The Black Cat

Pairing :KiWook, KyuWook, HaeMin, YeChull

Disclaimer :Super Junior milik SMEnt, Semua member milik mereka sendiri, tapi untuk Kim Kibum adalah milik saya, dan ryeowook adalah calon saya #kena Gampar#. Dan kami semua milik Tuhan.

Rated : T

Warning : Typos, bad plot, gaje, gak da humornya, YAOI, BOYS X BOYS don't like don't read

Summary :Dimulai dari Agen Elit super Rahasia yang dijuluki Black Cat, hingga sang agen bertemu dengan seorang namja buta yang membuatnya berpikir ulang untuk membunuhnya. Masa lalu yang penuh misteri serta penghianatan sang presiden

Genre : Crime, Romance

"KANGIN HYUNG!"

Peluru itu tepat bersarang di kepalanya. Menyemburkan darah dan dapat di pastikan ia tewas seketika. Donghae seolah ingin berteriak histeris, ia menyadari ia baru saja gagal menjalankan misi dan harus segara di pindah tangankan.

Jantung donghae berdetak sangat cepat. Tidak ingin di ajak kompromi bahwa ia harus selalu tenang. Baru pertama kali ia mengalami prihal seperti ini. Ia baru saja membunuh rekan kerjanya. Seharusnya ia tak terlalu angkuh dengan kemampuannya, ia seharusnya tak lupa bahwa Kangin adalah orang baru dalam misi kelas tinggi seperti ini.

Tangannya gemetar, ingin di raihnya sensor gelombang elektromagnetiknya agar ia bisa mengirim pesan bahwa ia perlu bantuan medis dan kekuatan untuk menolong rekan kerjanya. Bukan… bukan rekan kerja, melainkan seseorang yang sudah ia anggap sebagai hyungnya sendiri.

"Kau lemah kim dong hae, jika kau hanya bisa menangis" suara berat itu? Suara yang begitu ia kenal. Donghae segera menghapus air matanya. Meredam rasa takutnya. Menghilangkan segala rasa lemah dalam dirinya. Ini bukan tingkah yang tepat untuknya mengingat pengalamannya di dalam agen.

"Hyung.. itu kau?" gelagapan. Seorang kim donghae yang terkenal dengan ketenangannya dalam berpikir kini terlihat gugup.

Kangin tertawa dari seberang sana. Dengan nafas memburu dan harus diakuinya dia juga ketakutan setengah mati untuk kehilangan nyawa berharganya yang hanya ada satu di dunia ini. "Black cat datang membantu kita" katanya diakhir kalimat membuat donghae sungguh harus berterima kasih karena dia terlahir dari rahim yang sama dengan namja yang kini menjadi penyelamat misinya.

"Syukurlah.. hah..hah.. syukurlah" donghae tak henti-hentinya berterima kasih pada Tuhan dan nasibnya yang begitu beruntung.

%ika. Zordick%

Ryeowook's apartement 02.43

Namja manis bersurai coklat kemerahan duduk di beranda kamarnya. Menikmati semilir angin malam yang berhembus menerpa wajah menawannya. Ia tersenyum manis, kemudian tatapannya meredup. Air mata lolos lagi dari sepasang permata itu. Ia merindukan sesuatu, sesuatu yang tak semua orang dapat merindukannya.

"Kyunnie~" suaranya terdengar serak saat namja tampan bersurai ikal memeluknya dari belakang. Menciptakan keheningan diantara mereka. Tak lama kemudian, suara isakkan tangis ryeowook menjadi alunan manis yang menemani malam panjang mereka.

Kyuhyun—si namja tampan tinggi itu membelai surai coklat kemerahan kekasihnya. Ia tahu apa yang di rindukan oleh sang kekasihnya. Di bingkainya wajah ryeowook dengan telapak tangan besarnya. Di tatapnya sepasang permata yang membuatnya jatuh cinta itu. Mencari kejujuran cinta yang telah lama tak ia lihat karena takut.

Ya.. cho kyuhyun takut menatap mata seorang kim ryeowook. Mata yang akibat dirinya tak bisa melihat cahaya lagi. Mata yang gelap selamanya. Mata yang selalu mengiris hatinya sejak beberapa tahun yang lalu hanya bisa melihat kegelapan.

"Kau terbangun eoh? Ini masih tengah malam. Ayo tidur lagi!" bisik kyuhyun manja di telinga ryeowook. Ryeowook mengangguk samar, dapat dirasakannya kyuhyun kini mengenggam tangannya dan membawanya ke bednya. Tempat yang pernah menjadi saksi bisu rasa cinta mereka.

Flashback—

"Wookie…. Lari! Jangan kemari!" teriak kyuhyun saat beberapa namja bertubuh besar menahan tubuhnya. Membuatnya mendorong tubuh namja yang begitu ia cintai keras. "Pergi! Aku takkan apa-apa!"

Ryeowook meragu sejenak. Tapi ia sadar, ia juga tak bodoh. Orang-orang itu adalah suruhan Mr. Cho, Ayah kyuhyun. Tak mungkin namja itu akan melukai anaknya sendiri. Benar… ia harus pergi dari sini. Dialah yang akan di habisi. "Kyu… aku.." tiba-tiba kakinya melemas. Ia juga menyadari satu hal. Jika ia lari, ia yakin selamanya ia takkan pernah bertemu dengan kyuhyunnya lagi.

"Tch! Babo!" runtuk kyuhyun saat retina nya menangkap sosok Ryeowook yang tengah di tahan oleh anak buah ayahnya dengan kasar. "LEPASKAN DIA!" teriaknya sekuat mungkin. Menunjukkan wajah iblisnya. Tatapan matanya meyakinkan siapapun ia tak sedang bercanda.

Seorang namja tiba-tiba mengambil botol vodka. Mata kyuhyun membulat sempurna. "ANDWAE!" teriaknya saat ia melihat dengan mata kepalanya sendiri ayahnya memukul kepala kekasihnya dengan botol itu. Membuat nafasnya tercekat. Ia berharap bahwa ia sedang mengalami mimpi buruk.

"Hiks… perih!" hatinya seolah teriris mendengar ringisan kekasihnya. Serpihan kaca memasuki matanya. Mengeluarkan airmata yang bercampur darah segar.

"Jangan macam-macam denganku Cho kyuhyun!" pekik Mr. Cho menjambak rambut anaknya yang sedang menerawang kosong. "Tinggalkan gigolo ini! Arraso!"

"Kenapa kau tak membunuhku saja?" seringgaian terlihat di wajah tampan kyuhyun. Seringgai yang penuh luka. Entah tenaga darimana, ia mendorong tubuh besar yang menghimpit tubuhnya. Di gendongnya cepat tubuh ryeowook, menjauh dari tempat dimana ia bersumpah tak pernah mengenal ayahnya lagi.

%ika. Zordick%

Senandung manis terdengar dari bibir merah kyuhyun. Setiap hari bernyanyi nyanyian yang di sukai oleh kekasihnya yang sedang tertidur dengan tenangnya di dalam salah satu ruangan rumah sakit. Terlalu lama ia menunggu agar kim ryeowook sadar dari tidurnya. Apakah ia harus menangis sedih? Bukankah dia harus kuat? Atau ayahnya akan tetap menghukum namja tak berdosa yang begitu ia cintai itu.

"Ini hari ke 15 kau tertidur chagi. Tidak lelah menghukumku eoh?" suara kyuhyun terdengar bergetar. Di usapnya lembut surai ryeowook. Di kecupnya pucuk kepala ryeowook. Namun sosok indah itu tak kunjung merespon. Apakah ia terlalu marah pada kyuhyun?

Kyuhyun menangis lagi, harus di akuinya, matanya bengkak menangisi keadaan kekasihnya yang terus tak kunjung sadar. Ia berlahan berubah menjadi namja rapuh yang cengeng. Ia bingung. Ia tak tahu kenapa otak jeniusnya seolah berhenti bekerja jika menyangkut kekasih malangnya tersebut.

"Eungg…." Kyuhyun mendongak saat mendengar dengungan yang bukan berasal dari dirinya.

"Wookie… kau sadar chagi?" kyuhyun mengeluarkan senyuman terindahnya. Dapat dirasakannya sebuah rasa lega hinggap di hatinya.

"Kyu…" suara merdu ryeowook menyapu telinganya. Ia dapat merasakan sensasi bahagia di hatinya. "Kyu jangan nakal! Sampai kapan kau harus menutup mataku?"

"Eh…" kyuhyun mengerjab bingung. Ia bisa melihat mata bening ryeowook yang begitu indah. Dia juga tak sedang menutup mata indah itu. "Aku tak menutup matamu"

"Jinjja?" ryeowook mengusap matanya kasar. Air mata mengalir begitu saja dari pelupuk matanya. "kyu… gelap" rengek wookie meraba-raba sekitarnya. "Aku buta kyu.. aku tak bisa melihat"

Kaki kyuhyun seolah tak bisa di ajak kompromi. Dia terduduk di tempatnya. Matanya menerawang jauh. Hatinya berpetualang entah kemana. Pikirannya hancur dan terus menghantui dirinya sendiri. Ini salahnya, ya.. jelas ini salahnya. Jeritan frustasi ryeowook mendatangkan perawat dan dokter. Mereka sibuk mengamankan ryeowook yang tengah menjambaki rambutnya sendiri.

Kyuhyun masih terdiam di tempatnya. Air matanya terus terjun begitu derasnya. Hingga ia tersadar saat ryeowook menjerit memanggil namanya. "KYU! KAU PERGI JUGA? KAU MENINGGALKAN KU JUGA. KYUHYUN! CHO KYUHYUN!"

Seolah mendapatkan tenaga baru, kyuhyun bangkit. Di singkirkannya tangan dokter yang hendak menyuntikkan obat penenang di tubuh ryeowook. "Anni.. aku takkan pernah pergi. Aku mencintaimu kim ryeowook. Dari dulu, sekarang hingga selanjutnya akan tetap begitu" bisiknya seduktif mungkin, membuat ryeowook memeluk tubuh ramping itu erat. Terisak di dada kyuhyun, merasakan rasa aman dari orang yang takkan meninggalkannya seperti orang lain yang meninggalkannya sebelumnya.

"Saranghae" ucap kyuhyun mengecup bibir ryeowook lembut. Didekapnya kembali tubuh namja rapuh itu. Melindunginya dan bersumpah akan terus begitu hingga akhir hayatnya.

End flashback—

%ika. Zordick%

Kim's House 02.53

Taemin tersentak saat dirasakannya tubuh hangat kibum tak lagi mendekapnya. Di bukanya matanya berlahan, di edarkannya pandangannya ke segala penjuru kamar. Ia melihat punggung hangat kibum yang sedang akan melangkah keluar dari pintu kamarnya. Ia sudah menduga kemana kibumnya akan pergi dengan pakaian serba hitam yang menutupi seluruh tubuh proposional itu. Dia sangat tahu, karena dialah yang selalu di tinggalkan kibum di tengah malam layaknya mala mini.

"Mau kemana?" pertanyaan bodoh itulah yang selalu terdengar dari bibir dingin taemin saat melihat manusia yang begitu ia cintai meninggalkannya sendiri.

Dan ia akan mendengar jawaban yang sama setiap ia habis melontarkan pertanyaan tersebut. "Hanya sebentar taemin-ah. Tungguh aku eoh!" kibum berbalik dan mencium dahinya penuh kasih. Hati kibum masih miliknya, sungguh masih miliknya. Tapi itulah yang membuatnya takut, ia masih ingat perkataan donghae beberapa hari yang lalu.

'jika kibum tak bisa mencampakkanmu, aku akan mematikanmu'

Taemin menunduk, air matanya tak terbendung lagi. Rasa takut menjalari hatinya. Membuat kibum mengeriyit bingung. "Pergilah! Berhati-hati, eoh! Saranghae bummie"

Kibum menunjukkan killer smile yang jarang ia perlihatkan. Hanya pada kekasih robotnya itu saja. Agar kekasihnya itu bisa merekam dalam memory otaknya dan tak melupakan bahwa betapa tampan dan baiknya dia. "I more taemin-ah". Kibum melepas pegangan erat taemin di tubuhnya. Ia sedikit heran, tak biasanya taemin begitu manja hingga tak ingin melepasnya pergi. Ini bukan kali pertama ia pergi dan tak pulang kan?

Saat bayangan kibum menghilang dari pintu. Taemin menggenggam erat pakaian yang menutupi tubuhnya. Dadanya terasa sakit. Air matanya sungguh tak terbendung. "Master, kumohon. Biarkan aku mencintai dia sampai akhir. Aku tak mampu membuatnya mencampakkanku" isaknya melirik foto donghae bersama kibum di meja nakas dekat bed kibum.

%ika. Zordick%

Gedung GeumSang 03.00

DOOR… dengan langkah tenang dan tanpa ekspresi, Kim Kibum, the black cat, mempelintir tangan musuhnya yang sedang menodongkan senjata pada Kangin. Ya… tembakan itu berubah target menjadi kea rah lain bukan menembus kepala kangin melainkan salah satu dari musuh mereka. Kangin menatap nanar namja bertopi yang mengenakan pakaian serba hitam yang mencoba menolongnya.

Kibum menendang salah satu lawan mereka kea rah kangin. "Tembak dia!" suaranya berubah, bukan seperti suara yang biasa di dengar kangin di rumahnya. Rupanya namja itu merubah warna suaranya lagi.

Kangin menodongkan senapannya, menembak tepat di kepala orang yang di sodorkan kibum. Dengan cepat kibum meraih senapannya, menembak satu per satu orang tanpa ada satupun yang meleset. "0,4 detik. Seharusnya bisakan?" ejeknya pada kelambatan kangin bergerak. Ia menduduki salah satu mayat saat korban terakhirnya berhasil jatuh terkapar di lantai.

"Kau sungguh gila, Hebat!" kangin tak bisa menutupi rasa kagumnya pada orang yang memang lebih muda darinya namun sudah menjabat sebagai seniornya.

"Beritahu Agen Fishy, dia akan menangis kalau tahu kau tak hidup" kibum menyimpan kembali senapannya. Di pakainya kacamata hitam yang bisa menyambungkan penglihatannya dengan computer di layar donghae. Ini juga bukan pertama kalinya dia bekerja sama dengan hyungnya itu. Hanya saja, dia tak terbiasa bekerja sebagai tim. Salahkan hyungnya mengirimkan sinyal darurat dan hanya dia yang menganggur.

"Kau lemah Kim Donghae jika kau hanya menangis" Kangin meraih kembali alat telekomunikasinya.

"Hyung… ini kau?" suara Donghae terdengar tak percaya. Suara gemetar cukup memberitahu kalau donghae begitu menyayanginya. Isakkan lirih membuatnya yakin bahwa sosok kuat donghae hanyalah kebohongan. Ya… sosok yang telah lama di tinggal ibunya dalam tidur panjang itu hanyalah anak manja dan cengeng yang butuh kasih sayang.

"Black cat datang membantu kita"

"Hah… syukurlah… syukurlah…"

"Berhentilah menggumam tak jelas" kibum mengedarkan pandangannya. Topi yang hamper menutupi sebagian wajahnya tak menjadi halangan untuk melihat sekelilingnya dan mempelajari gedung itu dengan cepat. Mungkin pengalaman mengajari dia segalanya.

"Black cat babo!" teriak donghae jelas yang membuat telinga kangin dan kibum mendengung. "Ini bukan tugas levelmu, kenapa kau datang. Walaupun kantor kosong, kau takkan disuruh kemarikan? Ada apa sebenarnya?"

"Aku mendapat tugas membunuh Mark Diesel dalam waktu 3 jam" jawab kibum santai seolah yang ia kerjakan adalah hal yang mudah. Kangin tak membuka suara, ia masih sibuk berfantasy dan mensyukuri nasibnya yang sekarang sedang satu tim dengan sang legenda.

"Hyung, kembalilah!" dan tepat sasaran. Kangin menelan ludahnya kecewa. Kibum kini sedang mengusirnya.

Kangin menunjukkan wajah memelas. Mencoba memohon. "Biarkan aku ikut! Kumohon!". Tanpa melihat atau tepatnya memperdulikan kangin, kibum malah sibuk dengan jam tangannya. Ia sedang mencocokkan waktunya dengan waktu misi yang harus ia selesaikan. Terlambat satu detik akan merusak reputasinya. Ia tak ingin itu.

"Biarkan ia ikut" ujar donghae membantu adegan memelas kangin. Bisa di tebak sekarang donghae sedang menunjukkan fishy eyes yang selalu membuat kibum lemah saat melihatnya. Ya… hyung kandungnya itu tak pantas di katakan hyungnya. Donghae jauh lebih kekanak-kanakan disbanding dirinya.

"Dia akan mengangguku" hmf… begitulah kim kibum. Dia akan jujur jika itu akan mempersulitnya. Ia tak ingin banyak berbasa-basi.

"Aku takkan memberi lokasi gedung ini. Aku sangat tahu kau ingin mengambil keterangan dariku kan. Mengingat waktumu yang terlalu banyak terbuang" ancam donghae. Dan tentu saja dia berhasil, dia mengenal adiknya dengan baik soal misi dan pemikiran adiknya yang tak ingin reputasinya hancur. Ya.. ini demi ibu mereka. Jika kibum tak memiliki reputasi baik maka bayarannya akan murah.

Kibum menghela nafas, ditatapnya tajam kangin yang masih sibuk merengek layaknya anak kecil padanya. "Baiklah… ikuti apa yang dikatakan agen fishy"

"Horeee…" sorak kangin dan donghae bersamaan.

%ika. Zordick%

Kibum melompat dengan lincah bagaikan kucing, melangkah seolah dia diatas angin. Begitu santai, tenang dan tak terdengar. Dia sungguh seperti kucing yang anggun dan pasti. Kangin sendiri yang berjalan di belakangnya terkadang bingung karena namja itu sering hilang dari jangkauan matanya kemudian muncul kembali dengan jarak yang lebih jauh dari sebelumnya.

Tiba-tiba kibum mundur mendadak. "Tiga orang di depan" kangin mendengar suara aba-aba dari donghae. Ia memperhatikan sekelilingnya, kibum menghilang lagi.

"SH*t" kibum berbisik di telinga kangin dan menarik namja itu bersembunyi di langit-langit koridor yang entah sejak kapan terbuka fentilasinya. Kibum bergantung di sana dan kangin yang di tahannya di atas tubuhnya. "Jangan membunuh orang yang tak terdaftar" ucapnya menarik senjata kangin dan hanya menyisakan satu peluru di dalam senapan itu.

Kibum kemudian turun di ikuti kangin di belakangnya. Ia menghilang lagi. "Ku tunggu di ruangan yang seharusnya!" ucap kibum sebelum ia melompat keluar jendela.

"Kibum selalu begitu hyung, dia lebih suka menyelasaikan tugasnya sendiri. Jalanlah terus ke depan dan belok kanan. Dan usahakan kau menggunakan tangan kosong, pakailah topengmu. Banyak kamera pengawas setelah ini" terang Donghae yang tengah sibuk dengan computer-komputernya yang dengan sigapnya memperhatikan gerakan kangin dan kibum sekaligus. Adiknya itu sungguh merepotkannya karena harus membuat laporan dari dua sudut penglihatan berbeda.

Sementara kangin yang sibuk mencari titik buta kamera. Kibum dengan tenangnya memanjat gedung, melompat kesana kemari di tempat yang bisa ia jadikan pijakan. Bukankah dia sungguh mirip dengan kucing? Tapi bukan itu alasannya mengapa ia mendapat julukan 'the black cat' melainkan…

PRANGGG…. Kibum melompat tapi sebuah pedang samurai tepat keluar dari jendela yang pecah itu dan menembus dadanya sebelah kiri. Dengan sigap, kibum melempar benang tipis kuat yang telah di beri pemberat ke jendela itu. Dia berayun cepat dan berhasil menendang masuk ke dalam gedung dengan pedang yang masih bersarang di dadanya.

"Argh…" kibum memuntahkan darah segar saat kakinya sudah menepak di dalam gedung. Rasa sakit mulai menjalari bagian lukanya. Bohong kalau dia berkata itu tak sakit. Dia tetaplah seorang manusia yang merasa sakit jika terluka. Apalagi dengan luka yang tak bisa di bilang ringan seperti yang ia alami sekarang.

Kibum dapat melihat kangin di depan pintu, ternyata pilihannya untuk mengambil jalan lain tak salah. Dengan begini hanya dia yang terluka. Pengamanan di sini di khususkan untuk dia. Dia agen terkuat, agen lain hanya dianggap lalat. Dan siapa yang dapat menduga sang black cat membawa lalat lain bersamanya. Kibum sudah tahu hal ini dan dia sengaja agar system pengamanan focus pada gerakannya dan menyuruh donghae memanipulasi yang lain yang tak terarah padanya demi melindungi kangin.

Sedikit menggerakkan bibirnya tanpa bersuara. Berharap kangin mengerti apa yang ia maksudkan. Hah… dia tak sebodoh itu juga dengan membiarkan kangin yang mangartikan isyaratnya. Ia memaksudkan untuk donghae. "Suruh si bodoh itu untuk diam, tembak orang yang mengucapkan kata 'black cat' pertama kali" itulah isi isyaratnya yang langsung diterjemahkan donghae pada kangin.

Kangin mengangguk mengerti. Tapi ia tak yakin dengan kondisi kibum yang begitu mengenaskan. "Kita sudah menangkap mangsa yang sebenarnya. Sayang sekali bila di bunuh tuan" ucap salah satu orang yang terlihat tak lebih kuat dari orang yang berpakaian tradisional yang baru saja melempar pedangnya pada kibum.

Seorang wanita terlihat sedang menarik busurnya tepat ke leher kibum. Pandangan matanya tak ada ketakutan, menatap kosong pada targetnya. Kibum tersenyum simpul. Ia mendongak sedikit, di hitungnya jumlah kamera pengawas di ruangan tersebut. Ia sudah sengat jelas siapa mark diesel diantara mereka. Namja asing yang sedang duduk sambil meminum vodka yang begitu menarik perhatian kibum. Ya.. hidungnya sedikit sensitive dengan minuman beralkohol mahal itu.

Namja bermulut besar yang dari tadi mengoceh di ruangan ini, membuka topi kibum. Mulutnya menganga melihat wajah cantik yang di tangkap retina matanya. Suara isakkan terdengar, bola mata bening itu berair, bibir pink cantik bergetar ketakutan. Kangin mengerjabkan matanya tak percaya sekali lagi. Bagaimana mungkin? Kim kibum berubah menjadi wanita.

Rambut panjang hitam sepinggang tergerai indah. Sedikit bergelombang membuat efek kecantikannya menjadi lebih muncul. Suaranya berubah lebih manis. "Dia wanita?" gadis yang memegang busur memandang tak percaya. Busur dari tangannya jatuh begitu saja. Mata innocent dari yeoja berpakaian serba hitam itu sungguh membuatnya merasa tak tega.

Namja berpakaian tradisional mencabut pedang dari pinggangnya lagi. Kali ini dia menusuk bahu yeoja yang kerap di panggil black cat tanpa prikemanusiaan. Suara ringis sakit menggairahkan terdengar. "Hentikan!" perintah namja asing—mark diesel. "Sayang sekali kalau dia dibunuh. Biarkan saja! Aku akan memeliharanya. Bukankah begitu my sweety cat." Dia mengelus dagu sang black cat. Memperlakukannya bak kucing kecil yang sedang terluka. "Aku tak pernah mengira bahwa the black cat adalah yeo—"

Perkataannya terputus, sebuah peluru tunggal dari kangin menembus tepat di kepalanya. Yeoja yang dimaksudkan sebagai black cat memiringkan kepalanya, memasang wajah menggemaskan kemudian menyeringgai penuh kemenangan. "Tch!" ia dengan santainya menembak satu persatu kamera pengawas di ruangan itu. Di bukanya topeng kulit yang melekat di wajahnya. Menampakkan sosok namja dingin berkulit seputih salju. Manic hitam arang dan bibir semerah darah yang kini menyeringgai mengerikan.

Di tariknya pedang yang menancap di dadanya. Di tikamnya tepat dari atas kepala menembus tegak lurus tubuh namja berpakaian tradisional yang menyebabkan darah keluar dari tubuhnya. Namja itu tewas seketika. Kibum kembali menarik pedang yang menebus bahunya, yeoja yang memegang busur itu terlihat ketakutan. "Mian, tapi kau sudah melihat sosokku dan mendengar suaraku" katanya dengan suara aslinya. Di penggalnya kepala yeoja itu tanpa rasa belas kasihan sama sekali. Kepala yeoja itu terguling di kaki namja yang dari tadi suaranya cukup menganggu pendengaran kibum.

Namja itu berlari saking takutnya. Ia buang air kecil di celananya sendiri. Kibum dengan cepat mencengkram bahu namja itu. "Maafkan aku black cat!" ujarnya memancing rasa iba.

"Aku bukan yeoja! Aku namja" ucap kibum menodongkan senapan di rahang bawah namja itu. "Aku benci suaramu" BLASH…. Suara senapan khasnya terdengar. Menyisakan mayat dan kangin yang tercengang melihat aksi pembunuhan sang legenda di hadapannya sendiri.

"1 jam 15 menit, kuharap mereka membayar dengan benar" seru donghae senang. "Hyung! Cepat ikut kibum pulang, kau mau apa di sana?" pekiknya saat melihat layar kangin tak bergerak.

Kibum memegang dadanya yang terluka dan mengeluarkan banyak darah. Dia berlari dengan cepat. Kemudian dengan cepat dia melompat lagi dari jendela. Dengan luka separah itu dia masih bisa melompat dari satu gedung ke gedung lainnya. Kangin menghela nafasnya saat ia sudah memasuki mobil van yang di naiki donghae.

Donghae menyambutnya dengan senyuman charming seperti biasanya. "Bagaimana hyung? Kau terluka?" kangin langsung menggeleng, karena itu memang kenyataannya.

"Tapi kurasa kibum terluka sangat parah"

"Kau tahu hyung kenapa kim kibum dipanggil Black Cat?"

Kangin menaikkan sebelah alisnya tak mengerti. Ditatapnya donghae yang kini menerawang pada salah satu layar komputernya menunjukkan indahnya malam yang di taburi bintang. Ya.. itu dari kamera kibum. "Dia mempunyai Sembilan nyawa. Saat kau ingin membunuhnya kau harus membuatnya mati Sembilan kali"

%ika. Zordick%

Taman Kanak-Kanak 10.12

Seorang anak bergigi kelinci, bermata foxy menerawang lewat jendela kelasnya. "Minnie, kok mulung? Waeyo?" anak yang lebih tinggi bersuara indah menghampirinya. Mendorong kepala sungmin hingga sungmin—si anak bermata foxy dengan tidak elitnya mencium mejanya.

"Jangan ganggu Minnie! Changmin-ah!" teriak Sungmin tepat di depan wajah Changmin. Membuat changmin nyengir tak berdosa. Ia memang mempunyai hobi menjahili namja tercantik di kelasnya itu. Ia juga sudah membuat peraturan bahwa tak ada yang boleh mengganggu Lee sungmin selain dirinya.

Sungmin mengerucutkan bibirnya lucu. Changmin seolah menahan hasrat dalam dirinya untuk tak mencium bibir pink manis itu. Hah…. Dia mungkin harus berusaha lupa bahwa dia hanya anak TK saat melihat namja kelinci yang begitu menarik perhatiannya tersebut. "Minnie lagi cedih eoh?" Changmin duduk di samping sungmin. Memamerkan senyuman cerianya.

Sungmin mengangguk, "Donge hyung tidak pelnah datang lagi melihat Minnie. Apa dia membenci Minnie?" curhat sungmin mengadukan namjachingunya itu pada orang yang ia anggap sahabat. Meski changmin selalu mengerjainya.

Rona bahagia berlahan memudar dari wajahnya yang tampan mendengar nama rival abadinya itu di sebut. "Changmin membencinya, bukankah bagus kalau dia pelgi dari Minnie?"

"Changmin! Donge hyung itu pacal Minnie!" terang Sungmin tak mau kalah. Sampai nafas terakhirnya pun nama donghae yang akan ada di mulutnya.

"Sungmin-ah! Eommamu datang!" suara guru yang mengajar di kelas Sungmin menginterupsi Changmin agar tak mulai berbicara sadis soal namja dewasa yang ia rasa tak masuk akal mencintai Minnie bunny nya.

"Chagi…." Mrs. Lee terlihat muncul dari arah pintu. Senyuman di bibir sungmin menghilang. Ia berharap Donghae lah yang memanggilnya sekarang. Hatinya seolah hancur sekarang. Ia harus mengakui, ia merindukan kim donghae. Namja yang merebut cinta dan ciuman pertamanya.

Mrs. Lee mengenggam tangan Sungmin erat, mencoba menarik tangan anaknya itu agar ingin pulang. "Eomma bialkan Minnie menunggu sebental lagi" ucap sungmin memelas. Ia masih berharap donghae akan menjemputnya pulang.

Mrs. Lee membungkuk, mensejajarkan tingginya dengan Sungmin. "Chagi.. donghae hyung terlalu sibuk hari ini. Mungkin besok dia akan menjemputmu!"

"Eomma celalu bilang begitu, buktinya donge hyung tidak datang. Eomma pembohong!" tuding sungmin sambil menangis. Changmin terdiam, lidahnya kelu untuk berbicara tapi jujur ia ingin memaki seorang donghae sekarang. Dia ingin menghajar namja itu agar tak menyakiti sungminnya lagi.

Mrs. Lee memeluk anaknya erat. "Jangan menangis lagi Minnie-ah! Aku tak suka melihat ail mata Minnie" changmin menyentuh bahu sungmin.

"Nee… Donge hyung tak suka liat minnie nangis. Minnie takkan nangis lagi!" sungmin menghapus air matanya. Diraihnya tangan eommanya. "Ayo pulang eomma!"

Changmin hanya tersenyum melihat sungmin yang semakin menghilang dari pandangannya. "Aku yang lebih tak suka melihatmu menangis karena namja itu Minnie"

Sungmin mengikuti langkah eommanya sambil menunduk. Ia menggenggam erat tangan Mrs. Lee saat mereka sampai di tempat parkir. Mrs. Lee mencari kunci mobilnya, di lepasnya pelan genggaman tangan sungmin. "Tunggu sebentar eoh!" pinta mrs. Lee.

Sebuah perasaan hangat menjalari hati sungmin. Namja mungil itu mengedarkan pandangannya. Ia bisa merasakan tatapan hangat itu kini sedang menatapnya. Tatapan dari orang yang begitu ia rindukan. Tanpa sengaja sungmin melihat bayangan seorang namja. Senyumnya merekah dengan begitu manis. Bibir mungilnya sontak berteriak "Donge hyung!"

Ia pun berlari mengejar sosok yang sudah berlari dulan meninggalkannya. "Hae hyung! Tunggu Minnie!"

%ika. Zordick%

School 10.00

Ting… Tong… Ting… Tong…

Kyuhyun melirik sosok Kibum yang duduk menyerong dari bangkunya di belakang. Ia menyeringgai saat melihat sosok cantik itu sedang tertidur di mejanya. Entah apa yang sedang terlintas di benak seorang cho kyuhyun sekarang. Di langkahkannya kakinya menghampiri kibum yang masih betah berpetualang di alam mimpinya. Para shipper-shipper menatap ke dua namja itu penuh antusias. Ya… mereka sudah sangat terkenal sejak kepindahan kim kibum ke sekolah mereka. Membuat kyuhyun si evil yang acuh harus mau tak mau menunjukkan sisi mempesonanya.

Seringgai kyuhyun semakin lebar saat di tatapnya wajah kibum tanpa dosa dari jarak yang kurang dari 5cm. "YACK! KIM KIBUM SAMPAI KAPAN KAU AKAN TERTIDUR!" teriak kyuhyun sambil memukul kuat bahu kiri kibum.

Kibum tersentak. "ARGH!" erangnya memegangi bahu kirinya. Sakit? Jelas saja! Luka yang beberapa hari yang lalu sudah mulai menutup kembali mendenyut sakit akibat ketidaktahuan dari namja yang merupakan anak dari orang nomor satu di negera ini.

"Waeyo? Sakit?" kyuhyun sedikit kebingungan karena tak menduga reaksi pangeran es itu akan begitu parah. Mata kyuhyun tanpa sengaja menangkap tetesan darah yang mengalir dari seragam kibum. Dengan cepat di singkirkannya meja yang membuat jarak antara dia dan si dingin menyebalkan dalam pikirannya.

Di bukanya secara paksa blazer kibum dan kemeja putih kibum. Dia bisa melihat jelas luka yang mengangga lebar di bahu kiri kibum yang terlihat sedikit menghitam. "Kau gila? Apa ini sakit?" kyuhyun tak memperdulikan lagi para yeoja yang sepertinya sedang menjerit kegirangan melihat adegannya yang membuka baju seragam kibum dengan jarak yang intim. Semua tersangka pengintipan itu tak melihat luka parah di bahu kibum dan tak masalah juga kalau mereka harus salah paham soal ini.

Wajah kibum memucat. "Tak masalah" jawab kibum sekenanya.

"Ayo kita ke rumah sakit!" kyuhyun bergerak dan hendak menggendong kibum di punggungnya.

"Aku tidak akan apa-apa" kibum masih berusaha mengatur nafasnya. Ia harus menolak rumah sakit. Itu sama saja membuatnya harus mengarang jutaan alasan soal lukanya.

BRAKK…. Kyuhyun langsung mendongakkan kepalanya saat melihat sosok choi siwon yang dengan semena-mena membuka pintu kelasnya dengan kasar. "Mau apa kau kemari?" ucap kyuhyun dingin. Kibum meremas kuat seragamnya, guna menetralisir rasa sakit yang semakin tak tertahankan. Hah… kenapa kyuhyun sialan itu harus memukul bekas lukanya.

"Kyu… aku sudah dengar bahwa kau berpacaran dengan kim kibum" pernyataan konyol siwon seolah ingin membuat kyuhyun tertawa. Ia tak ingin beradu argument dengan namja menjijikkan di depannya yang selalu menarik perhatian eomma dan appanya itu. Ia masih mengingat keberadaan kibum yang kritis sekarang. Tentu saja ia sadar keadaannya itu setengahnya adalah salahnya.

"Kurasa itu bukan urusanmu choi siwon—ssi" kyuhyun tersenyum meremehkan, di raihnya tangan kibum agar memeluk bahunya. Rasanya mengapa menggendong kibum sangat menyulitkan.

Siwon tiba-tiba meraih pundak kyuhyun. Mencekramnya kasar. "Tentu saja ada urusannya cho kyuhyun. Kau tunanganku, cukup kau mencari masalah dengan gigolo itu dulu dan sekarang dengan dia?" mata siwon melotot marah. Di raupnya rakus bibir merah kyuhyun. Seluruh mata yang menatap mereka terlihat tak percaya.

Kyuhyun masih terus meronta, tapi tenaganya tak sekuat siwon. BRAAK… JDUAKKK… "hah… hah.." kyuhyun berusaha mengatur nafasnya. Ia di selamatkan. Di selamatkan oleh penjaganya. Benar.. oleh orang yang memang di tugaskan untuknya. Sosok kibum memang sangat kuat dimatanya sekarang. Namja itu bahkan bisa membuat choi siwon tersungkur di lantai dan menubruk dinding meski ia sedang merasakan sakit luar biasa.

"Kibum—ssi" seolah tak mau diajak kompromi. Kaki kyuhyun melemas seketika. Entah kemana hilangnya sosoknya yang kuat. Kibum melirik kyuhyun, ada rasa sakit di hati kibum saat melihat onyx itu berkaca-kaca hendak mengeluarkan air matanya.

"Jangan sentuh dia lagi, brengsek" ucapan datar dan tenang khas kim kibum memecah keheningan. Semua mata kihyun shipper mengeluarkan permata indah. Mereka terharu, sementara kyubum shipper harus mengakui mereka harus mengganti benner.

Kibum menggendong tubuh kyuhyun di punggungnya. Dia kemudian membawa namja yang kini memeluk lehernya erat itu ke luar dari sekolah diiringi dengan teriakan menggema dari penggemar mereka. "Apa aku terlihat lemah?" bisik kyuhyun di telinga kibum saat mereka baru saja melompati pagar sekolah.

"Kau sangat lemah"

Kyuhyun terkekeh. Meremehkan dirinya sendiri. "Itulah alasannya mengapa orang yang begitu kucintai tak bisa melihat lagi"

"Aku akan melindungimu"

"Hmf.. benarkah? Wae?"

"Karena itu tugasku" jawab kibum singkat yang tak ia sangka malah membuahkan kekecewaan di hati seorang cho kyuhyun.

"Turunkan aku disini! Seharusnya aku yang menggendongmu! Kan kau yang terluka!" berontak kyuhyun. Ia tak bisa memungkiri sesuatu yang sepertinya mungkin semakin tumbuh dalam hatinya. Entah apa. Ia pun tak tak tahu.

Kibum berjongkok, menurunkan bayi besar yang seperti merengek di telinganya. Ia berjalan terus ke depan. Kyuhyun mengikuti langkahnya, ia tak akan bisa kembali ke sekolah. Kenapa? Hanya kim kibum yang mampu melompati pagar sekolah sesuka hatinya.

"DONGE HYUNG!" teriakan itu membuat langkah kibum terhenti. Retinanya persis menangkap sosok yeoja kecil, bukan! Namja kecil yang berlari tak tentu arah hingga sebuah truk melintas dan hendak menabrak anak itu.

"Hei! MENYINGKIR DARI SANA!" teriak kyuhyun. Tapi anak itu malah berhenti dan menatapnya. Anak tersebut menangis sesenggukan tanpa punya niat untuk mengubah posisinya.

Kibum berlari menaiki tembok pagar rumah yang tak ia ketahui rumah siapa. Secepat kilat ia berlari. Di tariknya tangan anak itu dan ia pun melompat ke atas truk. Sekali lagi kyuhyun harus menganga melihat tingkah hebat bin ajaib kim kibum. Ia berlari di atas truk kemudian melompat turun tepat di depan kyuhyun.

"DASAR ANAK GILA! KAU MAU MATI?" teriak kyuhyun tepat di depan wajah anak itu.

PLAAK… kibum persis menepuk kasar kepala kyuhyun. Tapi dalam kamus kibum, itu yang ter LEMBUT yang pernah ia lakukan. "Aish.. appo!" ringis kyuhyun.

"Kau akan membuatnya takut!" kibum mengeluarkan deathglare dinginnya.

Kyuhyun memajukan bibirnya, diperhatikannya kibum yang kini berjongkok. Menyesuaikan tingginya dengan anak tadi. "Dimana ibumu? Beritahu aku!" nada yang penuh intimidasi seolah sedang mengintrogasi penjahat.

PLAAKK…. Kini timpukan yang mendarat di kepala kibum. "Kau yang lebih menakutkan babo!" kyuhyun menggantikan posisi kibum. "Jika hyung boleh tahu, siapa namamu?"

"Lee Sungmin… hyung melihat donge hyung?"

"Donghae? Maksudmu kim donghae?" Tanya kibum memastikan. Dia punya firasat buruk soal pertemuannya dengan anak kecil manis ini. Sungmin mengangguk kecil.

"Kau tahu?" kyuhyun mendongak melihat wajah kibum yang masih datar. Kibum mengangguk. "Aku sangat tahu" jawabnya tanpa ekpresi.

TBC

Bagaimana apa the End kan ajah ya? #plakk

Mohon reviewnya!