playlist: phoenix – fior di latte


ablaut: renjana

bab 3 - serana


"Selamat datang," sapa Hinata antusias.

Gadis itu baru saja meletakkan nampan roti chausson aux pommes hangat berisi lumatan apel ke dalam etalase ketika genta kecil di atas pintu berdenting pelan. Dua orang pria memasuki pandangannya. Seorang pria yang menebarkan senyum lebih menarik perhatian Hinata.

Pria si pemilik senyum melihat pada etalase yang telah dipenuhi berbagai jenis roti. Cukup lama ia memperhatikan lamat-lamat roti-roti tersebut hingga Hinata yakin pria itu sedang kebingungan.

"Bisa saya bantu, Tuan?" tanyanya menghampiri.

Si pria menaikkan wajahnya dari etalase, masih bertahan dengan sebuah senyuman hangat. "Aku tidak begitu tahu mengenai roti."

"Saya bisa membantu kalau Anda kebingungan."

Penampilan pria itu cukup menarik atensi. Rata-rata pelanggan gerainya tidak lebih dari seorang pelajar dan pegawai kantoran biasa yang ingin hidangan praktis sebagai camilan. Hinata yakin pria di depannya bukan dua di antaranya. Meskipun pakaiannya semiformal, ia dapat menghirup aroma lembut parfum yang mengingatkannya pada saburan padang pinus di pagi hari dan seberkas perasan lemon. Aroma yang tidak pernah ia baui sebelumnya.

"Aku mencari roti yang cocok untuk hidangan makan malam nanti."

"Apa hidangan Anda?"

"Hidangan laut."

Hinata tersenyum, "Hidangan laut sangat cocok dengan roti yang rasanya agak asam, seperti roti sourdough atau pain au levain," matanya berbicara lebih banyak dari itu.

Pria itu mengangguk pelan. "Kalau begitu aku mau keduanya."

"Baik, Tuan. Tapi untuk sourdough masih dipanggang. Apa tidak masalah menunggu sekitar lima menit lagi?" tanya Hinata ragu-ragu.

"Tidak masalah, Hinata."

Hinata terkesiap, antara bingung dan terkejut.

"Namamu Hyuuga Hinata, bukan? Itu yang tertulis di name tag," tunjuknya pada dada Hinata.

Gadis itu mengembuskan napas yang tertahan, entah apa yang ia rasakan sedetik lalu. Selama berjaga, tidak banyak yang memanggil namanya, kecuali pelanggan yang sudah mengenalnya. Ia cukup terpana ketika pria yang baru pertama kali datang memanggil nama secara utuh.

Terlepas dari itu, wajahnya yang tampak ramah membuat siapa pun tidak bosan memandangnya. Jika saja ia sedang berdiri di balik etalase, ia mungkin bisa menghabiskan waktunya untuk memandangi pancaran pesona pelanggannya.

Tatapan Hinata turun pada lengan kemejanya yang dilipat hingga hampir menyentuh siku. Tangan itu tampak pucat sampai ia yakin dapat melihat aliran darahnya pada benang hijau itu.

"Kau menyukai roti, ya?" Pria itu memulai saat dentingan genta kembali berbunyi. "Maksudku, membuat roti," tambahnya.

Hinata terdiam sejenak, mencoba mencari arah pembicaraan mereka. "Iya, Tuan—"

"Toneri."

Hinata menaikkan wajahnya, memandang lamat-lamat pada garis tegas dari pangkal hidung pembicaranya. Takut-takut jika ia memandang pada iris gradasi birunya, ia akan terlena. Bagaimanapun, Hinata pada dasarnya adalah gadis pemalu yang lebih memilih menarik diri dari orang yang tidak dikenalnya.

Hidan pernah mengatakan, memandang seseorang di matanya langsung dalam rentang lama adalah tindakan yang harus dihindari; tetapi di sisi lain, jika berhubungan dengan bisnis, memandang langsung ke mata klien adalah keharusan. Dari mata akan terlihat betapa seseorang itu percaya pada produk yang dibawanya.

Hal tersebut tentu berat baginya, setiap ada pelanggan yang tidak dikenal, ia harus memandangnya. Bersyukur jika pelanggan tersebut tidak acuh terhadap kehadirannya. Hidan pun seperti mengerti karakter sesungguhnya Hinata, ia menyuruhnya untuk menatap jarak di antara dua mata.

Hari-hari Hinata pun dapat berjalan lebih ringan sejak saat itu.

"Maaf?" tanyanya masih memandang pada titik tengah di antara dua mata pelanggannya.

"Aku lebih suka dipanggil dengan namaku, Hinata, dan tidak perlu berbicara formal padaku," responsnya masih dengan senyuman. "Setelah ini pun kita akan bertemu lagi, mungkin …."

Hinata bergidik ketika namanya disebut lagi. Ada sensasi aneh yang tidak ia suka. Tidak ada yang sebaik Hidan dalam menyebut namanya, walaupun terkadang wajah kekasihnya merengut masam.

"Ah, b-baiklah, Tu—Toneri," Hinata mencoba sebisanya membalas senyuman itu. "Kenapa bertanya seperti itu?" tanyanya kemudian setelah berhasil menguasai rasa malunya.

"Aku melihat matamu berbinar saat menjelaskan mengenai roti tadi, jadi aku menebak kau mungkin suka roti."

Hinata tersipu. Ia tidak menyadari pelanggannya memperhatikan hal setrivial itu.

"Setahun setelah kerja di sini, aku mulai menyukai dunia bread dan pastry."

Jika Toneri adalah Hidan, ia bisa menambahkan kalimat yang lebih panjang. Alasan mengapa ia menyukai pembuatan roti, misinya ke depan nanti, tabungannya yang masih jauh dari cukup; Hinata dapat bebas berbicara apa pun tanpa terbebani.

"Pantas saja. Aura orang yang menyukai sesuatu akan terasa berbeda, dan itulah yang aku rasakan tadi."

Hinata hanya bisa membalasnya dengan tawa kecil.

"Aku berencana membuka sebuah toko roti juga, tapi aku belum mempunyai kepala dapur." Ia menatap Hinata lurus. Hinata yang tanpa sadar mendelik pada mata laut itu menurunkan pandangannya kemudian. "Mungkin kau cocok mengisi jabatan itu."

Hinata mencoba menenangkan jantungnya yang berdetak kencang. Menjadi kepala dapur merupakan satu tahap pencapaian yang diinginkannya. Namun, ia tidak bisa begitu saja mengambil tawaran orang yang baru dikenalnya beberapa menit lalu.

Firasat Hinata benar. Ia memang bukan pelanggan rata-rata.

"Kenapa aku? A-aku masih perlu banyak belajar, belum bisa memegang tanggung jawab sebesar itu," jawab Hinata sebisanya. Ia yakin Toneri dapat membayar kepala dapur yang sangat mahal sekali pun.

"Tidak ada alasan khusus sebenarnya. Aku hanya menggunakan instingku. Kau berpotensi," gumamnya.

Saat Toneri akan menambahkan kalimat lain, seorang pegawai membawa satu nampan penuh berisi sourdough yang masih mengepul hangat. Hinata pun dengan sigap membungkus pesanan Toneri. Berbicara dengan pria itu cukup membuat dua teman kerjanya saling berbisik iri, dan ia tidak ingin membangun suasana yang lebih tajam dari itu.

Toneri menerima dua bungkus roti pesanannya. Aroma manis dari susu dan gula yang bercampur dengan asam dari ragi mengetuk penciumannya. Tampaknya ia akan menyukai hidangannya malam ini.

"Terima kasih, Hinata," ucapnya sambil menerima kartu kredit hitam platinanya. Ia lalu mengeluarkan sebuah kartu nama. "Kalau kau tertarik … atau mungkin butuh bantuan, kau bisa menghubungiku."

Gadis itu menerima kartu nama yang didominasi dengan warna perak. Tulisan yang terpatri di atasnya berhasil membuatnya terpana.

Siapa yang tidak mengenal keluarga Ootsutsuki? Keluarga yang menguasai pasar hampir di seluruh negeri; kini salah satunya berada di hadapannya, berbicara padanya, memberinya kartu nama yang ia yakin ditaburi serbuk emas pada cap keluarga di sudut kartu.

Hinata tidak tahu apa motifnya memberikan kartu nama kepada seorang pegawai biasa sepertinya. Kartu nama di tangannya pastilah bukan kartu nama yang ditujukan untuk orang kelas bawah. Mungkin Toneri salah memberinya kartu. Mungkin.

Ketika Hinata ingin menanyainya, Toneri telah beranjak pergi. Genta berdenting kemudian. Ia menghilang bersama seorang pria lainnya yang sedari tadi menunggu.

Hinata menghela napas. Bagi orang seperti Toneri, mungkin kartu ini tidak seberapa. Hanya dirinyalah yang berlebihan memegang sesuatu yang bisa jadi melebihi gajinya.

"Bukankah kartu kredit tadi itu unlimited?" tanya Ino yang sedari awal tidak bisa melepaskan pandangan dari Toneri. "Ternyata kartu unlimited bukan hanya mitos."

"Unlimited? Aku kira hanya kartu platinum biasa," jawab Hinata yang tidak begitu memperhatikan alat bayar Toneri.

"Ckck. Jangan terlalu polos, Hinata. Di luar sana banyak menyebar lelaki kaya, dan salah satunya adalah pelanggan tadi," gumam Ino sambil menggerakkan telunjuknya. Hinata mengamini. "Sekilas kartunya tampak seperti platinum biasa, tapi kalau diperhatikan lagi, kartunya berbeda dengan platinum. Tampak lebih eksklusif dan elegan. Jangan ragukan pandanganku ini yang sudah memegang ribuan kartu. Aku pasti tahu bedanya hanya dari tatapan sekilas."

Ino pernah bilang padanya, cara menilai seorang pria itu kaya atau tidak, bisa dilihat dari kartu kreditnya. Kartu kredit dengan pagu kredit tinggi pastilah hanya dimiliki oleh orang yang berpenghasilan tinggi pula. Apalagi jika yang ia lihat tadi benar, pastilah pagu kredit Toneri tidak terbatas dan itu artinya ia juga memiliki aset yang hampir tidak terbatas pula.

Hinata menaikkan satu tangannya, menutup tawanya yang terdengar ringan. "Iya, iya, aku percaya. Semoga kau mendapatkan salah satu pria itu."

"Pasti, Hinata," ucapnya menutup topik sore itu sebelum Sakura keluar dari dapur dan menghentikan perbincangan mereka.


"Saya baru tahu Anda akan membuka toko roti, Tuan Muda," gumam Kabuto saat mereka telah berada di dalam mobil.

Asisten itu tahu tuannya berbohong ketika mengatakan ia tidak mengetahui mengenai roti kepada Hinata, tetapi untuk membuka sebuah toko? Sangat arbitrer.

"Aku memang tidak merencanakannya, anggap saja hanya sekadar basa-basi," balas Toneri sambil memindahkan halaman majalah bisnisnya.

"Jika gadis itu menghubungi Anda bagaimana?"

Toneri kemudian menutup majalahnya, tidak tertarik lagi. "Tinggal kau urus saja, cari toko dan peralatannya. Mudah saja, 'kan?" Kabuto mengangguk singkat; memang mudah. "Dengan uang segalanya jadi sederhana. Tapi …."

Kabuto menatap wajah tuannya yang sedang menerawang keluar jendela, penasaran dengan ujung kalimatnya.

"Tapi?"

"Aku tahu tidak seharusnya memiliki perasaan lebih, tapi dia berhasil memesonaku saat pertama kali aku melihatnya meletakkan nampan berisi chausson aux pommes itu, lalu sapaannya yang segurih flaky pastry, juga matanya yang semanis panettone. Hanya saja, tampaknya dia sekeras baguette—ia tidak mungkin menerima tawaranku, sama seperti pegawai properti itu."

Kabuto dapat mendengar geraman di akhir kalimat Toneri. Ia tahu pemuda itu tidak menyukai penolakan.

"Majukan sesi pertama pada 27 Desember."

"Maaf, Tuan?"

"Turunkan jumlah suntikan dana kalau sesi pertama tidak dapat dimajukan ke bulan ini. Jika aku menurunkan aliran dana, Uchiha itu pasti juga akan melakukan hal yang sama; dan itu tidak bagus untuk penyelenggara. Dan pastikan kau mengabari mereka tiga hari sebelumnya."

Kabuto terdiam sejenak, lalu mengerti untuk tidak membantah. Ia menulis sesuatu di catatannya.

"Anda tidak boleh menyukai gadis itu, Tuan Muda. Anda harus ingat tujuan utama Anda," gumam Kabuto datar di sela-sela tulisannya.

"Ya …."

Toneri pun memilih menggantungkan ucapannya, menyisakan kecurigaan lain pada Kabuto yang memilih untuk menyimpannya rapat-rapat.


Saat Hinata berpamitan dengan pegawai yang tersisa, Hidan telah menyambutnya di depan gerai. Pria itu masih mengenakan pakaian kantornya, hanya jasnya saja yang ia lepas.

Kemarin adalah hari terakhir ia bekerja hingga malam. Jika saja ia tidak begitu membutuhkan uang dan juga dapat menghilangkan Hidan dari pikirannya, ia mungkin akan menolak tawaran untuk lembur seminggu penuh.

Ia telah menyelesaikan pekerjaannya sejak dua jam lalu, tetapi karena Hidan menyuruhnya untuk tetap di toko sampai ia tiba, Hinata hanya bisa merengut sebal dari sambungan telepon. Gadis itu tidak menolak dan memang tidak punya niatan untuk melakukannya. Ia mengakui dirinya mulai dapat menikmati dua jam waktu kosongnya untuk melihat Shino mengaduk adonan besar dengan tangannya, juga melihat Kiba yang membentuk adonan pulen menjadi berbagai jenis roti dan kue kering, tidak lupa pula pada Naruto yang dengan telaten menunggu panggangannya matang.

Hinata bukan penikmat roti, tetapi ia menyukai aroma asam dari ragi yang selalu menjemput penciumannya ketika ia duduk termenung di dapur. Ragi yang dipakai gerainya adalah ragi indukan kualitas tinggi. Sebelum tutup toko, ragi tersebut harus diberi makan tepung tertentu. Kunci yang membuat gerainya terkenal ada pada stoples kaca berisi ragi yang telah berusia puluhan tahun yang selalu mendekam di balik refrigerator.

"Kau baik-baik saja?" tanya Hidan membuka percakapan di sela perjalanan mereka menuju area parkir, kemudian mendapati gadisnya sedikit merengut.

"Seperti yang kaulihat, tidak ada yang kurang. Sampai kapan aku harus menunggu selama itu?" Hinata mendesah pelan, menghilangkan rengutannya dengan mengingat setiap pengetahuan baru yang ia dapat dari dapur. "Dan kenapa kau jadi berlebihan begini?"

"Kau tahu, akhir-akhir ini banyak kasus kriminal di sekitar kota. Aku hanya khawatir," jawabnya asal dan mencoba menghindari tatapan gadis itu.

Sebelum mengetahui siapa sosok yang telah mengancamnya, Hidan tidak akan berhenti memastikan keselamatan Hinata dengan matanya sendiri.

Ketika mereka sampai, Hidan membukakan pintu untuk Hinata sebelum gadis itu masuk. Tidak lama, pintu kemudi terbuka.

Lima Desember, pukul 18.12; waktu yang tertampil pada layar di mobilnya. Ternyata waktu telah lama bergerak sejak pertengkaran awal mereka Oktober lalu. Pantas saja ia merasa malam semakin cepat menjemput dan tubuhnya menjadi lebih dingin dari biasanya.

"Bagaimana pekerjaanmu hari ini?" tanya Hinata ketika mobil merah metalik itu bergerak.

Hinata sekejap terpesona mendapati kekasihnya yang tersenyum sambil memutar kemudi. Saat Hidan membalas pandangannya, gadis itu merona. Apakah pandangan itu yang dimaksud Hanabi: teduh dan tulus?

Mungkin begitu.

Bukan pada biseps, bukan pada bahu bidang, bukan pula pada tatapannya; gadis itu seketika teringat mengapa ia menyukai pria di sebelahnya. Ia bisa jatuh berkali-kali pada senyuman yang jarang tertampil itu.

"Hari ini aku berhasil menjual apartemen yang paling mahal. Aku pasti mendapat bonus berkali lipat karenanya," ujarnya setelah kembali berfokus pada jalanan.

Hablur keunguan Hinata membesar. Pancaran kebahagiaan yang menyeruak tampak kontras dengan temaram mobil kekasihnya. Jika saja Hidan tidak sedang mengemudi, ia akan menghambur padanya.

"Selamat, Hidan! Kau memang berbakat menjual sesuatu," ujar Hinata dengan wajah berseri-seri. Tidak ada kabar yang lebih menyenangkan daripada mendengar keberhasilan Hidan.

"Yah, walaupun ada masalah sedikit …."

Pancaran itu menyurut pelan-pelan. Hinata menatap Hidan dengan penuh tanya. Hidan mengusap tengkuknya. Ia tahu pasti Hinata akan mengawasinya dan itu membuatnya bingung untuk bertindak.

"Klienku membayar dengan tunai," lanjutnya dengan mengabaikan kenyataan yang tertahan di ujung lidah.

"Bukankah itu bagus?"

"Untuk orang awam sepertimu memang bagus, tapi tidak untuk konteks perusahaan."

"Aneh." Hinata mendorong punggungnya pada sandaran kursi. Matanya kini menatap markah jalan yang terputus-putus.

"Memang banyak hal aneh di dunia ini, tapi bukan itu yang aku maksud. Ketika dia membayar dengan tunai, ada satu hal yang muncul begitu saja, sebelum aku tahu perasaan itu. Perasaan terintimidasi. Dia kaya, bukan tidak mungkin dia juga licik. Para kapitalis sepertinya akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan."

Seketika Hinata teringat pada pelanggannya yang menawan para gadis, Ootsutsuki Toneri. Apa pria itu juga termasuk?

Ia memang kurang menyukai ketika namanya disebut oleh Toneri alih-alih nama keluarga. Pria itu terlalu memaksa kedekatannya, dan itu membuatnya tidak nyaman. Namun selebihnya, Toneri adalah pria yang ramah dan tidak tampak ada kilatan mencurigakan dari kedua ain terangnya.

"Jika mereka tidak berusaha mendekatimu, bukankah itu tidak masalah?" tanya Hinata memastikan.

Hidan terdiam. Justru karena mereka mencoba meraihnya, ia mulai terintimidasi. Ia mengeratkan pegangannya pada setir. Apa yang dirasakan cukup membebaninya, tetapi ia tidak bisa mengatakan hal yang melebihi itu.

Meskipun pria itu menolak penawaran Toneri, ia berharap tidak ada yang terluka karena jawabannya.

Selanjutnya, mereka memilih untuk diam. Sesekali terjadi percakapan hangat yang cukup membuat pikiran berat Hidan menjadi lebih ringan.

Setelah melalui dua belokan dan memasuki jalan yang lebih sempit, akhirnya mobil itu menepi di pinggir jalan yang tidak asing lagi.

"Kau tidak ingin mampir dulu untuk makan malam?" tanya Hinata seraya melepaskan sabuk pengaman. "Hanabi pasti senang melihatmu." Ia lalu tersenyum.

Hidan membalas senyuman itu. "Sepertinya tidak sekarang. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan."

Hinata memicingkan matanya curiga. Hidan lantas mengibaskan tangannya cepat.

"Bukan, bukan balapan itu—pekerjaan kantor. Besok ada rapat mengenai performa divisi dan sekarang giliranku mempersiapkan bahan untuk subdivisiku." Hidan mencoba untuk tertawa, walaupun tetap dibalas dingin oleh Hinata.

Tanpa menunggu lebih lama, Hinata membuka pintu mobil lalu pergi begitu saja.

Hidan yang gelagapan segera sadar untuk menyusul dan berhasil menahan langkah kekasihnya. Hinata meninggikan pandangan pada mata bungur di hadapannya, terpatri ekspresi cemas di dalamnya.

"Aku tidak berbohong, Hinata."

"Lalu kenapa cemas?"

"Aku tidak ingin bertengkar lagi."

Hinata menyelami hablur ungu-kemerahan itu lamat-lamat, mencari kebohongan yang mungkin tersembunyi di dasarnya. Sayangnya, gadis itu hanya melihat ketulusan di dalamnya.

Hidan menunggu respons Hinata dengan perasaan ketar hingga ia sadar kekasihnya telah menghambur padanya. Sedetik kemudian, ia menghela napas lega. Dengan satu tangannya ia mengelus pangkal kepala Hinata.

Hinata dapat mendengar degupan yang mulai teratur seiring bergulirnya detik. Ia menyukai saat-saat Hidan menepuk-nepuk ringan kepalanya. Ia juga dapat menghirup seberkas aroma parfum yang tersisa dari balik veste dan kemeja; tidak semahal Toneri, tetapi membuatnya selalu merindukan harum itu. Tidak ada yang bisa menggantikan kenyamanan yang pria itu berikan.

Hidan merendahkan kepalanya, membisikkan sesuatu. "Bersabarlah, Sayang. Aku berusaha—tidak … aku berjanji untuk berhenti. Dan sekarang bukan waktu yang tepat."

Hinata mengeratkan dekapannya. Ada semburat kecewa, tetapi hal itu tidak seberapa dibanding perasaannya. Ia hanya bisa mengamini dalam hati, berharap pusa itu dapat naik ke langit.

"Ehem!"

Seperti ada sentruman yang menjentik telinganya, Hinata melepaskan rengkuhannya. Jelas ia mengenal suara itu. Ia memalingkan wajah dan menemui adiknya sedang berdiri dengan segelas kopi hangat di tangannya, dan seragamnya masih utuh.

"Hanabi!"

Hanabi hanya membalas dengan senyuman jahilnya.

Hinata merutuki malam yang semakin cepat menjemput. Ia masih mengira baru pulang dari lembur.

Hidan tertawa ringan. Ia memang telah menyadari kehadiran Hanabi sejak tiga menit lalu dan juga beberapa penghuni apartemen yang melalui mereka, tetapi apa pedulinya pria itu terhadap sekitar ketika Hinata memperlihatkan sisi manisnya.

"Kenapa tidak memberi tahu kalau ada Hanabi?" Ia merengut pada Hidan yang hanya dibalas dengan kata 'maaf' sambil tetap tertawa.

"Kalau begitu aku pulang dulu. Udara juga semakin mendingin. Jangan lupa pakai pakaian ekstra," gumam Hidan sambil menepuk-nepuk ringan pucuk kepala Hinata dan sebuah kedipan usil. Hinata hanya membalasnya dengan dengusan dan kerutan bibir.

Setelah insiden itu berlalu, Hinata dan Hanabi menunggu hingga mobil itu menghilang dari pandangan. Dengan mengabaikan adiknya yang masih memasang senyuman menyebalkan, ia beranjak pergi.

"Aku lihat dari awal, loh, Kak. Aku baru tahu Kakak agresif juga." Wajah Hinata memerah. "Aku juga menghitung ada empat orang yang melewati Kakak." Dan semakin memerah.

"Hentikan, Hanabi. Jangan beri tahu hal yang tidak ingin aku dengar," ujarnya cemberut, lalu semakin mempercepat langkahnya.

"Iya, iya," jawabnya datar, tetapi dengan raut yang masih terlihat jahil.

Membayangkan empat orang penghuni yang melihatnya sedang memeluk Hidan; Hinata ingin segera musnah saja dari apartemen itu. Ditambah lagi adiknya pasti akan terus mengusilinya seminggu penuh. Wajahnya sudah semerah tomat dan tidak bisa lebih merah dari itu.

"Tapi Kak, itu kan hal yang normal dilakukan oleh sepasang kekasih, apalagi—"

"Hanabi …!" Suara Hinata sedikit bergetar menahan tubuhnya yang memanas malu.

Sebelum ia berhasil meraih adiknya, Hanabi telah menaiki lima anak tangga. Gadis itu berusaha mengejarnya, meskipun usahanya sia-sia.

Pada mimpinya malam itu, ia dihantui empat penghuni tanpa wajah yang tersenyum penuh arti padanya.

Bersambung ….

a/n: karena saya cukup sibuk di dunia nyata, ff ini akan diterbitkan minimal seminggu sekali pada akhir pekan. Feel free to ask me if I don't seem to continue this ff in several weeks. Terima kasih telah membaca, me-review, mengikuti, dan memfavoritkan ff ini. Maaf kalau saya kadang suka tidak balas review, tapi percayalah saya membaca review yang masuk. :D