Chapter 4 – Main


"Hati-hati di jalan, Eomma!"

Tak lepas dari wajah cantik sang wanita dari jendela mobil yang terbuka, Luhan tetap berdiri disana. Melambai-lambai selagi mobil itu meninggalkan pekarangan rumah perlahan-lahan.

Selepas itu ia bawa dirinya berbalik, kembali memasuki rumah. Dan begitu sampai di ruang tengah, tangannya langsung menoyor kepala Sehun yang menyembul dari sandaran sofa.

"Anak nakal! Ibumu yang pergi, malah aku yang mengantarnya."

Sosok yang tengah duduk itu menoleh, tersenyum jenaka sembari mengambil tangan Luhan. Menariknya hingga terjatuh tepat di samping kiri.

"Jangan begitu, sayang. Dia calon mertuamu."

"Bukan itu masalahnya! Kau itu harusnya-"

"Ssshh, aku sedang nonton, Lu."

Mendengar itu, Luhan lantas meniup poninya keras. Melempar kekesalannya dengan menatap layar teve tanpa minat.

Sehun sepertinya tak begitu peka sekarang ini -salahkan film Spiderman yang terputar di depan mata. Buktinya ia tetap menyelipkan lengannya di belakang kepala Luhan, meremas lembut bahu sempit milik kekasihnya.

Ia baru benar-benar sadar dikala Luhan menyingkirkan lengannya tadi, nampak jelas terganggu dengan kontak mereka.

"Hm? Kau marah?" Bahkan suaranya yang terdengar tak acuh malah semakin memancing Luhan.

Setelah dua suapan keripik kentang, barulah Sehun menolehkan kepala untuk menemukan wajah memberengut Luhan disana.

"Sungguhan marah ya?" Kali ini terdengar sedih.

Menghabiskan tiga puluh detik untuk menatap lekat-lekat alis Luhan yang menukik, baru usai itu Sehun mematikan teve. Mencampakkan bungkus camilannya diatas meja lantas beralih mengelus pipi kembung Luhan dengan satu telunjuknya.

"Kau kelihatan gemuk kalau mengembungkan pipimu seperti ini."

Luhan menoleh, menunjukkan tukik alisnya yang semakin tajam. Yang ia tahu, ia tidak sedang mengembungkan pipi. Dan artinya, Sehun benar-benar mengatainya gemuk tadi.

"Oh, tidak. Apa aku salah lagi?"

Sehun menghentikan gerak telunjuknya, tapi tidak untuk menjauhkan jarinya dari tempat semula. Normalnya, Sehun akan merasa bersalah dan takut jika sosok manis itu memasang tampang galak lama-lama. Tapi sekarang, tidak normalnya, ia malah terkekeh. Menikmati pemandangan pipi merah muda Luhan beserta picingan matanya yang menggemaskan.

"Apapun salahku, aku minta maaf. Tapi tolong, hentikan wajah manis itu kalau kau tak ingin kutiduri."

Luhan berkedip tak percaya. Ia tahu benar bahwa Sehun itu mesum. Tapi tidak sampai menganggap bahwa wajah marahnya dianggap Sehun manis, apalagi menggoda.

"Baik. Aku sudah memperingatkanmu."

Luhan tak sempat merespon ketika tahu-tahu Sehun sudah menyandarkannya ke pegangan sofa. Menaunginya dengan dada bidangnya yang berlapis kaus tipis, juga satu seringai menawan yang berhasil menguapkan emosi Luhan dalam sekejap.

"Hanya kita disini, sayang. Jadi bersiap untuk ronde panjang diatas sofa."

Seketika mata Luhan melotot cemas. Baru sadar jika mereka hanya berdua di rumah Sehun. Maka ketika wajah kekasihnya mendekat dengan bibir terbuka siap melumat, sekuat tenaga Luhan dorong dada pria itu. Benar-benar kuat karena ia bukan hanya melawan Sehun, tapi juga hasratnya sendiri.

Bukan salah Luhan kalau ia tak menyukai seks diatas sofa. Kegiatan itu akan berakhir dengan pegal-pegal berlebih akibat harus menahan posisi diatas dudukan sofa yang sempit.

"Jangan disini, Sehun."

Kepalanya miring jauh-jauh, menghindar dari bibir Sehun yang semakin maju.

"Pemanasan disini, inti di kamar. Aku janji."

Jika sudah menangkap nada memelas itu, Luhan hanya bisa meluluh. Membiarkan dagunya diangkat juga bibirnya yang dihisap, kadang digigit sensual kearah atas.

Lenguhannya terlepas seiring dengan tangannya yang bergerak meremas surai Sehun. Mengacak helai rambut itu ketika jemari Sehun mulai merayap dari perutnya yang datar.

"Sehun-aku-aah.."

"Ya, Luhan sayang,"

Meninggalkan belah bibir Luhan yang mengilap, kini Sehun bawa lidahnya ke leher kekasihnya. Membagi kecupannya pada kulit halus itu selagi tangannya bergerak menyingkap pakaian Luhan sebatas dada.

"Sudah berapa lama kita tak melakukannya?"

Luhan menggeleng tak peduli. Tenggelam dalam cubitan kecil di area dadanya, juga lehernya yang kini membasah.

Sedang Sehun terkekeh. Tetap di posisi wajahnya yang tenggelam di leher Luhan, merangsang kekasihnya melalui sentuhan di atas-bawah.

"Bukan bermaksud mengganggu kalian. Tapi bisakah jangan bermain di sofa? Ada anak kecil disini."

Luhan yang nyaris mengira bahwa yang barusan adalah suara Sehun (sial, keduanya sama-sama datar!) lekas mendorong kepala Sehun menjauh. Mata bulatnya mendapati dua sosok pendek tengah mematung diatas karpet depan sofa. Beruntung untuknya, karena mata Ziyu tengah ditutup dengan sebelah telapak Haowen.

Tapi, Haowen. Bocah itu menyaksikan semuanya!

"Kau bahkan sudah menyaksikan yang lebih dari ini."

Gerutuan Sehun itu lantas membuat mata Luhan semakin melebar. Ini adalah kali pertama mereka tertangkap basah oleh dua bocah itu, lalu darimana Haowen menyaksikan yang-lebih-dari-ini tadi?

Saat menyaksikan respon kedikkan bahu acuh dari Haowen, Luhan semakin yakin ada yang salah dalam tontonan anak kecil di depannya ini.

"Ayo, sayang. Kita lanjutkan di kamar."

Luhan hendak menyela bahwa kata-kata Sehun tadi terlalu vulgar untuk diucapkan di hadapan anak-anak seusai Haowen. Tapi Haowen merespon lebih cepat dengan-

"Ya, ya, lebih baik di kamar. Dan jangan bersuara terlalu keras. Aku dan Ziyu mau main ular tangga."

-jawaban yang Luhan sesali sudah telinganya dengar.

Maka dengan pipinya yang merah memalu, Luhan segera melesat ke kamar Sehun. Meninggalkan sosok sang kekasih yang menyusul beberapa langkah di belakangnya.

"Sebenarnya hyungie sedang main apa tadi? Padahal jangan diusir, kita kan bisa main bareng."

Dan itu adalah Ziyu, terdengar sedih karena gara-gara ular tangga, Haowen harus merebut tempat bermain kakak-kakak mereka. Matanya yang baru bisa menatap bebas dibawa mengerjap pelan kearah sosok disampingnya.

"Bukan permainan apa-apa. Lagipula Bun, itu cuma untuk dua orang." Sahut Haowen kalem-yang terdengar seperti jawaban seorang ayah kepada anak balitanya yang bertanya 'kenapa peri gigi belum juga datang'. Dan kini sibuk membuka papan ular tangga dan membentangkannya diatas permadani.

"Berarti kita juga bisa main berdua?"

Ziyu berantusias, tanpa sadar mencondongkan badan ke depan dan menyangganya dengan dua tangan.

"Iya, bisa," Sejenak Haowen beralih dari papan permainan yang belum selesai ia susun. Bergerak mencubit pipi tembam Ziyu yang nampak menggemaskan. "tapi nanti ya, beberapa tahun lagi." Diakhiri dengan usakan di surai lembut kekasihnya seraya bibirnya tersenyum tampan.

Ziyu mengangguk semangat. Mendadak ceria ketika menangkap senyum dari Haowen.

"Ziyu yang merah ya, Haowen yang biru." Ziyu terdengar senang di sela gerak tangannya menempatkan dua benda kecil berbeda warna di garis start.

Dan yang tak ia ketahui, adalah senyum Haowen dan pandangan lembut yang diarahkan padanya sejak tadi.

Nanti ya kita main, Bunda.


End of chap 4.

.

Very much thanks buat yang udah nyempetin baca dan review. Selalu semangat tiap baca review kalian /love/

Info terbaru : Valinor bakal ditamatin minggu ini, ngga jadi dihiatusin hehe~

Stay tune yaa, secepatnya diupdate tuh ff kalo udah selesai

.

Shend, 10 April 2016