つぼみ、二人差しつぼむ

(tsubomi, futari sashi tsubomu / bud, budding between the two)

Ditulis oleh 生川・明

Bagian IV: 長閑さ (nodokasa / tranquility)

.

- pernyataan hak cipta -

Kantai Collection adalah sepenuhnya milik KADOKAWA GAMES dan DMM -dot- com

.

- peringatan -

AU

delusi

.

- ucapan terima kasih -

KBBI

Kobukuro - Tsubomi

Fulare Pad yang telah meng-cover lagu ini dalam untaian petik-petik gitar yang tak habis-habisnya mengulek dada


SEBULAN telah berlalu. Aku semakin tenggelam dalam sihir tempat aneh ini. Wanita cerdas yang selalu menjadi teman mengobrolku—aku malas mengobrol dengan Hyuuga, pemandangan indah di kala siang menyapa malam, lalu permainan gitar si penyihir. Beberapa waktu lalu Amagi datang dan tampak kebingungan melihatku menetap di tempat seperti ini, mengingat aku adalah bocah manja di matanya. Aku pun bingung dengan diriku sendiri. Terutama saat aku menolak untuk pulang ke rumah. Aku ingat betul saat itu Amagi cuma bisa garuk-garuk kepala dan akhirnya menjanjikan untuk mengirim uang makan selama aku masih menghidupi masa pelarianku. Ah, bagaimana tidak jadi bocah manja yang keparat kalau kakaknya saja semacam Sinterklas begini?

Pagi ini pun begitu. Saat aku keluar dari apartemen, kulihat si wanita cerdas—aku malas memanggilnya Hyouzan—tengah sibuk memperbaiki plafon yang ambruk.

"Hai," sapaku.

Ia hanya menjawab salamku dengan senyum simpul khasnya.

"Hendak keluar? Perlu kuantar?"

Tanpa menunggu jawabanku, ia melompat turun dari tangga dan menghampiriku.

Aku selalu senang dengan semua yang dilakukannya. Termasuk perhatian yang ia berikan padaku. Boleh kubilang ia sama perhatiannya dengan mantanku, bahkan mungkin lebih. Bedanya, perhatian yang ia berikan jelas berbeda dari apa yang dulu diberikan mantanku. Sebuah perhatian yang menenangkan, bukan membahagiakan. Seperti mendengarkan semua racauanku yang hampir selalu menghakimi dan hanya tersenyum—ia baru menjawab dengan kata-kata saat aku meminta pendapatnya, yang hebatnya bisa ia tebak kapannya tanpa perlu aku bertanya, "Jadi, bagaimana tanggapanmu?", atau membawaku berkeliling Sapporo dengan mobil baknya tanpa banyak omong. Dia memang diam, namun diamnyalah yang berbicara padaku. Pada jiwaku. Diam yang menenangkan. Sesuatu yang ternyata paling aku butuhkan.

Setelah aku mengiyakan untuk kembali pergi dengannya, cepat-cepat ia membereskan alat-alat kerjanya dan mempersilakanku masuk ke dalam mobilnya.


"MALAM ini akan terang bintang."

Aku menoleh ke arahnya yang masih fokus memandang jalanan di depan kami.

"Kau suka mengamati bintang?"

Ah, rasanya ini kali pertama aku melihatnya mengambil inisiatif dalam berdialog. Sayangnya aku perlu melihat apakah ia memang seorang pencinta astronomi, atau sekadar manis lidah saja.

"Bercanda kau? Di Tokyo mana bisa melihat bintang?" jawabku memancing.

Ia pun tidak langsung menjawabnya.

"Bercanda kau? Memangnya di Tokyo tidak ada observatorium, apa?"

Cerdas.

Aku pun hanya menjawab tanyanya dengan sebuah senyum.

"Tidak punya waktu untuk ke sana. Tidak ada teman untuk ke sana." Akhirnya aku menjawab dengan pancingan lainnya. Menawarkan diri untuk menemaniku ke observatorium suatu hari nanti atau menanyakan mengapa aku tidak pergi bersama mantanku saja adalah dua jawaban yang paling tidak kuharapkan meluncur keluar dari mulutnya.

Ia kembali tidak langsung menjawabnya.

"Manja sekali. Beli teleskop, kek."

Hahaha, benar-benar cerdas wanita ini. Kecerdasannya pun boleh kukalilipatkan menjadi dua dengan senyum tipis yang kini terlihat lebih agresif mengekspresikan bahwa ia tertarik untuk mengajakku memandang bintang malam ini.

"Kau punya teleskop?" tanyaku membalikkan kalimat terakhirnya.

Dengan ibu jari tangan kirinya ia menunjuk ke belakang, mungkin ke bak mobilnya yang saat ini tertutup.

"Aku mau langsung ke Gunung Sankaku malam ini. Kalau beruntung mungkin bisa melihat Segitiga Musim Panas."

"Eh? Apa sudah bisa dilihat? Sekarang kan baru mau bulan Juli," ucapku menyangkal niatnya.

"Segitiga Musim Panas mudah dilihat antara Juni dan Juli."

"Tapi hari ini mendung." Aku kembali menyangkalnya.

"Kubilang 'kalau beruntung', kan? Semoga saja malam ini cerah. Siapa tahu terlihat."

Semakin jauh, semakin bergairah. Aku tak bisa menahan senyumku kala melihat sosoknya yang antusias begini.

"Aku ikut. Tidak usah pulang dulu. Langsung saja ke sana nanti."

Aku tahu ini egois, namun melihat senyumannya yang menjadi jawaban atas permintaanku jelas tak bisa menahanku untuk tidak berbuat egois.


KAMI harus meninggalkan mobil dan mendaki untuk mencapai titik yang bagus menurut si wanita cerdas. Melihat kelihaiannya, aku pun semakin yakin kalau ia memang menyatu dengan tanah Sapporo. Ia terus menuntunku dalam kehati-hatian yang menenangkan. Tanpa banyak omong. Membiarkan sunyi malam berbintang yang membuat jantungku berdebar.

.

"Di sini."

.

Ia berhenti melangkah dan menatap langit di atasnya. Berputar seperti mencari sesuatu. Ia tak sadar namun kini kami berhadap-hadapan, bedanya hanya ia menghadapku dan menatap langit, sedang aku menghadapnya dan menatap dirinya.

.

"Ketemu."

.

Aku spontan turut memandang ke arah yang sama dengannya. Bintangnya ada banyak, namun samar. Meski sudah kusipitkan kedua mataku, tetap saja tidak berhasil menemukan segitiga musim panas yang dimaksudnya.

Ia mengeluarkan teleskopnya dari dalam tasnya yang ternyata cukup besar. Setelah mengaturnya, ia mengintip sejenak, memastikan Deneb, Altair, dan Vega bisa terlihat dengan jelas. Tak lama ia berjalan menjauh, mempersilakanku untuk menikmati keberuntungan kami malam ini.

Gila! Benar-benar indah!

"Hei, hei, ini indah sekali!" seruku riang seraya menarik sebelah lengannya untuk melihatnya bersama.

Dan seperti biasa, ia hanya tersenyum tipis.


bersambung