Hope you like this fiction :)


Mereka baru saja selesai makan malam dalam hening. Jongin diam saja karena Sehun sepertinya tidak mau berbicara sama sekali, sedangkan Chanyeol yang tidak tahu apa-apa pun bingung harus bagaimana. Chanyeol membuka pintu menuju balkon di ruang tengah mereka dan menyalakan rokoknya. Dalam diam Jongin pun mengikutinya sementara Sehun wajahnya memandang tv tapi matanya terlihat kosong.

Chanyeol yang jengah pun akhirnya memecah keheningan dengan bertanya, "Sebenarnya orang yang tadi itu siapa sih? Sungguh ku kira dia pengemis, baju dan celananya sobek-sobek begitu."

Jongin hanya menggelengkan kepalanya, "Dia bilang sih tadi dia temannya Sehun."

"Kau punya teman yang seperti itu Hun?" Tanya Chanyeol.

Akhirnya Sehun menghadap mereka berdua yang sedang merokok di balkon, "Dia mantan yang pernah ku ceritakan."

"Apa dia mengganggumu karena kau tidak mau kembali padanya?" Kali ini Jongin yang bertanya.

"Dia meninggalkanku saat aku cedera dulu, tahun pertama setelah cedera ku habiskan dengan bolak-balik ke rumah sakit karena operasi yang bertahap. Aku saja sampai home schooling dulu karena itu. Lalu dengan mudahnya dia minta berpisah karena katanya berhubungan denganku seperti tidak punya pasangan, aku tidak punya waktu untuknya. Waktu itu aku mengiyakan dan aku meminta maaf. Tapi semakin lama aku sadar, dia bahkan tidak ada di sampingku saat aku membutuhkannya juga. Setelah aku sembuh, bisa berjalan lagi, dia datang padaku lagi. Aku membiarkannya menghubungiku lagi, dia bilang sebagai teman saat itu jadi aku pun tak masalah. Sampai tiba-tiba ada nomor asing yang menelponku bilang agar aku berhenti mengganggu kekasihnya, aku baru tahu kalau dia sudah punya kekasih baru." Sehun mengambil jeda, "Lalu dia memintaku kembali padanya lagi. Like hell I would do that. Dia bahkan tidak mau mengakhiri hubungan dengan kekasihnya terlebih dulu. That prat."

"Tapi kehadirannya masih sangat berpengaruh untukmu." Jelas sekali pernyataan dari Chanyeol.

"Sialnya iya, I mean he's my first love." Walaupun Chanyeol dan Jongin tidak tertawa, Sehun tetap mendengus, "Great, I sound like teenage girl in love, hopeless romantic teenage girl."

Chanyeol berdecak sebal, "Nonsense, kau hanya butuh menemukan seseorang untuk menggantikannya saja. Kau tidak pernah punya kekasih lagi setelah dia?" Sehun menggelengkan kepalanya. "Ayahmu tahu kalau dia masih sering menemuimu?"

"My father loathes him. He didn't tell me the reason, just said that I deserved better than him." Sehun ingat sekali ekspresi Ayahnya saat itu, ekspresi yang Ayahnya gunakan kalau sedang berdiskusi dengan kakaknya. Sehun merasa dihargai sekali saat Ayahnya berbicara begitu.

"Cari orang lain saja Hun." Chanyeol berkata sambil melihat ke arah Jongin. Jongin dari tadi hanya diam saja. Bahkan dia membiarkan rokoknya habis tanpa dihisap.


Sehun baru turun dari motor Chanyeol ketika Baekhyun menyapanya. Lalu menyapa Chanyeol dengan berkata, "Morning daddy." Chanyeol sampai terdiam karenanya.

Sebelum terjadi sesuatu Sehun pun menarik Baekhyun untuk berjalan bersamanya, Baekhyun sempat memberikan kedipan mata andalannya pada Chanyeol sebelum mengikuti Sehun.

"What the hell was that Baek?" Sehun berkata sebal setelah mereka masuk ke dalam kelas.

"Tadi aku mengucapkan selamat pagi pada Chanyeol." Kata Baekhyun ringan.

"Tadi kau memanggilnya daddy, oh lord." Sehun bingung kenapa Baekhyun menganggap itu wajar.

"Saat aku memberi tahu Ayahku kalau aku gay, he made a comment about 'You certainly lead a discreet life.', since that when I meet the boy that I would do, I'll say 'Hey dad.' Baekhyun tertawa melihat ekspresi kaget Sehun, "It's not an option for me to be closeted or keep it to myself. Sky's blue, grass is green. We can't fight it."

Sehun menggelengkan kepalanya, "Kau cocok dengan Chanyeol."

"Aku tersanjung sekali." Baekhyun membungkukkan badannya seperti penampil yang baru menyelesaikan pertunjukkannya. "Tapi aku ingin lama bersama Chanyeol, aku harus mematangkan rencanaku dulu."

Sehun menghela nafasnya, "Ku peringati Baek, Chanyeol bisa memujamu di siang hari dan meninggalkanmu saat malam. Secepat itu dia berubah."

"I know that." Baekhyun hanya memberikan senyum andalannya.


"Kau benar-benar hanya akan menunggu sampai Ayahmu bertindak?" Tanya Chanyeol.

"Entahlah. Aku belum pulang. Aku belum tahu Ayah maunya bagaimana." Jawab Jongin ringan.

Saat ini mereka sedang makan siang di kantin kampus. Sehun sedang mengerjakan tugasnya di perpustakaan jadi dia tidak bisa ikut bergabung. Padahal Sehun yang meminta mereka untuk menyempatkan makan siang bersama, Sehun bilang dia tidak nyaman kalau makan sendirian. Katanya semua orang selalu bertanya dimana Chanyeol dan Jongin. Sehun takut salah jawab.

"Seriously Jong, kau harus mulai untuk memperjuangkan apa yang kau mau. Tanpa menunggu perintah dari Ayahmu dulu. What was the point of anything if you couldn't feel any certain way about it." Kadang-kadang Chanyeol suka berkata sesuatu yang benar.

"Aku belum siap Chan. Kita bahkan belum satu bulan tinggal bersama."

Chanyeol mengerang, "Kau mau jujur pada Sehun sendiri atau aku yang membuatmu jujur pada Sehun?"

"Do you know? My father used to do the same thing. Giving a choice without giving a choice." Chanyeol tertawa mendengar jawaban Jongin. "Sehun itu, sepertinya apa yang kulakukan tidak dianggap luar biasa olehnya."

"Tidak bisa tidak setuju dengan itu. Aku bahkan berbicara tentang tidak akan menikung teman, saat itu aku belum kenal Baekhyun. Kenapa susah sekali menebak kalau kau lah orang yang berteman denganku dan dia." Chanyeol menggelengkan kepalanya.

"Lalu aku harus bagaimana?"

"Ask your father?" Chanyeol dan Jongin tertawa. Membuat orang di sekitar memerhatikan mereka.


Hari sabtu dinobatkan sebagai hari bersih-bersih untuk Sehun. Sehun sendiri tidak mempercayakan Chanyeol dan Jongin untuk membantunya membersihkan apartment mereka, lebih baik Sehun sendiri saja yang membersihkan dari pada dia darah tinggi karena memarahi mereka berdua. Sudah dua bulan mereka tinggal bersama dan hanya dengan cara itu tempat tinggal mereka bisa tetap bersih.

"Chan! Sudah berapa kali ku bilang kalau puntung rokok jangan di buang di wastafel! Wastafelnya jadi kuning dan susah dibersihkan." Salah satu teriakkan yang rutin terjadi di hari sabtu.

Dan biasanya akan dibalas Chanyeol dengan, "Anggaplah itu toleransimu Hun. Aku kan sudah mau disuruh membuang sampah. Dari pada kuku-kukumu menjadi bau karena membawa sampah kan?" Chanyeol tertawa melihat Sehun mendengus.

"Mau kemana Jong pagi-pagi begini?" Tanya Chanyeol. Tidak biasanya Jongin sudah rapih padahal ini hari sabtu dan masih jam 9 pagi.

"Ayahku ingin bertemu." Jawab Jongin sambil memakai sepatunya.

Mendengar Jongin ingin pergi, Sehun pun keluar dari kamar mandi, menunda kegiatan bersih-bersihnya, "Jongin mau pulang?" Nada bicara Sehun terdengar sedih sekali, Jongin dan Chanyeol sampai menengok ke arahnya bersamaan.

Jongin tidak tega, sungguh. Tapi perintah Ayahnya itu mutlak, "Iya, tapi paling lama besok sore aku sudah kembali."

Sehun hanya mengangguk dan masuk ke kamar mereka. Meninggalkan kegiatan bersih-bersihnya di kamar mandi.

Jongin dan Chanyeol kemudian saling pandang, "Sana tanya." Bisik Chanyeol.

Jongin menghela nafas dan membuka sepatunya lagi. Dia berjalan menuju kamar mereka dan melihat Sehun yang memainkan ponsel di sisi tempat tidurnya. Jongin menghampiri Sehun dan duduk di sampingnya. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa." Sehun menjawab singkat. Masih tetap memainkan ponselnya.

"Seriously Sehun. Kau bukan remaja perempuan yang merajuk kalau tidak suka kan?"

"Aku tidak tahu kenapa." Sehun meletakkan ponselnya dan memalingkan wajahnya pada Jongin. "Aku memang seperti ini, mungkin aku lelah Jong."

"Aku tidak mengerti." Jongin terlihat bingung.

"Aku juga tidak tahu bagaimana mendeskripsikannya." Sehun menghela nafasnya, "Sometimes it's just happened to me Jong. Aku sebenarnya ingin mengajak kau dan Chanyeol keluar, kemana saja hari ini. Mungkin menginap di suatu tempat sampai besok. Lalu kau bilang mau pulang. Entahlah, aku kesal. Tapi aku tahu aku tidak bisa menyalahkanmu karena aku tidak memberi tahumu dari kemarin kalau aku ingin mengajak kalian pergi." Sehun menunjukkan muka sedih seperti saat dia menanyakan pada Jongin tadi.

Jongin meletakkan tangan kanannya di bahu kiri Sehun dan memijatnya pelan, "Kau sudah minum obat?" Tanya Jongin dan Sehun menggelengkan kepalanya, "Setelah sarapan nanti kau harus minum obatmu ya."

"Apa kau tahu Jongin?" Sehun menunjuk lengan kirinya. Jongin mengangguk. "Kau tidak marah?"

"Aku tidak marah bukan berarti aku membenarkan tindakanmu Sehun. Aku mencoba mengerti kenapa kau melakukan itu dan aku tidak ada hak untuk marah." Tangan kiri Jongin mengusap lengan kiri Sehun, tempat dimana banyak luka bekas goresan yang dibuat Sehun.

"Kau benar-benar harus pulang?" Sehun sepertinya tidak rela kalau Jongin pergi.

"Baru dua bulan kita tinggal bersama kau sudah tidak mau berpisah denganku, sampai lulus nanti masih ada empat tahun lagi. Entah setelah itu kau bisa membiarkanku ke toilet sendiri atau tidak." Jongin bergurau.

"Aku tidak akan seperti itu kok. Lagi pula kenapa juga aku harus tidak bisa berpisah denganmu? Selama ini aku juga lebih sering ke kampus dengan Chanyeol. Kau yang jarang bergabung makan siang dengan kami."

Jongin mendengus, "Itu karena Chanyeol sedang mendekati temanmu." Jongin memegang kedua tangan Sehun, membuka jari-jarinya yang mengepal dan menautkan tangan mereka. "Don't pretend not to know how I feel about you. I don't know if you feel the same or you're just not ready to admit it, yet. But don't worry, I'll wait. I may not look like it, but I can be pretty patient when I want to be. And when you're ready, I'll be here." Jongin berbicara serius sebelum mencium ujung bibir Sehun yang membuat jantung Sehun berdetak sangat kencang sampai terasa di tenggorokkannya. "Sekarang, kau masih mau menyelesaikan acara bersih-bersihmu atau mau langsung bermain game dengan Chanyeol?"

Sehun sempat terdiam sebelum menjawab, "Main game saja." Dengan suara pelan.

"Good. Now get up. Hari masih panjang, kau ada game yang harus dimenangkan dan aku ada diskusi yang harus diselesaikan." Kata Jongin sambil menarik Sehun agar berdiri bersamanya, membawa Sehun keluar kamar.

"Sudah selesai?" Chanyeol bertanya.

"Memangnya apa yang kami lakukan?" Sehun bertanya balik.

"Ayolaah, kenapa kita harus berpura-pura sih? Aku menunggu disini sudah seperti pembantu yang menunggu majikannya berbaikan." Chanyeol mendengus.

"Kita diskusikan lagi setelah aku pulang ya." Jongin tidak mempedulikan omongan Chanyeol dan berjalan keluar.

"Memangnya apa sih yang akan kita diskusikan?" Chanyeol bertanya pada Sehun.

"Ayo main game." Jawab Sehun tidak nyambung.


"Jadi bagaimana kuliahmu?" Ayah Jongin mulai bertanya. Jongin tahu ini salah satu kebiasaan Ayahnya, berbasa-basi sebelum masuk ke pembicaraan inti.

"Baik Yah. Sekarang sedang mempersiapkan untuk ujian mid semester nanti." Jawab Jongin setelah menyesap tehnya.

Ayahnya mengangguk puas, "Lalu bagaimana Chanyeol dan Sehun?"

"Kabar mereka baik. Sehun yang mengatur jadwal kami sehingga kami lebih sering bertemu sekarang. Kami agak kurang nyaman di kampus kalau sendirian." Jongin ingat bagaimana keras kepalanya Sehun agar mereka selalu menyempatkan untuk makan siang bersama. Sehun tahu Jongin sering melewatkan makan siangnya, makanya dia memaksakan mereka bertiga untuk makan siang bersama. Lagi pula akan lebih nyaman dari pada sendirian di kantin kampus yang sangat besar itu.

"Kalian tidak mempunyai teman lain?"

"Aku dan Chanyeol memilih untuk tidak terlalu dekat dengan siapa-siapa di kampus. Sampai sekarang kami belum melihat orang yang potensial."

"Mungkin kau terlalu sibuk sendiri di perpustakaan sedangkan Chanyeol terlalu sibuk mendekati pria-pria manis. Sehun bagaimana? Ku lihat dia dekat dengan teman satu jurusannya."

Jongin sudah tidak heran kalau Ayahnya tahu, "Baekhyun namanya. Aku tidak tahu awalnya bagaimana, tapi Ayah tahu Sehun. Dia bisa berteman dengan siapa saja kalau dia mau. Dan ku rasa Baekhyun memainkan kartunya dengan benar. Seperti Sehun tidak pernah dilarang berteman dengan siapa pun."

"Tuan Oh terlalu terobsesi pada anak pertamanya. Jelas dia hanya mengatur Sehun seadanya." Jongin mengangguk setuju.

"Sebenarnya aku ingin bertanya mengenai Sehun Yah."

"Kalau ini masalah perjodohan Ayah masih belum tahu." Jawab Ayahnya.

"Kenapa?"

"Tuan Oh sepertinya tidak suka kalau Sehun harus menikah dengan laki-laki juga."

"Apa ini ada kaitannya dengan mantan kekasih Sehun?" Jongin teringat lelaki yang Chanyeol anggap sebagai pengemis.

"Sepertinya begitu atau memang dia terlalu arogan untuk mengakui anaknya itu berbeda. Mungkin kau bisa menemuinya lain kali untuk meyakinkan dia, jelas dia bahkan tidak mau mendengarkan ucapanku." Ayah Jongin membuka korannya, tanda dia sudah selesai berbicara dengan Jongin.

"Baiklah Yah. Aku akan menemui Ibu dulu." Ayahnya hanya mengangguk samar.


"Kau belum dapat pengganti Kyungsoo?" Selesai makan malam seperti biasa Chanyeol merokok di balkon sedangkan Sehun duduk di ruang tengah. "Dan kau tidak sering keluar sekarang."

"Kau terlalu percaya kata-kata Jongin. Aku bukan lelaki yang tidak punya perasaan, yang bisa lupa begitu saja setelah putus dengan kekasihku. Lagi pula aku cukup lama berpacaran dengan Kyungsoo, aku butuh waktu." Chanyeol mendengus.

Sehun tertawa mendengarnya, "Kau kelihatan baik-baik saja. Jadi ku kira kau sudah move on."

"Well, kadang lebih mudah begini dari pada harus terlihat sedih. Nanti Kyungsoo menganggap dirinya hebat sekali sampai membuatku sedih kan?" Chanyeol tertawa, "What is wrong with men?"

"How should I know? Mine is clueless." Tawa Chanyeol tambah kencang mendengarnya.

"Memangnya Jongin kenapa?" Tanya Chanyeol setelah tawanya reda.

Sehun terdiam, "Terlihat sekali ya?"

"Kalau boleh ku beri saran, mungkin kau bisa jujur pada dirimu sendiri dulu. Maksudku kita tumbuh di lingkungan yang mengharuskan kita menjadi sempurna, pasti sulit untuk mencoba jujur sekarang, tapi setidaknya kalian berusaha kan?" Chanyeol menghisap rokoknya dan mengeluarkan asapnya perlahan. "Kau tidak harus selalu jujur di depan orang lain, di depanku dan Jongin juga cukup."

"Apa patah hati membuatmu bijak?"

Chanyeol mendengus, "Aku serius." Chanyeol mematikan rokoknya dan menghampiri Sehun, masih dengan asbak di tangannya. "Jongin itu tidak akan bertindak sampai Ayahnya bilang iya dan kau," Chanyeol menghela nafas lelah, "kenapa sih tidak akui saja kalau kau punya rasa pada Jongin?"

"Jongin bilang kalau aku punya rasa juga padanya, kau juga bilang begitu. Masalahnya aku pun tidak tahu apa yang ku rasakan sebenarnya pada Jongin. Setelah Yifan dulu, aku tidak pernah dekat lagi dengan orang lain dengan tujuan untuk menjadikannya pasangan." Sehun berdecak sebal, "Aku jadi merasa bersalah pada Jongin."

"Kalau itu hanya kau yang bisa menjawab. Tapi kalau dilihat dari gesture kalian sih aku yakin, kau saja yang belum siap mengakui kalau kau punya rasa pada Jongin." Chanyeol berdiri dan menyimpan asbak.

"Alright." Mengingat gesture Sehun jadi ingat tentang Baekhyun dan daddy issues nya. "Menurutmu Baekhyun bagaimana?"

Chanyeol kembali ke tempatnya duduk tadi dan mengerutkan dahinya bingung, "Bagaimana apanya?"

"Kau tidak tertarik untuk membuatnya jadi pengganti Kyungsoo?" Sehun kan tidak ingin Baekhyun melakukan hal yang sia-sia kalau Chanyeol tidak tertarik.

Chanyeol tertawa, "Memang menurutmu aku itu orang yang seperti apa?"

"Apa hubungannya dengan pertanyaanku? Dengan Baekhyun?"

Chanyeol terlihat berpikir sebentar sebelum berbicara kembali, "Kadang aku merasa kau tidak mengenalku sebaik kau mengenal Jongin. Tentu aku tidak cemburu in romantic way, tapi tetap saja cemburu. Kita sama-sama mengenal dari kecil, sama-sama baru bertemu lagi untuk kasusmu, tapi kau lebih mengenal Jongin dari pada aku. Duh bagaimana aku menjelaskannya ya?"

Sehun tersenyum, "Aku susah sekali memahami cara berpikirmu Chan. Kau terlihat senang, tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya kau rasakan. Sekali aku melihat emosimu adalah ketika kau bercerita tentang saat pertama Ayahmu membawa istri keduanya. Sisanya aku melihatmu seperti tidak pernah serius dalam melakukan apa pun. Diantara kita bertiga kau yang paling sering membolos kelas, kalau Jongin tidak bilang kau itu pintar, aku sudah mengantarkanmu ke setiap kelasmu. Mungkin yang harus jujur pada dirinya sendiri bukan cuma aku."

"Mungkin iya, mungkin juga tidak." Chanyeol masih terlihat berpikir, "Apa Baekhyun memintamu bertanya padaku?"

"Tidak, aku hanya tidak ingin usaha Baekhyun sia-sia." Jawab Sehun.

"Aku sadar kok kalau Baekhyun sedang flirting denganku. Tapi untuk sekarang aku ingin melihat dulu latar belakangnya, Ayah tidak pernah ikut campur dengan urusan percintaanku sebelumnya karena aku selalu memilih orang yang menurutnya pantas."

"Sudah berapa lama kau memperhatikannya?" Tanya Sehun penasaran.

"Cukup untuk mengetahui beberapa tentang dia." Jawab Chanyeol puas.

"Kesimpulannya apa?"

"Tidak seru dong kalau ku beritahu sekarang." Sehun mendengus mendengar pernyataannya.


"Hun! Jongin pulang tuh." Chanyeol berteriak dari ruang tengah saat Sehun sedang di kamar mandi.

Sehun dengan segera menyelesaikan urusannya dan mengeringkan tangannya, sesaat dia berhenti. Kenapa dia harus sesenang ini tahu Jongin kembali? Sehun menepis pikirannya dan segera keluar dari kamar mandi.

Dia melihat Jongin dan Chanyeol membuka bungkusan yang dibawa Jongin. Dengan segera Sehun duduk disebelah Jongin. "It's nice to have you back." Kata Sehun.

Jongin tersenyum mendengar perkataan Sehun, "It's nice to be back."

"Serindu apa pun kalian satu sama lain aku mohon hentikan dulu. Bolehkah aku menikmati makan malamku, baru setelah itu kita lanjutkan acara temu kangen kita?" Sehun mendengus mendengar omongan Chanyeol, "Dan kita bisa minum bir nanti untuk memanaskan suasana oke?"

"Ibuku mengkhawatirkanmu Chan, Ibu bilang Cegah Chanyeol kalau mau minum bir, perut sudah buncit begitu." Perkataan Jongin ini membuat Chanyeol dan Sehun tersedak makanannya.

Makan malam dihiasi dengan tawa karena Chanyeol yang masih tidak terima dibilang buncit dan Jongin yang bercerita tentang bagaimana dia menghabiskan harinya kemarin.

Chanyeol sedang merokok di balkon saat Jongin berkata pada Sehun, "Mau mendiskusikannya sekarang?" Sehun mengangguk.

Chanyeol masih tidak mengerti apa yang harus di diskusikan, "Apa aku harus keluar? Atau kalian akan melibatkanku dalam diskusi ini?"

"Kemarilah Chan, aku tidak mau kau cemburu lagi karena aku hanya mengerti Jongin." Kali ini Sehun yang berbicara.

Chanyeol tertawa dan mematikan rokoknya untuk bergabung di ruang tengah. "Jadi? Apa yang akan kita diskusikan?"

"Pertama Sehun, aku dan Chanyeol sudah tahu kalau kau punya kebiasaan menyakiti dirimu sendiri. Yang kami tidak tahu adalah kenapa kau melakukannya?" Jongin menatap Sehun yang sedang menundukkan kepalanya.

Sehun menghela nafas dan memberanikan diri menatap Jongin dan Chanyeol, "Sesungguhnya aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya. Kadang aku bisa sangat senang, lalu menjadi sangat sedih. Aku terlalu memikirkan apa yang akan terjadi padaku besok, lalu aku akan memikirkan bagaimana orang lain menilaiku. Aku selalu sendirian sebelum bertemu kalian, aku tidak bisa berbicara dengan orang tuaku dan aku pun tidak punya teman dekat. Aku merasa semuanya terlalu berat sampai aku kesulitan bernafas tapi otakku juga menolak untuk terus minum obat. Rasa ketergantungan yang di akibatkan oleh obat, rasa khawatir saat aku tidak membawa obat itu kemana pun aku pergi, aku tidak ingin merasakannya lagi. Sampai suatu hari aku tidak sengaja menggores jariku, keluar darah dari sana. Voila, nafasku teratur lagi secara perlahan, detak jantungku kembali normal. Seperti aku bisa berpikir lagi." Sulit untuk Sehun menjelaskan, karena sebelumnya tidak ada yang tahu tentang ini. "Sejak saat itu aku selalu melakukannya."

"Apa Ayah dan Ibumu tahu mengenai ini?" Chanyeol bertanya.

"Tidak, mereka hanya melihatku seperti orang yang depresi saja makanya mereka memintaku terapi kejiwaan. Dari situ aku mendapatkan obat penenang."

"Sehun," Jongin memanggil Sehun pelan sehingga pandangan Sehun fokus pada Jongin. "maukah kau berjanji padaku dan Chanyeol, jika kau mengalami hal ini lagi, jika kau merasakan impulse untuk melakukan ini lagi, tolong cari kami berdua. Aku dan Chanyeol tidak mau kau terlalu jauh." Chanyeol menganggukkan kepalanya. "Kami baru bertemu denganmu lagi Sehun, kami tidak ingin kehilanganmu secepat itu."

Sehun mengangguk dan memeluk Jongin. "Berikan aku pelukan juga." Chanyeol berkata sambil memeluk mereka berdua.

Sehun senang, baru kali ini dia merasa hidupnya berarti, baru kali ini dia merasa dilihat sebagai Sehun, bukan sebagai anaknya Tuan Oh atau adik dari kakaknya. Baru kali ini dia merasa diterima.


I'm looking through my phone again feeling anxious

Afraid to be alone again, I hate this

(Shawn Mendes – In My Blood)