Dan tawa Jimin pecah dengan riangnya. Dia bahkan sampai bertepuk tangan dan memegangi perutnya demi melihat muka masam Yoongi dengan rambut diikat ke atas seperti tangkai buah apel (apel hijau kalau untuk kepala Yoongi).

#yoonmin #t #gs

Warning! GS!

.

.

IKAT RAMBUT

Yoongi sedang berbaring di kasur awan yang empuk, merasakan kelembutan kapas di bawah sentuhan jemari tangan dan wajahnya sambil dimanjakan oleh alunan lagu hiphop kesukaannya dari naungan langit saat mendadak kasur awannya bergoyang. Yoongi mengerutkan kening, tak ingin mempedulikannya sekaligus enggan membuka mata, dia memilih untuk meneruskan tidurnya. Kasur bergoyang lagi, kali ini lebih keras bersamaan dengan alunan lagu hiphop yang menghilang, berganti dengan dengungan suara yang awalnya terdengar seperti gumaman tidak jelas namun lama-kelamaan semakin nyata. Suara wanita. Dan dia sedang mengomel.

"Oppa, bangunlah. Ini sudah jam delapan dan aku harus merapikan tempat tidur, aish!" suara kecil Jimin masih terdengar melengking dan menyakiti telinga meski dia tidak bicara dengan nada keras. Cukup untuk membuat Yoongi membuka mata dengan wajah keruh sambil menghela napas.

"Oppa, tidakkah kau ingin melakukan sesuatu? Jangan mentang-mentang sekarang hari libur kau bisa tidur terus." Jimin meneruskan omelannya sembari membuka tirai jendela kamar tidur. "Tidak bisakah kau membantuku membersihkan rumah atau yang lainnya?"

Yoongi mendengus, bangkit duduk lalu berjalan dengan langkah malas ke arah pintu kamar. Setengah mengantuk, dia menggosok kedua matanya dengan tangan seperti anak kecil lantas menggaruk kepala membuat rambutnya yang masih berantakan menjadi semakin kusut mirip sarang burung. Langkah kaki Yoongi berhenti di ruang duduk. Secara insting dia mendekati sofa, meraih bantalannya, dan meletakkan kepala di sana.

Yang penting menjauh dulu dari radius omelan Jimin. Lalu tidur. Dan urusan Jimin akan mengomel lagi, dengarkan saja nanti.

-o-

Geraman keras mesin vakum memaksa Yoongi membuka mata untuk dunia. Pemandangan pertama yang dia lihat adalah bokong Jimin dalam balutan hotpants dan kedua lengan bajunya yang digulung hingga ke atas siku. Yoongi mengalihkan pandangan dan melihat kulit leher gadis itu mengkilat karena keringat ditambah dengan beberapa helai rambut panjangnya yang luput dijepit ke atas nampak menempel gerah pada kalungnya yang menggantung. Seolah sadar bila diperhatikan, Jimin menoleh.

"Wae?" tanyanya singkat yang hanya mendapat balasan kedipan mata malas dari Yoongi.

Jimin mendecih kemudian melanjutkan men-vakum karpet, membiarkan lelakinya berbaring di sofa, tak bergerak, dan lama-lama tertidur lagi.

-o-

"Oppa, bangunlah. Makan dulu, kau belum sarapan." Terdengar suara Jimin bersamaan dengan sebuah beban berat jatuh di sebelah tempat Yoongi berbaring. Namja itu mengerang lirih, berbalik membelakangi Jimin yang duduk di sampingnya, tanpa kata menyuarakan protes sebab tidurnya terganggu.

"Makanlah dulu, kau bisa sakit perut nanti," dengus Jimin ketika Yoongi tidak juga mau membuka mata.

"Nanti saja..." gumam namja tersebut semakin mendekatkan diri pada sofa dan melingkarkan badan layaknya kucing.

Terdengar dengusan kesal Jimin.

"Setidaknya minum obatmu," ujar gadis itu sembari mendekatkan sebutir tablet maag ke bibir Yoongi yang langsung terbuka dan menelannya tanpa dikunyah.

"Kalau begitu aku akan langsung memasak makan siang," ujar Jimin.

"Hmm," balas Yoongi dengan mata masih tertutup.

"Mau makan apa?"

"Terserah..." suara namja tersebut terdengar serak, sekali lagi membuat gadisnya menghela napas.

"Selamat tidur." Jimin menyerah, mengusap rambut pirang lelakinya dan mengecup singkat pelipisnya sebelum beranjak dari sofa.

-o-

Yoongi mengerang pelan ketika merasa seseorang menepuk-nepuk lengannya. Dia berbalik, menghadap sofa, dan merapatkan diri ke sandarannya saat orang itu malah balik menarik-narik kain bajunya.

"Appa~" dan satu suara kecil tersebut berhasil membuat mata Yoongi terbuka. Namja itu menoleh dan tidak dapat menahan senyuman ketika seraut wajah mungil dipenuhi pipi bengkak serta sepasang monolids langsung menyambutnya.

"Hai..." sapa Yoongi parau. Tangannya terulur untuk mengusap kepala bulat di depannya. "Kau sudah bangun?"

"Appa, naik~" bocah laki-laki yang sekiranya berusia 2 tahun kurang tersebut mengangkat kedua tangan gemuknya pada Yoongi yang langsung disambut oleh sang ayah. Dia memekik senang ketika tubuh kecilnya melayang dan mendarat di atas perut Appa-nya.

"Kenapa kau sudah bangun jam segini, huh?" tanya Yoongi sambil memainkan pipi anaknya lalu membawa balita itu untuk menunduk dan dengan sayang mencium keningnya.

"Appa, bangun~" bocah lelaki tersebut meletakkan kepala di atas dada Yoongi sembari menepuk-nepukkan tangannya dengan pelan.

"Appa sudah bangun, Minguk-ah," desis Yoongi, sekejab merasa nyaman dengan berat Minguk yang menindihnya dan badannya yang terasa hangat seperti selimut. Sebelum Yoongi menyadarinya, dia sudah hampir tertidur lagi.

"Appa, bangun!" mendadak Minguk melompat, mengagetkan Yoongi, membuat namja itu memekik dan terbatuk merasakan sesak di perut serta dadanya gara-gara gerakan tiba-tiba Minguk.

"Bangun, Appa~ bangun~" sang balita mengulang-ulang kata-katanya sembari menarik-narik pakaian Yoongi dan mempoutkan bibir. "Appa~~~" Minguk merajuk.

"Iya, iya, iya, Appa bangun. Appa bangun." Yoongi menyerah, memegangi tubuh Minguk sambil berusaha untuk duduk. Dia bersandar pada sofa dengan membuang napas panjang.

"Puas kau sekarang? Appa sudah bangun," cibir Yoongi dibalas senyuman lebar oleh anaknya.

"Yeay, Appa bangun yeay!" sorak Minguk sambil mengangkat kedua tangan, membuat Yoongi jatuh ke dalam senyuman, dan langsung mendapatkan wajah bayi itu, menciumnya dengan gemas bertubi-tubi sebagai hukuman. Minguk tergelak, mencoba melepaskan diri dari pegangan ayahnya, tertawa senang hingga menenggelamkan sepasang matanya menjadi bulan sabit yang melengkung lucu. Seperti Jimin.

Yoongi melepaskan Minguk yang terengah-engah akibat tertawa kegelian. "Itu hukumanmu karena membangunkan Appa," ujar Yoongi yang kembali menuai senyuman lebar dari putranya.

"Appa~" Minguk berpegangan pada bahu Yoongi, berdiri di atas paha ayahnya, kemudian memeluk leher pria itu.

"Aigo, aigoo~ siapa yang mengajarimu menjadi begini manis, Min Gukie?" Yoongi balas memeluk Minguk.

"Umma," jawab si bocah singkat. Dia melepaskan pelukannya di leher Yoongi dan mengecup sebelah pipi ayahnya. "Celamat pagi, Appa."

Demi apapun di dunia ini, tak ada yang lebih menggemaskan serta membuat Yoongi bahagia selain melihat tingkah lucu Minguk dan kehangatannya yang kebanyakan menuruni sifat sang ibu. Dengan penuh kasih sayang Yoongi balas mencium pipi gembul anaknya sambil membisikkan, "Selamat pagi juga, Gukkie."

.

.

.

Beberapa kali Minguk nampak mengusap-usap wajahnya, terutama di bagian mata dan keningnya.

"Kenapa? Apa matamu gatal?" tanya Yoongi sembari memeriksa kulit sekitar mata Minguk. Bayi itu menggeleng, namun kembali mengusap keningnya, seperti sedang mengenyahkan sesuatu yang menganggunya dan Yoongi langsung ber-oh pendek.

"Kau tidak suka ponimu?" tanya namja itu, meraih rambut poni Minguk yang memang sudah tumbuh memanjang dan nyaris mencapai kedua matanya yang sudah pasti membuatnya terganggu. Minguk menatap polos pada Yoongi, meraba keningnya, kepalanya, dan menemukan tangan sang ayah tengah memegangi rambut yang selalu membuat gatal wajahnya. Dan bocah itu tersenyum.

"Setelah ini bilang ke Umma-mu untuk memotong rambutmu," ujar Yoongi seraya menyatukan rambut Minguk dengan lebih rapi, kemudian tanpa melepas pegangannya pada kepala sang anak, dia mengulurkan lengan ke meja sofa, meraih kotak kecil berisi karet gelang warna-warni yang biasa digunakan Jimin untuk mengikat rambutnya sewaktu-waktu.

Minguk tidak berontak, duduk tenang ketika ayahnya mengikat rambut tipisnya dengan karet gelang. Bocah itu mengedipkan sepasang matanya dengan lucu saat kesibukan Yoongi selesai dan sang Appa menatapnya dengan mata berbinar seperti ingin memeluknya seerat mungkin.

"Kyeoptaaa!" Yoongi tidak bisa menahan diri, mendekap Minguk hingga anaknya kembali menjerit senang lalu memainkan rambut sang bayi yang kini berdiri di atas kepalanya seperti tangkai buah apel.

"Aigo, aigoo, kyeowo Mingukie~" Yoongi tidak dapat berhenti merasa gemas pada putra semata wayangnya. Terlebih saat Minguk membalasnya dengan senyuman lebar, sekejab Yoongi ingin menggigit kedua pipinya.

"Kau di sini?" suara Jimin menyela interaksi ayah dan anak. "Kapan kau bangun?" wanita itu merebahkan pinggul di sebelah Yoongi dan meraih wajah mungil Minguk, mendaratkan kecupan manis di kedua pipi gemuknya disusul ucapan 'selamat pagi'.

"Umma!" Minguk menyentuh rambutnya yang diikat di atas kepala, ingin menunjukkan hal itu pada Jimin yang langsung membalasnya dengan senyuman lebar.

"Aigoo kyeowoo~" puji ibu muda tersebut sembari memainkan ikatan rambut anaknya disambut gelak tawa senang Minguk. "Siapa yang mengikat rambutmu, Kkuk-ah?" tanya Jimin.

"Appa." Minguk menunjuk Yoongi lantas menjatuhkan kepala ke dada bidang namja itu. "Appa, Appa~" ulangnya.

"Appa?" sahut Jimin. Gadis tersebut beralih pada Yoongi. "Kenapa kau mengikat rambutnya?" tanyanya sambil tidak dapat berhenti tertawa kecil, merasa gemas pada kunciran Minguk sekaligus tingkah lucu anaknya.

"Poninya sudah panjang dan dia terus-menerus mengusap mukanya seperti ini." Yoongi mempraktekkan bagaimana si kecil berusaha menyingkirkan rambut yang mengganggu dari kedua matanya. "Aku khawatir dia akan mencakar mukanya tanpa sengaja, makanya aku mengikat rambutnya. Chagi, tidakkah kita harus memotong rambutnya lagi?"

Jimin menyeringai. "Minguk tidak suka potong rambut," keluhnya.

"Aku yang akan memeganginya dan kau yang memotongnya. Dia akan semakin rewel kalau kita membawanya ke salon," ujar Yoongi. Sejenak kemudian istrinya mengangguk.

"Umma, Umma." Minguk menyela meminta perhatian.

"Ne~ ada apa?" jawab Jimin dengan cepat.

"Appa—" Minguk menunjuk kepala Yoongi lantas menyentuh kepalanya sendiri. "Yambut Kkuk Kkuk," celotehnya.

"Hm?" Jimin mengangkat alis tidak mengerti maksud anaknya.

"Appa. Yambut Kkuk Kkuk. Begini. Ini!" Minguk mencoba menjelaskan, menunjuk-nunjuk bergantian kepalanya dan kepala Yoongi.

"Oh! kau ingin Appa mengikat rambutnya sepertimu?" akhirnya Jimin konek.

"Ne~" Minguk tersenyum lebar.

"Oke, oke, mana karet gelangnya?" Jimin mengedarkan pandangan.

"Yah, yah, yah~" Yoongi melayangkan protes. "Kenapa Appa juga—"

"Mingukie yang mau, jadi aku bisa apa," kilah Jimin dengan tangan sudah memegang karet gelang.

"Bilang saja kau cuma mau mengerjaiku, Park Jimin." Yoongi menyiapkan ekspresi masamnya melihat Jimin hanya membalas dengan senyum jahil penuh kemenangan.

"Tapi Kkuk Kkuk yang mau." Gadis itu membela diri. "Ne, Mingukie?"

"Kkuk Kkuk~" Minguk kembali menyentuh kepalanya dan itu cukup membuat tawa evil Jimin pecah, sementara Yoongi hanya dapat mendengus.

"Aigoo kyeowooo~" Jimin bersorak begitu selesai mengikat rambut suaminya dengan karet gelang berwarna pink dan tawa gadis itu pecah dengan riangnya. Dia bahkan sampai bertepuk tangan dan memegangi perutnya demi melihat muka masam Yoongi dengan rambut diikat ke atas seperti tangkai buah apel (apel hijau kalau untuk kepala Yoongi).

Awas kau, Park Jimin, geram Yoongi dalam hati ditertawai hingga seperti itu oleh istrinya sendiri. Namun kemarahan namja tersebut seketika hilang saat tangan mungil Minguk menyentuh pangkal ikatan rambutnya lalu balita itu tersenyum lebar.

"Appa~" Minguk beralih menyentuh rambutnya sendiri. "Kkuk Kkuk~" dan dia tertawa polos.

Yoongi tersenyum lembut. "Appa sama seperti Kkuk Kkuk? Tos dulu! Tos dulu!" dia mengangkat tangan dan dibalas highfive oleh anaknya dengan sangat menggemaskan.

"Yeay~ kita sama!" Yoongi memeluk Minguk dengan sayang. "Appa dan Mingukie kompak, yeay!" sekali lagi, Minguk tergelak senang.

"Umma!" mendadak si bayi menunjuk Jimin membuat ibunya melebarkan mata.

"Umma. Kkuk Kkuk. Appa." Minguk menyentuh kepalanya dan menunjuk pada rambut Yoongi.

"T-tidak bisa." Jimin mengibaskan tangan. "Rambut Umma terlalu panjang untuk diikat," kilahnya.

"Kkuk Kkuk. Appa." Minguk ngotot.

"Rambut Umma terlalu panjang." Dan Jimin tidak mau mengalah. Di antara mereka, Yoongi memandang keduanya berdebat bergantian tanpa suara.

"Umma!" alis Minguk mengerut, kedua matanya mulai berair, dan itu cukup membuat Jimin menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Minguk selalu begitu, tidak mau dibantah, keras kepala, sama seperti ayahnya.

"Baiklah, baiklah, Umma ikat." Jimin menyerah. Minguk memajukan bibirnya dan tanpa gadis itu sadari, Yoongi menyimpan senyum geli.

Jimin mengambil sebuah karet gelang dan melepas jepit rambutnya, membuat helaian oranye tersebut jatuh, menggantung panjang hampir mencapai pinggang rampingnya. Gadis itu mengambil bagian depan rambutnya yang sudah tidak memiliki poni pendek sejak dia memutuskan untuk tidak lagi membentuk poni yang terasa gerah ketika musim panas sedang terik-teriknya.

"Lihat? Ini susah," keluh Jimin bergelut dengan karet gelang di tangannya dan rambutnya yang panjang. Begitu semuanya selesai, rambut Jimin tidak dapat berdiri tegak seperti tangkai buah layaknya milik Yoongi dan itu membuat Minguk mengerutkan alis.

"Aigoo yeppeo~ Umma neomu yeppeo~" Yoongi yang pertama bersuara, membuat Minguk menoleh kaget padanya. "Umma yeppeo, ne Mingukie?" tanya namja tersebut mengalihkan perhatian Minguk karena dia mengerti kebingungan putranya, kenapa setelah diikat rambut Jimin tidak bisa seperti rambutnya dan sang ayah.

"Rambut Umma diikat dengan karet gelang seperti Minguk, seperti Appa." Yoongi menyentuh karet gelang di rambut anaknya dan rambutnya sendiri. Mata polos Minguk mengikuti gerakannya lantas menatap rambut Jimin yang juga dapat dia temukan ada karet gelang yang sama. Sedetik kemudian, senyuman merekah di wajah balita tersebut, melegakan kedua orang tuanya.

"Umma. Kkuk Kkuk. Appa!" sorak Minguk dengan sangat menggemaskan membuat ayah dan ibunya bergantian menghujani pujian 'kyeoo~'

"Sudah siang, ayo makan," ajak Jimin kemudian.

"Mamam mamam~" oceh Minguk menirukan ibunya. "Umma!" dia mengangkat kedua tangannya pada sang ibu yang sudah beranjak berdiri. Jimin menyambut lengan kecil anaknya dan mengangkat badan mungil tersebut dengan mudah ke gendongannya. Gadis itu mencium pipi gemuk Minguk sementara di belakangnya, Yoongi berjalan mengekor ke ruang makan dengan malas-malasan.

"Chagi, tidakkah kau ingin mengganti warna rambutmu?" tanya Yoongi ketika Jimin mendudukkan Minguk di kursi bayi. Diraihnya rambut panjang yang tergerai itu dan diciumnya perlahan.

"Oppa ingin aku menggantinya?" balas Jimin.

Yoongi mengangkat alis. "Coklat kelihatannya bagus."

"Bagaimana kalau hitam?"

Namja tersebut mengerutkan alis tidak setuju. "Coklat," tegasnya dan Jimin langsung memberikan anggukan tanpa pikir panjang.

"Kalau begitu sekalian saja ke salon. Memotong rambut Minguk dan mengganti warna rambutku," ujar Jimin.

Yoongi mengangguk-angguk. "Oke."

"Umma, mamam. Cendok. Kkuk Kkuk," celetuk Minguk menghentikan percakapan kedua orang tuanya dan membuat seluruh perhatian kembali tertuju padanya.

-END-


Gak bisa move on dari Yoongi yang ngiket rambutnya Taehyung pas ISAC dan jadilah ini X3

Featuring baby Song Minguk /\*3*)