DUA DUNIA, SATU JIWA

By: konohafled

.

Ditulis untuk menjawab tantangan Infantrum "Black and White"

Set: Black/Angst

Fandom: His Dark Materials (Disclaimer: Phillip Pullman)

Pairing: Lyra-Will

Makin lama kok makin gak kerasa atmosfer Black maupun Angst ya??? :(

Ya sudah, lanjut saja! Bagian ini -Verse 2- adalah bait-bait milik Will Parry. Kalau pada Verse 1 temanya adalah janji Lyra pada Will, sekarang gantian Will yang mencari Lyra. Temanya "Seeking for You".

Huruf italic adalah POV Will

Selamat membaca^^


- Verse 2-

Tekad Will

.

Aku tak sanggup berhenti berlari. Setiap kali mencoba berhenti, dadaku terasa sesak. Rasanya seperti semua isi dadaku berdesakan keluar, ingin tumpah di saat bersamaan. Dan aku tidak bisa berpikir.

Aku harus lari. Lari untuk berpikir.

Aku tak mengerti buat apa penyihir wanita itu membunuh ayahku. Karena cinta, katanya. Apa itu cinta? Ibuku cinta padaku, tapi toh aku tidak dibunuhnya. Aku sendiri pernah membunuh. Apa aku cinta orang yang kubunuh itu? Tidak. Apa dia cinta padaku? Tidak. Lalu kenapa orang membunuh orang lain?

Aku sendiri tidak sengaja membunuh. Toh orang itu mati juga. Jadi apa bedanya?

Ah ya. Bedanya, dia tidak mati di depan anaknya. Ayahku, orang yang telah kucari selama bertahun-tahun, dibunuh di depan mataku. Dibunuh saat aku baru sadar bahwa ia ayahku. Dibunuh saat aku belum sempat bilang apa-apa padanya. Saat dia juga belum sempat bilang apa-apa padaku.

Dan pembunuh itu seenaknya saja bunuh diri begitu tahu bahwa aku adalah anaknya. Oh, betapa gampangnya. Bunuh diri lalu lepas dari rasa sakit itu. Kau tahu kau membuatu sakit. Kau kira rasa sakitku ini langsung hilang begitu melihat kau mati? Kau kira setelah kau mati, kau lantas diampuni?

Kau sendiri bilang, kau penyihir. Dan penyihir tidak mengampuni.

"Aaaaaaaaaa!!!!"

Apakah aku sudah menjerit? Apakah aku baru saja menjerit?

Kata orang, kalau dadamu terasa sesak seperti yang kurasakan sekarang, kau sebaiknya menjerit supaya dadamu terasa lega. Atau menangis, kalau kau perempuan.

Tapi tidak. Aku sudah berlari tanpa henti dan dadaku masih sesak. Aku sudah menjerit dan dadaku masih sakit. Bahkan lebih sakit daripada saat kedua jariku putus. Jari putus dan rasa sakit yang harus ditanggung Pemegang Pisau Gaib seperti aku. Rasa sakit yang tidak hilang sekalipun diobati sihir terkuat.

Kecuali oleh minyak dari ayahku.

Namanya bloodmoss. Ya, itu namanya. Lyra pernah bilang padaku.

Oh Lyra, Lyra. Banyak yang harus aku katakan padamu. Banyak yang harus kutanyakan padamu. Bisakah sakit di dadaku ini diobati dengan bloodmoss? Adakah sihir untuk menghidupkan orang mati? Bisakah alethiometer bicara pada orang mati?

Lyra, Lyra. Kau selalu pintar membaca alat itu. Tanpa kau dan alat itu, aku takkan tahu jendela mana yang harus kurobek dan kita masuki. Tanpa kau dan alat itu, aku akan… ah tidak. Tanpa alat itu pun, aku … aku harus ketemu kau. Ratu Penyihir itu baik padaku dan dia mau melindungiku. Tapi kau… ah, entahlah. Semua penyihir dan orang kuat itu boleh saja pergi, tidak menjagaku atau bahkan melawanku. Tapi kalau kau tidak ada, Lyra… kalau kau tidak bersamaku, aku… aku… ah, entahlah.

Yang aku tahu sekarang, aku harus kembali. Aku harus ketemu kamu, Lyra. Harus!

---

Will belum pernah melihat manusia seperti itu. Kulitnya –kalau bisa disebut kulit- terlalu pucat. Sepasang sayap menyembul dari punggung mereka. Ya, mereka memang bukan manusia. Mereka adalah bene elim atau malaikat.

Tapi Will tidak terlalu peduli pada mereka. Dia tidak peduli walau mereka membujuknya untuk ikut mereka menemui Lord Asriel dan melupakan dulu Lyra. Dia cuma peduli pada Lyra. Dia cuma ingin bertemu Lyra.

Dia sudah melihat tanda-tanda yang ditinggalkan. Mayat kedua penyihir yang ditugaskan menjaga dia dan Lyra, gelas kosong dan botol minuman, jejak-jejak kaki hewan yang nampaknya bukan milik Pantalaimon maupun daemon kedua penyihir itu, dan alethiometer. Alat itu tidak ada gunanya sekarang. Tidak ada yang bisa membacanya. Tidak juga kedua malaikat itu.

Mereka malah berpelukan erat, saling bisik dan saling bujuk. Will merasa iri. Mereka saling memiliki. Mereka bisa saling bicara, bercerita dan berbagi. Melihat itu, Will semakin merasa sendiri, sepi dan rindu.

"Saya sudah tahu di mana temanmu," kata Baruch, salah satu dari kedua malaikat itu.

"Di mana?" sahut Will tak sabar.

"Di lembah Himalaya, bersama seorang wanita. Dia selalu tidur. Nampaknya dia dibius."

Will langsung bisa menduga siapa wanita itu. Itu pasti Mrs. Coulter, ibu Lyra sendiri.

"Ayo kita segera ke Lord Asriel," kata Balthamos, malaikat yang satunya.

"Tidak. Aku harus menemukan Lyra dulu. Dia harus dibebaskan dari wanita itu," kata Will.

"Ada masalah yang lebih mendesak daripada soal temanmu itu, Will," bujuk Baruch.

Lalu Will mendengar banyak nama asing dari mulut kedua malaikat itu. Metatron, Lord Regent, Gunung Berkabut, Dunia Kematian, dan entah apa lagi. Rencana bermunculan di kepalanya setiap kali ia mendengar nama-nama baru dan alasan mengapa ia harus ikut mereka. Tetapi semua rencana itu langsung kandas pula di kepalanya setiap kali ia menyadari bahwa Lyra tidak bersamanya.

Tak ada yang bisa membujuknya untuk berubah pikiran. Dia harus menemukan Lyra, dengan atau tanpa mereka. Dia harus bertemu Lyra, setolol apapun alasannya.

Kedua malaikat itu akhirnya menyerah. Mereka tahu apa yang dirasakan Will. Mereka telah merasakan yang lebih dalam dari itu.

Tapi Will tidak tahu itu. Yang dia tahu hanya satu: Dia harus bersama Lyra. Harus.

--- akhir Verse 2 ---


Seperti biasa, ada sedikit keterangan yang semoga membantu^^

Alethiometer

berasal dari kata "alethia" (kebenaran), alat ini memang berfungsi sebagai penunjuk kebenaran. Seperti kompas, alethiometer memiliki jarum penunjuk dan simbol-simbol. Hanya sedikit orang yang bisa membacanya. Lyra memiliki bakat alam karena bisa membaca alat ini tanpa diajari siapapun.

Dunia Lyra

adalah dunia paralel dengan dunia kita. Kota dan negara-negara yang ada di sana sama namun berbeda dengan yang ada di dunia kita. Perbedaannya lagi adalah bahwa setiap manusia di dunia Lyra memiliki daemon.

Daemon

Pada usia anak-anak, wujud daemon bisa berubah-ubah. Setelah manusia menginjak dewasa, daemonnya berwujud tetap. Jenis kelamin daemon bisa berbeda dari manusianya.

Daemon selalu berwujud binatang. Ketika pertama kali bertemu Lyra, Will mengira Pantalaimon (daemon Lyra) adalah binatang piaraan.

Manusia dan daemonnya tidak bisa terpisah jauh. Jika terpisah dalam jarak tertentu, manusia dan daemonnya akan merasa sangat kesakitan secara psikis. Jika daemon dilukai secara fisik, maka manusianya akan merasa sakit secara fisik. Kejahatan besar yang dilakukan Mrs. Coulter, yaitu ibu Lyra, adalah memutus anak-anak dari daemonnya.

Apakah daemon itu? Baca saja fic saya, Anda akan tahu sendiri ^^

Debu

Maaf, Anda harus menafsir sendiri arti Debu ^^

Yang jelas, anak-anak tidak memiliki Debu. Setelah dewasa dan wujud daemonnya tetap, manusia baru dikelilingi Debu. Dan istilah Debu ini muncul di dunia Lyra. Di dunia Will (dunia kita) namanya adalah Bayangan. Di kedua dunia itu, Debu/Bayangan masih menjadi topik penelitian menarik –sekaligus terlarang- bagi ilmuwan.