"Menma dengar..." Fugaku menatap Menma dalam. "Dengarkan aku sekaligus maafkan aku..." Fugaku berkata dalam penyesalan. "Ini semua tidak seperti yang kau pikirkan..."

"Tidak seperti yang aku pikirkan? MEMANG AKU MEMIKIRKAN APA?! Apa lagi yang ingin kau katakan? Wow... Fugaku... Wow..." Menma mencemooh Fugaku. "Setahun yang lalu kau berkata 'Love at First Sight'... Lihatlah sekarang... Kau datang dengan seorang wanita dan seorang anak berumur tiga tahun? Dan sekarang dia sedang HAMIL, Fugaku-san! Astaga! Yang benar saja! Love at First Sight, my ass!" Menma murka. Lalu menatap sang wanita tajam. "Dan kau... Apapun yang keluar dari mulutmu akan aku anggap itu omong kosong. Tak ada yang perlu di bicarakan lagi... Aku akan pergi dari hidupmu... Maka berbahagialah!"

"Menma tunggu!" Fugaku menarik tangan Menma. "Dengarkan aku!"

"Apa lagi yang harus aku dengarkan? Semua alasanmu akan menjadi bumerang bagimu, Fugaku." Menma berkata. "Jadi, lepaskan aku sekarang juga!" Menma menghempaskan tangannya. Fugaku masih tidak terima dan terus memaksa Menma untuk mendengarkannya.

"Menma! Dengarkan aku!" Fugaku membentak Menma. Menma terdiam. "Memang aku yang salah karena tidak menceritakannya dari awal kalau aku mempunyai seorang istri yang aku nikahi secara diam-diam." Fugaku berkata lirih. "Dan awalnya aku memang tidak menyukaimu." Kata Fugaku. Sedikit rasa pedih tertanam di hati kecil Menma. "Tapi, setahun belakangan kau membuatku begitu membutuhkanmu."

"Tch... Kau benar-benar, Fugaku." Menma menggelengkan kepalanya pelan sambil menatap Fugaku.

"Aku serius, Menma..." Fugaku berkata lalu menghusap air mata Menma yang meleleh. "Aku tidak pernah merasakan ini... Bahkan ketika aku bertemu dengan Mikoto."

"Fugaku..." Menma berkata lalu memeluk Fugaku. "Aku hargai itu..." Lalu ia melepaskan pelukannya. "Tapi..." Menma menjeda perkataannya lalu mendorong Fugaku. "Aku menyerah, Fugaku-san." Kata Menma. "Disana..." Menma menunjuk Mikoto dengan jari lentiknya. "Ada seorang wanita dan anaknya yang sedang menunggumu..." Kata Menma lirih. "Berbahagialah..." Kata Menma lalu berjalan keluar dari kediaman Uchiha. Fugaku terduduk lemas. Menma melangkahkan kakinya tanpa menoleh ke belakang.

"Berakhir..." Katanya sambil menatap awan mendung diatasnya. "Semuanya berakhir sudah..."

( =^)(^o^)

"Aku memutuskan untuk tidak melanjutkan ke jenjang pernikahan..." Menma berkata. Ia menatap pilu kedua orangtuanya. "Fugaku sudah mempunyai istri... Tak aku sangka aku dibohongi seperti ini." Menma menghela nafas, menahan tangis. "Aku akan kembali ke suna. Mungkin akan kembali kemari dua sampai empat tahun lagi." Menma berkata lalu bangkit dari kursinya. "Jangan katakan pada siapa pun aku ada disana. Termasuk Fugaku, Minato dan Kushina. Aku tidak ingin mereka mengkhawatirkan ku." Ujarnya lalu menutup pintu didepannya meninggalkan kedua orangtuanya.

"Bagaimana ini ayah..." Ibunya menatap sendu mata biru suaminya. "Apa yang harus kita lakukan?" Wanita itu memandang lirih ke arah pintu. Sang suami berdehem lemah lalu berdiri dan berjalan ke arah jendela.

"Kita serahkan pada Menma. Aku yakin, dia sudah cukup dewasa untuk hal ini." Kata sang suami yang diikuti dengan anggukan dan senyuman pasrah sang istri.

( =^)(^o^)

Lalu suasana berubah di dalam kamar, ia terikat. Kaki dan tangannya tidak bisa di gerakkan. Ia tidak bisa berteriak. Matanya memutari seisi ruangan. Ini di kamarnya. Gelap, namun ia yakin ini kamarnya ketika matanya menangkap salah satu benda yang ia sangat kenal. Foto keluarganya.

Lalu matanya menyusuri seluruh ruangan. Matanya terpaku pada gundukan di depan kamarnya yang terbuka. Di sana sangat gelap. Matanya berusaha mati-matian memperjelas ada apa disana.

"M-Menma-s-sama..." Menma menangkap suara yang ia yakin milik Kakashi. "M... Maafkan saya, Menma-s-sama... Uugh..."

Menma menoleh ke asal suara. Matanya ia sipitkan, memaksa agar bisa melihat jelas apa yang terjadi. Ketika itu kilat hadir diantara mereka. Apa yang dilihat Menma saat itu adalah Kakashi yang tergantung di dinding, tangan dan kakinya terikat. Yang paling mengejutkan adalah wajah Kakashi terdapat luka menganga.

"Ngaahahi!" Menma berusaha berteriak. Tapi mulutnya tersumpal dan hanya menyisakan dengungan dari mulutnya.

"M-maafkan saya, Menma-sama. M-maafkan saya... Saya tidak berhasil menyelamatkan semuanya." Kakashi berkata lirih. Menma langsung menoleh ke arah gundukan tersebut. Tubuhnya langsung mengejang ketika ia tersadar akan gundukan yang tadi ia lihat. Disana. Dikegelapan. Keluarga Menma menjadi mayat. Darah menggenang disekitar mereka. Rambut pirang kemerahan ayahnya menjadi merah. Terdapat luka sayat besar yang ada dileher ayahnya. Menma menutup matanya. Tak ingin melanjutkan apa yang dilihatnya.

"Wah... Wah... Ternyata sudah bangun, ya?" Seseorang menginterupsi keheningan Menma. "Hidangan utama untuk klien kita sudah siap!" Teriaknya. Menma berusaha melepaskan ikatan ditangan dan kakinya. Tapi tidak bisa. Terlalu kuat untuk dilepaskan. Lalu sesosok pria yang menggunakan mantel masuk ke dalam. Rambut pirangnya terlihat tersibak dengan sedikit noda darah di sisi rambutnya.

"Menma-chan... Menma-chan..." Pria itu mendatangi Menma. Menma bergidik ngeri dan meronta dari sana. "Kau tidak akan pernah bisa lari, Menma-chan..." Tampak Minato memandangnya dengan pandangan penuh nafsu. Tampak Minato mendatangi Kakashi. "Lihatlah... Ini..." Minato mengangkat dagu Kakashi yang berlumuran darah. "Ini sangat indah, bukan?" Minato menjilat wajah Kakashi yang berlumuran darah. Mata Menma memancarkan ketakutan.

"B... Berani kau sentuh Menma-sama, aku j-jamin seumur hidupmu aku a... Akan mengejarmu, brengsek..." Kakashi berkata mengancam pada Minato. Minato menoleh padanya.

"Oh... Bibir ini masih bisa bersuara sepertinya..."

Craaassshh...

"Khhngg!" Kakashi menahan sakit ketika Minato menusuk leher Kakashi tepat di bagian pita suaranya (a/n: koreksi jika salah 'v')/ ). Darah merembes dari lehernya. Kesadaran Kakashi semakin menipis dan akhirnya ia pingsan. Tinggallah disana Minato dan Menma. Menma masih terus berusaha melepaskan ikatan di tangannya. Tapi bukannya terlepas, tangan dan kakinya malah lecet dan berdarah.

"Ck...ck...ck... Menma sayang... Berhentilah melakukan hal tersebut... Kau hanya merusak tubuhmu..." Minato berkata sambil membelai wajah Menma. "Hm? Aku tidak mendengarmu..." Minato berkata mengejek. Menma meronta dan berteriak terus menerus. "Aah... Bagaimana jika kita mulai saja permainan ini..."

( =^)(^o^)

"Berhenti! Tidak!"

"Menma-sama! Tenanglah!"

"Tidak! Tidak! Hentikan!"

"Menma-sama!"

"Berhen..."

Menma berhenti melawan ketika kecupan kecil di bibirnya begitu menenangkannya.

"Tenanglah, Menma-sama. Aku ada disini... Tidak akan ada lagi yang akan menyakitimu..." Kakashi berkata lalu memeluk Menma. Menma menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Kakashi. Lalu menangis dalam keheningan.

( =^)(^o^)

Bukan Naruto namanya kalau tidak penasaran. Predikat "kutu buku yang kepo", yang diberikan oleh Shikamaru dan beberapa orang yang berteman dengannya walaupun tidak dekat, bukan karena tanpa alasan. Naruto itu selalu ingin tau, makanya ia selalu terjebak dalam masalah. Tubuh lemahnya yang entah kenapa begitu lemah padahal ia sudah mencoba ikut karate dan tinju berakhir tragis.

Ia boleh lemah dalam segi fisik. Tapi, dalam segi argumen kata-kata yang ia lontarkan bisa menjadi senjata pembunuh siapapun itu yang melawannya. Tapi ia memilih untuk diam dan tidak melawan. Ia tidak ingin ayahnya atau Kakashi di panggil ke sekolah karena hal sepele.

.

.

Seperti sekarang... Bocah blonde ini mendekati kamar ayahnya karena mendengar grasak-grusuk dari sana. Ia berusaha mati-matian untuk tidak kepo. Tapi, insting kepo-nya berkata untuk mendatangi kamar ayahnya. Kaki kecilnya berada di depan kamar ayahnya. Mata birunya menyoroti lubang kunci yang ada disana.

'Apa bisa mengintip dari sini ya?' Pikirnya. Ia mengigit jarinya gugup. Takut-takut kalau ada yang membuka saat ia berusaha melirik ke dalam atau yang lebih parahnya, Kakashi berada di belakangnya dan memarahinya. Tapi sekali lagi. Insting kepo-nya menang lagi melawan otak miliknya ketika ia mendengar lenguhan dari kamar ayahnya.

'Ngintip nggak ya?' Naruto berkata ragu. Keringat bercucuran. Sebulir keringat dari pelipisnya meluncur dengan mulus ke arah dagunya, lalu terjatuh ke lantai. 'Ah... Ngintip aja deh...' Kata Naruto lagi. Perlahan ia condongkan badannya ke arah lubang kunci pintu. Matanya berusaha menyesuaikan dengan cahaya di kamar Menma. Namun naas. Ia langsung menutup mulutnya ketika matanya dengan sempurna mengetahui apa yang terjadi.

Menma - ayahnya

Dan

Kakashi - butler keluarga Uzumaki

Sedang melakukan hubungan intim. Terlihat jelas dari sana. Naruto menutup hidungnya yang ia rasa mulai berdarah. Kepalanya begitu pusing melihat kejadian yang berlangsung.

'Apa ini? Bagaimana bisa?' Tanyanya dalam hati. Tiba-tiba pandangannya begitu kabur dan kepalanya terasa sangat berat. Ia yakin, ini semua karena darah yang keluar seperti air terjun dari hidungnya. Lalu semuanya meredup. Sayup ia mendengar suara memanggilnya dengan nada khawatir. Lalu semuanya gelap dan menyisakan Naruto yang pingsan disana.

( =^)(^o^)

TBC

( =^)(^o^)

Footnote:

Mweee... Sorry yah kalau alurnya agak kecepatan '_'). Btw kalau ada yang nggak nyambung katakan saja. Dan maaf baru bs update sekarang karena fix sibuk di real *tas'keteeeee~~~*

Yaahh... Thanks buat reviewnya yah... Nise baca terus koq walau nggak balesin satu-satu. Review kalian bener-bener ngebantu banget. Rupanya Nise masi perlu belajar kosakata dan huruf-huruf yang benar *lol*

Anyway... Review yah... Thanks... *kedip*