Repeat
By GrandpaGyu
Rate : T
Pair : SasuHina
Naruto © Masashi Kishimoto
Mengulang tujuh sapaan berbeda tanpa jelas waktunya. Berinteraksi dengan orang yang sama tapi dengan kepribadian dan identitas yang berbeda
WARNING : ALUR MAJU MUNDUR, CERITA TENTANG PENDERITA GANGGUAN KEJIWAAN DID, EYD BERANTAKAN, MISS TYPO DAN KESALAHAN LAINNYA.
Note : Cerita ini memang terinspirasi dari drama korea Kill Me Heal Me, sekilas memang mungkin bakalan terlihat mirip #buatYangPernahNontonKillMeHealMe, tapi alur cerita ini berbeda dengan Kill Me Heal Me.
Terimakasih untuk siders, yang udah review, fav dan follow Repeat. Oya, maafkan Gyu yang masih belum sempat nulis sekuel untuk cerita Gyu sebelumnya, untuk yang minta sequel, sekali lagi Gyu mohon maaf, belum ada ide soalnya hehe #plak. Arigatou gozaimasu minna (-_-)!
Don't Like Don't Read
RnR
.
..
Happy Reading
…
….
with love,
GrandpaGyu (-_-)!
Kali ini Giselle yang lebih dulu bertanya. Dia memandang bingung kearah sosok yang kini berada di hadapannya. Mereka hanya dipisahkan oleh sebuah pintu. Dari luar Giselle dapat melihat dengan jelas sosok itu, dia memiliki ciri fisik yang serupa dengannya. Rambutnya, wajahnya bahkan suaranya. Seakan dia sedang bercermin. Hanya saja tatapan mereka yang berbeda.
Jika Giselle memiliki sorot mata penuh ketakutan, sosok itu lebih terkesan polos dan juga pemalu. Ada apa ini sebenarnya.
"Keluarkan aku !"
Sosok itu masih meronta, air matanya mengalir deras membasahi pipi gembungnya.
"K-Kamu siapa ?"
Giselle mengulang pertanyaan yang sama. Sosok itu akhirnya menyahut, dia memandang Giselle dengan pandangan bingung.
"Hinata, K-kamu siapa ?"
.
.
.
.
Chapter 4
.
.
.
.
"G-Giselle."
Suara lirih dari Giselle masih jelas terdengar oleh Hinata. Hinata memandang penuh tanya, siapa Giselle. Kenapa bisa berada disini. Apa yang dia lakukan disini. Ini dimana. Dia sama sekali tida mengerti. Apa yang terjadi sebenarnya.
"Kembalilah, kalian tidak harus memaksakan diri."
Sebuah suara berat menggema di dalam tempat yang mereka yakini kedap suara itu. Baik Giselle maupun Hinata tidak tahu keadaan yang mereka alami sekarang. Jadi mereka hanya diam, mengabaikan suara berat yang jujur saja membuat nyali mereka menciut. Bagaimana mendengar suara yang begitu rendah dan sarat akan kebencian. Seolah tujuan hidupnya hanya untuk mengutuk sesuatu yang mereka sendiri tidak tahu apa itu. Terdengar jelas dari nada suaranya yang seperti predator buas berdarah dingin.
"Jangan mencoba untuk mengerti. Ini terlalu berat, kalian tidak akan bias menerimanya. Untuk masalah ini serahkan saja padaku. Aku pasti akan melindungi kalian, apapun resikonya."
Perasaan apa ini. Rasanya hangat, seakan kata-kata itulah yang telah lama ingin dia dengar. Sebuah untaian kata yang menggambarkan bahwa dia tidak sendiri, ada seseorang yang akan menanggung beban yang dipikulnya. Tapi beban apa. Hinata sama sekali tidak merasa memiliki beban, semuanya terasa normal untuknya.
Hanya saja, sadar atu tidak. Hinata sadar. Maksud tersembunyi dari kalimat itu adalah –
Sebuah kata-kata pengghibur untuk diri sendiri. Seperti pengecut yang melarikan diri.
"Kembalilah, belum saatnya kamu mengenal 'kami'. Setidaknya, kamu menyadari keberadaan kami sudah lebih dari cukup."
Klik
Suara jentikan jari nyaring terdengar. Tidak lama sebuah cahaya terang menyinari tempat misterius tersebut. Sangat terang hingga Hinata dan Giselle haru menutup mata.
Lalu semuanya gelap. Tidak ada siapapun. Dia sendiri.
" –le Gisellle?"
Hitam
Warna pertama yang ditangkapnya adalah sepasang onyx yang sama kelamnya dengan lubang hitam. Menarik paksa setiap yang berani menatap langsung kepadanya.
"Daijobu?"
Perempuan itu tersenyum tipis. Kelopak matanya hampir saja terpejam jika dia tidak merasakan kehangatan yang terasa nyaman. Bisakan kenyamanan ini lebih lama lagi dia dapatkan. Jika perlu selamanya seperti ini.
Perlahan, dia mengangkat tangannya. Membalas pelukan Sasuke pada tubuh kecilnya. Hangat. Dia suka itu. Terasa seperti dilindungi. Terlalu lama hidup sendiri membuatnya lupa bagaimana cara bergantung pada seseorang. Menanggung beban hidup seorang diri,menunggu waktu untuk meletakkan sejenak beban itu dari punggungnya. Lama dia menunggu, akhirnya saat itu tiba. Jadi begini rasanya melepaskan beban walau hanya sejenak.
"Maaf."
Hembusan nafas hangat Sasuke menyapu tengkuknya. Menjalarkan sengatan listrik non statis yang entah kenapa terasa menyenangkan.
"A-Apa yang harus saya l-lakukan?"
Suaranya bergetar. Sebentar lagi tangisnya akan pecah. Hanya dia mencoba sekuat mungkin untuk menahannya. Karena itulah dia semakin mengeratkan pelukannya, menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sasuke untuk meredam isak tangisnya yang akan pecah dalam waktu dekat.
"Semua akan baik-baik saja."
Sasuke dengan lembut membelai surai indigonya. Tidak tahu siapa yang dia hadapi sekarang. Entah perempuan yang berada dalam dekapannya ini adalah Giselle, Hinata, atau mungkin kepribadian lainnya. Dia sama sekali tidak tahu.
"S-Saya t-takut. A-apa se-sekarang saya adalah seorang monster?"
Sasuke membeku. Kaget dengan pertanyaan perempuan itu. Mungkinkah perempuan ini sudah mengetahui kondisinya. Atau dia sudah bertemu dengan seluruh kepribadiannya. Atau mungkin dia bertemu salah satu kepribadian yang menurutnya memiliki sifat yang kejam. Seperti monster.
"S-Saya monster."
Perempuan itu terus mengulang kalimat itu. Lagi dan lagi. Seperti sebuah mantra.
Sasuke tidak dapat merespon apapun. Sibuk memikirkan probabilitas yang mungkin dialami oleh si lavender. Namun, kalimat itu tidak juga berhenti. Semakin lama, nada suara berubah serak hingga hampir tidak terdengar, namun Sasuke yakin dia tetap mengulangi kalimat itu meskipun tidak ada suara yang keluar dari bibirnya. Mau tidak mau Sasuke melepaskan pelukannya. Ingin dia melihat bagaimana keadaan perempuan yang sebenarnya adalah mahasiswa bimbingannya ini.
"Kimi wa dare?"
Perempuan itu menundukkan kepalanya. Tidak berani melihat wajah Sasuke saat ini.
"H-Hinata desu."
Cicitan perempuan itu masih jelas terdengar di telinga Sasuke. Tanpa dia sadari, sebuah senyuman tipis terlukis di wajah tampannya. Diusapnya pucuk kepala Hinata dengan lembut.
"Okaeri Hinata-san."
Dan itu adalah kali pertama Sasuke memanggil si lavender dengan nama kecilnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
Hinata duduk disalah satu kursi yang disediakan. Melahap satu cup ice cream rasa anggur yang menjadi favoritnya. Matanya menerawang keatas. Membayangkan apa yang baru saja dia alami. Bagaimana rasa takut itu muncul saat salah satu bagian dari dirinya menunjukkan eksistensinya. Suaranya yang mengintimidasi. Membuat bulu roma Hinata meremang. Takut. Bukan hanya takut pada pemilik suara itu. Tapi dia takut jika suatu saat tubuhnya akan diambil alih olehnya. Takut jika 'dia' akan membuat takut banyak orang nantinya. Takut jika ada seseorang yang terluka akibat perbuatannya. Takut jika dia tidak bias bertanggung jawab. Takut –
"Apa yang kamu pikirkan?"
Suara barithon Sasuke menyadarkan Hinata dari lamunannya. Menoleh kesamping, melihat bagaimana Sasuke berdiri tegak disampingnya. Membawa beberapa cemilan yang mungkin baru saja dibelinya.
"Tidak ada."
Bohong. Sasuke tahu perempuan itu sedang berbohong. Tapi dia tidak bisa memaksanya untuk bercerita. Masih banyak kepribadiannya yang belum dia ketahui. Dia tidak ingin mengambil resiko dengan tanpa sengaja memanggil salah satu kepribadiannya. Karena dia tidak tahu kejadian seperti apa yang akan memanggil 'mereka'. Setidaknya tidak untuk sekarang.
"Apa kamu ingin naik kicir angin?"
Hinata memandang kicir angina raksasa yang berada tidak jauh dari posisinya. Cahaya orange menjadi background yang pas untuk kicir angin tersebut. Cantik sekali. Dia ingin menaikinya.
"B-Bolehkah?"
Sasuke tidak menjawab. Hanya tersenyum tipis dan mengangguk ringan.
Sret
"Eh?"
Hinata kaget saat tangannya ditarik oleh Sasuke. Membuat mereka berjalan beriringan dengan tangan bertaut. Besar tangan Sasuke terasa pas di tangan kecilnya.
"Kamu terlalu kecil, jika tidak begini kamu akan hilang di tengah jalan."
Hinata mengerucutkan bibirnya. Kesal dengan ejekan Sasuke yang secara 'langsung' mengejeknya pendek. Yah, walaupun memang itu kenyataannya sih. Dia memang pendek. Sangat malah. Tapi itu kan juga bukan kesalahannya. Dia sudah banyak berolah raga namun tetap saja tinggi badannya tidak juga mengalami kemajuan.
"Masuklah."
Hinata tidak sadar bahwa mereka telah sampai di depan salah satu tabung kicir angin. Dia hanya menurut saat Sasuke menyuruhnya masuk terlebih dahulu. Dan genggaman itu terlepas. Hinata merasakan kekosongan saat tangannya tidak lagi digenggam oleh tangan besar Sasuke. Setelah dia duduk di salah satu kursi yang disediakan, Hinata hanya menunduk sambil menggenggam tangannya sendiri. Mencari kehangatan seperti saat tangan Sasuke menggenggamnya.
"Kamu kenapa?"
Hinata mendongak. Melihat bagaimana Sasuke menunjukkan ekspresi khawatir dibalik wajah dinginnya.
"U-uhm. Daijobu."
.
.
.
.
.
.
.
Kicir angin mulai berputar. Hinata memandang takjub pada pemandangan yang dilihatnya dari balik kaca. Seperti pemandangan itu berasal dari dunia yang berbeda darinya. Tangan pucatnya menyentuh dinding kaca yang berada disampingnya. Seolah ingin menyentuh pemandangan itu dengan tangan kecilnya.
"Kirei."
Tanpa disadari Hinata, sejak tadi Sasuke hanya focus memandanginya. Matanya sama sekali tidak berkedip. Terlebih saat sinar orange khas senja menyinari wajah Hinata.
Sret
Cup
Hinata membulatkan matanya. Tiba-tiba saja Sasuke menarik tangannya kemudian mencium bibirnya. Kaget. Hinata sama sekali tidak tahu harus merespon seperti apa. Karena ini adalah ciuman pertamanya. Dia adalah orang awam dalam hal cium mencium.
Sasuke mengalihkan pandangannya. Menyembunyikan semburat kemerahan yang menodai kulit pucatnya.
"S-Sensei, k-kenapa?"
Sasuke tidak bias menjawab. Detak jantungnya berdetak kencang. Seolah ingin keluar dari tempatnya berada. Huh, bodohnya dia justru menyukai sensai asing ini. Saat perutnya terasa dipenuhi ribuan kupu-kupu yang berterbangan tak tentu arah.
"Wah kita sudah berada di puncak!"
Sasuke menoleh. Mendengar suara riang Hinata menjadi magnet tersendiri untuknya. Karena jarang sekali Hinata bias seriang ini. Dan tidak gagap tentunya.
"Tutup matamu."
Eh
Hinata tidak mengerti. Dia memandang bingung kearah Sasuke yang kembali mendekatkan wajahnya. Tangannya membelai pipi Hinata yang bersemu kemerahan.
Cup
Sasuke kembali menciumnya. Hanya kali ini Hinata menutup kedua matanya. Seperti yang dikatakan oleh Sasuke. Hinata sama sekali tidak mengerti. Kenapa dia merasa senang saat bibir Sasuke tepat berada diatas bibirnya. Terlebih saat tangan Sasuke memegangi tengkuknya. Dan tidak tahu kenapa, spontan Hinata mengalungkan tangannya di leher Sasuke.
.
.
.
.
.
.
.
Flashback
.
.
.
.
.
.
"Okaeri Hinata-san."
Dan itu adalah kali pertama Sasuke memanggil si lavender dengan nama kecilnya.
"Jadi apa yang kamu lihat?"
Hinata menatap bingung kearah Sasuke. Bagaimana mungkin dia bias tahu bahwa dia baru saja melihat sisi lain dari dirinya. Baru Hinata sadari, banyak lilin aroma terapi yang tersusun rapi diatas meja.
"Apa yang kamu lihat?"
Ulang Sasuke saat Hinata tidak juga menjawab pertanyaannya.
"Saya melihatnya. S-sisi lain dari diri saya. D-dia sangat menakutkan."
Hinata kembali panik. Sasuke menggenggam tangan Hinata. Meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja.
"Apa mereka mengatakan sesuatu?"
Hinata mengangguk.
"Jangan mencoba untuk mengerti. Ini terlalu berat, kalian tidak akan bias menerimanya. Untuk masalah ini serahkan saja padaku. Aku pasti akan melindungi kalian, apapun resikonya."
Hinata mengulang kalimat yang dia dengar dari sisi lainnya. Sasuke hanya mengangguk mengerti. Ini bukanlah hal yang aneh. Dia tahu, pasti Hinata pernah mengalami kejadian buruk dalam hidupnya, sayangnya kejadian itu mungkin terjadi saat dia masih kanak-kanak. Sehingga dia tidak bisa meminta tolong pada siapapun. Bukan tidak ingin. Hanya dia tidak tahu bagaimana caranya. Jadilah tanpa sengaja dia menciptakan identitas baru untuknya. Mengunci rapat kejadian itu di dalam identitas barunya. Terus seperti itu.
"A-apa saya akan menjadi seorang monster?"
Sasuke menggeleng.
"Tidak. Kamu tetap akan menjadi Hinata."
Hening.
"T-Tapi mereka –"
Sasuke mengacungkan jari kelingkingnya di hadapan Hinata.
"Saya berjanji akan menjaga 'kalian'."
"K-Kenapa?"
Sasuke menghela nafas. Kenapa. Hah, bahkan Sasuke sendiri tidak tahu kenapa dia bisa sepeduli ini pada Hinata. Yang dulu dia pikir adalah salah satu mahasiswa yang aneh karena selalu menyendiri. Tapi sekarang justru dia ingin menarik Hinata agar tidak lagi mengasingkan dirinya. Bahkan kini dia tidak lagi berbicara formal dengan Hinata. Oh my god, sehebat itukah Hinata bisa mengubahnya.
"Teman."
Eh
"Karena kita teman. Teman harus saling membantu."
Hinata tersenyum bahagia. Wajahnya semakin bersemu. Cairan bening memupuk di kedua matanya.
"Hey, kenapa menangis?"
Sasuke kaget saat satu liquid bening Hinata jatuh tanpa perlawanan. Tangan pucatnya bergerak menghapus sisa liquid lainnya.
"Saya tidak memiliki teman. Hiks, s-saya sangat senang."
Sasuke tertawa. Mendengar jawaban polos Hinata membuat dia tertawa lepas.
"A-apa kita bisa pergi ke taman hiburan bersama teman?"
Sasuke mengangguk.
"Kamu ingin ketaman hiburan?"
Hinata mengangguk semangat. Seperti anak kecil saja.
"Baiklah. Kita pergi ketaman hiburan."
Sasuke segera menarik tangan Hinata.
"S-sekarang?"
Sasuke menoleh kebelakang. Melihat wajah bingung Hinata yang menurutnya sangat menggemaskan. Sadar atau tidak, Sasuke sudah terlalu jauh masuk kedalam kehidupan Hinata.
"Tentu saja."
.
.
.
.
.
.
TBC
Anyeong. Sekarang Gyu ganti pen name jadi Shiroi_Kage. Jadi kalian bisa manggil saya Shi. Hehe.
Ehem tes tes HUAAAAAA CERITA APAAN INI. Gomen buat kalian yang mungkin kecewa dengan kelanjutan ceritanya. Sebenarnya ini saya bikin saat WB hamper menyerang. Entah kenapa saya jadi kurang dapet feelnya. Huh, semoga aja nih fict gak discontinue gara-gara kehabisan ide dan kata-kata. Maaf kalau saya akan sering telat update. Semester ini praktikum saya tiga, dan itu membuat saya seperti hidup didalam kegelapan malam.
Oya, kemungkinan chapter depan itu menceritakan latar belakang Sasuke, walaupun gak semuanya sih hehe. Jadi alurnya maju mundur.
Special thanks for
favorite
Baby niz 137, erliana mayi, fleur choi, han897, kavyana, kumi kumiko, nurmalaprieska,
rossa350, aindri961, candybar-honey, momo yui-chan, momoyui28, nyonya uchiha, onyx dark blue
folower
fleur choi, han897, kavyana, Namsoyo, NurmalaPrieska, Reichan Hiyukeitashi, Rossa350, Shyoul Lava, candybar-honey, i'm137, momo yui-chan, momoyui28, sasuhina69
With love,
(-_-)!
GrandpaGyu
