Disclaimer : Naruto dkk bukan punya Aria, sumpahhh...
Rating : Masih T
Pairing : SasuNaru
Warning : Yaoi. AU. OOC. Language. Epic phail at comedy.
Saya agak kaget juga karena banyak yang me-review di chapter kemaren. Ngga nyangka pada suka sama cerita gaje yang idenya saya dapet waktu makan lumpia basah ini... So, I'd like to say, THANKYOUVERYMUCH buat semua reviewer... Review anda menyemangati saya untuk meng-update, hehe...
Btw, di salah satu review kemarin ada yang bilang kalau dia jengah baca cerita saya karena terlalu gaje (lucunya, dia baca sampai chapter 3). Sayangnya, orang ini anon, nggak pakai account ffn. Kalau memang ada di antara anda yang mau mengkritik fanfic saya, please log-in dulu dan tunjukkan kalau anda bukan pengecut yang cuma bisa mengkritik sembunyi-sembunyi. Seenggaknya saya punya hak untuk tahu siapa yang mengkritik saya, ya to? Nggak akan saya apa-apain juga kok, saya bukan tipe penulis bitchy, buktinya anon reviewer nggak saya disabled... But let's play fair...
Chapter ini... super panjang... chapter terpanjang yang pernah saya bikin. 5024 kata belum termasuk author note! buset, oneshot saya aja paling cuma 4000-an kata ckckck... Habis mau bagaimana lagi? saya memotong chapter berdasarkan peristiwa, jadi panjang-pendeknya chapter nggak tentu. Mungkin kelian bakal capek bacanya? Jangan bilang saya nggak kasih peringatan lho...ohoho...
Playtime
Chapter 4 : Part-Time Jobs Frenzy
by: Arialieur
"Jadi, kalian harus belajar bagaimana rasanya bekerja, sebelum mencoba mengelola harta warisan kalian," Itachi tersenyum kepada adik dan iparnya, yang terlihat semakin melesak saja ke dalam sofa. Setelah kuliah panjang lebar tentang perilaku seksual yang aman, cara memasang kondom yang baik, serta seribu satu cara mengatasi fangirl buas, perintah untuk melakukan kerja paruh waktu terasa terlalu...normal.
Psh, belajar bekerja? Paling-paling Itachi cuma mau bersenang-senang melihat adiknya tercinta menderita, pikir Sasuke sambil mendengus kesal. Dari sudut matanya ia bisa melihat Kakashi tersenyum setan, dan Obito yang sibuk dengan berkas-berkasnya. Ya, mereka memang sedang berada di kantor Obito, yang interiornya sudah berubah berkat perkelahiannya dengan Naruto beberapa minggu yang lalu. Sasuke jadi bertanya-tanya berapa banyak Obito membayar Danzo untuk beres-beres.
"Berapa lama kami harus bekerja?" tanya Sasuke dingin.
Naruto menepuk paha Sasuke, keras. "Hush teme, tidak boleh dingin begitu pada kakakmu sendiri," katanya sambil berbisik. Mata Itachi berkaca-kaca.
"Narutoooo... kenapa bukan kamu saja yang jadi adikkuu~" seru Itachi sambil berniat memeluk Naruto erat-erat, tapi tidak berhasil karena orang yang bersangkutan sudah keburu ditarik Sasuke ke pinggir... dan jatuh dari sofa.
"Yah! Teme! Apa-apaan sih tiba-tiba melemparku begitu!" bentak Naruto penuh dendam sambil mengelus-ngelus pantatnya yang sakit. Sasuke cuma mengalihkan pandangan dengan wajah kesal.
Melihat adegan itu, Itachi, Kakashi, dan Obito nyengir setan. "Heee... Sasuke yaa~"
Bagaikan hyena mengelilingi mangsa, KakaItaObi berkumpul di sekitar Sasuke, sementara pemuda berambut hitam itu cuma mendelik pada ketiganya. "Apa?" tanyanya dingin.
"Apa yang aku lihat ini suatu wujud keprotektifan dari seorang lelaki terhadap belahan jiwa yang sebenarnya selalu ada di hatinya? Salah satu cara mengungkapkan rasa, yang dihalangi oleh kabut penyangkalan akibat kurangnya kemampuan menerima diri sendiri secara utuh? Atau penyangkalan ini disebabkan oleh harga diri yang terlalu tinggi sehingga terjadi kesulitan mendengarkan kata hati? Tidakkah itu konyol jika seorang lelaki menahan rasa hati dan jiwanya hanya karena sebuah kebanggaan semu?" Obito berkata panjang lebar, masih dalam posisinya di depan Sasuke.
Sunyi.
"Hah?" kata Sasuke dan Naruto bersamaan. Benar-benar tidak mengerti sedikitpun maksud perkataan Obito.
Kakashi menarik Obito ke samping. "Maaf, kasus yang ia kerjakan akhir-akhir ini memang sedikit membuat depresi, ha..ha..ha..." katanya sambil tertawa hambar, sebelum kembali mendudukkan Obito di sofa, dan duduk sambil merangkul pengacara muda itu supaya tidak kemana-mana.
"Ehm, baiklah, jadi... kalian harus mulai mencari pekerjaan sambilan, oke?" kata Itachi, menutup pembicaraan. Sasuke dan Naruto (yang masih terduduk di lantai) hanya bisa saling berpandangan.
Naruto duduk di bangku pinggir lapangan, meminum air dari botolnya sambil memperhatikan Neji bergerak lincah mengoper bola pada Kiba. Sore ini adalah satu dari tiga sore dalam seminggu di mana klub sepakbola mereka mengadakan latihan rutin, Senin sore, Rabu sore, dan Jumat sore. Naruto sendiri, mendapatkan posisi striker di tim inti, bersama dengan Neji.
Bola kembali dioper ke Neji, yang langsung berlari menyerang gawang lawan. Chouji mencoba melakukan sliding, tetapi Neji berhasil lolos. Rambutnya yang diikat ekor kuda melambai saat ia melompati kaki Chouji.
Mungkin ada yang bertanya-tanya, kenapa Neji diizinkan memanjangkan rambut di sekolah. Dulu, waktu kepala sekolah Konoha High masih Sarutobi sensei, rambut panjang bagi murid lelaki dilarang. Namun setelah Orochimaru mengambil alih posisi kepala sekolah, aturan itu dihilangkan karena Orochimaru sendiri tidak rela rambut panjangnya (yang menurutnya indah itu) dipotong.
Orang aneh.
Naruto tidak sadar kalau ia melamun sampai sebuah suara yang familiar mengejutkannya.
"Jangan bilang sekarang kau suka pada Neji,"
"Cemburu?" balas Naruto pada seorang pemuda berambut merah yang kini duduk di sampingnya. Pemuda dengan eyeliner dan tato 'cinta' di dahi itupun tertawa kecil.
"Tidak juga. Kau kan sudah menikah dengan Uchiha,"
"Argh, tolong jangan ingatkan aku, Gaara" protes Naruto, wajahnya memerah teringat kejadian di onsen beberapa minggu yang lalu itu. Saat di sana, rasanya sih biasa saja, tetapi saat mereka sudah kembali ke Tokyo dan ke rutinitas masing-masing, mau tidak mau adegan memalukan itu terulang lagi dan lagi dan lagi di kepala Naruto seperti rekaman video rusak yang tertahan di satu adegan. Menyebalkan, karena setiap teringat akan hal itu, Naruto merasakan jantungnya berdetak lebih cepat. Apa dia terkena gangguan jantung karena terlalu sering bertengkar dengan Sasuke?
"Hey, Naruto. Naruto!" seru Gaara, untuk kedua kalinya memutus lamunan Naruto.
"Ah, ya, kenapa?"
Gaara memicingkan matanya, "Ada masalah?"
Naruto mengangkat botol minumnya ke mulut dan meminum seteguk air. Menggunakan pergelangan tangan, ia mengelap mulutnya dari sisa air. "Hmm...aku sedang butuh kerja sambilan," katanya sambil menghela nafas.
"Uzumaki Naruto butuh kerja sambilan?" Gaara mengangkat sebelah alisnya (yang saking tipisnya sampai hampir tidak kelihatan itu). Semua orang tahu bahwa Naruto adalah pewaris dari Uzumaki Industries, salah satu perusahaan terbesar di Jepang. Untuk apa kerja sambilan?
Naruto mengangkat bahu, sebelum bersandar ke belakang. "Tahulah, Kakashi," Naruto tentu saja tidak bisa memberi tahu Gaara tentang kawin kontraknya dengan Sasuke, maupun keterlibatan Uchiha Itachi dan Uchiha Obito dalam keputusan ini.
Gaara mengangguk-angguk, bukan rahasia umum kalau wali Naruto, Hatake Kakashi memang sedikit aneh. Sebuah misteri kenapa dia bisa jadi saudara angkat Uzumaki Minato. Misteri yang lain adalah bagaimana bisa saat ini dia menjabat sebagai CEO sementara Uzumaki Industries sebagai wakil Naruto. Misteri lebih besar lagi adalah bagaimana mungkin, orang seaneh dia bisa menjaga dan meningkatkan kejayaan Uzumaki Industries. Dunia ini memang penuh misteri.
"Sepertinya, bekas tempat kerja sambilan Temari sedang membutuhkan orang," kata Gaara, kini perhatiannya terbagi antara Naruto dan sosok Neji yang sedang memberikan perintah pada junior-juniornya untuk lari keliling lapangan.
Seksi, pikirnya.
"Benarkah? Di mana?" tanya Naruto penuh harap.
"Ah?" Gaara susah payah mengalihkan perhatiannya dari Neji, yang kini sudah membuka kaosnya, memamerkan dada yang bidang dan berotot.
"TK Konoha," jawabnya pendek, sebelum kembali fokus pada Neji.
"Siang, Shizune-san,"
Kabuto menyapa dokter kesehatan sekolah itu sambil menyandarkan tubuh bagian atasnya di kusen pintu, kedua tangannya dimasukkan ke saku celana. Sebuah pose yang men urutnya keren, tapi nyatanya tidak berefek apa-apa terhadap Shizune.
Shizune mendongak dari tempat ia duduk di belakang meja kerjanya ke arah pria berambut abu-abu itu. "Siang, Kabuto-san. Ada perlu apa?" ia bertanya sopan. Tanpa senyum. Sebenarnya, kurang lebih Shizune bisa menebak kenapa Kabuto datang ke UKS siang-siang begini. Kalau bukan mengajak makan siang/malam, ya mengajak kencan. Ajakan itu, tentu saja selalu ditolak mentah-mentah oleh Shizune. Sejak putus dengan Kakashi dua tahun lalu, ia tidak suka laki-laki berambut abu-abu.
Kabuto berjalan perlahan menuju meja kerja Shizune sambil tersenyum. "Memangnya kalau tidak ada perlu, tidak boleh ke sini?" ia bertanya dengan santai, mengangkat salah satu hiasan keramik berbentuk babi dari atas meja Shizune. Dimainkannya keramik itu dari satu tangan ke tangan lainnya.
"Memangnya, dokter pribadi kepala sekolah tidak punya pekerjaan, siang hari begini?" Shizune balas bertanya. Matanya mengawasi keramik babi kesayangannya itu berpindah-pindah di tangan Kabuto.
"Touche," sebelah ujung bibir Kabuto melengkung ke atas, membuat Shizune makin merasa sebal. Ia merebut keramik babi dari tangan Kabuto dan menaruhnya baik-baik di atas meja. Keramik babi itu ia dapat dari kuil di Hokkaido. Kalau sampai pecah, belum tentu Shizune bisa mendapatkannya lagi.
"Kalau tidak ada urusan, lebih baik anda keluar saja, Kabuto-san,"
".ah," Kabuto mengangkat jari telunjuknya, menggoyang-goyangkan ke kanan dan kiri. "...tentu saja aku ada urusan di sini,"
Shizune mengangkat sebelah alis. Ini dia, pasti dia mau mengajak kencan.
"Kabuto-san, maaf, tapi aku tidak mau ken..."
"Shizune-san, aku mau mengajakmu bepergian bersama," potong Kabuto. Shizune terdiam sebentar. Ini baru, pikirnya. Darimana si dokter gadungan itu dapat ide macam ini sih?
"Tidak, terima kasih," Tolak Shizune singkat. Kencan saja tidak mau, apalagi bepergian bersama. Bisa-bisa ia diperkosa Kabuto. Shizune mencoba menjauh dari Kabuto, tetapi pria itu memerangkapnya sehingga sang dokter sekolah tidak bisa bergerak dari posisinya duduk.
"Ayolah, Shizune-san. Kita akan pergi berdua ke O.N.S.E.N..."
GUBRAK.
Suara keras yang muncul dari balik tirai pembatas tempat tidur di UKS itu mengalihkan perhatian Kabuto. Shizune memanfaatkan kesempatan ini untuk mendorong Kabuto sampai mundur beberapa langkah, dan membebaskan diri.
"Ada apa?" Dokter kesehatan itu segera menghampiri sumber suara, yang tak lain dan tak bukan adalah seorang Uchiha(-Uzumaki) Sasuke.
Pemuda berambut hitam itu terkapar di lantai sebelah tempat tidur pasien, separuh tubuh bagian bawahnya masih di atas tempat tidur. Tidak jauh dari tangannya tergeletak sebuah iPhone terbaru, dengan layar yang masih menampilkan halaman dari internet.
"Astaga, Uchiha-kun! Kau kenapa? Tidak biasanya ceroboh seperti ini," terkejut, Shizune membantu Sasuke untuk duduk di atas tempat tidur.
"Hn," hanya itu respons Sasuke. Tadi saat hendak turun dari tempat tidur, tangannya terpeleset setelah mendengar kata 'onsen', mengakibatkan tubuh bagian atasnya terjatuh ke lantai. Sial, ini gara-gara si dobe sialan itu, pikirnya dendam.
Ya, kejadian di onsen beberapa waktu lalu, yang melibatkan seorang (Uchiha-)Uzumaki Naruto bertelanjang di depan Uchiha(-Uzumaki) Sasuke, masih terulang terus menerus di kepalanya. Waktu itu ia berhasil bersikap tenang, bahkan mereka sempat berkelahi di tempat. Tapi setelah keduanya pulang dan kembali ke rutinitas masing-masing, Sasuke terus menerus memiliki... bayangan tertentu tentang seorang... dobe tertentu.
Padahal Sasuke yakin kalau dirinya straight, hanya tertarik pada wanita. Bahkan Shizune pun pernah ditaksirnya, tetapi ia berhenti setelah mengetahui bahwa Shizune adalah mantan kekasih Kakashi. Wanita yang bisa jatuh cinta pada orang aneh semacam itu pasti aneh juga, begitu kesimpulan Sasuke.
"My, my, Uchiha-kun, tidakkah kau out of character hari ini? Kudengar, cinta memang bisa mengubah seseorang,"
"Diam, Kabuto," kata Sasuke sambil melempar tatapan dingin ke arah Kabuto, tapi gagal berhubung ia baru tertangkap basah berada dalam pose memalukan. Dunia memang kejam.
Saat Sasuke masih sibuk mengirim tatapan dingin kepada Kabuto, Shizune menyadari keberadaan iPhone yang tergeletak tak berdosa di lantai, dan mengambilnya.
"Uchiha-kun, kau sedang mencari pekerjaan sambilan?" tanya Shizune begitu ia melihat situs lowongan pekerjaan yang dibuka Sasuke. Pemuda berambut hitam itu hanya mengangkat bahu.
"Begitulah..." katanya cuek, lalu menambahkan, "...jangan tanya," kepada Kabuto yang memang menatapnya dengan heran.
"Hmm... sepertinya mentorku sedang membutuhkan asisten," kata Kabuto sambil menggosok-gosok dagunya sendiri.
"Benarkah? Memangnya siapa mentormu?"
"Orochimaru-sensei,"
Sasuke melempar bantal ke wajah Kabuto. Jadi asisten Orochimaru? Membayangkannya saja sudah merinding. Jangan-jangan nanti Sasuke dijadikan mutan bersayap, hiii...
"Mentorku juga sedang membutuhkan asisten di kliniknya," kata Shizune sambil menyerahkan iPhone ke tangan Sasuke. Kali ini, pemuda berambut hitam itu memfokuskan perhatiannya kepada Shizune, mencoba tidak terlalu kelihatan penuh harap, tapi gagal.
Bukannya Sasuke tidak berhasil menemukan pekerjaan sambilan. Banyak cafe dan host club yang dengan bahagia akan menerima seorang Uchiha(-Uzumaki) Sasuke bekerja di tempat mereka. Belum lagi barisan fangirl Sasuke yang jumlahnya banyak itu, pasti akan dengan senang hati, berbunga-bunga, berkaca-kaca mendatangi cafe dan host club tersebut. Jangankan menjalani, memikirkannya saja sudah sebal. Hampir seburuk menjadi asisten Orochimaru. Hampir.
"Sepertinya menarik. Di mana tempatnya?"
"Klinik Sannin,"
"Ini," Gaara menyodorkan sebotol air mineral kepada Neji, yang diterimanya dengan senang hati.
"Terima kasih," sebuah kecupan di dahi mengiringi ucapan terima kasih Neji. Gaara tersenyum kecil, lalu dengan main-main mendorong pemuda berambut panjang itu.
"Ih, kau berkeringat," protesnya, membuat Neji malah merangkul pundak Gaara sambil tersenyum nakal, membasahi kemeja pemuda itu dengan keringatnya.
"Kalau tidak kau lepaskan, kubanting nih," ancam Gaara.
Tanpa banyak bicara, Neji melepaskan rangkulannya dan mundur selangkah dari Gaara. Pemuda berambut merah itu memang bertubuh lebih kecil dari Neji, tapi kalau ia serius, ia benar-benar bisa melukai orang lain. Neji sendiri belajar pengalaman menyakitkan itu setahun yang lalu saat mereka belum jadi pasangan. Saat itu, Neji yang memang tertarik pada Gaara, dengan kelewat percaya diri mencium bibir Gaara (dan, dengan itu meng-klaim ciuman pertama si rambut merah) di kafetaria sekolah, di depan ratusan murid yang sedang makan siang. Setelah itu, Neji dilarikan ke rumah sakit dengan tiga tulang rusuk patah. Menakjubkan memang, perjuangan yang dilakukan seseorang demi cinta.
Neji mengambil kaus sepakbolanya dari bangku, lalu mengenakannya kembali. Beberapa junior membungkuk ke arahnya, dan ia balas dengan anggukan kepala. Dari sudut matanya ia bisa melihat Gaara memasukkan kembali botol minum ke dalam tas sebelum duduk di bangku. Tiba-tiba Neji teringat pada Naruto, yang tadi tiba-tiba izin pulang setelah terlihat berbicara dengan Gaara.
"Tadi kau dan Naruto membicarakan apa?"
"Sepertinya Kakashi melakukan sesuatu, sehingga Naruto harus mencari kerja sambilan. Kuberi tahu saja kalau tempat Temari bekerja dulu sedang membutuhkan tenaga tambahan. Katanya sih mereka mau mengadakan bazaar besok pagi, jadi mungkin Naruto pulang lebih awal supaya bisa melamar,"
Neji terpana memandang kekasihnya itu. Gaara balas menatap dengan heran. "Apa?"
"Jarang-jarang kudengar kau bicara kalimat sepanjang itu,"
Gaara meninju lengan Neji, keras.
"Ouch! Aku kan cuma bercanda!"
Gaara mendengus kesal, lalu beranjak dari tempatnya duduk. "Ayo pulang," ajaknya pada Neji, membuat sang kapten sepakbola ikut berdiri sambil tersenyum.
"Ngomong-ngomong, tempat apa yang kau rekomendasikan pada Naruto?" ia bertanya, sedikit penasaran dengan nasib sahabatnya sejak SMP itu.
"TK Konoha," jawab Gaara tanpa dosa.
Neji membatu di tempat.
Hari Sabtu tiba terlalu cepat bagi kedua suami-suami Uchiha-Uzumaki. Tidak seperti biasanya, sarapan hari itu berjalan dengan damai, sedamai yang mungkin terjadi di kediaman Uchiha-Uzumaki. Sasuke terbangun dengan Naruto memeluk pinggangnya erat-erat, sementara kakinya menumpang di atas paha Sasuke. Sudah maklum dengan kebiasaan tidur Naruto yang suka memeluk, Sasuke tidak membuat keributan. Hanya menendang Naruto sampai terjatuh dari tempat tidur, dan menuju kamar mandi dengan tenang. Naruto sendiri hanya melempar kepala Sasuke dengan sandal tidurnya sebelum berjalan sempoyongan ke dapur untuk membuat dua cup ramen instan, untuk dirinya sendiri. Tapi sambil menunggu ramennya matang, tidak ada salahnya kalau ia menghangatkan onigiri dengan microwave untuk Sasuke, dan membuat secangkir ocha dan kopi hangat.
Saat Sasuke selesai mandi dan masuk ke dapur, sepiring onigiri hangat, segelas kopi hangat, satu gelas kosong, dan dua cup bekas ramen ada di atas meja makan mereka. Sambil mengehela nafas, ia membuang cup ramen itu ke tempat sampah dan duduk diam memakan onigiri. Samar-samar terdengar suara Naruto bernyanyi dari kamar mandi. Beberapa nada yang meleset, membawa senyum simpul ke bibir Sasuke, tapi ia tidak akan mengakuinya, tentu saja.
Begitu onigirinya habis, Sasuke duduk bersandar di kursinya, memikirkan kedamaian sementara di apartemen itu. Mungkin karena tadi malam Kakashi menginap di tempat Obito, jadi tidak ada yang mengganggu mereka pagi ini? Entah kenapa, ada perasaan aneh muncul di hati Sasuke, kedamaian ini benar-benar mengusiknya.
"Teme, aku pergi kerja sambilan dulu ya," Naruto melewati dapur sambil melambai ke arah Sasuke, lalu menghilang di balik pintu. Dengan malas, Sasuke juga beranjak dari tempatnya duduk, menaruh gelas dan piring di kitchen sink, sebelum menuju pintu depan. Hari ini ia juga ada kerja sambilan di Klinik Sannin.
Sayangnya, perasaan aneh itu tidak juga hilang saat Sasuke mengunci pintu apartemennya. Ia hanya mengangkat bahu, mungkin ada bagusnya juga kalau sekali-sekali pagi harinya damai seperti ini.
Kata orang, cuaca selalu tenang terlebih dahulu sebelum terjadi badai.
Ini surga.
Naruto membagikan balon berwarna-warni kepada murid-murid TK Konoha. Manis-manis, mereka semua, dengan baju babydoll polkadot warna pink untuk para gadis kecil, dan biru untuk para lelaki kecil. Senyum lebar tak pernah luput dari wajah pemuda berambut pirang itu.
Ini surga.
Naruto membantu seorang gadis kecil berambut pirang dan bermata biru mengumpulkan karangan bunga yang akan dijual di bazaar. Biarpun anak itu cukup galak, beberapa kali melempar Naruto dengan kotak makanannya, tapi di mata sang (Uchiha-)Uzumaki, gadis itu tetap manis dengan rambut yang diikat ekor kuda.
Benar-benar surga.
Beberapa gadis kecil, termasuk Hinata, berlarian di sekitar Naruto, lalu secara bersama-sama, mereka menabrak sekaligus memeluk pemuda itu. Naruto terjatuh ke atas rumput dengan beberapa anak TK di pelukannya, dan ia tak bisa lebih bahagia lagi dari itu.
Tuhan, kalau ini mimpi, tolong jangan biarkan aku terbangun.
"Mama, om itu cenyam-cenyum cendili," Sakura kecil berkata sambil menarik-narik lengan baju ibunya, sedangkan telunjuk gadis kecil itu mengarah ke Naruto, yang masih terbaring di rumput sambil tersenyum lebar. Nyonya Haruno, langsung menarik anaknya ke pinggir, "Jangan dekat-dekat orang itu ya, Sakura-chan. Kamu main di dekat guru saja ya," bisiknya sambil menyeret Sakura pergi.
"Tapi Cakuya juga mau main..." rengek Sakura.
"Iya, tapi jangan sama om itu. Sana, main sama Ino saja..." tawar Nyonya Haruno.
"Nggak mau, Ino galak,"
"Ya sudah, main sama Kiba saja,"
"Nggak mau, anjingnya ngiler..."
"...dari mana kamu belajar kata-kata itu, Sakura?"
"..."
"Ah! Hinata!" Sakura menunjuk kepada seorang gadis kecil berambut hitam sebelum berlari mengejar gadis tersebut. Anak pintar, Haruno Sakura. Ia tahu kapan harus mengalihkan perhatian ibunya kalau diperlukan.
Pagi itu Neji sedang bersiap pergi ke TK Konoha dengan satu misi suci: menyelamatkan Hinata dari tangan lolicon berbahaya bernama (Uchiha-)Uzumaki Naruto. Ia sudah membawa segala perlengkapan yang dibutuhkan, gas air mata, stun gun, dan pemukul baseball. Apapun demi Hinata tersayang.
Malang bagi Neji, langkahnya terpaksa harus terhenti di pintu utama Hyuuga Mansion.
"Mau ke mana, Neji?" suara berat itu bertanya, suara yang Neji ketahui dengan pasti adalah milik pamannya, Hiashi Hyuuga.
Perlahan, Neji berbalik, lalu membungkuk memberi salam kepada saudara kembar ayahnya itu. "Paman," sapanya, "...saya mau ke TK Konoha, menghadiri bazaar di mana Hinata ikut berpartisipasi,"
Hiashi memicingkan mata, "Apa kegiatan itu mewajibkan anggota keluarga untuk datang?"
"Eh, tidak, Paman,"
"Kalau begitu tidak ada alasan kau bisa tidak hadir di les ikebana hari ini, kan?" tanya Hiashi, nada suaranya tegas.
Ikebana! Sial, bagaimana aku bisa lupa?
"Neji!"
"Y-ya, Paman?" Neji segera menegakkan postur tubuhnya.
"Persiapkan dirimu segera!" perintah Hiashi, sebelum berbalik menuju rumah utama, meninggalkan Neji sendirian di pintu depan. Dengan tatapan merana, Neji melihat ke arah jalan raya melalui jendela, "Maafkan kakak, Hinata-chan, kakak akan berusaha menyelesaikan ini secepatnya," ia bergumam sebelum mengikuti jejak pamannya, masuk ke rumah utama.
Sulit bagi Neji untuk mempertahankan konsentrasi saat mulai mengerjakan rangkaian ikebana-nya. Ia memaki dalam hati saat untuk kesekian kalinya, ia salah memotong batang bunga krisan yang akan ia rangkai hari ini. Selalu saja terlalu panjang, atau terlalu pendek. Ia yakin pamannya pasti sudah menggelengkan kepala dengan kecewa sejak tadi, tapi tidak seperti biasanya, kali ini Neji tidak terlalu peduli. Yang ada dalam pikirannya hanyalah Hinata, di luar sana bersama Naruto tanpa penjagaan. Hinata, di luar sana bersama seorang lolicon, tanpa penjagaan. Hinata, di luar sana...
"Hinata-chan, bertahanlah! Kakak akan segera datang!"
"Neji! Jangan berisik saat sedang merangkai bunga!"
"...baik, paman,"
Pelajaran hari ini berjalan begitu lambat bagi Neji, sampai-sampai ia langsung melesat ke luar ruangan begitu ia diizinkan pergi oleh pamannya. Tanpa banyak bicara, ia segera menuju ke kamarnya, berganti baju, dan mempersiapkan barang bawaannya yang tadi (ia memutuskan untuk membawa tali tambang, siapa tahu Naruto butuh diikat).
"Neji-sama, ada tamu untukmu," Rin, salah satu pelayannya, muncul sambil membungkuk di pintu. Sebelum ia sempat bereaksi, sebuah suara familiar berkomentar,
"Kau kelihatan sibuk," Gaara bersandar di kusen pintu sambil menyilangkan tangannya di dada. Sejenak Neji sempat mengagumi betapa tampan kekasihnya itu mengenakan kemeja putih yang lengannya digulung sampai ke siku dan skinny jeans. Pikiran itu buru-buru ditepisnya.
"Aku harus segera ke tempat Hinata, ia dalam bahaya,"
Gaara masuk dengan santai ke dalam kamar Neji, lalu duduk di atas tempat tidur. "Bukankah sedang ada Bazaar di sekolahnya? Aku tidak mengerti apa yang bahaya, lagipula kan ada gurunya, dan Naruto..."
"Justru itu yang kukhawatirkan," Neji menarik lengan Gaara agar ia berdiri, "...kita harus segera ke sana!"
Gaara bergeming di tempat. "Neji," katanya setelah diam beberapa saat, "Apa kau...sister complex?" ia bertanya.
Neji membeku di tempat.
Neji Hyuuga, 18 tahun, sepertinya sudah terlalu lama bergaul dengan (Uchiha-)Uzumaki Naruto.
Sakura berlari mengikuti Hinata, tapi kehilangan jejaknya di tengah jalan. Bagi anak seusianya, kompleks TK Konoha memang sebuah dunia yang sangat besar. Penuh dengan petualangan. Karena itu ia menarik Kiba dan anjingnya, untuk disuruh mencari jejak Hinata. Kalau tidak salah sih, Sakura pernah lihat hal semacam ini di TV.
"Kiba! Ayo culuh Akamalu endus bau Hinata-chan!" kata Sakura sambil menarik tangan Kiba. Anak itu hanya memandang Sakura sejenak, sebelum menurunkan Akamaru, anjingnya, dari gendongan dan mulai membungkuk mengendus-endus tanah.
Sakura sedikit bingung. Bukankah harusnya si anjing yang mengendus tanah? Ia mengangkat bahu, yang penting Hinata bisa ditemukan.
"Ke sana!" kata Kiba bangga sambil menunjuk ke arah gudang sekolah.
"Waah! Kiba hebat! benel-benel bica kecium!" Sakura bersorak, matanya berbinar-binar penuh kekaguman.
"Eh, nda. Tadi aku liyat Hinata-chan lali ke alah sana," kata Kiba sambil nyengir.
Sakura menendang tulang kering Kiba keras-keras, lalu berlari menuju gudang sekolah.
"ADUH!"
Suara jerit kesakitan Kiba mengalihkan perhatian Naruto dari segerombolan anak TK yang sedang minta dibagikan balon (lagi, entah apa yang terjadi pada balon yang dibagikan sebelumnya). Dengan khawatir ia menyerahkan sisa balon pada Yamato, guru di TK Konoha, dan berlari menuju sumber suara.
"Ada apa?" tanya Naruto pada anak itu, yang matanya berkaca-kaca. Kiba hanya menunjuk ke arah gudang sekolah dan berkata, "Sakula-chan," sebelum mengelap ingus dengan apron motif kotak-kotak yang digunakan Naruto.
Perlahan, Naruto melepaskan cengkeraman jemari kecil Kiba dari apronnya dan menuju ke gudang sekolah. Di gudang banyak rak dan tumpukan barang-barang, bukan tempat yang aman untuk anak seukuran Sakura.
Sementara itu, Sakura masuk ke dalam gudang dan mendapati Hinata sedang naik ke atas tumpukan meja. Gadis itu berjinjit untuk meraih sesuatu di kardus yang terletak di atas rak. Sebuah boneka. Sebelumnya, Ino menangis karena bonekanya diambil oleh Sai, karena itu Hinata bertekad untuk membawakan boneka baru untuk Ino. Kebetulan saat ia melewati gudang, ia melihat boneka ini menyembul dari atas rak.
"Hinata-chan?" panggil Sakura.
Hinata, yang sedang konsentrasi penuh untuk mengambil boneka, terkejut mendengar panggilan Sakura, dan kehilangan keseimbangannya.
"AWAS!" Naruto berlari secepat mungkin untuk menangkap Hinata, dan berhasil. Pemuda itu terbaring di lantai menghadap plafon, dengan Hinata di pelukannya. Refleks karena merasa lega, ia mempererat pelukan di tubuh kecil Hinata dan mencium rambut gadis itu.
"Syukurlah..."gumamnya. Tapi kelegaan itu tidak bertahan lama.
"Aaah! Pelecehan seksual!" jerit Kiba sambil menunjuk ke arah Naruto. Pemuda berambut pirang itu menangis dalam hati. Tuhan, di mana dia belajar kata-kata itu? Dan sejak kapan ia ada di situ?
"Naruto..." sebuah suara mengancam terdengar dari arah pintu. Di sana... seorang Neji Hyuuga berdiri sambil mencengkeram sebuah tongkat baseball. Wajah Naruto langsung pucat, pikirannya mulai panik hingga ia gagal mempertanyakan bagaimana mungkin Neji bisa muncul di situ secepat ini.
"...beraninya kau...pada Hinata-chan..."
Naruto menelan ludah.
Oh shit. Oh fcuk. Apa lagi kata makian dalam bahasa inggris? Oh God. Eh, itu bukan kata makian. Mampus mampus mampusssss....
Hinata menggeliat dari pelukan Naruto, membuat pemuda berambut pirang itu bangkit dari posisinya dan duduk di lantai, masih dengan sang gadis kecil di pangkuannya. Gadis kecil berambut hitam itu melihat ke arah Naruto dan tersenyum manis.
"Makacih udah tolongin Hinata, Nii-chan," katanya mau-malu, lalu berjinjit untuk mencium pipi Naruto.
Ulang.
Hinata. Mencium. Naruto. Di pipi.
Di hadapan Neji Hyuuga, si sister complex in denial yang paranoid terhadap kecenderungan lolita complex Naruto.
Mampussssssss...
"...Naruto..."
(Uchiha-)Uzumaki Naruto, belum pernah setakut itu dalam hidupnya.
Sakura hanya berjengit saat melihat pintu gudang tertutup dengan keras. Kakak yang tadi membawa tongkat baseball sudah masuk ke dalam setelah meninggalkan Hinata dan seorang kakak berambut merah di luar. Sambil mengangkat bahu, ia mengalihkan perhatiannya pada Kiba, yang kini sibuk menggali lubang di tanah bersama si anjing tukang ngiler.
"Kiba, Kiba," ia mencolek-colek pinggang anak itu, yang membalas dengan 'Hm'.
"Apa cih, archinya pelecehan cekcual?" tanya Sakura, merasa penasaran dengan kosakata baru itu.
"Nda tau..." kata Kiba tanpa dosa, lalu kembali menggali tanah dengan tangannya.
Sakura manyun.
Dari arah gudang, terdengar suara jeritan Naruto, asap putih keluar dari jendela, dan terdengar suara makian Neji.
"Sial! Gas airmatanya meledak!"
Dengan tenang, Gaara pun mengambil telepon selularnya lalu menekan kombinasi nomor tertentu. "Halo, kantor polisi?"
Kiba tiba-tiba berdiri, menunjuk ke arah Gaara dan berteriak, "Pelecehan seksual!"
Gaara menahan diri untuk tidak melempar Kiba ke kolam terdekat.
Sementara Naruto berkutat dengan sibuknya anak-anak kecil, Sasuke sibuk menulis daftar pasien yang datang berobat ke klinin Sannin. Pekerjaan yang sangat menarik, sungguh dinamis dan merupakan pengalaman sekali seumur hidup yang luar biasa.
Yeah, benar...
Kenyataannya, menulis daftar pasien adalah pekerjaan paling membosankan di dunia.
Awalnya, Sasuke bahagia bukan kepalang saat tahu salah satu dokter di Klinik Sannin adalah dokter seksi berdada besar yang ia temui di kantor Obito. Sasuke memutuskan bahwa ini pasti takdir, ini pasti jodoh, dan kalau mengesampingkan perasaannya yang mulai berkembang pada blonde tertentu, Sasuke berani bilang kalau ia dan dokter itu adalah pasangan serasi. Berjodoh.
Apa ia sudah bilang kalau pikiran untuk berselingkuh itu dipandang sebagai sebuah dosa? Siapa kemarin yang bilang kalau hanya niat saja masih belum terhitung dosa, hah? Siapa? Buktinya Sasuke mendapat hukuman dari Tuhan saat ini.
Ya, bukannya bekerja berdekatan dengan dokter Tsunade , ia malah ditaruh di meja registrasi, mencatat setiap pasien yang mendaftar. Menarik bukan?
Menarik, my ass...
Seorang bapak paruh baya, dengan kulit kebiruan dan guratan seperti insang di wajahnya, datang ke klinik sambil bersin-bersin. Sasuke buru-buru memasang maskernya. "Bisa saya bantu?" tanya Sasuke, yang dijawab dengan bersin langsung ke arah wajahnya.
Sasuke langsung meraba pisau lipat yang ia sembunyikan di saku celananya, tapi ia urungkan niat mengebiri sang bapak separuh baya yang baru saja menyemprotkan substansi tak berperikemanusiaan ke wajah sang Uchiha(-Uzumaki) itu. Sasuke berpikir untuk men-desinfektan wajahnya dengan wipol nanti kalau shift siang ini sudah selesai.
"Nama anda?" tanya Sasuke sambil menggertakan giginya. Sang bapak separuh baya terlalu sibuk bersin sehingga tidak menyadari nada penuh dendam Sasuke.
"Hoshigaki—huachi!—Kisame huachi!huachiii!!"
"Usia?"
"Huachi! tiga puluh lima—huachi!"
"Oooke... jadi apa keluhan anda?"
"Ber—huachi!—sin, demam—huachi! ugh..." Kisame menggosok-gosok hidungnya yang kemerahan. "Sepertinya aku terlalu banyak berenang di laut—huachi!"
Sasuke mengangkat sebelah alisnya, tapi tetap mencatat di kartu pasien tanpa banyak bicara. Tak lama, ia menyodorkan kartu pasien ke arah Kisame.
"Silakan, Hoshigaki-san. Anda lurus saja lalu belok kiri, dokter anda adalah dokter Kakuzu ," kata Sasuke menunjukkan arah. Dan Kisame pun berlalu sambil bersin-bersin.
Haku, dokter akupuntur di klinik itu, yang sejak tadi menguping hanya memiringkan kepala karena bingung. "Uchiha-san, kenapa kau menyuruhnya ke dr. Kakuzu? Bukankah ia spesialis bedah plastik? Tidakkah sebaiknya ke Tsunade saja?"
Sasuke menurunkan maskernya dari wajah. "Karena, Haku-san, orang itu jelas-jelas lebih butuh operasi plastik daripada obat flu," katanya santai, sebelum kembali fokus pada pekerjaan barunya: mengorganisir kartu pasien.
Haku hanya berlalu sambil geleng-geleng kepala.
Pasien berikutnya, adalah seorang nenek-nenek berusia lanjut yang membawa tongkat. Ia datang sendirian, membuat Sasuke sedikit iba padanya. Hal itu pula yang membuat Sasuke (memaksakan diri) tersenyum ramah pada sang nenek. Satu hal yang akan sangat Sasuke sesali.
"Siang, bisa saya bantu?"
Nenek itu hanya mengangguk.
"Nama anda?"
"Sabaku Chiyo,"
Aneh, nama keluarganya mirip dengan Gaara. Tapi nenek itu tidak berambut merah, melainkan putih. Sasuke menepuk dahinya sendiri.
"Usia anda?"
"Anak muda, kau berani menanyakan usia seorang wanita?" Nenek Chiyo tersenyum pada Sasuke, yang langsung menyibukkan diri mencari kartu pasien atas nama Sabaku Chiyo. Entah kenapa ia merasa merinding melihat senyum Chiyo. "...delapan puluh, baiklah," gumam Sasuke.
"Apa keluhan anda, nek?"
"Jangan panggil aku nenek, panggil saja Chiyo,"
Perasaan Sasuke mulai tidak enak.
"Baiklah, Chiyo-san, keluhan anda?"
"Ah, tubuh tua ini, sering sakit kalau terkena udara dingin," keluh Chiyo sambil menaruh telapak tangan di dahi dalam pose 'kelelahan'.
"Oooke...silakan anda ke pintu nomor dua dari kanan, ruangan dokter Tsunade ," kata Sasuke sambil menunjuk ke arah yang dimaksud. Chiyo bergeming di tempat.
"Anak muda, tidakkah kau mau membantu Chiyo ini menuju ruangan dokter? Kaki Chiyo lemas," untuk memperkuat maksudnya, Chiyo bersandar lemas pada tongkat kayunya.
Sasuke menghela nafas, lalu ke luar mejanya dan menggendong nenek Chiyo, bridal style. Lihat sisi terangnya, dengan ini dia bisa bertemu dr. Tsunade.
Tapi sekali lagi, Tuhan menghukumnya karena berpikir untuk selingkuh.
"Anak muda, kau mirip dengan kekasihku waktu muda dulu. Apa kau mengenalnya? Ia bernama Uchiha Madara," kata nenek itu, memandang ke kejauhan. Tubuh Sasuke menegang sebentar, sebelum ia menggelengkan kepala dan masuk ke ruangan . Dalam hati, Sasuke berkomentar, kakek, seleramu buruk sekali.
Malang bagi Sasuke, Tsunade tidak ada di ruangannya. Kapan ia keluar, Sasuke tidak tahu. Wanita itu memang misterius.
Sasuke menurunkan Chiyo di dekat meja . "Ne—Chiyo-san, anda tunggulah di sini, aku akan mencari untukmu, ok?" kata pemuda itu sebelum secepatnya berbalik dan pergi.
Belum sampai pintu, langkahnya terhenti, saat ia mendengar rintihan dari Nenek Chiyo.
"Aduh!"
Segera ia kembali dan berniat mengecek nenek itu, sayang dalam perjalanannya, ia tersandung tongkat si nenek dan membuat tangan kanan Sasuke bukannya memegang lengan Chiyo seperti maksudnya semula malah mendarat di... dada si nenek. Sunyi. Keduanya saling berpandangan.
Sasuke membeku di tempat, tangannya masih menempel di 'tempat laknat itu'. Ia menelan ludah. Mampus.
"Aku tahu pemuda sepertimu..." suara serak nenek Chiyo mengalun kejam di telinga Sasuke. "...hanya memikirkan hal 'itu' saja..." ia mencengkeram pergelangan tangan Sasuke. Pemuda itu terkejut betapa kuatnya lengan kurus si nenek. Bukannya tadi nenek ini sakit? pikir Sasuke heran.
"Kau pikir aku wanita macam apa?" nada suara si nenek terdengar makin berbahaya. Sasuke mulai panik sambil menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Ya ampun nek, saya juga pilih-pilih kali...
Tongkat di tangan kanan si nenek terangkat, "Kau pikir hanya karena wajahmu tampan, kau bisa mendapatkan siapa saja?" desisnya. Sasuke mulai berusaha menarik tangannya dari cengkeraman si nenek, tangan kirinya berusaha menggapai sebotol chloroform di lemari obat milik Tsunade. Sayang, jangkauannya kurang jauh untuk mencapai lemari tersebut, dan si nenek juga sama sekali tidak membantu. Apa-apaan tongkat di tangannya itu?
Pertanyaan Sasuke terjawab saat tongkat di tangan si nenek mengadakan kontak pertama dengan pantatnya. Keras. Dalam gerakan lambat, Sasuke memalingkan wajahnya dari lemari obat demi berhadapan dengan wajah keriput Nenek Chiyo. Mata Sasuke membelalak melihat amarah yang tersirat di garis-garis wajah itu. Nenek Chiyo memicingkan matanya, hidungnya mendengus kesal. Satu kata bagi Sasuke: horror. Sasuke mempertimbangkan untuk membanting saja si nenek ke lantai dengan sedikit kemampuan judo yang ia miliki, tapi takut nenek itu malah patah di sepuluh tempat berbeda. Ia mempertimbangkan untuk berteriak 'UFO' sambil menunjuk ke arah jendela, tapi tidak yakin si nenek mengerti apa itu UFO. Ditilik dari kartu pasiennya sih, usianya sudah delapan puluh tahun.
Delapan puluh tahun dan masih sekuat ini? Memangnya waktu muda apa pekerjaannya? Pegulat profesional?Ninja?Kakek, untung kakek tidak menikahi dia...
Tongkat kayu si nenek membuat kontak lagi dengan bagian tubuh Sasuke. Kali ini di bagian pinggang. Lalu pantat. Lalu kepala. Keadaan ini memaksa Sasuke untuk mengeluarkan satu kalimat sakti.
"...ampun, Nek..."
Satu pukulan lagi di pantat.
Sial.
Sasuke dibawa ke kantor polisi dalam keadaan sudah diperban oleh Tsunade. Dokter seksi itu terus menerus melempar tatapan kasihan pada sang pemuda berambut hitam, sedang Nenek Chiyo masih menatap Sasuke penuh dendam. Sesekali ia mengangkat tongkatnya, membuat Sasuke segera beringsut sejauh mungkin dari jangkauan si nenek.
Entah kenapa, ia tidak terkejut melihat Naruto juga sudah ada di kantor polisi dengan memar di wajah, mata berair dan hidung berleleran ingus. Eww.
Tapi ia jelas terkejut melihat Neji (yang terus menerus melirik Naruto dengan sebal) dan Gaara juga hadir di sana. Bicara soal Gaara, Sasuke benar-benar terkejut saat pemuda berambut merah itu menghampiri Nenek Chiyo dan mengobrol secara NORMAL dengannya. Sesuatu yang tidak pernah terjadi pada Sasuke.
Perasaan Sasuke mulai tidak enak waktu Nenek Chiyo mulai menunjuk-nunjuk ke arahnya saat sedang berbicara. Tongkat kayunya mengejang liar, membuat Sasuke curiga nenek Chiyo akan melempar tongkat itu ke wajahnya kalau memang ada kesempatan.
Selesai bicara dengan Nenek Chiyo, Gaara menghampiri Sasuke dan menatapnya dengan tatapan heran.
"Kau melakukan pelecehan seksual terhadap nenekku?"
Sasuke mau mati saja rasanya.
TBC
Tolong jangan bilang kalau saya baru aja menjatuhkan image Uchiha Sasuke. I did? Masyaolohh...Sasuke maapkan aku...
A bit OOT~ kalau males baca author note, yang di bawah ini di-skip aja sampai ke bagian yang di-bold...saya tahu diri kok^^
Saya tipe orang yang nggak punya selera spesifik dalam masalah musik, makanya playlist saya campur aduk. Saya nulis fanfic ini dengan lagu yang ganti-ganti antara Rachmaninoff piano concerto no.2 – Heartbreaker (G-Dragon) – Menunggumu (Ridho Irama-- kenapa bisa ada lagu ini di playlist saya???*histeris*) - Closer(Nine Inch Nail) – Strong baby (Seungri) – Mirotic (DBSK) kalau lirik-liriknya diurutin, kira-kira jadi gini: you're my heartbreaker - datangla~h, kedatanganmu kutunggu – I wanna fcuk you like an animal – Hey, sexy, crack!crack!crack! – I got you~under my skin
... gara-gara itu mood saya jadi kemana-mana. Makanya jadi ada sedikit pergeseran gaya menulis antara bagian awal dan akhir... Maap ya, pembaca... Itu murni kesalahan saya*bows*
Review?
