Consolidation

.

Sienna

.

Jungkook memakan bekal makan siangnya perlahan, matanya sesekali melirik ponsel yang tergeletak di atas meja, menunggu Kakaknya untuk mengirimi sebuah pesan singkat. Tapi sayangnya hingga bekal itu habis, Jungkook sama sekali tidak menerima pesan dari Taehyung.

"Kau terlihat lesu hari ini. Apa kau masih sakit?"

Jungkook mengalihkan pandangannya kearah Yugyeom. Dia baru tersadar bahwa ia makan siang bersama Yugyeom. Jungkook tersenyum kaku, bingung harus menjawab apa pertanyaan Yugyeom.

Yugyeom meletakkan kotak susunya dan menyentuh dahi Jungkook, reflek Jungkook menghindar dan menepis pelan tangan Yugyeom.

"Aku tidak apa-apa." Ujar Jungkook pelan mencoba meyakinkan temannya bahwa dia baik-baik saja walaupun kenyataannya dia tidak sedang 'baik-baik saja'.

Yugyeom mengabaikan sikap Jungkook yang menurutnya aneh dan kembali menyeruput susu kotaknya, "Akhir minggu ini jadi 'kan?"

Jungkook menggaruk leher belakangnya, ia ingin sekali pergi ke bioskop bersama Yugyeom, tapi mengingat Taehyung yang akhir-akhir ini bersikap aneh padanya, Jungkook akan membatalkan janji itu, Jungkook tidak mau Taehyung semakin marah.

Sikap Taehyung berubah dari hari pertama ia sakit dan sampai pagi ini, yang artinya itu sudah empat hari. Bahkan tadi pagi tidak ada kecupan 'selamat-sekolah' dari Taehyung untuknya.

"Kurasa.. aku tidak bisa." Ujar Jungkook lirih, dia sudah mempersiapkan segala kalimat pembelaan jika Yugyeom mengeluh pada Jungkook yang lagi-lagi membatalkan rencana mereka.

"Bukan kah kita sudah merencanakan acara akhir minggu nanti Kook? Aku bahkan tidak keberatan jika Kakakmu ikut."

Jungkok merasa semakin bersalah karena dia lagi-lagi membatalkan rencana mereka karena Taehyung. Ini bukan yang pertama kalinya Taehyung menjadi 'penghambat' Jungkook pergi keluar bersama teman-temannya.

"Aku.. aku akan melakukan terapi dengan dokter Kim Namjoon. Kau tahu psikiater itu 'kan? Yang sering muncul di televisi dan majalah? Ternyata Kakakku sudah melakukan reservasi sejak bulan lalu."

Kebohongan mengalir lancar dari mulut Jungkok. Heol, dia tidak butuh reservasi apapun untuk bertemu dengan psikiater kebanggan Korea itu.

Yugyeom sepertinya percaya dengan kebohongan Jungkook, ia mengangguk pelan sambil berpikir terapi yang dilakukan oleh Jungkook.

"Apa kau masih mendengar suara-suaranya?" Tanya Yugyeom penasara. Yugyeom adalah satu-satunya teman Jungkook yang mengetahui 'penyakit'nya. Jungkook memang memiliki banyak teman, tapi Yugyeom adalah satu-satunya orang yang melewati batas teman dihidup Jungkook, karena itulah Yugyeom mengetahui banyak masalah Jungkook, walaupun ada beberapa hal yang harus Jungkook sembunyikan, misalnya saja masalah Namjoon tadi.

Jungkook menggelengkan kepalanya, "Tidak separah kelas satu kemarin."

Yugyeom mengangguk saja memilih untuk tidak membahas lebih dalam penyakit temannya, Jungkok tersenyum kecil atas respon Yugyeom kemudian Jungkook membereskan tempat bekalnya dan memasukkannya kedalam laci, kemudian tersadar di dalam lacinya tedapat sebuah kotak berukuran cukup besar yang diberi hiasan pita berwarna ungu.

Jungkook mengambilnya dan menatap kotak itu heran, "Dari siapa?" Tanya Jungkook kepada Yugyeom. Yang ditanya hanya mengelengkan kepalanya sambil menyeruput susu kotaknya yang sudah habis hingga menimbulkan suara.

Jungkook membuka kotak itu dan tersenyum melihat isinya yang ternyata adalah cokelat bulat yang dibungkus plastic transparant. Jungkook membuka memo yang tertimbun oleh cokelat, senyum Jungkook semakin lebar, hingga gigi kelincinya terlihat dan matanya menyipit.

Selamat atas kesembuhanmu.

Y.

Jungkook membuka satu bola cokelat dan memakannya, "Kau benar-benar tidak tahu siapa yang meletakkan ini di laciku?" Jungkook mengunyah bola cokelat berisi caramel itu sambil menahan tawa.

"Ya, aku tidak tahu." Yugyeom menutup mulutnya dengan telapak tangan untuk menahan tawanya.

"Baiklah jika kau tidak tahu," jungkook memakan cokelat keduanya dan ternyata isinya adalah remahan oreo, "Wah ini enak sekali. Pasti buatan tangan, mana ada cokelat seperti ini di toko."

Jungkook kembali membuka bungkus ke tiga cokelatnya dan menggigitnya sebagian, kemudian dia melihat caramel yang ada di dalam cokelat tersebut. Jungkook tersenyum kecil ketika melihat warna karamelnya. Sienna. Mengingatkan Jungkook akan warna mata Taehyung.

Sedangkan Yugyeom hanya menahan tawanya melihat Jungkook. Temannya itu terlihat sangat lucu di matanya,

"Aah.. aku ingin berterimakasih kepada Tuan Y yang sudah mau bersusah payah membuat cokelat berbagai isi untukku." Ujar Jungkook setelah ia melihat sekilas warna karamelnya.

Tawa mereka meledak, menambah keributan kelas mereka. Setelah mereka selesai tertawa, mata mereka tersenyum lembut.

"Kau suka?" tanyanya pelan.

"Suka sekali."

Yugyeom mengangguk sambil tersenyum kemudian mereka tertawa lagi.

"Terimakasih, Yugyeom. Apa kau membuatnya sendiri?"

"Yaa.. dengan bantuan ibuku."

"Ucapkan rasa terimakasihku pada ibumu."

"Pasti."

Consolidation

.

Sienna

.

Jungkook menendang batu di depannya dengan kesal, dia sudah menunggu Taehyung untuk menjemputnya, Jungkook bahkan rela langsung keluar kelas tanpa membantu Yugyeom piket karena dia tidak mau membuat Taheyung menunggu.

Tapi saat dia digerbang sekolah, Taehyung mengirim pesan bahwa dia tidak bisa menjemput Jungkook karena alasan pekerjaan.

Jungkook menghela napasnya, dia ingin cepat berbaikan dengan Taehyung hanya saja dia tidak punya waktu yang tepat. Taehyung selalu menutup dan mengunci kamarnya ketika dia pulang bekeja, yang artinya Taehyung tidak mau diganggu. Saat makan malam dan sarapanpun Jungkook melakukannya sendiri. Padahal biasanya Taehyung ikut makan bersamanya.

Ponsel Jungkok bergeta dalam sakunya, Jungkook mengambilnya dan mengangkat panggilan tersebut.

"Kudengar Taehyung tidak bisa menjemputmu."

"Ya begitulah."

"Datanglah ke Happy & Share, Seokjin akan mengantarmu pulang setelah kau makan malam."

"Benarkah? Baiklah aku akan kesana."

Jungkook menutup panggilan dan memasukkan ponselnya ke dalam sakunya, tak lama kemudian bus datang dan Jungkook masuk dengan ceria. Semangatnya yang tadi hilang kini terisi kembali.

Selain mengunjungi rumah Namjoon, mengunjungi Happy & Share adalah hal yang Jungkook sukai. Itu adalah kedai waffle yang menyediakan berbagai makanan selain waffle, dan tentu saja pemiliknya adalah Seokjin.

Kedai itu dibuka sekitar tiga tahun yang lalu karena Seokjin yang meminta semenjak Namjoon menyuruhnya untuk berhenti menjadi dokter hewan. Sebenarnya Namjoon ingin Seokjin selalu berada di rumah agar ketika Namjoon pulang dari rumah sakit, Seokjin ada menyambutnya.

Namun Seokjin bosan jika berada di rumah tanpa ada kegiatan, maka dari itu namja yang lebih tua dua tahun dari Namjoon ini meminta dibuatkan sebuat kedai untuk mengisi hari-harinya, dan tentu saja dengan banyak syarat yang salah satunya, Seokjin sudah harus ada di rumah sebelum jam makan malam, tapi hari ini adalah pengecualian sebab sepertinya Taehyung sudah menghubungi Namjoon untuk meminta Seokjin beada di kedai hingga jam makan malam dan mengantar Jungkook pulang.

Tak butuh waktu lama untuk sampai ke Happy & Share dari sekolah Jungkook jika menggunakan bus, Jungkook hanya perlu berjalan sebentar dari halte pemberhentian dan sampailah dia di kedai Seokjin.

Sebelum masuk kedalam kedai, Jungkook melihat logo H&S berwarna ungu-pink yang besar terpampang didepan kedai.

Suasana kedai cukup ramai, hanya ada dua atau tiga meja saja yang kosong. Saat memasuki kedai, aroma manis langsung menyapa Jungkook.

Jungkook mengedarkan pandangannya untuk memperhatikan berbagai macam jenis pelanggan yang ada di H&S.

"Kookie!"

Pandangan Jungkook terhenti saat melihat Seokjin yang melambaikan tangannya dengan semangat ke arah Jungkook dengan semangat.

Jungkook menghampiri Seokjin dengan semangat kemudian menarik kursi, "Lama menunggu?" Tanya Jungkook, dia terkesima dengan banyaknya makanan yang disiapkan oleh Seokjin.

"Tidak juga, ayo makan."

Jungkook mengangguk senang, dia mengambil beberapa makanan sambil bercerita dengan Seokjin yang juga mengambil makanan.

Obrolan ringan menemani makan malam mereka, sesekali Jungkook menanyakan pekerjaan Namjoon sebagai referensinya dan dijawab dengan bangga oleh Seokjin. Sepertinya lelaki berambut cokelat ini sangat senang membicaran teman hidupnya. Bahkan Seokjin sampai berhenti memasukkan makanan ke dalam mulutnya agar bisa membicarakan Namjoon.

"Kau dengan Taehyung bagaimana?" Tanya Seokjin ketika mereka sedang menyantap Sopapillas─salah satu menu baru H&S sebagai dessert.

Jungkook kesulitan menelan Sopapillasnya, dia bahkan hampir terbatuk ketika nama Taehyung disebut, "Good.." Jungkook menatap Seokjin yang bingung sejenak, "I guess…" lanjut Jungkook sambil tertawa kecil yang dipaksakan.

Seokjin membersihkan mulutnyda dengan tisu yang ia genggam sejak tadi dan menghela napas sambil menatap Jungkook, "Kalian bertengkar? Lagi?"

Jungkook menggaruk lehernya yang tida gatal dengan gugup, "Kami tidak bertengkar, hyung.. hanya saja.."

"Hanya saja apa?"Jungkook menatap Seokjin ragu, dan Seokjin menyadarinya, ada setitik keraguan dimata Jungkook yang saat ini tidak memancarkan cahaya kebahagiaan seperti biasanya. Tapi Seokjin mengerti, hampir 8 tahun bersama Jungkook, walaupun tidak tinggal serumah, dia sangat mengetahui tingkah laku lelaki berusia jauh dibawahnya ini seperti mengetahui tingkah laku Namjoon dan Taehyung, sejak awal bertemu dengan Jungkook, Seokjin sudah menuliskan dalam hatinya bahwa apapun yang terjadi dia ada di sisi Jungkook dan menjadikannya adik kandungnya.

Seokjin tersenyum maklum, dia mengambil tangan Jungkook dan menggenggamnya erat.

"Kau adikku, kau bisa menceritakan apapun padaku." Sekjin mencoba meakinkan Jungkook karena ia tahu selain dirinya, Jungkook tak punya teman untuk bercerita mengenai Taehyung.

"Eum.." Jungkook menggigit bibirnya ragu dan menatap Seokjin kemudian dia menghela napas, tak ada gunanya juga dia menyembunyuikan hal ini, toh nanti Seokjin tahu juga.

"Beberapa hari ini Tae-hyung menjauhiku.. dia seperti menghindar.. entahlah akupun bingung bagaimana cara menjelaskannya."

Seokjin tertawa kecil, dia melepaskan genggaman tanganna dan besandar pada kursi, "Sebentar lagi kalian akan berbaikan."

"Entahlah hyung, kami selalu berbaikan begitu saja tanpa pernah mengucapkan kata maaf. Tapi sekarang aku tidak yakin. Aku ingin minta maaf walapun aku tidak tahu apa salahku, tapi Tae-hyung selalu menghindariku."

"Aah.. anak itu.. pantas saja." Seokjin tertawa lepas, untungnya tidak ada yang memperhatikan karena memang kedai sedang ramai didatangi oleh pengunjung.

Jungkook hanya bisa melihat Seokjin ang tetawa dengan pandangan bingung. Apa yang sebenarnya terjadi di sini?

"Kubungkuskan sekotak oreo cheese cake, dan kuantar kau pulang."

Dan jungkook menurut saja, lagi pula siapa yang menolak cheese cake buatan Seokjin?

Consolidation

.

Sienna

.

Jungkook menatap pintu rumahnya dengan perasaan campur aduk sedangkan Seokjin sudah pulang setelah memeberikan beberapa nasehat tentang sekolah dan makanannya.

Dia masih berdiri di depan pintu berwarna cokelat itu, yang membuat Jungkook sedikit takut adalah, dia tidak memberitahukannya kepada Taehyung bahwa dia makan malam bersama Seokjin. Lagipula mana bisa dia melakukan itu jika mereka sedang bertengkar seperti sekarang? Harga dirinya akan sedikit terluka jika dia memberikan pesan singkat lebih dulu. Well.. mereka tidak benar-benar bertengkar, hanya saja mereka sedang di dalam masa perang dingin yang Jungkook tidak tahu apa penyebabnya.

Jungkook menghela napasnya, dan memutuskan untuk masuk. Dia tidak peduli jika harus beradu argument dengan Taehyung tentang jam pulangnya. Lagi pula dia sudah besar, sudah kelas dua menengah atas. Dia bukan lagi Jungkook kecil yang suka bersembunyi di balik tubuh Seokjin jika Taehyung marah padanya.

Yang didapati Jungkook masuk adalah Taehyung duduk di sofa dan diatas meja ada kue bolu gosong.

"Kau sudah pulang." Ujar Taehyung sambil tersenyum dan menghampiri adiknya, "Kau sudah makan di H&S 'kan?"

Jungkook mengerutkan dahinya bingung, dia meletakkan tasnya di atas sofa sekaligu cake pemberian Seokji. Jungkook menatap kakaknya, ada banyak yang ingin Jungkook katakan tapi tak ada satupun yang keluar dari mulutnya. Sebenarnya Jungkook sudah terbiasa dengan Taehyung yang tak pernah bisa mengontrol emosinya, hanya saja ini pertama kalinya bagi Jungkook berdiam diri dengan kakaknya hingga berhari-hari, jadi Jungkook sendiripun bingung apa yang harus dia lakukan.

"Dari Seokjin-hyung?" Tanya Taehyung sambil melirik kotak berwarna ungu dan pink dengan logo H&S.

Jungkook mengangguk pelan, suasana di rumahnya mendadak berubah dan membuat Jungkook tidak nyaman.

Taehyung menarik napas dan menatap adiknya yang beberapa hari ini dia diamkan begitu saja tanpa sebab. Taehyung mengusap dahinya dan menyisir rambutnya hingg kebelakang. Sebenarnya Taehyung tidak bermasud untuk membuat perang dingin dengan Jungkook, hanya saja akhir-akhir ini entah mengapa Taehyung merasa dia semakin sulit mengontrol emosinya. Saat Jungkook sakit, dia selalu marah tanpa sebab. Dan puncaknya beberapa hari yang lalu saat Jungkook bertanya kepada kenapa Taehyung mendiamkan dirinya, yang Jungkook dapatkan bukanlah sebuah jawaban, melainkan sebuah tatapan sinis dan suara pintu tertutup yang sangat keras.

Taehyung yakin Jungkook sangat kebingungan atas sikapnya, maka dari itu hari ini dia menyuruh Namjoon menjemput adiknya agar dia bisa membuat kue kesukaan Jungkook dengan melihat resep di google. Sayangnya kue itu gosong dan Taehyung tidak sanggup mengulang semua langkah-langkah yang tertulis di website tersebut.

Melihat adiknya yang kebingungan, Taehyung menarik Jungkook untuk duduk di sampingnya.

"Maafkan aku.." ujar Taehyung pelan dengan suaranya yang dalam.

Mata Jungkook membesar sebagai reaksi dari sikap Taehyung yang tidak bisa tertebak, Jungkook bahkan bisa merasaka bulu di tangannya berdiri karena mendegar suara Taehyunng yang menurutnya menyeramkan.

Taehyung memijat tulang hidungnya, kalimat yang sudah disusunnya sejak tadi hilang begitu saja.

Maka Taehyung diam saja dan tidak melanjutkan kalimatnya. Dia hanya menunduk tapi kemudian Taehyung mengangkat kepalanya ketika Jungkook memanggil namanya, lalu mata mereka bertemu.

Iris Sienna Taehyung bertemu dengan iris Jungkook yang segelap malam.

Tubuh Jungkook mendadak kaku ketika tatapan mereka bertemu, ia tidak pernah bosan terjerat dalam Sienna milik Taehyung, warnanya yang hangat membuat Jungkook ingin bergelung nyaman dan merasa aman. Sedangkan Taehyung, ia selalu jatuh lebih dalam ketika ia masuk kedalam iris segelap malam itu.

Taehyung yang pertama kali memutuskan kontak mata mereka dengan kembali menundukkan kepalanya dan menghela napasnya.

"Aku tahu akhir-akhir ini aku menjadi bajingan untukmu. Itu diluar kendaliku, aku minta maaf." Taehyung mengusap kasar wajahnya dan mengacak rambutnya frustasi.

Jungkook tersenyum kecil melihat kelakuan kakaknya, disisi lain Jungkook merasa sangat lega karena akhirnya dia bisa berbicara lagi dengan Taehyung.

"Aku mau makan kuenya." Ujar Jungkook untuk memecah keheningan karena dia menolak untuk merespon permintaan maaf Jungkook. Karena baginya, dia tidak membutuhkan permintaan maaf, yang Jungkook butuhkan adalah dia dan Taehyung bisa bersikap seperti biasa.

Taehyung mengangkat kepalanya dan tersenyum rectangle─jenis senyuman yang selalu sukses mebuat Jungkook tersenyum juga.

"Tapi kuenya gosong." Ujar Taehyung sambil menatap miris kuenya yang bewarna kehitaman.

"Tidak masalah. Di kulkas ada susu kental manis kan? Kita bisa memakannya dengan itu."

Taehyung mengangguk cepat, dan Jungkook beranjak dari duduknya untuk mengambil susu kental manis di dapur sembari Taehyung memtong kue untuk mereka berdua.

"Kurasa aku hanya ingin memaka kue buatan hyung saja." Ujar Jungkok ketika melihat Taehyung yang ingin membuka kotak kue.

"Oh ya?" Taehyung menatap Jungkook sambil kembali memasukkan kembali kue yag sudah ia keluarkan.

Setelah itu mereka menikmati kue gosong itu bersama-sama. Taehyung tapak tersiksa memakan kue buatannya sediri hingga ia hampir memuntahkannya. Jungkook tersedak melihat Taehyung yang tersiksa, sedangkan dia sendiri menikmati kue itu tanpa memperdulikan rasa pahit yang tidak tertutupi oleh susu kental manis.

mereka menyantap kue dalam diam, hanya ada suara televisi yang menemani kegiatan mereka. Jungkook memakan kuenya dengan tenang, berbeda dengan Kakaknya yang sesekali meminum susu kotak untuk menghilangkan rasa pahit dari kue yang gosong.

Jungkook diam-diam memperhatikan Kakaknya. Rahang tegas, bibir tipis, alis tebal, mata tajam, dan yang paling Jungkook sukai adalah warna mata Taehyung. Sienna.

Berbeda dengan wara matanya yang segelap malam, warna mata Taehyung begitu indah dan Jungkook tak pernah bosan melihatnya. Tidak akan pernah.

Consolidation

.

Sienna

.

tbc

rnr juiceyou^^